Konsultasi: Suami Selingkuh & Menghamili Ceweknya

Posted on Updated on

sy usia 36 th suami 40th,sdh menikah belasan thn tp blm dikarunia anak,sy pikir suami jg fine2 aja,tp ternyata sy salah,5 bln yg lalu sy mengetahui bahwa suami selingkuh,dia terus terang dan minta maaf,sy pikir masalah selesai, tp Allah msh memberi cobaan lg pd sy,buntut dr perselingkuhan suami adalah ceweknya hamil dan tanpa sepengetahuan sy suami menikah sirih dg ceweknya itu,dia br cerita 1 bln setelah dia nikah sirih,dunia rasanya runtuh…sy tdk bs terima,sbg wanita dan istri yg sah sy merasa tdk dihargai,sy memang blm bs kasih keturunan tp dokter tdk vonis sy mandul,awalnya suami nangis2 minta maaf sm sy untuk ikhlas bs terima dipologami krn dia jg blm kenal lama sm cewek itu,dia cuma hrs bertanggung jawab krn sdh menghamilinya,akhirnya dgn paksaan dr keluarga suami jg sy mengalah krn keluarga suami jg tdk ingin sy sm suami bercerai,suami janji bahwa dia tdk akan berubah dan akan selalu pulang kerumah,tp kenyataannya sekarang berubah,krn kehamilan ceweknya semakin besar suami meminta sy untuk ikhlas lagi memperbolehkan dia membagi waktu antara sy dan ceweknya,dia minta 1 hari plng ke sy 1 hr plng ke ceweknya,krn skrg ceweknya sdh dikasih tempat tinggal sm suami sy(awalnya dia kost krn jauh dr orang tuanya dan dia belum 20 thn)sy bingung semakin hari semua semakin berubah,apa yg suami janjikan dl lambat laun berubah,suami bilang bahwa dia sayang sekali sm anak yg dikandung cewek itu,apa yg hrs sy lakukan?di satu sisi sy merasa pelan-pelan disingkirkan suami krn sy tdk bs beri dia anak dan dia lbh memikirkan dan memperhatikan ceweknya,disisi lain sy jg msh sayang sm suami,tiap shalat sy selalu minta dikasih jd org yang sabar dan ikhlas,sy rasakan skrng sy ikhlas dg cobaan yg Allah berikan pd sy tp sy tdk bs ikhlas menerima kehadiran cewek itu,apa sy bercerai aja ya?biar beban sy dan suami bs berkurang,sy beban krn sy tdk ikhlas dipoligami,suami jg merasa beban ketika berada dgn sy krn memikirkan yg hamil takut terjadi apa2,tolong bantu sy agar sy tdk ambil keputusan yg salah…krn selama ini hati sy msh berubah-rubah,kdng sy bs berdiri tegak tp kdng sy tdk bs menahan air mata kalo ingat perbuatan suami dan kenyataan yg ada skrg,terima kasih

Maaf, baru sekarang ku sempat balas email. Apakah belum terlambat bila sekarang kusampaikan saran?

blm…krn skrg kondisinya sy msh dpt kekuatan dr Allah utk bertahan….tp sy msh dlm kondisi labil kdng sy bs kuat tp kdng sy menangis meratapi nasib……

Baiklah. Aku turut berduka atas kasusmu ini. Kasus memilukan seperti ini tak jarang dikonsultasikan denganku. Dan munculnya kasus-kasus pelanggaran Undang-Undang (UU) Perkawinan seperti inilah (yakni berpoligami tanpa seizin istri terdahulu) yang membuatku mendukung upaya pemerintah untuk lebih tegas dalam memberlakukan UU Perkawinan perihal poligami. (Lihat “Poligami, Nikah Siri, dan Kawin Kontrak itu Kriminal (pelaku & pendukungnya bisa dipenjara)“.)

Dalam kasusmu, solusinya relatif lebih mudah daripada kasus serupa yang menimpa wanita yang sudah beranak dari suaminya. Bila mereka perlu mempertimbangkan kepentingan anak, dirimu mungkin cukup mempertimbangkan kepentingan diri sendiri (beserta kepentingan suami dan kepentingan si cewek yang dihamili suamimu).

Yang paling perlu kau pertimbangkan menurutku adalah manakah yang mudaratnya lebih besar antara bercerai dan tidak bercerai. Diantara mudarat itu adalah sakitnya hatimu bila tidak bercerai dan sakit hatinya suamimu bila kalian bercerai. Dari ceritamu, kutangkap kesan bahwa sakitnya hatimu lebih besar daripada sakitnya hati suamimu. Jadi, dari sudut pandang ini, lebih baik kalian bercerai. Perceraian bukanlah pilihan terburuk. (Islam menghalalkan perceraian.) Namun tentu saja, pertimbangannya mestinya bukan hanya masalah sakit hati. Perhitungkanlah juga faktor-faktor lain yang juga tergolong mudarat apabila kalian bercerai, dibandingkan dengan kemudaratan bila tidak bercerai. Pertimbangkanlah masak-masak, terutama sewaktu kau berada dalam keadaan tenang, tidak emosional.

