Kecurangan = budaya Indonesia?

Posted on Updated on

Nah setidaknya artikel ini tidak se”ganas” yang kemarin kalo pak Shodiq hanya mengutip berita2 dari internet yg provokatif hasilnya anda hanya mendapatkan komentar2 yang kontra saja yang niatnya bukan menginformasikan kecurangan dalam pemilu. Niatan anda ingin membongkar kecurangan2 dalam pemilu saya dukung walau saya kurang suka dengan cara anda, nah kalau kita ingin melihat kecurangan secara nasional atau ingin mengetahui siapa dalangnya saya yakin baik anda, saya maupun teman2 yg lain akan mengalami kesulitan karena saya yakin dalangnya adalah orang yang memiliki kekuasaan dan pengaruh yang cukup besar. Tapi kita lihat saja kecurangan2 di lapangan, saya kasih infonya:

1. di TPS tempat saya memilih saya tidak melihat adanya kecurangan semua berjalan bersih dan lancar hasilnya Demokrat menang Mutlak namun daerah saya juga terkena imbas dari semerawutnya DPT teman saya yang sudah milih dalam pemilu2 sebelumnya malah tidak terdaftar di DPT.

2. TPS tempat teman saya yang menjadi saksi (terletak di daerah senen) teman saya menemukan kecurangan yang dilakukan sebuah parpol. Parpol tsb melakukan serangan fajar dan mengarahkan warga yg berusia lanjut untuk memilih partai tertentu. Berita ini didapat teman saya dari warga langsung, hal ini sudah dilaporkan. Hasilnya Demokrat menang

3. Kalau anda sudah melihat berita akhir2 ini mungkin anda sudah tau kalau PKS menemukan bukti rekaman video ttg kecurangan KPPS boyolali yang membantu mencontreng surat suara ”Petugas KPPS membantu pemilih mencontreng kartu suara, padahal pemilih tersebut tidak mengalami kesulitan atau cacat apa pun sehingga tidak perlu dibantu,” ujar Ketua DPD PKS Kabupaten Boyolali Nur Arif. Hal ini juga sudah dilaporkan.

Aku memaklumi mengapa anda berkomentar seperti itu. Seperti komentar-komentar terdahulu, pola pikir anda ini sangat dipengaruhi oleh paradigma mekanistik. Boleh-boleh saja menggunakan paradigma tersebut untuk berkomunikasi, tetapi menggunakan sudut pandang ini untuk mengkritik orang lain yang menggunakan paradigma lain tidaklah pada tempatnya.

Salah satu ciri khas paradigma mekanistik adalah penekanan pada efektivitas komunikasi (berfokus pada hasil), sedangkan tiga paradigma lain yang aku sebutkan pada “Kontroversi di Masyarakat Tidak Perlukah?” lebih berfokus pada proses. Pendek kata, bila paradigma mekanistik berfokus pada informasi (benda abstrak), maka tiga paradigma lain berfokus pada interaksi (manusia).

Aku harap, anda lebih memahami perbedaan sudut pandang ini dalam komentar-komentar berikutnya.

Yah terserah pak Shodiq saja, saya tidak terlalu paham dengan ilmu komunikasi, saya hanya menggunakan hati nurani saya saja. Lalu bagaimana tanggapan anda dengan 3 informasi yang saya berikan? Apakah diTPS tempat anda memilih juga ditemukan kecurangan? Mungkin anda bisa menguatkan kecurigaan anda dengan memperhatikan lingkungan anda dulu.

Terima kasih atas pengertiannya. Tiga informasi seperti itu sangat berharga untuk memperluas wawasan kita. Hanya saja, seperti yang telah kusinggung pada tanggapan terdahulu, fokus perhatianku bukanlah pada informasi, melainkan pada interaksi. Dalam komentar anda yang terakhir ini, anda menyebut “saya hanya menggunakan hati nurani saya saja”. Begitulah salah satu bentuk interaksi yang aku harapkan dari pembaca terhadap teks yang aku tuliskan.

Dalam lingkunganku, aku tidak memfokuskan perhatian pada kecurangan dalam pemilu, tetapi memperhatikan budaya “kecurangan” dalam masyarakat. (Aku tulis kata “kecurangan” dalam tanda petik karena sesuatu yang menurutku curang mungkin dianggap biasa-biasa saja oleh orang lain.) Aku melihat kecurangan/kezaliman dalam segala bidang kehidupan, bahkan termasuk di masjid dan lembaga-lembaga dakwah.

