Aku senang mencintaimu (dengan bagaimanakah?)

Posted on Updated on

Dengan bagaimanakah aku senang mencintaimu? Dengan sederhanakah? Oh, tidak. Cinta itu penuh dengan misteri. Bila mencintai dengan sederhana, ke manakah cinta kita akan menuju? Kepada kehampaankah? Ogah, ah!

Aku senang mencintaimu dengan terarah:
dengan sehembus bayu yang dideburkan
Ar-Rahim kepada segumpal darah
yang menjadikannya manusia.

Aku senang mencintaimu dengan tertata:
dengan selaksa aroma yang didesirkan
lebah pengolah buah di hening sarang
yang menjadikannya pencinta.

Begitulah puisi Aisha Chuang dalam Nikmatnya Asmara Islami. Puisi tersebut dimaksudkan sebagai “jawaban” atau “sudut pandang yang lain” terhadap puisi karya Sapardi Djoko Damono, “Aku Ingin”:

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Dalam segi bahasa penyampaian pesan, mungkin puisi Sapardi Djoko Damono ini lebih indah (dan tentu lebih orisinal). Namun dalam segi makna yang terkandung di dalamnya, aku lebih suka puisi Aisha Chuang di atas. Sebab, aku lebih senang menggunakan sudut pandang yang positif daripada negatif. Inilah sebabnya mengapa aku lebih suka memandang cinta sejati sebagai madu yang dihasilkan oleh lebah pengolah buah daripada sebagai abu kayu yang terbakar oleh api.

18 thoughts on “Aku senang mencintaimu (dengan bagaimanakah?)

    Mang Ajid said:
    15 Maret 2009 pukul 16:15

    Saya sangat suka sekali baca buku yang ditulis bahasa-bahasa yang indah, contohnya puisi atau syair.
    Tapi karena saya cuma bisa baca tanpa bisa menggali makna yang lebih dalam, maka saya kurang bisa memberi apresiasi yang lebih dalam.
    Gak apa-apa ya mas Shodiq ?

      M Shodiq Mustika responded:
      15 Maret 2009 pukul 20:28

      @ Mang Ajid
      Gak pa pa. Begitu pun sudah merupakan apresiasi.

    silve said:
    15 Maret 2009 pukul 20:50

    wah pak klo yg di tampilin cuma “abu kayu yang terbakar oleh api” makna jelek lah…
    klo lengkap menurut ku masih bagus karya Sapardi Djoko Damono
    “dengan kata yang tak sempat diucapkan
    kayu kepada api yang menjadikannya abu”

      M Shodiq Mustika responded:
      15 Maret 2009 pukul 23:08

      @ silve
      Kalau menurutku, yang “lengkap” itu pun masih kurang bagus, tetap saja menunjukkan bahwa sang pencinta di situ ialah “abu kayu yang terbakar oleh api”.

    fika said:
    18 Maret 2009 pukul 21:32

    bahagia sekali membaca kat-kata itu..
    puitis sekali……………………

    sheila Ilhamiyah said:
    19 Maret 2009 pukul 01:01

    Sungguh itu adalah sebuah puisi yang sangat dalam makna dan kandungan isinya. Hanya jiwa yang teoritis bisa mentakwilkan makna dari puisi ini dengan begitu penuh hikmah dari balik semua kata-katanya.

    n3z4 said:
    21 Maret 2009 pukul 07:17

    subhanallah…kereen bgt .puitis bgt.
    klo bwt aku,semuanya bagus.tapi klo keduanya adh pilihan yg harus dipilih salah satunya mka bagus yg pertama.betul yg pak shodiQ katakan(ato mz?).
    krna yg pertama lebih mendeskripsikan cinta menjadi hal yg lebih kongkrit,lbh “real”.
    tapi,tak da yg salh unutk keduanya krna aku juga penyuka puisi dari sapardi d.d

    syeh pudji said:
    21 Maret 2009 pukul 15:08

    tanya neh…???
    Kenapa ada cinta yang hanya untuk dikenang…???
    Kenapa ada ada cinta yang harus tidak bersatu…???

