Dulu jadi pengasong, belajar “cas cis cus” di jalanan dari para turis, kini sukses bisnis waralaba kursus bahasa Inggris

Posted on Updated on

Siapa bilang pengasong tak bisa sukses? Siapa bilang belajar bahasa Inggris tak bisa simpel dan cepat? Tanyakan kepada Hani Sutrisno, seorang pemuda desa asal Magelang!

Mau tahu jawabannya? Mau tahu kiat suksesnya? Ini dia tiga buah berita terkait:

Radar Semarang
[ Rabu, 11 Februari 2009 ]
Hani Sutrisno, Mantan Pengasong yang Sukses Jadi Direktur
Jual Es Sejak SMP, Bisa Bahasa Inggris Lewat Nguping Turis Ngobrol

Hani Sutrisno pantas menyandang predikat entrepreneur sejati. Memulai karier dari nol sebagai pedagang asongan di kompleks Candi Borobudur, kini Hani sukses menjadi motivator dan direktur sebuah lembaga pendidikan bahasa Inggris. Seperti apa kisahnya?

MUKHTAR LUTFI, Magelang

SIANG pada akhir pekan lalu, cuaca begitu cerah. Lalu lalang kendaraan di sepanjang Jalan Syailendara Raya, Borobudur, Magelang nampak begitu ramai. Rupanya, akhir pekan itu banyak dipakai warga untuk berwisata mengunjungi candi yang pernah masuk tujuh keajaiban dunia tersebut.

Tak jauh dari kawasan candi, tepat di persimpangan jalan, berdiri sebuah bangunan sederhana bertuliskan Lembaga Pendidikan Bahasa Inggris. Ya, di tempat itulah sehari-hari Hani Sutrisno berkantor. Kebetulan pria berambut keriting ini adalah direktur utama lembaga pendidikan tersebut.

“Ya, setiap hari saya seperti ini Mas, tukar ilmu kepada mereka yang berkeinginan untuk bisa,” kata Hani mengawali percakapan dengan Radar Semarang.

Memberikan tambahan pelajaran itulah yang membuat kehidupannya kini berubah 90 derajat dari sebelumnya. Siapa sangka, suami Ani Azizah ini dulunya adalah pedagang asongan di kompleks Candi Borobudur. Bahkan, pekerjaan itu telah dijalani pria berusia 35 tahun ini sejak masih masih duduk di bangku SMP.

Menjadi pedagang asongan adalah pilihannya saat itu. Alasannya klasik seperti kebanyakan orang. Untuk menambah biaya hidup dan bersekolah.

“Sejak lulus MI Ngargogondo tahun 1987 dan beranjak SMP, saya sudah mulai berdagang es di kompleks candi,” kenang anak bungsu pasangan almarhum Zaeni dan Jariyah ini.

Awalnya, keputusan itu ditentang oleh ibunya yang menginginkan dirinya supaya berkonsentrasi di dunia pendidikan. Namun, karena ngeyel, akhirnya diizinkan juga, dengan catatan tidak mengganggu pelajaran di sekolahnya.

Senang mendapat restu dari ibunya, dia pun memulai aktivitasnya menjajakan es sepulang dari sekolah. Setelah seminggu berjualan es, dia beralih berjualan patung dan suvenir. Kemudian, berganti lagi berjualan post card.

Saat itu, kata pria yang sering disapa Mr Hani ini, belum ada penjual yang berani menawarkan daganganya ke turis asing lantaran kendala bahasa. Dari situ, kemudian dia membaca ada peluang mendapatkan untung yang lebih besar. “Jadi, kalau ingin berjualan dengan orang asing kan harus mengerti bahasa asing juga,” lanjutnya.

Dari situ, dia mulai belajar secara otodidak bahasa Inggris. Baik melalui kamus, pamphlet, maupun selebaran yang berbau Inggris. Alhasil, dalam beberapa hari, dia sudah bisa menawarkan dagangannya kepada turis. “Hello sir. One, two, three…, ten, one dollar, dan hanya itu yang saya bisa,” kenangnya saat pertama kali menawarkan post card-nya kepada turis.

Tidak puas hanya dengan menawarkan dagangannya, dia berkeinginan pula menjadi guide di candi tersebut. Namun, keinginan tersebut terkendala dengan minimnya pengetahuan tentang bahasa asing. Bukannya, menyerah, dia kemudian mengasah kembali bahasa Inggrisnya dengan cara nguping kala ada orang asing berbicara.

“Dari nguping itu, kemudian saya catat, dan dicari artinya dengan kamus. Kalau tidak bisa, saya tanyakan kepada guide yang profesional,” jelas mantan anggota Panwaslu Kabupaten Magelang ini.

