Benarkah ta’aruf = pendekatan pranikah?

Posted on Updated on

Kl ngikut 7 aturan d artikel “Fiqih Pacaran“, tu sih bkn pacaran,kl q nyebutny pendekatan sblm nikah (ta’arruf) gt. Ky’ny q g asing ma pmilik blog nie, p’nah liat nmany d tko bku, tlong kl unt hal ini jgn pke kata pacaran, ’pacaran’ terkesan unt acara senang2 j, bkn p’siapan unt nikah

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Boleh-boleh saja kau menggunakan istilah lain. Namun, karena kita berbicara di depan publik, marilah kita gunakan pengertian yang obyektif.

Secara etimologis (asal-usulnya), makna asli pacaran adalah persiapan nikah. Secara leksikal (kamus), makna baku pacaran adalah bercintaan dengan kekasih-tetap. (Lihat “Definisi & Bentuk Nyata Pacaran Islami“.) Secara sosiologis, istilah pacaran islami merupakan istilah yang paling favorit untuk aktivitas persiapan nikah bagi mayoritas pembaca blogku.

Aku sudah sering menjelaskan mengapa pakai istilah pacaran islami. Diantaranya adalah supaya mereka yang menyukai istilah pacaran tidak malah lari ke model pacaran jahiliyah.

Adapun makna ta’aruf adalah perkenalan. Tidak ada kamus bahasa Arab yang menyebut bahwa ta’aruf adalah pendekatan sebelum nikah. Tidak ada pula kitab tafsir yang menyebutkannya begitu.

Pembatasan ta’aruf untuk pranikah saja justru merupakan bid’ah. (Lihat “Taaruf, sebuah istilah yang asal keren?” dan “Awas! Taaruf praNikah = Bid’ah Sesat!!!“)

Oh ya, aku adalah seorang penulis buku. Wajarlah bila kau pernah menjumpai namaku di toko buku.

10 thoughts on “Benarkah ta’aruf = pendekatan pranikah?

    Hamid assyifa said:
    20 Maret 2009 pukul 21:24

    Ohw. Penulis buku tah?? Ahlan wasahlan kang… Moga buku bukumu merupakan realisasi dakwah yg bener. Amin. Afwan saya bukan penggemar kutu buku. Tapi jika berkenan unt ku baca monggo monggo ja.

    Drs. H. H. Toms2, M.Si said:
    21 Maret 2009 pukul 14:39

    INFO IPDN Terbaru!!!

    Keberadaan Pakultas dan Jurusan (Manajemen dan Politik) di IPDN juga justru menambah buruk institusi. Hampir semua pekerjaan unit-unit, bagian dan bidang diambil alih atau kalo boleh menyebut DIRAMPOK oleh Pakultas. Banyak pegawai menganggur karena pekerjaan tersentralisasi pada Pakultas. Ironisnya, Pakultas tempat menampung para penjahat, buangan daerah, tidak kompeten.
    1. Menurut inpormasi. Pernah kejadian, anggaran praktek lapangan yang berada di bagian lain sebesar Rp. 1 milyar diminta oleh pakultas untuk pelaksanaan kegiatan PPL Muda Praja di Kabupaten Sukabumi. Padahal Bagian yang berwenang tsb katanya sudah ekspos di depan Bupati tinggal dilaksanakan, tapi karena diminta pakultas akhirnya bagian tsb mengalah.
    2. Banyak dosen dan pelatih tidak kebagian jatah mengajar dan melatih karena diambil oleh orang2 pakultas. Bayangkan dalam 1 semester, masing-masing dosen dan pelatih di pakultas mendapat jatah 9 kelas??
    Dimungkinkan ini terjadi karena orang2 pakultas tidak laku di luar atau mungkin takut kalah bersaing dengan kolega di unpad, unpas, uninus, unwim dsb (tidak usah menyebut ITB.. terlalu tinggi)!
    3. Dekan tidak pernah berkoordinasi dengan Purek I tapi justru potong kompas! Akibatnya, kurikulum tiap bulan berganti, mata kuliah aneh-aneh.
    4. Penghasilan orang2 pakultas jauh berada di atas orang2 unit2 lain.
    5. Mungkin pakultas overload pekerjaan, tapi coba tengok unit2 lain. Banyak pegawai yang datang hanya bengong… baca koran…. terus pulang.
    Bayangkan gimana seorang pegawai golongan 2 mau beli susu buat anaknya kalo gajinya kecil Cuma gara2 keberadaan pakultas!?? Kasian. Dholim bener.
    Ini menjadi kewajiban Rektor beserta para PR. Mampu tidak menyelesaikan permasalahan ini??
    Mudah2an jangan seperti Johanes Kaloh!
    Harus diakui…. IPDN pasca meninggalnya Cliff Muntu semakin buruk!!

    Tindakan yang perlu dilakukan :
    1. Hapus keberadaan Pakultas yang justru memperburuk citra IPDN. Tidak ada nilai tambah sama sekali karena justru menurunkan kualitas Praja.
    2. Ganti pejabat2 yang “money oriented” dengan individu2 yang kompeten. Kalau pimpinan mau, masih banyak kok org2 di IPDN yang baik2.
    Itu saja dulu…. Mampu gak rektor melakukan ini?????

