Konsultasi: Pelampiasan Dendam terhadap Lelaki

Posted on Updated on

menurut saya, saya adalah orang yg penuh bergelimang dosa……….. saya sudah melakukan zina, baik itu sebelum dan sesudah menikah. semua berawal dari pelecehan seksual wkt saya masih SMP … kemudian saya hampir diperkosa oleh beberapa pria yg sedang dlm pengaruh narkoba. saya jadi merasakan rasa benci yg sangat terhadap pria ditambah konflik keluarga. … dengan rasa dendam dan sakit terhdp pria, ada tekad yg begitu besar untuk menyatukan keluarga. saya menjalani hidup dng kesulitan, bahkan sekolah pun tdk saya lanjutkan. dalam masa2 itu saya menjual diri untuk sesuap nasi dan sepasang baju sampai akhirnya saya bertemu dng seorang pria yg brbeda dgn pria yg bnyk saya temui. saya menjalin hubungan dengan dia tp dia berbohong krn dia trnyata sudah pny istri. hubungan ini saya tetap lanjukan demi saya bisa sekolah dan tekad saya untuk menyatukan keluarga sampe saya nikah siri… tetapi rasa dendam dan sakit trhadap pria tetap ada, malah menjadi dngn semua kebohongan dia. dan saya pun melakukan zina dng bnyk pria lain. sampai akhrnya mungkin karma bagi saya, saya diperkosa oleh guru saya sendiri dan saya tdk sanggup menerima semuanya sampe saya depresi dan berkata jujur trhadp suami saya dan dia tetap nerima saya apa adanya. dia bimbing saya dalam masa depresi itu sampe saya menemukan ketenangan dengan solat 5 waktu juga solat tahajud dan baca qur’an. dan kami menikah resmi setelah saya berangsur pulih.

yang jadi pertanyaan.
1 apakah Alloh SWT akan menerima solat taubat saya yg sudah bergelimang dosa?
2 apakah saya harus menerima menjadi istri ke 2? (karena keraguan kadang datang, saya takut merasa takut dng anggapan orang dan hal2 yg akan trjd nanti )
3 kenapa rasa sakit dan dendam kadang muncul di saat ada pria yg mendekati dan ingin menghancurkan pria itu?
4 setelah saya mengalami depresi, sulit mengendalikan emosi. bagaimana caranya supaya saya tetap stabil? ada ketenangan dan kesabaran?

mohon balasannya … apa email saya akan dipampangkan sperti email yg lain yg sudah melakukan konsultasi kepada anda?

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Kisah hidup Mbak sudah kubaca. Aku memaklumi gejolak perasaan yang masih tependam di hati. Ya, pengalaman pahit seringkali meninggalkan luka yang menganga dalam waktu lama. Berikut ini jawabanku atas pertanyaanmu:

1. Sebesar apa pun dosa kita, ampunan Allah selalu lebih besar. Sebab, Dia Maha Besar dan Maha Pengampun serta Maha Penerima Taubat.

2. Ditinjau dari segi fiqih, tidak ada larangan untuk menjadi istri kedua. Namun, ditinjau dari segi adab/akhlak, menjadi istri kedua itu tidak selalu bagus. Apalagi kalau nikahnya secara siri tanpa sepengetahuan istri pertama. Itu berarti menanam “racun” yang dapat menggoyahkan rumahtangga orang lain, bahkan bisa pula sampai menggoyahkan kedamaian masyarakat. Namun kalau istri pertama mengizinkan, apalagi, kalau masyarakat sekitar tidak mempermasalahkannya, tentunya itu bukan lagi “racun”, melainkan “madu”. Hanya saja, mengapa harus menjadi istri kedua? Apakah hanya pria beristri sajalah yang bisa kau terima sebagai suamimu? (Lihat “Mau jadi istri kedua?“.)

3. Dendam adalah bagian dari egoisme kita selaku manusia. Ketika kita merasa tersakiti oleh orang lain, ada dorongan dari ego untuk membalas kepada orang tersebut. Ketika kita tidak mampu membalasnya, ego itu jugalah yang mendorong kita untuk melampiaskannya ke orang-orang lain yang memiliki karakteristik yang mirip dengan orang yang pernah menyakiti kita.

Sepintas lalu, pelampiasan dendam itu “memuaskan” kita. Sebenarnya, tidak demikian. Pelampiasan dendam itu justru merugikan diri-sendiri karena mengotori hati nurani kita. Ketika hati kita kotor, hati kita menjadi mudah merasa sakit. Kalau kita mau hati kita lebih sehat dan lebih kuat, kita hendaknya bersandar kepada Sang Mahaadil.

