Rahasia Mengapa SBY Berjaya dalam Pemilu (Siapa mau ikuti jejaknya?)

Posted on Updated on

Semua quick count kemarin menunjukkan bahwa pemilu legislatif 2009 menempatkan Partai Demokrat (PD) di peringkat pertama. Semua pengamat politik mengatakan bahwa keberhasilan PD itu lantaran figur SBY sebagai tokohnya. Hal ini sudah dipahami oleh banyak orang. Namun, banyak orang belum mengerti “rahasia” mendasar (kunci sukses) mengapa SBY berjaya.

Selaku orang yang pernah belajar ilmu komunikasi, aku percaya bahwa kunci sukses SBY adalah penguasaan informasi. Hal ini dikemukakan oleh seorang Pengamat:

SBY dan Partai Demokrat-nya memang hebat dalam hal membangun opini publik dan pencitraan diri, ini berkat konsultannya yg bernama Fox Indonesia. Coba anda perhatikan, hampir semua media massa termasuk media internet “dikuasi” dalam arti pemberitaan mengenai SBY dan Partai Demokrat selalu dicitrakan baik.
Berbagai polling dan survey yang dilaksanakan berbagai lembaga dan dipublikasikan secara luas dan sporadis, juga menempatkan SBY dan partai-nya berada pada urutan teratas.

Pembentukan opini publik dan pencitraan diri melalui berbagai media sangatlah mempengaruhi pola pikir masyarakat (terutama para caloh pemilih) kebanyakan.

Siapa yang menguasai informasi, dialah yang menguasai dunia.

Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa citra baik SBY di masyarakat, yang seringkali disertai dengan citra buruk tokoh-tokoh lain. Salah satunya dikemukakan oleh DONDikr:

Pada suatu waktu yang dipilih oleh Tuhan, naek lin D dari kampus menuju terminal Tawang Alun Jember mow balik ke Lumajang tercinta.
[cuman Tuhan saksinya, dan beberapa penumpang yang gak gwa kenal]
“halah Buk… saya juga kalok tidak ada duit ini tadi yo gak ikut kampaye, 500 ribu e…lumayan…” cletuk bapak-bapak yang habis kampanye partai golkar yang keilangan sendal mahalnya sambil mengeluarkan segebok uang 5 ribuan. Gwa nggak tau bener ato nggak yang dibilang tuh orang. Tapi, pas itu emang ada kampanye dari partai golkar…
“saya mah ambil uangnya saja buk… klok entar milihnya yo demokrat saja…” bapak itu melanjutkan.
“iya…bener pak, saya juga demokrat, Pak SBY itu orang e apik. Di hujat segala macem tenang saja.” sahut salah satu ibu
“bener. Gak koyok Megawati iku, sedikit-sedikit menghujat orang, KATE DADI PEMIMPIN kok ngelek-ngelek ne wong…”sahut ibu yang lain

gwa rasa… contoh ini lebih REAL yah KENAPA DEMOKRAT akhirnya jadi MENDUDUKI posisi teratas…

Kupikir, alasan-alasan seperti itulah yang juga menjadi “rahasia” mengapa Soeharto masih dirindukan walau sudah mendapat kritikan yang habis-habisan dan mengapa tokoh reformasi yang melengserkannya (yakni Amien Rais) kurang mendapat dukungan untuk memimpin negeri ini.

Dari “rahasia” seperti itu, aku mencatat beberapa “rahasia” lain di balik itu.

1) Rakyat memilih pemimpin yang mereka pandang paling baik, bukan memilih pemimpin yang paling becus mengurus negara. Dari sudut pandang ini, aku memaklumi mengapa sebagian saudara-saudara kita (misalnya: Hizbut Tahrir Indonesia) menolak demokrasi.

2) Orang yang dipandang paling baik oleh mayoritas masyarakat Indonesia adalah yang paling sering diam. Dari sudut pandang ini, aku memaklumi mengapa PDIP memenangkan pemilu pada sepuluh tahun yang lalu, Golkar pada lima tahun yang lalu, dan Demokrat pada tahun ini.

