Perang PKS vs Ahmadiyah (Siapa pemenangnya?)

Posted on Updated on

Kontroversialnya fatwa MUI mengenai merokok dan golput baru-baru ini sepertinya menjadi momentum bagi Ahmadiyah di Indonesia untuk bangkit kembali. Seperti kita ketahui, MUI pada 29 Juli 2005 mengeluarkan fatwa: “Menegaskan kembali keputusan fatwa MUI dalam Munas II Tahun 1980 yang menetapkan bahwa Aliran Ahmadiyah berada di luar Islam, sesat dan menyesatkan, serta orang Islam yang mengikutinya adalah murtad (keluar dari Islam)”. Dengan munculnya fatwa tersebut, seolah-olah Ahmadiyah tenggelam. Kini, dengan merosotnya wibawa MUI dalam pandangan masyarakat, akankah Ahmadiyah Indonesia bangkit dari ketenggelamannya?

Mungkin saja begitu. Paling tidak, ada usaha untuk itu, sebagaimana tercermin dalam ditayangkannya sebuah artikel berjudul “Ahmadiyah Menjawab PKS”, kemarin. Di bawah ini saya akan mengutipnya apa adanya. Selanjutnya, silakan para pembaca menyampaikan masukan atau saling berdiskusi secara beradab melalui kotak komentar yang tersedia. Saya hanya akan menjadi penyimak (dan moderator bila perlu).

***

Ahmadiyah Menjawab PKS

Diterbitkan Januari 30, 2009
Tags: , , , , , , , , , ,

a. Saya tidak menujukan salam saya kepada anda karena menurut saya Ahmadiyah bukan Islam.
b. Laporan Ahmadiyah (yang disampaikan di Komisi 8 ) tidak sesuai dengan yang dilapangan. Disini mengatakan kitab sucinya Ahmadiyah AI-Quran, akan tetapi dilapangan dimana-mana diseluruh dunia Ahmadiyah kitab sucinya Tadzkirah, dimana di dalamnya ayat-ayat AI-Quran diaduk-aduk, diacak-acak.
c. Mirza Ghulam Ahmad disebut namanya dengan ‘Alaihis Salaam’. Padahal ‘alaihis salaam’ hanya boleh digunakan untuk Nabi & Rasul.
d. Mirza Ghulam Ahmad mengaku Nabi & Rasut. Dengan demikian Syahadat menjadi rusak.
e. Jemaat Ahmadiyah ini bisa hidup karena ada yang memanfaatkan yaitu orang Munafiquun dan orang Kafiruun. Orang Munafiqun ialah orang yang dengan menghidupkan Ahmadiyah ia mendapatkan dana dan keuntungan atau manfaat-manfaat tertentu. Sedangkan oleh orang kafir, Ahmadiyah dimanfaatkan untuk memecah belah umat Islam, khususnya di India ketika dijajah oleh Inggris. Ahmadiyah dimanfaatkan oleh Inggris untuk melawan orang-orang Islam. Inggris memuji-muji Mirza Ghulam Ahmad dan keluarga Mirza Ghulam Ahmad sarna sekali tidak mau berjihad melawan penjajah Inggris.
f. Ahmadiyah ditolak oleh semua ulama dan umat Islam diseluruh dunia. Masih terbuka kesempatan bagi Ahmadiyah untuk bergabung dengan kami. Dan jika tidak ingin ditolak jangan mengatakan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi dan Rasul.

Demikian 7 buah pernyataan yang disampaikan oleh Anshari Siregar dari Fraksi PKS,dalam acara Temu Wicara Komisi VIII DPR RI dengan Ahmadiyah Indonesia, yang berlangsung pada tanggal 31 Agustus 2005.

Berikut adalah  jawaban dari pihak Ahmadiyah atas pertanyaan/pernyataannya itu:
a.Nabi Muhammad SAW, diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan nilai-nilai akhlak yang terpuji. Dan beliau diperintahkan untuk menjalin silatur-rahim dengan memperbanyak salam kepada orang yang kenal maupun yang tidak kita kenal, dan memperingatkan kita dengan Sabdanya: “Laa yadkhulul jannata qaati’un.” – tidak akan masuk sorga orang yang memutuskan hubungan tali silatur-rahim (Hadits). AI-Quran dengan jelas sekali mengatakan: “Walaa taquulu liman alqaa ilaikumus-salaama lasta mu’minan” -Dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang memberi salam kepadamu, “engkau bukan mukmin” (An-Nisa, 4:95). Di awal sidang KOMISI VIII, Ahmad Supardi, Jubir Jemaat Ahmadiyah telah mengucapkan SALAM kepada seluruh hadirin dalam Majlis yang terhormat ini, dengan ucapan ASSALAMU’ALAIKUM WARAHMATULLAAHI WA BARAKATUHU. Jadi, betapa kontradiksinya pernyataaan Saudara Anshari Siregar dengan Firman Allah dan Uswah Hasanah Rasulullah SAW yang dianut oleh Jemaat Ahmadiyah.

