Mengapa pakai istilah “pacaran islami”

Posted on Updated on

Image istilah pacaran sudah jauh dari ajaran islam, dan cenderung mendekati zina. Lalu mengapa kita harus menggunakan istilah pacaran islami? mengapa tidak diganti dengan bahasa yang lebih”islami”. Islam tidak mengenal pacaran. Pernikahan dalam islam di mulai dari proses ta’aruf, kitbah/meminang, dan walimah. Aturan dan adabnya sudah jelas. Jangan memaksakan sesuatu yang justru akan membawa ke hal yang bathil, lebih banyak mudhratnya. Selama ini banyak umat islam yang mencari-cari pembenaran bahwa ada pacaran secara islam? jangan hanya menginginkan situs ini hanya untuk tujuan populeritas, apalah arti semua itu diamata ALLAH SWT. Lihatlah dengan mata hatimu, dari berapa komentar yang masuk, ternyata banyak yang mengkritik. Sekiranya memang tidak mau dkritik sesama muslim, apakah kita harus menunggu kritikan ALLAH SWT? Belum terlambat.

Demikian kata seorang tamu blog Tanazhur PraNikah.

Tanggapan M Shodiq Mustika:

1) Alasan penggunaan istilah “pacaran islami” sudah disebutkan di halaman “Ayo siap nikah melalui pacaran islami“.

2a) Kami bersikap berdasarkan fakta, bukan prasangka. “Banyaknya” suara yang keras mengkritik pacaran islami tidaklah menunjukkan banyaknya penentangan terhadap pacaran islami. Pada kenyataannya, yang mendukung pacaran islami itu jauh lebih banyak daripada penentangnya. (Lihat Profil Pembaca.) Kami sudah melakukan penelitian kecil-kecilan. Hasilnya, ternyata bahwa istilah yang paling disukai oleh pengunjung blog ini untuk aktivitas pranikah adalah “Pacaran Islami”. (Lihat “Istilah Favorit untuk Aktivitas Persiapan Menikah“.)

2b) Para ulama menghukumi sesuatu berdasarkan kenyataan, bukan image. Kalau dasarnya image, bahaya dong. Contoh: ketika merebak image bahwa pejabat dan “wakil rakyat” itu kotor, suka korupsi, apakah lantas dengan demikian, menjadi pejabat atau “wakil rakyat” itu haram?

3a) Menurut ushul fiqih, pernyataan “Islam tidak mengenal pacaran” itu keliru secara metodologis. Sebab, pacaran merupakan muamalah, sedangkan menurut kaidah dari ushul fiqih, semua muamalah itu halal kecuali bila ada dalil qath’i yang mengharamkannya.

Mestinya, kita bertanya, “Adakah dalil qath’i yang mengharamkan pacaran?” Jawabnya: Tidak ada larangannya. Yang ada adalah larangan mendekati zina, sedangkan pacaran tidaklah identik dengan mendekati zina. (Lihat “Ciuman dengan Pacar (PR untuk Penentang Pacaran Islami)“.)

3b) Untuk pranikah, Islam tidak mengajarkan taaruf, tetapi tanazhur. (Lihat “Taaruf, Sebuah Istilah yang Asal Keren?“.)

4) Seandainya kami mengejar popularitas, tentulah kami lebih mengutamakan istilah yang tidak banyak mendapat penentangan dari masyarakat, seperti taaruf. Namun kami memilih berpegang pada kebenaran. “Katakanlah kebenaran itu, walaupun terasa pahit.”

5) Ulama-ulama berlainan pendapat mengenai pacaran dalam Islam. (Silakan telusuri di blog ini dan di blog Fiqih Asmara.) Apakah bila kita mengikuti ijtihad ulama tertentu (yang berarti tidak mengikuti ijtihad ulama lain), maka otomatis berarti bahwa kita tidak mau dikritik? Kalau memang begitu, bukankah Anda sendiri tergolong orang yang tidak mau dikritik karena tidak mau menghargai ijtihad ulama yang membolehkan pacaran?

17 thoughts on “Mengapa pakai istilah “pacaran islami”

    […] adalah pacaran islami. (Melihat fakta ini, kau terkejut, nggak?) ——- Artikel Terkait: – Mengapa pakai istilah “pacaran islami” – Istilah Favorit untuk Aktivitas Persiapan […]

    sarah said:
    19 Januari 2009 pukul 20:55

    Assalamu’alaikum wr wb.

    Kepada para pengujung blog ini ,, Saya anjurkan untuk membaca buku “Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan” karangan Salim A Fillah…
    Insya Allah Anda dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah,,

    Dan juga kepada bapak M Shodiq Mustika,, saya juga anjurkan untuk membaca buku tersebut,, mudah2an Allah SWT menampakkan yang benar itu benar dan yang bathil itu bathil kepada bapak..

    Wallahu’alam bisshawab

    Wassalamu’alaikum wr wb.

      M Shodiq Mustika responded:
      19 Januari 2009 pukul 22:43

      @ sarah

      Marilah kita berdoa semoga “Allah SWT menampakkan yang benar itu benar dan yang bathil itu bathil” kepada kita semua, termasuk ukhti, bukan hanya kepada saya. Aamiin.

      Untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah dalam hal pacaram islami (dan hal-hal lainnya), satu buku tidaklah memadai. Apalagi ukhti sendiri sudah mengakui ungkapan “wallaahu a’lam”. (Artinya, Allah lah yang Mahatahu. Jadi, yang Mahatahu itu bukanlah si penulis buku.)

      Tak sedikit buku penentang (bahkan penghujat) islamisasi pacaran yang sudah saya baca. Saya bahkan sudah menulis satu buku tersendiri sebagai bantahan terhadap buku-buku semacam itu. (Lihat “Wahai Penghujat Pacaran Islami“.)

      wa’alaykumus salaam war. wab.

    de_miftah said:
    28 Januari 2009 pukul 12:01

    assalaamu’alaikum,,,
    berawal dari penasaran trus nelusurin link hingga akhirnya ke link pa’ m shodiq.
    subhanalloh,,, islam udah sempurna kan pa?
    bahkan masalah thoharoh pun dibahas dlm islam, apalagi masalah muamalah (dalam hal ini sy mengomentari pacaran).
    setelah sy baca2 di blog ini ttg pacaran islami dsbg, q jd timbul bnyk pertannyaan yh:
    1. kalo pacaran yg ‘islami’ boleh, trus apa faidahnya larangan2 allah dan rosulNya dalam hal Zina, menyentuh yg bukan mahrom, hukum memandang yg bukan mahrom, dan hukum2 lain yg berkaitan dengan hubungan lawan jenis yg bukan mahrom?
    2. istilah pacaran ‘islami’, bukankah itu menjadi legalitas dr aktifitas2 khas pacaran,misal: melihat, menyentuh, bermesraan, dll. hanya saja Anda ‘menyarankan’ aktifitas2 tersebut mnjadi lbh permissif.sehingga membuat pembaca blog ini mengambil kesimpulan pacaran itu boleh asalkan yg islami bukan yg kristiani atau semacamnya.
    3. pemberian lebel islam pada kata pacaran sangat gak tepat pa..sama tidak tepatnya dengan lebelisasi nasyid islami, atau bahkan nanti ad zina islami, wal iyadzubillah.
    4. sy yakin kita semua sedang sm2 belajar, termasuk juga mba’ sarah diatas. namun, pernyataan Anda: “Untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah dalam hal pacaram islami (dan hal-hal lainnya), satu buku tidaklah memadai”. mari kita lihat bukan “satu bukunya”, tapi lihat kandungannya, penulis buku tsb tentu mencantumkan banyak sekali dalil ttg hubungan antar lawan jenis. ITU yg sebenarnya Anda harus lihat dan baca! krna pemberi comment di blog anda juga membaca isi blog Anda shingga bisa memberi comment!.
    5. begitu mudah wahai saudaraku.. untuk menulis, bicara dan berbuat…, tp ingatlah wahai saudaraku… setiap diri kita pasti mati dan setiap diri kita akan melihat catatan amalnya. ‘jalan’ yg Anda buat di blog ini juga akan dimintai pertanggungjawaban. kalau Anda sudah membaca berbagai buku yg menghujat pacaran, tentu Anda sudah membaca ayat Allah (yg artinya) : “janganlah kamu mendekati zina…”, sudahkah Anda membaca tafsirnya wahai bapak m.shodiq?
    bagaimana jika para pembaca blog ini dan tulisan2 Anda mengikuti ‘ijtihad’ Anda ttg pacaran islami dan semacamnya? tidakkah itu membuat Anda menjadi pembuat jalan yg buruk?

    wallahu a’lam bisshowab…
    wassalaamu’alaikum…

    de_miftah (sedang belajar jg ttg islam dan seisinya)

      M Shodiq Mustika responded:
      28 Januari 2009 pukul 12:15

      @ de_miftah
      Terima kasih atas nasihatnya.
      Hampir semua yang Anda persoalkan itu sudah pernah saya bahas.
      Supaya tidak salah paham, silakan baca kembali dengan lebih cermat semua tulisan terkait, termasuk yang ditaut.

    zaki said:
    28 Januari 2009 pukul 20:48

    Assalamu’alaikum wr wb
    pacaran islami itu ga ada! waktu saya sekolah di lingkungan Islam, murid cowo dan cewe dipisah..itu tandanya biar tidak saling memandang lawan jenis satu dg yg lain, berboncengan motor jg ga boleh. Kalo admin jwb ‘itu kan pihak sekolah yg ngelarang’. Saya percaya 100 % sekolah saya berusaha untuk mengikuti semua perintah Allah. dan kita taati semua peraturan itu, karena kami yakin semua itu demi kebaikan bersama.

    Wassalamu’alaikum wr wb

      M Shodiq Mustika responded:
      28 Januari 2009 pukul 23:00

      @ zaki
      wa’alaykumussalaam wr wb
      Apakah zaki berkomentar tanpa membaca apa-apa yang sudah kami tulis di sini?

