Adam Bukan Manusia Pertama (menurut Suara Muhammadiyah)

Posted on Updated on

Di dalam Al-Qur’an, manusia pertama tidak diungkap secara gamblang (eksplisit). Namun yang pasti, Adam bukanlah khalifah yang pertama dan bukan pula manusia pertama yang diciptakan Allah. Khalifah sebelum Adam adalah khalifah dari golongan manusia juga. Ada banyak “Adam-Adam” lain yang sebelumnya diciptakan Allah dengan fungsi yang sama, tetapi dengan sifat yang berbeda, yaitu perusak (destruktif). Allah mengganti khalifah perusak yang tanpa tatanan hukum Allah itu dengan khalifah baru yang bernama Adam dan anak keturunannya yang berlandaskan tatanan hukum Allah. Selanjutnya, proses pembelajaran untuk khalifah baru ini segera dilakukan. Dengan apa? Dengan perangkat nalar (rasional). Dengan kata lain, Adam-lah manusia rasional yang pertama.

Demikianlah kesimpulanku dari artikel Yusef Rafiqi, “Diskontinuitas Tafsir Penciptaan Adam” (Suara Muhammadiyah, 12 Februari 2009). Yusef Rafiqi itu ialah dosen di Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Siliwangi Tasikmalaya; dan pengasuh Pondok Pesantren (PP) at-Tajdid Muhammadiyah, Singaparna, Tasikmalaya. Artikel tersebut aku kutipkan di bawah ini untuk melengkapi pembahasan artikelku, “Jangan percayai teori evolusi, tapi…“ dan “Monyet itu saudaraku; jangan pandang hina!

SUARA MUHAMMADIYAH
WAWASAN ISLAM
BY AT 12 FEBRUARY, 2009, 3:13 AM

Diskontinuitas Tafsir Penciptaan Adam

Yusef Rafiqi
Alumnus Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut (Angkatan IX); sekarang Dosen di FAI Universitas Siliwangi Tasikmalaya; dan pengasuh PP at-Tajdid Muhammadiyah, Singaparna, Tasikmalaya.

Dalam teori evolusi dinyatakan bahwa manusia digolongkan ke dalam ordo primata, hominidae (manusia kera; kera berjalan tegak). Para pendukung teori ini menyatakan bahwa yang dianggap sebagai moyang manusia adalah yang termasuk ke dalam genus Australopithecus, yang lebih cocok disebut “manusia kera” daripada “manusia” pada umumnya. Kemudian genus ini berturut-turut mengalami evolusi pada Australopithecus Afarensis, dan berkembang menjadi Australopithecus Africanus yang pada giliran selanjutnya berkembang menjadi Australopithecus Robustus.

Transisi dari genus ini adalah Homo Habilis dan Homo Erectus yang menandai munculnya “manusia sebenarnya” atau genus Homo. Menjelang munculnya manusia modern atau genus Homo Sapiens, para ahli menemukan satu “makhluk” yang disebut Homo Neanderthalensis. Diperkirakan mereka berkembang sekitar 110.000 tahun dari sekarang sampai munculnya manusia modern atau manusia kontemporer yang disebut sebagai Homo Sapiens sekitar 35.000 tahun sebelum sekarang.

Di dalam Al-Qur’an manusia pertama memang tidak diungkap secara eksplisit. Tampaknya, mengurai asal-usul manusia pertama bukanlah tema substantif al-Qur’an. Penulis sendiri tidak hendak menguraikan proses penciptaan manusia dari sudut pandang biologis yang terdiri dari rangkaian ekstrak atau saripati dan beragam unsur-unsurnya, tetapi dalam tulisan ini yang dibahas adalah substansi penciptaan Adam sebagai seorang khalifah dan kaitannya dengan peradaban manusia.

Adam sebagai Khalifah

Substansi dari dialog dengan malaikat (Q.s. al-Baqarah: 30-31 ) adalah penegasan bahwa sesungguhnya Allah sebagai Pencipta atau Penjadi khalifah di muka bumi ini. Kata “jaa`ilun” sebagai konstruksi isim fa`il yang berarti subyek pelaku dalam frasa Innii jaa’ilun fi al-ardhi khaliifah tidak harus diartikan “hendak menjadikan khalifah di muka bumi”. Seandainya arti ini yang dipahami, maka tidak ada khalifah sebelum Adam. Konseksuensi logisnya, Adam adalah manusia pertama.

Seandainya frasa tersebut dikembalikan pada makna asalnya sebagai isim fa‘il, maka hal itu mengisyaratkan bahwa Allah—sebelum atau sesudah terjadinya dialog dengan malaikat sebagaimana yang termaktub dalam ayat tersebut—selalu menjadikan khalifah di muka bumi. Dengan demikian, Adam bukanlah khalifah yang pertama dan bukan pula manusia yang pertama yang diciptakan Allah.

Kemudian, ayat-ayat tersebut memunculkan wacana bahwa seolah-olah malaikat mempunyai pengalaman mengamat-amati sepak terjang sang khalifah. Tampaknya malaikat khawatir akan masa depan khalifah baru yang bernama Adam itu, seandainya perilaku destruktif akan menghancurkan tatanan taqdis dan tasbih malaikat. Kita hanya bisa menduga-duga kategori khalifah yang seperti apakah yang telah (dan akan) melakukan perbuatan tercela itu. Tidak ada keterangan yang jelas perihal khalifah versi malaikat yang dimaksud. Al-Qur’an dalam Q.s. Shaad: 67-73 dengan tegas menyatakan untuk tidak memperpanjang bantah-bantahan ini.

Ada riwayat yang mengasumsikan bahwa iblis atau jin sebagai khalifah sebelum Adam. Qatadah, Ibnu Umar dan Ibnu Abbas menduga, bahwa khalifah yang dimaksud adalah khalifah dari golongan jin yang diduga berbuat kerusakan. Asumsi ini berdasarkan analisis ayat yang menerangkan bahwa jauh sebelum manusia diciptakan, Allah telah menciptakan jin (Ibn-Katsir, Qishashul Anbiya’, hlm. 2).

Benar bahwa jin (dan malaikat) diciptakan sebelum Adam berdasarkan Q.s. al-Hijr: 26-27, namun apakah mereka—khususnya para jin—berperan sebagai khalifah di muka bumi? Pendapat para sahabat tersebut tampaknya hanyalah praduga saja. Lagi pula tidaklah mungkin bumi yang kasat mata ini diwariskan kepada para jin yang tidak kasat mata. Bentuk pengelolaan semacam apakah seandainya para jin yang berfungsi sebagai khalifah di muka bumi ini.

Khalifah sebelum Adam dan khalifah yang hendak diciptakan Allah ini adalah khalifah yang benar-benar berasal dari golongan manusia. Perhatikan ayat berikut ini: Dan Dialah yang telah menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian yang lain beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat ‘iqab-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang. (Q.s. al-An’am: 165).

Ayat tersebut kembali menegaskan bahwa sesungguhnya Allah adalah pencipta para khalifah di muka bumi ini. Kata ganti orang kedua (dhamir mukhatab) pada ja’alakum merujuk pada seluruh umat manusia. Menilik pada keumuman lafadz ini, apabila dikaitkan dengan pertanyaan malaikat tentang penciptaan khalifah, maka khalifah sebelum Adam adalah khalifah dari golongan manusia juga. Ada banyak “Adam-Adam” lain yang sebelumnya diciptakan Allah dengan fungsi yang sama namun dengan karakter yang berbeda; destruktif.

Adam dan Instalasi al-Asma’

Dengan mengorelasikan fakta-fakta arkeologis tentang ragam manusia sebelum Homo Sapiens, tampaknya selaras dengan karakter “destruktif” sebagai yang digambarkan malaikat. Namun, bukankah karakter hominid memang demikian? Manusia-manusia tersebut mempunyai struktur fisik yang hampir mirip manusia (kalau tidak ingin dikatakan hampir mirip kera). Mereka tercipta dengan volume otak yang kecil yang dengan sendirinya perilakunya pun cenderung tanpa tatanan manusiawi atau bersifat kebinatangan. Mereka tidak layak disebut sebagai khalifah. Sementara itu, khalifah mempunyai kedudukan yang terhormat sebagai “duta” Allah untuk mengelola bumi ini.

Di sinilah letak diskontinuitas itu. Ternyata, kita tidak bisa mengorelasikan fakta sejarah manusia (asal mula manusia menurut para penganut evolusionisme) dengan asal-usul Adam. Ada banyak keterserakan, sebagaimana yang dideskripsikan Michel Foucault, diskontinuitas dipahami sebagai terserak dan berkecambahnya sejarah ide-ide dan munculnya periode-periode yang begitu panjang dalam sejarah itu sendiri. Dalam pengertian tradisional, sejarah semata-mata selalu tertuju pada keinginan untuk menentukan relasi-relasi kausalitas, determinasi sirkular, antagonisme dan relasi ekspresi antara berbagai fakta dan kejadian yang terekam oleh manusia (The Archeology of Knowledge, hlm. 10).

Keterserakan ini yang menyangkut relasi-relasi kausalitas, determinasi sirkular, antagonisme dan relasi ekspresi antara berbagai fakta dan kejadian yang terekam oleh manusia. Celakanya, kita menganggap bahwa data-data historis tentang bapak manusia itu dirasa cukup hanya dengan ditafsirkan oleh data-data hadits yang sangat dipengaruhi oleh kisah-kisah israiliyat (Bible). Seandainya kita hendak meneliti sejarah penciptaan ini, meminimalisasi diskontinuitas dengan “comot sana comot sini” dari data-data Biblikal bukanlah semangat Qur’anik. Bukankah sejak awal al-Qur’an diturunkan untuk menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya?