Di dalam masjid (terutama masjid kecil di perkotaan), aku melihat banyak orang menyerobot tempat sujud orang di belakangnya. Walau pengurus masjid sudah membuat garis batas shaf, masih saja orang-orang itu dengan seenaknya menggeser kakinya ke belakang, yang merupakan tempat sujud orang di belakangnya. Di luar masjid, aku melihat orang-orang dengan seenaknya menginjak sandal/sepatu milik orang lain dengan sepatu/sandalnya yang kurang bersih.

Di internet pun aku sering menjumpai “kecurangan”. Di situs ini, misalnya, tak jarang kita jumpai pengunjung menggunakan nama samaran lalu dengan seenaknya mengecam atau menghujat orang lain. Belum lagi kecurangan berupa mengkritik langsung tanpa memberi kesempatan kepada yang dikritik untuk membela diri. Mereka maunya didengarkan tanpa mau mendengarkan suara kita. Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk kecurangan lainnya.

Iklan

12 thoughts on “Kecurangan = budaya Indonesia?

    pimpii said:
    14 April 2009 pukul 23:40

    Sharing ya masss….
    Hati kecil Pimpii tidak setuju jika kecurangan dengan tanda atau tidak tanda kutip adalah budaya Indonesia. Sejatinya budaya indonesia dengan beragam suku bahasa sungguh luhur — hanya saja ‘ganasnya’ kehidupan membuatnya terselimut debu.
    Tetapi jika kecurangan ini dimaknai sbg sebuah fenemona yang menghalalkan segala cara demi sebuah tujuan — bisa jadi bangsa indonesia sedang melangkah menuju jurang yang di bawahnya merentang rimba hukum tak bertuan.

    NTMAKSIAT said:
    15 April 2009 pukul 06:26

    Kalau berbicara masalah budaya kecurangan dalam masyarakat seperti yang pak shodiq katakan diatas hal itu memang sudah “biasa” kalau memang dakwah dimasyarakat belum maksimal yang saya takutkan memang masyarakat indonesia sudah mengalami pergeseran moral. Saya salut terhadap orang2 Daarut Tauhid teman saya yg jebolan DT kalau di masjid tanpa dikomando ia langsung membereskan sandal yang berantakan, mengatur shaf2 di masjid dan hal2 lain yang mungkin kita anggap kecil, tentu semua itu ada proses bagaimana teman saya bisa menjadi seperti itu ya ia tinggal di lingkungan yang masing2 anggota dari lingkungan tersebut sudah terbiasa saling mengingatkan. Nah sekarang kalau menurut saya akar permasalahannya ya dari lingkungan kalau lingkungannya sudah terbiasa dengan kecurangan ya sudah bisa ditebak orang2 didalamnya juga saling berbuat curang karena itu sudah menjadi budaya didalam lingkungan tersebut dan apa yang sudah menjadi budaya ya dianggap biasa bagi orang2 yang tinggal disitu. Begitu juga didalam DPR kalau memang lingkungan didalamnya sudah terbiasa curang ya akan seperti itu orang2 yang duduk disana anda bisa lihat bagaimana ada sebagian anggota DPR yang tidak profesional spt tidur, datang terlambat, tidak hadir dll saya kira itu juga bentuk kecurangan. Sekarang obatnya adalah dakwah bukan berarti apa yang sudah jadi budaya dilingkungan tsb tidak bisa dirubah disinilah peranan dakwah. Saya akan selalu mendukung teman2 yang ingin berdakwah di lingkungannya dimana dia berada, teman2 PKS yang ingin berdakwah di lingkungan politik saya dukung teman2 NU, Muhammadiyah, JT, HTI dll yang ingin berdakwah dilingkungannya masing2 tentu saya juga dukung, pak Shodiq ingin berdakwah dilingkungan dunia maya juga saya dukung yang jelas asalkan niatnya tulus ikhlas karena ingin merubah akhlak dan moral bangsa ini saya dukung. Oya mudah2an yang dimaksud pak Shodiq di paragraf terakhir bukan saya ya he.he saya dalam mengkritik selalu mengedepankan sopan santun kalau anda bisa lihat saya tidak pernah menggunakan kata aku, kau karena bagi sebagian orang kata2 itu tidak sopan tapi kata saya dan anda menurut saya semua orang akan melihat itu kata2 yang sopan, tapi tentu kalau saya termasuk yang dimaksud dalam paragraf terakhir itu saya minta maaf.

      M Shodiq Mustika responded:
      15 April 2009 pukul 06:48

      Terima kasih atas masukannya.

      Dalam pandangan kami, budaya pembaca situs blog ini berbeda-beda. Ada yang menganggap penyebutan “kamu” dan “kau” kurang etis. Namun ada pula yang menganggap justru penyebutan “Anda”-lah yang “kurang etis” (karena dipandang membuat jarak, terlalu formal, sedangkan blog biasanya dipandang sebagai media komunikasi yang tidak formal).

