Gara-gara MBA (Married By Accident)

Posted on Updated on

Seorang saudaraku laki-laki umur 25 tahun. Dia sekarang sudah mempunyai anak dan istri. Akibat pergaulan bebas, maka dia terpaksa harus menikahi wanita itu yang sekarang menjadi istrinya [atau Married By Accident]. pertama dia pacaran sama wanita itu, dia sama sekali tidak ada niat dan rencana untuk menjadikannya seorang istri. Makanya dia nggak mau menikahi wanita itu, tapi karena desakan ortunya dan ortu wanita itu akhirnya dia mau juga.

Awal pernikahan dia sama sekali dia ga merasakan bahagia. Malahan habis pernikahan itu dia menangis dan menyesali perbuatannya itu. Baru beberapa bulan bahkan sampai saat ini mereka hidup terpisah (di rumah masing2), sering berantem. Terkadang aku juga kasihan ma saudaraku. Padahal istrinya itu sangat mencintai dan menyayanginya.

Saudaraku berencana mau menceraikannya. Tapi aku rasa saudaraku bakal sulit menceraikannya karena tidak punya alasan yang tepat dan si istri juga tidak mau dicerai. Oleh karena itu saudaraku malah cari wanita lain dengan alasan agar istrinya itu mau dicerai…!!!!! Dia juga janji pada wanita barunya klo dia tdak akan melakukan perbuatan itu seperti yang dilakukan pada istrinya. Saudaraku dan wanita ini sudah saling menyayangi.

Yang mau aku tanyakan :
1. Apakah niat saudaraku untuk menceraikan istrinya itu boleh dilakukan?
2. Apakah hukum si wanita itu (orng ke 3) jika hubungannya ma saudaraku diteruskan, sementara saudaraku masih beristri?
3. Apa yang harus dilakukan oleh saudaraku untuk menangani masalah seperti ini?

Demikian yang mau aku tanyakan. Aku dan saudaraku sangat mengharapkan jawaban dari Pak Ustadz. Terima kasih.

Jawaban M Shodiq Mustika:

Berhubung aku sedang kekurangan waktu, jawabanku singkat saja, ya!

1) Islam mengenal ungkapan “halalan wa thayyiban”. (Halal bermakna “boleh”; thayyib berarti “baik, patut, indah, dan sebagainya”.) Niat saudaramu untuk menceraikan istrinya itu halal, tetapi mungkin kurang thayyib.

2) Jawaban atas pertanyaan seperti ini telah kusampaikan di “Bercinta dengan Pria Hiperseks Yang Telah Beristri

3) Silakan ambil pelajaran dari saran-saran yang telah kusampaikan di “Menikah tanpa cinta?” dan “Konsultasi: Mau cerai karena beban berat“.

Wallaahu a’lam.

12 thoughts on “Gara-gara MBA (Married By Accident)

    imi surya putera said:
    18 April 2009 pukul 19:34

    Anjurkan aja saudara Anda agar polygami bila istrinya tak mau dicerai. Polygami masih amat pantas daripada terus selingkuh.
    Salam dari tenggara kalimantan, http://www.imisuryaputera.co.cc

    caturcakep said:
    25 April 2009 pukul 18:52

    hmmmm…. memang berat ya kalau kita merasakan persoalan itu. terkadang kita memang membuat kesalahan, namun tentu kita harus lebih berhati-hati untuk langkah selanjutnya. mempunyai rumah tangga yang harmonis harapan setiap orang. untuk masalah saudara anda itu, mungkin butuh konsultasi ke ahlinya, profesional. misalnya seorang psikolog keluarga. cuma saya menginginkan agar saudara anda tidak bercerai dengan istrinya. rasanya memang cinta itu udah mulai memudar, ya. tapi gimana kalau dicoba dulu membangun cinta yang baru? gak ada salahnya? bisa jadi ketika keputusan cerai itu cepat dilakukan, ada pihak yang merasa dirugikan. tidak baik juga khan?
    masalah adanya pihak ketiga…. beberapa hal ada baiknya, beberapa hal juga mengandung keburukan. coba deh di refleksikan ke diri sendiri (untuk saudara anda) mana yang lebih banyak manfaat atau keburukannya?
    saran saya agar saudara anda mencoba berkonsultasi ke ahlinya langsung.

    Bambang Edi Winarso said:
    13 Mei 2009 pukul 09:33

    Assalamualaikum WR.WB

    Kesalahan menawarkan konsekuensi dan penyesalan, tapi hendaknya tidak ditutupi dengan kesalahan baru. Mengapa saya berkata demikian? Pertama, saudara Anda sebut saja M sudah melakukan kesalahan (maaf) berzina dan akhirnya hamil. Siap atau tidak, mau atau tidak dan ikhlas atau tidak, konsekuensi MBA adalah menikah. Pernikahan itu akan menjadi pengobat dosa apabila M membina rumah tangganya dengan keindahan iman dan islam. Apalagi mereka adalah sepasang kekasih sebelum menikah, tentu saja ada landasan cinta di antara mereka. Lalu apa alasan M untuk menyakiti istrinya dengan cara menceraikan dan menikah lagi, ataupun dengan cara polygami. Terkesan MBA atau perzinahan itu terjadi karena kesalahan istrinya saja. Padahal mereka melakukannnya berdua, menikmatinya berdua, akhirnya menikah juga berdua, lalu kenapa di ujung cerita hanya istrinya yang menderita?? Tidak adil bukan?

