Rayakan Hari Kasih-Sayang secara Islami

Posted on Updated on

Dari tahun ke tahun, setiap 14 Februari, muda-mudi Indonesia (yang mayoritasnya muslim) semakin bergairah merayakan “Hari Valentin” ini sebagai hari kasih-sayang. Padahal, sejumlah aktivis dakwah semakin gencar menyuarakan seruan keras: “perayaan Valentine’s Day itu haram, budaya Barat jahiliyah yang merusak Islam, harus dijauhi, jangan ikut-ikutan,” dan sebagainya. Namun, bagi banyak muda-mudi Islam Indonesia, seruan semacam itu bagai “anjing menggonggong, kafilah berlalu”.

Mengapa begitu? Salah satu diantara sebab-sebabnya barangkali adalah lantaran generasi orangtua (seperti diriku) telah memberi contoh yang kurang baik. Diantaranya: membudayakan korupsi, menyuburkan materialisme, mengakali hukum negara, melecehkan fatwa MUI, dan sebagainya. Diantara sebab-sebab semakin membudayanya perayaan Hari Valentin, yang paling mendasar menurutku adalah gagalnya kita (orangtua & aktivis dakwah) dalam memenuhi kebutuhan muda-mudi kita yang gemar merayakan hari kasih sayang setiap 14 Februari itu.

Kebutuhan mereka yang manakah yang kurang kita penuhi, sehingga mereka getol merayakan Hari Valentine? Kebutuhan akan kasih-sayang! Siang-malam, kita keasyikan berburu rezeki, mengurus ini-itu… tapi kurang menaruh perhatian kepada mereka. Ketika “menaruh perhatian besar” pun, kita suka membuka mulut dan enggan membuka telinga. Akibatnya, mereka kekurangan kasih-sayang dari kita.

Dalam keadaan haus akan kasih-sayang itu, mereka tidak menuntut kita untuk memberi kasih sayang yang lebih mendalam dari kita. Mereka berusaha sendiri memenuhi kebutuhan mereka ini. Caranya, antara lain, dengan merayakan Hari Valentine setiap tahun, yang jatuh pada 14 Februari.

Dalam keadaan begitu, apakah kita (terutama aktivis dakwah) menghargai usaha mereka? Tampaknya tidak. Kita mati-matian mencela budaya mereka ini dan menjejali telinga mereka dengan seruan-seruan keras yang jauh dari kasih sayang. Akibatnya, kebutuhan mereka akan kasih sayang itu semakin kurang terpenuhi. Walhasil, semakin terdoronglah mereka untuk berburu kasih-sayang dari luar diri kita, diantaranya melalui perayaan Hari Valentine.

Dalam keadaan yang “mengharukan” (baca: memprihatinkan) ini, apa yang dapat kulakukan selaku orangtua & aktivis dakwah? Kupikir, sebaiknya aku sampaikan seruan dengan penuh kasih-sayang. Kepada sesama orangtua dan sesama aktivis dakwah, aku mengajak, marilah kita bersikap lebih penyayang terhadap anak-anak kita dan adik-adik kita. Kepada anak-anak dan adik-adik kita, aku berseru: Rayakan Hari Kasih-Sayang secara Islami!

Bagaimanakah cara merayakan Hari Kasih Sayang yang islami? Bagaimana, ya? Ini merupakan wilayah ijtihad. Alangkah besarnya harapanku bahwa MUI atau ulama-ulama berkompeten lainnya memberi bimbingan mengenai bagaimana caranya. Yang dapat kulakukan kini hanyalah menyampaikan beberapa usulan, antara lain sebagai berikut.

* Bagi yang merayakannya, pilihlah nama selain Valentine atau pun lambang-lambang non-islami lainnya. Misalnya: Hari Rahman-Rahim. (Istilah ini diambil dari ayat pertama al-Fatihah: Bismillaahir rahmaanir rahiim. Artinya: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.)

* Supaya tidak terperosok ke jurang bid’ah atau pun menyerupai tradisi pemeluk agama lain, biarlah masing-masing “menetapkan” (baca: membiasakan) sendiri hari kasih-sayangnya sesuai kebutuhan masing-masing. Mau setiap seperempat abad? Setiap tahun? Setiap bulan? Setiap pekan? Silakan. Mau tanggal berapa, bulan apa, hari apa, silakan pilih sesuai dengan kebutuhan. Singkatnya, hari kasih-sayang itu tidak harus 14 Februari.