3) Orang yang dipandang paling buruk oleh mayoritas masyarakat Indonesia adalah yang paling sering melancarkan kritik atau pernyataan yang kontroversial, yaitu yang mengundang pro-kontra. Dari sudut pandang ini, aku maklum mengapa suara partai-partai yang menghendaki perubahan kurang mendapat dukungan. Sebab, kampanye perubahan itu mesti melalui kritik dan kontroversi.

4) Mayoritas masyarakat belum bisa membedakan antara pencegahan kemunkaran (kritik terhadap kebijakan) dan pembicaraan kejelekan orang (kecaman terhadap orang). Dari sudut pandang ini, aku memaklumi mengapa kritik dan kontroversi dipandang buruk oleh banyak orang.

Secara demikian jugalah aku memaklumi mengapa sebagian pembaca situs ini tidak suka atau bahkan benci bila aku bersikap kritis (misalnya: mewaspadai kemungkinan kecurangan dalam pemilu) atau mengajukan gagasan yang dinilai kontroversial oleh sekelompok orang (misalnya: pacaran islami). Lantas, sebaiknya sikapku bagaimanakah?

Seandainya aku mengejar “nama baik” (popularitas) atau pun kekuasaan, aku akan mengikuti jejak SBY dengan lebih sering “diam” dan takkan pernah lagi melancarkan kritik atau pun kontroversi. Namun, aku teringat pada sebuah ayat (yang sangat populer di kalangan Muhammadiyah), yaitu QS. Ali ‘Imran: 104: “Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang … mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang berjaya“. (Hasbi Ash Siddieqy menafsirkan bahwa yang munkar itu adalah “segala yang dipandang tidak baik oleh syara` dan akal”.)

Selain itu, ditinjau dari ilmu komunikasi, ada kalanya kritik dan kontroversi itu sangat diperlukan. (Lihat “Kontroversi di masyarakat tidak perlukah?“) Jadi, kuharap para pembaca memaklumi diriku bila aku sesekali melancarkan kritik dan kontroversi.

Iklan

21 thoughts on “Rahasia Mengapa SBY Berjaya dalam Pemilu (Siapa mau ikuti jejaknya?)

    NTMAKSIAT said:
    11 April 2009 pukul 08:35

    Saya setuju kalau pak shodiq sebagai WNI yang baik ingin menjaga agar pemilu berlangsung jujur dan adil bahkan sangat setuju jika ingin mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat hanya saja saya sangat mengharapkan pak Shodiq pada khususnya dan semua pihak pada umumnya agar lebih bijak dalam melihat sebuah informasi dan tidak terburu2 mengeluarkan komentar atau mengutip informasi yang dengan jelas menuduh pihak tertentu dan belum ada buktinya, ingat apabila berani menuduh berarti sudah siap dengan bukti. Sesuai dengan ayat AlQuran diatas silahkan pak Shodiq mengkritisi untuk mencegah kemungkaran tapi tentu kritik yang bijaksana.

      M Shodiq Mustika responded:
      11 April 2009 pukul 09:00

      @ ntmaksiat
      Ya, aku setuju bahwa kita perlu mengkritik secara bijaksana. Cuman, aku agak menyayangkan mengapa kutipan “kasak-kusuk” yang dimaksudkan sebagai penggalian informasi malah dipandang sebagai “informasi” itu sendiri. Itu menunjukkan bahwa ntmaksiat menggunakan paradigma mekanistik, padahal aku menggunakan paradigma lain. (Sekali lagi aku sarankan, lihat paradigma-paradigma komunikasi dalam “Kontroversi di masyarakat tidak perlukah?“) Selama perbedaan sudut pandang ini tidak dipahami, pembicaraan kita hanya akan mengarah pada debat kusir.

        NTMAKSIAT said:
        11 April 2009 pukul 11:25

        Saya jadi ingat infotainment atau acara2 gosip di TV mereka menggunakan paradigma komunikasi apa ya?

