Ketika Presiden PKS digunjingkan orang banyak…

Posted on Updated on

Bismillahirahmanirrohiim…. Ya Allah jauhkan kami dari kesalahan lisan kami. Perkenalkan nama saya Renni Rahmiyani. Saya tertarik dengan opini mas shodiq tentang “PKS Sombong Lecehkan Artis Sinetron & Kalangan dari Dunia Hiburan Lainnya

Diantara kita memang ada yang diberikan kelebihan oleh Allah untuk bisa mempengaruhi orang lain, termasuk mas Shodiq, kelebihan mas shodiq adalah dalam tulisan. Tulisan mas shodiq bisa mempengaruhi orang lain, baik itu dalam buku atau hanya sekedar tanggapan.

Ketika mas shodiq memberikan tanggapan ttg ungkapan presiden PKS, sedikit banyak ada persepsi yang mendasari tulisan mas. Persepsi itu muncul dari penilain mas tentang PKS.
Mas Shodiq, saya baca 110 komentar pengunjung tentang tulisan mas terhadap PKS, juga tanggapan mas shodiq terhadap komentar teman2. Silahkan dihitung yang tanggapannya sama dengan mas, lebih pedas, atau gak sependapat, atau berusaha netral, atau gak peduli. Tulisan mas membentuk opini tersendiri di para pengunjung site ini, saya hanya ingin bertanya,
Ketika mas menulis tanggapan tersebut apakah mas mendengar langsung ucapan pak tifatul dari awal sampai akhir?, sehingga mas bisa melihat, mendengar, dan merasakan di hati mas kalau dalam nada bicara pak tifatul ada nada kesombongan?
kalau demikian, kenapa mas tidak langsung menulis dengan surat secara pribadi ke beliau dan mengingatkan beliau karena dengan begitu mas sudah menjaga keturutsertaan orang lain untuk punya persepsi yang salah. dan itu menjaga nama baik orang lain, meski kita berbeda dalam hak politik kita, tapi kita sama2 muslimkan? kita bisa menunaikan hak saudara kita untuk dinasehati tanpa memalukan dia dihadapan orang lain.

Tapi kalau mas shodiq menulis berdasarkan posting artikel orang lain, maka MasyaAllah mas, itu berarti kita hanya mendapat informasi dari sebuah potongan informasi, lalu kita menuliskan tanggapan berdasarkan persepsi kita terhadap tulisan tersebut, yang persepsi itu akhirnya diamini, diikuti, dan membuat persepsi di pikiran orang lain.

Pernahkah mas berfikir kalau tulisan sederhana mas tentang PKS tersebut membuat orang lain, semua orang yang ada di Indonesia yang mengunjungi site ini dan membaca tanggapan mas ini akan punya dampak negatif kedepannya contohnya :
1. Yang gak percaya sama partai makin gak percaya.
2. Yang gak suka dengan partai yang berlatar belakang Islam makin gak suka
3. Yang golput, makin gak mau tau dengan perpolitikan di Indonesia, hingga jumlah golput meningkat, dan akhirnya pemilih di Indonesia itu makin sedkit dan money politik makin gencar, sehingga pemerintah yang dihasilkan makin salah.

Dan mungin hal2 lain yang saya gak tau efeknya, sejauh mana.

Mas Shodiq, kalau saya lihat bukunyakan sudah banyak yang baca, tanggapannya sudah banyak yg diamini. jadi tolonglah mas, hati2 memposting tanggapan, meski itu hak mas, tapi kalau tulisan mas samapai mempengaruhi orang lain, jika itu kebaikan maka itu pahala untuk mas, tapi kalau itu ternyata kebencian maka mas sedang menebarkan kebencian ke hati orang lain, mas muslimkan? pak tifatul juga muslim. maka tunaikanlah hak nya? walaupun kita semua tahu dalam Demokrasi semua bebas mengungkapkan pendapatnya, tapi kalau kita melihat contoh Rasul bukan faham demokrasinya, maka mas shodiq yang kalau saya lihat dari bukunya dan tulisannya sepertinya muslim yang menjadikan Alqur’an dan Sunah sebagai pegangannya, maka saya berharap untuk pendapat pribadi tolong dipertimbangkan.