* Supaya hari kasih-sayang itu tidak menjadi ajang untuk mendekati zina atau memunculkan fitnah, kita (orangtua & aktivis dakwah) perlu melakukan pengawasan yang secukupnya. Caranya? Antara lain, lihat paragraf yang tercetak tebal pada artikel “Pacaran Islami ala Quraish Shihab“.

* ………………………………………..

Hmm… Usul apa lagi, ya?

Dariku, itu dulu aja deh. Silakan dirimu sampaikan usul mengenai bagaimana merayakan hari kasih-sayang secara islami! Siapa tahu, usulan kita didengarkan oleh MUI dan ulama-ulama berkompeten lainnya. Siapa tahu pula, seruan lembut kita ini “diam-diam” disimak oleh anak-anak dan adik-adik kita, lalu mereka mengikuti seruan kita ini dengan jiwa besar. Nah, silakan sampaikan usulan di kotak komentar yang tersedia di bawah daftar artikel terkait berikut ini.

Daftar artikel terkait di WordPress.com:

These are the most recent results. (If you want to see the most relevants, just click here.)

Say NO to valentine‘s day

Mengenal Ajaran Ajaran Kafirisasi

valentine…’s day…

Hukum Islam tentang VALENTINE‘S Days

BAHAYA-NYA MERAYAKAN VALENTINE…!!!!!!!!!

Valentine’s Day

HUKUM MENYAMBUT HARI VALENTINE

Hukum Merayakan Hari Kasih Sayang / Valentine Day

Menyoroti Perayaan Valentine’s Day

ISLAM Vs VALENTINE DAY

Ada Apa Dengan Valentine Day?

Pandangan Islam terhadap Hari Valentine

Ada Apa Dengan Valentine‘s Day?

RAPAT dan KAJIAN RUTIN MASIKA-ICMI ORDA KUNINGAN

Hukum Merayakan Hari Kasih Sayang/ Valentine Day’s

Ada Apa dengan V-Day?

Palestine Yes! Valentine No!

Minggu Kawan Sedunia dan Hari Kekasih

Ada Apa dengan Valentine?

Hari Kasih atau Valentine dalam tinjauan syariat

Selamat hari Palestin!

Valentine days… apa ya???

Valentine Day

Kabut Berancun itu Bernama Valentine’s Day

Hari kekasih

NASIHAT DARI MIMBAR JUMAAT

Valentine buat Umat Islam

Hukum Merayakan Valentine Day

Valentine itu Fuck-lentine

VALENTINE DAY APA CIHHHHHH

Sensus Burung Air dan Wetlands Day

Pandangan Islam terhadap Hari Valentine….boLeH Ga cEe??

Valentine…..Hari Kasih Sayang?

ada apa dengan Valentine Day

Valentine`s Day: Jalan Penghancuran Islam, Bukan Hari Kasih Sayang

Iklan

54 thoughts on “Rayakan Hari Kasih-Sayang secara Islami

    syahru said:
    8 Februari 2009 pukul 22:09

    bagi yang bisa memanai waktu “setiap hari adalah hari raya”……..jika manusia bersumpah “demi allah, tuhansendiri bersumpah demi waktu”……….salam fantastic

      M Shodiq Mustika responded:
      9 Februari 2009 pukul 05:10

      @ syahru
      Yach, setiap waktu adalah waktu yang baik jika kita bisa memaknainya.
      Alam diciptakan siang dan malam. Ada waktu untuk bekerja, ada pula waktu untuk beristirahat.
      Berhari-raya setiap hari mungkin melelahkan. Jadi, bolehlah kalau tidak setiap hari kita merayakan hari kasih sayang.

    imoe said:
    9 Februari 2009 pukul 11:48

    kasih sayang bukan untuk dirayakan pak, tapi untuk diberikan kepada orang yang bener-bener kita sayangi dan di kasihi…

      M Shodiq Mustika responded:
      9 Februari 2009 pukul 13:20

      @ imoe
      yah imoe memang cerdas yah? hehehhe,,,
      kebutuhan orang emang berlainan
      yang nggak perlu ngerayain ya silakan 🙂
      tapi kita pun menghargai mereka yang membutuhkannya