Memang, masalah ini amat serius. Dibutuhkan pertimbangan yang matang untuk memutuskannya. Namun berhubung manusia itu penuh dengan kelemahan, aku sangat menganjurkan dirimu untuk memohon petunjuk kepada Allah melalui istikharah. (Untuk keterangan lebih rinci mengenai istikharah, silakan simak buku Istikharah Cinta. Untuk artikel konsultasi terkait, lihat Konsultasi pasca perselingkuhan.)

Demikian saranku. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmah dan hidayah-Nya kepada dirimu. Aamiin.

Iklan

50 thoughts on “Konsultasi: Suami Selingkuh & Menghamili Ceweknya

    gagahput3ra said:
    5 April 2009 pukul 17:22

    Berat ya masalahnya. 😦 Tapi si Istri harus bersyukur karena mendapat masalah besar sebelum dikarunai anak, karena kalau sudah dikaruniai anak lalu bermasalah kayak gini tentu akan bikin semuanya tambah rumit.

    Semoga masalahnya cepat selesai. 🙂

      Ripramadia said:
      9 Maret 2011 pukul 14:19

      amin Ya Rabb….

    danisa said:
    6 April 2009 pukul 12:29

    Sy turut prihatin, semoga Allah memberi anda kesabaran & keiklasan. Sy sependapat dg mas.mushodiq sebaiknya bercerai sj, yakinlah bahwa Allah akan mengganti yang lebih baik, anda didzalimi, jangan ada yg dikuatirkan selama anda selalu dekat dgn Allah, Insya Allah anda menemukan pengganti yg sholeh,setia, jujur dan mudah2an bisa segera mendapatkan keturunan setelan anad menikah lagi. Amin 3x Ya Robbal Allamin.

      poppy said:
      6 April 2009 pukul 16:10

      thanks atas suport dan doanya….

    Dogol Adi Permana said:
    6 April 2009 pukul 14:23

    Saya juga hampir saja bertindak sama dgn suami anda, tapi alhamdulilah karena saya saayng keluarga, saya tdk melakukan. memang jika dicermati gadis-gadis sekarang ini cenderung memilih pria yang memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap, tidak peduli statusnya bujang atau sudah menikah. Jadi bisa diduga suami anda itu korban dari perempuan yg saat ini dinikahinya, dgn alasan bertanggungjawab, terus sudah merenggut keperawanan, padahal belum tentu juga perempuan itu msh perawan, hanya saja sbg orang yg jauh lbh dewasa ada perasaan kasihan terhadap wanita yang sudah pernah kita zinai atau karena hubungan sex. apa lagi suami anda memang dari sananya orang baik-baik, jadi ya seperti itu keadaannya. sulit untuk lepas atau lari dari kenyataan, tapi tetap bersabarlah saya yakin pasti suami anda akan kembali, karena yang paling tau ttg suami anda hanyalah anda sendiri, ketika kenikmatan sex dari wanita kedua tadi sudah pudar lambat laun suami anda akan kembali.

      poppy said:
      6 April 2009 pukul 16:18

      thanks atas masukannya…insya allah bs buat pertimbangan sy utk menentukan langkah,krn amat sangat tdk mudah bagi sy utk ambil keputusan….

        Ripramadia said:
        9 Maret 2011 pukul 14:19

        mba poppy…
        bisa kita sharing tentang masalah ini…..?

        saya sedang menghadapi masalah seperti mba…

        :’)

        bedanya usia pernikahan saya baru 1 tahun 3 bulan mba…

        bila bisa shar….

        mba kirim nomer contak mba ke email saya ya..
        violet_angel_zen@yahoo.co.id

        thanks mba..

        salam *Ripramadia*

          Irma said:
          10 Juli 2013 pukul 00:02

          Aku juga mengalami hal yg sama setelah 7 tahun menikah dan dikaruniai 2 buah anak suami terjebak sm wanita muda yg mengaku dihamilinya…rasanya air matapun ga sanggup menetes…

      Idri said:
      3 November 2016 pukul 19:36

      Saya kurang setuju kalo pihak madunya yg disalahkan sendiri apalagi gadis itu baru 20 th, yg salah ya dua2nya, suami dan madunya. 20 thn itu masa labil masa blum tau benar dan salah. Sementara sang suami sudah dewasa dan pst bs berpikir logis seblm berbuat. Hehe. Just opinion. Saran saya tdk perlu bercerai jika masi cinta mba. Suami hny menunaikan tgg jawabnya saja beliau pst masi syg dgn mba.

    bangun.s said:
    6 April 2009 pukul 14:57

    bales aja nikah siri ama orang lain,emang enak di tinggal kawin lagi
    kalo saya digituin saya juga melakukan hal sama,kawinnnn lagi

    poppy said:
    6 April 2009 pukul 16:21

    thanks atas supportnya….

    ke2 said:
    6 April 2009 pukul 17:15

    wah kalau koment ku agak beda, ini karena pertanggung jawaban suami …. suami anda juga manusia biasa, bisa melakukan kesalahan, baik itu disengaja maupun tidak sengaja ….
    dan kadang kesalahan suami itu juga akibat (langsung maupun tak langsung) ada hubungannya dengan istri …. sehingga pada kondisi mental suami anda drop, pas si wanita tersebut bisa masuk ….

