Dalam bercinta, wanita membutuhkan foreplay

Posted on Updated on

Saya sedang membaca buku yang ditulis oleh Bapak dan dkk, dengan judul “Istikharah Cinta” terbitan Qultum Media. Ada hal yang menyedot perhatian saya dalam membaca buku itu. Berikut saya kutip (Bab 3, Sub bab; Seleksi Jodoh secara Sistematis, Hlm. 73);

…..

Kelas A berisi satu orang lawan jenis yang paling akrab dengan Anda. Kelas B terdiri dari beberapa orang lawan jenis yang sangat anda sukai, yang dengan mereka Anda akrab setingkat di bawah kelas A. Kelas C memuat banyak orang lawan jenis yang juga Anda sukai tetapi dengan kadar yang tidak setinggi kelas B. Adapun kelas D disediakan bagi semua teman biasa atau kenalan lawan jenis, yakni yang tidak tergolong dalam kelas-kelas di atasnya.

Ketika kelas A kosong, padahal sudah saatnya diisi, naikanlah satu orang penghuni kelas B ke kelas di atasnya ini. Jika kursi di kelas B belum terisi penuh (bahkan walau jatah kelas A telah terisi), lengkapilah dengan cara menaikkan warga kelas di bawahnya. Apabila kuota kelas C belum terpenuhi, isilah dari penghuni kelas D. Andai warga kelas D itu kau pandang kurang mencukupi, tambahilah dari luar kelas…. (Aisha Cuang, Nikmatnya Asmara Islami (Surakarta: Bunda Yurida, 2004, hlm. 130)).

…..

Saya memiliki sikap/cara yang kurang lebih sama dengan kutipan di atas. Suatu ketika saya menjalin hubungan serius (berorientasi menikah) dengan seorang wanita, sebut saja Bunga (bukan nama sebenarnya). Saya mengutarakan sikap saya itu kepada Bunga. Dia berada di kelas A dari dua kelas yang saya miliki. Tanggapannya cukup mengagetkan bagi saya. Dia mengatakan bahwa sikap itu sangat merendahkan seorang wanita karena memposisikan wanita seperti barang dagangan, seperti barang cadangan saja. Jika gagal menjalin hubungan dengan seorang di kelas A, maka akan mengalihkan perhatian ke seorang lain di kelas B (seorang yang dinaikkan ke kelas A), dan seterusnya. Saya dianggap ‘Playboy’. Padahal saya tidak sedang menjalin hubungan dengan seorang di kelas B dalam waktu yang bersamaan.

Perbedaan sikap itu mengakhiri hubungan kami. Hanya saja, yang menjadi pikiran saya sampai saat ini adalah; Sudah benarkah sikap saya itu? Apakah salah mengutarakan hal itu kepada Bunga?
Awalnya, saya merasa itu adalah suatu hal yang benar dan wajar. Tapi kok dikritik. Bukankah kritikan itu ditujukan untuk sesuatu yang tidak benar?. Tapi kok, saya juga tidak/belum menemukan dimana letak kesalahannya. Sampai saat ini.

Saya ingin mengetahui pendapat Bapak mengenai masalah ini. Termasuk tentang sikap Bunga yang mengkritik saya. Tujuannya bukan untuk memperbaiki hubungan kami tapi lebih sebagai bahan evaluasi/renungan bagi saya. Atau mungkin, hal ini bisa dianggap sebagai kritikan bagi Bapak juga. Nah, bagaimana pandangan Bapak?

Jawaban M Shodiq Mustika:

Ada berbagai kemungkinan mengapa Bunga menolak konsep ini. Mungkin penjelasanmu kurang lengkap; mungkin juga penjelasanmu sudah lengkap, tetapi dia salah-paham. Kemungkinan salah-paham ini besar sekali. Sebab, pola pikir dan bahasa antara laki-laki dan perempuan itu berbeda.

Kebetulan, pola pikir “sistematis” itu khas laki-laki. Supaya konsep ini bisa diterima oleh perempuan, kita perlu menggunakan “bahasa perempuan”.

Salah satu ciri khas perempuan, termasuk dalam bercinta, adalah tidak to the point, tidak langsung ke intinya. Mereka membutuhkan atau sekurang-kurangnya menyukai foreplay, “bergerilya” lebih dulu sebelum sampai ke intinya. Jadi, kalau kita mau konsep kita diterima oleh perempuan, jangan langsung to the point. Mainkanlah foreplay lebih dulu.

Dengan kesadaran begitulah kami menyusun buku Istikharah Cinta. “Seleksi jodoh secara sistematis” merupakan salah satu intisari dari buku tersebut. Namun, kami tidak menempatkannya di halaman-halaman awal. Seperti yang telah kau ketahui, kami meletakkannya di halaman 73 dari 140 halaman. Jadi, letaknya kira-kira di tengah-tengah. Di samping itu, pasal “Seleksi Jodoh secara Sistematis” itu berada di tengah-tengah Bab 3, bukan di awalnya. Sebelum sampai ke inti tersebut, kami lebih dahulu membicarakan latar belakang persoalan yang lebih mudah diterima. Dengan kata lain, kami memainkan “foreplay” (walau para pembaca mungkin tidak menyadarinya).