    NTMAKSIAT said:
    11 April 2009 pukul 09:45

    Untuk ilmu komunikasi saya akui saya harus belajar banyak kepada pak Shodiq karena itu bukan bidang saya. Saya juga paham akan maksud pak Shodiq menulis artikel sebelumnya adalah untuk mencari informasi dari pembaca hanya saja saya menyayangkan kutipan dari KATAKAMI atau kalau boleh saya luruskan saya tidak menyukai artikel yang ditulis oleh KATAKAMI. Kalau boleh saya menyimpulkan sendiri apa yang ditulis KATAKAMI dan pak Shodiq mungkin ingin mengajak masyarakat mencermati hasil pehitungan suara, mengapa Demokrat bisa naik berkali lipat dan suara PKS juga naik adalah hal yang aneh sehingga ada indikasi kecurangan yah saya persilahkan saja itu bukti kalau anda adalah WNI yang baik tapi ada baiknya sebelum mengeluarkan artikel seperti itu* perkuat dengan bukti *=maaf saya luruskan artikel yang dikeluarkan oleh KATAKAMI saya tidak mempermasalahkan tulisan pak Shodiq sendiri di artikel tsb. Sekarang kalau boleh saya menganalisis sendiri hasil perhitungan suara (berdasarkan Quick Count) turunnya suara PDIP salah satunya disebabkan manuver politiknya ttg masalah BLT yang tadinya mengecam malah berbalik 180 derajat mengklaim kalau rakyat tidak kesulitan mendapat program BLT berkat PDIP, sebelumnya Megawati mengkritik program BLT karena tidak mendidik dan tidak manusiawi mungkin saja rakyat melihat Mega plin-plan. Menurut survey LSI kebanyakan Golput berasal dari daerah perkotaan dimana merupakan kantong suara partai2 besar dan PKS bisa saja terkena imbasnya tapi sekali lagi hasil survey LSI menunjukkan pemilih PKS adalah pemilih yang loyal terhadap partainya. Analisa saya mungkin tidak perlu didengar karena saya bukan ahli politik untuk partai lain saya sedang mengumpulkan informasi.

    AL said:
    11 April 2009 pukul 10:13

    Tambahin sama saya ya..
    Ibu dan Ayah saya milih demokrat karena takut SBY gak bakalan bisa maju capres karena peraturan sekarang hanya partai yang mendapat 20 % perwakilan yang boleh maju capres. Padahal tadinya ortu saya PKS untuk legislatif, gak jadi.
    Pak RT saya selama beberapa hari terus memuji-muji demokrat karena seumur-umur jadi RT yang lama bener (karena gak ada yang mau jadi RT di tempat saya), baru pas SBY ini dapet naik gaji yang layak. tadinya 250 ribu per bulan (pikirkan RT yang jujur betapa tidak layaknya itu) sekarang jadi 500 ribu perbulan. Hansip-hansip juga senang karena baru masa SBY ini, perlengkapan hansip–ditempat saya–itu diperbarui. Entahlah tadinya baju hansip dari kapan.
    Ibu-ibu di tempat saya semangat milih demokrat karena pada masa SBY ini dibuka TK-TK gratis, selain keuntungan bagi ibu-ibu, juga lumayan menyedot pengangguran intelektual di tempat saya. Ibu-ibu juga seneng karena sekarang sekolah gratis..tis…tis… Pinjem duit untuk modal usaha gampang.
    Rekan saya sesama guru banting setir ke SBY karena dia terkesan dengan ketegasan SBY yang suka marahin pejabat yang saat rapat tidur atau ngobrol.

    Kalau saya, bukan pemilih Demokrat. Tapi ikut senang dengan demokrat menang.

    asmar said:
    11 April 2009 pukul 11:08

    Lima tahun yang telah berlalu, kita ibaratkan sebuah film…. Tokoh utamanya, hasil pilihan rakyat, adalah Pak SBY. Sekarang sedang dibuat film baru, lanjutan dari film sebelumnya…. Pada film sebelumnya SBY sukses membuat keok ‘penjahat’, itulah sebabnya rakyat cenderung memilih SBY untuk kembali membintangi film untuk lima tahun ke depan ini…. Tapi pemilihan bintangnya belum dilakukan…. Masih ada peluang bagi tokoh lain yang berminat, asal berani dan siap berduel dengan SBY! Silahkan saja ajukan diri, toh nanti rakyat yang akan memilih….

    bagi saya, tak masalah siapa pun yang terpilih. asal kehidupan rakyat bisa lebih baik….

