Bagaimana Mendidik Wanita

Posted on Updated on

Dalam pengamatan dan pengalamanku, yang paling membuat wanita terpikat-lekat-erat terhadap pria adalah ketika si pria “menerima apa adanya“. Artinya, si pria tidak banyak menuntut, tidak banyak mengkritik, tidak banyak mengarah-arahkan, dsb.

istri-penulis-romantis.jpgApakah istriku “tergila-gila” padaku? Wah, kalau ada yang mengatakan begitu, dia pasti marah besar. Tapi yang jelas, sebelum dia jadi istriku, dia pernah mengatakan kepadaku bahwa hanya kepada akulah dia merasa bisa menjadi diri sendiri tanpa takut akan kukritik dan juga (yang terpenting) tanpa takut akan kucampakkan. Sampai-sampai dia mengatakan bahwa kalau tidak denganku, dia tidak mau menikah. Nah, kalau itu tidak tergolong “tergila-gila”, kita menyebutnya apa? Silakan menilainya sendiri. (Aku sendiri nggak mau GR. Aku tahu bahwa bahasa perempuan itu bermakna ganda.)

Terhadap pernyataanku itu, seorang pembaca mengkritik:

maaf sebelumnya mengkritik soal menerima cewe apa adanya dengan tidak mengarah arahkannya berarti kita sebagai lelaki tidak mendidik pasangan kita dong.pantesan aja dia tergila gila lha wong dia bisa bertindak semaunya tanpa kita larang2.baca2 dong soal aqidah wanita ,wanita tuh emank dari sononya ud banyak aturannya dan yg demikian itu lebih baik buat dia.karena bisa menyelamatkannya dan mendapatkan surga ALLAH SWT.

Terhadap kritikan tersebut, jawabanku adalah sebagai berikut.

Rasulullah mengajarkan kita untuk berhati-hati dalam mengarahkan wanita. Beliau mengibaratkan bahwa wanita itu seperti tulang rusuk yang bengkok. Bila kita menyikapi wanita seperti menyikapi pria (secara “keras”), maka wanita tersebut malah “patah”. (Lihat “… Wanita dan Tulang Rusuk Pria …“)

Apakah aku tidak “mendidik” istriku? Silakan cari informasi, misalnya dari keluarga istriku. Seringkali mereka berkata, istriku terlalu taat kepadaku. (Untuk perbandingan, silakan simak artikel “Bagaimana Membuat Obyek Dakwah Senang Berubah“.)

19 thoughts on “Bagaimana Mendidik Wanita

    Andriy said:
    10 April 2009 pukul 17:20

    yg ribet tu kalo mertua dah campur tangan sementara si istri sulit untuk diarahkan.
    benar juga kata Dhani Manaf saat masih berselisih dengan Maia:
    “saya tidak akan menggubris orang yang tidak menggubris saya” (note. istri yang tidak mengindahkan suaminya)
    blom lagi kalo si istri berpenghasilan tetap/besar daripada suami
    biasanya suami cenderung “kalah” segala2nya

    great thanks to My Dad for his toughest mind and soul ^_^

      M Shodiq Mustika responded:
      10 April 2009 pukul 17:58

      @ Andriy
      Kalau aku sih lain. Menggubris tidaknya aku terhadap seseorang bukanlah lantaran orang itu menggubris aku ataukah tidak. Bila aku yakin bahwa menggubris si A merupakan kebaikan (diridhai Tuhan), aku akan menggubris dia walau dia tidak menggubrisku. Namun bila aku yakin bahwa menggubris si B merupakan keburukan, maka aku takkan menggubris dia walaupun dia menggubrisku.

    islamarket.net said:
    10 April 2009 pukul 21:16

    perempuan itu EMOISME alias orang yang lebih mendahulukan emosi daripada berpikir, kalo cowok itu PIKIRISME alias orang yang lebih mendahulukan berpikir daripada emosi

    amank said:
    11 April 2009 pukul 12:10

    kalo menurut ku memang kalo mertua ikut campur dalam masalah keluarga bakalan ribet.n menanggapi masalah A. dani n maia. itu karna mereka ga tau masalah agama aja.

    www.infobisnis-09.com said:
    11 April 2009 pukul 17:40

    Perhiasan pling indah bgi hamba Allah adl wanita salehah

    Truz bgm ya mas bsa mnilai bnar/ mengetahui dgn ssungghnya bhwa wanita tu solehah unt zaman serba instan saat ini?