Tentu saja, “foreplay” itu barulah satu dari sekian banyak “bahasa perempuan”. Kalau mau mendalami lebih lanjut, silakan simak buku-buku yang relevan. Di antaranya: karya Deborah Tannen, Kamu Memang Nggak Bakal Ngerti: Romantika Percakapan Wanita dan Pria, karya kami, Taaruf Forever, Allan + Barbara Pease, Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps, dan sebagainya.

Mungkin karena buku Istikharah Cinta itu menggunakan bahasa perempuan (disamping bahasa laki-laki), buku tersebut bisa diterima secara luas (dan mayoritasnya adalah perempuan!), sampai menjadi best-seller. Hingga kini, belum pernah kami mendapat kritik dari pembaca buku tersebut mengenai konsep-konsep di dalamnya, termasuk konsep “seleksi jodoh secara sistematis”.

Begitulah contoh efektivitas “bahasa perempuan” untuk mendapat dukungan dari perempuan. Seandainya kau bisa menyampaikan kepadaku rekaman percakapanmu dengan Bunga mengenai konsep yang membuat kalian putus hubungan itu, mungkin aku bisa memberikan penjelasan yang lebih rinci lagi. Namun dengan contoh di atas, mudah-mudahan kau bisa menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang kau ajukan itu.

Iklan

8 thoughts on “Dalam bercinta, wanita membutuhkan foreplay

    Irawan Danuningrat said:
    23 Februari 2009 pukul 14:09

    Assalamu’alaykum wr.wb.

    Mhn maaf nimbrung menanggapi kasus yg menimpa “kumbang” yg kehilangan “bunga” setelah ungkapkan pola “Seleksi Jodoh secara Sistematis” yg dianutnya.

    Saya memahami mengapa bunga bersikap seperti itu thdp anda karena bunga tampaknya termasuk wanita yg memandang “jodoh” identik dengan ibadah dan anugrah Allah yg diberikan dalam kerangka “cinta”.

    Saya memang tidak membaca buku “istikharah cinta” dimaksud, namun dari paragraph yg dikutip “kumbang” tsb, meski saya laki-laki, saya menangkap proses “mencari jodoh” dlm paragraph tsb sebagai kegiatan seleksi sistematis seorang “subyek” terhadap sejumlah sasaran yg dijadikan “obyek” untuk dia pilih menjadi jodohnya.

    Mekanisme seleksi melalui “kelas rasa”, menurut hemat saya sangat tidak relevan karena “rasa” bukan sesuatu yg bisa dibatasi oleh ruang “kelas” atau diukur melalui logika sementara “calon jodoh” mestinya bukan obyek, melainkan partner hidup yg setara.

    Dengan sistem kelas, seseorang yg sekarang mengisi “kelas-A” tidak mustahil tiba-tiba turun kelas akibat munculnya orang baru yg bahkan belum sempat bertengger di kelas D sekalipun!.

    Rasa cinta pada hakekatnya adalah suasana hati yg berkembang akibat adanya “butuhan” atas kehadiran seseorang, dan rasa tersebut akan terus berkembang selama individu-individu yg terlibat meyakini dirinya mendapat tempat dihati counterpartnya sbg subyek, bukan obyek!.

    Dengan sistem kelas tsb, sulit dipastikan bhw seseorang yg sdg menempati kelas “A” akan senantiasa ditempatkan sbg penghuni kelas A oleh parternya! Buktinya tak sedikit orang yg sebelumnya menyatakan pasangannya sbg belahan hidupnya, mataharinya, bahagianya dsb, hanya dlm wkt singkat ia “depak” dan cintanya beralih ke lain orang.

    Saya pribadi (kalau saja belum beristeri) pasti enggan menjalin hubungan dengan seseorang wanita yg menganut prinsip bhw utk menemukan “jodoh” perlu dilakukan proses seleksi secara sistematis guna menemukan pasangan terbaik baginya. Mengapa ? Karena saya yakin proses pencarian seseorang tak akan berhenti dalam kehidupan seseorang begitu pula proses mencari “pasangan yg tepat” akan terus berlanjut meski ybs tlh menikah!!

    Bagi saya, jodoh adalah anugrah dan amanah Allah swt. Kesempurnaan sang pasangan adalah ujian rasa syukur kpd Allah atas anugrah-Nya, sementara ketidak sempurnaannya tentu ujian thd saya selaku “imam” yg berkewajiban membimbing, membina, mengayomi dan juga bersabar pd Allah.

    Wassalamualaykum wr.wb.