Dengan meneliti ayat “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya, Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (Q.s. al-Baqarah: 37), suksesi khalifah yang tidak berdasarkan kalimah Allah ke yang berdasarkan kalimah Allah barangkali yang paling mendekati untuk mereka-reka praduga ini. Allah hendak mengganti khalifah yang berperilaku destruktif yang tidak berdasarkan pada hukum-hukum Allah dengan khalifah berperadaban yang berdasarkan pada hukum-hukum Allah. Jadi, tegaslah bahwa para hominid itu bukan khalifah.

Namun yang pasti, Adam bukanlah manusia pertama. Tampaknya Q.s. al-Baqarah: 30 menghendaki bahwa penciptaan khalifah berikutnya adalah untuk mereformasi dan merehabilitasi “Adam-Adam” sebelumnya. Dengan kata lain, Allah hendak mengganti khalifah perusak yang tanpa tatanan hukum Allah itu dengan khalifah baru yang bernama Adam dan anak keturunannya kelak yang berlandaskan tatanan hukum Allah.

Selanjutnya, proses pembelajaran untuk khalifah baru ini segera dilakukan. Instalasi ini adalah pembekalan pada diri Adam yang berupa persiapan diri untuk menerima seluruh identifikasi nama-nama, al-asma’ kullaha. Kalimat kullaha adalah penguatan (taukid) bahwa pengajaran al-asma meliputi seluruh nama-nama atau identitas (al-musammiyaat) benda-benda (Tafsir Zamakhsyari, Juz I, hlm. 30).

Sementara itu, Imam al-Qurthuby menitikberatkan bahwa proses pengajaran al-asma’ adalah pengajaran dalam bentuk dasar-dasar ilmu pengetahuan (Tafsir al-Qurthuby, Juz I, hlm. 279). Hal ini mengandung makna yang lebih dalam, bahwa Adam sudah diperlengkapi dengan perangkat nalar yang siap untuk menerima seluruh identifikasi nama-nama. Pengajaran bukanlah dengan mengajarkan penyebutan benda-benda satu-persatu belaka, namun lebih pada pengidentifikasian yang selanjutnya dikembangkan sendiri oleh Adam. Adam-lah manusia rasional yang pertama.

Proses instalasi ini dijadikan bekal Adam untuk diwariskan kepada anak cucunya dalam rangka mengelola dunianya kelak. Instalasi al-asma’ adalah instalasi sendi-sendi pengetahuan sehingga Adam mampu mengidentifikasi nama-nama seluruhnya (al-asma’ kullaha). Faktor inilah yang mendorong manusia untuk menjadi makhluk pembelajar—homo academicus. Adam mampu mengidentifikasi dan mengembangkan daya nalarnya sampai pada tahap yang mengagumkan malaikat. Sementara, malaikat tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun kecuali apa yang telah diinformasikan Allah kepada mereka, subhaanaka laa ‘ilma lanaa illaa maa ‘allamtanaa. Inilah yang membuat malaikat jatuh tersungkur karena ta’dzim kepada Adam akan pencapaian kemajuan ilmiahnya.

Tampaknya, diskontinuitas sejarah penciptaan Adam memang demikian adanya. Al-Qur’an—justru—hendak menggerakkan hikmah di balik penciptaan itu untuk selalu terus menerus berpikir dan menggunakan daya nalar manusia di bawah bimbingan hukum Allah (kalimaatin) sebagaimana Adam meletakkan dasar-dasar budaya dan peradaban di bawah bimbingan-Nya. Sementara itu, membicarakan Adam sebagai tokoh sejarah (manusia pertama atau bukan) tidaklah substansial dan tidak memberikan dampak apa-apa bagi peradaban itu sendiri.l

Categories : FEBRUARI 2009 | SM 04-09

About these ads

223 pemikiran pada “Adam Bukan Manusia Pertama (menurut Suara Muhammadiyah)

    Billy K. berkata:
    31 Maret 2009 pukul 08:53

    wah.. yang saya tau selama ini, Adam adalah manusia pertama.. sekaligus khalifah pertama pula.. — terlepas dari teori evolusi yang KACAU itu..

    ternyata, masih banyak pendapat2 lain ya..

    sijidewe berkata:
    31 Maret 2009 pukul 13:15

    kok bisa tau ya..kalau adam bukan manusia pertama..
    misal bukan pun aku mungkin tetao mengartikan adam manusia Pertama dalam tatanan hukum agama (islam) Allah SWT..

    mahon kareksi bila salah tulis :-)

    surya berkata:
    31 Maret 2009 pukul 15:05

    Kacau ne orang…mang tw dr mana adam bukan manusia pertama…apa kamu????hahahahaha…
    apa kamu sudah pernah hidup sebelum adam???gak mungkinlah
    Semua TEORI blm tentu benar…JANGAN MAIN2 DNG AGAMA APALAGI ISLAM…DOSA….INI SEMUA HANYA ALLAH YANG TAU….NGERTI!!!!!

      M Shodiq Mustika responded:
      31 Maret 2009 pukul 15:37

      @ surya
      Apakah kau belum membaca artikel di atas?

      hapil berkata:
      2 April 2009 pukul 16:08

      blom tentu yang kamu tau sekarang ini juga bener kan? kamu tau dari mana klo Nabi Adam a.s adalah manusia pertama?? dalam redaksi Al Quran, tidak ada satu kalimat pun yang menyebutkan bahwa Adam a.s adalah manusia pertama. Silahkan paparkan ayat yang memang jelas2 menyebutkan bahwa Adam a.s adalah manusia pertama. Tolong jangan asal menuduh orang, memang benar bahwa kebenaran yang hakiki hanya Allah yang tau, tapi bukan kah Allah menyuruh kita untuk mencari kebenaran hakiki itu? Supaya kita lebih dekat kepada-Nya?

        Hundari berkata:
        19 Agustus 2009 pukul 11:19

        Kalaulah anda mengatakan Adam itu bukan manusia pertama, apakah telah mempelajari asal dan usul manusia itu sendiri secara rasional?. dalam Al – Qur’an dikatakan bahwa Allah akan menciptakan manusia yaitu yang diberi nama Adam. Sebelum Allah menciptakan Adam terjadilah dialog antara malaikat dengan Allah yang mengatakan bahwasanya apa yang akan diciptakan Allah itu akan membuat kerusakkan di muka bumi.

    k berkata:
    31 Maret 2009 pukul 15:46

    yang bner aja…..
    stw aq,adam lah manusia pertama yang diciptakan Allah swt skligus sbgai khalifah pertama dibumi.
    qta ini cma sbgai pnerus….
    jng main2 dngan agama,,ntar dilaknat loh….
    stu mwu……???????????????

      M Shodiq Mustika responded:
      31 Maret 2009 pukul 15:58

      @ k
      Apakah kau belum membaca artikel di atas?

        cameli@ berkata:
        18 Desember 2009 pukul 13:17

        menurut saya itu sangat keliru jelas2 di dlm ayat suci al-qur’an menegaskan bahwa nabi Adam adalah manusia pertama yag diciptakan oleh ALLAH Swt. dan dia bertugas sebagai seorang kkhalifah di muka BUMI INI ,dan itu juga tugas qt sebagai keturunan adam. selain itu qt juga diciptakan untuk beribadat kepada-Nya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!??????????……………….

    susanto berkata:
    31 Maret 2009 pukul 16:51

    mngkin 90% umat Islam Diseluruh dunia hnya tau dan yakin kalau manusia pertama itu adalah adam,jika anda memiliki pendapat yang berbeda dan anda meyakininya cukup hati anda sendri saja yg tau,karna dijaman yg sekrang ini pendapat anda yg sperti itu bisa dimanfaatkn oleh setan serta orang yg benci islam,moga anda bukan salah satunya

    hafidh berkata:
    31 Maret 2009 pukul 23:14

    cukup rasional dan sependapat dengan paham yang saya anut. memang saya bukan hamba Allah yang taat, namun yang ingin saya ungkapkan disini adalah ternyata bukan saya saja orang yang berpendapat dan berpikir demikian…

    satu hal lagi yang ingin saya tambahkan, Nabi Adam memang mungkin bukan manusia pertama, tapi Nabi Adam adalah manusia pertama yang memiliki akal pikiran, hati nurani dan nafs. sehingga jelas bahwa yang dimaksudkan Allah sebagai manusia yang sempurna adalah manusia yang memiliki ketiga elemen tersebut.

    dan ketiga hal itu pula yang sekiranya menjadi landasan kepribadian manusia, sejalan dengan apa yang ditemukan oleh sigmund freud, seorang yahudi yang entah mendapatkan ilham dari mana tentang teori kepribadiannya. yahudi adalah kaum yang licik, mungkin saja dia mencontek konsep islam tersebut untuk dijadikannya sebagai teorinya.. betul?

      Hundari berkata:
      19 Agustus 2009 pukul 11:24

      Paham yang mana anda anut ?

    aboe faizah berkata:
    1 April 2009 pukul 09:56

    Wah.. wah.. wah.. klo bener adam bukan manusia pertama, coba deh tunjukin buktinye… “Haatu burhanakum inkuntum shodiqin”. Klo menurut tulisan diatas disebutkan bhwa di dalam Al-Quran tidak secara jelas dan terperinci ttg penyebutan Adam sebagai manusia pertama,, so… tak tanya balik:
    1. ada gak di dalam Al-Quran penyebutan (baik scr jelas/tidak) bahwa ada manusia lain sebelum diciptakannya Adam. Atau pendapat diatas hanya didasarkan pada akal2 yang serba terbatas yang dibalut dengan gaya bahasa yang ilmiyah.