b.pernyataan Saudara Anshari Siregar, “laporan Ahmadiyah tidak sesuai dengan yang dilapangan. Disini mengatakan kitab sucinya Ahmadiyah AI-Quran, akan tetapi dilapangan dimana-mana diseluruh dunia Ahmadiyah kitab sucinya Tadzkirah, dimana didalamnya ayat-ayat AI-Quran diaduk-aduk, diacak-acak”, Pernyataan saudara Anshari Siregar itu sama sekali salah dan fitnah sematamata. Sebab, dimanapun Jemaat Ahmadiyah berada di dunia ini, tidak pernah menyatakan bahwa Tadzkirah itu adalah kitab suci. Sebagai seorang yang menjadi wakil rakyat di Dewan yang terhormat, Saudara Anshari Siregar tidak layak mengemukakan pernyataan seperti itu. Sebab, tidak layak bagi seorang penyebar fitnah untuk duduk mewakili rakyat di Dewan yang terhormat seperti ini. Sebagai orang yang beragama, peringatan Allah Swt. dalam AI-Quran ini, cukuplah menggentarkan jiwanya:

Qur'an
Artinya:
Dan janganlah engkau ikuti apa yang tentang itu engkau tidak mempunyai pengetahuan. Sesungguhnya, telinga dan mata dan hati, tentang semuanya ini akan ditanya. ” (Bani Israil, 17:37)
Al-Qur'an
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak berprasangka, karena sebagian prasangka itu adakalanya merupakan dosa. Dan janganlah kamu saling memata-matai, dan jangan pula sebagian kamu mengumpat sebagian yang lain.” (AI-Hujurat, 49:13)

 03

Artinya:
“Mereka yang berbuat aniaya terhadap orang-orang mukmin lakilaki dan orang-orang mukmin perempuan, kemudian mereka tidak bertobat, niscaya bagi mereka ada siksaan neraka jahanam dan bagi mereka ada adzab yang membakar hati.” (AI-Buruj,85:11)

Selain penjelasan tersebut diatas, dirasa penting untuk menambahkan penjelasan mengenai tuduhan dan fitnah yang dilontarkan oleh Saudara Anshari Siregar bahwa Jemaat Ahmadiyah mengacak-ngacak dan mengaduk-aduk ayat-ayat suci AI-Quran.
Jemaat Ahmadiyah tidak pernah mengacak-acak atau pun mengaduk-aduk ayat Suci AI-Quran, sebab AI-Quranul Karim diimani oleh Jemaat Ahmadiyah sebagai kitab Suci dan Kitab Syariat yang terakhir. Bahkan kami meyakini kebenaran Firman Allah berikut ini:
 04

Artinya:
“Sesungguhnya, Kami-Iah yang telah menurunkan Peringatan (Al-Quran) ini, dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya
.” (AI-Hijr, 15:10)

Menurut ayat ini AI-Quran tidak mungkin dapat diacak-acak dan di aduk-aduk karena dipelihara dan dijaga oleh Allah Swt Wujud Yang Maha Kuasa, sehingga tidak diperlukan campur tangan manusia dengan cara kekerasan untuk melindungi dan menjaganya.
Selain meyakini hal tersebut diatas, dalam upaya meluaskan dakwah Islam dan risalah Rasulullah SAW, kami, Jemaat Ahmadiyah, juga telah, sedang, dan akan menerjemahkan AI-Quranul Karim kedalam berbagai bahasa di dunia.

Dan, kini, kami, Jemaat Ahmadiyah, telah berhasil menerjemahkan AI-Quran ke dalam 100 bahasa di dunia, seperti: Inggris, Prancis, Portugis, Jerman, China, Rusia, Tagalog, Korea, Swahili, Jepang, ItaIi, Spanyol, Belanda, Indonesia, dll. Adakah para pecinta AI-Quran yang telah melakukan hal yang sama, yakni menterjemahkan Al-Quran ke dalam berbagai bahasa seperti yang dilakukan Jemaat Ahmadiyah? Tidakkah lebih baik bagi kita untuk ber- fastabiqul khairat?

