Wajibkah Penyeragaman Cara Shalat?

Posted on Updated on

Saat kutempuh latihan ujian praktek shalat sewaktu SMP, mulanya aku menggunakan cara shalat ala Muhammadiyah. Namun oleh guruku, yang kebetulan beraliran NU, cara shalatku dinilai salah. Aku diminta mengulangi shalatku. Berhubung aku ingin lulus, ya kupenuhi saja permintaannya, tapi khusus untuk latihan dan ujian itu saja. Dalam praktek sehari-hari, aku tetap menggunakan cara Muhammadiyah.

Saat ini, kecenderungan untuk menyeragamkan cara shalat mungkin masih berlangsung di sekolah-sekolah oleh guru-guru yang bersangkutan. Aku merasakannya ketika putri sulungku, kelas 3 SD, mengkritik salah satu cara shalatku.

Syifa, putriku itu, sekolahnya di SD Islam Al-Azhar 28 Solo Baru. Sekolah ini berada di bawah naungan Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar. Walaupun salah seorang pendirinya ialah Buya Hamka, seorang tokoh Muhammadiyah, ada beberapa perbedaan kecil antara cara shalat Al-Azhar dan Muhammadiyah.

Selama ini, aku kenal Al-Azhar sebagai lembaga pendidikan Islam yang moderat. Jadilah aku agak heran ketika mendapat kritik dari putriku itu. Apakah di sekolahnya diajarkan penyeragaman cara shalat? Apakah guru-gurunya tidak mengajarkan bahwa cara shalat yang benar itu ada banyak?

Kritikan putriku itu mengingatkanku pada seorang pemuda Madura di Jogja yang bertanya-tanya, “Shalat kita beda???”. Persoalan yang dia angkat ini sudah aku bahas di artikel “Mengapa cara shalat kita beda?” Di antara hikmahnya, aku tegaskan bahwa untuk ibadah mahdhoh (seperti shalat), segalanya terlarang, kecuali ada tuntunannya. Karena itu, penyeragaman cara shalat pun hukumnya haram karena tidak dituntunkan oleh Rasulullah saw.

Jadi, seharusnya para guru agama Islam itu tidak mengharuskan satu cara saja untuk bershalat, apa pun alirannya. Mestinya mereka mengajarkan bahwa cara shalat yang benar itu ada banyak. (Bahkan, meskipun makmum harus mengikuti gerak imam dalam shalat jamaah, cara shalat diantara makmum dan imam pun tidak harus sama persis.)

15 thoughts on “Wajibkah Penyeragaman Cara Shalat?

    Billy Koesoemadinata said:
    17 Maret 2009 pukul 10:20

    kalo menurut saya sih, shalat itu ga perlu diseragamkan..

    karena, buktinya agama ISLAM aja ada beberapa madzhab.. kenapa jadinya harus seragam?

    yang penting kan, kita tetap beribadah dengan cara shalat kepada ALLAH SWT.. gituh..

      ziyadafkari said:
      26 Maret 2009 pukul 16:46

      Ih kamu luchu, Mahzab dalam Islam itu adalah pendapat para Imam mahzab tersebut, bukan berarti Islam itu boleh terpecah belah. Mungkin salah satu penyebabnya waktu itu mereka belum menerima Hadits Shahih dari Nabi Muhammad allallahu ‘alaihi wasallam yang menerangkan masalah tersebut, sehingga terpaksa mereka menggunakan Qiyas, dan menetapkan hukumnya berdasarkan Hadist yang sudah mereka terima.

      Oleh karena itu, setelah datang Hadits Shahih dari Nabi Muhammad allallahu ‘alaihi wasallam yang menerangkan masalah sholat, kita wajib mengikuti petunjuk tersebut

      Saya mohon maaf apabila saya salah, ya Allah Ta’ala hamba mohon ampunanmu da hamba mohon supaya upaya hamba ini engkau terima sebagai amal sholeh

      Beberapa Ilmu Diambil dari :
      http://www.almanhaj.or.id

        joesatch yang legendaris said:
        26 Maret 2009 pukul 17:47

        nggak usah nyebut lucu-lucuan apa nggak bisa? nggak usah nyerang pribadi orangnya gitu. lawan aja argumennya. kebiasaan orang (islam) endonesa, deh…

        astaghfirullah… jadi hasty generalization:mrgreen:

        M Shodiq Mustika responded:
        26 Maret 2009 pukul 18:22

        @ ziyadafkari
        Penjelasan akhi kurang tepat. Pada awalnya, mazhab itu memang lahir dari pendapat imam mazhab. Namun pada perkembangannya, muncul pula pendapat ulama-ulama yang berada dalam mazhab tersebut. Jadi, bisa saja ada perbedaan pendapat walau mazhabnya sama.
        Dari komentar akhi tersebut, ana menangkap kesan bahwa akhi belum benar-benar mengenal mazhab sampai-sampai mengira bahwa mazhab itu hanya berdasarkan qiyas dan tidak berdasarkan hadits shahih. Perlu kita pahami bahwa suatu hadits yang dinilai shahih oleh seorang ulama bisa saja dipandang tidak shahih oleh ulama lain; begitu pula sebaliknya.
        Perbedaan pendapat seperti itu bukanlah perpecahan. Asalkan menggunakan metode ijtihad yang sah, perbedaan pendapat itu harus kita terima keberadaannya. Menganggapnya sebagai terpecah-belah justru berbahaya.