    2. klo memang begitu halnya, maka ada gak seh pendapat seperti ini dinyatakan oleh Nabi sebagai panutan kite? Atau dinyatakan oleh Shahabat Nabi sebagai generasi terbaik umat ini? Atau dinyatakan oleh orang yang mengikuti mereka dengan baik? Ane tanya klo mereka tidak menyatakan ttg hal ini secara terperinci, jelas dan gamblang, maka bagaimana pendapat ente : Apakah Nabi dan para Shahabat nya tidak tau tentang ini dan ente anggap ente dan juga penulis Yusef Rafiqi tau tentang hal ini??? padahal ini berhubungan dengan ayat dalam Al-Quran dan bahkan berhubungan dengan kehidupan manusia. Ataukah menurut pendapat ente bahwa Nabi dan Para Shahabatnya tau akan perkara ini, namun mereka menyembunyikannya atau tidak menjelaskannya. Tidakkah agama ini sudah sempurna, sehingga dalam beragama kita mencukupkan diri dengan apa yang dikhabarkan Nabi dan kita tidak mencari2 masalah agama yang tidak dikhabarkan nabi. Pilih mana jawabannya mas?

    3 Klo ada,,, tolong disebutkan darimana pendapat ini berasal. dari Ulama kaum muslimin atau dari filosofi barat? Klo dari Ulama, sebutkan dung sapa Ulama (yang mu’tabar) yang menjelaskan perkara ini, baik dari Fuqoha, Muhaddits, maupun dari Mufassirin.

    YesWe berkata:
    1 April 2009 pukul 13:44

    Saya sangat yakin bahwa anda-anada semuanya adalah manusia yang memiliki otak depan (frontal lobes) yang telah biasa diasah dengan berbagai assignment seperti math dan science lainnya yang sangat rasional, sehingga common sensenya berfungsi dengan sempurna.

    Adam a.s hanyalah manusia muda yang hidup di dunia sekitar 6000 tahun yang lalu di jazirah Irak. Manusia telah menghuni bumi ini lebih dari satu milyar tahun. Jadi Adam a.s adalah anak seorang wanita seperti kita yang punya tali pusar. Dia hidup di bumi ketika manusia lainnya di belahan bumi lainnya sudah banyak. Di Mesir sekitar 11000 tahun yang lalu sudah ada dua buah kerajaan. Di Manggarai, Timor 28 000 tahun yang lalu sudah ada komunitas manusia. Di Perancis, Dordogne, Gua Lascaux ditemukan gambar-gambar binatang yang dibuat manusia sekitar 28000 tahun yang lalu. Lalu mengapa Adam a.s disebut ‘Bapak Manusia’? Karena dia adalah ‘bapak peradaban’ manusia, yaitu seorang nabi yang diutus Tuhan untuk memperkenalkan syariat pernikahan. Pernikahan merupakan satu cara untuk membuat asal-usul manusia menjadi jelas dan juga merupakan sistem kehidupan sosial yang baik.

    Keyakinan bahwa Adam a.s adalah manusia pertama berasal dari peradaban Yahudi dan kemudian ditanamkan ke dalam otak tengah (limbic system) manusia secara terus menerus dan turun temurun sehingga seolah-olah kisah (mitos) tersebut benar dan dijadikan dogma agama. Mitos ini dibawa ke jazirah Arab. Jadi sebelum Islam lahir mitos ini sudah tertanam dalam benak masyarakat di sana. Kebetulan Al-Qur’an mengajarkan kisah Adam a.s. Padahal kisah yang ditulis di dalam Al-Qur’an tidak berhubungan dengan manusia pertama, tapi kenabian yang pertama. Masalahnya kitab suci yang ditulis pada abad ke 6 dan 7 Masehi ini menggunakan kosa kata yang sederhana dan bahasa simbolik, parable (mutasyabihat) sehingga mengesankan bahwa ceritanya sama dengan mitos yang sudah berkembang di masyarakat.
    aboe faizah:
    1. ada gak di dalam Al-Quran penyebutan (baik scr jelas/tidak) bahwa ada manusia lain sebelum diciptakannya Adam. Atau pendapat diatas hanya didasarkan pada akal2 yang serba terbatas yang dibalut dengan gaya bahasa yang ilmiyah.
    YesWe:
    Dalam Albaqarah:30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
    Dari mana para Malaikat tahu ada mahluk yang suka membuat kerusakan dan penumpah darah? Mengingat Malaikat itu tidak diberi kemampuan untuk menganalisa, kecuali melihat, dan tentu yang telah dilihatnya itu adalah “mahluk” sebelum Adam a.s.

    aboe faizah:
    3 Klo ada,,, tolong disebutkan darimana pendapat ini berasal. dari Ulama kaum muslimin atau dari filosofi barat? Klo dari Ulama, sebutkan dung sapa Ulama (yang mu’tabar) yang menjelaskan perkara ini, baik dari Fuqoha, Muhaddits, maupun dari Mufassirin.

    YesWe:
    Pernyataan ini didukung oleh banyak ahli, termasuk kaum Sufi asal Persia. Mereka berpendapat, Adam bukan manusia pertama dan masih ada Adam-Adam lain yang sudah diciptakan jauh sebelum itu, yaitu termasuk diantaranya manusia purba. Sebut saja Muhyiddin Ibnu Arabi, seorang sufi besar pernah mengatakan bahwa ada sabda Rasulullah yang antara lain mengatakan ‘Allah telah menjadikan tidak kurang dari seratus ribu Adam’ (Futuhat Makkiya, II, hal. 607)[3].

      Aboe Faizah berkata:
      5 April 2009 pukul 21:19

      Mana nih jawaban pemilik blog…? Tuk Mas yeswe (walau agak lama balesnya krn br online)…
      1. Anda mengatakan : “Keyakinan bahwa Adam a.s adalah manusia pertama berasal dari peradaban Yahudi dan kemudian ditanamkan ke dalam otak tengah (limbic system) manusia secara terus menerus dan turun temurun” dr mana statement ini mas? jgn2 anda dapet dr orang yahudi asli ya mas (dimana?). atau dr siapa? dr guru mas ya? klo dari guru mas, maka tak tanya seperti pertanyaan kedua…. apa pendapat mas : apakah Nabi tidak tau tentang hal ini, padahal ini hal penting dlm agama islam? sedangkan guru mas tau tentang ini? padahal dalam haditsnya nabi sering menyuruh ummatnya utk menyelisihi ahli kitab (yahudi dan nashrani) dalam segala hal. dan jika mendengar statement mas, maka hal ini juga termasuk pemikiran yahudi yang harus diperingatkan dan diselisihi oleh Nabi, tapi mana bukti bahwa ini pemikiran yahudi yang disusupkan ke otak2 manusia hingga ke jazirah arab, bahkan hingga ke zaman Nabi Muhammad sebagai penutup para Nabi. kenapa Nabi diam mas?

      2. Perkataan anda : “Masalahnya kitab suci yang ditulis pada abad ke 6 dan 7 Masehi ini menggunakan kosa kata yang sederhana dan bahasa simbolik, parable (mutasyabihat)” lha piye iki mas… apa mas pernah mendengar firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala : “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat…. (Qs. Ali Imran : 7)

      3. utk jwbn soal pertama dr anda, maka dr mana statement bhw malaikat tidak bisa menganalisa, dan hanya bisa melihat/mendengar saja? Apa anda menyamakan malaikat dengan hewan yang tidak punya akal? mana dalilnye mas? Memang mas dah pernah lihat malaikat ya? dimana? klo dah pernah, kasih tau aku yaa, aku jg mau lihat n ketemu nih :D

      4. utk jawabn soal ketiga dr anda, maka apakah pendapat kaum sufi terutama Ibnu Arabi diakui oleh ulama 4 Mazhab??? Saya khan tanya siapa ulama yang mu’tabar yang menafsirkan hal seperti ini, contoh seperti : Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad ibn Hanbal, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Al-Auza’i, Imam Sufyan Ats-Tsauri, Imam Ibnu Mubarok, Imam Nawawi, Imam Ibnu Jarir Ath-Thobari, Imam Qurthubi, Imam Ibnu Katsir, dll

      Kalo toh kata Ibnu Arabi bahwa ada sabda Nabi yang mengatakan ada 100.000 Adam, maka yang saya tanyakan :
      a. sebutkan riwayat hadits tersebut, klo bisa disertai takhrij yang lengkap mulai dari rawi pertama smp yang terakhir (shahabat) lalu ditulis di kitab hadits mana (shahih bukhari, muslim, musnad, sunan, dll) dan sebutkan juga derajatnya (shahih, hasan, dhoif atw maudhu’). Itu klo bs lengkap mas lebih baik dan lebih ilmiyah… :D
      b. Klo ada kurang lebih 100 ribu adam, lalu didalam Al-Quran dan Al-hadits sering disebutkan kata “bani Adam” = anak / keturunan Adam… lalu kita ini semua keturunan Adam yang mana mas… khan ada banyak Adam di masa lalu (menurut mas)

      5. Yang terakhir dr komentar ini, knp mas cuma jawab pertanyaan 1 dan 3 saja dr pertanyaan saya, mana jawaban pertanyaan ke 2…

      Tak tunggu ya mas yeswe…

    bangun.s berkata:
    1 April 2009 pukul 14:42

    coba dicari dan pelajari perbedaan Al-Quran dan Ilmu Sain :

    Bisa dihubungkan gak :

    Ilmu Sain : Manusia dari Revolusi kera

    Bisa gak kera duluan yang ada (Perusak dan tidak berakal)
    baru diciptakan Adam sebagai mahluk yang sempurna ( mempunyai akal dan budi pekerti)

    Khairun Fajri Arief berkata:
    1 April 2009 pukul 15:57

    Kebiasaan buruk kita-memang-selalu memahami ilmu alam dengan disaat yang sama mengutip-ngutip ayat untuk melegitimasi atau mendeligitimasi temuan kita berkaitan dengan ilmu alam tersebut..

