Al-Qur’an membatasi ataukah memberikan keleluasaan untuk berpoligami?

Posted on Updated on

Apabila “asbabun nuzul” dipahami sebagai “sebab hakiki turunnya” ayat, maka Allah sajalah yang tahu. Namun kalau asbabun nuzul itu kita pahami sebagai konteks turunnya ayat, aku yakin bahwa ayat An-Nisa’ [4]: 3 membatasi poligami. Sebab, sebelum turun ayat tersebut, masyarakat Arab memiliki tradisi poligami secara bebas (liberal), nyaris tanpa batas. Namun sejak turunnya ayat tersebut, masyarakat Arab Muslim tidak lagi memiliki tradisi bebas tersebut. Para shahabat yang berpoligami hanyalah yang memenuhi persyaratan tertentu.

Yang dianjurkan pun bukanlah menikah lagi dengan gadis belia atau pun janda kembang, melainkan dengan wanita lemah dan punya tanggungan (yang sewaktu turunnya ayat tersebut ialah janda korban perang yang memiliki anak-anak yatim).

Ayat 4:3 itu sebenarnya berkaitan dengan “anak yatim” yang dinyatakan pada 4:2. Definisi anak yatim ialah anak yang belum baligh yang ditinggal mati oleh ayahnya. Ini harus dipahami oleh semua pembaca Alquran agar tidak bias pengertiannya.

Ayat itu juga tidak mengajarkan untuk “menikahi anak yatim”, karena tidak lazim bagi perempuan Arab waktu itu nikah sebelum balig. Ingat, jika ada saran Nabi untuk memiliki banyak anak waktu itu, hal ini menunjukkan bahwa yang perlu dinikahi adalah perempuan yang sudah balig, dan berarti bukan yatim lagi!

Sedangkan yang diperintah untuk dinikahi itu adalah nisa’ alias perempuan dewasa. Jadi, yang dinikahi itu bukan “anak yatim” tapi perempuan dewasa! Untuk jelasnya, bacalah ayatnya di bawah ini.

Wa in khiftum allaa tuqsituu fii al-yataamaa fankihuu maa thaaba lakum min al-nisaai matsnaa wa tsulaatsa wa rubaa’a; fa in khiftum allaa ta’diluu fa waahidah aw malakat aymaanukum dzaalika adnaa allaa ta-‘uuluu.

Dan jika kamu tidak bisa berbuat qist (adil secara materi) terhadap anak-anak yatim itu, maka nikahilah wanita-wanita [dewasa] yang baik bagimu, dua, tiga atau empat. Tapi ingat, jika engkau khawatir tidak bisa berlaku adil (secara immaterial), maka nikahilah satu saja, atau [dengan] budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS: an-Nisaí/4:3).

Menurut ‘Aisyah r.a., yang dimaksud dengan “wanita-wanita [dewasa] yang baik bagimu” itu adalah “anak-anak yatim tersebut yang sudah dewasa”. (Lihat tambahan penjelasan oleh Irawan Danuningrat.) Namun bila dipahami dari segi bahasa, bisa pula diartikan bahwa yang dimaksudkan itu ialah “janda, ibu dari si anak yatim”.

Dalam terjemahan Indonesia, kata “qist” dan “adil” diterjemahkan sama. Ini sebetulnya kurang tepat! Makna “qist” itu “adil secara materi”.

Nah, perlu diketahui bahwa ayat tersebut diwahyukan setelah perang Uhud yang meninggalkan banyak janda yang punya anak yatim. Adat Arab pada waktu itu mengharuskan adanya perwalian oleh mereka yang masih hidup setelah perang. Misalnya, A dan B kenal baik dan ikut perang Uhud. Lalu, A gugur, maka B menyatakan kepada istri A bahwa ia sekarang menjadi wali yang mengurus harta peninggalan A. Tapi, kenyataannya banyak yang mismanajemen, banyak wali memakan harta anak yatim itu secara berlebihan. Banyak walinya tidak berlaku “qist”; maksudnya, pemakaian hartanya tidak proporsional.

Sebagai solusi, para wali itu disarankan untuk menikahi ibunya (ya ibu anak yatim itu). Maka kalimatnya “fankihuu maa thaaba lakum min al-nisaa'”. Perhatikan bahwa yang dinikahi itu adalah “maa thaaba” dan “bukan man thaaba”. Kalau redaksinya “man thaaba”, itu artinya siapa pun wanita, tidak peduli punya anak yatim, janda kembang atau gadis. Lha, karena redaksinya itu “maa thaaba”, maka yang dianjurkan untuk dinikahi itu ialah para wanita janda yang punya anak yatim.