Kami telah menjelaskan bahwa Jemaat Ahmadiyah tidak pemah mengacak-acak dan mengaduk-aduk ayat-ayat suci AI-Quran seperti yang dituduhkan oleh saudara Anshari Siregar. Dan perlu kami tegaskan lagi disini, Tadzkirah, bukanlah kitab suci Ahmadiyah, dan bukan disusun oleh Pendiri Jemaat Ahmadiyah.

Buku Tadzkirah hanyalah kumpulan wahyu, ilham, kasyaf, dan ru’ya yang dikutip dan dihimpun dari berbagai buku dan selebaran Pendiri Jemaat Ahmadiyah. Tadzkirah diterbitkan pertama kali menjadi sebuah buku pada tahun 1935, yaitu 27 tahun setelah wafatnya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as.

Sama sekali tidak terbetik dalam pikiran orang-orang Ahmadiyah, bahwa Tadzkirah adalah kitab suci. Maka itu, ketika ada orang yang menyebarkan fitnah bahwa Jemaat Ahmadiyah mempunyai kitab suci sendiri bernama Tadzkirah, maka kami sangat heran. Dan bertambah heran lagi, ketika mereka – termasuk juga Saudara Anshari Siregar, memaksa kami untuk mengakui Tadzkirah sebagai sebuah kitab suci.

Di dalam sejarah Islam, dijumpai banyak sekali ulama-Ulama Masa Awwal, yaitu ulama-ulama yang ke zuhudan dan kesuciannya tidak diragukan lagi, bahkan sulit untuk mendapatkan contoh dan bandingannya dizaman sekarang ini. Para Ulama Masa Awwal ini mengemukakan pengalaman-pengalaman rohani mereka bahwa mereka menerima wahyu dari Allah Swt,.

Di dalam wahyu yang mereka terima, nampak dengan jelas, sebagiannya sama persis dengan ayat-ayat Al-Quran, dan sebagiannya lagi, campuran antara kata-kata yang persis dengan ayat-ayat Al-Quran dan kata-kata lain yang bukan ayat-ayat AI-Quran. Contoh wahyu yang diterima oleh Ulama Masa Awwal ini, akan kami kemukakan dibagian akhir dari penjelasan terhadap tuduhan ini.

Pernyataan para Ulama Masa Awwal, bahwa mereka menerima wahyu, menjadi bukti sempurnanya firman Allah Swt yang menyatakan bahwa Dia adalah Wujud Yang AI-Mutakallim (Maha Berkata-kata) sebagaimana firman-Nya:
 05

Artinya:
“Dan tidaklah mungkin bagi manusia agar Allah berfirman kepadanya, kecuali dengan wahyu langsung, atau dari belakang tabir, atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan izin-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Dia Mahaluhur, Mahabijaksana
“.(As-Syura, 42:52)

Menurut para Ulama Masa Awwal, orang yang mengingkari adanya lagi wahyu setelah AI-Quranul Karim sempurna diturunkan, itu dikarenakan ia tidak mendalami dan tidak pernah merasakan nikmat-nikmat rohani sebagaimana yang dirasakan oleh para Ulama Masa Awwal itu.

Allamah Allusi rahimallahu dalam Tafsir yang ditulis dalam Ruuhul Ma’aani juz 7 hal 326 menyatakan:

Kamu hendaknya mengetahul bahwa sebagian ulama mengingkari turunnya malaikat pada hati selain Nabi sebab mereka tidak merasakan lezatnya. Jelasnya bahwa malaikat itu turun tetapi dengan Syari’at Nabi kita shallallaahu ‘alaihi wasallam. “

Setelah Rasulullah Saw, wafat, Allah Swt. masih terus menerus menzahirkan sifat AI-Mutakallim-Nya, misalnya:

i. Ketika para sahabat berselisih pendapat tentang memandikan jenazah Rasulullah Saw. apakah dengan cara menanggalkan pakaian beliau atau tidak menanggalkannya, maka turunlah wahyu dari Allah kepada mereka:
Ighsiluu rasuulallaahi Wasallaam wa ‘alaihi tsiyaabuhu. “
Artinya:
Mandikanlah Rasulullah Saw dalam keadaan beliau berpakaian.” (HR. Baihaqi dari Aisayah r.a. dan Misykat Bab. AI-Kiramat hal. 545)
Ini adalah wahyu yang turun segera setelah Rasulullah Saw wafat yang membuktikan bahwa wahyu berupa penjelasan dan bukan wahyu Syari’at masih tetap turun.

ii. Imam Muhyiddin Ibnu Arabi menulis didalam kitab beliau Futuhatul Makiyah jld. 3 hat 367 bahwa beliau menerima wahyu sebagai berikut:

 06

Artinya:
“Katakanlah, kami beriman kepada Allah dan beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’kub dan anak cucunya dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan satupun dari antara mereka dan kami berserah diri kepada-Nya
.”