    sebagai manusia beragama … maka suami anda sudah melakukan kewajiban dengan menikahi wanita tersebut, sudah meminta maaf pada istrinya (walau terlambat … mungkin nunggu waktu yang tepat), dia sudah sesuai dengan seorang pria yang bertanggung jawab.
    Anda tidak perlu ragu untuk menerima permintaan maafnya … dan bilamana waktu terakhir dia lebih perhatian ke istri mudanya karena dalam kondisi hamil, hal itu masih suatu kewajaran, apalagi anak tersebut adalah satu2nya darah dagingnya, tentu kawatir akan terjadi apa2 ….

    kesabaran anda memang sedang diuji …. maka bia anda bisa adil terhadap diri sendiri (tidak egois), juga adil kepada madunya dan anak yang dikandungnya …. maka kebahagiaan kalian akan sempurna …. akan mendapatkan pahala yang semestinya.

    kuncinya … bila masih cinta sama suaminya, ya terimalah dia apa adanya, termasuk istri muda dan anaknya …. termasuk tidak ingin memisahkan suami dari istri mudanya maupun (dari) anaknya …

    nasi sudah menjadi bubur … karena tanggung jawablah yang bisa mengurangi dosa suamimu … atau kamu ingin meninggalkan suamimu dalam kondisi berdosa … atau bahkan bisa berupa penyesalan seumur hidupnya ….

    ya kuncinya kesabaran dan kesetiaan menerima kondisi ini …

    salam,

      M Shodiq Mustika responded:
      6 April 2009 pukul 20:04

      @ ke2
      Boleh-boleh saja mengajukan pendapat lain dan saran yang berbeda dengan saranku. Aku menghargai perbedaan. Justru perbedaan semacam inilah yang aku harapkan untuk bahan pertimbangan yang lebih matang bagi yang bersangkutan.
      Yang penting, pendapat itu disampaikan secara sopan. (Beberapa komentar dari pengunjung lain terpaksa kami hapus karena kami anggap kurang sopan.)

    rika yoesz said:
    7 April 2009 pukul 10:37

    Perselingkuhan adalah sesuatu yang ditakuti oleh perempuan. Ketidak inginan untuk dimadu adalah lahiriah yang sulit ditolerir. Aku amat sangat prihatin dengan apa yang Popi hadapi saat ini. Dan sangan memprihatinkan bila alasan perselingkuhan atau berpoligami sang suami dikarenakan Anda belum bisa memberikan keturunan. Karena seharusnya problem ini bukan hanya problem Anda semata, tapi ini adalah problem kamu berdua sebagai insan yang sudah bersumpah atas nama pernikahan.
    Ada beberapa saran atas keterterpaksaan anda menerima cobaan ini :

    1. Jangan buru-buru mengajukan perceraian, karena anda tak hanya harus mempertimbangkan hati Anda yang katanya masih mencintainya, tetapi pertimbangkanlah diri Anda secara finansial. Sudah siapkah ekonomi Anda bila nanti anda berpisah dari Suami.

    2. Perbanyak aktivitas, perkuat diri, perbanyak menjalin persahabatan dengan orang-orang yang tepat. Perlahan mulailah untuk mencari uang, agar Anda bisa menjadi personal yang benar-benar mandiri.

    3. Tetap memberikan penampilan yang sempurna di mata Suami dan dimata semua orang. Agar anda tidak dipandang sepele

    4. Jangan larut dalam kesedihan, hal ini hanya akan menambah beban derita Anda.

    5. Usahakan meringankan beban suami, fikirkanlah bahwa suami yang bermasalah adalah lahan dakwah bagi anda untuk menghimpun pahala.

    6. Bila Anda masih diperlakukan tidak adil, Anda harus bicarakan ini baik-baik dengan Suami. Bila Suami masih memperlakukan Anda tidak adil, Anda harus mengambil jurus pamungkas. Keluar dari masalah. Perceraian adalah jalan terakhir setelah Anda mempersiapkan secara matang.

    Wassalam

    Rika Yoesz

      poppy said:
      7 April 2009 pukul 19:38

      thank atas support dan saran2nya….sangat membantu sy utk bs berfikir dg tenang…thank sekali lg…

    aprillins said:
    9 April 2009 pukul 00:21

    saya sebagai laki-laki pun sedih membaca email yang di atas. saya akan beri sudut pandang saya, jika menjadi suaminya, tanpa mendramatisir dan secara jujur tanpa mengada-ada..