Tulisan mas punya kesan dan pengaruh tersendiri, karena di Publish dan dibaca oleh cukup banyak orang jadi nanti kalau ada yang mengikuti maka Allah akan menjadikan itu sebagai amalan tersendiri untuk mas.

Ok mas…cukup banyak dan terlalu banyak tulisan saya ini. Saya berharap dengan kelebihan mas shodiq dalam menulis, bisa menghasilkan karya yang menyejukkan dan mengarahkan pada kebaikan.
ini bukan tulisan untuk menggurui, tapi hanya hasil baca saya terhadap tulisan mas, dan tanggapan dari sekian banyak pengunjung.

Tanggapan M Shodiq Mustika:

0) Aamiin…. Terima kasih atas nasihat-nasihatnya.

1) Aku sudah secara pribadi meminta konfirmasi dan menyampaikan pesan itu kepada pengurus-pengurus PKS.

2) Kasus ini sudah dibicarakan oleh publik. (Di artikel tersebut pun sudah aku ungkapkan, “Berita tersebut telah memicu perdebatan pada beberapa forum diskusi di internet…”) Membiarkannya begitu saja justru akan memelihara api dalam sekam. (Di satu sisi, pihak PKS menjadi kurang menyadari akan kesombongannya. Di sisi lain, para pembenci PKS di luar sana akan dengan leluasa mencaci-maki PKS tanpa mendapat “bantahan” yang berbobot seperti komentar dari ukhti Renni ini.)

3a) Aku tidak menyangkal adanya “dampak buruk” dari postingan ini. Namun aku pun memperhitungkan “efek positif”-nya. (Mudah-mudahan Allah SWT memaksimalkan efek positifnya dan meminimalkan dampak buruknya. Aamiin.)
3b) Banyaknya komentar negatif di postingan ini tidaklah sertamerta menunjukkan “dampak negatif” dari postingan ini. Sebab, yang memberi komentar itu kurang dari 10% pembaca postingan ini. Lagipula, sebelumnya mereka pada umumnya sudah tidak menyukai PKS.

4) Kalau memang PKS merasa “dirugikan” oleh perbincangan publik ini, solusinya sederhana: minta maaflah kepada para artis yang telah dilecehkan oleh Presiden PKS. (Menutup-nutupi kasus ini kurang efektif.) Dengan permintaan maaf itu, akan mengalirlah simpati dari publik kepada PKS. Sebaliknya, upaya pembelaan yang “mati-matian” justru meningkatkan antipati dari publik.

5) Memang, benar-tidaknya presiden PKS itu bersikap sombong, hanya Allah sajalah yang tahu. Namun menurut suara orang banyak, sikap tersebut sudah tergolong sombong. Dan bukankah kita, terutama di dunia politik, mestinya lebih memperhatikan suara orang banyak daripada berkutat pada pandangan diri sendiri?

6) Aku pribadi berpendapat bahwa sikap presiden PKS itu sudah tergolong sombong. Aku pun berpandangan bahwa kasus ini tak dapat kita remehkan. (Untuk penjelasan lebih lanjut, lihat “Kiat Imam Ghazali agar Tidak Sombong“.)

7) “Katakanlah yang benar walaupun [terasa] pahit.” Bukankah demikian sabda Nabi Muhammad SAW?

Iklan

25 thoughts on “Ketika Presiden PKS digunjingkan orang banyak…

    imi surya putera said:
    15 Februari 2009 pukul 12:36

    Saya termasuk yang tak peduli terhadap siapa dan bagaimana para Caleg, asalkan mereka itu komitmen, konsekuen, dan konsisten. Bagi saya yang mereka betul2 punya niat kuat untuk bekerja demi rakyat. Makanya saya katakan Caleg itu mau dari Artis atau Tukang Gerobak pun asal telah memenuhi persyaratan. Di negara ini semua punya hak dan kewajiban sama. “Sampaikan kebenaran itu meski pahit”, jangan sampai diplintir untuk kepentingan pribadi dan golongan, apalagi cuma kepentingan sesaat. Kebenaran harus benar2 dicari keakuratannya, jangan sampai nanti malah jadi fitnah.
    Salamun kaulam mir rabbir rahim….
    Ayo visite juga ke blog saya di http://www.imisuryaputera.co.cc