    Hal-hal yang sebetulnya dapat kita temukan dan diskusikan secara ilmiah..akhirnya harus di veto dengan klaim “bertentangan atau bersesuaian dengan ayat”..

    Padahal ayat quran sendiri tidak diturunkan sebagai kitab sejarah, buku ilmu alam, atau ensiklopedi untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia..

    Quran diturunkan untuk menjadi panduan nilai moral buat manusia (Hudallinnas)..

    Jadi daripada memperdebatkan apakah ,di dalam quran, adam itu adalah manusia pertama atau tidak,lebih baik kita memperdebatkan Nilai Moral seperti apakah yang terkandung didalam proses penciptaan adam tersebut!

    Untuk menemukan secara ilmiah siapa manusia pertama, khalifah allah sebelum manusia, penghuni luar angkasa, dan lain sebagainya…serahkan saja kepada ilmu pengetahuan. Tugas Quran adalah memandu kita, dengan cara dan nilai moral seperti apakah segala ilmu yang kita punya , kita pergunakan untuk berhidmat kepada allah dan memakmurkan kehidupan dengan kebaikan.

    Jafar Soddik berkata:
    1 April 2009 pukul 16:20

    Titik pangkal dari tulisan diatas sebenarnya bisa diperjelas dengan mendefinisikan arti dari kata ‘manusia’. Jika dilihat dari wikipedia:

    Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda menurut biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin untuk manusia), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.

    Di awal tulisan si penulis artikel ini sebenarnya sudah menggarisbawahi :
    tetapi dalam tulisan ini yang dibahas adalah substansi penciptaan Adam sebagai seorang khalifah dan kaitannya dengan peradaban manusia.
    Sehingga seharusnya debat siapa ‘manusia’ pertama tidak perlu terjadi.

    Jika kita tilik pengertian kata ‘manusia’ secara biologis, tentu saja bukti-bukti penemuan fosil manusia purba yang katanya sudah mirip — secara biologis — tidak terbantahkan.
    Jika kita tilik pengertian ‘manusia’ secara kebudayaan, tulisan yang menyebutkan bahwa Nabi Adam-lah ‘bapak manusia’ pertama yang diberikan kecerdasan untuk menjadi ‘pemakmur’ bumi ini.

    Dan sekali lagi juga perlu diingat, bahwa tulisan diatas adalah hasil pemikiran yang boleh jadi memang benar dan boleh jadi juga memang keliru. Kalau kita bukan ahlinya, sebaiknya memang bertanya terlebih dahulu kepada mereka yang lebih ‘alim, yang memiliki pemikiran mendalam tentang aqidah dan syariah yang lurus :).

    Wallahu ‘a’lam bish-shawab

      hapil berkata:
      2 April 2009 pukul 17:03

      assalamualaikum,

      satu hal yang pasti adalah saya insyaAllah sangat meyakini bahwa Adam a.s adalah khalifah pertama di muka bumi ini, dan sepakat dengan apa yang di katakan mas Shoddiq diatas bahwasanya Adam a.s kemungkinan manusia pertama yang diberikan akal dan pikiran manusiawi untuk mengajarkan kebaikan dan kebudayaan di muka bumi ini. Perihal apakah Adam a.s manusia pertama atau bukan merupakan dua pendapat yang sah2 saja. karena hal ini tidak menyangkut keyakinan kita tentang kenabian Adam a.s (insyaAllah). Dalam Al-Quran pun tak ada satu ayat pun yang menyebutkan bahwa Adam a.s adalah manusia pertama, yang ada adalah khalifah/ pemimpin umat. comment?

    www.infobisnis-09.com berkata:
    1 April 2009 pukul 20:27

    Klo dr pnjelasn n fakta yeswes saya jd stuju dgn tlisan mas Shodiq di atas

    Irawan Danuningrat berkata:
    2 April 2009 pukul 16:19

    Jauh sebelum muncul teori Darwin, tak sedikit cendekiawan dan ulama Islam yang melakukan penyelidikan dan analisis tentang penciptaan MANUSIA. Beberapa diantaranya bahkan berpendapat bahwa manusia diciptakan Allah melalui fase, tingkat-tingkat kejadian atau proses evolusi. Dalam hal ini, Al-Farabi (783-950 M), Ibnu Miskawaih (Wafat 1030 M), Muhammad bin Syakir Al-Kutubi (1287- 1363 M), Ibnu Khaldun (1332-1406 M) dapat dikatakan sebagai tokoh-tokoh paham evolusi sebelum lahirnya teori evolusi Darwin (1804-1872 M), meski kesimpulan ulama-ulama tersebut tidak sepenuhnya identik sebagaimana diusung teori evolusi yang dirumuskan Darwin.

    Dalam buku “Man the Unknown” Dr. A. Carrel mengemukakan bahwa kendatipun kita memiliki masukan yang cukup banyak dari hasil penelitian para ilmuwan, filosof, sastrawan, dan para ahli di bidang keruhanian sepanjang masa ini, namun kita (manusia) hanya bisa mengetahui beberapa segi tertentu dari diri kita. Dr. A. Carrel menyatakan bahwa keterbatasan pengetahuan manusia tentang dirinya itu disebabkan oleh:

    1. Manusia lebih terpengaruh pada penyelidikan alam materi.
    2. Akal manusia cenderung pada hal-hal yang tidak kompleks.
    3. Multikompleksnya masalah dalam penciptaan manusia.

    Jika apa yang dikemukakan oleh Dr. A. Carrel itu diterima, maka informasi yang dapat dijadikan rujukan dalam rangka menyingkap proses penciptaan manusia hanyalah WAHYU ILAHI. Kita harus meneliti semua ayat (atau sekurang-kurangnya ayat-ayat pokok) yang berbicara tentang penciptaan manusia, dengan mengikutsertakan berbagai aspek terkait a.l. Hadits Rasul, konteks turunnya ayat, maupun hakikat-hakikat ilmiah yang telah mapan, yang diproses secara tematis.

    Dalam Al-Quran ada tiga kata yang dipakai untuk menunjuk sosok manusia, yaitu : l. Kata yang terdiri dari huruf alif, nun, dan sin; semacam insan, ins, nas, atau unas; 2. Kata BASYAR; dan 3. Kata Bani Adam, dan zuriyat Adam.

    Al-Quran telah menggunakan kata BASYAR untuk merujuk “MANUSIA” sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk mutsanna (dual), a.l. dlm surat Al-Kahf [18]: 110 dimana Nabi Muhammad Saw. diperintahkan untuk menyampaikan bahwa, “Aku adalah BASYAR (manusia) seperti kamu yang diberi wahyu”, sehingga untuk membahas paradigma “MANUSIA” kita tidak dapat melepaskan diri dari pemahaman kata BASYAR dan kata insan.

    Kata BASYAR konon terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Dari akar kata yang sama lahir kata BASYARah yang berarti kulit. Manusia dinamai BASYAR karena kulitnya tampak jelas, dan berbeda dengan kulit binatang yang lain.

    Dari sisi lain tampak bahwa banyak ayat-ayat Al-Quran yang menggunakan kata BASYAR, mengindikasikan adanya tingkat kedewasaan, kecerdasan dan tanggung jawab. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya (Allah) menciptakan kamu dari tanah, kemudian ketika kamu menjadi BASYAR kamu bertebaran” (QS Al-Rum [30]: 20). Karena itu pula wajar Maryam a.s. mengungkapkan keheranannya ketika ia hamil karena dia belum pernah disentuh oleh BASYAR (manusia dewasa yang mampu berhubungan seks) (QS Ali ‘Imran [3]: 47). Kata basyiruhunna yang digunakan oleh Al-Quran sebanyak dua kali (QS Al-Baqarah [2]: 187), juga diartikan dengan hubungan seks.

    Kata BASYAR yang terkait erat dengan kedewasaan, sangat erat keitannya dengan tanggung jawab. Maka dari cukup relevan jika Allah mengamanahkan tugas kekhalifahan kepada BASYAR (perhatikan QS Al-Hijr [115:28] yang menggunakan kata BASYAR), dan QS Al-Baqarah [2:30] yang menggunakan kata khalifah, yang keduanya mengandung pemberitaan Allah kepada malaikat tentang manusia.

    Berikutnya, “insan” yang juga digunakan Al-Qur’an sebagai kata pengganti manusia, bisa terambil dari akar kata UNS yang berarti jinak, harmonis dan tampak; nasiya (lupa); atau nasa-yanusu (berguncang). Kata insan dalam Al-Quran dipakai untuk merujuk manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga; Manusia yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain, akibat perbedaan fisik, mental, dan kecerdasan.

    Ketika berbicara tentang penciptaan MANUSIA PERTAMA, Al-Quran menunjuk sang Pencipta menggunakan kata ganti pertama tunggal “Aku”: “Sesungguhnya AKU AKAN menciptakan MANUSIA dari TANAH (QS Shad 38:71). “Apa yang menghalangi kamu (iblis) sujud kepada apa yang AKU ciptakan dengan kedua tangan-Ku? (QS Shad [38]: 75).

    Sementara ketika berbicara tentang penciptaan manusia berikutnya, Yang Maha Pencipta disebut dengan menggunakan bentuk kata ganti pertama jamak “Kami”.: “Sesungguhnya KAMI telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” surat At-Tin ayat 4.

    Hal tersebut tak lepas dari adanya perbedaan proses kejadian Adam a.s. yang seluruhnya dikerjakan oleh Allah sendiri, berbeda dengan proses penciptaan manusia umumnya, dimana Allah telah berkenan mengikutsertakan berbagai pihak antara lain malaikat, ibu dan bapak.

