Balada Seorang Pencopet Amatir

Posted on

Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, Umay melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah Umay. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya.

Dada Umay berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung Umay yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga Umay? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak Umay?

Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Umay berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, Umay mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, Umay hanya seorang diri. Kang Yayan, suami Umay, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk.

Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah Umay itu menodong, Umay bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.

Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Umay sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Umay punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Umay memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi di zaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah?

Umay masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Umay masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.

Terlintas di pikiran Umay untuk menelepon tetangga. Tapi Umay takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul.

Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung Umay mengencang kembali. Umay memang mengidap penyakit jantung. Tekad Umay untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki Umay tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, Umay ingat, Umay pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Umay masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki Umay masih lemas.

Umay pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Umay pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, Umay ada yang menabrak, Umay hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului Umay. Umay jengkel, apalagi begitu sampai di rumah Umay tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.

Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet Umay lewat celah di atas pintu. Setelah Umay periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu Umay simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang.

Lama Umay melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun Umay pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?

Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu Umay menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Umay baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati Umay itu. Isinya seperti ini:

Ibu yang baik…, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya.

Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.

Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras.

Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.

Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya?

Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.

Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan.

Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. saya gagal jadi pencopet.
Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.

Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu…, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.

Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu…, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf.

Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali Umay baca. Berhari-hari Umay mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika Umay menanyakannya.

Lelah mencari, di bawah pohon rindang, Umay membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat Umay tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan Umay.

Umay tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, Umay tidak segembira biasanya.Umay malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja.

Kang Yayan dan kedua anak Umay mungkin aneh dengan sikap Umay akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati Umay tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan Umay untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.

Umay menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali. Saat Umay ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi Umay ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan Umay sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi Umay bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak Umay, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan.

Di stopan terakhir yang mereka kunjungi, Umay mengajak Kang Yayan dan kedua anak Umay untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir dimata Umay.

Yuni menghampiri Umay dan bilang, “Mama, Umay bangga jadi anak Mama.” Dan Umay ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.

——-
Sumber: “Setan atau Malaikat

14 respons untuk ‘Balada Seorang Pencopet Amatir

    Balada Seorang Pencopet Amatir said:
    28 Februari 2009 pukul 21:52

    […] Continued here: Balada Seorang Pencopet Amatir […]

    cah japan said:
    1 Maret 2009 pukul 14:36

    hikz hikz hikz… mpe nangis q bca surat tu anak, mengingatkan n mnynth hti ni yg bnyk slhnya…

      M Shodiq Mustika responded:
      1 Maret 2009 pukul 14:42

      @ cah japan
      iya, bagiku juga, itu emang mengharukan

    Mang Ajid said:
    1 Maret 2009 pukul 15:30

    kisah yang menyentuh dan penuh pembelajaran , membuat hati jadi… ngarakacak ( istilah orang sunda )

    imoe said:
    1 Maret 2009 pukul 19:23

    mantap…salutttttt tulisannya meng inspirasi…

    M Shodiq Mustika responded:
    1 Maret 2009 pukul 19:47

    @ mang Ajid
    “ngarakacak” itu artinya apa, ya?

    @ imoe
    semoga cerita tersebut membawa kita ke arah yang lebih baik. aamiin

      Mang Ajid said:
      6 Maret 2009 pukul 08:40

      “nagarakacak” itu artinya: jika kita melihat/mengetahui ada orang yang bersedih kita ikut sedih dengan perasaan yang bercampur aduk, bahkan timbul pertanyaan dalam hati “bagaimana jika hal tersebut terjadi pada diri kita?”
      ( semoga tidak salah )

    Yep said:
    2 Maret 2009 pukul 09:13

    Wah sangat menyentuh hatiku Pak Shodiq…..
    Sangat menginspirasi….Thanks.

    kang Agus said:
    14 Maret 2009 pukul 15:51

    Akan g bisa bilang apa2.
    Akang cuma pesan bantulah orang yang membutuhkan kita
    danjangan sekali-kali kita sombong karena kesombomgan
    tidak bisa kita banggakan….?
    yang Akang bisa cuma nangis…………………………………………….?

    kang Agus said:
    14 Maret 2009 pukul 15:53

    mf y klo tulisan (komentar)nya g nyambung…..
    habis saking sedihnya Kang Agus

    M Shodiq Mustika responded:
    15 Maret 2009 pukul 00:12

    @ Yep
    You’re welcome

    @ kang Agus
    Marilah kita petik hikmahnya. Hanya hati yang bersihlah yang mampu menerima cahaya…

    aang suherlan said:
    5 Mei 2009 pukul 09:55

    banyak contoh cerita skenario yang telah saya tulis, mungkin klo anda terutama perusahaan PH yang membutuhkan karya saya, maka saya siap kerjasama.

    umay said:
    3 Oktober 2009 pukul 22:52

    assalamua’alaikum kang shodiq, gmana kbarnya?

    cliford said:
    12 Desember 2010 pukul 15:11

    wah wah sedih jdnya karna terharu hebat betul ya

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s