Kiat Imam Ghazali agar Tidak Sombong

Posted on Updated on

Dari beraneka-ragam komentar terhadap artikel “PKS Sombong Lecehkan Artis Sinetron & Kalangan dari Dunia Hiburan Lainnya“, sekurang-kurangnya ada 2 pandangan mengenai kesombongan yang perlu kita kritisi: (1) penyangkalan bahwa sikap Presiden PKS itu tergolong sombong, (2) peremehan keburukan sikap sombong di dunia politik. Di sini hendak aku tunjukkan: (1) sikap Presiden PKS tersebut sudah tergolong sombong, (2) keburukan sikap sombong tak dapat kita remehkan. Sesudah itu, silakan simak kiat dari Imam Ghazali untuk tidak sombong.

Sikap apa yang tergolong sombong?

Ada yang menyangka bahwa sombong itu hanyalah membangga-banggakan diri atau kelompoknya. Mereka mengira bahwa merendahkan orang lain bukan termasuk kesombongan. Terhadap persangkaan keliru seperti itu, dapatlah kita sampaikan sabda Rasulullah s.a.w., “… kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud r.a.)

Berdasarkan hadits tersebut, Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Orang yang sombong adalah orang yang … memandang orang lain rendah, meremehkannya dan menganggap orang lain itu tidak layak mengerjakan suatu urusan …”. (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 2/275)

Dari situ, tentu kita tidak dapat menyatakan bahwa Presiden PKS (Tifatul Sembiring) tidak sombong ketika mengatakan, “Kalau yang masuk di partai itu… artis sinetron, mau jadi apa? Partai sinetron? … Mereka akan membahas persoalan legislasi, yudikasi, dan budgeting akan seperti apa? … Artis sinetron itu hanya sering muncul di iklan.”

Ada yang berkomentar bahwa pernyataan sang presiden PKS itu bukan menunjukkan kesombongan, melainkan sekadar mengungkapkan kenyataan bahwa “para artis pada umumnya memang tidak mampu membahas persoalan negara”. Terhadap komentar seperti itu, kita bisa membandingkannya dengan kasus Abu Dzar r.a.

Kisah Abu Dzar patut kiranya menjadi pelajaran. Suatu ketika, beliau sedang marah kepada seorang laki-laki sampai terucap, “Hai anak wanita hitam.” Rasulullah mendengar hal itu, kemudian bersabda, “Wahai Abu Dzar, tidak ada keutamaan bagi kulit putih atas kulit hitam.” Mendengar hal itu Abu Dzar sangat menyesal hingga meminta orang tadi untuk menginjak pipinya. (HR Imam Ahmad).

Dalam kisah tersebut, Abu Dzar mengungkapkan kenyataan (yaitu bahwa lelaki yang dimarahinya itu anak wanita berkulit hitam). Namun dari kalimatnya itu tersirat peremehan terhadap orang lain. Nah! Kalau pengungkapan kenyataan seperti itu saja sudah tergolong kesombongan, bagaimana dengan pengungkapan sangkaan-buruk (yang oleh pembela PKS dianggap sebagai kenyataan) bahwa “para artis pada umumnya takkan mampu menjadi wakil rakyat”?

Memang, mengungkapkan kenyataan tidaklah selalu merupakan kesombongan. Namun, “mengungkap kenyataan” yang disertai dengan memandang rendah orang lain tentulah tergolong sombong. Sebab, Nabi saw. bersabda, “kesombongan itu adalah … merendahkan orang lain.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud r.a.)”

Balasan bagi Orang Yang Sombong

Ada pula pembela PKS yang sudah mengakui bahwa pernyataan Tifatul Sembiring itu tergolong sombong, tetapi mereka menganggap bahwa kesombongan itu (khususnya di dunia politik) merupakan persoalan kecil yang tak perlu dipersoalkan. Terhadap pembelaan seperti itu, kita dapat mengemukakan sabda Nabi saw., “Tidak masuk surga siapa pun yang di dalam hatinya ada sebiji atom dari sifat sombong.” (HR Muslim dari Ibnu Mas’ud r.a.)

