Ratapan Sedih Raden Ajeng Kartini

Posted on Updated on

Raden Ajeng Kartini….
Kaudengarkah suara gamelan
tak putus-putusnya dilantunkan
di pendapa agung yang dijaga
tiang-tiang perkasa
hanya untuk mengalunkan
tembang-tembang lara?
….

Demikian sepotong sajak “Dari Raden Ajeng Kartini untuk Maria Magdalena”, karya Joko Pinurbo di kumpulan puisinya, Celana. Saat membaca bait-bait sajak tersebut, Sofyan Rosyidi “membayangkan Kartini sedang bersandar di kursi goyang berukir indah. Matanya mungkin langsung memejam. Tapi ingatannya melanglang pergi, menyambangi bertumpuk kenangan yang telah jauh. Tumpukan kenangan dari kesilaman yang dikenangnya dengan perih: saat ia dipingit pada usia menginjak dua belas tahun.”

Lewat sepucuk surat untuk nona Zeehandelaar, Kartini mengisahkan kenangannya saat menjalani masa “tutupan” alias pingitan itu. “Saya dikurung di dalam rumah, seorang diri, sunyi senyap terasing dari dunia luar…. Betapa saya dapat menahan kehidupan yang demikian, tiadalah saya tahu. Hanya yang saya tahu, masa itu amat sengsaranya,” tulisnya di surat bertanggal 25 Mei 1899.

Saat itu, cuma tetabuhan gamelan yang menjadi hiburannya. Dan bagi seorang yang sedang menanggung siksa dan lara, alunan gamelan itu kedengaran bukan seperti suara dari tembaga, kayu atau kulit kendang, melainkan lebih terasa sebagai suara yang keluar dari sukma manusia, meresap ke dalam hati, kadang berujud keluh-kesah, sebentar lagi meratap-menangis, sekali-kali seperti gelak tawa. Saya kira, itulah sebabnya kenapa Kartini pernah menyebut alunan suara gamelan sebagai “bunyi jelita yang sedih”.

Bunyi jelita Kartini yang meratap sedih itu diratapkan kembali dengan lebih menyayat oleh PejalanJauh:

Pada Juni 1903, Kartini akhirnya berhasil mendirikan sekolah gadis di kota kelahirannya. Baru sebulan ia dikerkah kesibukan sebagai guru, Kartini lagi-lagi dihardik oleh sebuah situasi yang memaksanya merumuskan ulang segala pendirian yang jauh sebelumnya telah ia pancangkan. Situasi kritis itu datang lewat sepucuk surat. Bukan sembarang surat, melainkan surat lamaran pernikahan dari Bupati Rembang, R.M. Adipati Joyoadiningrat. Ajaibnya, Kartini menerima lamaran itu. Kartini resmi melepas masa lajangnya pada 8 November 1903.

Pernikahan ini jauh lebih ajaib daripada pembatalan kepergiannya ke Belanda. Berkali-kali Kartini mengutarakan dalam surat-suratnya (baik kepada keluarga Abendanon, Ovink Soer maupun Stella) tekad bulat untuk tidak menikah. Simak kata-katanya yang sungguh telengas ini: “Kerja yang serendah-rendahnya maulah aku mengerjakannya dengan berbesar hati dan dengan sungguh-sungguh, asalkan aku tiada kawin, dan aku bebas!”

Kebencian Kartini pada institusi pernikahan bukan semata karena perempuan tidak akan bebas lagi begitu ia menikah, tetapi terutama karena faktor poligami. Kartini tahu benar sakit dan perihnya poligami karena ibundanya sendiri adalah korban poligami. Ia yakin, tak ada satu pun perempuan yang mau disakiti dengan poligami. Masalahnya, membenci dan mencerca poligami berarti ia juga harus berhadapan dengan bapaknya, pelaku langsung poligami. Bagaimana bisa Kartini membenci orang yang paling ia kasihi?

… Saya curiga, jangan-jangan saat di mana Kartini menerima lamaran itu adalah titik di mana Kartini, pinjam kata-kata Sosiawan Leak dalam sajak Tragedi, “…hanya merasakan keheningan yang cekam, kesepian yang tajam, saat kilau sebilah pisau mantul risaumu, digenggam sosok berwajah kelabu.”