    pertama-tama jelas prioritas perhatian dan kasih sayang saya letakkan kepada istri saya yang sedang hamil. tetapi rasa sayang saya tetap ada kepada kedua-duanya, ada pun sesuatu yang bisa mempengaruhi saya adalah istri saya yang kedua. Bisa saja dia membujukku untuk menceraikan istri pertama, dan bisa saja saya melakukannya kalau sudah tidak cinta pada istri pertama. masalahnya saya juga punya argumen bahwa saya ingin memiliki anak, dan setelah anak itu lahir tentu saja lebih banyak lagi waktu yang harus saya luangkan kepada istri kedua sekaligus anak saya. karena istri dan terutama anak harus diperhatikan, mulai dari asi, popok, pakaian, bedak, minyak telon, dan berbagai macam peralatan lainnya. kebutuhan pun akan semakin membengkak sehingga membuat saya lebih banyak berpikir untuk membagi uang. Dari uang inilah biasanya saya timbul emosi yang jelek, seperti marah, kesal dan lainlain. Bisa saja masalah di istri kedua saya bawa-bawa ke istri pertama. Sehingga istri pertama merasa diperlakukan lebih tidak adil lagi.. dan tentunya saya juga tahu pasti tersiksa, tapi dalam kehidupan nyata hal seperti ini sulit dihindari apabila cinta sudah menipis. ujung2nya perceraian juga. tetapi saya akan menyesal menceraikan istri saya yang pertama apabila ternyata pada kehidupan setelah perceraian saya merasa kehilangan, yang berarti saya masih mencintainya dan perceraian yang telah lalu merupakan emosi sesaat saja.
    pertanyaan yang paling perlu ditinjau adalah “apakah anda sudah MENGETAHUI BETUL bahwa suami anda benar-benar cinta kepada anda atau tidak?”
    jawaban anda sangat penting dalam memutuskan untuk melanjutkan hubungan atau tidak. kalau anda tahu betul, tentunya anda bisa memilih untuk melanjutkan atau tidak. Jika sebaliknya, sebaiknya anda cari tahu dulu dengan pasti, bisa dengan cara menguji suami anda, atau dengan cara curhat. Atau apa pun yang bisa memastikannya. tetapi tentu saja dengan jalan yang baik. karena sebagai laki-laki, tentu ingin dihormati, diberi waktu berpikir, dan memutuskan.

    maaf kepanjangan, karena saya juga turut merasakan dalam penulisan ini. meski pun saya bukan laki2 yang baik, tetapi paling tidak saya berusaha jujur.

    Terima kasih 🙂

      poppy said:
      9 April 2009 pukul 17:57

      thanks atas opininya….

    fitri said:
    9 April 2009 pukul 14:07

    aduh kalo saya mba mending saya pisah aja…
    daripada saya menanggung sakit hati yang berlarut2,,
    kecuali kita berbuat salah (selingkuh,dll) kita bisa maklum dia nikah lagi….tapi kalo kita belum dikasih keturunan itu kan bukan kesalahan kita…itu ada yang mengatur sekaligus juga sebagai cobaan buat kalian berdua tapi apa ???dia tidak sanggup dan mencari jalan pintas…jadi menikah itu komitmen berdua setia selamanya,kalo dia sudah merusak kesetiaan itu sudah melanggar komitmen,,,,,disini saya ingin tanya apakah suami anda menghamili wanita lain itu untuk memperolaeh anak???atau dia memang tergoda perempuan lain???
    kita semua bisa jawab ,,kalo memang masalahnya anak kenapa tidak adopsi saja,,jangan jauh2 ke panti asuhan, anak sodara aja atau anak tetangga yang kira2 kurang mampu,,itu saran saya kalo masalahnya adalah ketidak hadirannya momomngan,,,bukan berarti dia harus berzinah dengan wanita lain dan menodai komitmen suci anda berdua ….
    semoga memberi manfaat dan semoga cepat selesai masalahnya……..

      poppy said:
      9 April 2009 pukul 18:00

      ok thanks atas suportnya…

    Agung Tectona said:
    10 April 2009 pukul 21:48

    Mbak Poppy… anda harus tegar!!! (Walaupun mudah diucapkan namun berat dijalankan). Ingatlah semua cobaan itu datangnya dari Allah SWT, maka kembalikan semua itu /pasrahkan kepada Allah SWT. Allah SWT akan meninggikan derajat bg mereka yang bersabar. Ini mengingatkan kejadian yang terjadi pd tante aku. (Bukannya aku membuka aib, tp sbg bahan renungan)dimana sang suami jg berselingkuh, namun tante tetap menghormati sang om sbg suami, ayah dr anak2nya, bahkan tetap melindungi sang om didepan anak2nya yg protes krn kelakuan ayahnya. hal ini berlangsung bertahun-tahun. Hingga tante diberi kesempatan berhaji sendirian dan di baitullah bermunajat demi berubahnya sang suami. Dan Alhamdulillah sepulang dari haji, sang suami pun berubah dan bahkan sekarang sang suami tak pernah meninggalkan sholat 5 waktunya.

    poppy said:
    11 April 2009 pukul 18:05

    thanks atas suportnya…

    linda said:
    14 April 2009 pukul 16:06

    semua lelaki sama,
    suamiku juga kaya gitu, wanita itu yang telepon aku kalo dia udah nikah dan hamil 5 bulan katanya suamiku mau cerein dia kalau dia itu udah lahir (mau cari ribut nieh) dia bilang juga kalau suamiku lebih sayang aku daripada dia(kasian de lu) Akhirnya ya udah aku suruh suamiku pilih dia atau aku, suamiku pilih aku dan aku terima dia kembali dengan catatan kalau ternyata nyakitin dan bohongin aku lagi ngk ada maaf lagi deh, sampai wanita itu lahir dan setelah anaknya 2 bulan anak itu meninggal suamiku selalu ditelepon suruh datang karena janjinya ama aku dia ngk mau nemuin wanita itu lagi dia ngk pernah menemui atau menafkahi wanita itu, aku bersyukur sekali kepada allah karena telah mengabulkan doaku agar suamiku kembali,

    kalau bisa dikau lebih perbanyak solat malam memintalah petunjuk padanya jalan yang terbaik , aku juga dulu selalu berdoa ya allah kalau memang perceraiin itu yang terbaik permudahlah jalannya, tapi kalau m emang perceraiin bukan yang terbaik buat lah dia berubah alhamduliilah allah mendengar doaku padahal waktu itu ada hasrat hati ini untuk membalasnya dengan pacaran lagi tapi allhamdullilah allah tunjukan saya jalan yg benar.