Wahyu yang diterima oleh Ibnu Arabi ini sama persis dengan ayat AI-Quran surah AI-Baqarah ayat 136.

iii. Syeikh Abdul Qadir Jaelani didalam Futuuhul Ghaib menulis:

 07

Artinya:
Engkau akan dijadikan kaya dan pemberani. Dan engkau akan dianugerahi kemuliaan. Dan engkau akan dianugerahi dengan karunia bermukhaathabah bahwa engkau di sisi Kami pada martabat yang tinggi, yang luhur dan jujur.”

Wahyu ini merupakan campuran dari kata-kata yang persis sama dengan ayat AIQuran surah Yusuf ayat 55 dengan kata-kata lain yang sama sekali tidak persis ayat AI-Quran. Masih banyak lagi contoh-contoh yang dapat dikemukakan, namun karena keterbatasan waktu dan tempat, maka kami cukupkan demikian.

Dengan demikian, Jika pernyataan saudara Anshari Siregar dianggap benar bahwa dengan adanya Tadzkirah itu telah terjadi perbuatan ‘mengacak-acak dan mengaduk-aduk Al-Quran, berarti Saudara Anshari Siregar, setuju menganggap para Ulama Masa Awwal yang suci itu pun telah mengacak-acak dan mengaduk ad uk ayat-ayat suci Al-Quran, padahal para ulama masa awwal itu adalah orang-orang yang dekat kepada Allah Swt.

Kami sangat tidak setuju dengan pernyataan Saudara Anshari Siregar yang menyatakan bahwa Al-Quran dapat diacak-acak dan diaduk-aduk karena pernyataannya itu jelas-jelas bertentangan dengan firman Allah Swt didalam Al-Quranul Karim.

Kami sangat menjunjung tinggi, menghormati dan memuliakan Al-Quranul Karim. Sebab, demikianlah yang diajarkan oleh Allah Swt., Nabi Muhammad SAW., dan nasihat Pendiri Jemaat Ahmadiyah.

Berkenaan dengan kedudukan Al-Quran, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, Pendiri Jemaat Ahmdiyah, menulis:

Ada pula bagimu sekalian suatu ajaran yang penting, yaitu bahwa kamu jangan hendaknya meninggalkan Al-Quran seperti sebuah buku yang telah dilupakan; sebab, didalamnya terletak sumber kehidupanmu. Barangsiapa yang memuliakan Al-Quran akan memperoleh kemuliaan di langit. Barangsiapa yang menjunjung tinggi Al-Quran diatas segala hadits dan segala sabda-sabda yang lain, akan dijunjung tinggi di Langit. Bagi umat manusia diatas permukaan bumi ini, kini tidak ada Kitab lain kecuali Al-Quran, dan bagi seluruh Bani Adam tidak ada pedoman hidup kecuali Al-Quran. Kini tidak ada seorang Rasul dan Juru Syafaat kecuali Muhammad Mustafa Saw. Maka berusahalah kamu sekalian untuk mendambakan kecintaan yang semurni-murninya bagi Nabi yang agung ini, dan janganlah memberikan kepada siapapun suatu tempat yang lebih tinggi daripada beliau, agar supaya kamu digolongkan diantara orang-orang yang telah diselamatkan. “

Dan ingatlah baik-baik, bahwa Najat (keselamatan) bukanlah suatu hal yang kamu sekalian akan mengalaminya nanti di Akhirat, melainkan sesungguhnya Najat yang hakiki itu memperlihatkan cahaya-nya di alam dunia ini juga. Siapakah yang beroleh Najat itu? lalah orang yang benar-benar yakin, bahwa Tuhan itu adalah suatu realitas dan bahwa Muhammad Saw adalah Juru Syafaat yang menengahi antara Tuhan dan seluruh ummat manusiai bahwa di bawah langit ini, tidak ada Rasul lain yang semartabat dengan beliau dan tidak ada Kitab lain yang sederajat dengan AI-Quran.”
(Bahtera Nuh
, hal. 20)
Wahai kalian yang kusayangi! Anda sekalian singgah di dunia ini hanya untuk sekejap saja, dan itu pun sebagian besar telah anda lalui. Oleh karena itu janganlah membangkitkan amarah Tuhan. Suatu pemerintahan manusiawi yang lebih berkuasa dari anda, jika marah terhadap anda, ia dapat membinasakan anda. Maka bayangkanlah betapa anda dapat menyelamatkan diri dari kemurkaan Allah Ta’ala.”
(Bahtera Nuh
, hal. 99)
C. Saudara Anshari Siregar mengatakan: “Mirza Ghulam Ahmad namanya selalu disebut dengan “Alaihis-Salam“, padahal Alaihis-Salam itu hanya boleh digunakan bagi Nabi dan Rasul saja.”