Sebagian saudara kita lebih suka berpegang pada pengertian kebahasaan tersebut daripada penjelasan oleh ‘Aisyah r.a. seperti tersebut di atas (yaitu bahwa yang dianjurkan untuk dinikahi ialah si yatim yang sudah dewasa). Aku sendiri menyarankan kita untuk lebih berpegang pada pendapat shahabat seperti ‘Aisyah itu. Namun, mana pun yang kita pegang, semuanya sama-sama menekankan “keadilan” sebagai syarat untuk poligami.

Nah, bukankah itu semua menunjukkan pembatasan poligami (dengan syarat tertentu, terutama pemenuhan keadilan) dan bukan pemberian keleluasaan untuk berpoligami secara bebas (liberal)? Memang, kita tidak menjumpai adanya larangan untuk menikah lagi dengan gadis atau pun janda kembang. Namun, keadilan haruslah ditegakkan apabila berpoligami.

Memang, diantara warga masyarakat bisa berselisih paham mengenai makna “adil”. Mungkin saja para suami merasa dirinya mampu berlaku adil, tetapi mungkin pula para istri menganggap suaminya mustahil adil. Nah, di sinilah peran pemerintah (sebagai ulil amri) diperlukan.

14 thoughts on “Al-Qur’an membatasi ataukah memberikan keleluasaan untuk berpoligami?

    devson said:
    9 Maret 2009 pukul 14:37

    Wah kagak ngerti neh,but pengen tanya neh?
    1.Mas tentu tau kan apa itu syariat,nah tolong jelasin donk?
    2.Apa-apa aj sih syariat itu,di kelompokkan dalam apa aj?
    3.gimana nih menerapkan syariat dalam kehidupan?
    4.ada g peluang syariat masuk dalam bernegara?
    5.bagaimana menghukum kan syariat islam dalam hukum negara kita,
    ya,sebagai contoh aja nih:tau g hukuman di indonesia buat mereka yang berselingkuh,ternyata ad hukumannya yang di atur oleh KUHP,
    tapi masa hukumannya cuma maksimal 9 bulan aja,padahal namanya berselingkuh kan termasuk zina yang dilakukan orang yang udah menikah.
    6.menurut anda perlu g di buat badan pemerintah yang mengatur syariat khususnya islam yang tentu berhubungan dengan habluminannas.
    dan
    ter akhir mampir-mampir ma beri dakwah donk di forum
    http://www.indonesiaindonesia.com
    kan ada bagian section islam tuh,jadi lebih bermamfaat.
    disitu juga ada pertanyaan saya but ampe 2mgg g d yang serius jawab tuh.

    Yep said:
    9 Maret 2009 pukul 17:46

    Yang sering saya liat, poligami dengan wanita lebih muda Pak ?🙂

    BOY said:
    9 Maret 2009 pukul 20:16

    Assalamualaikum wr wb.
    Memang pada ayat di atas, Allah SWT membatasi Poligami agar para suami dapat berlaku adil dalam umah tangganya. Adil dimaksudkan adalah fleksible, dimana isteri-isteri dari suami harus menerima kenyataan bahwa keadilan itu demikian adanya, asalkan tidak melampaui batas. Sebaiknya kita harus memahami bahwa poligami memang layak diikuti untuk menghindari maksiat, zina, jajan dengan wanita2 lain yang bukan isterinya. Bukankah itu lebih mudharat? Wallahu’aklam
    Wassalam

    M Shodiq Mustika responded:
    9 Maret 2009 pukul 23:59

    @ devson
    Wah, pertanyaanmu membutuhkan jawaban yang panjang-lebar. Mudah-mudahan akan ada kelonggaran bagiku untuk menjawab pertanyaanmu ini.
    Mengenai berkomentar di blog lain, aku sedang membatasinya. Sebab, aku sedang mengalami masalah: https://muhshodiq.wordpress.com/2009/03/04/konsultasi-jodoh-si-mahasiswi-malaysia/

    @ Yep
    Menikah lagi dengan yang lebih muda tidak terlarang, asalkan prinsip keadilan masih terjaga.