      Bayu rienesta said:
      12 November 2010 pukul 18:14

      saya sependapat dengan kang danuningrat.sngt jujur dlm hati mnggambarkan kepribadiannya …….intinya jodoh adalah rahasia ALLOH

    […] Saranku, perbanyaklah interaksi dengan orang-orang yang kau pandang baik (shalih) tanpa pamrih tertentu, termasuk pamrih untuk berjodoh. Orang Jawa bilang, witing trisno jalaran soko kulino (tumbuh cinta lantaran sering berinteraksi). Bila orang yang berinteraksi denganmu itu menyukaimu, maka dia akan turut berusaha membantu perjodohan dirimu (atau bahkan berjodoh denganmu). Untuk keterangan lebih lanjut, silakan simak buku Istikharah Cinta, terutama Bab 3, “Matematika Jodoh”, sub-bab “Seleksi Jodoh secara Sistematis“. […]

    iis said:
    23 Maret 2009 pukul 12:57

    assalamu’alaikum..??

    mf, jd pengin coment nih
    walo aku cewe aku jg sependapat dg mas irawan

    waktu itu aku sdg mnjalin hubungan dg seorang lelaki(aku menginginkan keseriusan)
    satu saat katika kami hrs mnjalni hub jrk jauh, dia brkata
    ‘nanti sat aku disana & kbtulan ada 1org cwo yg suka sm kmu dan lbh baik dariku, kmu sama dia aja apa???’

    jujur aku sgt tersinggung,ngrasa direndahkan!pun kusampaikan padanya bhw mncari yg lbh baik tu slalu ada dan ga da habisnya.walo tlah mnikahpun gak mnutup kmungkinan mnemukan yg lbh ideal dri pasangan.
    dengan konsepnya yg sprti itu,aku akui aku putusin dia.ku urungkan niatku tuk setia nunggu dia pulang (padhl sblmnya kami brniat mnikah tnp pacaran trlalu lama)

    dengannya yg gak bisa prcaya pdQ(dia gak bisa jlni hub jrk jauh)
    pdhl aku gak nylingkuhi dia kok(klo ada yg trtarik pdQ &brani ngjak seriusan lbh cpt darinya,tu kan bkn slh ku??)
    dan gak sharusnya dia mnjadikan alasan itu tuk gak percaya thd kstiaanku kan??

    maaf jd curhat, yah bgitulah

    wassalamu’alaikum?

      M Shodiq Mustika responded:
      23 Maret 2009 pukul 13:10

      @ iis
      Wa’alaykumussalaam… Boleh ya, aku tanggapi komentarmu?
      Begini… Jangan heran bahwa aku mendukung keputusanmu. Menurutku, kau dan Mas Irawan belum memahami apa yang aku maksud dengan “seleksi jodoh”. Apakah seperti Mas Irawan, kau juga belum membaca buku Istikharah Cinta?

    Ahmad Yamany Arsyad said:
    16 April 2009 pukul 17:50

    saya sependapat dengan ustadz,,saya sebagai seorang laki-laki menyadari bahasa laki-laki dan perempuan itu berbeda,,ini saya dapatkan dari pelajaran tasawuf “kecil-kecilan” yang saya dalami saat ini,,

    dalam ilmu tasawuf dikatakan bahwa,,”kenalilah perempuan dalam dirimu (buat lelaki),,begitu pula sebaliknya,, kenalilah lelaki dalam dirimu (buat perempuan)”..

    terkadang kita memaksakan pola pikir kita kepada orang lain sehingga bertentangan dengan apa yang kita inginkan,,

    dalam ilmu jiwa juga didapatkan bahwa “diri ini memiliki bagian diri yang lain yang tidak diketahui oleh diri ini sendiri, maka jangan sampai orang lain mengenali diri kita yang lain tersebut karena akan memperlihatkan kelemahan kita yang sesungguhnya”,,Mungik sepintas lalu kalimat di atas tidak ada hubungannya, tapi bila kita mampu membalik rotasi pola pikir kita maka akan terbentuklah kalimat “kenali dan perbaikilah diri kita yang lain itu menjadi sebuah kelebihan sehingga dapat kita publikasikan kepada orang lain sebelum orang lain mengenali diri kita yang lain”

    sebagai bahan pertimbangan, kita ini hidup dalam berbagai tingkat dimensi, sekarang manusia baru mampu menembus dimensi ke-3 atau biasa di sebut 3 dimensi,,bahkan sudah ada salah satu pakar yang mampu menembus dirinya di dimensi ke-11,,

    bagi si “kumbang” yang ditinggal pergi oleh “bunga” jangan berkecil hati,, insya Allah, di atas sana sudah tercantum nama dan diri “bunga” yang lain yang akan mengisi sela-sela mahabbah dalam diri si “kumbang”.

    salam, yamany arsyad

    Imas sumarni said:
    16 Mei 2009 pukul 21:43

    Mas irwan..cool bget opini anda..fress sekali daya tangkap anda,saya suka sama orang2 yg jenius..

    Bayu rienesta said:
    12 November 2010 pukul 18:15

    saya sependapat dengan kang danuningrat……..

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s