Dari al-Aghar dari Abu Hurarirah dan Abu Sa’id, Rasulullah Saw bersabda: “Allah Swt berfirman; Kemuliaan adalah pakaian-Ku, sedangkan sombong adalah selendang-Ku. Barang siapa yang melepaskan keduanya dari-Ku, maka Aku akan menyiksanya”. [HR Muslim] (Dikatakan kepada mereka): “Masuklah kalian ke pintu-pintu neraka Jahannam, dan kalian kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong.” [QS al-Mu’min: 76]

Nah! Seandainya kesombongan itu merupakan perkara kecil yang tak perlu dipersoalkan, mana mungkin Allah SWT justru mempersoalkannya, bahkan dengan ancaman siksa dahsyat di neraka selama-lamanya?

Kiat Imam Ghazali agar Tidak Sombong

Imam Ghozali mengajari cara mawas diri agar tidak terjebak dalam sikap merasa lebih baik. Ketika kita melihat seseorang yang belum dewasa, kita bisa berkata dalam hati: “Anak ini belum pernah berbuat maksiat, sedangkan aku tak terbilang dosa yang telah kulakukan, maka jelas anak ini lebih baik dariku.” Ketika kita melihat orang tua, “Orang ini telah beramal banyak sebelum aku berbuat apa-apa, maka sudah semestinya ia lebih baik dariku.”

Ketika kita melihat seorang ‘alim, kita bisa berkata dalam hati: “Orang ini telah dianugerahi ilmu yang tiada kumiliki, ia juga berjasa telah mengajarkan ilmunya. Mengapa aku masih juga memandang ia bodoh, bukankah seharusnya aku bertanya atas yang perlu kuketahui?” Ketika kita melihat orang bodoh, “Orang ini berbuat dosa karena kebodohannya, sedangkan aku. Aku melakukannya dengan kesadaran bahwa hal itu maksiat. Betapa besar tanggung jawabku kelak.” (Diadaptasi dari Ihya’, bab takabbur).

Nah! Terhadap orang yang benar-benar bodoh saja kita mesti bersikap rendah-hati, bukankah kita pun harus tawaduk terhadap orang yang hanya kita sangka bodoh?

Wallaahu a’lam.

Iklan

31 thoughts on “Kiat Imam Ghazali agar Tidak Sombong

    sawali tuhusetya said:
    14 Februari 2009 pukul 10:18

    wah, makasih pencerahannya, pak shodiq. ternyata ada kiat jitu utk menaklukkan sikap takabur dalam hati nurani kita.

    riuisme said:
    14 Februari 2009 pukul 10:45

    makasih mas… salam kenal ya

    cahjapan said:
    14 Februari 2009 pukul 14:51

    yup betul kuwi kang… mksh ats bgi2 ilmunya

    BAE said:
    14 Februari 2009 pukul 19:15

    Sombong adalah pakaian kebesaran Allah SWT. Tidak ada satupun di antara makhluk-Nya yang boleh memakai pakaian kesombongan.

      Abdul Wahab said:
      29 September 2009 pukul 14:44

      barang siapa memakai pakaian nya Allah berarti dia bersaing dgn Allah musyrik tuu’
      sombong = musyrik
      Sombong /syirik itu digambarkan oleh Rasulullah SAW : ibarat semut kecil yang hitam berjalan diatas batu hitam ditengah malam.
      jadi sangat sangat samar, atau tidak terlihat kalau bersikap sombong/syirik.

    Mang Ajid said:
    15 Februari 2009 pukul 00:21

    Setuju pak.
    Disaat kita memandang rendah orang lain, apapun bentuknya. Sadar tidak sadar, mau tidak mau, kita sudah menganggap diri kita lebih dari mereka…
    Itukan TAKABUR…!

    putirenobaiak said:
    16 Februari 2009 pukul 14:10

    tulisanmu menyadarkankanku mas, kdg2 kita tak sengaja utk sombong.

      M Shodiq Mustika responded:
      16 Februari 2009 pukul 14:44

      @ putirenobaiak
      iya, itulah manusia
      kita tak sadar. bahwa kita itu kadang2 sombong
      itu hal yang paling di benci Allah. karena sombong itu hanyalah milik Allah semata.