      M Shodiq Mustika responded:
      11 April 2009 pukul 18:05

      @ infobisnis-09
      Supaya lebih yakin, caranya: interaksi langsung dalam waktu yang relatif lama melalui persahabatan lebih dahulu (bukan hanya ketika hendak melamar).

        Laili said:
        15 April 2009 pukul 16:36

        kalo persahabatan itu salah arah,, atau mengubah niat???
        bagaimana mengawali niat yang baik untuk mengetahui seseorang itu baik atau tidak,dan bagaimana cara persahabatan yang baik antara lawan jenis. karena ada sebagian pendapat yang bilang kalau persahabatan antar lawan jenis itu sesungguhnya semu.

    anto said:
    14 April 2009 pukul 09:33

    menurutku dalam segi rumah tangga itu terbagi tiga, 1. suami 2. istri 3 anak tidak ada hakekatnya dalam rumah tangga seorang mertua ikut campur dalam urusan rumah tangga itu tidak berhak karna rosululloh berkat jika seoarang anak (pr) sudah menikah itu jadi tanggungan nya seoarang suami jadi kesimpulannya mertua hukumnya gak wajib ikut campur dalam keluarga seoarang anak.

    menurutku masih beruntung suami dapat memberi nafkah dan bertanggung jawab kpd istri karna .jika dalam keluarga seorang istri yang bekerja penghasilanya lebih besar dari sang suami,yg penting suami sudah berusaha karna hakekat nya seorang istri itu tidak berhak tau tentang pendapatan seoparang istri .

      Laili said:
      15 April 2009 pukul 17:40

      mertua seharusnya memang tidak ikut campur dalam permasalahan rumah tangga anak. tetapi saya pernah dengar kalo wanita setelah menikah harus tunduk kepada suami, sedangkan seorang lelaki harus tunduk kepada orang tua (terutama seorang ibu). Allohu A’lam… bagaimana pun kehidupan keluarga yang akan dibina atau telah dibina tidak akan lepas dari kehidupan sosial. baik itu dengan tetangga, teman, saudara, bahkan mertuanya sendiri. menikah bukan saja menyatukan kehidupan 2 insan. tetapi 2 keluarga,,, dan tentu saja permasalahn yang dihadapi pasti lebih kompleks…

      termasuk permasalahan dalam menghadapi mertua, kalo mertuanya baik atau dalam artian mengerti apa yang harus dilakukan, maka syukur Alhamdulillah… kalau mertuanya gak ngerti, harusnya kita yang belajar lebih baik untuk bersikap… insya Alloh sama2 belajar…

        M Shodiq Mustika responded:
        15 April 2009 pukul 18:23

        @ Laili
        Begitulah mitos yang berkembang di masyarakat. Syukurlah Laili menambahkan keterangan “Allohu A’lam” (Allah lebih tahu). Mudah-mudahan ada waktu bagiku untuk memposting tulisan mengenai “ketundukan” tersebut.