    M Shodiq Mustika responded:
    15 Februari 2009 pukul 13:35

    @ imi surya putera
    aku setuju dengan mu
    siapa pun mereka kalau mereka mampu dan memenuhi syarat, menurut ku tidak masalah
    tapi kalau hanya sekedar coba-coba mendingan jangan lah…

    AL said:
    15 Februari 2009 pukul 14:06

    Setuju pak Shodiq. Katakanlah kebenaran itu walaupun pahit. Bukankah lebih baik menegur untuk bisa memperbaiki, daripada menyembunyikan.
    Kenapa terlalu sensitif dengan isu kalau sewaktu pemilu kemarin pun memainkan isu 😛
    Mau dia artis kek, mau gelandangan kek, kalau berniat, gak masalah. Lah, itu apa kabar Dede Yusuf?
    Saya sendiri, sudah lama kecewa dengan partai ini. Bukan kinerja, tapi cara berpolitiknya justru.

    imoe said:
    15 Februari 2009 pukul 18:15

    lho kok berbuntut siy ?

    Lilih Prilian Ari Pranowo said:
    15 Februari 2009 pukul 21:51

    salam kenal. mampir ke blog aku ya. ditunggu

    annas said:
    15 Februari 2009 pukul 22:32

    bingung mau ngasih komen, tapi ya begitulah temen2 di PKS.

    siang tadi saya baca koran, seniman di jabar akan tarik dukungan ke pks, karena presidennya pernah bilang, jaipong itu mengandung unsur tarian erotis dan lahir di tempat maksiat saat mengomentari larangan tarian Jaipong oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan….

    auh lap, hari H pemilihan mau tidur aja sambil nungu serangan fajar…

    salam,

    http://jejakannas.wordpress.com/

    kaitokid724 said:
    16 Februari 2009 pukul 11:20

    Apa yang dilakukan PKS dengan menyindir para seleb yang jadi caleg menurut saya bukan permasalahan yang besar, akan tetapi gerak dakwah PKS sekarang semakin jauh dari ruh dakwah Ikhwanul Muslimin di mesir dan timur tengah itu permasalahan BESARNYA!

    Kita saja di ikhwanweb.net disana kelihatan bahwa dakwah Ikhwan itu seharusnya terang-terangan dan tegas dalam menyuarakan syariah Islam tidak seperti PKS yang sekarang malah mencla-mencle.

    MANA SUARA SYARIAH ISLAM DI PARLEMEN!

    Ketika rakyat Indonesia semakin menderita
    Ketika Iraq dimusnahkan AS
    Ketika rakyat Palestina dibantai Israel
    ….

    tunggu apa lagi?

    wiwit r fatkhurrahman said:
    16 Februari 2009 pukul 13:35

    “PKS, Partai Kita Semua”, kata iklannya. belum terbukti kan>?

    muftialy said:
    17 Februari 2009 pukul 05:29

    Assalamualaikum…
    Bung Shodiq, jangan pernah kapok menyuarakan pendapat ya…
    Saya pribadi mendukung pendapat bung Shodiq, karena yang bung Shodiq lakukan itu termasuk amar makruf nafi munkar.
    Masalah nanti berimbas kepada parpol yang bersangkutan atau tidak, itu tidak perlu dipikirkan. Yang penting, pribadi yang dikritik harus sadar dulu dari kesalahannya.

    Irawan Danuningrat said:
    17 Februari 2009 pukul 13:25

    Assalamualaikum wr.wb.

    Saya sangat sependapat dengan Sdri Renny.

    Menurut hemat saya yg awam, judul “PKS Sombong lecehkan Artis Sinetron” mungkin kurang pas dgn isi tulisan yg membahas ucapan Pak Tifatul Sembiring yg saat ini menduduki jabatan Presiden PKS.

    Setahu saya PKS adalah Partai/Organisasi/Institusi yg memiliki visi-misi bernuansa Islami berdasarkan AD/ART Partai dan jutaan individu sbg anggotanya, termasuk Pak Tifatul Sembiring.