    Al-Quran memang tidak mengurai secara rinci proses kejadian Adam, yang mayoritas pemeluk agama samawi meyakininya sebagai “MANUSIA PERTAMA” yang proses kejadiannya: a. Bahan awal manusia adalah tanah. b. Bahan tersebut disempurnakan. c. Setelah proses penyempurnaannya selesai, ditiupkan kepadanya ruh Ilahi (QS Al-Hijr [15]: 28-29; Shad [38]: 71-72). Tanpa elaborasi lebih jauh bagaimana dan berapa lama proses penyempurnaannya.

    Dalam hal ini, tak sedikit ayat yang memuji dan memuliakan manusia, a.l. tentang diciptakan-Nya manusia dalam bentuk dan keadaan yang sebaik-baiknya (QS Al-Tin [95]: 5); penegasan tentang derajat mulia manusia dibanding dengan makhluk-makhluk Allah yang lain (QS Al-Isra’ [17]: 70); juga ayat-ayat yg mengkritisi manusia yang cenderung amat aniaya dan mengingkari nikmat (QS Ibrahim [14]:34); suka membantah (QS Al-Kahf [18]: 54); sering berkeluh kesah dan kikir (QS Al-Ma’arij [70]: l9) dll. Potensi manusia dijelaskan oleh Al-Quran antara lain melalui kisah Adam dan Hawa (QS Al-Baqarah [2]: 30-39). Dalam ayat itu dijelaskan bahwa sebelum kejadian Adam, Allah telah merencanakan agar manusia memikul tanggung jawab kekhalifahan di bumi sehingga di samping tanah (jasmani) dan Ruh Ilahi (akal dan ruhani), makhluk ini dianugerahi pula potensi dan ilmu pengetahuan.

    Dari fakata-fakta tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa mahluk yang disebut MANUSIA menurut Al-Quran, dimulai dari penciptaan Adam, yakni sosok utuh dalam kesempurnaan bentuk lahiriah sebagaimana fisik kita sekarang, mempunyai ruhani, berkarakter dan memiliki potensi untuk menyusun konsep, mencipta, mengembangkan, mengemukakan gagasan, sekaligus potensi untuk melaksanakannya. Faktor potensi inilah yang membungkam malaikat saat meragukan kelayakan sosok Adam yang ditunjuk menjadi khalifah di bumi, sehingga mereka akhirnya bersedia sujud kepada Adam – sang Manusia Pertama ciptaan Allah.

    Keterpaduan empat unsur tsb adalah prasyarat mutlak sesosok mahluk untuk diklasifikasikan sebagai MANUSIA. Tanpa keempat unsur tsb pada hakekatnya ia bukan manusia. Sebagaimana halnya air yang terwujud dari perpaduan oksigen dan hidrogen dalam kadar-kadar tertentu. Bila kadar oksigen dan hidrogennya dipisahkan, ia (mereka) sama sekali bukan air.

    Demikian konon menurut Bpk Quraish Shihab dlm tafsir Maududi.

    Dalam hal ini, jika benar hipotesis sebagian orang bahwa sebelum Nabi Adam a.s. turun ke bumi telah ada mahluk yang secara fisik MENYERUPAI/MIRIP sosok manusia, berdasarkan uraian diatas mereka pasti bukan dan tidak tergolong MANUSIA yg dimaksud Allah dalam Al-Qur’an. Boleh jadi para antropolog mengira bahwa HOMO Soloensis dan Homo Mojokertensis cs, Pithecantropus Erectus dll atau bahkan Orang Utan adalah manusia, bagi saya mereka BUKAN MANUSIA jika mereka secara genetis bukan keturunan Nabi Adam a.s.

    Maka dari itu, sebagaimana dikemukakan sebelumnya, teori evolusi mungkin saja benar sebagai bagian dari proses terjadinya keanekaragaman flora dan fauna, tapi bagi saya, teori evolusi tsb tidak berlaku bagi manusia. Selaku umat Islam saya yakin bahwa manusia tidak satu nenek moyang dengan hewan primata dan merasa sangat terusik dengan pernyataan bahwa “Adam bukan manusia pertama”.

      M Shodiq Mustika responded:
      2 April 2009 pukul 16:48

      @ Irawan Danuningrat
      Alhamdulillaah. Welcome back. I see… Begitulah “sosok” mas Irawan yang selama ini kukenal. :)

      footprint1980 berkata:
      2 April 2009 pukul 18:20

      terima ksih telah menjawab kegalauan hati saya pak irawan.
      jelas.

        un4beez berkata:
        3 April 2009 pukul 08:10

        Nice!

        Alhamdulillah…
        Jelas..makin pintar. terima kasih!

      PRABU KRESNA ERDE berkata:
      21 November 2009 pukul 22:27

      Assalamu’alaikum Mas Iwan. Mantap dan bagus apa yang mas Iwan paparkan. Saya setuju sekali. tapi merujuk kepada Allah, apakah sejauh ini Mas Iwan paham dan mengenal dengan Zat Maha Suci yang bernama Allah. Terima kasih. Wassalam

    penghasilandollar berkata:
    3 April 2009 pukul 02:27

    manusia tidak sama dg khalifah,
    manusia pertama tidak sama dg khalifah pertama,
    jelas ya!!
    tapi ngomong-ngomong manusia sebelum nabi adam as diciptakannya gimana ya?
    terus substansinya ada sebelum nabi adam as untuk apa ya?
    hayo tebak?

    asep berkata:
    3 April 2009 pukul 08:53

    Ass. saya setuju bahwa adam itu bukan manusia pertama, kita tahu kan tugas Adam itu adalah seorang Nabi dan Rasul!. Apa tugasnya Nabi dan Rasul, Nabi adalah pembawa berita gembira, dan Rasul adalah utusan Allah untuk memberi petunjuk kearah kebenaran . Jadi kalau adam itu manusia pertama masa dia itu diutus oleh untuk membawa kebenaran untuk siapa yang namanya Nabi diutus ke dunbia itu yang pasti sudah ada manusia dong , itu baru masuk akal ,

      http://alquran.co.nr berkata:
      24 April 2009 pukul 15:09

      Assalamualaikum wr.wb,

      Intermezo sebentar ya mas2 dan mbak2…untuk syiar agama juga..

      Silahkan kunjungi http://alquran.co.nr untuk mencari ayat alquran dan terjemahan serta mendengarkan lantunan ayat suci Alquran ayat per ayat..dapat digunakan untuk belajar mengaji..

      Download juga alquran untuk ponsel anda..

      Wasalam

    sugartree berkata:
    3 April 2009 pukul 20:04

    Artikel yang sangat menarik,.. sudah jelas kata ” manusia” dan nama ” Adam ” sebagai nama pertama dari Allah untuk laki- laki pertama yang berfikir, bertingkah laku,dan memiliki norma manusia, membentuk masyarakat dengan tingkatan yang jauh dan jauh lebih tinggi dan lebih terhormat daripada ” hewan” ….

    pertanyaannya: mengapa manusia – manusia di seluruh dunia,di masa ini lebih condong bertingkah laku layaknya “hewan”??? pantaskah kita disebut ” keturunan Nabi Adam ” ??? walla hu alam …

    masih baikkah namaku disebut? berkata:
    6 April 2009 pukul 11:39

    mungkin yang dimaksud “Adam adalah manusia pertama” adalah :
    mahluk bumi yang pertama kali memiliki akal pikiran dan nurani.

    ord1n4ryp3opl3 berkata:
    7 April 2009 pukul 14:21

    abi.. qu sempet bingung loh wktu guru sejarah nerangin ttg teori evolusi..

    qu yakinin klo Nabi Adam AS itu adalah khalifah yang pertama dibumi dan teori evolusi itu juga gak smuana salah karena yang pernah aqu baca baik dari buku umum maupun salah satu pengertian ayat alquran yang qu lupa lagi surat apa dan ayat berapa sebelum Nabi AS diturunkan ke bumi Allah udh nyiptain bumi beserta isinya, baik itu makhluk hidup maupun benda mati.. dan saat Allah menurunkan Nabi AS ke bumi itu bumi udh dalam kondisi yang lengkap baik dari binatang maupun sumber daya alamnya.. jadi gak smua teori evolusi itu salah dan yang aku yakinin teori yang salah nya itu bagian dimana manusia itu berevolusi dari monyet. salah banget tuh teori evolusi darwin ttg manusia. udh gitu ternyata teori evolusi itu ada yang dimanipulasi alias harusnya bentuk tengkorakna gak kaya gitu ekh ini di tempel2 supaya bisa dianggap berevolusi.
    Allah menciptakan makhluknya bukan tanpa rencana karena Allah itu Maha Berencana.

    majlisalkhair berkata:
    13 April 2009 pukul 00:14

    Assalamu’alaikum Wr. Wb

    Saudaraku…

    “Hati-hatilah jika engkau ingin menyampaikan ilmu yang tersurat namun engkau belum mengenal ilmu yang tersirat. Dan berhati-hatilah jika engkau ingin menyampaikan ilmu yang tersirat namun engkau belum mengenal ilmu yang tersurat”.

