Monyet itu saudaraku; jangan pandang hina!

Posted on Updated on

Tak jarang aku merasa sedih di tengah-tengah kegembiraan orang-orang. Salah satunya adalah ketika menjumpai gurauan atau pun lawakan yang memandang hina seseorang yang wajahnya dianggap mirip monyet. Mereka tertawa-tawa, tetapi hatiku menangis. Hatiku pun menjerit. Aku marah, tetapi apalah dayaku selain menuangkannya lewat tulisan seperti ini?

Begini, kawan, tulisanku ini terinspirasi oleh suatu diskusi di situs shodiq.com ini pada beberapa hari belakangan ini, yaitu mengenai teori evolusi. Seorang pengunjung menyangka bahwa aku mendukung teori evolusi. (Padahal yang benar, aku bersikap netral.) Terhadap artikelku “Jangan percayai teori evolusi, tapi…“, ia berkomentar:

klo manusia, monyet, dan primata lainnya diturunkan dari nenek moyang yang sama berarti anda bersaudara dengan monyet dan primata lainnya..

Kuperhatikan, dia menggunakan kata “anda bersaudara dengan monyet”, bukan “kita bersaudara dengan monyet”. Aku tak tahu mengapa dia berkata begitu. Mudah-mudahan dia berkata begitu bukan karena menganggap monyet itu pasti lebih hina daripada manusia.

Terhadap komentar itu, aku sampaikan tanggapan sebagai berikut:

Aku bersaudara dengan debu. Sebab, kami sama-sama berasal dari tanah.
Aku tak tahu monyet itu berasal dari apa. Kalau berasal dari tanah juga, maka monyet pun saudaraku juga. (Kalau bukan dari tanah, lalu dari apa?) Bagaimanapun, aku tidak merasa lebih mulia daripada monyet, apalagi hanya karena asal-usulnya. Sebab, hanya iblis dan pengikutnya sajalah yang merasa lebih mulia daripada makhluk lain hanya karena asal-usulnya.

Kalau pun monyet itu bukan berasal dari tanah, aku pun masih menganggap mereka itu saudaraku, saudara sesama makhluk hidup di muka bumi. Namun, bukan sekadar rasa persaudaraan ini yang membuat hatiku terluka manakala orang-orang memandang hina monyet.

Bagiku, memandang hina monyet itu berarti memandang hina penciptanya. Demikian pula orang-orang yang menertawakan orang lain yang wajahnya dianggap mirip monyet. Mereka memandang hina Sang Maha Pencipta. Inilah yang membuat hatiku terluka. Tuhanku dipandang hina, bagaimana tidak sedih?

Demikianlah sedikit cerita dan curhat dariku. Kini sampailah kita pada penilaian, manakah yang lebih hina antara manusia dan monyet.

Marilah kita lakukan penilaian berdasarkan firman-firman Sang Maha Pencipta.

Mungkin ada banyak di antara kita yang telah membaca ayat ini:

Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam dan kami angkat mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rizki yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan. (QS al-Israa’ [17]: 70)

Mungkin dengan berdasarkan ayat tersebut, ada banyak orang yang merasa dirinya pasti lebih mulia daripada segala makhluk lain. Mereka kurang memperhatikan bahwa ada ayat-ayat lain seperti berikut ini:

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, [tetapi] kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya [yaitu neraka], kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh…. (QS at-Tiin [95]: 5-6)

Berdasarkan ayat itulah (dan beberapa ayat lain seperti QS 98: 6-7), aku menilai bahwa pada umumnya, manusia itu sesungguhnya lebih hina daripada monyet dan makhluk-makhluk lainnya, kecuali yang beriman dan beramal saleh.

Bagaimana dengan orang-orang yang memandang hina monyet? Apakah mereka tergolong beriman dan beramal saleh? Yang pasti, memandang hina itu tentulah bukan tergolong amal saleh. Sedangkan keimanannya pun patut diragukan karena mereka kurang mengimani ayat 95:5-6 (dan ayat-ayat lain yang senada dengan itu). Kalau begitu, bukankah mereka yang memandang hina monyet itu sebetulnya justru lebih hina daripada yang mereka pandang hina?