    yah kalau bisa si

      poppy said:
      14 April 2009 pukul 18:11

      thanks udh mau sharing…aq jg pengen berakhir sprti yg km alami…walaupun berat tp sampai skrng aq msh bertahan dan alhamdulillah aq msh diberi kekuatan oleh Allah…thanks atas sarannya ya….

    Paijo said:
    15 April 2009 pukul 23:00

    Aku turut beri komentar. Sedikit aja kasih masukan. Smoga mbak Poppy kuat ya, yang sabar dan terus berdoa. Di keluarga besar saya ada beberapa pasangan yang belum dikaruniai keturunan, termasuk saya (hampir 40 th), sampai saat ini mereka tetap rukun-rukun aja tuh. Mereka mengadopsi anak dari sodara-sodaranya, dan saya pun tanpa dinyana juga diberi amanah untuk mengasuh salah satu anak dari sodara lainnya juga (anakku tuh skr dah hampir 4 tahun). Semua datangnya semata dari Allah semata. Jadi menurut saya, untuk berpisah dengan suami, pikirkan dulu masak-masak. Sudahkah mbak siap secara mental maupun secara material. Mungkin dengan hadirnya anak (dari istri muda), nantinya akan membuat mbak Poppy menyusul akan hamil dan punya anak (siapa tahu, Allah kan maha kuasa) toh dari hasil pemeriksaan dokter yang mbak ceritakan semuanya tidak ada masalah, dan sampai sekarang masih tetap berhubungan suami-istri to. Tapi memang berat ini masalahnya, dari banyak yang kasih masukan dan saran mbak bisa ambil keputusan yang tepat buat mbak (untuk saat sekarang dan selanjutnya). thanks.

      poppy said:
      17 April 2009 pukul 20:10

      thanks atas suportnya….

    nico said:
    18 April 2009 pukul 08:56

    anda punya kesibukan?… bekerja? Ok, sibukkan diri anda dgn aktivitas anda, lebih bagus kalo anda bekerja, buat diri anda mandiri, hilangkan ketergantungan pd suami, dari sini ada 2 hal yg akan anda dapat, tekanan jiwa anda berkurang dan anda bisa lebih tenang memutuskan suatu keputusan. Untuk kasus anda ini kemungkinan besar cuman waktu yg dapat menyelesaikan, sebab menyangkut perasaan yg sakit, namun utk melewati hari2 yg terasa sesak ini, mungkin tip’s diatas bisa dicoba.

    poppy said:
    19 April 2009 pukul 16:22

    thanks atas saranya….

    lizz said:
    21 April 2009 pukul 20:46

    kisah ini membuat sya lbh terbuka dan berpikir,andai sy berada di posisi pacarnya…saya akn merasa bersalah sekali seumur hidup…,sya akn bljr ikhlas menerima keadaanya ini…sya harus mengmbalikn yg bkn hak sya.

    poppy said:
    22 April 2009 pukul 15:17

    thanks…mudah2an Tuhan membuka hatinya dan akan bersikap sprti anda….

    Sagita said:
    4 Juni 2009 pukul 00:28

    Hai! bgaima kbarY skrg? Ap udh baikn. Aq prnah alami spt anda sthun lalu cuma bedaY q udh py anak skrg umr 3th
    umur cwe yg dnikah siri suamiku jg 20th suamiku tjbak oleh cwe tsb krn mengaku hamil, pdhal dia adlh pcar tman suamiku (mski mgkn suamiku prnh mlakukn hb intim dgY) Tp ujung2Y dia cm mau harta suamiku. Suamiku smpai jarang kasih blja, dg alsan orderan sepi. Smpai smua yg km py habis djual satu per satu smua demi kbtuhan cweY.
    stlah prslingkuhn suamiku trbgkar blkgan aq thu kl dy jg kena “magic” anda boleh tdak prcya, masa jaman internet msih prcya dkun:-D
    tp skrg suamiku udh smbuh dan lupa dg cwe yg porotin dia. Aq beri dia ksmpatan 1x. Mski sakit hati tp aq ajak dia utk kmbali k kami agar klrg in bhagia spt dulu. Alhamdulillah skrg dia kmbali mjadi suami yg btgung jwb. Mdah2n anda jg mdpat jalan trbaik. Mintalah ptjk pada yg Maha Kuasa

      Rini Endah said:
      23 Oktober 2012 pukul 12:35

      mba Sagita, bolehkah kita sharing?
      masalahmu mirip dg masalahku, tp aku kadang bingung mesti sharing sama siapa. karena menurut aku ini aib

    yoso said:
    4 Juni 2009 pukul 15:16

    maaf mau ikut komentar nih ,kalau menurut saya mah 2 2 nya salah.saya punya kawan juga seperti itu bahkan saya punya saudara ipar seperti itu juga.walaupun 2 2 nya sudah di bilangin tetap aja ngga peduli yang penting dapat menyalurkan nafsunya yang lain mah ngga di pikirin.