    @ BOY
    Wa’alaykumussalaam. Pada paragraf terakhir di artikel di atas telah kusebutkan:

    … Mungkin saja para suami merasa dirinya mampu berlaku adil, tetapi mungkin pula para istri menganggap suaminya mustahil adil. Nah, di sinilah peran pemerintah (sebagai ulil amri) diperlukan.

    muftialy said:
    10 Maret 2009 pukul 05:30

    Assalamualaikum…
    memang bung Shodiq benar, peran pemerintah itu diperlukan. Hanya, pemerintah yang bagaimanakah? Apakah dengan menghukum pelaku poligami (yang secara tidak langsung tindakan tersebut mengisyaratkan bahwa pemerintah mengharamkan poligami). Saya kira tidak tepat jika semua pelaku poligami dihukum. Sebab esensinya poligami itu tetap boleh, yang jadi masalah ialah para pelakunya. Apakah mereka siap menjalani konsekwensi poligami?! atau mereka hanya mau enaknya saja?!
    Kalau pelaku poligami siap menjalani konsekwensi poligami, kenapa harus dihukum?
    Padahal Allah Ta’ala membolehkan poligami dengan syarat-syaratnya.

    muftialy said:
    10 Maret 2009 pukul 05:33

    atau coba deh bung Shodiq berkunjung ke postingan saya dengan judul Orang beriman bag.2.
    Mohon maaf, jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati bung Shodiq.

    Herman S.Y said:
    10 Maret 2009 pukul 14:25

    Makasih Mas tambahan Ilmunya….

    Irawan Danuningrat said:
    10 Maret 2009 pukul 15:00

    Assalamu’alaykum wr.wb.

    Terus terang saya bukan ahli bahasa al-Qur’an dan baru kali ini menjumpai terjemahan an-Nisa [4]:3 sebagaimana ditulis pak Shodiq sbb:
    “Dan jika kamu tidak bisa berbuat qist (adil secara materi) terhadap anak-anak yatim itu, maka nikahilah wanita-wanita [dewasa] yang baik bagimu, dua, tiga atau empat. Tapi ingat, jika engkau tidak bisa berlaku adil (secara immaterial), maka nikahilah satu saja, atau [dengan] budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS: an-Nisaí/4:3).
    Yang berulang kali saya temui dalam berbagai al-Qur’an bertasrih, umumnya sbb :
    “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu TAKUT TIDAK AKAN DAPAT BERLAKU ADIL, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”[4]:3

    Menurut hemat saya untuk memahami ayat 3 surah an-Nisa tentang perintah (anjuran) kawin (nikah) secara pas, disamping perlu ada kesamaan dalam memaknai (menerjemahkan) ayat tsb, juga perlu mengkajinya secara komprehensif dengan ayat-ayat terkait ketentuan lainnya (a.l. ayat 1,2, 22-25, 127,129 dll). Disamping itu, kiranya sebaiknya pula kita rujuk hadist menyangkut masalah terkait. Hal ini menjadi penting karena adanya perbedaan dalam penerjemahkan, sudah barang tentu akan membuahkan pemahaman yang berbeda pula, bahkan tidak mustahil bertolak belakang yg sering mengakibatkan kesalahpahaman.

    Mari kita perhatikan dampak dari adanya perbedaan terjemahan :
    Terjemahan 1 : “Tapi ingat, jika engkau tidak bisa berlaku adil (secara immaterial), maka nikahilah satu saja,
    Frasa pada terjemahan ini otomatis berfungsi dan berkedudukan sebagai preconditional term (frasa prasyarat, sekaligus “warning”). Dengan penerjemahkan seperti itu, ayat [4]:3 tsb jelas menjadi perintah untuk hanya mengawini seorang wanita saja mengingat frase selanjutnya yg berperan sbg ancaman bagi siapapun yg menjalankan poligami apabila tidak bisa berlaku adil; dengan kata lain “dilarang berpoligami jika tidak bisa berlaku adil”.

    Bandingkan dengan kalimat :
    Terjemahan 2: “Kemudian jika kamu TAKUT TIDAK AKAN DAPAT BERLAKU ADIL, maka (kawinilah) seorang saja”.
    Pada terjemahan 2, frasa tersebut justru menjadi exceptional term, dimana “kekhawatiran untuk tidak akan dapat berbuat adil” adalah kondisi pengecualian yg dapat diterima/dimaklumi Allah dalam hal seseorang merasa berat untuk melaksanakan perintah : “Nikahilah wanita-wanita yang baik bagimu, dua tiga atau empat” tsb.

    Disamping ayat-ayat tsb, tentu pak Shadiq juga familiar dengan Hadits Riwayat Aisyah yg secara khusus membahas surah an-Nisa [4]:3 tsb, yang layak dijadikan rujukan, terlebih jika dihadapkan pada “asbabun nuzul” sebagaimana pak Shadiq kemukakan, sebagai berikut :

    Dari Urwah bin Zubair, bahwa ia bertanya kepada Aisyah tentang firman Allah: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap hak-hak perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga atau empat.