    NTMAKSIAT said:
    11 April 2009 pukul 11:23

    Penyebab Suara Golkar Turun di 2009 :
    Saya mengutip ucapan Akbar Tanjung mengenai turunnya suara Golkar : Partai Golkar diprediksi akan mengalami penurunan suara pada Pemilu 2009. Ini disebabkan mekanisme dan solidaritas Partai Golkar tidak berjalan dengan baik.

    Demikian dikatakan mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung kepada wartawan di Gedung DPD, Senayan, Jakarta. “Solidaritas Golkar dapat terlihat dari perbedaan antara aspirasi daerah dengan keputusan DPP. Yang mana pihak daerah menginginkan penetapan capres sebelum pemilu legislatif, sedangkan pihak DPP menginginkan penetapan capres setelah pemilu legislatif selesai,” tuturnya.

    Menurutnya, trennya akan menurun. Tapi itu tergantung apakah Golkar bisa mengubahnya dalam waktu dua bulan ini.

    Selain itu, Akbar juga menilai, hasil keputusan Rapimnas Golkar mengenai penjaringan capres usulan daerah belum dilaksanakan oleh pihak DPP. Padahal, hasil keputusan Rapimnas pada Oktober 2008 lalu memerintahkan pihak DPP untuk menginventarisir nama-nama capres usulan daerah untuk kemudian disurvei sebelum dan sesudah pemilu legislatif.

    “Sampai sekarang belum ada tanda-tanda itu (keputusan Rapimnas) dilaksanakan,” tegasnya.

    Penyebab Turunnya suara PDIP :
    Saya mengutip dari Detik Pemilu :
    Menurunnya perolehan suara PDI Perjuangan dalam Pemilu 2009, berdasarkan hasil penghitungan cepat, dibanding Pemilu 2004 sudah diprediksi. Salah satu penyebabnya karena PDIP tidak berhasil menempatkan diri sebagai partai oposisi.

    Pengamat politik Universitas Sumatera Utara (USU) Ahmad Taufan Damanik mengatakan, PDIP bisa eksis dalam Pemilu 2009 ini karena kelompok nasional masih ada, meski makin berkurang dari waktu ke waktu.

    Pendukung terbesar partai ini masih berada di Pulau Jawa, namun persentase perolehan suaranya menurun drastis. Perolehan sekitar 14 hingga 15 persen dalam Pemilu ini, tentu menurun jauh dibanding perolehan 30 persen dan 18 persen pada Pemilu 1999 dan 2004.

    “Basis utama dan sumber perolehan suara PDIP masih berada di Pulau Jawa, namun sudah diperhitungkan perolehan suara akan menurun,” kata Taufan kepada detikcom di Medan, Kamis (9/4/2009).

    Penurunan suara ini, tambah Taufan, antara lain disebabkan karena kegagalan menempatkan diri sebagai oposisi. PDI Perjuangan dinilai gagal meyakinkan publik dibanding SBY.

    “Apalagi partai ini sempat blunder, berubah pandangan mengenai Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang dijadikan salah satu strategi kampanye,” kata Taufan.

    Dengan situasi ini, maka sulit bagi PDIP untuk memajukan Megawati sebagai presiden untuk bersaing dengan SBY. Apalagi peluang SBY menjadi lebih besar dengan perolehan suara yang diperoleh Partai Demokrat.

    Ketika saya berbincang2 dengan rekan kerja saya mengenai partai apa yang dia pilih dia mengatakan saya tidak akan memilih PDIP karena waktu kampanye saya diteriaki An***g oleh simpatisan PDIP gara2 saya tidak menggunakan baju merah ketika menonton kampanye PDIP.