    BOY said:
    22 Februari 2009 pukul 11:36

    assalamualaikum wr wb.
    Dalam Islam memang tidak ada kata pacaran karena itu melegalkan zina. Untuk ini kita perlu mencari kata-kata yang untuk mengganti kata pacaran, yang bisa dimengerti oleh banyak orang (populer), mungkin istilah agama banyak yang tak tahu/belum tahu, sehingga dapat mencerminkan bahwa kita selalu ingin dalam Islam dan mengembangkannya sampai akhir masa. Jangan kita suka memakai kata-kata yang diciptakan oleh budaya selain Islam. Mungkin kata perkenalan awal, silaturrahmi dengan calon isteri, atau lain sebagainya.
    wassalam

      M Shodiq Mustika responded:
      11 Mei 2009 pukul 00:16

      @ boy
      Silakan memakai istilah lain. Tapi kita tak berhak melarang sebagian saudara-saudara kita yang lebih menyukai istilah pacaran islami.

    sutrisno said:
    3 Maret 2009 pukul 21:39

    bicara cinta, haruskah dengan benar atau salah?
    bicara cinta, haruskah dengan nalar dan logika?

    jika cinta itu datang, maka hadirlah rasa….
    untukku, untukmu, untuk semua
    milikku, milikmu, milik semua

    jika cinta itu datang, maka ia tak mau lagi sembunyi…
    terbuka…menjadi nyata
    muncul…menjadi ada
    berbekas…menjadi tanda
    tanda bahwa inilah cinta

    Kautsar said:
    2 April 2009 pukul 14:07

    assalamualaikum wr wb.
    Kalo pacaran ga ada yang islami, kalo udah pacaran ya brrti hrus siap nanggung dosa. kalo ga mau nanggung dosa, mending ga usah pacaran. sholat minta petunjuk sama Allah, cari wanita yang pas menurut hatimu, trus nikah deh.

    Kalo pacaran islami menurut gua omong kosong tuh, tar lama-lama ada zina islami lagi.

    gua ga baca isi blog lu diatas, soalnya judulnya aja udah kaya gitu, mending lu ganti judul aja “Pacaran Islami Setelah Nikah” itu lebih menyenangkan.

      M Shodiq Mustika responded:
      11 Mei 2009 pukul 00:18

      @ Kautsar
      Komentarmu menyimpang dari topik pembicaraan. Silakan tunjukkan kalimat manakah pada postingan di atas yang keliru sehingga berdosa. Ataukah kau berkomentar tanpa lebih dulu membaca isi postingan di atas?

        manta surab said:
        31 Juli 2009 pukul 01:46

        assalamualaikum wr wb.
        mas admin, bukannya sudah dijelaskan dalam hadist yang diriwayatkan Muslim dan Buchori :

        Dari Ibnu Abbas r.a. dikatakan: Tidak ada yang kuperhitungkan lebih menjelaskan tentang dosa-dosa kecil daripada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah telah menentukan bagi anak Adam bagiannya dari zina yang pasti dia lakukan. Zinanya mata adalah melihat (dengan syahwat), zinanya lidah adalah mengucapkan (dengan syahwat), zinanya hati adalah mengharap dan menginginkan [pemenuhan nafsu syahwat], maka farji (kemaluan) yang membenarkan atau mendustakannya…” (HR Bukhari & Muslim)

        skrg dalam tingkatan paling rendah,apakah dalam pacaran islami kita mengingat orang lain yang membangkitkan nafsu kita atau tidak. bukankah itu juga termasuk zina?
        bila kita sms dengan orang yang kita sukai saja, kita juga akan membayangkan orangnya. bukannya kita dianjurkan, untuk melakukan sebatas seperlunya saja bila kita membutuhkan berkomunikasi dengan lawan jenis. dan tidak mencari2 keperluan.

        tidak ada juga hukum dalam islam yang memperbolehkan pacaran islami atau mendukung pacaran islami, daripada kita mengikuti sesuatu hal yang hukumnya belum pasti, kenapa g dijauhi aja sekalian.
        bukannya melakukan sesuatu hal yang ragu-ragu itu g boleh kan?

        sudah ada hukum yang jelas yang mengatur tentang proses perkenalan sebelum nikah dalam islam. tidak usah lagi ditambah-tambahkan lagi dengan pacaran islami….

    nimaria said:
    9 Mei 2009 pukul 14:14

    ra melu2 weeee
    memang ya? jika kita sudah sesat tiada yang mampu mengembalikannya ke jalan yang benar kecuali Alloh Azza wa Jall

    istigfar cah, jangan2 malah kita yang sesat,

    akhina_khr said:
    30 September 2009 pukul 08:35

    Emang apa aja sih aktifitas dlm pacaran islami??Jelasin yg detail ya Pa’..Nanti dari situ bisa kita coba u/ lihat n kita nilai sebetulnya pacaran islami itu mubah atw haram…Makasi..🙂

    […] sudah sering menjelaskan mengapa pakai istilah pacaran islami. Diantaranya adalah supaya mereka yang menyukai istilah pacaran tidak malah lari ke model pacaran […]

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s