    Wassalamua’laikum Wr. Wb

    footprint1980 berkata:
    13 April 2009 pukul 13:16

    ikutin tulisannya pak irawan aja.. jangan dikaburin lagi

    zays berkata:
    15 April 2009 pukul 08:49

    Kenapa menjadi debat kusir jadinya?
    tolong deh, dalam masalah ini harus jelas dulu; mau ditinjau dari sisi mana dulu kita berpendapat? dan tolong juga memahami ayat itu harus secara utuh jangan hanya sebatas satu ayat itu saja, tapi lihat ayat sebelum dan sesudahnya, kemudian kalau ada asbab nuzulnya disertakan juga pemahamannya. Oke !
    buat aku; tidak akan mengomentari apakah adam itu manusia pertama atau khalifah pertama, yang jelas, adam adalah orang pertama yang dibebani dengan norma-norma Allah

    [...] Bukan Manusia Pertama, Banyak Adam Lainnya Adam Bukan Manusia Pertama | Herdoni Wahyono Blogspotcom Adam Bukan Manusia Pertama (menurut Suara Muhammadiyah) M Shodiq Mustika inti dari artikel itu, nabi Adam bukanlah manusia pertama, dan manusia pertama itu ternyata [...]

    kalishnikovku berkata:
    28 April 2009 pukul 01:41

    yang bener tuhh roh manusia pertama.. roh manusia pertama yg diciptakan ALLAH adalah roh Nabi Muhammad SAW.. roh paling sempurna yg pernah diciptakan Allah.. sape-sampe setan pun tertipu (terkecoh) karna kebodohan nya. (setan = mahluk paling bodoh dan sok tau yg pernah diciptakan oleh ALLAH)

    karna kebodohannya setan, setan tidak mau sujud kepada adam, dengan alasan yg bodoh dan sok tau pun setan berkata: “aku terlebih dahulu diciptakan dari pada adam.”

    padahal sebelum setan diciptakan Roh Nabi Muhammad SAW telah lebih dahulu diciptakan dengan sempurna, bahkan sebelum bumi diciptakan pun Roh Nabi Muhammad telah diciptakan. Karna kebodohan dan sok tau setan pun setan tidak menyadari klo bumi (tanah) diciptakan lebih dahulu dari pada api (setan).

    ada hadist yg mengatakan: “Allah SWT menciptakan tanah pada hari Sabtu. Lalu, menciptakan gunung pada hari Ahad dan pepohonan di hari Senin. Kemudian menciptakan hal-hal negatif pada hari Selasa, cahaya di hari Rabu, dan mengembangbiakkan ciptaannya pada hari Kamis. Terakhir, Allah menciptakan Adam pada hari Jum’at ba’da Ashar.”

    tapi kenapa orang-orang masih ada yg minta bantuan sama mahluk lain???? (setan si mahluk bodoh termasuk jin si mahluk stupid)

    GPP kan klo gw tidak ber Iman kepada Setan dan Jin..

    kalishnikovku berkata:
    28 April 2009 pukul 02:03

    pesen gw jangan mau denger apa kata setan / jin.. sesungguhnya mereka menyesatkan dan menipu dengan segala cara.. sampe-sampe ada yang mengaku jin islam.. bahkan sampai mengatakan atas izin Allah, padahal cuma iming-iming setan / jin aja.. dibalik itu semua manusia telah disesatkan oleh setan / jin. hayoo.. siapa yg deket sama jin / setan.. jangan sama bodohnya deh kaya setan / jin.. gimana mau pinter klo belajar dari mahluk yang paling bodoh..

    GPP kan klo gw tidak ber Iman kepada Setan dan Jin..

    yusef rafiqi berkata:
    28 April 2009 pukul 16:25

    Salam….
    Subhanallah, saya sangat bersyukur ternyata banyak yang mengomentari tulisan saya yang di SM itu. Mohon maaf saya baru buka alamat ini setelah mendapat sms dari adik saya tentang komunitas ini. Terima kasih kepada pemilik alamt karena sudah posting tulisan itu. saran saya, mohon dianalisa dan di baca ulang tulisan saya itu. kekurangan adalah wajar karena manusia, dan kebenaran haqiqi ada di sisi Allah. Namun, insya Allah dalam tulisan mendatang di SM tentang konstruksi khalifah dalam al-Quran (konstruksi khulafa’ dan khala’if)maka akan lebih jelas lagi substansi penciptaan Adam itu. Yang jelas, Kitab Genesis (Kejadian) mengisyaratkan adam dan hawa adalah manusia pertama. Akankah, al-Quran (baca:kita yang sangat yakin akan kebenarannya)mengakui data-data biblical itu?

      M Shodiq Mustika responded:
      28 April 2009 pukul 16:31

      @ yusef rafiqi
      You’re welcome. Kami senang sekali penulis aslinya turut berkomentar di sini.

      PRABU KRESNA ERDE berkata:
      21 November 2009 pukul 22:31

      YA JELAS. KAN DI AL QUR’AN SEMUA KITAB DISEMPURNAKAN. PIYE TO MAS? APAKAH BIBEL, INJIL DAN JABUR ITU KAN SEMUA KITA YANG DITURUNKAN SEBELUM AL QUR’AN YANG MULIA. JADI DI AL QUR’AN INI SEMPURNANYA.

    [...] & Menag Menolak Pembubaran AhmadiyahWarga Lebak Temukan Alquran dan Pedang RaksasaAdam Bukan Manusia Pertama (menurut Suara Muhammadiyah)Haramnya Berfatwa Tanpa Ilmu menurut Syaikh al-’UtsaiminHukum Musik / Nyanyian: HALAL (Fatwa Yusuf [...]

      Nur Rofiq berkata:
      12 Mei 2010 pukul 11:41

      As salamualaikum wr. wb
      waduh sya kok agak bingung & kurang yakin kalo Adam yang kita ketahuai ini ternyata bukan manausia yang pertama, ternyata ada Adam-adam yang lain yang dulu diciptakan oleh Allah. Kalau saya masih meyakini bahwa Adam yang diterangkan dalam Al-Qur’an itu adalh manusia yang pertsama n saligus nabi yang pertama. kalo sebelum Adam diciptakan sdh ada Adam-adam yang lain mestinya ada peniggalan2 nya berupa ajaran-ajarannya atau bukti peninggalan lain yang mendukung untuk mengatakan sebelum Adam sdh ada Adam-adam yang lain ( manusia ). Andaikata sebelum Adam sdh ada Adam yang lain kenpa di dalam Al-qur’an difirmankan Inni Jaa’ilun fil ardli khalifah. Arti Jaa’ilun diartikan mnjadikan bisa diartikan juga menciptakan. Ini berarti bahwa sesuatu yang belum ada menjadi ada itu tentu perlu diciptakan atau perlu dijadikan. tetapi kalo sdh ada tidk perlu ada kata-kata Jaa’ilun cukup pakai kata Arsalnaa ( Kami utus ) untk………Dengan demikian maka sya masih meyakini bhwa Adam yang kita kenal sampai saat ini adalah manusia pertama dan nabi yang pertama. Jika ada Adam sebelum Adam yang yang kita kenal spt skr ini tentunya ada keterangan dari Rasulullah saw, yang jelas yang menerangkan ttg adanya nabi Adam sebelum nabi Adam as.
      Wallahu A’lam bishawwab

        Arip Ihsan Harahap berkata:
        21 Mei 2010 pukul 14:18

        Maka pemahaman yang lebih dapat dipahami adalah, Nabi Adam AS adalah makhluk yang sama sekali baru.. berbeda dengan makhluk yang sebelumnya tinggal di muka bumi..

        sederhananya, hominid (manusia purba) yang banyak ditemukan fosilnya bisa jadi adalah makhluk sebelum Nabi Adam AS yang pada masanya berjaya menguasai bumi dan membuat kerusakan sebagaimana ucapan para malaikat.

    dean tampan berkata:
    10 Mei 2009 pukul 17:19

    agama adalah sebagai penunjang…kurasa semua orang yg menyalahkan tentang orang yg menhakimi si adam itu adalah orang yg pola pikirnya ud di batasin oleh sebuah keyakinan…….

    itu ud jadi kebenaran absolute buat kalian tapi kalau tidak ada blog mengiyakan bahwa adam bukan manusia pertama kali itu namanya dia tidak mw belajar menggali yg sebenernya harus di gali……..

    deskripsi saya mengenai blog ini adalah simpel sekali………..

    kita tidak bisa bilang semuanya benar dan salah tapi asal kalian semua tahu bahwa banyak berbagai macam penafsiran yg berbeda apalagi untuk tafsirkan sebua bible…..ya ati2 aja kalian yg punya agama :)

    kurasa mencari titik temu dan kebenaran absolute dalam tema ini gag usa pernah ada karena semua akan hanya menimbulkan percekcokan saja, selain hanya bnyak bentuk penlaran yg salah….

    yg pasti adam dan hawa itu sebuah istillah saja…adam dan hawa itu sebenrnya ayah dan ibu…………dy yg paling mutlak punya beberapa elemen endukung dari sifat2 adam dan hawa saat pertama kali kenal seblemu mengenal keyakinan toh…

    jadi gag usah befikir rumit lagi karena kita hidup di masa skr dan itu faktanya buat berbicara lampau c g masalah tp aq rasa di semua ank2 yg menuliskan berbagai macam wacana aq yakin kalian hidup bersama saya di masa skr…….

    jgn terlalu di ambil pusing kalau kalian tidak ingiun semuanya berakhir yg katanya sesuai dalam al quran

    wahyu berkata:
    14 Mei 2009 pukul 20:16

    assalamualaikum wr.wb
    terkait artikel di atas saya ingin menyampaikan informasi sekaligus bertanya.
    mbak/ mas pernah baca artikel tentang reaktor nuklir di republik Gabon (Afrika) belum?