        Abdul Wahab said:
        29 September 2009 pukul 14:48

        tul sekali, tidak boleh satu mahlukpun yang menandinginya berarti berlaku syirik.

        HANAFI said:
        2 Mei 2011 pukul 01:00

        GOOD….
        SAYA JUGA PEMBACA IHYA IMAM GHAZALI,

        BAGUS MAS….SALAM SUKSES

    ORANG CIPONDOK said:
    17 Februari 2009 pukul 10:52

    PANTASKAH KITA SOMBONG…?…

    Apapun alasannya, kesombongan adalah hal yang tidak pantas dilakukan oleh makhluk apapun di muka bumi ini.
    Karena hanya Allah SWT yang berhak untuk sombong.
    Penjelasan mengenai sifat sombong bisa anda baca pada artikel M.Shodiq Mustika yang berjudul K…

    hidayanti said:
    1 Maret 2009 pukul 18:32

    naudzubillahmindalik…semoga allah menjaga hati kita dari keburukan sifat sombong amiin

    engkaudanaku said:
    10 Maret 2009 pukul 16:33

    Ya Allah, jagalah hati kami selalu….
    Amiin.

    ABduLLAh said:
    31 Maret 2009 pukul 01:18

    KesomBOngan Itu Berasal dari hati,, bukan dari pandangan manusia,, saat Engkau berkata si dia sombong,, maka belum tentu dia benar benar sombong,, karena Kesombongan itu adalah, meremehkan manusia dan menolak kebenaran,, KAlo seandainya saya berkata,, “orang kafir smuanya akan masuk neraka dan kita umat islam masuk surga, apakah saya termasuk sombong karena telah meremehkan orang kafir, tentu saja tidak, karena kenyataannya memang orang kafir masuk neraka karena amalannya tanpa ketauhidan,, APakah pernyataan “semua orang miskin tidak mampu membeli mobil tapi kita orang kaya mampu membelinya, termasuk sombong, padahal memang kenyataannya orang miskin gak mampu membeli mobil,,

    semua pernyataan yg sesuai kenyataan dan diucapkan tanpa diiringi dengan kesombongan tapi hanya tuk mengungkapkan fakta bukanlah kesombongan.

    ————
    Tangapan M Shodiq Mustika:
    @ ABduLLAh

    Apakah kau belum secara lengkap membaca isi artikel di atas? Di situ sudah ada jawaban terhadap apa yang kau persoalkan itu. Di antaranya, di situ sudah dipaparkan bagaimana Rasulullah saw. menegur kesombongan Abu Dzar r.a. berdasarkan ucapannya, bukan karena telah melihat isi hatinya. Kisah tersebut juga menunjukkan bahwa mengungkap kenyataan itu tidak boleh dijadikan dalih untuk bersikap sombong. Untuk lebih jelasnya, baiklah aku kutipkan lagi bagian dari artikel di atas itu sebagai berikut:

    Ada yang berkomentar bahwa pernyataan sang presiden PKS itu bukan menunjukkan kesombongan, melainkan sekadar mengungkapkan kenyataan bahwa “para artis pada umumnya memang tidak mampu membahas persoalan negara”. Terhadap komentar seperti itu, kita bisa membandingkannya dengan kasus Abu Dzar r.a.

    Kisah Abu Dzar patut kiranya menjadi pelajaran. Suatu ketika, beliau sedang marah kepada seorang laki-laki sampai terucap, “Hai anak wanita hitam.” Rasulullah mendengar hal itu, kemudian bersabda, “Wahai Abu Dzar, tidak ada keutamaan bagi kulit putih atas kulit hitam.” Mendengar hal itu Abu Dzar sangat menyesal hingga meminta orang tadi untuk menginjak pipinya. (HR Imam Ahmad).