    AsRa said:
    7 Juni 2009 pukul 15:14

    Maaf ikut nimbrung…
    Ya…menurut sy,coba mbak pikirkan semuaN dgn masak2,pikirkan dampak positif_maupun negatif dari jalan yang akan mba ambil…
    Jauhkan emosi…
    Agar lebih tenang,coba mba shalat malam,mohon pertolongan dari-Nya…
    Yakinlah,ALLAH tidak pernah terpejam walau sedetik,ALLAH akan menolong hamba2-Nya yang ingat pada-Nya,dan hamba2-Nya yang sedang dalam kesusahan…
    Walau ini berat,saya ingin memotivasi anda,”Jangan biarkan orang yang anda anggap tidak penting,menguasai pikiran anda (wanita itu) karena ada hal yang lebih penting lagi,untuk anda pikirkan”…:-)

    edy yusuf said:
    20 Agustus 2009 pukul 10:44

    hidup memang penuh misteri, penuh ujian dan cobaan. Firman Tuhan jauh2 sdh mengingatkan bhw pasanganmu (istri2/suami2mu), anak2mu, dan hartamu adalah fitnah (ujian dan cobaan). Tuhan kini sdg menunggu apa kita semua lulus ujian itu. ujian untuk tetap konsisten dalam kebaikan meski sdg dirundung kemalangan. konsisten, tetap berbuat terbaik meski sdg berada dlm kemarahan menjadi indikator lulusnya ujian. jadi jk anda memutuskan cerai landasilah dg niat baik. namun jk anda mau coba mempertahankan keutuhan rmh tangga, dan mampu merubah situasi pahit itu menjadi indah, wah… tentu Tuhan sangat bangga dan telah menyiapkan hadiah istimewa dunia akhirat. tapi tentu itu tdk mdh. so it depends on you your self. doaku smg Tuhan memberkati anda. amen…
    sy jg mohon doa, krn sy sdh lebih lima thn ini jg menderita akibat situasi rmh tangga. sy jg sdg konsultasi sm ustad Shodiq, tp blm ada balasan. smg segera dapat balasan. maaf numpang pesan nih…

    salam,
    eddy ysf

    anom said:
    31 Agustus 2009 pukul 18:50

    wah kasihan ya saya turut prihatin…

    Doddy S Yunus said:
    18 September 2009 pukul 08:06

    Hidup itu kadang tidak ada pilihan, mbak … kadang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Sebaliknya, buruk menurut kita malah mungkin baik untuk Allah. Sebenarnya, hidup ini hanya untuk mengabdi pada-Nya, karena kita hanya milik-Nya. Suami & anak adalah cobaan. Jadi kuat-kuat aja menghadapi cobaan.

    Dibalik kondisi tsb, mengandung banyak hikmah kalo mbak mau berfikir positif. mau kita selalu sempurna, mau kita … seorang suami hanya milik sendiri, padahal “pada dasarnya” kita tidak memiliki apapun didunia ini (esesinya demikian).

    Allah punya kehendak, terlepas suami itu salah atau benar … tapi takdir berkata bahwa suami anda telah beristri anda dan dia. Artinya, biarkan itu menjadi urusan suami dihadapan-Nya, dan …
    saranku “jadilah yang terbaik untuk suami” dihadapan-Nya.

    Keikhlasanmu menerima suami berpoligami telah mengantarmu ke surga. Itu tiketmu, tapi tidak untuk suamimu. Sehingga kalo boleh aku sampaikan kesemua orang yang “benci pada poligami” …

    Sebenarnya istri harus kasihan pada suami … karena berat lo berpoligami itu, semua harus adil. Tidak adil berarti neraka buat suami. Istri mengabdi pada suami, sudah jaminan masuk surga.

    Bicara perasaan, berat beban perasaan mbak … tidak sebanding dengan nikmatnya surga. Jadi, hematku : pilihlah surga dari pada hanya “merasa memiliki” yang sebenarnya tidak pernah kita punya.

    Moga bermanfaat, buat mbak dan semua wanita yang dipoligami

      indra said:
      20 April 2015 pukul 10:58

      Pernyataan “pilihlah surga dari pada hanya “merasa memiliki” yang sebenarnya tidak pernah kita punya”
      sungguh menyentuh hati saya yang sedang mengalami cobaan suami selingkuh hingga ingin menikahi selingkuhannya karena merasa harus bertanggung jawab terhadap wanita itu.
      Sakit hati yang tak tak pernah terbayangkan, saat ini saya masih bingung harus bercerai atau menerima suami berpoligami

    Kemprut said:
    24 Oktober 2009 pukul 10:22

    M Shodiq mengatakan mendukung UU Pemerintah yg melarang nikah lagi, apakah M Shodiq tidak pernah membaca Surat A’Nisa……?, Laki-laki boleh menikah lebih dari satu kali apabila mampu berlaku adil, sedangkan UU sudah jelas sangat bertentangan dengan Al’Quran dan Hdist.