    My Valentine Surprise « Media Blog said:
    9 Februari 2009 pukul 20:28

    […] klik aja disini…atau untuk memahami dan merayakan Harih Kasih Sayang ini secara Islami, klik disini […]

    Yep said:
    9 Februari 2009 pukul 20:32

    Pak shodiq, saya buat link ke Bapak lagi ya ? Maaf duluan nge-link baru minta izin…:)

    moslem said:
    9 Februari 2009 pukul 20:40

    valentine’s day..
    kasih sayang kok di rayakan, ga jelas maksudnya, sejarah dan makna pd hr tersebut melainkan perbuatan maksiat yg d budayakan..

    Dodo said:
    9 Februari 2009 pukul 21:05

    Ku dari dulu juga gak pernah setuju n gak pernah suka ma “Valentine Day”.
    Bukan budaya kita.

      M Shodiq Mustika responded:
      9 Februari 2009 pukul 21:11

      @ Dodo
      yah kembali lagi ke diri kita masing-masing
      bagaimana dan dengan cara apa kita memaknainya
      silakan kalau ada yang mau merayakan, asalkan secara islami
      tapi kalau yang tidak biasa merayakan ya nggak apa-apa

    e said:
    9 Februari 2009 pukul 22:11

    Mari berikan kasih sayang setiap hari …

      M Shodiq Mustika responded:
      10 Februari 2009 pukul 05:15

      @ e
      ada baiknya jika kita memberikan kasih sayang setiap hari kepada siapa pun terutama orang yang kita kasihi
      tanpa haru menunggu adanya hari valentine datang bener ga?

      @ iphan
      bisa juga jika ada yang memaknainya seperti itu
      hanya sebagai simbolik dari hari kasih sayang
      bukannya di negara barat sendiri memang di maknai begitu,valentine adalah hari kasih sayang?

    iphan said:
    10 Februari 2009 pukul 03:02

    Pada dasarnya manusia selalu menciptakan simbol-simbol untuk memaknai sesuatu. dan valentine untuk aku adalah salah satu simbol saja dalam memaknai kasih sayang 🙂

    adi said:
    10 Februari 2009 pukul 08:22

    untuk pemilik situs ini….menurut aye jiwanya LABIL dan selalu berontak/pembangkang terhadap syariat Islam. Selalu ingin menjadikan Islam yang Sempurna ini menjadi SAMAR/Remang2x (mencampur adukkan/memasukan budaya/ideologi orang kafir dengan Islam)

    Jadi aye Sangsi kepada Agama ENTE ????

      M Shodiq Mustika responded:
      10 Februari 2009 pukul 10:33

      @ adi

      Salam kenal. Anda pengunjung baru, ya? Supaya para pengunjung lain mengenal Anda, perkenankanlah kami memperkenalkan Anda. Kalau bukan penjahat yang suka mencatut identitas orang lain, maka Anda ialah Lika Adikusuma, 16 tahun, penggemar “Hello Kitty”, komik, film “god father”, musik r&b, dan suka nonton MTV. Sejauh ini, belum pernah kami jumpai karya tulis Anda di internet. Jadi, sulitlah bagi kami untuk mengikuti jejak Anda dalam menjalankan “Islam yang Sempurna” dengan jiwa yang sudah matang/dewasa (tidak “LABIL”).

      Satu-satunya tulisan Anda yang sudah kami temui hanyalah komentar di atas. Di situ, Anda main tuduh tanpa bukti sama sekali. Apakah main tuduh tanpa bukti sama sekali itu merupakan bagian dari “Islam yang Sempurna” dengan jiwa yang sudah matang/dewasa (tidak “LABIL”)? ???

        asdf said:
        6 September 2011 pukul 15:41

        jawaban yang agak aneh untuk orang yg berpendidikan dan memiliki pengetahuan yg lebih seperti anda pak shodiq yth. menurut saya kurang terpuji.

        salam

      endang safitri said:
      18 Maret 2009 pukul 09:32

      Asslamu`alaikum…. afwan ikut nimbrung… walaupun mungkin bpk bilang yg koment di atas (lika adikusuma) itu “anak baru” belm pernah punya karya tulis di internet dll… ko` saya melihat ada ke `cerdasan di dlm komentarnya…. lha wong wis jelas ko` pak, MUI wis nurunke fatwa. n mudhorot akibat dari 1 hari ini wah amat uakeh… bahkan da penelitian yg mengatakan bahwa di hari `kasih sayang ini tingkat maksiat meningkat menempati rangking ke 2. n yg pertamanya tahun baruan masehi??? ko bpk malah menyarankan bervalentin sec islami.. woong si valentin aja bukan dari agama islam ko pak…..
      wis lah pak yg jelas ra sah di jadikan remeng2 lagi….