Jawaban:

Dari pernyataan ini dapat difahami betapa saudara Anshari Siregar tidak mengerti apa itu “Alaihis-Salam“, dan apa makna dan arti dari kalimat Alaihis Salaam.

Kata “Alaihis-Salam”, mengandung suatu do’a, yaitu semoga Allah swt melimpahkan Salam dan keselamatan kepadanya.

Ada pesan khusus yang disampaikan Nabi Muhammad saw berkaitan dengan diri nabi Isa yang beliau saw janjikan, sebagai berikuti Diriwayatkan oleh Anas r.a Rasulullah saw bersabda: 08

Artinya:

Siapa saja diantara kamu yang dapat berjumpa dengan lsa Ibnu Maryam, maka sampaikanlah salamku kepadanya.” ( diriwayatkan dari Hakim dalam Mustadrak 4 /545 ).

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW, bersabda: 09

Artinya:

“Aku sungguh sungguh mengharapkan – kalau umur panjang, akan dapat berjumpa lsa Ibnu Maryami andaikan aku keburu mati, siapa diantara kalian yang bertemu dengan lsa, maka sampaikanlah salamku padanya“. ( diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad 2 /298,249 ).

Jadi kata yang kami ucapkan alaihis salaam bagi Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad manakala kami menyebut nama beliau, mengandung dua tujuan dan dua makna. Pertama, berupa do’a, semoga Allah swt melimpahkan salam dan keselamatan kepadanya. Kedua, berarti alaihi salaamur Rosuulillah saw:, yakni salam Rasulullah Saw. untuk beliau.

Makna yang kedua ini untuk memenuhi amanat Rasulullah saw agar menyampaikan salam beliau Saw. manakala kami melihat, berjumpa atau mendengar maupun mengucapkan nama lsa yang dijanjikan.

Orang yang seumur hidupnya hanya sekali melakukan shalat, tetap diizinkan menggunakan doa seperti itu untuk dirinya. Sebagaimana yang dibaca di dalam shalat yaitu: Assalaamu’alainaa, yang bentuk lainnya adalah: Alainas-Salaam (Keselamatanlah untuk kami). Bentuk ini sama seperti ‘Alaihis-Salam (Keselamatan untuknya). Jika orang seperti ini diperbolehkan menggunakan do’a demikian untuk dirinya, lalu mengapa bagi wujud yang telah dijanjikan oleh Rasulullah SAW., tidak boleh digunakan ucapan yang mengandung doa seperti itu, sebagaimana Saudara Anshari Siregar berkeberatan terhadap Jemaat Ahmadiyah untuk menggunakan doa yang diajarkan dan diperintahkan oleh Rasulullah SAW., untuk disampaikan kepada Isa ibnu Maryam Yang Dijanjikan?

Jadi, kami menyebut Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as dengan sebutan alaihis Salam, hanyalah semata-mata melaksanakan pesan agung Yang Mulia Rasulullah SAW,. Dan, kami mengimani dan meyakini, Mirza Ghulam Ahmad as, sebagai Imam Mahdi dan Isa ibnu Maryam Yang Dijanjikan Kedatangannya, juga semata-mata hanyalah itaat kepada beliau SAW., sebagaimana beliau bersabda:

 10

Artinya:
Apabila kalian melihatnya, maka bai’atlah kepadanya, walaupun harus merangkak di atas salju, karena beliau itu adalah Khalifatullah AI Mahdi (yang mendapatkan petunjuk
.)”
(Sunan Ibnu Majah Darul Fikr, tt, Jilid II hal 1367, Hadits No 4084, Musnad Ahmad, Jld. IV, haI85).

d. Saudara Anshari Siregar mengatakan: “Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai Nabi dan Rasul, dengan demikian Syahadat menjadi rusak.”

jawaban:
Jema’at Ahmadiyah tidak pernah merusak ataupun merobah Kalimah Syahadat.
Syahadat Jema’at Ahmadiyyah adalah: 12

Hal tersebut dapat Saudara Anshari Siregar buktikan dalam kehidupan sehari-hari .orang-orang Ahmadiyah dimanapun mereka berada, dalam shalat-shalat mereka, dalam ikrar perkawinan-perkawinan mereka, atau yang tertera di papan-papan nama Jema’at Ahmadiyyah Indonesia dimanapun, atau pada surat-surat pernyataan baiat yang dibacakan setiap orang yang menyatakan ikrar bai’at bergabung kedalam Jema’at Ahmadiyah.