Selain itu, dia juga belajar sejarah Borobudur dalam bahasa Inggris, sekalipun ada beberapa kosakata yang tidak dimengerti artinya. “Meski tidak tahu, saya tetap nekat,” tambah alumni MTs Borobudur ini.

Kali pertama menjadi guide ternyata membuahkan hasil. Kala itu, turis pertama yang didampingi Hani berasal dari Inggris. “Sungguh menyenangkan, karena pertama kali melakoni pekerjaan itu, saya mendapat tip USD 30,” akunya.

Aktivitas itu pun lantas menjadi kebiasaannya. Bahkan, karena terlalu senangnya mencari uang, saat itu Hani menjadi tidak berminat melanjutkan sekolah. Namun, karena dimarahi sang ibu, dia kemudian mau melanjutkan sekolah asal tidak di Borobudur. Akhirnya, Hani nyantri di Jombang sambil sekolah di Madrasah Aliyah (MA).

Dasar sudah menjadi kebiasaan, di Jombang Hani juga melakoni pekerjaan sebagai guide untuk menambah uang saku. “Di Jawa Timur tiap Sabtu saya mbolos untuk mencari turis, dan diajak ke lokasi wisata. Seperti ke Gunung Bromo dan Kenjeran,” jelas mantan guru SD ini.

Lulus dari pesantren dan MA, Hani pun memutuskan untuk pulang kampung, dan ingin mengajar di sekolah. Sayang, lima belas kali melamar pekerjaan sebagai tenaga pengajar bahasa Inggris selalu ditolak.

Karena punya jiwa dan keinginan yang kuat, akhirnya Hani menimba ilmu bahasa Inggris di Pare, Kediri. Di sana, pengetahuan tentang tata bahasa, dan struktur bahasa Inggrisnya dibenahi. “Karena belajar otodidak, jadi grammar saya acak-acakan, jadi dibenahi di sana,” ucapnya.

Meski bekal kemampuan bahasa Inggrisnya sudah oke, Hani masih juga ditolak saat melamar pekerjaan sebagai tenaga pengajar. Karena sudah mentok, dia lantas coba-coba mengajarkan kemampuan bahasa Inggrisnya kepada saudaranya. Tak diduga, saudaranya itu akhirnya mendapatkan nilai memuaskan untuk pelajaran bahasa Inggris.

“Dan sejak itu, keponakan saya itu mengajak teman-temannya untuk ikut les ke saya. Pada awalnya, saya mengajar 40-an anak,” kata pencetus desa bahasa ini.

Dari situ, dia melihat ada peluang usaha. Tidak lama, dia memutuskan untuk mendirikan lembaga pendidikan. Di mana, baru satu bulan berdiri, 80 anak sudah mendaftarkan ke lembaganya itu.

Hingga pada 2004, dia sudah mulai mengembangkan usahanya dengan membuka cabang di Muntilan dan Salaman, Magelang. Selain itu, Hani juga membuka cabang di Tangerang. Sampai sekarang tercatat 18 cabang telah dibukanya, dengan ratusan karyawan. Bahkan, ada beberapa cabang yang berada di Pulau Sumatera, tepatnya di Bengkulu dan Pekanbaru dengan sistem waralaba.

Dari semua lembaga pendidikan yang dikelolanya itu, ayah dari Lady Hadifa Muhimma kiyosaki Shihab ini mengaku dalam satu bulan berhasil mengantongi Rp 300 juta. Sehingga tidak sedikit penghargaan yang diraihnya. Karena pengalamannya berbahasa Inggris dengan otodidak itu pula, yang mengantarnya menjadi motivator handal seminar Bahasa Inggris.

Dalam setiap menjadi motivator, dia merubah pikiran orang, bahwa jika belajar bahasa Inggris tidak sulit dan butuh waktu cepat. “Intinya dalam belajar bahasa Inggris kita mulai dari membiasakan diri saja dengan kalimat dan struktur seadanya,” jelasnya. (*)

Mantan Pengasong Itu Jadi Wiraswastawan Sukses
Sabtu, 2 Mei 2009 | 15:04 WIB

KOMPAS.com — HANI Sutrisno (35) pernah mengasong di kompleks wisata Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Tapi kini, ia menjadi usahawan sukses, yang memiliki lembaga kursus Bahasa Inggris dengan cabang di sejumlah kota besar di Indonesia.

Pada Hari Pendidikan Nasional 2009, Sabtu (2/5) ini, Hani tiba-tiba muncul kembali di Borobudur. Bukan sebagai pengasong, tentu saja, tetapi ia datang bersama sejumlah karyawannya dengan membawa ratusan buku yang dia bagikan secara gratis kepada para pedagang. Hal itu dia lakukan untuk memperingati Hardiknas.