        M Shodiq Mustika responded:
        18 Maret 2009 pukul 10:04

        @ endang safitri
        Apakah kau berkomentar tanpa membaca isi artikel di atas?

    Ponpes Al Rahmah said:
    10 Februari 2009 pukul 10:45

    Ass Wr Wb

    Trims, pak. Semoga tulisan Bapak dapat menjadi penggugah bagi pembaca untuk introspeksi diri bukannya menyerang pihak lain.
    Dengan semangat yang sama, saya menghadapi persoalan bangsa yang makin pelik ini, bertekad untuk senantiasa mengimplementasikan ‘kuu amfusakum waahlikum nara”. Tidak korup, tidak menzalimi orang lain, dan segala tidak tidak lainnya dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Dengan diiringi doa,… semoga Allah menjadikan ku dan keluarga ku menjadi orang-orng yang senantiasa di jalan Nya. Amin.

    Tomi said:
    10 Februari 2009 pukul 12:25

    Terima kasih atas infonya 😀

    http://gapura-solo.blogspot.com/

    Joddie said:
    10 Februari 2009 pukul 15:13

    moga-moga yang di-“anti”-kan cuma Valentine day-nya saja.. bukan kasih sayangnya.. (kalo ini gue setuju buanget..)

    putirenobaiak said:
    10 Februari 2009 pukul 15:46

    suatu sudut pandang yg jarang disadari orang, yaitu bahwa orangtua kurang memberi kasih sayang, makanya anak2 mencarinya di tempat lain. seharusnya kasih sayang tiap saat.

    mmg valentine bukan budaya islam apalagi disalahterjemahkan menjadi kasih sayang kebablasan, aku baca byk kemesuman terjadi di hari valentine

    Code88 said:
    10 Februari 2009 pukul 16:57

    Kenapa kok kata Valentin harus di dengungkan?
    Bukan itu tokoh agama non islam?
    Bukankah Islam menganjurkan kita selalu penuh rohmah pada sesama, jadi tidak perlu ada nya hari valentine lagi.
    Apakah maksud anda buat blog tentang valentine day?

      M Shodiq Mustika responded:
      10 Februari 2009 pukul 17:23

      @ Ponpes Al Rahmah
      wa’alaykumussalaam… Aamiin.
      Terima kasih atas dukungan antum.

      @ Tomi
      Kami pun berterima kasih kepadamu. Sama-sama, ya!

      @ Joddie
      Yup, ketika Islam dicitrakan sebagai terorisme, kita semakin perlu mendengang-dengungkan kasih-sayang Islami.

      @ putirenobaiak
      Ya, itulah sebabnya kita membutuhkan budaya yang islami, termasuk dalam hal kasih-sayang.

      @ Code88
      Supaya Anda tidak salah-paham dan komentar Anda tidak salah-alamat, harap baca artikel di atas dengan secermat-cermatnya.

    dove_eyes said:
    10 Februari 2009 pukul 18:01

    aneh2 aja nih….

    ya sudahlah…, yg mau merayakan ya silahkan merayakan…, tidak perlu usil dengan urusan orang lain…. bagi yg merasa valentine itu haram ya silahkan mengharamkan dan tidak perlu merayakan

      M Shodiq Mustika responded:
      10 Februari 2009 pukul 19:55

      @ dove_eyes dan moondance
      ya begitu kan lebih enak kedengarannya yah 🙂
      silakan kalau yang mau merayakan hari kasih-sayang
      kalau yang tidak merayakan ya sudah ga usah di masalahkan
      peace…

      @ Pahing dan vivaldi
      yah bagi yang merayakan kita ucapkan saja selamat berkasih-sayang

      @ Moomin
      menurut ku tidak ada yang salah, tergantung cara orang masing-masing memaknainya
      bener ga?

    moondance said:
    10 Februari 2009 pukul 18:03

    kalo merasa haram sih ga usa ikut2an aja..dan ga usah sok kepo..gampang toh..
    gw sih ga peduli..dan tetap akan merayakan valentine dengan cara gw sendiri 😀

    dataman said:
    10 Februari 2009 pukul 18:05

    aduh…

    gw mencium bau-bau ga enak ni dari penulis…

    kasih sayang kan universal, ga harus sama pacar ato gebetan…

    sayang sama ortu, sodara, teman, teman di DF, ama mobilnya, ama kucingnya, ama mainannya…

    koq penulis mengarahkan kasih sayang = pacaran?