Kalau memang orang-orang yang pernah menzalimi kita (dan telah lepas dari jeratan hukum manusia di dunia) itu bersalah, biarlah Dia saja yang membalas kejahatan mereka, setimpal dengan perbuatan mereka. Dan akan lebih bagus lagi bila kita memaafkan mereka dan kemudian mendoakan mereka supaya mereka bertaubat dan tidak ada lagi orang yang menjadi korban kejahatan mereka.

4. Supaya tenang dan stabil, yang paling efektif adalah melakukan zikir yang relevan dengan masalah yang sedang dihadapi. Untuk itu, silakan simak buku karyaku, Doa & Zikir Cinta. (Shalat dan baca Al-Qur’an merupakan bagian dari doa & zikir. Itu sudah bagus. Dan akan lebih bagus lagi bila zikirnya yang sesuai dengan persoalan yang sedang dialami.)

Oh ya, bila kupandang bahwa orang lain dapat mengambil manfaat dari konsultasiku seperti ini, sedangkan pengungkapannya dengan tetap menjaga kehormatan orang (antara lain dengan merahasiakan identitas), aku senang menayangkannya di situsku. Apabila para pembaca menangkap kebaikan dari situ, maka aku dan orang yang kasusnya aku ungkapkan itu insya’Allah beroleh pahala yang terus mengalir (bahkan walau kita sudah meninggal) selama pembaca tersebut mengamalkan kebaikan itu.

Demikian tanggapan dariku. Semoga Allah Sang Maha Penyayang senantiasa menyertaimu. Aamiin.

6 thoughts on “Konsultasi: Pelampiasan Dendam terhadap Lelaki

    Konsultasi: Pelampiasan Dendam terhadap Lelaki said:
    26 Februari 2009 pukul 12:44

    […] View original here:  Konsultasi: Pelampiasan Dendam terhadap Lelaki […]

    muftialy said:
    28 Februari 2009 pukul 06:53

    Setuju bung Shodiq… Allah itu Maha Penerima Taubat hamba Nya; bahkan di sebuah hadits digambarkan bahwa rasa senang Allah tatkala hamba Nya bertaubat kepada Nya itu melebihi rasa senang seorang hamba yang di tengah-tengah perjalanan kehilangan barang-barangnya, kemudian tatkala hamba itu berputus asa, barang-barang itu dia dapatkan kembali…
    Pada hadits tersebut bahkan digambarkan rasa senang hamba tersebut dengan perkataannya “Ya Allah, Engkaulah hamba ku, dan saya lah pemelihara Mu”. Orang ini salah ngomong, karena bahagianya…
    Bagaimana kabar bung Shodiq? Sudah lihat banjir di daerah Solo bagian utara?

      M Shodiq Mustika responded:
      28 Februari 2009 pukul 08:30

      @ muftialy
      Alhamdulillaah. Kabarku baik, senang telah menyelesaikan penataan/desain situs ini, kini tinggal berkonsentrasi pada isinya.
      Aku belum lihat banjir di solo utara, baru denger ceritanya dari istriku kemarin.

    stevy said:
    6 Maret 2009 pukul 18:17

    assalamualaikum wr.wb
    gimana pak sodik kabarnya?
    maap aku nggak sempet baca isi artikelnya
    soalnya gugup, pak…akhirnya aku putus sama si dia
    dan rasa dendam itu ada…krn dia kan udah janji segala macam tapi nyatanya dia putusin aku gitu aja
    ya udah lah gpp ambil hikmahnya aja, mungkin belum jodoh juga ya kan pak??
    ohya pesenan ibu udah belum stevi kirim soalnya masih di jakarta mungkin hari selasa baru stevi kirim

      M Shodiq Mustika responded:
      6 Maret 2009 pukul 18:35

      wa’alaykumussalaam war. wab.
      Aku percaya kau mampu bersabar menghadapinya.
      Kabarku, hari ini aku kurang enak badan, terkena diare. Mungkin karena aku terlalu letih.
      Sampaikan salamku untuk ibumu, ya!

    Lex dePraxis said:
    16 September 2010 pukul 02:34

    Hmmm, tulisan yang menarik. Terima kasih ya telah berbagi.

    Kebetulan saya juga barusan menulis topik serupa tentang membalas dendam. Cek saja entri saya yang berjudul Balas Dendam Itu Manis? Saya pikir bisa jadi referensi silang yang menambah pengetahuan kita bersama.

    Untuk sementara sekian aja dulu. Salam kenal, dan sampai jumpa lagi nanti.

    Lex dePraxis

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s