Kalau ada yang mengatakan, Ahmadiyah telah merobah dua kalimah syahadat, seperti halnya Saudara Anshari Siregar, mereka itulah sesungguhnya yang telah merobah, lalu menuduhkannya kepada Jemaat Ahmadiyah.
Syahadat Jemaat Ahmadiyah, ialah:

 11Justru kami mendengar sebagian masyarakat Islam Indonesia ada yang mengucapkan kalimah syahadat model baru:
Asyhadu a( n) laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah, laa rasuula walaa nabiyya ba’dah

Syahadat seperti ini tidak pernah diucapkan oleh Rasulullah Saw dan para shabatnya, juga tidak pernah diucapkan oleh Jemaat Ahmadiyah. Nah, siapa sebenarnya yang merobah-robah dan merusak syahadat?

e. Saudara Anshari Siregar mengatakan: “Jemaat Ahmadiyah ini bisa hidup karena ada yang memanfaatkan yaitu orang Munafiquun dan orang Kafiruun. Orang Munafiqun ialah orang yang dengan menghidupkan Ahmadiyah ia mendapatkan dana dan keuntungan atau manfaat-manfaat tertentu. Sedangkan oleh orang kafir, Ahmadiyah dimanfaatkan untuk memecah belah umat Islam, khususnya di India ketika dijajah oleh Inggris. Ahmadiyah dimanfaatkan oleh Inggris untuk melawan orang-orang Islam. Inggris memuji-muji Mirza Ghulam Ahmad dan keluarga Mirza Ghulam Ahmad sama sekali tidak mau berjihad melawan penjajah Inggris.”

Jawaban:
Saudara Anshari Siregar, silahkan membuktikan pernyataan-pernyataannya, bahwa ada orang munafiq yang mengambil manfaat dari Ahmadiyah. Sebab, Jemaat Ahmadiyah tidak pernah mengetahui adanya orang-orang yang dituduhkan demikian.

Selama hidupnya, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, terus menerus membela dan meninggikan Islam dengan cara, al: mengemukakan keindahan-keindahan ajaran AI-Quran, Sunnah Rasulullah SAW., serta membuktikan dengan cara bijaksana kekeliruan ajaran yang didasarkan kepada pemahaman tentang wafatnya Nabi Isa as, diatas kayu salib. Cara yang bijaksana dan menggunakan logika yang dasarkan kepada ayat-ayat Suci AI-Quran dan Sabda-sabda Nabi Muhammad SAW., menjadikan dakwah beliau sebagai dakwah yang damai dan sesuai Akhlaqularimah yang dicontohkan Rasulullah SAW. Cara seperti ini tentu di puji oleh kawan maupun lawan.

Tuduhan Saudara Anshari Seregar, bahwa Ahmadiyah digunakan oleh Inggris untuk memecah belah umat Islam, adalah tuduhan yang tidak berdasar dan salah sama sekali. Sebab, bagaimana mungkin Inggris yang agama negaranya berdasarkan ajaran trinitas, menggunakan beliau yang membela Islam dan mengajarkan tauhid.
Inggris yang berkeinginan menarik simpati masyarakat Islam India, tidak mungkin menggunakan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai kaki tangan karena beliau secara zahiriyah dimusuhi oleh sebagian ulama dan umat Islam. Hal ini tentu kontraproduktif bagi kepentingan Inggris. Pemerintah Inggris walaupun tidak setuju dengan pemahaman dan aqidah Pendiri Jemaat Ahmadiyah, namun karena cara beliau as bertabligh mengikuti akhlaqul karimah Rasulullah Saw, oleh karena itu fihak Pemerintah tidak merasa terancam. Pemerintah hanya akan merasa terancam jika ada golongan yang melakukan tindakan anarkis dengan mengatasnamakan agama. Sebab tindakan anarkis seperti itu bukan hanya membahayakan bagi sebagian masyarakat, tapi justru suatu saat akan menimbulkan berbagai bencana keamanan yang lebih luas di dalam masyarakat.