24 thoughts on “Monyet itu saudaraku; jangan pandang hina!

    etikush said:
    25 Maret 2009 pukul 08:43

    mereka bilang gw monyet
    monyet bilang gw mereka

    *gw gak baca artikelnya*

    Ohend said:
    27 Maret 2009 pukul 11:12

    Atas dasar apa anda brsedih? Apakah anda sdih thdp org yg bilang org lain mrip mnyet? Atau anda sdih trhap org yg d bilang sprt mnyet? Atau anda sdih trhadap mnyet? Klau jwbannya yg ke 2 brarti anda sndiri trmasuk jg menghinakan monyet.

      M Shodiq Mustika responded:
      27 Maret 2009 pukul 11:16

      @ Ohend
      Jawaban atas pertanyaanmu sudah terkandung dalam artikel di atas. Silakan baca kembali dengan lebih cermat.

    Herman S.Y said:
    3 April 2009 pukul 02:10

    Assalammu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

    klo manusia, monyet, dan primata lainnya diturunkan dari nenek moyang yang sama berarti anda bersaudara dengan monyet dan primata lainnya..

    Mungkin mksd “bersaudara” disini adalah dalam hal keturunan, jadi bukan dalam hal “bersaudara” yang berasal dari sesuatu (tanah).


    Trus ttg Firman Allah SWT dalam Al Quran:
    Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam dan kami angkat mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rizki yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan. (QS al-Israa’ [17]: 70)”

    Mungkin dengan berdasarkan ayat tersebut, ada banyak orang yang merasa dirinya pasti lebih mulia daripada segala makhluk lain.

    Hmmm… rupa/wajah monyet, bagi para manusia (khususnya di indonesia) adalah merupakan suatu “ejekan”, coz hal tsb sudah menyatu semenjak kita kecil (entah darimana pertamanya berasal), tetapi kalau cenderung untuk “menghina”, itu tergantung dari niat si orangnya.

    Mungkin “menghina” disini bukan mengambil alasan “bahwa manusia merupakan mahkluk mulia di bandingkan dengan mahkluk yg lain”, tetapi, “menghina” disini yg berhubungan dengan rupa/wajah daripada monyet tsb. (jd bertujuan untuk mengejek, kalau menghina, itu tegantung dari niatnya saja)..😉

    Nah,sekarang saya ingin menanyakan ttg Firman Allah SWT:
    [Maaf sebelumnya, saya bukanlah seorang kyai/ustadz, saya mencoba ingin mengklarifikasi. Mohon koreksinya. ;-)]

    “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, [tetapi] kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya [yaitu neraka], kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh…. (QS at-Tiin [95]: 5-6)”

    Berdasarkan ayat itulah (dan beberapa ayat lain seperti QS 98: 6-7), aku menilai bahwa pada umumnya, manusia itu sesungguhnya lebih hina daripada monyet dan makhluk-makhluk lainnya, kecuali yang beriman dan beramal saleh.

    Ehm.. saya malah bingung, kok bisa sih menilai bahwa “manusia lebih hina daripada monyet dan mahkluk-mahkluk lainnya, kecuali yg beriman dan beramal saleh“…???

    Jadi, kalau saya menilai dari kalimat tsb bahwa “manusia memang lebih hina daripada monyet kalau tidak beriman dan beramal saleh”.
    Nah, yg beriman dan beramal saleh sudah pasti ngga hina.