“Tahun 1987 saya pernah menjadi pedagang seperti mereka, semoga buku-buku ini bisa menjadi bacaan dan dimanfaatkan mereka dengan baik,” kata Hani yang juga warga Borobudur itu.

Para pedagang di Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB) terlihat kaget saat Hani bersama sejumlah karyawannya datang ke tempat itu dan memberikan buku secara gratis kepada mereka. Buku-buku itu antara lain tentang cara belajar Bahasa Inggris secara efektif dan motivasi diri, dalam berbagai judul.

Ia mengaku bisa memahami suka duka hidup sebagai pedagang dan pengasong cendera mata di Candi Borobudur. “Hanya dengan motivasi yang tinggi, bisa hidup dari profesi seperti mereka,” kata Hani yang juga pemuda pelopor bidang pendidikan se-Jateng pada tahun 2005 itu.

Ia mengatakan, buku adalah pintu gerbang sukses hidup seseorang, dan berharap para pedagang memperoleh motivasi yang tinggi untuk meraih sukses dalam hidupnya melalui buku-buku yang diberikannya.

Ketua Koperasi Pedagang Borobudur “Gunadharma”, Chairil Anwar, menyambut positif bantuan buku dari mantan pedagang itu.

Pedagang di Kompleks TWCB saat ini berjumlah sekitar 3.500 orang, yang umumnya berasal dari desa-desa di sekitar candi itu. “Ini membanggakan kami, kalau perlu dilanjutkan dengan pelatihan Bahasa Inggris untuk pedagang, untuk meningkatkan sumber daya pedagang,” kata Chairil.

MSH
Sumber : Ant

SPEC Waralaba kursus bahasa inggris paling simple dan ampuh

Para orang tua banyak yang sudah menyadari pentingnya kemampuan bahasa inggris bagi anak-anak mereka. Maklum saja, ditengah era globalisasi dan persaingan, jika tidak ingin tersingkir maka mau tidak mau harus mahir berbahasa inggris. Tak ayal, lembaga kursus bahasa inggris kian berkembang baik dengan pola bisnis waralaba maupun non waralaba.

Salah satunya adalah SPEC, sebuah lembaga kursus bahasa inggris yang didirikan oleh Hani Sutrisno pada 1998 di sebuah desa didaerah Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Hani Sutrisno 10 tahun lalu mendirikan SPEC karena dia tinggal di dekat candi Borobudur yang notabene daerah wisata yang banyak turis asing. “Karena saya itu dulu adalah pedagang dan guide di Borobudur dan saya tahu betul apa yang dibutuhkan turis ketika ngomong bahasa inggris,” ujarnya. Darisitu kemudian muncul ide mendirikan SPEC sebagai solusi teman-temannya yang kesulitan dalam berbahasa inggris. SPEC sendiri adalah singkatan dari Simpel dan Cepat.

Seiring berjalannya waktu, kehadiran SPEC mendapat sambutan yang hangat. Terbukti SPEC langsung berkembang dengan 5 outlet yang semuanya milik sendiri. Penyebabnya menurut Hani, karena SPEC menerapkan metode belajar bahasa inggris yang simpel dan cepat sehingga siswa dalam kurun waktu 4 bulan saja dijamin sudah bisa berbahasa inggris secara aktif dan bisa pidato bahasa inggris. “Intinya orang berlajar di tempat kami itu jangan bicara level-levelnya. Dengan konsep yang cepat orang tidak perlu membuang waktu banyak dan Insya Allah kita sangat terjangkau. Tapi juga kualitas terjamin tidak kalah dengan yang mahal,” ujarnya.

Dijelaskan, SPEC menawarkan kursus kepada siswa sistem paket. Ada paket pelajar yakni SD, SMP dan SMA dan paket non-pelajar yaitu mahasiswa dan lainnya. Sedangkan lama belajar dihitung per semester dengan biaya bervariasi menyesuaikan wilayah.

Terjual 48 outlet
Melihat anomo yang besar terhadap SPEC, ditambah lagi potensi bisnisnya yang juga besar karena orang Indonesia 90% masih lemah dalam bahasa inggris maka maka Hani mulai awal 2008 ini mengepakkan sayap bisnisnya ke berbagai daerah dengan konsep waralaba. “Banyak orang tertarik sekali dengan sistem simpel dan cepat yang kita terapkan. Makanya kita juga ingin kembangkan konsep kita secara luas, dan cara yang paling cepat itu adalah difranchisekan,” terang Hani menerangkan alasannya memfranchisekaqn SPEC. Dan terbukti, saja sejak 1 April 2008 difranchisekan SPEC telah berhasil menjual 48 outlet dan yang sudah siap buka 5 yakni di Purwokerto, Magelang Kota, Sukoharjo, Karawang dan Cirebon.