      Biasanya kami memperhitungkan dengan siapakah kami berbicara, melalui identitas yang tertera. Hanya saja, memang kami sering menemui kesulitan untuk menebak bila orang yang berkomentar itu menggunakan nama samaran. Terhadap orang yang identitasnya tidak jelas itu, biasanya kami menyesuaikan diri dengan gaya bahasanya. Kalau menurut kami dia berkata-kata secara formal, kami pun berusaha menanggapinya secara formal. Namun kalau tidak formal, tanggapan kami tidaklah formal pula.

      Intinya, sopan-tidaknya itu tergantung pada budaya masing-masing. Sekiranya semua pihak menyadari adanya perbedaan budaya, mestinya tidak ada pihak-pihak yang merasa direndahkan atau pun dijauhi.

    onithok said:
    15 April 2009 pukul 06:39

    Kecurangan adalah sebagian saja dari Budaya Indonesia, kalo sudah ada tanda sama dengannya ( = ) berarti saya, anda atu semua penduduk Indonesia menghalalkan semua bentuk perbuatan yang dilandasi dengan kecurangan, Saya rasa kecurangan hanya dilakukakan sebagian orang yang punya ambisi besar tetapi takut akan kegagalan dari apa yang telah ia impikan, ia tidak punya mental kuat untuk menerima akibat buruk yang ia dapatkan.Kadang kecurangan bisa bawaan dari masa kanak2 seseorang ,atau lingkungan mereka tinggal. Hal ini kembali lagi kepada masing2 pribadi kalau semenjak kecil sudah diajari atau ditanamkan dari orang tua atau pengasuhnya perbuatan mana yang baik dan mana yang benar tentunya juga akan menjadi landasan kehidupan si anak pada proses kehidupannya hingga dewasa.

    Dhika said:
    25 April 2009 pukul 19:10

    wah, ilangin dong budaya curang

    pantesan aja banyak korupsi

    JS said:
    26 April 2009 pukul 20:03

    Saya tidak sependapat kalau dikatakan kecurangan, korupsi adalah budaya Indonesia, yang jelas perbuatan curang, korupsi adalah perbuatan Seytan, karena di Indonesia ini penduduknya sudah banyak menjadi seytan jadi yah kelakuan ini terus berlanjut.
    Agar kita tidak menjadi seytan kita harus mengerti terlebih dahulu siapa itu seytan.

    rizza said:
    27 April 2009 pukul 12:47

    sippppppppppppppppppp
    syang ku
    ku kngen ni??

    rizza said:
    27 April 2009 pukul 12:48

    i love you gir;

    thimit said:
    28 April 2009 pukul 15:56

    maaf sebelumnya kalau peyan tidak setuju. saya memang tidak suka dengan kecurangan karena tidak mencerminkan ke sportifan orang tersebut. namun pada kenyataan yang terjadi di sekeliling kita. saya tidak akan memberikan contoh yang terlalu jauh di pemerintahan. di desa saya saja ada sebuah sekolah swasta yang di pimpin oleh kepalah sekolah dari desa kami sendiri. yang saya heran sang kepala sekolah selain menjadi kepala sekolah juga merangkap sebagai mudin, kepala pengurus masjid dan masih banyak lagi jabatan lainnya. yang lebih paling membuat saya tidak lagi menghormati beliau adalah semua anak-anaknya bekerja sebagai tenaga pengajar di sekolah tersebut dan di libatkan di berbagai acara. sedangkan di desa ini masih banyak lulusan perguruan tinggi yang menganggur. padahal sekolah tersebut bukanlah milik keluarga ataupun pribadi namun milik warga. pembangunannya seperti renofasi masih meminta sumbangan warga dan setengah dari sumbangan warga yang di berikan kepada sebuah masjid di desa kami. Apa boleh buat saya juga tidak bisa apa2. kemarin pemilu salah satu menantunya mencalonkan diri dan seperti biasa yang menjadi petugas kpps adalah kerabat dari beliau. para pemilih yang muda tidak masalah namun para pemilih tua yang tidak mengerti bukannya di berikan pengertian namun malah di contrengkan. maaf kalau cerita ini menceritakan sebuah kecemburuan sosial terima kasih…….

    […] ujian-ujian tersebut. Kalau downloadnya sebelum ujian sih, itu namanya curang! Jangan, ya! Jangan sampai kita menjadikan kecurangan sebagai budaya bangsa Indonesia! Kalau mau lulus, silakan belajar lebih keras dan sertai dengan […]

    […] Artikel Terkait: “Kecurangan = budaya Indonesia?“ […]

    suliwa hahjenk said:
    25 November 2009 pukul 09:29

    0r4 us4h kml3t3 !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! he…he…

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s