    Hmm kalau saya meneliti arti dari Surat At Tiin (Buah Tiin):

    Bismillahirrahmanirrahim.
    “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

    MANUSIA DICIPTAKAN DALAM BENTUK YANG SEBAIK-BAIKNYA

    1. Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,
    “Yang dimaksud dengan Tin oleh sebagian ahli Tafsir ialah tempat tinggal Nabi Nuh, yaitu Damaskus yang banyak pohon Tin; dan Zaitun ialah Baitul Maqdis yang banyak tumbuh Zaitun. ”
    2. dan demi bukit Sinai,
    “Bukit Sinai yaitu tempat Nabi Musa a.s. menerima wahyu dari Tuhannya.”
    3. dan demi kota (Mekah) ini yang aman,
    4. sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
    5. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),

    YANG MENJADI POKOK KEMULIAAN MANUSIA ADALAH IMAN DAN AMALNYA
    6. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
    7. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?
    8. Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?

    Pokok-pokok isinya:
    Manusia makhluk yang terbaik rohaniah dan jasmaniah, tetapi mereka akan dijadikan orang yang amat rendah jika tidak beriman dan beramal saleh; Allah adalah Hakim Yang Maha Adil

    Kemudian Surat Al Bayyinah (98:6 – 7)
    6. Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.
    7. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.

    Jadi, apakah ada hubungannya antara keterangan “manusia lebih hina daripada monyet kalau tidak beriman dan beramal saleh” dengan Firman dari surat At Tiin dan Al Bayyinah “Yang menerangkan mereka (manusia) yg hina adalah manusia yang tidak beriman dan beramal saleh (orang2 kafir – ahli kitab dan orang2 musyrik)?

    Mohon penjelasan dan koreksinya Mas…😉

    Walaikum salam warahmatullahi wabarakatuh…

      M Shodiq Mustika responded:
      3 April 2009 pukul 04:34

      @ Herman S.Y
      Wa’alaykumussalaam warahmatullaah wabarakaatuh

      1. Aku menggunakan sudut pandang biologis. Menurut biologi, yang dimaksud dengan “keturunan” hasil reproduksi bukanlah sekadar hasil perkawinan antara jantan (pria) dan betina (wanita). Proses reproduksi itu bisa melalui berbagai jalan, termasuk melalui pembelahan sel dan bahkan mutasi sel. Jadi, secara biologis, “bersaudara” melalui keturunan atau pun asal-usul itu sama saja.

      2. Memang, menghina itu bisa saja lantaran “buruknya” rupa belaka, tetapi ada pula penghinaan lantaran asal-usul. Benar, semuanya tergantung pada niat masing-masing.

      3. Untuk memahami ayat “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ….”, perhatikanlah penggunaan kata “kemudian” dan “kecuali”. Kata “kecuali” menunjukkan pengecualian terhadap kalimat berikutnya dan sekaligus penekanan terhadap kalimat sebelumnya. Jadi, “Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya” itu lebih ditekankan.

      Sedangkan kata “kemudian” menunjukkan hakikat. Sebab, dalam perspektif Al-Qur’an, yang akhir itu lebih dipentingkan daripada yang awal. Jadi, jika ada perbedaan antara awal dan akhir, maka yang hakiki adalah yang akhir. Contoh: Jika seseorang sejak aqil balig hingga menjelang mati berada dalam keadaan islam, tetapi dia mati dalam keadaan kafir, maka pada hakikatnya dia adalah kafir, bukan muslim. Secara demikian, kita pahami bahwa meskipun pada mulanya manusia itu makhluk terbaik, namun pada hakikatnya, manusia itu seburuk-buruk makhluk (kecuali yang beriman dan beramal saleh).

      Dengan demikian, kesimpulanmu itu (yang kau sebut sebagai “pokok-pokok isinya”) belum tepat. Pada ungkapan “Manusia makhluk yang terbaik rohaniah dan jasmaniah”, kekeliruannya adalah menghilangkan dimensi waktu. Seolah-olah, manusia itu terbaik selamanya. Padahal, yang ditunjukkan dalam ayat tersebut hanyalah “pada [awal] penciptaannya”. Selanjutnya, pada ungkapan “tetapi mereka akan dijadikan orang yang amat rendah”, kekeliruannya adalah mengganti kata “kemudian” dengan kata “tetapi” dan mengganti kata “makhluk” menjadi kata “orang”. Berikutnya, pada ungkapan “jika tidak beriman dan beramal saleh”, letak kekeliruannya adalah mengganti kata “kecuali” dengan kata “jika tidak”, sehingga penekanan pada kalimat pendahulunya (yakni seburuk-buruk makhluk) menjadi hilang.