    Pada tahun 1972, ada sebuah perusahaan (Perancis) yang mengimpor biji mineral uranium dari Oklo, Republik Gabon untuk diolah.
    Mereka terkejut dengan penemuannya, karena biji uranium impor tersebut ternyata sudah pernah diolah dan dimanfaatkan sebelumnya serta kandungan uraniumnya dengan limbah reaktor nuklir sama.

    bekas reaktor nuklir yang diketemukan itu diperkirakan berusia 2 milyar tahun dan telah dipergunakan selama 500 tahun dengan kekuatan 100.000 wat. lebih mengejutkan lagi ditempat itu juga diketemukan tempat pembuangan limbah nuklir terbaik (yang teknologinya belum dimengerti manusia sekarang) dimana limbah nuklir menjadi momok menakutkan.

    kita ketahui teknologi nuklir oleh manusis moderen baru diketemukan tahun 1940an, (belum ada 100 tahun).
    bagaimana mungin manusia pra sejarah melakukan itu?
    yang lebih mengherankan usianya 2 milyar tahun mas/ mbak.
    peradapan manusia diperkirakan baru berusia antara 6-5 ribu tahun.
    bandingkan ribu tahun dengan milyar tahun???
    2 milyar tahun yang lalu jangankan manusia, dinosaurus juga belum ada mas/ mbak.

    terus siapa yang membuat reaktor nuklir tersebut?
    apakah ada jenis manusia yang berbeda dengan manusia sekarang?
    adanya adam sebelum adam yamg kita kenal sebagai nabi pertama?

    mbak dan mas,
    tolong beritahu jawabnya secara ilmiah…
    jujur hal itu membingungkan,
    terimakasih…

    Fredi berkata:
    29 Mei 2009 pukul 10:48

    Sangat menarik..suatu pemaparan dengan mengetengahkan dalil yg relevan, perlu diingat bahwa suatu pembuktian tidak bertentangan dengan Al Quran dan As Sunnah……,

    dinna berkata:
    10 Juli 2009 pukul 09:23

    gimana proses alamiahnya ya? lagian jika di tahunkan tahun berapa yang lalu . eh sejuta semilyart dst aku jadi bingaung ngung ngung

    JS berkata:
    3 Agustus 2009 pukul 09:26

    Yang namanya manusia Nabi Adam lah yang pertama yang ada didunia ini, tetapi mahluk yang mirip dengan manusia sudah ada sebelum Adam. Mahluk sebelum adam ini lebih jelek dari pada manusia, mahluk ini dimusnahkan keseluruhan (bukan kiamat).
    Mengapa kita tidak mempelajari mahluk sebelum adam, karena apabila kita pelajari maka kita mundur kebelakang. Jadi hal itu diabaikan saja.

    Uwie berkata:
    9 Agustus 2009 pukul 23:02

    “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan . Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu” An Nissa : 1
    Cukup menjelaskan bahwa ADAM MANUSIA PERTAMA

    abu hanif berkata:
    13 Agustus 2009 pukul 12:34

    —- Yusef Rafiqi itu ialah dosen di Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Siliwangi Tasikmalaya; dan pengasuh Pondok Pesantren (PP) at-Tajdid Muhammadiyah, Singaparna, Tasikmalaya. —-

    hehehehe……. Dosen di PT Islam dan Pondok Pesantren kok goblok alias bodoh banget ya….

      Rijal nur Rahman berkata:
      24 September 2009 pukul 15:40

      nmanya aja abu hanif tapi pikiranya sempit. tidak setuju bukan lantas menghujat.

        abdullah berkata:
        30 September 2009 pukul 22:01

        klo sya stuju niff,,,,,
        jlas2 ustdnya itu slaah,,,,
        msih d belaaa…..

        ikut aj ustd itu zal,,,,,,byar sma2 jdi aliran sesat…!!!!

    dezy berkata:
    31 Agustus 2009 pukul 12:40

    saya mw bertanya: dimanakah letak nabi adam dalam teori evolusi????, jika ada..

    didi berkata:
    6 September 2009 pukul 17:29

    terlepas dari pro-kontra atas tulisan diatas, adakah yg bisa menjelaskan posisi adam ada sesudah zaman dinosaurus atau setelahnya…..?

    jumadihasim berkata:
    15 September 2009 pukul 06:05

    sungguh membingungkan bagi orang awam seperti kami pedesaan jauh dari pencerahan para ustad yang memiliki wawasan luas semoga ada yang membiasakan beda pendapat seperti ini

    Eko berkata:
    15 September 2009 pukul 14:34

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Sebelumnya saya minta maaf jika dalam mengutarakan pendapat saya disini banyak kekurangan atau malah salah sama sekali. Terus terang selama ini saya masih penasaran tentang wacana Adam adalah manusia pertama.
    Kalau adam adalah manusia pertama. Bagaimanakah menjelaskan begitu banyak beragamnya ‘jenis’ manusia. Ada yg. kulit hitam, kulit putih, kulit kuning langsat, rambut dan mata juga begitu banyak bermacam-macam. Kalau dikatakan hal itu terjadi karena perubahan akibat pengaruh alam yang mereka tempati dan cara mereka hidup, tapi apakah kita harus menyangkal penemuan besar umat manusia abad ini, yaitu Genetika. Yang saya maksud adalah begini jika Adam dan Hawa adalah manusia pertama, dan bahkan Hawa yang jika menurut apa yang kita pahami selama ini dikatakan diciptakan dari tulang rusuk Adam, secara teori bukankah mereka berdua hanya mempunyai satu jenis keturunan Genetika. Tapi pada kenyataannya ada banyak sekali ‘jenis’ keturunan manusia yang sangat beragam. Apakah dalam Genetika Adam sudah ada ‘potensi keberagaman’ keturunan Genetika, ataukan terjadi penyimpangan Genetika, yang lazim kita sebut Mutasi Genetika. Jika Mutasi tersebut benar terjadi apakah akan sangat begitu sempurnanya sehingga melahirkan berbagai ‘jenis’ manusia yang sama sempurnanya. Apakah mungkin memang Allah menciptakan lebih dari satu manusia yang sudah sempurna satu sama lain dan juga dalam berbagai macam ‘jenis’. Akan tetapi Allah hanya memilih satu yang benar-benar utama yaitu bapak para nabi, Adam. Dan Dia mengangkat beliau sebagai khalifah di bumi, dimana Malaikat dan Iblis diperintahkan untuk tunduk kepadanya.
    Wallahualam

    Tirto Sudiro berkata:
    17 September 2009 pukul 23:25

    seorang ahli fikir yang menuangkan pemikiran dengan analisa beribu-ribu kata tidak layak untuk dihujat dengan hanya satu kata seperti bodoh, goblok atau apapun yang bernada negatif. kebiasaan seperti ini menunjukan bahwa yang bersangkutan terlalu dangkal ilmunya, terlalu sempit nalarnya, terlalu besar egonya dan terlalu naif sikapnya.

    apapun yang berkenaan dengan ciptaan Allah boleh diselidiki, termasuk manusia, bahkan jika memang perlu digali kuburnya. tidak ada larangan menganalisa tentang segala ciptaan Allah tetapi yang terlarang adalah mempertanyakan keberadaan dan zat Allah. Allah meninggikan derajat orang-orang yang menggunakan akalnya untuk menjadikannya ilmu yang berguna untuk kebaikan manusia hidup di dunia dan selamat di akhirat kelak.

    makhluk bernama manusia yang pertama mungkin saja adalah Adam tetapi sebelum itu jika ada makhluk lain penghuni bumi bisa juga itu benar. sebagai manusia yang hidup pada generasi jauh setelah penciptaan manusia yang pertama mungkin ada manfaatnya mengetahui tentang awal penciptaan manusia. manfaat yang paling utama adalah mengetahui tujuan manusia diciptakan beserta dengan tanggung jawabnya selama mengelola bumi yang menjadi amanah Allah.

    kita yang tidak mendalami tentang antropologi tentu bisa mengambil manfaat dari penyelidikan dan pemikiran mereka. bahkan jika teori evolusi itupun salah tentu kita bisa belajar tentang salahnya dan mencari teori yang benar mengenainya.

    saya percaya bahwa pemikir dan penulis artikel ini tidak berniat mengacaukan pemahaman tentang adam sebagai makhluk ciptaan Allah pertama yang disebut sebagai manusia. kita simak saja semua apa yang disampaikan kemudian kita cari pembanding sebagai second opinion lalu kita ambil kesimpulan mengenai apa yang kita pahami mengenai perbedaan pendapat tersebut. pemahaman kitalah yang akan menjadi barometer kualitas diri kita.

    jika kita hanya mengiyakan segala sesuatu tanpa mengkritisi itupun tidak baik. tetapi menghujat tanpa menganalisa dan membandingkan dengan pendapat lain adalah kebodohan yang nyata. jadilah manusia keturunan Adam yang cerdas yang bisa menggunakan kelebihan otaknya untuk berbicara yang santun bukan sebaliknya.

    terima kasih

    Rijal nur Rahman berkata:
    24 September 2009 pukul 15:36

    ada pemikiran yang berbeda dan aneh bukanlah sesuatu hal yang buruk dan hina. saya menyesalkan banyak orang yang berkomentar yang menghujat. kita harus menghargai pemikiran seseorang demi menemukan kebenaran. buku di balas buku. artikel di balas artikel, penelitianpun di balas penelitian. jangan sampai artikel di balas dengan komenyar yang tak berdasar dan berargumen. banyak hal yang di anggap mustahil sebelumnya tapi jadi munkin di kemudian. benturan perbedaan akan menghasilkan kebenaran.

    abdullah berkata:
    30 September 2009 pukul 21:58

    mkanya jngan percaya ma teory evolusi darwin tuuuh,,,,,
    emang kmu mw d ktain manusia kera’,,,,,
    allah itu sudh mncptakan mnusia paling smprna diantra mahluknya yg laen,,,,,
    msa’ d smain ma bnatang,,,,,,
    kmu aj tuh yg jdi ktuurunan bnatang,,,,mw gx????

