Pilih tetap baik ataukah maksiat dulu lalu bertaubat?

Posted on Updated on

pak shodiq,sekarang ini hati saya sedih,betapa saya lihat anak2 muda sekarang sangat meremehkan taubat,mereka punya akal tapi berbuat maksiat,lalu menyesal dan bertaubat

segampang itu kah pak?,bgtu banyak konsultasi yg bertanya ttg taubat akan kesalahan yang dulu mereka buat,semudah itu kah taubat pak?,saya percaya Allah maha pengampun tp bukan brarti kemurahan hati Allah justru dibuat alasan menggampangkan maksiat,karena saya memegang keyakinan lebih baik untuk berusaha tetap baik daripada salah dulu kemudian bertaubat,dan kita muslim punya quran dan akal sehingga pastinya kita tau yg benar dan salah

saya bertanya selalu,mengapa?,hati saya makin sedih tiap membaca konsultasi2 ttg taubat,sedih sekali…

pak apakah ada ayat quran yang mengatakan bahwa orang yang tetap baik itu lebih baik dari pada orang yg pernah nakal lalu bertaubat?,bukan kah Allah maha adil?…

tanpa memandang rendah taubat,saya sedih akan makin banyaknya anak muda yang taubat karena akan menikah,seakan2 sebelumnya mereka bebas bermaksiat,lalu agar diterima calon suami/istri,agar mereka kliatan suci lagi maka mereka bertaubat,mudah2an itu hanya prasangka saya saja pak,tapi keadaan seperti ini makin banyak,saya yakin anda juga merasakannya bukan?…

sehingga yg paling penting menurut saya adalah berusaha agar tetap baik, agar perasaan tenang dan tidak perlu membohongi calon pasangan,karena kejujuran adalah pondasi sebuah hubungan…

semoga saja semakin sedikit orang yg bertaubat atas maksiatnya,karena taubat sejati tak semudah yang di bayangkan,akan tetapi semakin banyak orang yang menjaga kehormatannya…Amin ya robbal alamin

mohon koreksinya pak jika renungan saya ini salah…terima kasih sebelumnya…semoga kita bisa berteman pak…

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Aamiin. Dengan senang hati aku menyambut uluran persahabatanmu.

Renunganmu mengenai manajemen amal itu bagus dan menarik. Karenanya, aku menayangkannya di sini.

Menurutku, kita perlu membedakan antara proses dan hasil akhir.

Ditinjau dari segi proses, berusaha tetap baik itu lebih baik daripada membiarkan diri berdosa untuk kemudian bertaubat. Sebab, bisa saja kita mati ketika membiarkan diri berdosa dan belum sempat bertaubat. Selain itu, kalau pun sempat “bertaubat”, belum tentu “taubat” kita diterima oleh Allah Sang Mahatahu, khususnya bila dalam pandangan-Nya, kita belum sungguh-sungguh bertaubat.

Ditinjau dari segi hasil, belum tentu orang yang yang berusaha tetap baik itu lebih baik daripada mantan pelaku maksiat yang bertaubat. Sebab, kebaikan itu bertingkat-tingkat. Bisa saja kebaikan mantan pelaku maksiat yang telah benar-benar bertaubat itu melampaui kebaikan orang yang berusaha tetap baik. Lagipula, kita tidak tahu amal kita yang manakah yang timbangannya berat atau pun ringan. (Lihat “Berkat Sedekah Sepotong Roti“.)

11 thoughts on “Pilih tetap baik ataukah maksiat dulu lalu bertaubat?

    roberthendrik said:
    24 Februari 2009 pukul 01:19

    Parahnya gini : gimana kalau ada 2 orang, yang 1 berdiri dan dengan berbusung dada berkata “AKU BERHASIL MENJAGA DIRIKU BERSIH”

    dan 1 lagi tertunduk berkata “Ampuni aku Tuhan, aku berdosa”, kira2 mana doa yang diterima?

    Pada kenyataannya sih, tiap hari juga kita bikin dosa, menurut saya, sih.. Keadilan Tuhan tetap ditegakan. dalam artian, UPAH DOSA tetap ada, misal… paling gampang lah, makan makanan berlemak,gak olahraga pula. upahnya, KOLETROL TINGGI..