    Aisyah berkata: “Hai keponakanku, ayat itu berbicara tentang seorang anak perempuan yatim yang berada dalam asuhan walinya, di mana harta anak perempuan itu telah bercampur dengan harta wali, kemudian wali itu tertarik dengan harta dan kecantikannya dan ingin mengawininya tanpa membayar mahar yang layak seperti yang akan dibayar orang lain kepada anak perempuan itu. Sehingga para wali dilarang menikahi mereka, kecuali bila mereka berlaku adil dan membayar mahar yang layak (mitsil) dan para wali juga diperintahkan untuk menikahi perempuan lain yang baik bagi mereka”.

    Urwah melanjutkan: Aisyah berkata: “Sesudah turun ayat ini, para sahabat meminta fatwa kepada Rasulullah tentang perempuan yatim yang berada dalam asuhan, lalu Allah menurunkan ayat: Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Alquran (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka”.

    Aisyah berkata: “Maksud firman Allah Taala: Dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Alquran adalah ayat pertama yang ada dalam firman Allah: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap hak-hak perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi. Adapun maksud ayat lain yang berbunyi: Sedang kamu ingin mengawini mereka, adalah ketidaksenangan seorang wali di antara kamu terhadap perempuan yatim asuhannya yang tidak memiliki harta dan kecantikan sehingga mereka dilarang menikahi perempuan yatim yang banyak harta serta cantik kecuali dengan membayar mahar mitsil karena ketidaksenangan mereka kepada perempuan yatim yang miskin dan tidak cantik. (Shahih Muslim No.5335)
    Demikian untuk dijadikan pertimbangan kita semua.
    Wallahu’alam
    Wassalamu’alaykum wr.wb.

      M Shodiq Mustika responded:
      10 Maret 2009 pukul 15:24

      @ Irawan

      Dalam hal terjemahan ayat tersebut, memang mestinya kata “takut/khawatir” disertakan. Di artikel itu aku hanya mengungkapkannya secara tersirat pada penjelasannya, yaitu “kekhawatiran” para istri kalau-kalau suaminya mustahil berlaku adil. Terima kasih atas koreksinya.

      Mengenai siapa yang hendak dinikahi menurut ayat tersebut, yang aku maksudkan adalah menikahi si yatim setelah ia dewasa, bukan ketika semasa kanak-anak. Memang, penjelasan Aisyah itu betul. Namun, yang dia maksudkan adalah sesudah ia dewasa (baligh), bukan semasa kanak-kanak. Sebab, menikahi anak-anak bukanlah tradisi masyarakat Arab pada saat itu. Terima kasih atas tambahan penjelasannya.

      Ketika kita jumpai perbedaan antara pemahaman kita dari segi bahasa, tentu saja pendapat shahabat Nabilah yang lebih perlu kita pegang. Merekalah yang lebih tahu daripada kita. Terima kasih atas koreksinya.

      Berdasarkan masukan darimu ini, aku sudah melakukan update terhadap artikel di atas untuk menghindari kesalahpahaman diantara pembaca.

    Irawan Danuningrat said:
    10 Maret 2009 pukul 16:50

    As. wr.wb.

    Pak Shodiq,

    Sama-sama, saya juga terimakasih kepada pak Shodiq. Sekedar tambahan untuk sharing, bukan saya bermaksud mendorong orang untuk atau ingin berpoligami, alasan mengapa saya tidak berani mengatakan bahwa Islam membatasi poligami dan poligami hanya berlaku untuk Nabi a.l. :

    1. Jika surat an-Nisa [4]:3 tsb dikatakan sbg ayat yg MEMBATASI POLIGAMI, maka guna mengimplementasikan hal tsb dalam kehidupan sehari-hari perlu ada institusi yang diberi mandat dan wewenang “memberi fatwa” adil atau tidak adil-nya seseorang yg berpoligami, sehingga perkawinannya dgn isteri ke-2, ke-3 dst dinyatakan sah atau haram. Namun demikian siapa yg berhak memberi mandat tersebut? Sampai dimana dan menurut siapa batasan adil/tidak adil tsb? Apakah adil/tidak adil dimata Allah?- hanya Allah yg Tahu; Adil/tidak adil menurut sang suami?; Adil/tidak adil menurut semua istri yang dinikahinya?; Adil/tidak adil menurut sebagian isterinya? atau adil dan tidak adil menurut masyarakat yg menontonnya?. Kayaknya justru semakin ribet dan mustahil membentuk institusi tsb dan sepertinya koq sama dgn kita berpendapat bhw isi al Qur’an tidak/belum sempurna sehingga perlu disempurnakan.

