Bila cewekmu bicara: “Mending aku mati aja deh, biar kamu tenang”

Posted on Updated on

Cewek suka bicara secara dramatis. Seringkali cewek mendramatisir cerita mereka. Sebenarnya… ya itulah yang disebut berbicara dengan perasaan. Cewek suka melebihkan sesuatu sesuai dengan perasaan yang ada. [Diantara cowok, ada pula yang suka bicara dramatis, terutama yang bertipe romantis. (Lihat Ciri Khas Sifat Romantis.) Bila cewekmu berkepribadian romantis, maka dia bisa dramatis buangeettt.] So…. gak heran dech kalo ada cewek mengatakan “dunia mau menelanku”, or “aku rasanya mau mati ajha”.

Terkadang cowok menanggapi hal itu dengan serius, bahkan menyangka si cewek mo bunuh diri. So, mereka [para cowok] berikan solusi-solusi [yang tak diminta oleh cewek] yang pada akhirnya [malah] menimbulkan pertengkaran. Ini karena biasanya cewek gak mau dikasih solusi lagi, cuma mau didengerin, kecuali kalo eamg dia minta saran. [Lihat “10 Kiat Menjadi Pendengar Yang Baik“.]

Jadi, dengerin ajha keluhan-keluhan cewek dan kalimat-kalimat [dramatis] yang bagi cowok terasa berlebihan itu. (Emang gitu sih pengungkapan dari apa yang cewek rasakan.) Lalu berikan spirit di akhir curhat mereka. Umpamanya: “Dan sekarang kamu terlihat segar. Tak kulihat tanda-tanda dunia mau menelanmu. Apakah mataku yang buta ataukah kamu yang memang pandai menata qalbu?” Yakin dech… pasti cewek akan menganggap kamu ini hero buat dia, cieee…. [Lihat “Cara Jitu ‘tuk Bikin Wanita Tergila-gila“.]

————
Artikel di atas merupakan kutipan dari buku M Shodiq Mustika & Krisnina Rihardini, Taaruf Forever, Cetakan Ketiga (Juni 2008), hlm. 79-80.

Iklan

9 thoughts on “Bila cewekmu bicara: “Mending aku mati aja deh, biar kamu tenang”

    ord1n4ryp3opl3 said:
    8 April 2009 pukul 08:15

    hummmm,,,,

    bi,, kadang qu suka ngerasa gimana gitu kalo liat ato denger ada cwe yang istilah jaman sekarang na mah lalebay gitu lah…

    knpa ya,, qo kayakna teh banyak cwe yang belom bisa berfikir pake logika?? kalo aqu perhatiin temen2 qu banyak yang terlalu pake hati nyampe nangis2 cuma gara2 cwo nya.. padahal belom tentu tu cwo bakal jadi suami na.. seolah2 menghamba ke cwo nya sendiri.. padahal kan yang aqu tau kita tu jangan punya perasaan kepada hamba-Nya melebihi perasaan kita kepada-Nya..

    itu secara gak langsung n tanpa disadari kan sama aj kaya kita melakukan syirik yang tidak disadari..

    menurut abi gimana tuh???

      M Shodiq Mustika responded:
      8 April 2009 pukul 08:49

      @ ord1n4ryp3opl3
      Seperti yang telah kusinggung di atas, mereka membutuhkan spirit/dorongan, bukan kritik/kecaman.

    eskrim said:
    8 April 2009 pukul 17:55

    wkwkwkwkwk …..
    aku juga pernah ngalami jadi cowoknya yang ngadepi kasus seperti itu…. bener2 bikin bt, kita anggap serius … eh perasaannya sebentar udah berubah lagi … wah betul2 cape deh,…..

    ehmmmm … penulis emang jeli dan tajam dalam memandang kehidupan ini ….

    maju terus pak ustadz

    salam,

      masih baikkah namaku disebut? said:
      16 April 2009 pukul 09:35

      lantas gimana cara ngadepinnya Mas?
      berhasilkah?
      atau bubarkah?
      kalo bubar, gimana cara yang cukup gak menyakitkan buat si dia?

    paperbag said:
    8 April 2009 pukul 20:24

    betul sekali bang. wah jago lihat prasaan cewek nih

    gadis said:
    9 April 2009 pukul 23:52

    hehehe… ga semua cewek seperti itu, ga semua cowok seperti ini? ada itu ada ini. bingung jadinya. jadi balik lagi ke kepribadian masing2. ^^ banyak juga cowok yg dramatisasinya parah bgt, banyak juga cewek yang gitu. Yang penting harus selalu ada tenggang rasa/toleransi. Ga ada seorangpun yang mau dianggep negatif. tidak munafik, tapi akan lebih baik kalau bisa lihat kekurangan diri sendiri. ^^

    bottobotto said:
    10 April 2009 pukul 11:39

    he he… ada juga cowok yang kayak gitu, mungkin klo cewek masih dianggap wajar.. tapi kalo cowok? kok kayakna cengeng bener..
    yah balik lagi ke individu na aja kali ya…

    masih baikkah namaku disebut? said:
    14 April 2009 pukul 17:02

    Pak Shodiq, ini Saya yang curhat itu…
    tapi koq penyelesaiannya agak membingungkan ya?
    soalnya Saya tu udah melakukan (hampir)semua yang disarankan di atas, seperti :
    1. menjadi pendengar dan pemberi saran yang baik
    2. mengalah untuk kepentingan bersama
    3. berusaha menyelami pikirannya
    4. berusaha mengerti apa yang dimau
    5. sampe pusing sendiri saya menjabarkannya…

    dan sekarang Saya kasih dia “ultimatum”, kalo sampe 2 bulan ini kita gak ada perbaikan, apa boleh buat…
    “walaupun kita masih sama2 sayang, tapi mempertahankan sesuatu hal yang menuju kehancuran adalah perbuatan sia2″…
    artinya “KITA BUBAR…”
    dia langsung nangis2 Pak…

    dia janji (untuk kesekian kalinya) akan berubah, tapi saya masih ragu2…
    ada doa2 khusus gak Pak, Doa biar Dia gak terlalu cinta mati sama Saya?
    atau sekalian aja, Doa biar Dia melupakan saya…
    plis ya Pak…

      M Shodiq Mustika responded:
      14 April 2009 pukul 17:21

      @ masih baikkah namaku disebut?
      1) Mintalah dia mengirim eMail kepadaku supaya informasi yang kuterima lebih lengkap.
      2) Janji berubah tidak cukup dari satu pihak saja, tetapi kedua pihak. Kau juga perlu berubah.
      3) “ultimatum” itu bahasa laki-laki, kurang cocok untuk diterapkan pada perempuan.
      4) Kau masih kurang menerima dia apa adanya.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s