Sudah sejak dulu ia merasa sendiri. Segala maksud baiknya kerap dilecehkan justru oleh pihak-pihak yang mana pengorbanannya hendak ia labuhkan. Sepintas, Sang Bapak seperti menerima dan menyokong cita-cita dan pendirian Kartini. Tapi tidak sebagai sebuah keseluruhan. Di rumah, yang benar-benar mengerti dirinya hanya dua adiknya, Roekmini dan Kardinah. Sosorokartono, abangnya, terlampau jarang mereka bersua. Itulah sebabnya ia tekun menulis surat pada siapa saja yang mendengarkan dan mendukung keyakinannya. Di pundak Djoyoadiningrat-lah ia berharap bisa berbagi kesendirian, berbagi pendirian, dan saling menyokong cita-cita satu sama lain.
Pelan tapi pasti, gugusan pengalaman hidup yang penuh sedih dan gembira, pertentangan tanpa henti antara cita-cita dan kenyataan, pergolakan untuk berbakti pada orang tua atau bagi kaum dan masyarakatnya, berhasil memaksa Kartini untuk merumuskan ulang dirinya, cita-citanya, pendiriannya, termasuk segala hal ihwal yang sebelumnya ia anggap sebagai momok. Dalam rumusannya yang baru, sesuatu yang dulu dicap sebagai momok coba ia manfaatkan sebagai peluang. Pernikahan poligami yang ia terima adalah contohnya.

Ya, pernikahan R.A. Kartini sebagai istri keempat Bupati Rembang itu merupakan paradoks. Di satu sisi, pernikahannya itu dapat dipandang sebagai peluang, tetapi di sisi lain, pernikahannya yang poligamis itu dapat pula dilihat sebagai kegagalannya. Ny Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dalam jumpa pers menjelang peringatan Hari Kartini, di Wisma Negara, Jakarta, Kamis (19/4/2001), menerangkan:

Kartini juga manusia biasa, bukan dewi. Oleh karena itu, ia juga mengalami kegagalan. Contohnya, Kartini tidak sanggup melawan kekuatan budaya patriarkhi yang berkaitan erat dengan para menak yang menjadikan Kartini sebagi istri yang kesekian dari seorang bupati. Bukankah itu suatu kegagalan? Dia gagal menolak poligami karena sebetulnya ia berontak terhadap masalah itu. Ia tidak berhasil melepaskan diri dari poligami.

Tetapi saat menjadi istri Bupati Rembang itulah Kartini justru bisa merealisasikan sebagian cita-citanya untuk menyediakan pengajaran bagi perempuan bumiputera. Sang Suami memang dikenal sebagai bupati yang sudah berpikiran maju dan mendukung ide-ide Kartini. “Saya mengucap syukur, membiarkan saya dibimbing oleh seorang yang ditunjukkan oleh Allah Yang Mahakuasa menjadi kawan saya seperjalanan menempuh hidup…” tulisnya kepada keluarga Abendanon. Lupakah Kartini pada ucapan telengasnya tentang perkawinan paksa dan poligami dahulu?

Demikian pertanyaan dari Sofyan Rosyidi. Terhadap pertanyaan semacam itu, telah tersedia jawaban oleh Sri Suhandjati Sukri melalui artikelnya, “Kartini Kritik Metode Pendidikan Agama“:

Kartini pernah menyatakan kekesalannya terhadap metode pengajaran agama yang tidak membuka peluang untuk berdialog. Hal ini pernah diungkapkan dalam surat yang ditujukan kepada Ny Abendanon. Guru mengaji pada waktu itu umumnya menyampaikan ajaran agama secara indoktrinatif. Maka, posisi Kartini hanya sebagai penerima informasi yang pasif. Metode penyampaian ajaran yang demikian tidak membuka peluang berkembangnya pemikiran yang dapat mendukung peningkatan pemahaman dan kesadaran untuk melaksanakan ajaran agama.

Gejolak jiwa Kartini untuk dapat memahami agamanya secara lebih baik, terpenuhi setelah dia bertemu dengan Kiai Saleh Darat, seorang ulama kelahiran Kedungcumpleng, Mayong, Jepara. Ulama ini dikenal sebagai seorang yang berpandangan luas dan mempunyai metode yang tepat dalam penyampaian ajaran agama. Misalnya, untuk memudahkan masyarakat Jawa memahami ajaran agamanya, Kiai Saleh Darat menulis kitab fikih dan tafsir dalam huruf arab pegon. Dengan demikian, masyarakat Jawa mudah untuk membacanya, sekaligus mengerti maknanya. Sebab walaupun berhuruf Arab, tetapi bahasanya Jawa.

Dari dialog dengan Kiai Saleh Darat dan membaca kitab- kitab yang ditulisnya, Kartini menemukan metode yang dapat meningkatkan pemahamannya tentang kandungan Alquran.

Hal ini menambah semangat Kartini mempelajari agamanya. Hasilnya, dia pun merasakan kedekatan dengan Tuhan. Dia mengemukakan kebahagiaannya itu kepada Ny Abendanon. Dia menyatakan telah menemukan jalan untuk mendekatkan diri pada Tuhan setelah bertahun-tahun dia cari dan rindukan.