Saudara Anshari Siregar mengatakan bahwa “Pendiri Jemaat Ahmadiyah tidak melakukan jihad melawan Inggris”, tuduhan ini pun merupakan tuduhan yang tidak berdasar. Karena jihad menegakan Tauhid dihadapan penguasa merupakan jihad yang besar. Sedangkan jihad mengangkat senjata secara fisik, adalah jihad kecil menurut Rasulullah SAW., bahkan beliau SAW., mengkhabarghaibkan, AIMasih Yang Dijanjikan itu, akan meninggalkan perang fisik (Yadha’ul-harba) (Bukhari dan Muslim). Pemerintah Inggris pada waktu itu memberikan kebebasan beragama dan melindungi hak-hak sipil masyarakat.

Menurut catatan sejarah India, banyak sekali ulama Islam disana memuji-muji pemerintah Inggris, misalnya:

1. Syamsul ‘Ulama Maulana Nazir Ahmad Dehlwi, seorang Pendiri Ahli Hadits dan Deobandi, menulis: “Kesejahteraan seluruh Hindustan akan terjamin jika ada pemerintah asing menguasai mereka, yang bukan Hindu dan bukan pula Islam, yakni raja-raja yang datang dari Eropa (Kalau tidak ada, juga orang Inggris, siapa saja; yang penting dari Eropa); akan tetapi, merupakan anugrah Ilahi yang tak terhingga ternyata Inggris yang menjadi raja.”(Kumpulan ceramah-ceramah Maulana Nazir Ahmad Dehlwi, hal 504, cetakan tahun 1890). Kemudian beliau berkata: “Apakah Pemerintah Inggris zalim dan bertangan besi? Ya ampun, …. ! Dia lebih lembut dari Ibu-Bapak yang pengasih “(Ibid)

2. Seorang yang selalu terdepan di dalam menentang Pendiri Jemaat Ahmadiyah, yaitu Maulvi Muhammad Husein Batalwi, menulis: “Raja Romawi adalah raja Islam. Tetapi dari segi keamanan umum dan manajemen yang baik (terlepas dari masalah agama), Pemerintah Inggris juga, untuk kita orang-orang Islam; dan sedikit pun tidak kurang membanggakannya. Dan khususnya, untuk kelompok Ahli Hadits, Pemerintah Inggris dari segi keamanan dan kebebasan, kini di bandingkan dengan seluruh kerajaan-kerajaan Islam (Romawi, Khurasan dan Iran), lebih dapat dibanggakan 11
” Karena adanya keamanan dan kebebasan serta baiknya pengaturan
mazhab, pengikut Ahli Hadits menganggap Pemerintah Inggris sebagai ghanimah yang luar biasa. Dan sebagai rakyat bagi kerajaan Inggis ini, lebih baik daripada menjadi rakyat dari Negara-negara Islam.”(Majalah Isyaatus-Sunnah No. 10, hal 292-293)

Tentang Jihad dalam Islam, Rasulullah saw mengkhabarghaibkan bahwa Imam Mahdi dan Masihil Mau’ud di Akhir Zaman nanti akan menghentikan atau meniadakan peperangan (Yadha’ul harba). Jihad dimasanya, tidak lagi dengan pedang, tetapi jihad Islam akan ditempuh dengan sifat Jamal — keindahan, dengan dalil , dan akhlak Rasulullah SAW., sebagaimana FIrman Allah :
Panggilah kepada jalan Rabb-mu dengan kebijaksanaan dan nasihat yang baik, dan hendaknya bertukarpikiranlah dengan mereka dengan cara yang sebaik-baiknya. Sesungguhnya Rabb-mu lebih mengetahui siapa yang telah sesat dari jalan-Nya, dan Dia lebih mengetahui pula siapa yang telah mendapat petunjuk. “ (An-Nahl, 16: 126).

” Saudara Anshari Siregar mengatakan: “Ahmadiyah ditolak oleh semua ulama dan umat Islam diseluruh dunia. Masih terbuka kesempatan bagi Ahmadiyah untuk bergabung dengan kami. Dan jika tidak ingin ditolak jangan mengatakan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi dan Rasul.”