    Nahh semua orang bisa berpendapat mengenai hasil pemilu 2009 tapi mari kita hindari tuduhan2 yang menjurus kearah Fitnah.

    citra said:
    11 April 2009 pukul 11:47

    Hidup SBY….siapapun partai yang mengusungnya,yang pasti rakyat(tmsk sy..) banyak yg merasakan bahwa SBY bukan sekedar janji..banyak bukti yg terwujud n smua tu ga kan mungkin tcapai cm dalam wkt 5 thn,……maka tu sebaiknya harus kt lanjutkan……selamat!!..tetap rendah hati,,Insya ALLAH SBY akan menang (lagi)…Amin ya Rabb..

    doeto said:
    11 April 2009 pukul 12:47

    Betul itu, itulah realitas yang ada, jadi pemimpin itu berat tanggungjawabnya, tapi anehnya kok orang pada rebutan pingin jadi pemimpim (kekuasaan). Mudah-mudahan Indonesia selalu diberi pemimpin yang amanah. amien

    nina said:
    11 April 2009 pukul 13:42

    Mengomentari “Secara demikian jugalah aku memaklumi mengapa sebagian pembaca situs ini tidak suka atau bahkan benci bila aku bersikap kritis (misalnya: mewaspadai kemungkinan kecurangan dalam pemilu)”

    karena saya termasuk yang mengomentari tulisan tersebut, maka saya juga ingin mengklarifikasi sebenarnya saya tidak membenci sikap kritis anda, tapi “mempertanyakan” apa yang anda sampaikan dan “sertakan” dalam tulisan tersebut, karena masalahnya tulisan yang anda sertakan sebagai penguat kemasygulan anda dapat merugikan pihak-pihak yang disebutkan bukan??..

    oleh karena itu saya kutipkan salah satu kisah Aisyah Ummul Mukminin berikut ini :

    Pasukan muslimin sudah jauh meninggalkan Aisyah menuju Madinah. Aisyah tertinggal rombongan. Ia berharap mereka akan menyadari bahwa beliau tertinggal dan kembali lagi. Tapi ternyata tidak. Ia kemudian pasrah kepada Allah. Beruntung, datanglah seorang sahabat laki-laki yang menemukan beliau. Akhirnya Aisyah pulang dengan menunggangi unta sementara si sahabat lak-laki berjalan di depan.

    Tetapi di Madinah suasana tidak setenang biasanya. Ada kabar bahwa Aisyah berselingkuh. Berita ini menyebar. Orang-orang menjadi ragu. Aisyah yang sampai di Madinah tidak tahu akan berita itu sampai dua bulan kemudian. Tapi Aisyah dapat merasakan perbedaan sikap Rasulullah yang mendingin terhadap dirinya. Ia jatuh sakit. Keadaan baru menjadi “clear” setelah turun wahyu yang menyatakan Aisyah bersih tak bersalah.

    “Mereka yang datang membawa berita bohong itu
    sebenarnya dari golonganmu juga. Jangan kamu
    mengira ini suatu bencana buat kamu, tetapi
    sebaliknya, suatu kebaikan juga buat kamu. Setiap
    orang dari mereka itu akan mendapat ganjaran hukum
    atas dosa yang mereka perbuat. Dan orang yang
    mengetuai penyiarannya diantara mereka itu akan
    mendapat siksa yang berat. Mengapa orang-orang
    beriman – laki-laki dan perempuan – ketika
    mendengar berita itu, tidak berprasangka baik
    terhadap sesama mereka sendiri, dan mengatakan: ini
    adalah suatu berita bohong yang nyata sekali? Mengapa
    dalam hal ini mereka tidak membawa empat orang saksi.
    Kalau mereka tak dapat membawa saksi-saksi itu, maka
    mereka itu disisi Allah adalah orang-orang pendusta.