      tiara said:
      19 Juli 2012 pukul 15:52

      kita sebagai muslim mau ga mau musti mengakui kodrat masing2. laki2 boleh menikah sampe 4 kali asal adil sedang wanita udah kodratnya juga bisa berbagi. ide monogami skrg ini bikin kehidupan sosial kacau balau aja. ahli baratpun udah menyatakan ide monogami hanya akan bikin pria semakin mencari seks diluar rumah. kata ahli pria yg benar2 setia itu sedikit banget, yg berani selingkuh itu persentasenya 65%, sisanya kucing2an deh alias jajan.

      om saya berpoligami dengan punya 2 istri. saat itu perang dingin aja antara istri tua dan muda. tapi setelah om saya wafat, anehnya kedua istri ini malah akrab dan saling bahu membahu mengurus keluarga. kesimpulan saya, perang dingin dahulu cuma karna salah satu pihak merasa lebih memiliki dan memperturutkan sakit hati dan gengsi saja. padahal aslinya mereka baik2 aja karna memang sang suami brusaha adil buat keduanya. buktinya sekarang malah akrab gitu.

      saya pun baru saja putus dengan pacar saya yg suami orang. saya baru tau kalo dia sudah menikah 3 bulan setelah jalan. pacar saya memohon agar saya tak meninggalkan dia. makanya saya bertahan walau sering putus sambung. pacar saya slalu blg ingin poligami walau saya blg saya takut dihujat masyarakat. saya slalu sedih setelah mutusin dia karna saya lihat dia terlihat tertekan. dia juga ga punya anak sama istrinya. tapi hubungan kami masih normal ga ada seks didalamnya. saya ga tau musti gimana jika dia minta balik lagi, balikan lagi atau gimana.

    teratai said:
    17 Desember 2009 pukul 15:17

    ikutan ya,
    sedih banget dengernya….aku jd dendam sama suami mu..hehehh…aku paling benci lihat suami macam gini…selalu istri yang di salah kan…rasanya sih…pertama tuntut mereka ke pengadilan…lalu SANTET aja sister !!

    dewirasya said:
    24 Maret 2010 pukul 12:46

    sabar ya mbak… alhamdulillah mbak belum punya anak.. kl menurut saya lebih baik mbak bercerai dg suami mbak.. siapa tau ada yg lebih baik setelah ini.. allah memberi cobaan pasti ada hikmahnya.. perbanyak salat tahajud,semoga diberi petunjuk.. amiiinnn

    andriana said:
    29 Desember 2011 pukul 00:04

    YA ALLAH MBAK..CERITA MBAK MIRIP DENGAN SAYA..TAPI SAYA BARU NIKAH BBRP BULAN SAJA TAPI SUAMI SUDAH MENGHAMILI PEREMPUAN LAIN..SAKIT NYA YA ALLAH…SAYA PUN BINGUNG KENAPA SUAMI SAYA BISA SEPERTI ITU..TANPA SEPENGETAHUAN SAYA DIA JUGA MENJALIN HUB SAMA PEREMPUAN LAIN SEBELUM MENIKAH DAN SETELAH MENIKAH JUGA MASIH MENJALIN HUB AHIRNYA PEREMPUAN ITU HAMIL ..YA ALLAH SUNGGUH SAKIT MBAK..TAPI HANYA DOA DAN TAWAKAL SAJA MBAK MEMOHON SAMA ALLAH DI KASIH JALAN YG TERBAIK AMIN..SEMOGA MBAK JUGA DI KASIH KETABAHAN HATI DAN RIDHONYA AMIN

      Elsa said:
      10 Juli 2016 pukul 03:42

      Maaf mb, koq kisah mb mirip kisah saat ini. Bisa shering sikap apa yg mb ambil atas mslh ini,??

    dwi said:
    16 Agustus 2012 pukul 12:21

    Saya perempuan berusia 28 tahun dan sdh mempunyai anak 1. Sy menikah dg seorang lelaki pd tahun 2009 dan alhamdulillah selang sebulan sy lgsg hamil. Namun ternyata disaat sy hamil, suami saya selingkuh dengan teman kantornya yang sebenarnya tahu status suami saya. Sampai akhirnya saya tahu dan suami berjanji tidak mengulangi lg. Saya pikir suami saya benar-benar menyesal, Tapi ternyata tanpa sepengetahuan saya, suami saya dan selingkuhannya masih berhubungan bahkan sampai anak saya lahir. Sampai akhirnya pada awal 2012 saya tahu kalau selingkuhan suami saya sudah hamil 6 bulan. Betapa hancur hati saya. Saya tdk tahu harus berbuat apa. Keluarga sy hanya meminta saya untuk bersabar dan menunggu anak itu lahir namun ternyata sampai anak itu lahir tidak ada keputusan apapun yang diambil suami saya. Hingga akhirnya mereka menikah dengan alasan agar anak itu sah. Namun saya tidak mengizinkan suami saya menikah lagi dan suami saya menikah dengan perempuan itu dengan status single. Suami saya sangat menyesal dengan apa yang sudah terjadi namun dia terpaksa menikahi perempuan itu. Suami saya slalu meyakinkan saya kalau dia sudah tidak mencintai perempuan itu dan ingin smuanya segera berakhir. Tetapi dia tidak berani mengambil keputusan untuk menceraikan perempuan itu karena perempuan itu slalu mengancam akan bunuh diri. Saya pernah meminta cerai pada suami saya namun suami saya tidak mau menceraikan saya. Kami masih ingin mempertahankan rumah tangga kami. Tetapi kami ingin agar perempuan itu pergi dari kehidupan kami. Saya mau merawat anak dari perempuan itu kalau perempuan itu mau meninggalkan suami saya. Apa yang harus saya lakukan? Disatu sisi saya masih ingin mempertahankan rumah tangga saya karena anak. Tapi terkadang saya lelah dengan sikap suami saya yang tidak tegas. Bagaimana menghadapi perempuan itu dan bagaimana caranya agar perempuan itu bisa meninggalkan suami saya? Apa pernikahan mereka sah? Karena setahu saya tanpa izin istri pertama dan izin pengadilan agama, suami saya tidak Ƅîșȃ poligami dan pernikahan tersebut tidak sah menurut hukum dan bisa dibatalkan. Mohon bantuannya agar semuanya bisa selesai. Terima kasih…