    Dalam kisah tersebut, Abu Dzar mengungkapkan kenyataan (yaitu bahwa lelaki yang dimarahinya itu anak wanita berkulit hitam). Namun dari kalimatnya itu tersirat peremehan terhadap orang lain. Nah! Kalau pengungkapan kenyataan seperti itu saja sudah tergolong kesombongan, bagaimana dengan pengungkapan sangkaan-buruk (yang oleh pembela PKS dianggap sebagai kenyataan) bahwa “para artis pada umumnya takkan mampu menjadi wakil rakyat”?

    Memang, mengungkapkan kenyataan tidaklah selalu merupakan kesombongan. Namun, “mengungkap kenyataan” yang disertai dengan memandang rendah orang lain tentulah tergolong sombong. Sebab, Nabi saw. bersabda, “kesombongan itu adalah … merendahkan orang lain.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud r.a.)”

    Apa yang dimaksud dengan “merendahkan orang lain” itu? Dalam artikel di atas itu pun sudah kuungkapkan penjelasan dari Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali bahwa di antaranya adalah “menganggap orang lain itu tidak layak mengerjakan suatu urusan”.

    Kemudian dalam sebuah komentarku terhadap leo, telah aku terangkan:

    Dalam penjelasanku yang lalu, aku katakan, “Apabila kita menganggap seseorang tidak layak menjadi caleg, PADAHAL DIA TELAH MEMENUHI SYARAT MINIMAL sebagaimana ditetapkan oleh undang-undang, maka (dalam pemahamanku berdasarkan hadits tersebut) kita sudah tergolong sombong.” Namun dalam komentarmu ini, kulihat kau terlalu terfokus pada kata-kata “menganggap seseorang tidak layak”. Padahal, pada kata-kata berikutnya aku tegaskan, “padahal dia telah memenuhi syarat minimal …”. Seandainya kau lebih memperhatikan kata-kata penjelas ini, aku yakin kau akan dapat lebih memahami apa yang kumaksud dengan “menganggap tidak layak”. Singkatnya, aku berharap kau menyimak kalimat-kalimatku seutuh-utuhnya, bukan sepotong-sepotong.
    Demikianlah tanggapanku. Terima kasih atas segala masukan darimu. Sekian.

    konan said:
    3 April 2009 pukul 01:23

    pak shodiq maju terus pak, semoga tulisannya selalu tajam dan menggugah akal dan rasa.

    agus said:
    15 September 2009 pukul 10:05

    1. Tips nya Imam Ghozali sangat bagus. Trims

    2. Kisah abu dzar tidak menggambarkan kesombongan yg dikau gambarkan kepada presiden pks, mau buktinya ? pertama,
    silahkan anda memanggil “Hai anak wanita hitam.” kepada rekan anda.

    kedua, silahkan anda memanggil “Hai artis yang pekerjaannya selalu maen sinetron” kepada rekan anda, apa reaksinya ???

    tentu sangat berbeda sekali. yg pertama bisa jadi mereka heran, marah dll, yg kedua sy rasa tidak ada efek samping karena memang begitu pekerjaannya.

    3.menurut saya, sombong/riya/ujub itu masalah hati, bagaimana bisa seseorang mengecap seseorang itu sombong hanya dari ucapan yang bisa berarti mempunyai banyak arti ??

    saya rasa ucapan presiden pks ada benarnya.
    orang yang pekerjaannya artis ingin menjadi seorang politikus dan pemikir negara apa jadinya ?

    Rasulullah SAW beberapa abad yang lampau telah mengingatkan “Jika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya (tidak memiliki kapasitas untuk mengembannya), maka tunggulah saat kehancurannya” (H.R. Bukhari )

    saya rasa orang dengan kapasitas presiden pks akan lebih hati2 berbicara di depan public, bagaimana dengan saudara2 yang dengan mudahnya menuliskan & beropini dengan kapasitas yg diragukan apalagi untuk dikonsumsi sebagai bacaan orang2 lain

    menurut saya, saudaralah yg sombong karena terlebih dahulu tidak “cek & richek” kepada Tifatul Sembiring dahulu apa maksud omongannya ?? tapi dengan gegabah saudara menyimpulkan dan membuat opini sendiri dgn kapasitas ilmu yg saya sendiri ga tau sejauh mana.

    harusnya setelah itu barulah anda dapat menuliskannya, begitu etika yang benar sebagai penulis.