    M memang punya hak untuk menceraikan istrinya, tapi Allah tidak akan meridloi cara-cara seperti ini (Wallahu A’lam). Seperti yang Pak Shodiq katakan, Islam mengenal ungkapan “halalan wa thayyiban”. (Halal bermakna “boleh”; thayyib berarti “baik, patut, indah, dan sebagainya”.) Niat M untuk menceraikan istrinya itu halal, tetapi mungkin kurang thayyib. Kesan yang tertangkap dari cerita Anda, M terlalu semena-mena. Itu sebabnya saya mengatakan, Tidak sebaiknya menutupi kesalahan/penyesalan dengan kesalahan baru.

    Mayoritas orang, termasuk saya pun berpendapat bahwa apa yang menjadi pilihan kita adalah yang terbaik. Padahal belum tentu itu yang kita butuhkan. Bisa saja itu hanya keinginan yang tak ada habisnya dan lebih kepada nafsu belaka.

    Penjelasan di atas saya harap bisa menjawab pertanyaan pertama Anda.
    Jawaban untuk pertanyaan kedua:
    Posisi orang ketiga di dalam sebuah hubungan menurut saya tetaplah tidak baik. Tidak baik dalam artian dapat menimbulkan fitnah, dapat menjerumuskan ke zina yang tentu saja haram hukumnya, dapat menimbulkan sakit hati, dendam dan adu domba. Bagaimanapun juga sebuah hubungan suami istri melibatkan banyak orang di dalamnya. Ada dua keluarga yang masing-masing mempunyai hak dan kehormatan. Akan sangat bijaksana apabila M memikirkan bagaimana perasaan mertua dan keluarga istrinya. Atau mungkin memikirkan kehormatan keluarganya sendiri.

    Jawaban untuk pertanyaan terakhir.
    Ada beberapa saran yang saya berikan untuk M agar tidak melakukan kesalahan ‘lagi’, jika memungkinkan biarkan M membacanya sendiri, jika tidak, sampaikan saran ini kepadanya:
    1. Lihat anakmu (M). Lihat betapa anak itu tidak tahu apa yang tengah terjadi dengan kedua orang tuanya. Tatap kedua matanya, lihat jauh ke dalam dan temukan sebuah keluguan yang nanti akan segera kamu tinggalkan. Tanyakan pada dirimu sendiri, apakah mata polos dan wajah lugu itu “PANTAS” menanggung kesalahan yang orang tuanya lakukan. Jika kau jawab ya, maka nikahi wanita itu. Tapi jika jawabannya tidak, maka rajut rumah tanggamu sebaik ketika kalian jatuh cinta pertama kali.

    2. Kita bebas memilih apa yang akan kita lakukan, tapi kita tidak bebas memilih apa yang menjadi konsekuensinya. Apa yang membuat kamu merasa bahwa menikahi wanitamu sementara kamu masih beristri itu LEBIH BAIK dari pada MBA?? Menurutku tidak lebih baik meskipun saya tidak mengetahui siapa kamu, istrimu dan wanitamu.

    3. Mendekatkan diri kepada Allah adalah cara terbaik untuk menjauhi nafsu dan kemaksiatan.

    4. Lihat, dengar, tanyakan dan rasakan. Apakah menikahi wanitamu adalah awal dari kebaikan? Berapa banyak orang yang menentang? Jika sebagian banyak orang menentang, berarti itu bukan awal yang baik untuk memulai hidup yang sebenarnya. Ada pepatah orang tua yang selalu saya ingat, “Awal yang buruk akan menghasilkan sesuatu yang buruk. Maka awali apapun itu dengan sesuatu yang baik.” MBA sudah awal yang tidak baik, maka perbaiki sebisamu, jangan memulai sesuatu lagi dengan buruk sementara hal lain belum kamu perbaiki.