      Laili said:
      15 April 2009 pukul 17:43

      mungkin moderator atau narasumber lebih mengerti atau faham tentang hal ini… bagaimana seharusnya seorang menantu, suami/istri dan mertua bersikap ???

    abi said:
    14 April 2009 pukul 15:29

    menurut saya ketika kita menikahi istri kita,(anak mertua kita)secara otomatis mereka itu orang tua kita mas, mba…orang tua yang harus kita jaga, kita puja, sama seperti kedua orang tua kita sendiri..kalaupun orang tua (mertua) ikut campur dalam rumah tangga kita, coba tolong renungkan lagi dalam2, dzikir, fikir…kaji lebih dalam mengapa mereka begitu..kalaupun mereka salah, beri mereka pengertian ttg keluarga kecil kita.Insya Allah smua akan ada jalannya…dan merekapun pasti mengerti…

    wassalam

      Laili said:
      15 April 2009 pukul 17:47

      Setuju….

    Andriy said:
    15 April 2009 pukul 13:49

    @TS :
    coba pahami kalimat pertama saya dengan lengkap

    @anto:
    saya ga mudeng tuh kata2 terakhir.

    @abi:
    senang sekali bila saya dapat langsung menunjukkan pada Anda realitanya ^_^

      Laili said:
      15 April 2009 pukul 17:46

      spertinya lebih berpengalaman sekali… bagi2 ilmunya ya…

    adefadlee said:
    17 April 2009 pukul 09:49

    Malu yang ada pada seseorang adalah indah terutama wanita, ia sebahagian akhlak, apabila malu

    sudah hilang segala-galanya terdedah, macam-macam kecurangan boleh terjadi.
    _______________________________

    Jika seorang wanita itu sifat malunya sudah hilang, artinya mutiara yang berharga pada dirinya

    sudah hilang, di waktu itu kecantikan fitrah sudah punah, kecantikan tarikan nafsu yang tersebar.
    _______________________________

    Kaum wanita tidak usah bangga dengan kecantikan karena ia hanya dicintai oleh nafsu, tidak oleh

    akal dan hati.
    _______________________________

    Jika engkau mempunyai empat isteri dan faham tabiat-tabiat mereka, artinya engkau seudah memahami

    tabiat seluruh wanita.
    _______________________________

    Antara ciri wanita solehah ialah menerima apa saja dari suami dan tidak meminta (dari suaminya)

    sekalipun haknya.
    _______________________________

    Bermadu itu indah pada seseorang lelaki. Ia ibarat minum madu, sekali-sekali tersedak juga,

    supaya dia berhati-hati. Pada wanita, ia ibarat memakan obat pahit. Karena ia menjadi obat,

    wanita bisa menerimanya.
    _______________________________

    Kalau hendak tahu bagaimana jahat dan liarnya nafsu kita. Kita lihatlah perangai dan tingkah laku

    kita, mudahkah kita kontrol diri kita dari tamak, dari seronok-seronok bergaul dengan wanita,

    mudahkah kita menerima nasihat dari orang lain, mudahkah kita memaafkan kesalahan orang, mudahkah

    kita meminta maaf, mudahkah sabar menerima ujian, mudahkah bersyukur menerima nikmat, mudahkah

    berkhidmat untuk orang dengan tiada inginkan balasan.
    _______________________________

    [Abuya Ashaari Muhammad]

    Ary Aulia said:
    7 Mei 2009 pukul 13:53

    Rasuluwloh SAW Bersabda: orang yang kuat bukanlah orang yang slalu menang berkelahi, tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat Menahan Hawa Nafsu.

    Dunia ini bagaikan pintu tetapi terkunci,dalam pintu itu syurga.Hanya Nabi Muhamad SAW lah kunci Tunggal untuk masuk ke Syurga(mengikuti jalan Rasuluwloh SAW).Mudah2han kita termasuk golongan ahli Syurga,Amin.
    Ws

    v2love said:
    20 Mei 2009 pukul 11:51

    Kalo menurut aku yg masih haus dengan ilmu,ceme itu diibaratkan dengan kayu bengkok,apabila diluruskan dengan paksa bisa bisa jadi patah,nanun kayu bengkok bisa dilurus kan dengan cara lemah lembut,sedikit demisedikit akhir nya lurus juga.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s