    Seandainya benar Pak Tifatul Sembiring membuat pernyataan tsb dan benar bhw pernyataan tsb termasuk perbuatan “sombong”, menurut hemat saya hal tsb mungkin lebih pas ditujukan kepada individu pak Tifatul Sembiring atau institusi Presiden PKS, tidak terhadap PKS selaku Partai/Organisasi.

    Judul “PKS Sombong lecehkan Artis Sinetron” langsung maupun tidak, membuat saya yg tidak punya sangkut paut apapun dgn PKS – selain aspek kewarganegaraan dan ukhuwah – seolah diajak untuk berpendapat bahwa PKS (termasuk Visi-Misi, AD/ART berikut segenap anggotanya) adalah SOMBONG.

    Saya yakin cukup mudah bagi siapapun untuk pelajari ciri-ciri/tanda-tanda perilaku “sombong” menurut Islam sebagaimana halnya mudah mempelajari tanda-tanda orang munafik, kafir dsb. Namun demikian, Al-Qur’an mengajarkan kita untuk tidak sembarangan memvonis orang lain apalagi mengeneralisir sekelompok muslimin dengan “label” (semisal mengatakan “budak hitam”), yg merupakan hak prerogatif Allah SWT.

    saya pribadi akan berfikir ribuan kali untuk me-release pernyataan kpd masyarakat luas yg dibaca berbagai sukubangsa, tingkat sosial, agama dan kewarganegaraan, bahwa saudara saya (sebangsa, se-ukhuwah)apalagi sebuah Partai Berbasis Islam, adalah (partai) SOMBONG, yg dlm Islam adalah sesuatu yg harus dijauhi yg a.l. menyebabkan pembangkangan Iblis thdp Allah SWT.

    Mudah2an, kita semua senantiasa dalam lindungan Allah SWT dan senantiasa terhindar dari perbuatan2 yg tergolong sombong, a.l. menghakimi sesama muslim/sekelompok muslimin dengan label yg sesungguhnya hanya menjadi kewenangan dan pengetahuan Allah swt semata. Amin

    Wassalamualaikum wr.wb

      M Shodiq Mustika responded:
      17 Februari 2009 pukul 16:08

      @ Irawan Danuningrat
      0) Wa’alaykumussalaam.. Terima kasih atas nasihat dan penilaiannya.
      1) Tifatul Sembiring menghakimi para artis. Saya menghakimi Tifatul Sembiring. Anda dan Renny menghakimi saya. Jadi, kita sama-sama salah karena menghakimi? Kalau begitu, marilah kita beristighfar.
      2) Yang saya maksudkan dalam artikel itu bukanlah generalisasi. Bahasa jurnalistik mengenal gaya bahasa “sinekdoke” (mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian atau pun sebaliknya).

        titi said:
        1 Maret 2009 pukul 15:35

        Shodiq, two thumbs up for you!

    belajardarikecil said:
    17 Februari 2009 pukul 23:05

    Bismillahirahmanirrohiim…. Ya Allah jauhkan kami dari kesalahan lisan kami. Pertama…ini tulisan Mbak Yenni…bukan tulisan

    Kedua…bangkai yang disimpan…pada akhirnya berbau juga

    Ketiga..kalau kita mengakui TIfatuL Sembiring Manusia Bukan Malaikat apalagi Bin Atang..maka …ketika ada kekhilafan…koreksi adalah hal yang wajar…

    Keempat…tantangan untuk menjaga diri mulut dan perbuatan berlaku sama secara Islam..apakah ia seorang pengemis atau pun presiden partai

    Kelima…Apa yang dikatakan Mas Shodiq betul…MInta Maaf…kenapa berat..apakah itu malah akan menunjukkan arogansi PKS? atau Tifatul Sembiring secara pribadi

    Keenam…baik mereka yang memilih…tidak memilih PKS…dan GOlput sekali pun adalah Orang Yang PUNYA akal Mbak …mereka berfikir…bahkan mungkin gak sedikit yang jauh lebih pintar dari kita…jadi…mereka punya pendirian sendiri…

    Ketujuh…manis juga kalimat Mbak di akhir…Mbak gak ngegurui..tapi kok sepertinya malah ingin Mas Shodiq (secara oppresi kata2) untuk mengatakan bahwa tulisan Mbak benar

