Kontroversi di masyarakat tidak perlukah?

Posted on Updated on

Dipandang dari sudut ilmu komunikasi, bukankah yg terpenting adalah bagaimana menyampaikan idea/maksud agar ditangkap dan dipahami secara TEPAT oleh audience, bukan malah membebani mereka dengan kontroversi…. [misalnya dengan penggunaan istilah “pacaran islami”]?

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Kontroversinya di kalangan siapa? Ilmu komunikasinya ilmu komunikasi yang mana?

Pernyataan bahwa “yg terpenting adalah bagaimana menyampaikan idea/maksud agar ditangkap dan dipahami secara TEPAT oleh audience” itu menunjukkan penggunaan paradigma mekanistis dalam ilmu komunikasi. Dalam paradigma yang dipengaruhi oleh fisika (Newtonian) ini, komunikasi dikonsep sebagai proses penyampaian materi secara mekanistis antara manusia.

Paradigma tersebut merupakan model lama/klasik yang telah banyak “ditinggalkan” oleh mereka yang mendalami studi komunikasi. Memang, paradigma tersebut masih berguna, tetapi daya gunanya terbatas pada keadaan tertentu saja. Dewasa ini, para ilmuwan komunikasi telah mengembangkan berbagai paradigma baru yang lebih sesuai dengan berbagai keadaan lainnya. Diantaranya adalah paradigma psikologis, paradigma interaksional, dan paradigma pragmatis.

Dalam perspektif psikologis sosial, komunikasi dikonsep sebagai proses pengolahan informasi pada individu. Menurut paradigma ini, yang terpenting bukanlah menyampaikan informasi yang ditangkap dengan tepat oleh khalayak. Yang terpenting adalah menumbuhkan sikap baru (atau menguatkan sikap lama) yang sesuai dengan harapan kita. Penggunaan paradigma ini memang merangsang respon individu-individu. Respon psikologis-sosial ini seringkali perlu demi perkembangan psikologis-sosial individu-individu, sehingga kurang tepat bila dikatakan “membebani mereka dengan kontroversi”.

Dalam perspektif interaksional, komunikasi dikonsep sebagai interaksi manusiawi pada masing-masing individu. Dalam paradigma ini, yang terpenting bukan lagi penumbuhan/penguatan sikap (atau apalagi sekadar penyampaian pesan). Yang terpenting adalah membangkitkan tindakan individu-individu. Tindakan-tindakan interaksional ini pun seringkali diperlukan demi perkembangan masyarakat, sehingga kurang tepat pula bila dikatakan “membebani mereka dengan kontroversi”.

Dalam perspektif pragmatis, komunikasi dikonsep sebagai sistem pola perilaku. Yang terpenting adalah membangun pola/sistem baru (atau membina pola/sistem lama). Pembangunan atau pembinaan pola/sistem dengan melibatkan individu dan kelompok sosial itu seringkali pula dibutuhkan, sehingga juga kurang tepat bila dikatakan “membebani mereka dengan kontroversi”.

Dengan memahami paradigma-paradigma tersebut, dapatlah sekarang kita menjawab pertanyaan: Kontroversi di masyarakat tidak perlukah? Jawaban kita: Ada kontroversi yang perlu, ada pula yang tidak perlu. Yang tidak perlu adalah yang tidak akan membawa kita ke arah sikap/tindakan/sistem baru yang lebih baik.

Bagaimana dengan penggunaan istilah “pacaran islami”? Aku yakin bahwa dengan seizin Allah, “kotroversi” ini (kalau memang ada) dapat membawa kita ke arah sikap/tindakan/sistem baru yang lebih baik. Salah satu buktinya adalah semakin banyaknya orang yang berkonsultasi masalah cinta kepada diriku dan kepada saudara-saudara kita lainnya yang menerima keberadaan pacaran islami. Bahkan, yang berkonsultasi itu bukan hanya dari kalangan awam, melainkan juga dari kalangan “khosh” (aktivis dakwah dari jamaah tertentu yang menganggap bahwa pacaran islami merupakan kontroversi, syubhat, makruh, haram, dsb).

Bagi mayoritas pembaca blogku, “pacaran islami” itu bukanlah kontroversi. Salah satu buktinya adalah bahwa “pacaran islami” merupakan istilah yang paling favorit untuk aktivitas persiapan nikah.

Iklan

One thought on “Kontroversi di masyarakat tidak perlukah?

    […] soal salah-sangka dari pembaca, lihat “Kontroversi di masyarakat tidak perlukah?“ nggak salah kok, tapi seolah terkesan “mendompleng” nama-masalah yang lagi nge hits saat […]

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s