    Dan sekiranya bukan karena kemurahan Tuhan dan
    kasih-sayangNya juga kepadamu – di dunia dan di
    akhirat – niscaya siksa Allah yang besar akan
    menimpa kamu, karena fitnah yang kamu lakukan itu.
    Tatkala kamu menerima berita itu dari mulut ke mulut,
    dan
    kamu katakan pula dengan mulut kamu sendiri apa
    yang tidak kamu ketahui dengan pasti, dan kamu
    mengiranya hanya soal kecil saja, padahal pada
    Allah itu adalah perkara besar. Dan
    tatkala kamu mendengarnya, mengapa tidak kamu
    katakan saja:
    tidak sepatutnya kami membicarakan masalah ini.
    Maha Suci Tuhan. Ini adalah kebohongan besar. Allah
    memperingatkan kamu, jangan sekali-kali hal serupa
    itu akan terulang jika kamu memang orang-orang yang
    beriman. Allah menjelaskan keterangan-keterangan
    itu kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha
    Bijaksana. Mereka yang suka melihat tersebarnya
    perbuatan keji di kalangan orang-orang beriman,
    akan mengalami siksaan pedih di dunia dan di
    akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak
    mengetahui.” (Qur’an, 24 : 11-19)

    Dalam hubungan ini pula datangnya ketentuan hukuman
    terhadap orang yang melemparkan tuduhan buta kepada
    kaum wanita yang baik-baik.

    “Dan mereka yang melemparkan tuduhan keji kepada
    wanita-wanita yang baik-baik, lalu mereka tak
    dapat membawa empat orang saksi, maka deralah mereka
    dengan delapan puluh kali pukulan, dan jangan
    sekali-kali menerima lagi kesaksian mereka itu.
    Mereka itu adalah orang-orang yang jahat.” (Qur’an,
    24: 4)

    Inilah pelajaran berharga bagi umat Islam tentang besarnya bahaya fitnah. Karena itulah kita (dan keluarga kita) tidak hanya diperintahkan untuk menjauhi maksiat, tetapi juga menjauhi fitnah. Karena fitnah ini besar bahayanya, bukan hanya mengancam pribadi sang da’i, melainkan juga stabilitas da’wah yang diembannya.

      M Shodiq Mustika responded:
      11 April 2009 pukul 14:18

      @ nina
      Terima kasih atas nasihatnya. Dalam pandanganku, Rasulullah SAW pun difitnah lantaran dakwahnya. Namun, itu tidak menghalangi beliau untuk berdakwah, bukan?

      hmcahyo said:
      14 April 2009 pukul 13:36

      mbak yang baik… saya kira kok jangan terlalu sensitif lah.. dikit-dikit bilang fitnah..

      saya kira kita memang perlu berbesar hati… menerima kritikan … kalo anda mencontohkan Rasulullah. s.a.w … saya juga boleh dong.. nyontoh Rasulullah yang sangat keras diprotes oleh orang-orang munafik dan musyrik.. tapi beliau nggak seperti kita-kita ini yang reaktif banget kalo mendengar kritikan… (Padahal kalo kritikan yang diberikan pada Rasulullah.. oleh orang2 kafir lebih banyak gak benernya daripada benernya, sedangkan kalo kita dan kelompok kita yang dikritik padahal kadang banyak benernya kita jadi defensif… dan balas menyerang)

      kalo saya seh… selalu berlatih ketika ada yang ngritik dan dijelaskan dengan fakta2 yang nyata… saya mencoba menerimanya walaupun memang rasanya berat

      udah deh itu aja

      matur nuwun mas shodiq.com 😀

    hmcahyo said:
    14 April 2009 pukul 13:08

    lama gak kesini… setuju deh dengann yang ditulis kang shodiq 🙂

    Darojatun said:
    14 April 2009 pukul 14:13

    Capres lain mending ke laut aja, walau saya belum tentu memilih(pemilu legislatif kemaren gak ikut) tapi melihat antusiasnya masyarakat, rakyat masih menginginkan SBY. coba tanya guru-guru dan tenaga kependidikan di sekolah, pasti 90% milih SBY.
    belum lagi emak-emak, cewek-cewek. tahu kan penduduk kita lebih banyak ceweknya. 🙂 kharismanya SBY masih memikat, seolah rakyat nggak penting becus atau nggaknya SBY, yang penting SBY.