Jawaban:

Kalimat ‘‘ditolak oleh semua ulama dan umat Islam di seluruh dunia” , menunjukkan terbatasnya wawasan pengetahuan dan pemahaman saudara Anshari Siregar. Jemaat Ahmadiyah bukan sebuah agama baru, melainkan hanya sebuah Jemaah dalam Islam. Jika dikatakan bahwa Jemaat Ahmadiyah ditolak oleh semua ulama dan umat Islam diseluruh dunia, tidaklah demikian sebab pada kenyataannya tidak semua ulama dan umat Islam diseluruh dunia bergabung dengan ulama yang menolak, sehingga ulama yang menolak itu tentu tidak berhak menyatakan mewakili semua ulama dan umat Islam. MUI ketika memfatwakan Ahmadiyah kafir beranggotakan 400 ulama dari seluruh Indonesia. Tapi, tidak semua anggota MUI yang berjumlah 400 orang itu, setuju dengan fatwa MUI itu. Mayoritas orang yang bergabung kedalam Jemaat Ahmadiyah diseluruh dunia berasal dari umat Islam. Dan dari antara umat Islam yang bergabung itu, ribuan diantaranya adalah para ulama dan imam-imam masjid dari berbagai bangsa di 181 negara di dunia. Jumlah mereka sekarang sudah lebih dari 200 juta jiwa. Di Indonesia saja masih banyak ulama dan umat Islam yang tidak setuju dengan fatwa MUI maupun pendapat saudara Anshari Siregar. Oleh karena itu tidaklah benar pemyataan saudara Anshari bahwa seluruh ulama dan umat Islam menolak Ahmadiyah.

Tidak diterimanya oleh mayoritas masyarakat, tidak mutlak berarti yang ditolak itu salah. Sebab kenyataannya, Yang Mulia Rasulullah Saw., wujud yang paling benar dan paling mulia dari semua Nabi dan diutus sebagai Nabi untuk seluruh dunia, sampai sekarang ini masih belum diterima oleh mayoritas penduduk dunia walaupun masa penda’waan beliau sudah 15 abad. Walaupun mayoritas penduduk dunia tidak mengakui kenabian Nabi Muhammad Saw, hat itu tidak berarti bahwa ajaran yang beliau bawa itu tidak benar. Dan pendapat mayoritas bukanlah jaminan untuk menentukan suatu kebenaran. Allah Swt. berfirman:

 13

Artinya:
“Dan jika engkau mengikuti kebanyakan orang di bumi, mereka akan menyesatkan engkau dari jalan Allah
.” (Al-An’am, 6:117)

451 thoughts on “Perang PKS vs Ahmadiyah (Siapa pemenangnya?)

    Mustamar said:
    28 Januari 2013 pukul 09:37

    Bagi saya yg kebetulan pernah belajar ilmu kedokteran, sesudah saya baca bermacam-macam sejarah agama terutama agama samawi, dg bukti2 ilmiah yg disampai oleh sarjana jujur, ternyata Alqur’an betul wahyu ilahi/bukan karangan manusia. Alqur’an dg tegas menyatakan bahwa wahyu berakhir pada alqur’an, siapa yg meragui coba buat satu ayat yg semisal alqur’an. Sampai detik ini walau di Indonesia Ahmadiyah tetap menang karena kawannya semakin banyak yaitu Islam LIberal yg mendapat kiriman dana entah dari mana dan Syi’ah yg mendapat dana tentu saja dari Iran. Semua yg di ajarkan jelas tidak fitrah, JIL mengajarkan semua agama sama, kebenaran agama relatif; hasil pemikiran manusia memang relatif, tetapi wahyu kebenaran bersifat mutlak, cuma kemampuan orang itu menilai kebenaran wahyu yg terbatas. Syi’ah dg mempertahankan nikah mut’ah saja sudah jelas tidak fitrah terutama bagi wanita dan keturunannya. Apalagi dg membedakan sahabat nabi yg berempat ini jelas paham tidak mengakui sejarah, sebab pada hakikatnya sahabat nabi yg setia yg selalu membantu beliau dari awal sampai mengembangkan Islam sampai kesini tidak bisa dilepaskan dari Abu Bakar, Umar bin Khatab dan Utsman bin Affan, sedang Ali waktu hijrah saja masih bumper untuk menipu orang kapir Quraish, artinya tidak logis sahabat yg empat itu di adu domba, di jelek-jelekan, apalagi di kafirkan atau di munafikan, sebab kalau ada yg berfikiran begitu bearti orang itu menuduh Nabi Muhammad s.a.w Gagal mengemban perintah kerasullanNYa.

    […] Di situs ini pun, perbincangan ini telah menghasilkan diskusi yang agak panas. (Lihat “Perang PKS vs Ahmadiyah“.) Itulah sebabnya, ketika tadi pagi aku jumpai berita mengenai mengapa Presiden SBY dan […]

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s