    Pahing said:
    10 Februari 2009 pukul 18:08

    gue sih gak ngerayain valentinan bukannya karena gak sesuai dengan agama gue atau kenapa.

    tapi karena… gue dah punya istri jugak, plus tiap hari udah hari kasih sayang….

    special daynya ya… pas hari perkawinan… 1 Januari bok, trus pas ultah… ama pas ulang tahun si bocil.. hehehhe

    itu aja dah cukup….

    tapi buat yang ngerayain… selamat merayakan yak…

    leonheart said:
    10 Februari 2009 pukul 18:10

    kalo gak islami mbok gak usah dipaksakan….ntar hari halloween,april mop,thanksgiving dan cap gomeh juga ikood dirayakan secara …… [islami?]

    vivaldi said:
    10 Februari 2009 pukul 18:12

    meskipun non muslim, gw kagak ngerayain valentine yg menurut gw tuh overrated dan sekedar marketing gimmicks. untuk remaja mungkin bisa dimaklumin tapi buat gw pribadi yg sudah menikah, lebih penting ngerayain ultah pasangan dan anniversary. everyday is valentine day to me anyway

    mariuslacatus said:
    10 Februari 2009 pukul 18:14

    Pelajari dulu makna valentine, jangan hanya karena rasa sentimen terhadap kaum yg berbeda, maka menjadikan itu sebagai sesuatu yg haram. Selama itu adalah hal yg baik, dari agama sendiri atau pun bukan, seharusnya itu bisa dimiliki dan dinikmati semua umat manusia.
    Jangan cuma bisa mengatakan agama kita universal, tapi kenyataannya visi kita masih seperti dalam kotak.
    Tapi semua ini tentu kembali pada diri masing2 yg paling berhak utk memutuskan.

    Moomin said:
    10 Februari 2009 pukul 18:16

    Gw terharu, dapat kartu dari anak gw,
    isinya begini:

    “Mom, Thank You for taking good care of me, Happy Valentine’s Day .”

    adakah yang salah dari perayaan ini?

    Rommy said:
    11 Februari 2009 pukul 09:45

    seringkali yang menjadi pertanyaan mereka yang merayakan, kenapa valentin dilarang. kok saling menyayangi dilarang, bukankah dalam Al-Quran dianjurkan untuk saling menyayangi.

    sutrisno said:
    12 Februari 2009 pukul 20:34

    ah bisa aja ni pa Mushodiq (bukan nabi kan?)
    Iya..ya, kebetulan aja namanya Valentine, trus munculnya dibarat (yg katanya kumpulannya orang-orang kafir). Usul saya, namanya ga usah diganti, dah terlanjur beken. cuma cara merayakannya aja yang perlu diluruskan.
    Perlu dirayakan? ya perlu dong, biar ramai, biar orang tahu apa itu kasih sayang, biar tahu kalo kasing sayang itu perlu banget,hari selanjutnya ya tinggal praktek. kalo sudah pada ga ingat apa itu kasih sayang, tahun depan kita rayakan lagi, supaya ingat lagi. gimana tuh usul saya punya?