    Herman S.Y said:
    18 Maret 2009 pukul 20:38

    Assalammu ‘alaykum…

    mo nanya (Sholat berjamaah – sbg Makmum):
    1. Mahzab Imam Maliki
    “Makmum diam mendengarkan imam. (kecuali pada saat rukuk, i’tidal, sujud, duduk diantara dua sujud, tasyahud awal & akhir), karena bacaan imam adalah bacaan makmum juga”

    Pertanyaannya, bagaimana jika sholat berjamaah pada sholat:
    -Zuhur dan ashar, pada biasanya imam tidak mengeraskan bacaan al quran, apakah makmum harus membaca bacaan al quran juga?
    -Magrib dan isya, pada rakaat pertama dan kedua makmum diam mendengarkan, nah rakaat ketiga (magrib&isya) atau rakaat keempat (isya), apa yg harus di lakukan makmum, diam ataukah membaca surah al fatihah?

    2. Mahzab Imam Syafi’i
    Makmum harus mengucapkan surah Al Fatihah
    Pertanyaannya:
    Pada saat yg bagaimanakah makmum harus membaca al fatihah:
    -Pada saat sehabis takbiratul ihram-kah?
    -Pada saat imam membaca al fatihah, makmum juga membaca surah al fatihah mengikuti imam?
    -Atau sehabis imam membaca surah al fatihah (jadi imam membaca surah lainnya sementara makmum membaca surah al fatihah)?

    Oiya disini saya tidak mempermasalahkan perbedaan mahzab.😀 Mahzab itu kan semacam aturan/tata cara (mohon koreksi jika salah), jadi saya hanya ingin tahu aturan2 dari pertanyaan2 saya tsb… :-D… Makasih…

    Wassalammu ‘alaykum…

      M Shodiq Mustika responded:
      19 Maret 2009 pukul 16:06

      @ Herman S.Y
      Wa’alaykumus salaam.
      Mazhab = aliran/kelompok.
      1. Yang dimaksud dengan “bacaan imam” itu adalah yang diucapkan dengan cukup “keras” (sehingga dapat didengarkan oleh makmum). Jadi, ketika bacaan imam tak bisa didengarkan oleh makmum seperti pada saat-saat yang kau sebut itu, makmum perlu membaca sendiri. (Untuk lebih mengenal mazhab maliki, mungkin lebih baik kita “belajar Islam di Marokko“.)
      2. Mengenai mazhab Syafi’i, di Indonesia ini ada banyak pakarnya, terutama dari NU. Menurutku, akan lebih afdol bila kau bertanya kepada orang-orang NU. Oke? (Mudah2an, diantara para pengunjung artikel ini, ada orang NU yang berkenan menyampaikan jawaban.)

        Herman S.Y said:
        20 Maret 2009 pukul 14:36

        Assalammu ‘alaykum…

        Ooo begitu. Makasih banyak Mas…

        Wassalammu ‘alaykum…

    deni said:
    20 Maret 2009 pukul 08:00

    Assalammu’alaikum…

    Meski berbeda aliran, antum mengormati NU juga ya?^_^
    saya salut…

    Mmm… saya mau minta hadist yang menerangkan cara2 solat rasul dan para sahabat…
    kalau ada, tolong disampaikan.

      feri said:
      25 Maret 2009 pukul 21:09

      Assalammu’alaikum…

      kalau boleh saya jawab, buku2 hadist2 sangat banyak kita jumpai di toko-toko buku mengenai cara2 shalat rosullolah SAW, tergantung kita ada niat untuk mencarinya angak???

      kalau saya sarankan cobalah baca buku PIQIH ISLAM, Penulis H. SULAIMAN RASID, yang buku nya warna kuning, dimana dibuku itu djelaskan cara Shlat rosullolah SAW, baik cara Muhammadiyah maupun NU dan Mazhab lain, tergantung mana menurut kita yang sesuai keimanan kita.

      Wassalammu ‘alaykum…

        ziyadafkari said:
        26 Maret 2009 pukul 16:51

        Yang lebih penting dari membeda bedakan antara sholat NU dan Muhammadiyah adalah mempelajari sholat berdasarkan petunjuk Nabi Muhammad Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerangkan masalah sholat, kita wajib mengikuti petunjuk tersebut

        Beberapa Ilmu dari
        http://www.almanhaj.or.id/category/view/34/page/2

          M Shodiq Mustika responded:
          26 Maret 2009 pukul 18:32

          @ ziyadafkari
          Pada artikel yang ana rujuk, yaitu “Mengapa cara shalat kita beda?”, sudah ana katakan, “Marilah kita terima kenyataan bahwa perbedaan cara shalat kita itu sah, sama-sama islami, asalkan sama-sama sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.”

      ziyadafkari said:
      26 Maret 2009 pukul 16:52

      coba buka http://www.almanhaj.or.id
      terus cari bahasan Sholat

    naruto said:
    28 Maret 2009 pukul 20:14

    Untuk semuanya…,

    Kalau rekan-rekan pernah berkunjung ke berbagai negara, dan sholat di masjid2 di luar negeri, rekan-rekan akan melihat berbagai cara sholat. Yang dari Afrika, Arab, Asia, Pakistan…, dll. Ada yang bersedekap, ada yang tidak. Ada yang duduk tahiyat akhir agak miring, ada yang tidak. Ada yang jarinya diputar-putar, ada yang tidak. Dan lain-lain.
    Justru perbedaan itulah yang seharusnya dirayakan adanya.

      lie said:
      30 Mei 2010 pukul 09:56

      bagaimana dgn mazhab syiah?sholah di mazhab tsb tidak bersedekap…

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s