      Mudah-mudahan penjelasanku ini sudah cukup jelas bagi Mas Herman dan para pembaca lainnya.

    gW giTu said:
    3 April 2009 pukul 09:56

    yG jeLas NaBi aDaM iTulah org pertama yg berada d muka bumi ini…

    bUkanx MONYET….!!!!!!

    aNeh MeMaNg……@#$#%&^*(?????????

      artificial left eye said:
      17 Agustus 2010 pukul 09:24

      @ gW giTu

      Makhluk pertama di bumi ini adalah manu tetapi karena jenis manu terlalu pintar sehingga diciptakanlah adam dan hawa. Makhluk pertama di bumi ini adalah manu sesuai dengan 7000 ramalan vanga vangelia pandeva sedangkan adam dan hawa adalah manusia alias keturunan manu.

    Ari said:
    6 April 2009 pukul 10:38

    mas gmna klo seseorang sering membeda-bedakan sesamanya menurut wajahnya…(“menghina karena mungkin dia lebih gagah dari pada dirinya”)….
    makasih sebelumnya..

    YANA said:
    9 April 2009 pukul 20:13

    assalam,,,, wr. wb…
    ijin rembug,,, ya,,, oh ya yg d katakan mas Shodiq itu analisa yg benar secara syareat dan hakikat,,, karena uraian d ats adlh mnjlaskan sareat dan hakikat asal mahkluk yg berasal dr sumber yg sama Tuhan YME,,,,, nmun yg jd pembeda adalah akal pikirnya,,,sbgai tolak ukur lebih mulia d antara smua mahluk d bumi ini,,,

    Ternyata Alya Rohali mirip Tukul Arwana : BELAJAR said:
    13 April 2009 pukul 21:59

    […] mirip banget, ‘kan? Nggak usah heran deh. Jangankan dengan sesama manusia, lha wong dengan monyet pun manusia itu mirip juga, ‘kan? Jangankan dengan monyet, dengan babi pun manusia itu juga mirip, ‘kan? Kalau gak […]

    […] ini untuk melengkapi pembahasan artikelku, “Jangan percayai teori evolusi, tapi…“ dan “Monyet itu saudaraku; jangan pandang hina!” SUARA MUHAMMADIYAH WAWASAN ISLAM BY AT 12 FEBRUARY, 2009, 3:13 […]

    Rino Sukmandityo said:
    3 Juni 2009 pukul 18:16

    Apakah monyet itu hina…
    Apakah monyet dan kera berbeda??
    Silakan baca :
    1. Al Baqarah 65
    2. An Nisaa’ 155
    3. Al Maa’idah 60
    4. Al A’raaf 166

    semoga Anda tidak bersikap netral lagi terhadap teori darwin…
    Ingatlah Ghazwul Fikr

    Arie said:
    26 Juni 2009 pukul 15:11

    Perlu diketahui bahwa Teori Evolusi itu sampai sekarang blm ada yg bisa membuktikannya makanya menggunakan kata “Teori”…krn memang hanya sekedar Teori.

    Arie said:
    26 Juni 2009 pukul 15:14

    Tambahan mas, Teori Evolusi inilah yg menjadi landasan sodara2 kita yg Atheis…meraka tidak menganggap Tuhan itu ada, dan semua apa yg ada saat ini adalah memang berasal dari alam dan memang alam yg merubah / berevolusi….

      artificial left eye said:
      17 Agustus 2010 pukul 09:39

      @ Arie

      Siapa yang bilang atheis tidak menganggap Tuhan itu ada??
      semua atheis menganggap Tuhan itu ada karena menurut atheis bahwa Tuhan berasal dari manusia tapi anda menganggap Tuhan itu bukan manusia karena anda sudah tertipu oleh grey alien yang tidak mengakui berasal dari manusia.
      Akan ada saatnya dimana grey alien akan mengakui perbuatannya karena grey alien sudah menganggap manusia bagai hewan.

    konying said:
    10 September 2009 pukul 15:22

    Bagaimanapun, aku tidak merasa lebih mulia daripada monyet, apalagi hanya karena asal-usulnya. Sebab, hanya iblis dan pengikutnya sajalah yang merasa lebih mulia daripada makhluk lain hanya karena asal-usulnya.