    yusef rafiqi berkata:
    30 September 2009 pukul 22:07

    asslm alikum,,,,,
    maaf kpd smua tman2,,,,,,
    setelah saya pelajari kmbali kitab2 dri guru saya,,,,,,
    ternyata saya salah,,,,,
    nabi adam lah mnusia pertma,,,,,tidk ad nmnya mnusia2 kera’ lagi,,,,,
    al afuuu,,,,
    terima ksih,,,
    wasslmu alikm,,,,,

      spide berkata:
      3 Oktober 2009 pukul 23:16

      ini mah si abdullah nyamar jadi yusef rafiqi…..

      hehhehehheheeehe

    S. Alam Ardamansa berkata:
    5 Oktober 2009 pukul 21:43

    Manusia Pertama yang diturunkan untuk menjadi khalifah di Bumi ialah Adam Alaihis Salam. Dan seluruh manusia Bumi adalah turunan Adam As. Hubungan Adam As., dengan Homosapiens bumi sama sekali tidak ada. Tidak ada hubungan garis keturunan. Karena Adam As. Bukan Manusia Bumi. Tetapi Adam As. diturunkan dari tempat lain di luar Bumi.
    Manusia pertama yang dicipta dalam jagad raya ini bukanlah Adam As. Sekali lagi Adam As., manusia pertamna diorbit ke Bumi menjadi Khalifah Bumi. Bukan Manusia Pertama di Jagad Raya ini.
    Teori Darwin Benar menurut pengamatan Darwin dan Paham Darwinisme. Dan itu berlaku di Bumi ini. Tetapi Nabiyullah Adam As., Bukan manusia keturunan makhluk homosapiens Bumi, sebagaimana juga disinyalir oleh Agus Mustofa., atau penulis lainnya.
    Manusia Pertama di jagad Raya tidak disebut namanya secara explisit, tetapi secara implisit keluarganya ada disebut dalam Al-Qur’an. Manusia Pertama bukan manusia bumi. Sedangkan Nabiullah Adam As. salah satu keturunannya yang ditempatkan di Bumi sebagai khalifah.
    Itulah pendapat saya. Kalau Mau tw lanjutnya kunjungi saya di http://alfalah.pobs.me
    Wassalam.

    ivan berkata:
    7 Oktober 2009 pukul 20:11

    _______________________________
    Nabi Adam as adalah Manusia Pertama

    QS. Al ‘Isrō’ 17 : 70
    dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

    1. الله menyebut seluruh umat manusia di muka bumi dengan sebutan Bani Adam.
    Ini artinya semua Manusia yang pernah ada di muka bumi, baik manusia sekarang maupun manusia zaman dulu, adalah keturunan Nabi Adam as.
    Dalam Al Quran tidak ada Informasi berapa tahun jarak antara Nabi Adam as dengan Nabi-nabi lain yang disebutkan dalam Al Quran.

    Jadi sangatlah mungkin jarak waktu antara Nabi Adam as dengan Nabi-nabi yang lain memang sangatlah lama, bukan hanya selama 10 – 20 ribu tahun.

    2.Manusia seperti kita disebut ilmuwan dengan sebutan Homo Sapiens dan berbeda dengan Homo-homo yang lain yang pernah ada, itu lah yang dimaksud الله dengan ” Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan “

    Jadi ini artinya semua Homo Sapiens yang pernah ada di muka bumi adalah Bani Adam ( Keturunan Nabi Adam as ).

    Wassalam

    Armanjo berkata:
    21 Oktober 2009 pukul 09:17

    Dalam Teori Evolusi ada yang dikenal dengan istilah “rantai yang lenyap”; jika dinyatakan Adam bukanlah manusia pertama dimuka Bumi, maka bila Teori Evolusi dan Teori Agama digabungkan, yakni awalnya Tuhan menciptakan manusia (sebelum Adam), sebagaimana yang dijelaskan dalam Teori Evolusi, mulai dari Primata hingga Homo Sapiens, namun karena sering berbuat kerusakan dimuka Bumi, maka manusia – manusia (sebelum Adam) yang sudah mencapai Level Homo Sapiens dalam pekembangan tubuh dan otaknya, dilenyapkan oleh Tuhan.
    Bukankah pada zaman purbakala menurut penelitian para ilmuan/ ahli, menyebutkan Bumi pernah hancur lebur karena ditabrak oleh Meteor, sehingga kehidupannya pun berakhir termasuk manusia (sebelum Adam).
    Kemudian berdasarkan Kitab Suci yang menerangkan mengenai penciptaan manusia/ Adam, bahwa Tuhan menciptakan kembali manusia dengan Level Homo Sapiens, sebagai Khalifah yang disebut Adam.

      ivan berkata:
      21 Oktober 2009 pukul 21:16

      Mas Armanjo, sayangnya penciptaan yang dilakukan oleh Allah swt tidak bersifat evolusi…

        yudi berkata:
        26 November 2009 pukul 11:00

        Mas Ivan, dari pengamatan saya semua penciptaan Allah swt bersifat dan mengalami evolusi…, sebut saja alam semesta, hewan, bumi , bahkan virus…. bahkan manusia kan diciptakan mulainya dari tanah.
        Tapi ini bukan maksudnya untuk menyetujui teori Darwin kalau kita berasal dari monyet. Nenek moyang kita dan nenek monyet berbeda….

    Afandi Cipto Suroso berkata:
    16 November 2009 pukul 14:28

    Ass.Wr.Wb.
    Yth, kakak2 dan Abang…kita kembali kepada isi penulisan penulis (Mas M Shodik)…

    ….Namun yang pasti, Adam bukanlah khalifah yang pertama dan bukan pula manusia pertama yang diciptakan Allah. Khalifah sebelum Adam adalah khalifah dari golongan manusia juga. Ada banyak “Adam-Adam” lain yang sebelumnya diciptakan Allah dengan fungsi yang sama, tetapi dengan sifat yang berbeda, yaitu perusak (destruktif). Allah mengganti khalifah perusak yang tanpa tatanan hukum Allah itu dengan khalifah baru yang bernama Adam dan anak keturunannya yang berlandaskan tatanan hukum Allah. Selanjutnya, proses pembelajaran untuk khalifah baru ini segera dilakukan. Dengan apa? Dengan perangkat nalar (rasional). Dengan kata lain, Adam-lah manusia rasional yang pertama…

    Dalam tulisan di atas, yang menjadi perdebatan sengit adalah…”Adam bukan manusia pertama”. Hal ini membuat kita berkelahi dan saling menghujat, ini tentunya keluar dari essensi ke ukhuwah an kita, bahwa perbedaan pendapat diantara umatKu adalah rahmat.

    Kalimat penulis”…Adam bukanlah Khalifah yang pertama”…, saya kira perlu kita dalami, berarti ada Khalifah sebelumnya, sebagai estafet pemegang kekuasaan untuk mengelola bumi.

    Dalam buku Dialog Antara Dua Kebenaran, Dr. Ir. Soekmana Soma, MSP, M.Eng. Cetakan pertama Mei 2006…

    Khalifah adalah Pemimpin penerus atau pengganti. Kata penerus atau pengganti menunjukan bahwa sebelum Adam sudah ada Khalifah sebelumnya. Artinya, Adam menggantikan generasi kepemimpinan sebelumnya. Kata bumi (fil ardli) mengindikasikan bahwa ditempat Adam berada Tuhan akan memilih seorang pimpinan, sebagai pengganti Khalifah sebelumnya.

    Dan, apakah ada kaitannya dengan pembangkangan iblis kepada Allah ? karena Allah tidak menunjuk iblis (dahulu “Jin’) sebagai Khalifah di muka bumi ?

    Apakah ke khalifah an sebelumnya di pegang oleh bangsa selain manusia ?

    Berbicara tentang ke khalifahan…saya mengajak kepada kakak2 dan Abang2…untuk menjelajahi tradisi dalam islam tentang kekhalifahan dalam dunia tasawuf.

    Comment ini tidak bermaksud mengajak kakak2 dan abang2 untuk menjadi penganut tasawuf, tetapi mencoba menggali dari berbagai aspek dan dimensi.

    Mudah2an kita menjadi umat yang satu…yang mengedepankan persatuan sebagai power untuk kemenangan langkah2 kehidupan kita…Amin.

    abi saputra berkata:
    16 November 2009 pukul 15:22

    hmmm,,,,, jd ruwet ya? tp ga pp…. pertajam akhlak,bntu sesama tnpa pandang bulu…. saling menghormati,mengasihi,menyayangi lbh utama …ok! tx

    ns berkata:
    26 November 2009 pukul 13:35

    Ketahuilah…Iman seseorang tidak dilihat dari yang besar-besar, tetapi bisa dilihat dari yang kecil=kecil…………………

    ns berkata:
    26 November 2009 pukul 13:45

    Apa ente semua sudah sudah mengamalkan apa yg telah dicontohkan Rosul SAW. Contoh: – Kalo buka sepatu/sandal yang kiri dulu apa yang kanan?
    – Kalo makan nasi di piring, dimulai dari tengah atau
    pinggir?
    – Kalo comot nasi pake 5 jari atau 3 jari?
    – Kalo sudah makan jari-jarinya di jilat kagak?
    – Kalo yang wanita, apa sudah terbiasa pake gamis kagak?
    – Kalo mo shalat suka bersiwak kagak?
    – Kalo makan lupa baca Bismillah, apa yang biasa ente
    semua baca?
    Nah kalo ente semua cinta Rosul SAW berapa banyak ente semua bershalawat per hari. Ingat! banyak hal-hal yang dianggap kecil justru bisa menyelematkan kita atau sebaliknya.

    ada berkata:
    27 November 2009 pukul 19:07

    dyapa pu nyang nulis artikel ini.. segera bertobat

    deo berkata:
    12 Desember 2009 pukul 08:22

    tuh salah

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s