Konsultasi: Curiga Si Dia Selingkuh

Posted on Updated on

saya muslimah, telah menikah 2 th. Ayah saya hobi sekali selingkuh. Ini memberi trauma pada saya. Serasa paranoid, hari2 saya dipenuhi ketakutan … kapan suami selingkuh… kapan suami meninggalkan saya… apa saya bisa mendapatkan hak asuh anak saya jika kami bercerai… dll. Saya menyukai pribadi suami yang sederhana dan polos sebelum menikah. Alhamdulillah, suami diberi pekerjaan yang mapan. Tapi di sisi lain, suami saya sering menceritakan teman2nya yg satu profesi, “kebanyakan duit… lalu selingkuh kanan kiri. Suami jg mulai berubah, dr gaya, pandangan ttg uang (dulu org yg selalu menghargAi uang, skrg meremehkan uang, spt kata2… “cuma 100rb…”), yg dilihat dr wanita hanya tubuh+kecantikannya (dan suami terang2an berkomentar didpn saya)…Saya pernah bertengkar krn berbeda pendapat, suami saya mengatakan mendukung temannya yg menikahi pelacur u/ mengentaskan dr lembah hitam. Jadi saling menguntungkan, pelacur butuh uang, n laki2 butuh … saya miris n sakit hati sekali atas pemikirannya itu dan semakin ketakutan, Rasanya saya terbeban sekali… apalagi, terus terang, iman suami saya dibawah standard, tidak bisa mengaji (dan tidak berminat belajar mengaji), menghindari acara2 yg berbau islami, dll. Apa benar pemikiran saya bahwa saya harus bekerja (saya belum bekerja lg setelah melahirkan), karena ibu yg bekerja punya nilai plus u/ mendapat hak asuh jika kami bercerai? InsyaAllah, sampai sekarang, suami saya masih setia, cuma komentar2nya ttg wanita saja yg memanaskan telinga. mohon bantuannya… apa saya yg terlalu sensitif…

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Saya bisa merasakan apa yang Ibu rasakan. Saya rasa, Ibu tidak terlalu sensitif. Dengan trauma masa kecil seperti itu, tidaklah mengherankan bila Ibu bersikap seperti itu. Tentu saja, karena hal itu menggangu kehidupan Ibu, Ibu perlu mengatasinya.

Besar kemungkinan, suami Ibu tidak banyak berubah. Mungkin “masalahnya”, ada perbedaan sudut pandang antara wanita pada umumnya (termasuk Ibu) dan pria pada umumnya (termasuk suami Ibu).

Perhitungan matematis, lebih menaruh perhatian pada benda daripada segi-segi kemanusiaan orang lain, dan sebagainya, merupakan bagian dari ciri khas lelaki pada umumnya. Itu tidak selalu menunjukkan kurangnya penghargaan pria terhadap perempuan.

Mungkin saja bahwa di balik kata-kata dia (yang menurut Ibu itu merendahkan wanita) terkandung makna bahwa dia mempunyai kebutuhan untuk lebih dihargai dan dipercaya. Bila kebutuhan seperti ini sudah cukup terpenuhi dari istri tercinta, insya’Allah dia takkan tergoda untuk ikut-ikutan selingkuh.

Sampai sekarang toh suami masih baik-baik saja kan bu?! Nah, berpikiran positif sajalah, lalu tunjukkanlah penghargaan Ibu kepada suami. Misalnya, ketika suami bercerita tentang teman-temannya yang selingkuh, Ibu bisa berkomentar: “Wah, kalo gitu, Mas hebat, dong, nggak ikut-ikutan selingkuh kayak mereka. Padahal, wanita cantik di luar sana yang mau jadi selingkuhan Mas itu banyak, ‘kan?” Terus, bila dia tampak senang karena dihargai, Ibu dapat segera mengajukan pertanyaan secara santai, tetapi isinya serius, seperti: “Eh, Mas takkan selingkuh, ‘kan?” seraya tersenyum semanis-manisnya dan tatapan yang semesra-mesranya.

Seandainya di hati Ibu masih ada rasa curiga kalau-kalau suami Ibu akan berselingkuh, tidak ada salahnya Ibu mempersiapkan diri kalau-kalau terjadi perceraian. Namun, ini hanya untuk jaga-jaga, bukan untuk memastikan bahwa Ibu akan bercerai. Ibaratnya, kita menyediakan obat-obatan di kotak P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan) supaya bila jatuh sakit, kita takkan kebingungan mencari obatnya. Bukankah dengan menyediakan obat-obatan itu, kita tidak sengaja mencari penyakit?

Sementara itu, curahkanlah perasaan dan perhatian yang lebih besar kepada anak-anak. Insya’Allah penerimaan anak-anak terhadap perhatian dari Ibu itu akan membuat Ibu menjadi lebih kuat.

Yang penting, kuatkanlah mental ibu dengan lebih bertawakkal kepada Sang Mahakuasa. Untuk itu, Ibu bisa membaca doa/zikir yang relevan, seperti yang saya paparkan di buku Doa & Zikir Cinta. Kalau pun apa yang ibu khawatirkan terjadi, kembalikan semua itu kepada Allah. Bukankah ibu lebih bisa memahami agama daripada suami?

Selain itu, galilah potensi-potensi ibu, belajar apa saja yang bisa mengusir pikiran buruk dan menambah manfaat bagi ibu sendiri sembari mendidik anak-anak. Bekerja merupakan langkah yang bagus meskipun suami telah memberi nafkah yang lebih dari cukup. Hanya saja, niat utamanya sebaiknya bukanlah untuk berjaga-jaga kalau-kalau terjadi perceraian, melainkan untuk memperbanyak amal kita sebagai bekal untuk kehidupan kita kelak di akhirat.

Dari suami, Ibu tak perlu terlalu berharap banyak. Suami masih memberi perhatian pada keluarga itu sudah Alhamdulillah. Keimanan seseorang tidak diukur dengan bisa mengaji atau ke sana-sini pergi pengajian. Hanya Allah Yang Maha Tahu isi hati seseorang.

Demikianlah masukan dari saya. Semoga Allah Sang Maha Penyayang senantiasa melimpahkan kasih-sayang-Nya kepada Ibu sekeluarga. Aamiin.

4 thoughts on “Konsultasi: Curiga Si Dia Selingkuh

    Intan said:
    8 Juli 2009 pukul 01:59

    Jika aq ingn mlht
    sese0rg cw0k y6
    dgn cpt brbh
    apa dia msh
    mcntai kt atau
    tdk sama skl..
    Cara’a bgmn..
    Aq pgn tau
    apakh dia msh menctaiku..

      dian rezky tira said:
      14 November 2009 pukul 08:34

      itu juga yang mau saya tanyakan………….

    Fiah said:
    27 Oktober 2009 pukul 14:32

    Hay, aku seorang ibu rumh tngga aku ingn brtany soal suami saya, knp yah akhir2 ini dia tampk brubh krn kurng care nya itu, apkah dia slingkuh? Tp alhamdullih smpai saat ni sy tdk pernh bertngkr maslh permpuan tp kecurgaan saya yg terll besr terhdap suami sy n kurangnya kpercyan.

    imma said:
    15 Juli 2010 pukul 13:57

    aq mau tanya, gimana ya biar pasangan aq ga curiga sama aq terus ? aq kadang suka merasa cape dengan sikapnya, berapa kali di jelasin tetap aja ga percaya, tolong bantu aq ya…….
    makasih,,,

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s