Pemahaman yang mendalam terhadap ajaran agamanya, membawa perubahan pada jiwa Kartini. Dia menjadi lebih sabar menerima kegagalan dan hambatan yang merintangi perjuangannya. Kartini sadar akan adanya takdir Tuhan, di samping usaha manusia, termasuk perihal poligami yang dulu ditentangnya.

Perkawinannya dengan Bupati Rembang Djayadiningrat yang telah memiliki tiga istri dan tujuh orang anak dia terima sebagai takdir Tuhan yang berhikmah. Sebab suaminya termasuk orang yang mendukung pemikiran-pemikiran Kartini untuk mencerdaskan kaum perempuan.

Iklan

6 thoughts on “Ratapan Sedih Raden Ajeng Kartini

    Abdul Syair said:
    21 April 2009 pukul 11:24

    Dapatkan Skripsi gratis di blog saya. File dalam bentuk doc atau pdf

    komuter said:
    21 April 2009 pukul 11:32

    itulah kehebatan seorang kartini yang visioner,
    win-win solution atau mutual simbiosis,
    kartini berkorban dengan menjadi istri kesekian namun memanfaatkan statusnya sebagai istri untuk mewujudkan cita-citanya.

    Imas sumarni said:
    21 April 2009 pukul 21:33

    Wahai wanita yg terindah jadikanlah dirimu wanita yg mandiri,jauhkan keputusasaan..buanglah air mata kesdhan mu..dgn senyuman keyakinan bahwa wanita selayaknya mendapatkan yg terbaik dlm hdpnya..

    Preman Kristen said:
    6 November 2009 pukul 20:19

    Petunjuk-petunjuk Al Quran dan Hadis agar manusia dapat mencapai Syurga :