    Pengertian tidak merasa lebih mulia nggak diartikan sama kan? Kalau sama kan berarti pakai aturan monyet juga.
    Manusia jelas lebih sempurna dari monyet, sedangkan iblis hanya perasaannya saja yang lebih hebat dari manusia. Ketika ditest ternyata iblis kalah pintar dari Adam, jadi perasaannya yang merasa lebih hebat salah besar! Sedangkan manusia jelas lebih hebat dari monyet (kehebatan yang harus disyukuri dan dinikmati), jika merasa tidak lebih hebat apa mau dikatakan sama saja

    […] ini untuk melengkapi pembahasan artikelku, “Jangan percayai teori evolusi, tapi…“ dan “Monyet itu saudaraku; jangan pandang hina!” SUARA MUHAMMADIYAH WAWASAN ISLAM BY AT 12 FEBRUARY, 2009, 3:13 […]

    frei said:
    16 Agustus 2010 pukul 23:29

    no koment…
    because i headche

    frei said:
    16 Agustus 2010 pukul 23:31

    no koment..

    ADAM SEBAGAI MANUSIA PERTAMA « kumbarkoe said:
    6 Desember 2010 pukul 14:18

    […] Demikianlah kesimpulanku dari artikel Yusef Rafiqi, “Diskontinuitas Tafsir Penciptaan Adam” (Suara Muhammadiyah, 12 Februari 2009). Yusef Rafiqi itu ialah dosen di Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Siliwangi Tasikmalaya; dan pengasuh Pondok Pesantren (PP) at-Tajdid Muhammadiyah, Singaparna, Tasikmalaya. Artikel tersebut aku kutipkan di bawah ini untuk melengkapi pembahasan artikelku, “Jangan percayai teori evolusi, tapi…“ dan “Monyet itu saudaraku; jangan pandang hina!“ […]

    Namqul asik said:
    14 Juni 2011 pukul 02:08

    Yang pasti monyet itu lucu. Aku senang jika memeliharanya. Maka jika ada orang yg diejek mirip monyet maka aku menganggap orang itu lucu dan aku senang berteman dengannya.. hehe

    wiropendekarmuslim said:
    22 September 2012 pukul 11:15

    Kalo menurut aku,Admin nya inilah yg berotak MONYET😛
    Wkwkwkwk
    Bahas ayat cuma dr terjemahan ya begini jadinya,persisi bloon nya kayak MONYET😀
    Ha haaaaaa blog SAMPAH dan MENYESATKAN!

    […] Demikianlah kesimpulanku dari artikel Yusef Rafiqi, “Diskontinuitas Tafsir Penciptaan Adam” (Suara Muhammadiyah, 12 Februari 2009). Yusef Rafiqi itu ialah dosen di Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Siliwangi Tasikmalaya; dan pengasuh Pondok Pesantren (PP) at-Tajdid Muhammadiyah, Singaparna, Tasikmalaya. Artikel tersebut aku kutipkan di bawah ini untuk melengkapi pembahasan artikelku, “Jangan percayai teori evolusi, tapi…“ dan “Monyet itu saudaraku; jangan pandang hina!“ […]

    Bambang Nugroho said:
    6 April 2014 pukul 08:47

    Maaf, kenapa dalam tulisan ini Saudara menyamakan antara MONYET dan KERA? Saudara belajar biologi dari mana? MONYET itu bahasa Inggrisnya MONKEY termasuk, sedangkan KERA itu APE. Beda banget!
    Walaupun sama-sama termasuk ke dalam keluarga Primata, monyet dan kera memiliki perbedaan. Jutaan tahun yang lalu, nenek moyang kedua jenis hewan ini identik, namun evolusi yang berlangsung jutaan tahun telah menimbulkan pemisahan. Monyet dan kera terpisah, baik secara fisik maupun secara evolusioner, dengan faktor-faktor pembeda yang tampak jelas di antara keduanya.