    Kedelapan ..mAS Shodiq…kalo kita gak ngkritisi PKS…kasian tuh Partai..lebih bagus kita kejar..lagian siapa suruh pake agama dijadikan asas Partai…Emang agama tafsirannya harus ala PKS

    Kesembilan (wali songo…he..he..he) Gak ada jaminan dan jangan pernah berfikiran …kalau Anda PKS..baik itu simpatisan, kader, murobbi kek..dewan Syura kek…terus kepikiran SUrga Dah ditangan…Emang dikira Malaikat bisa disuap seperti Ulama ditekan JK untuk fatwa GOLPut!!!???

    Mas Shodiq…maaf kepanjangan…maklum …masih belajar nulis…tapi iNsya 4JJI kalo ada yg mau ndebatin apa yg 8dk tulis…siap lah..tq..tq dah adding my link..om..sukses..

    Bunda fikry said:
    18 Februari 2009 pukul 17:42

    Alhamdulillah kalo yang golput makin istiqomah untuk golput. mau presiden S kek, mau yang moncong putih kek, atau partai yang katanya ‘islami’ sekalipun, aku mah ga ngaruh kali, wong semuanya sama.. sama-sama budak sistem kufur kali… Hidup GOLPUT!! salam to Mba renny

    akbar said:
    23 Maret 2009 pukul 15:15

    Beristighfarlah kalian semua, baik yang mendukung PKS maupun yang mendukun M. Shodiq. Kalian telah terjerumus oleh hasutan setan.apakah kalian tidak merasa lama kelamaan telah saling menyalahkan, saling menganggap diri kalian paling benar.sudah cukup saja sampai sini comment-nya.terlepas dari siapa yang salah dan siapa yang benar, karena jika awalnya benar tapi comment-nya tidak benar, maka kebenaran itu akan menjadi kesalahan.semoga Allah mengampuni kita semua, amiin…

    footprint1980 said:
    25 Maret 2009 pukul 15:50

    ma shodiq berkata:
    1) Tifatul Sembiring menghakimi para artis. Saya menghakimi Tifatul Sembiring. Anda dan Renny menghakimi saya. Jadi, kita sama-sama salah karena menghakimi? Kalau begitu, marilah kita beristighfar.

    maaf yah, saya sama sekali ga membaca kalau ada tulisan dari soudara irawan yang menghakimi anda, keseluruhan isi tulisan sudah secara santun berusaha menjelaskan, dan rasanya itu hal yang baik, kecuali kalau tujuannya bukan memeperoleh penjelesan.

    saya sepakat kalau mungkin ucapan pak Tifakul bisa diartikan sombong dalam arti yang disampaikan tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Tapi Judul PKS Sombong lecehkan artis sinetron kan mengatas namakan partai, yang berarti keseluruhan anggota dan karakter partai. Saya merasa saya tidak sombong pak, dan saya yakini banyak juga orang yang terkena judul yang yang bapak posting padahal pribadinya sangat santun.

    yang salah memang harus diluruskan, sampaikan secara benar supaya tujuannya tercapai (meluruskan) bukan mencari masalah baru. Kalau memang hal ini sudah disampaikan ke pengurus, itu hal yang baik. Lebih bagus kalau memberi contoh, seperti misalnya menuntut pak tifakul untuk meminta maaf, mengapa tidak dimuali dengan pak sodiq untuk meminta maaf karena mengetakan PKS partai yang sombong yang berarti saya, dan keseluruhan orang lain yang santun ada di dalamnya.

    saya pribadi meminta maaf terlebih dahulu kalau apa yang saya sampaikan disini ada yang menyakiti atau terlibat emosi saya didalamnya, karena yang saya cari sesungguhnya kesepahaman

    terima kasih

      M Shodiq Mustika responded:
      25 Maret 2009 pukul 17:37

      @ footprint1980
      Mengenai “menghakimi”, aku menggunakan gaya bahasa retoris. Maksudku, aku tidak menghakimi Pak Tifatul; dan aku pun tidak menganggap Mas Irawan menghakimi diriku.
      Mengenai judul “PKS Sombong lecehkan artis sinetron”, aku menggunakan gaya bahasa sinekdoke. Maksudku, aku tidak melakukan generalisasi. Orang-orang yang membaca isi artikel itu akan tahu bahwa yang kumaksud bukanlah seluruh anggota dan karakter partai.
      Oh ya, kurasa tidak ada satu pun kata-katamu di komentar ini yang menyakitiku.

    un4beez said:
    25 Maret 2009 pukul 16:08

    Menurut saya, kalo ini ajang kampanye atau bentuk promosi. kayaknya tujuannya tercapai. jadi makin dikipas makin banyak asepnya. terima kasih.