    ** Saya mohon maaf jika kata2 tersebut menyinggung atau membuat saudara kesal, sekedar mengingatkan saja bro.

    Trims

    Mudi said:
    29 November 2009 pukul 19:56

    Sombong itu ngak baik

    jazuli said:
    16 Desember 2009 pukul 08:55

    Ya, pendapat pak shodiq bisa dijadikan renungan dan pencerahan,,,, terima kasih atas ilmunya. Apakah pendapat presiden PKS termasuk sombong, bisa juga tidak bila itu merupakan fakta, tetapi kan tidak semua artis tidak mampu ngusurusi negara, jika ternyata setelah terjun ke dunia politik, ia konsentrasi penuh dengan tenaga, pikiran dan kecerdasannya, lihatlah Ronald Reagen, bekas preside AS, ia sukses memimpin negara, meskipun mantan artis,,,, maaf aku lebih suka melihat orang yang senantiasa menunjukkan kemampuannya, dari pada suka merendahkan kemmampuan orang lain, untuk mengunggulkan dirinya….

      ahmad said:
      15 Februari 2010 pukul 16:27

      benahi diri kita masing.abil hikmah dari artikel ini.karena kesombongan itu di ibaratkan semut hitam diatas batu hitam dan dilihat pada waktu malam.jgn2 kita sudah termasuk orang2yg sombong.

        zepri said:
        25 April 2010 pukul 03:58

        penulis ini juga sombong, coba introspeksi…

          zepri said:
          25 April 2010 pukul 04:00

          kalau merasa tidak sombong, itulah sombong

    Khaerul Fdaus said:
    9 Mei 2010 pukul 03:45

    ″wa’tasimu bihablillahi jamìawwala tafarroqu″…berpegangteguhlah pada tali ajaran Allah(Al Qur’an & Hadist)dan janganlah bercerai berai… Ampuni aku ya Allah… Aku berlindung padamu.. Ya robb'_'

    firman said:
    21 Januari 2011 pukul 14:34

    bebrepa hadits sanad nya terputus, apalagi yg membahas masalh pak tifatul tadi. tp secara umum syukron kiat2nya

    WEEDHEEWEE said:
    31 Maret 2011 pukul 16:53

    Pak, saya mau tanya kalo memvonis orang lain pny sifat sombong itu boleh tidak?
    Apakah yang memvonis itu bs dikategorikan orang sombong jg?

      nurud said:
      11 Agustus 2012 pukul 23:52

      bisa jadi begitu…

    abik said:
    7 Mei 2011 pukul 15:11

    subhanallah,,, sungguh sangat membantu dalam memecahkan arti sebuah kesombongan yang selama ini banyak dari saudara kita telah salah mengartikulasikan sebuah kesombongan, bahkan mereka dengan bangganya mengumandangkan kata-kata sombong atas nama islam. wallahu a’lam bis showab.

    A Nizami said:
    4 Juli 2011 pukul 09:35

    Allah melarang kita untuk sombong:

    ”Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” [Al Israa’:37]

    (Dikatakan kepada mereka): “Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong .” [Al Mu’min:76]

    Allah mengingatkan bahwa manusia diciptakan dari air mani yang tidak berharga. Pantaskah manusia bersikap sombong?

    ”Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air mani, maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” [Yaa Siin:77]

    Baca selengkapnya di:
    http://media-islam.or.id/2007/11/20/janganlah-sombong

    Dangdut mania said:
    19 Desember 2011 pukul 21:03

    Wah, ternyata termasuk bodoh pula aku ini. trims sharingnya. semoga esok lebih pintar lagi. minimal tidak bodo-bodo amat … 😀
    salam

    Mizter het said:
    22 Juni 2012 pukul 14:34

    Lumayan

    Mizter het said:
    22 Juni 2012 pukul 14:36

    Tampilkan renungan

    edy said:
    15 Desember 2012 pukul 20:25

    he he merasa pada hebat ya…Ya itu yg sombong…

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s