    Primata dibagi menjadi dua kelompok yaitu prosimian dan antropoid. Kelompok prosimian, yang dianggap sebagai kelompok yang lebih primitif, terdiri dari lemur dan tarsier. Sementara antropoid dibagi lagi menjadi tiga kelompok, yakni monyet, kera, dan hominid, termasuk manusia.

    Subkelompok monyet berisi lebih dari 200 spesies monyet yang berbeda, termasuk di antaranya adalah baboon, tamarin, macaques, dan capuchins. Monyet juga dibagi berdasarkan kelompok geografis dimana Monyet Dunia Lama hidup di Afrika dan Asia dan Monyet Dunia Baru hidup di Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Kera juga dikelompok-kelompokkan, hanya saja pembagiannya didasarkan pada ukuran mereka. Gorila, simpanse, bonobos, dan orangutan disebut “kera besar” karena ukuran tubuh mereka yang besar, sedangkan gibbon dan siamang seringkali disebut sebagai “kera kecil”.

    Meski monyet dan kera memiliki beberapa tampilan fisik yang sama (semisal mata yang menghadap ke depan dan lengan yang fleksibel), ada beberapa perbedaan fisik di antara kedua kelompok ini. Tidak seperti monyet, tidak ada satu pun dari spesies kera yang memiliki ekor. Monyet lebih banyak hidup di pepohonan dibandingkan kera dan mereka menggunakan ekor mereka layaknya tangan kelima. Selain itu, monyet tidak memiliki kemampuan menggunakan tangan mereka untuk berayun di dahan-dahan seperti yang dilakukan kera. Adanya ekor membuat para monyet lebih cocok tinggal di puncak-puncak pohon, sedangkan kera tampaknya berkembang agar bisa hidup secara nyaman di atas tanah atau di bagian pohon yang lebih rendah.

    Kecuali gibbon, ukuran kera umumnya lebih besar dibanding monyet. Kera memiliki punggung yang lebar dan tangan yang lebih panjang dibandingkan kaki mereka. Sebagian besar monyet tampaknya memiliki dada yang lebih panjang, bukan lebih lebar, dan memiliki panjang lengan yang sama atau lebih pendek dari kaki mereka.

    Perbedaan terbesar di antara monyet dan kera diyakini terletak pada tingkat kecerdasan mereka. Monyet lebih mirip dengan promisian primitif dalam hal kapasitas dan kemampuan otak mereka. Kera lebih mendekati kerabatnya yaitu manusia, mereka mampu mempelajari bentuk-bentuk bahasa isyarat, menggunakan peralatan, dan memperlihatkan adanya kemampuan memecahkan masalah. Diyakini bahwa kera, khususnya simpanse, gorila, dan orangutan, lebih banyak miripnya dengan manusia dibandingkan dengan monyet. Beberapa spesies kera memiliki kemiripan genetika hingga 98% dengan manusia, sementara monyet kurang dari itu.

    Monyet dan kera jelas berbeda, meskipun dalam peristilahan yang umum kedua kata tersebut sering dipertukarkan. Kendatipun berlainan, salah satu kesamaan di antara monyet dan kera adalah tingginya ancaman kepunahan bagi mereka. Kedua jenis binatang ini telah bertahan hidup selama jutaan tahun melalui ancaman yang besar terhadap lingkungan mereka. Jika Anda ingin membantu melindungi monyet dan kera, hubungilah lembaga konservasi yang bisa dipercaya dan tanyakan usaha mereka dalam mencegah ancaman terhadap kedua mahluk tersebut.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s