    2. Jika surah an-Nisa [4]:129 yg berbunyi : “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri- istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”…… dijadikan dasar bahwa “sesungguhnya” Allah mengatakan bahwa semua laki-laki itu mustahil bisa berbuat adil terhadap isteri-isterinya, atau dengan kata lain : “SEBENARNYA POLIGAMI MUSTAHIL DILAKUKAN PRIA MUSLIM kecuali oleh NABI”, (lebih jauh lagi: HARAM bagi manusia biasa), menurut hemat saya pendapat tersebut equivalent dengan menuduh Allah swt telah berbuat AKAL-AKALAN dengan “membuat hukum/aturan” yang seolah-olah membolehkan poligami padahal sesungguhnya mustahil dilaksanakan, apalagi jika betul bhw POLIGAMI HARAM bagi kaum muslimin!! Audzubillah mindzalik!

    Saya sungguh tidak berani berpegang pada suatu pendapat yg identik dengan sikap seperti itu. Saya pribadi lebih memilih untuk berpegang pada surat an-Nisa ayat 64:

    “Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang”. [4]:64

    Artinya, perbuatan apapun yg dilakukan Rasulullah, pasti baik untuk ditiru oleh ummatnya. Mengenai apa niat yg terkandung di dalam hati ybs menyangkut perbuatannya, hanya ybs dan Allah swt yang tahu. Dan semua itu, tak mungkin ada yang luput dari pengetahuan-Nya.

    Sekali lagi terimakasih atas sharingnya selama ini.

    wassalam

      M Shodiq Mustika responded:
      10 Maret 2009 pukul 17:31

      Ya, aku sepakat dengan Mas Irawan bahwa hati itu urusan Allah dengan yang bersangkutan. Itu di satu sisi. Di sisi lain, aku berpendapat bahwa dalam perkara-perkara empiris, pemerintahlah (selaku ulil amri) yang berwewenang menegakkan keadilan bagi warga-warganya.

      Di Indonesia sekarang, kita beruntung mendapatkan kebebasan untuk menyatakan pendapat. Jadi, bila kita tidak sependapat dengan kebijakan pemerintah (Departemen Agama), kita bisa menyampaikannya langsung atau melalui wakil kita di DPR.

      Walau tidak sepenuhnya sepakat, aku menghargai pendapat mas Irawan. Bagiku, cukuplah kita saling berbagi tanpa memperdebatkannya lebih lanjut. Aku senang mendapatkan masukan-masukan yang berbobot seperti itu. (Mudah-mudahan Allah membalas kebaikan mas Irawan ini dengan yang lebih baik. Aamiin.)

    ekal said:
    8 September 2009 pukul 01:34

    Assalamualaikum,
    Jadi menurut pandangan awam saya, kesimpulannya, ada 4 aturan main yaitu ,
    1. Niat, yakni tujuannya berpoligami.
    2. Persetujuan, yakni jika semua pihak setuju, baik keluarga keduabelah pihak, maupun istri pertama dan anak2 (jika sudah ada). Terutama tidak ada rasa cemburu sedikitpun di pihak istri pertama . Karena rasa cemburu adalah hal yg paling berbahaya.
    3. Adil, yakni mampu berbuat adil dalam segala hal.
    4. Berbahagia.
    Jika 4 hal ini bisa terpenuhi, saya rasa tdk ada masaalah. Itu aja kok repoot

    ekal said:
    8 September 2009 pukul 01:51

    Sebagai gambaran baik buruknya yang akan terjadi , saya ingin ceritakan sedikit pengalaman saya sendiri. Jujur, saya sendiripun pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis, kurang lebih 3 bln, saya juga sadar telah menghianati isteri saya, tapi apa boleh buat, karena ” cinta “. Tapi walaupun demikian rasa cinta saya kpd isteri dan anak-anak juga tdk berkurang. Dan jujur saja saat itu ada juga niat saya utk nikah dengannya (berpoligami). Tapi begitu ketahuan oleh isteri saya, gagallah niat saya, takut dosa, takut berbuat hal-hal yang nekad, walaupun masih cinta sama kekasih gelap (he..he..he ). Nah inilah baru yang namanya “kriminal” jika saya turuti perasaan saya sendiri. Sekian cerpen saya. Mohon maaf jika ada yg salah….

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s