      M Shodiq Mustika responded:
      21 Maret 2009 pukul 16:06

      @ syekh pudji
      “Dan Kami bagi- bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; diantaranya ada orang-orang shalih dan diantaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan [nikmat] yang baik-baik dan [bencana] yang buruk-buruk, agar mereka kembali [kepada kebenaran].” (QS al-A’raaf [7]: 168)

    misya said:
    30 Maret 2009 pukul 22:33

    tapi apa yg harus dilakukan cinta….
    ketika cinta itu tak pasti??
    ketika cinta itu harus menunggunya??untuk waktu yg belum tentu kapan….

    ord1n4ryp3opl3 said:
    7 April 2009 pukul 15:29

    cinta ea???

    merasuk di jiwa terhirup bersama udara menyatu dalam darah mengalir ke seluruh tubuh berdetak seirama detakan jantung dan berdenyut seirama denyutan nadi terbayang dalam setiap kedipan mata

    apakah itu cinta semu atau hakiki

    yakinkan disetiap hembusan nafasmu kedipan matamu aliran darahmu detakan jantungmu denyutan nadimu dan pastikan dikalbu mu hanya Ia lah yang kau cinta

    ———————————————————————————

    wkkwkwkwkw anak kecil belajar bikin kata2 cinta euyz…

    ord1n4ryp3opl3 said:
    8 April 2009 pukul 09:00

    Ya Allah,
    Pimpinlah diri ini
    Yang mendamba CintaMu
    Karena Aku hanya menjadi hambaMu yang lemah
    Karena Aku hanya menjadi hambaMu yang jahil
    Tanpa pimpinan dariMu

    dewi said:
    15 April 2009 pukul 14:31

    wah…
    berbicara tentang cinta ya…
    aq suka puisi itu

    Rahmat said:
    16 April 2009 pukul 06:32

    Aq lebih suka kalo cinta itu totalitas…
    ga setengah-setengah….
    Tapi aq tidak suka kalo dibilang cinta itu buta,
    Karena cinta melihatnya dengan kedalaman hati…
    btul ga…?

    ardi said:
    17 April 2009 pukul 09:15

    cinta adalah pertautan jiwa di alamuzzar,cinta hakiki adalah gelora jiwa yg suci,cinta ilahi puncak tertinggi,ibadah gambaran cinta sejati tiada keindahan seindah ibadah jangan ibadah karena surga atau takut neraka tetapi ibadahlah karena gelora cinta yg membara sehingga ibadah mejadi kebutuhan pokok seperti perut lapar yang butuh makanan,atau seperti nafas bagi tubuh atau nyawa bagi badan itulah cinta al Musthofa pd rabbul jaliil ,itulah cinta Aliyul Murtadho,cinta Fathimah AL Bathul dan cinta Hasanaen yang siap mengesampingkan dunia demi mencapaiNya tidak seperti kita ibadah karena sekadar melepas kewajiban atau karena menginginkan sesuatu yang berbau keduniaan .salaaamun alaikum

    pitho said:
    31 Mei 2009 pukul 14:47

    Pemaran cinta yang sedehana tapi daleemmm

    hakimtea said:
    11 September 2009 pukul 13:31

    sungguh indah kata-kata cinta yang teruntai seperti udara yang berhembus tak putus… saya sendiri tidak terlalu pintar untuk mengungkapkan kata-kata… hingga pada istri sendiri saja paling denagan sederhana, seperti I love you, ya standarlah pak🙂

    Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang

    Faylasuf said:
    13 September 2009 pukul 00:10

    Subhanallah

    Kang shodiq memang pawangnya cinta. Saya pembaca buku antum, Ayat-Ayat Mesra.

    Mengagunkan! Benar-benar oase penolong musafir Cinta di tengah padang pasir zaman sekular.

    Semoga Allah mencintai kita.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s