    dwi said:
    16 Agustus 2012 pukul 12:37

    Cerita mba poppy hampir sama dengan saya. Saya perempuan berusia 28 tahun dan sdh mempunyai anak 1. Sy menikah dg seorang lelaki pd tahun 2009 dan alhamdulillah selang sebulan sy lgsg hamil. Namun ternyata disaat sy hamil, suami saya selingkuh dengan teman kantornya yang sebenarnya tahu status suami saya. Sampai akhirnya saya tahu dan suami berjanji tidak mengulangi lg. Saya pikir suami saya benar-benar menyesal, Tapi ternyata tanpa sepengetahuan saya, suami saya dan selingkuhannya masih berhubungan bahkan sampai anak saya lahir. Sampai akhirnya pada awal 2012 saya tahu kalau selingkuhan suami saya sudah hamil 6 bulan. Betapa hancur hati saya. Saya tdk tahu harus berbuat apa. Keluarga sy hanya meminta saya untuk bersabar dan menunggu anak itu lahir namun ternyata sampai anak itu lahir tidak ada keputusan apapun yang diambil suami saya. Hingga akhirnya mereka menikah dengan alasan agar anak itu sah. Namun saya tidak mengizinkan suami saya menikah lagi dan suami saya menikah dengan perempuan itu dengan status single. Suami saya sangat menyesal dengan apa yang sudah terjadi namun dia terpaksa menikahi perempuan itu. Suami saya slalu meyakinkan saya kalau dia sudah tidak mencintai perempuan itu dan ingin smuanya segera berakhir. Tetapi dia tidak berani mengambil keputusan untuk menceraikan perempuan itu karena perempuan itu slalu mengancam akan bunuh diri. Saya pernah meminta cerai pada suami saya namun suami saya tidak mau menceraikan saya. Kami masih ingin mempertahankan rumah tangga kami. Tetapi kami ingin agar perempuan itu pergi dari kehidupan kami. Saya mau merawat anak dari perempuan itu kalau perempuan itu mau meninggalkan suami saya. Apa yang harus saya lakukan? Disatu sisi saya masih ingin mempertahankan rumah tangga saya karena anak. Tapi terkadang saya lelah dengan sikap suami saya yang tidak tegas. Bagaimana menghadapi perempuan itu dan bagaimana caranya agar perempuan itu bisa meninggalkan suami saya? Apa pernikahan mereka sah? Karena setahu saya tanpa izin istri pertama dan izin pengadilan agama, suami saya tidak Ƅîșȃ poligami dan pernikahan tersebut tidak sah menurut hukum dan bisa dibatalkan. Mohon bantuannya agar semuanya bisa selesai. Terima kasih…

      Idri said:
      3 November 2016 pukul 20:00

      Ya wajar cwe itu mau bunuh diri mba, dia kan sudah punya anak. Mana mgkn dia mau anaknya diambil. Klo suami niat ceraiin perempuan itu suru ceraikan saja mba. Kalo saya jd mba suami uda sy tinggalin. Drpd skt hati. Hehe. Just opinion

    bella said:
    16 Desember 2014 pukul 11:46

    mbak sy minta email anda. sy mau sharing. sy bingung tdk tahu harus cerita aib ini kpd siapa. br td mlm sy tau suami sy menghamili wanita lain. mohon di balas segera k email sy mbak. mohon dg sangat

      Ari said:
      17 Desember 2014 pukul 10:37

      Mbk Bella saya pengen sharing jg, bisa kirimkan no kontak atau email ke arisond@yahoo.com, Tks

    nani said:
    22 Oktober 2015 pukul 15:03

    Mbak poppy saya sekarang sedang mengalami seperti yg mbk alami umur saya 23th … dmna saya harus menghubungi mbk poppy

    Nauraf said:
    13 Desember 2015 pukul 07:24

    Mba saya mnta email anda ,,,saya kpengen sharring,bisa tlg kirim no.wa atau line,,,,email kmari ya mba mamahnauraf@yahoo.com,thx

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s