      M Shodiq Mustika responded:
      25 Maret 2009 pukul 17:42

      @ un4beez
      Aku sih hanya menempatkan diri selaku orang yang melakukan amar makruf nahi munkar. Kalau ada yang memanfaatkan diskusi ini untuk kampanye ya silakan saja. Toh kampanye itu nggak haram.

    yh3nk said:
    18 April 2009 pukul 17:48

    Dari awal saya bergabung dalam diskusi ini, saya sudah tahu mana yang benar… yang logis dan yang rasional.. pelajari dulu baru berkomentar…

    Saya rasa kita memang harus saling koreksi diri sendiri sebelum mengoreksi orang lain…. saya setuju dan sangat bersyukur bahwa masih banyak orang-orang yang memang selalu ingin berusaha untuk ber-amar ma’ruf nahyi munkar, tapi amar ma’ruf nahyi munkar pun ada cara nya tersendiri. yang benar-benar tetap menjaga dalam koridornya…..jangan sampai ia menjadi satu hal yang justru menjadi fitnah…Al-Ikhtilaafu rahmatun, perbedaan adalah rahmat yang dengan perbedaan itu kita bisa belajar. saling menasihatilah dam KEBENARAN dan KESABARAN…SABAR…SABAR…

    salam kenal

      M Shodiq Mustika responded:
      18 April 2009 pukul 21:23

      @ yh3nk
      Menurutku, hanya Allah sajalah yang Mahatahu. Karena itu, aku takkan mengklaim “sudah tahu mana yang benar”.

    igo said:
    8 Mei 2009 pukul 01:55

    PKS????
    sejak kapan Rasulullah SAW mengajarkan, ISLAM / AGAMA di bawa ke POLITIK / DUNIA???
    yang saya tahu, POLITIK / DUNIA harusnya di bawa ke dalam ISLAM / AGAMA…
    ibarat seorang Intelek duniawi masuk kedalam masjid
    bukannya seorang ulama masuk ke dalam gedung DPR/MPR
    masih ingat jelas, di jaman khulafaurrasyidin, hanya Abu Bakar ra sajalah yang tidak mati terbunuh, karena POLITIK, ingin menguasai.
    POLITIK itu memang kejam. apapun partainya, Partai dari AGAMA atau NAsionalis, ujung-ujungnya adalah kekuasaan duniawi semata…
    jangan bawa rakyat kecil yang ga tau politik, mereka selalu jadi korban oleh elit-elit politik….

    abimanyu said:
    17 September 2009 pukul 08:42

    yaa muqollibal quluub.. tsabbit quluubanaa `ala diinik..
    yaa mushorrifal quluub.. shorrif quluubanaa `ala thoo`atik!

    abimanyu said:
    17 September 2009 pukul 08:45

    allah! akhiratkan diri kami….

    Abdulloh said:
    25 Februari 2010 pukul 10:14

    Saya perhatikan makin seru.tp menurut hemat saya,saya setuju kalimat mas shodiq”katakanlah kebenaran walaupun itu pahit”..tp mas shodiq jg hrs tahu, bahwa yg di katakan pak tifatul jg sama.beliau mengatakan yg benar wlupun itu trasa pahit bagi sbagian orang mungkin termasuk saya dan anda.sesama muslim memang harus saling mengingatkan bila sodara kita mlakukan kesalahan tp baiknya langsung kpd yg bersangkutan krn kalau melalui media seperti ini nanti malah jd menggunjing bukan menasehati..jgn mem vonis org lain bersalah atau jahat, dengki,kikir,sombong kalau kita hanya tahu sedikit apa yang orang lain lakukan..

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s