    1. Isa AS ialah jalan yang lurus yang patut diikuti “Wa innahu la’ilmu lis saa’ati fa laa tamtarunna bihaa wa tabi’unni haadzaa shiraathum mustaqiim…”Dan sesungguhnya Isa itu benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat kerana itu janganlah kamu ragu tentang hari kiamat itu dan ikutlah Aku. Inilah jalan yang lurus …(Az Zukhruf, 43:61)
    2. Isa AS pembawa keterangan dan patut ditaati “Wa lammaa jaa-a ‘Isa bil bayyinaati qaala qad ji’tukum bil hikmati wa li ubayina lakum ba’dhal ladzii tathtalifuuna fiihi fat taqullaaha wa athii’u…”Dan tatkala Isa datang membawa keterangan. Dia berkata sesungguhnya Aku datang membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian yang apa kamu perselisihkan tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaKu…(Az Zukhruf, 43:63)
    3. Isa AS mengatakan perkataan yang benar “Dzaalika ‘isabnu Maryama qaulal haqqil ladzil fiihi yamtaruum…”Itulah Isa putra Maryam yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenaranNya…(Maryam, 19:34)
    4. Isa AS itu utusan Allah dan FirmanNya “Inamal Masihu ‘isabnu Maryama rasullahi wa kalimatuhu …”Sesungguhnya Isa Al Masih putra Maryam itu utusan Allah dan FirmanNya…(An Nisa, 4:171)
    5. Isa AS adalah Roh Allah dan KalimatNya “Isa faa innahu Rohullah wa kalimatuhu…”Isa itu sesungguhNya Roh Allah dan FirmanNya(Hadis Anas bin Malik hal.72)
    6. Isa AS adalah Roh Allah yang menjelma menjadi Manusia yang sempurna “… arsalnaa ilaihaa ruuhanaa fa tamatstsala lahaa basyaran sawiyya.”…Kami mengutus Roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya menjadi Manusia yang sempurna…(Maryam, 19:17)
    7. Isa AS adalah satu-satunya Imam MAHDI “Laa mahdia illa isabnu Maryama…”Tidak ada Imam MAHDI selain Isa putra Maryam…(Hadis Ibnu Majah)
    8. Isa AS dilahirkan bukan dari bapa Insani, tetapi dari Roh Allah “Wallatii ahshanat farjahaa fa nafakhnaa fiihaa mir ruuhinaa Wa ja’alnaahaa wabnahaa ayatal lil ‘aalamiin”Ingatlah kisah seorang perempuan yang memelihara kehormatannya (Maryam) lalu Kami tiupkan kepadanya Roh Kami (Roh Allah) dan Kami jadikan dia dan Anaknya tanda (kuasa Allah) bagi semesta alam.(Al Anbiyaa, 21:91)
    9. Isa AS lahir, mati dan dihidupkan kembali “Wa salaamu ‘alayya yauma wulittu, wa yauma amuutu, wa yauma ub’atsu hayaa.”Dan sejahtera atasNya pada hari Dia dilahirkan, pada hari Dia wafat, dan pada hari Dia dibangkitkan hidup kembali.”(Maryam, 19:33)
    10. Isa AS mati, diangkat dan pengikutNya dipilih atas orang kafir “Idz qaalallahu yaa Isa, innii mutawafiika, wa raafi’uka ilayya, wa muthahhiruka minal ladzinaa kafaruu, wa jaa’ilul ladzina tabauka fauqal ladzina kafaruu ilaa yaumil qiyamati.”Ingatlah tatkala Allah berfirman; Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanMu, dan mengangkatMu depadaKu, dan akan menyucikan Engkau dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutiMu diatas mereka yang kafir hingga hari kiamat.”(Al Imran, 3:55)
    11. Isa AS menyembuhkan orang buta sejak lahir “Wa ubriul akmaha, wal abrasha, wa uhyil mautaa bi idznillah.”Dan Aku menyembuhkan orang bita sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak, dan Aku sanggup menghidupkan orang mati dengan seizin Allah.(Al Imran, 3:49)
    12. Isa As menghidupkan orang mati “… wa idz tuhuriijul mautaa biidzni…”… dan diwaktu Kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan izin Ku…(Al-Maidah, 5:110)
    13. Isa AS diberi mujizat dan Roh Kudus “Wa aatainaa ‘isabna Maryam bayyinaati wa ayyadnaahu bi ruuhil qudusi.”Dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam, beberapa mujizat serta Kami perkuat Dia dengan Roh Kudus.(Al Baqarah, 2:253)
    14. Kafirlah orang yang menolak Isa AS “Wa bi kufrihim wa qaulihim ‘alaa Maryama buhtaanan ‘azhiimaa.”Dan kerana kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zinah).(An Nisa, 4:156)
    15. Isa AS akan diimani oleh semua ahli kitab “Wa im min ahlil kitaabi illa la yu’minanna bihi qabla mauthihiiwa yaumal qiyaamati yakunnu ‘alaihim syahiidaa.”Dan tidak seorangpun dari ahli kitab melainkan akan beriman kepada Isa sebelum matiNya, dan pada hari kiamat. Dia menjadi Saksi terhadap mereka.(An Nisa, 4:159)
    16. Tidak menurut Taurat dan Injil, maka tidak dipandang beragama “Qui yaa ahlal kitaabi lastum ‘alaa syai-in hattaa tukimut tauraata wal injiila wa maa unzila ilaikum mir rabbkum”Katakanlah: “Hai ahli kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran ajaran Taurat, Injil dan apa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.(Al Maidah, 5:68)
    17. Al Quran induk dari Taurat dan Injil “Wa innahu fii ummil kitaabi ladainaa ia ‘aliyyuna hakiim.”Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Alkitab, di sisi Kami adalah tinggi dan penuh hikmat.(Az Zukhruf, 43:4)
    18. Isa AS berkuasa/terkemuka di dunia dan di akhirat “Idz qalatil malaikatu yaa Maryama innallaaha yubasyiruki bi kalimatim minhus muhul masihu ‘isabnu Maryama wajihan fiddun-yaa wal akhirati wa minal muqarrabiin.”Ketika malaikat berkata, hai Maryam sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan Kalimah daripadaNya namannya Al Masih putra Maryam, terkemuka di dunia dan di akhirat dan orang yang paling dekat pada Allah.(Al Imran, 3:45)

      mamad said:
      19 April 2011 pukul 11:51

      ???
      Gak Mudeng karo sampeyan…masih ada aja seperti ini
      …kalau ditanya pa umat muslim ini juga beriman pada nabi Isa as. ya tentu saja kami beriman, bahkan bukan hanya pada nabi Isa. as tetapi pada semua nabi dan rasul yang telah Allah SWT. utus.

      Namun akidah kami tak akan goyah, Muhammad Saw. adalah rasul terakhir yang diutus oleh Allah SWT. untuk menyempurnakan ajaran nabi dan rasul sebelumnya, termasuk nabi Isa as.

      seperti yang telah Allah firmankan dalam Al Quran:
      “Lakum dinukum waliyadin”
      untuk mu agama mu, dan untuk ku agama ku.

      Tiadalah perlu saling merendahkan dan menghujat, biarkan Allah SWT. yang akan memutuskan disaat hari kiamat.

    MUTIA said:
    15 Januari 2010 pukul 13:00

    R.A kartini patut diberi gelar WANITA TERHEBAT
    DIINDONESIA

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s