      M Shodiq Mustika responded:
      12 Februari 2009 pukul 20:58

      @ sutrisno
      heheeh…….rayakan hari kasih sayang secara islami sesuai dengan artikel yang aku posting diatas kan? 🙂

    lex G4m said:
    13 Februari 2009 pukul 18:04

    intinya, jangan terperosok dengan ajaran yang non islami, dan kalo kiat lihat sekarng perayaan valentine tidak ada yang tidak maksiat, (bukan sok suci) yang semua bisa menjerumuskan pada perzinahan. walo bagi orang yang mabuk kepayang akan menolak mentah2 hal tersebut, kecuali kalo memang imannya lebih kuat dari bisikan IBLIS.

    semoga Alloh menetapkan Hidayah-Nya pada kita semua. sehingga tidak terperosok jurang kekufuran yang sangat “halus”. Amin…..

    ozant said:
    13 Februari 2009 pukul 20:57

    ini satu lagi
    valentine?
    setahu saya itu adalah perayaan umat penyembah berhala zaman romawi kuno?
    simak deh the story behind valentine’s day

    Herman S.Y said:
    13 Februari 2009 pukul 22:28

    Saya tertarik dng kata:

    Salah satu diantara sebab-sebabnya barangkali adalah lantaran generasi orangtua (seperti diriku) telah memberi contoh yang kurang baik. Diantaranya: membudayakan korupsi, menyuburkan materialisme, mengakali hukum negara, melecehkan fatwa MUI, dan sebagainya.

    Pelan tapi dalem… 😛 (ngga komentar banyak dech)

    Sebenarnya saya ga tertarik dengan perayaan valentine, memang alasan saya bahwa perayaan tersebut bukan dari islam. Tetapi disini entah kenapa saya tertarik dengan kata:

    Rayakan Hari Kasih-Sayang secara Islami!

    Jadi teringat waktu islam masuk ke indonesia. Indonesia dulunya masih beragama hindu dengan berbagai macam kebudayaan hindu. Setelah para pedagang dari gujarat (india) datang ke indonesia, mereka mulai menyebarluaskan agama islam. Mungkin yg seharusnya kita ingat adalah cara penyebaran agama islam itu sendiri. Sebagai contoh, tradisi tumpeng, tahlilan dsbnya, para ulama2 tahu bahwa masyarakat indonesia sudah terikat dengan kebudayaan hindu tsb, akhirnya disepakati kebudayaan yg berasal dari agama hindu itu tidak di rubah/dihilangkan seluruhnya hanya doa2nya saja yg dirubah secara islami.

    Nah sekarang kembali ke valentine’s day, mungkin kalau pendapat pribadi saya: “bisa saja valentine’s day dirubah secara islami”, tetapi yg menjadi pertimbangan, “apakah ada manfaatnya secara islam dari perayaan valentine’s tersebut (selama 1 kali dalam setahun)?” Ehm .. mungkin rekan2 semuanya pasti mempunyai alasan2 tersendiri… 😉

      M Shodiq Mustika responded:
      14 Februari 2009 pukul 05:13

      @ Herman S.Y
      pertanyaan yang sangat kritis.. 🙂
      terima kasih

    akuiniobenk said:
    14 Februari 2009 pukul 08:08

    saya gak ngerayain valentine baik secara islami maupun gak islami pak.

    he..he..kalo ini agak gak setuju dengan bapak 🙂

    kasih sayang gak perlu tiap 14 feb pak..tiap hari juga bisa. tiap2 kepercayaan ada hari2 perayaan yang mungkin special dalam keyakinan mereka.kita rayakan aja hari perayaan masing2 kepercayaan kita pak + hari perayaan nasional.

    gak bisa kita modifikasi agar bergeser sedikit lalu bisa kita akui itu pun “hari kita”.

    tapi saya menghormati temen2 saya yang merayakannya selama memang dia dari agama “tetangga” pak. dan temen2 saya yang muslim memang jarang merayakannya secara khusus.karena memang “bukan milik kami”.

    tapi kembali lagi pak..kita bebas perpendapat, berbeda menjadi tidak masalah bukan? apalagi kalo memang tujuan akhirnya baik. asal jangan ada yang setengah2 memahaminya..nanti dianggap legitimasi.

    nuhun pak..met weekend (sesekali punya weekend gak apa2 pak sodiq 🙂 )

      M Shodiq Mustika responded:
      14 Februari 2009 pukul 09:34

      @ akuiniobenk
      0) Ya, met weekend pula. Makasih.
      1) Dari komentarmu ini kutangkap kesan bahwa kau belum membaca artikel di atas secermat-cermatnya. Tampak kau tidak membedakan antara “hari valentine” dan “hari kasih sayang”.
      2) Raya = besar. Hari raya = hari besar. Kalau setiap hari, maka itu bukan hari raya lagi.
      3) Ya, wajar saja ada perbedaan pendapat.