    PURWATININGSIH said:
    14 April 2009 pukul 14:46

    Saya orang kecil dan tidak tahu masalah politik tapi kalau melihat di TV setiap ada acara politik kerjaanya menghujat orang saya langsung ganti cenel mendingan melihat humornya Mas TUKUL kagak stres dan Capres lain muingkin belum saatnya untuk tampil dan dipilih sebagai seorang pemimpin nomor satu mungkin Allah berkehendak lain untuk memperbaiki diri dulu dalam hal tingkah dal laku. Allah pasti sayang sama orang orang yang tidak sombong dan berjiwa besar seperti Bapak SBY .memang Allah sudah menggariskan bahwa Bapak SBY pantas menerima hasil yang sangat baik berkat dukungan masyarakat yang menilai Bapak SBY tepat adalah figur seorang pemimpin yang banyak didamkan masyarakat indonesia .Bapak SBY lanjutkan perjuangannya rakyat akan medukung sekalai Bapaka menjadi PRESIDEN LAGI amin

    PURWATININGSIH said:
    14 April 2009 pukul 15:17

    untuk Eep Saefulah anda seorang pengamat politik apa anda sudah keblinger mengkritik di koran kompas tanggal 14 April 2009 saya nek sekali membacanya ,anda hanya bisa mengkritik saja padahal kagak becus kalau dikasih pekerjaan di Pemerintahan maka anda jangan munafiklah reformasi oky tapi jangan kebablasan asal ucap pada hal bertentangan dengan hati nurani anda dan satu untuk anda Eep saefulah sedih sekali ya anda bisa mengkritik orang lain tapi tiang rumah tangga anda yang pertama tidak bisa mempertahankan barantakan ,egoiskah anda namanya .anda harusnya bercermin dulu sebelum mengkritik orang lain. jadi anda bukan lah figur seorang pengamat yang baik .SBY ADALAH YANG PALING TEPAT UNTUK MENDUDUKI JABATAN SEORANG PRESIDEN DI PREODE BERIKUTNYA YEEEEEEEEEEEEEEEEEES
    Bapak SBY kepengin tahu dengan rasa bangga dan gembira waktu kotak suara dibuka disebut demokrat partainya saja tidak apa apa dan disebut lagi partai demokrat dan nomor sekian yeeeeeeees saya sangat lega sekali dan juga tidak salah pilih dan tidak ada paksaan darimanapun untuk memilih Bapak SBY itu suara panggilan dari hati yang bersih dan asliiiiiiiiiiiiii sekali kagak ada campuran deh amin

    […] Demokrat dalam pemilu legislatif yang lalu adalah “sedikit bicara”. (Lihat “Rahasia Mengapa SBY Berjaya dalam Pemilu“. Adapun bahwa kritik itu tidak terlalu mengkhawatirkan, silakan simak “Sikap Jitu […]

    Agus Mike Hinganaday"s said:
    29 Juni 2009 pukul 17:50

    Saya Mahasiswa UPN VETERAN Jakarta,kalau menurut saya Ibu Megawati mendingan jadi Ibu bagi bangsa Indonesia,karena zaman dulu Founding Father kita alm.Bung Karno sudah ada.,bukan kah terhormat mendapat gelar/fujian seperti ketimbang berebut kekuasaan…INGAT.No.1 Jelas bangsa kita kecewa saat beliau memimpin dulu,No.2 sudah terbukti dan teruji pada saat sekarang,No.3 masih tanda tanya??????????????????
    Siapapun kelak yang terpilih jadi Pres/Wapres mari kita belajar menghormati ini adalah suatu proses demokrasi yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara….