    GAK NGEROKOK, tapi males olahraga ya SAKIT JUGA… ngerokok dan males olahraga, juga SAKIT.. minum coca cola kebanyakan, bisa2 sakt gula..

    itu KONSEKUENSI DOSA..makin banyak berbuat,makin banyak konsekuensinya.

    JAdi kalau yang berpikir, ah berbuat aja, tar bertobat…hehe.. ada 2 hal
    1. Konsekuensi dosa yang di atas saya sebutkan tetap terjadi dan MAYBE makin menumpuk
    2. Gimana kalau mati duluan sebelum tobat,..?

      M Shodiq Mustika responded:
      24 Februari 2009 pukul 05:20

      @ roberthendrik
      komentarnya bagus juga
      ini nih yang aku bilang, kamu nih anak kreatif….
      kira2 kalau sudah begini, kamu sendiri mau pilih yang mana? hayooww???😛

    roberthendrik said:
    24 Februari 2009 pukul 07:35

    plih mana ya, sedapat mungkin gak bikin dosa, konsekuensinya gede…

      M Shodiq Mustika responded:
      24 Februari 2009 pukul 12:39

      @ roberthendrik
      yah emang konsekuensinya gede kalau bikin dosa ya?
      kalau menurutku lebih enak kita jadi orang yang biasa2 saja, standar lah🙂
      kalau bisa sih yang alim hehehhe….
      gimana menurutmu?

    roberthendrik said:
    24 Februari 2009 pukul 12:59

    kalau KONSEKUENSI LOGISnya ya beda2… dengan sengaja minum racn atau ngisap rokok, pastinya konsekuensi logis minum racun lebih gede daripada isap rokok..

    itu KONSEKUENSI logis.. tapi kalau masalah KONSEKUENSI dosa, sama dnegan mengatakan gajah kecil atau gajah besar. ada dosa kecil dan ada dosa besar, NAMUN TETAP AJA DOSA.. dosa ya dosa terlepas dari besar ataupun kecil. jadi kalau menurut saya secara KONSEKENSI DOSA, sama aja antara bohong putih dengan bohong hitam ataupun dosa yang ampe membunuh sekalipun, karena masuk dalam DEFINISI dosa.

    Karena kalau kita pakai DEFINISI Tuhan yang maha suci. maka 1 pun ketidak sucian sekecil apapun tidak akan bisa layak bagi kemahasucian Tuhan.

    Waduh, kok jadi menyimpang dari Topik di awal sih,hehe.. well kalau menyangkut topik di atas, benarlah perkataan, BALOK di depan mata tak terlihat tapi selumbar di seberang lautan terlihat jelas..

    Kalau jadi orang biasa saya gak stuju pak. soale hidup ini terlalu singkat buat jadi orang biasa – biasa aja.

    septian hermawan said:
    24 Februari 2009 pukul 13:38

    mas, dah dibahas tentang im2… silahkan diliat lg..

    ksatriapelangi said:
    25 Februari 2009 pukul 06:37

    pilih tetap baik, dan segera taubat kalo maksiat!
    makasih mas Shodiq, atas kunjungan silaturahimnya!

    senang rasanya dapat sahabat!

    robby said:
    12 Juni 2009 pukul 13:32

    Sulit sekali rasanya mencegah diri dari dosa, kita sebagai manusia memang kadang kala baik disadari atau tidak,suka atau pun tidak suka selalu berbuat maksiat….apakah ini memang sudah menjadi ketetapannya untuk selalu berbuat dosa…..?

    bobon said:
    2 November 2009 pukul 14:15

    mohon….mungkin ketika kita khilaf,merasa lebih dari orang lain, disitulah setan akan masuk, akan menggoda, dosalah kita, tp segera taubat..allah maha pengampun.

      fpengen tobat said:
      29 Januari 2010 pukul 20:33

      yg penting gmn carax agar kita kapok berbuat dosa dan fokus Lillahi Ta’ala

    hana said:
    26 Desember 2010 pukul 00:44

    wedusss semua…

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s