    5. Jika sudah ada keputusan yang kamu ambil, pastikan tidak banyak orang yang tersakiti karena suatu hari kamu akan memanen bibit yang kamu tanam hari ini. Dan ini selalu terjadi…

    Good Luck M dan Anda.
    Wassalam

    doni said:
    6 Juni 2009 pukul 10:11

    mau bikin kesalahan dua kali eh tiga kali?
    berzina, nyeleweng… mau bercerai?
    enak di elu ga enak di yg lain….
    egois bener…
    belajar tanggung jawab ah kalo jadi laki2

    pepi said:
    16 Juni 2009 pukul 09:31

    assalamualaikum….
    saya pepi 22thn…saat ini saya sedang bingung dng hidup saya..
    tapi malu untuk cerita ke orang tua,saudara atau teman..saya seorang mahasiswi pts di jakarta dan sudah menikah 3 thn dan mempunyai 2 qnak yg sedang lucu2 nya..
    suami saya,22 thn seorang mahasiswa pts di jakarta…
    walaupun dia masih kuliah tapi dia sangat bertanggung jawab…dia juga menafkahi dengan cukup (dia berasal dr keluarga yg cukup berada),jadi ayah yg baik untuk anak2..tapi beberapa bulan ini qta sering sekali berantem gara2 masalah sepele,sampe saling memaki satu sama lain…terus terang saya cape dng keadaan seperti itu..
    saya berpikir,dia sudah tidak cinta saya lg..saya ingin cerai saja daripada hidup seperti ini trus..walaupun saya sangat cinta dan sayang sama dia..tpi untuk apa dipertahanin kalau qta cuma saling memaki dan menyakiti…saya mohon saran dan nasehatnya…
    terimakasih…

      M Shodiq Mustika responded:
      16 Juni 2009 pukul 12:41

      @ pepi
      wa’alaykumussalaam… Hubungan kalian tidak bermasalah. Jadi, kalian tidak usah bercerai. Yang bermasalah adalah bagaimana kalian mengekspresikan cinta, bagaimana kalian berkomunikasi, dan sebagainya. Inilah yang perlu dicarikan solusinya. Untuk itu, carilah penengah untuk mendamaikan kalian. Pilihlah yang netral dan cukup berwibawa bagi kalian. Aku yakin kalian takkan kesulitan untuk mendapatkannya. Kalian bisa menghubungi KUA yang menikahkan kalian. Di situ tersedia penasihat perkawinan. Bisa pula kalian menghubungi konsultan psikologi. Di Jakarta ada banyak layanan konsultasi psikologi, termasuk di fakultas-fakultas psikologi.

    WINDA said:
    2 November 2009 pukul 15:54

    Saya seorang pelajar smk umur 17th. Dilingkungan sekitar,baik dilingkungan sekolah,rumah untuk pergaulan bebas tu bagi mereka uda terbiasa. sampai-sampai bagi kaum cewex mereka tu tidax segan-segan mempersembahkan keprawananya wad si cowox,. padahal status mereka masih pelajar & lum menikah. sya sampai risih ndegernya

    zuhron said:
    25 Desember 2009 pukul 19:28

    Please visit us

    jantan said:
    27 Desember 2009 pukul 16:50

    laki laki jantan bertanggung jawab.
    laki laki pengecut cari cari alasan aja.

    sekarang udah ada istri ya hidupi aja istrimu dan jadi orang tua yg baik.

    kalo nyeleweng, silahkan aja, tapi jangan salahkan kalo besok 20 tahun lagi ada seorang pemuda bawa parang penggal kepalamu. ironismnya pemuda itu anak dari istri pertamamu.

    hidup itu pilihan. yg kau tabur kau tuai.

    Jojon said:
    23 Januari 2010 pukul 23:53

    Au….. ah gelap sapa suruh pacaran sama cewe murahan

    phephe said:
    1 Maret 2012 pukul 12:45

    aku wnita berumur 19 th aku anak pertama ,aku adalh tumpuan kluarga satu2ny.
    aku pernah pny pcr tp ga di restui sama ortunya, lalu tnp sengaja aku slgkuh pcr aku brsumpah bhwa hdpakugkn pernah bhgya. sampai akhirnya aku memilih selingkuhan aku dan aku dihamili oleh selingkuhanku, saat itu aku pkr slingkuhanku inilah yg trbaik sampai-sampai aku terlena dan aku hamil stu bulan kemudian kita pun menikah ditengah berbagai masalah kluaraga ,pro dan kontra, .. 4bln sudah kita menikah tp rmahtangga ku tdk sprti yg ku bayangkan.tdk sprti jnji2 suamiku, airmataku sering berurai, aku dilarang kuliah olh suami sampai akhrny putus kuliah.pdhl janjinya dy akan bertanggungjwb atas smuanya termasuk kuliahku ortuku sakit2an tp suamiku tdk ada perhatiannya sama sekali. aku ksh uang sama keluargaku juga kya yg tdk suka..semenjak menikah aku tdk prnah menemui senyuman yg benar senyuman dr keluargaku . .berat, menyesal, merasa dosa seumur hidup .aku mesti gmn?sebenernya aku blm siap menikah , aku masih ingin kuliah , harapan orgtuaku sudah hancur sekarang. mimpiku hilang di renggut cinta yg membutakan mataku.. skr aku jd kurang respeck sama suamiku krn klakuannya selalu berat sebelah selalu lbh mengutamakan kluarganya di banding aku dan kluargaku.selalu merasa plg benar .padahal aku tau sikap dingin aku pd suami sperti skr ini dosa besarr..aku bingung mesti gmn. aku hanya brharap semua ini segera berakhir..aku cuma bisa menangis dan pasrah pd yg kuasa..

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s