    akuiniobenk said:
    14 Februari 2009 pukul 20:54

    @ pak sodiq
    bapak cerdas banget deh pak :)..kok bisa ya baca pikiran saya waktu di angkot tadi?????

    tadi di angkot waktu pagi dari rumah saya juga berpikir..”hm..kok tadi main bilang kontra aja ya?? ada yang saya lewatkan gak ya tadi waktu baca cepet2″..baru mau dibaca ulang pas tiba di rumah..udah kecepetan dapet kunjukan balik

    peace pak…

    akuiniobenk said:
    14 Februari 2009 pukul 22:01

    he..he…besok saya baca lagi yang lain pak..gak tahan neh..ngantuk..dah 11 jam di luar rumah neh pak..sampe besok pagi pak..

    M Shodiq Mustika responded:
    15 Februari 2009 pukul 05:06

    @ akuiniobenk
    gimana untuk pagi hari ini lebih semangat bukan??
    heheheheh….:)

    heri said:
    15 Februari 2009 pukul 11:50

    Inilagi penulis yg kebakaran jenggot karena valentine, makanya bangsa ini tak maju2. pengemis dimana mana, karena asal tidak berbau islam dibesar besarkan, kenapa tidak mengambil hal yg positif, kebudayaan apapun kalu dimodifikasi menjadi positif akan menjadi baik. banyak pula yg komentar tentang asal usul valentine yg tak dia mengerti dikomentari. memamg kita bisanya yg bodoh bodoh aja makanya kita melarat. kadi tolong bicaralah hal yg positif maka hasil yg kita dapat positif juga

      M Shodiq Mustika responded:
      15 Februari 2009 pukul 12:23

      @ heri
      Baru kali ini postingan ini dinilai “kebakaran jenggot”. Padahal, isinya justru mengajak para pembaca untuk mengambil positifnya. Jangan-jangan Anda menulis komentar berdasarkan judul belaka tanpa menyimak secermat-cermatnya isi artikel ini.

    fanhas said:
    18 Februari 2009 pukul 15:16

    Valentin Day Hanya Untuk Melegalkan Perzinahan

    nuriman said:
    27 Februari 2009 pukul 07:56

    salam…

    muslimstory said:
    27 Februari 2009 pukul 08:15

    pertanyaan besar bagi setiap muslim yang merayakan valentine…

    1.kenapa kalau memang alasan mereka merayakan valentine karena hari kasih sayang dan saatnya untuk menunjukkan kasih sayang kita,kenaa g hari2 biasa??,emang nya hari2 biasa g boleh menunjukkan kasih sayang,emang harus di valentine??

    coba aja kalo mereka bisa jawab ^^

      M Shodiq Mustika responded:
      27 Februari 2009 pukul 10:14

      @ muslimstory
      Hari raya = hari besar = hari istimewa. Jika kita merayakan suatu hari, bukan berarti bahwa di hari lain kita tidak bisa melakukannya. Contoh: setiap 10 Dzulhijjah, umat Islam merayakan hari raya qurban. Ini bukan berarti bahwa orang Islam hanya berkorban pada hari itu. Di hari-hari lain pun orang Islam sebaiknya tetap bermurah-hati dengan berkorban demi kepentingan orang-orang lain.

    deni said:
    20 Maret 2009 pukul 08:59

    Haha…^_^…
    bisa aja ya…

    Menarik^_^

    kalau begitu, saya mau bwt hari kash sayang dengan judul hari rahman rahim yang dirayakan setiap hari…^_^…

    pasti menghasilkan sesuatu yang baik..
    karena, dengan begitu, setiap hari penuh rasa kasih sayang..
    ^_^

    deni said:
    20 Maret 2009 pukul 09:02

    tapi ntar, bukan jadi hari raya lagi deh…>.<
    IIIII-_-‘IIII

    […] diperlakukan oleh sejumlah orang sebagai hari kasih sayang. (Bagi pemeluk agama Islam, harap “Rayakan Hari Kasih-Sayang secara Islami“.) Sebetulnya, aku sudah beberapa kali menulis SMS-SMS cinta romantis. Diantaranya: SMS Cinta […]

    husni said:
    7 Februari 2010 pukul 00:18

    kalau mempringati hari ibu boleh gak ya..?

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s