    budi utama said:
    6 Juli 2009 pukul 14:30

    Alhamdulillah tulisan Bapak telah menjawab banyak tanya dihati saya akan kondisi bangsa kita, dan tulisan begini memang langka dan sangat saya rindukan.
    Pengaruh media terhadap budaya bangsa pernah saya sampaikan tahun 1993 di BP7-Pusat. Terbukti intens sejak 20 tahun terakhir bangsa kita seolah digiring melalui tayangan TV dengan pola canggih pembentukan budaya bangsa yang menghasilkan masyarakat yang:
    1. apatis dan cenderung egois pikirkan diri sendiri sekalipun harus munafik dan mematikan nurani.
    2. cenderung cari selamat, merapat pada yang kuat dengan menulikan kuping dan membutakan mata.
    Budaya ini jelas bertentangan dengan sikap peduli pada sesama, sehingga sikap kritis tidak akan populis.
    Sepertinya bangsa ini rela membayar berapapun asal disuapi dengan mimpi-mimpi dan jangan diajak berpikir sulit.
    Sehingga strategy pencitraan digabung dengan survey yang menonjolkan keunggulan sangat tepat digunakan untuk memanfaatkan karakter bangsa yang sudah terbentuk sedemikian.
    Tahun 90 di forum nasional Gas Petrokimia UI saya sampaikan ke Pak Hartarto Menkoindag bahwa pemerintah tidak bertanggungjawab thd sda kita, dan usulkan sinergi pendidikan dan industri. Alhamdulillah saya tidak ditangkap padahal Pak Harto sedang kuat. Ada satu kalimat ajaib dari Rektor saat itu; “jika kamu terus seperti ini takkan bisa kamu hidup di Indonesia”.
    Peringatan itu terbukti. Walaupun selalu lulus psikotest dan selalu memberi inovasi di tempat kerja, namun selalu terjadi benturan sehingga tidak bertahan lama sampai saat ini. Rupanya ikhlas menyampaikan yang benar itu seperti tak ada ujung ya Pak Shodiq.
    Sekalipun bukan orang baik, saya sulit membuang sikap peduli, namun manfaatnya bisa dinikmati juga sekalipun tak berupa uang, antara lain:
    - Bisa kumpul makan bersama anak pengamen di by pass saat pulang kantor dan diskusi tentang kehidupan lain yang masih bisa mereka kejar dan menangkan yaitu akhirat (terharu lihat mereka mau dengar dan beli mukena buat dipakai bersama).
    - Bisa tegur aparat anggota pasukan yang sedang mengamuk dan meredakan amarahnya tanpa masalah.
    - Bisa tegur pegawai kantor lurah yang membiarkan seorang anak (4thn) menggigil kehujanan jam 2 pagi saat ibunya mencuci gelas bekas air mineral yang akan dijual besok, tanpa pegawai itu marah
    - Alhamdulillah dimanapun berada selalu diterima layaknya saudara, baik di sarang penjahat sekalipun, sehingga tak pernah merasa kesepian.
    Akhirnya bagaimanapun pola pembentukan karakter suatu bangsa, alam tetap tak bisa dibohongi, terbukti dari tsunami, bumi keluarkan lumpur, banjir, gempa, langit menghempas, dll. yang hanya bisa dianalisa oleh orang yang berpikir, yang mengharuskan setiap kita untuk koreksi diri.
    Semoga Allah memberi petunjuk jalan yang benar kepada bangsa yang sangat kita cintai ini. Amin.

      SunSave said:
      28 Juli 2009 pukul 21:47

      Setuju dg pendapat om Shodiq & Budi Utama bahwa ilmu marketing itu dapat merubah citra buruk menjadi citra bagus. Sekiranya ilmu ini dipergunakan mereka yg benar, insya Allah akan membawa berkah. Sebaliknya jika dipergunakan mereka yg sesat, akan membawa kehancuran dan membutakan mereka yg lebih suka melihat kulit daripada isi.

      Semoga Allah SWT masih berkenan menyelamatkan negeri tercinta ini dari kehancuran yg sedashyat-dashyatnya (jadi ingat pemimpin besar hanya muncul pada saat negeri ada dlm “kegelapan”). Amin ya Robbal Alamin.

    lukhi said:
    31 Juli 2009 pukul 00:27

    allah memberikan kebebasan kepada hambanya dalam memilih urusan dunia, kalau kita masih memakai kerbau atau sapi untuk membajak sawah daripada memakai mesin, apa yg bisa kita nilai…
    kalau orang lain memakai pesawat terbang untuk bepergian sementara kita masih memakai kapal laut, apa yg bisa kita rasakan…
    apa memang kita tidak mampu, tidak pantas, tidak sesuai atau memang kita tidak mau yg lebih baik…

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s