SPEC lanjut Hani menawarkan waralaba dalam bentuk master franchise dan outlet. Untuk outlet, franchise fee Rp 75 juta untuk masa kontrak 5 tahun dan bisa diperpanjang. Franchise fee tersebut rencananya akan naik lagi menjadi Rp 100 juta jika outlet SPEC telah mencapai 70 buah. Royalti fee dikenakan 10% setiap bulan.

Franchisee kemudian akan mendapatkan berbagai bantuan star up awal dari SPEC sampai bisa menjalankan bisnisnya. Selanjutnya untuk supporting juga akan diberikan secara berkesinambungan. Support yang diberikan mulai dari pemberian SOP yang lengkap dan detail hingga pemberian pelatihan dalam bentuk workshop dan on going training.

Soal SDM atau pengajarnya akan disediakan oleh SPEC. Dan semuanya adalah orang-orang yang terlatih dan handal. Meski demikian SPEC tidak melarang tidak melarang jika pihak franchisee berkeinginan untuk merekrut tenaga pengajar sendiri, tetapi seleksinya tetap yang melakukan adalah SPEC.

Monitoring akan dilakukan 3 bulan sekali. Bentuk monitoring dilakukan dengan berbagai cara dan semua sudah ada standarnya. Yang dimonitoring antara lain soal marketing, kurikulum, guru-gurunya dan-lain-lain. “Di SPEC semua ada panduannya lengkap. Jadi orang yang sudah beli SPEC jangan khawatir saya harus mulai dari mana, Anda tinggal menjalankan semua ada panduannya,” ujarnya.

Hani menegaskan, secara umum waralaba SPEC sangat menguntungkan franchisee baik secara moral maupaun materi. Secara moral yang tidak ternilai harganya adalah berarti ikut mencerdaskan bangga. Sedangkan secara materi jelas tidak akan terhingga. Mau tau? Laba satu tahunnya bisa Rp 650 juta. . “Cash flow kita sangat luar biasa, bisa laba satu tahunnya Rp 650 juta,” tandasnya. (IKLAN)

Untuk informasi lebih lanjut hub:
SPEC
Jl. Syailendra Raya No.66 Borobudur, Magelang, Jawa Tengah
Hp. 0888 683 4585
Email: specbudur@yahoo.com

Iklan

9 thoughts on “Dulu jadi pengasong, belajar “cas cis cus” di jalanan dari para turis, kini sukses bisnis waralaba kursus bahasa Inggris

    kopral cepot said:
    2 Mei 2009 pukul 16:50

    wew.. slalu saja ada jalan tuk menggapai kesuksesan… keuletan, kesabaran, pantang menyerah, belajar n belajar trus… pokoknamah hebring.. uy

    hmcahyo said:
    2 Mei 2009 pukul 16:56

    kerennnnn 🙂

    senyum-ku said:
    4 Mei 2009 pukul 08:20

    syukur bisa mampir di halaman penuh inspirasi…

    patut dicontoh. gelombang PHK akibat hembusan krisis global.. rasanya perlu ditanggal dengan kewirausahaan..

    moga aku bisa nyusul buka bisnis.. doa’in yach…

    Billy Koesoemadinata said:
    4 Mei 2009 pukul 09:07

    manstab.. jadi pengen buat bikin waralaba juga nih.. tapi apa ya?

    riyansleman said:
    4 Mei 2009 pukul 15:40

    salut…

    Kursus Bahasa said:
    4 Mei 2009 pukul 16:04

    hebat, dia bisa menangkap peluang untuk membuat kursus bahasa Inggris.

    yudi said:
    21 Agustus 2009 pukul 00:16

    wah sukses ya pak hani..

    kemarentmnq da 2 yang alumni dari SPEC borobudur

    noorhayati chandra said:
    24 November 2009 pukul 18:27

    Salam hangat … saya dari dinas koperasi sumedang rencana mo ada kunjungan ke koperasi karyawan Borobudur … bisa minta informasi …alamat nya g… kita tiba di Borobudur tgl 29 Nov 2009 …tks…

      hanin said:
      27 November 2009 pukul 21:29

      address : pusat pendidikan bahasa inggris simpel dan cepat SPEC
      jl Syailendra raya no 35 borobudur magelang Telp 0293 789820 / 0293 788438

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s