    By toms2@radnet.id

      salman said:
      24 September 2009 pukul 21:17

      emang dulu ada2 ja masalah yang terjadi di dalam IPDN, mungkinkah kita akan dipimpin oleh atasan birokrasi sepertti itu yang bikin pusing rakyatnya

    Jefy said:
    28 Maret 2009 pukul 23:06

    Astagfirulloh, Mas…..
    Ciri muslim sejati adalah tidak ujub atau takabur. Tolong ya….. cara penyampaian mu itu lho, mas.
    Trus apakah anda sudah berkonsultasi dengan ustadz anda jika anda ingin mengorbitkan sebuah tulisan. Saya kira tulisan anda banyak yang keliru dan menyesatkan si pembaca. Mohon dikoreksi kembali ya…..

      M Shodiq Mustika responded:
      28 Maret 2009 pukul 23:22

      @ Jefy
      1) Aku belum mengerti cara penyampaianku yang manakah yang kau anggap takabur. Apakah paragraf terakhir? Itu merupakan jawabanku terhadap pandangan si penanya yang mengatakan “Ky’ny q g asing ma pmilik blog nie, p’nah liat nmany d tko bku”. Silakan sampaikan saran bagaimana seharusnya aku berkata-kata mengenai hal ini.
      Ataukah yang kau pandang takabur itu adalah kalimat “Aku sudah sering menjelaskan mengapa pakai istilah pacaran islami.”? Aku sendiri berpikiran: “Emangnya, menyatakan sudah sering menjelaskan itu tergolong merasa diri hebat?” Silakan sampaikan saran bagaimana seharusnya aku berkata-kata mengenai hal ini.
      2) Kalimatku yang mana sajakah yang keliru dan menyesatkan pembaca? Tunjukkanlah satu demi satu supaya aku dapat memperbaikinya. Kalau kau hanya berkata “tulisan anda banyak yang keliru dan menyesatkan si pembaca”, bagaimana aku bisa memperbaikinya?

    Tedi Trikoni said:
    21 April 2009 pukul 22:19

    Bismillah,
    ikut comment mas Shodiq,
    sebelumnya aQ baru register nich di WordPress, jadi masih sedikit gap tek.🙂

    mw coment trkait tulisan di atas.
    sepemahaman saya dalam kepercayaan saya Islam, ada batas pergaulan antara Ikhwan dan Akhwat (pria dan wanita). itu semua di atur dalam al quran.

    Seorang pria pantang untuk bergaul dengan wanita yang bukan mahramnya, bergaul disini pegangan tangan. (maaf kalo masih abstrak)

    nah pacaran itu membuka pintu untuk sepasang manusia untuk terjadi misal pelukan,pegangan tangan, dll. dan ini jelas tidak sesuai dengan tuntunan Islam karena pacar kita bukan mahram kita, kalo udah jadi istri baru boleh pegangan.

    ta’aruf = kenalan,
    maksudnya dalam persiapan menuju pernikahan adalah sebelum kita menikah kita tau dahulu calon pasangan kita, dan ada tuntunannya juga sesuai dengan printah Allah SWT dan Rasulnya.
    dan ta’aruf itu juga bukan pacaran. karena konotasi pacaran adalah menurut saya kita “ngetek seseorang” sebelum dinikahi.

    tapi dalam ta’aruf tidak ada istilah “tek mengetek”, ketika dalam peroses perkenalan ini kedua belah pihak merasa cocok langsung di rencanakan tahapan selanjutnya yaitu akad nikah, ketika tidak cocok ya tidak jadi.

    itu sedikit ilmu yag sya tau semoga bermanfaat.
    Wassalam

      M Shodiq Mustika responded:
      21 April 2009 pukul 22:45

      @ Tedi Trikoni
      Aku tak mengerti mengapa Tedi Trikoni berkomentar seperti itu. Apakah komentar tersebut hanya berdasarkan judul tanpa membaca lebih dahulu isi postingan di atas (beserta artekel terkait)? Kalau iya, harap baca lebih dulu, baru berkomentar!

    abu wildan said:
    7 September 2009 pukul 12:55

    Imam Ibnu Majah meriwayatkan di dalam Sunannya :

    حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ قُدَامَةَ الْجُمَحِيُّ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ أَبِي الْفُرَاتِ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

    Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata; Yazid bin Harun menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abdul Malik bin Qudamah al-Jumahi menuturkan kepada kami dari Ishaq bin Abil Farrat dari al-Maqburi dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).

    abu wildan said:
    7 September 2009 pukul 12:59

    Dilarang menyalin isi situs ini bila tanpa izin.

    yang mau nyalin sapa? Isinya saja gado2, merusak- menghancurkan sendi islam, Istighfar ya akhuna. Saya seorang uslim tidak ridho antum bawa-bawa agama islam untuk dirusak seperti yang antum inginkan.
    Semoga antum diberi hidayah….Allah!

    Duduklah bermajlis dengan asatidz, ulama, agar antum faham apa itu islam, baru bicara. Semoga antum sadar . . .

    iis yusripah said:
    12 Maret 2010 pukul 17:59

    sebelumnya q mohn maaf, pi kyanya bertentangan bagt ma pa yang udah q baca, yang namanya pacaran islami itu ga da, gimanapun juga kalo yang namanya pacaran,merupakan kegiatan yang mendeketai zina, walopun itu dilakukan cara dengan cara yang islami. tetapi islam tidak pernah mengajarkan yang sperti itu.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s