Sosok Wanita Paling Sempurna

Posted on Updated on

Sosok Wanita Paling Sempurna
Jawa Pos, 13 April 2009
Oleh : Yason Taufik Akbar, mahasiswa Unair

Ibu, aku mencintaimu seperti tumbuhan yang urung mekar dan membawa jiwa bunga-bunga itu di dalam dirinya. Karena cintamu, aroma bumi yang pekat tumbuh diam-diam dalam tubuhku.

Saat aku menulis naskah ini, hujan tiba-tiba turun dengan dahsyat. Rumahku yang atapnya hanya berlapis seng tentu menjadi sangat ribut. Sangat kontras dengan alunan musik instrumen yang aku dengar dari radio bututku.

Konsentrasiku memang pecah. Tapi, angin semilir yang merembet melalui celah kapiler dinding rumahku membantuku tetap fokus. Bagaimana tidak menembus, dindingnya saja terbuat dari anyaman bambu.

Korneaku lalu berputar. Mencari, lalu meraih titik pandang terkecilnya menuju sebuah kertas kusam. Aku melindunginya dengan badanku agar bocoran air hujan tidak jatuh ke atas kertas ini.

Ya, karena saat ini aku hanya ingin menceritakan tentang ibuku di atas kertas ini. Ibu yang punya sejuta kasih sayang untukku. Ibu yang selalu dengan ikhlas memberi -dan seperti kata lagu-, beliau tak pernah mengharap kembali.

Aku seorang bocah laki-laki yang dilahirkannya 12 tahun silam. Beliau merawatku dengan ketulusan hatinya. Dia selalu memberikan kasih sayang tersempurna padaku.

Masih kuingat jelas, saat dia menggandengku sendirian pada suatu malam. Saat itu bapak sedang merantau ke negeri orang. Aku masih berusia tujuh tahun. Rumah kami luluh lantak dengan tanah karena kena gusur.

Kami berjalan kaki jauh sekali. Di tengah malam yang sunyi dan hujan lebat itu, dia masih sempat menutupiku dengan selimut kami satu-satunya. Kami pergi tanpa arah. Guratan wajahnya sayu. Dari caranya berjalan, dia tampak sangat letih. Buntalan besar berisi pakaian kami memberatkan punggungnya yang tegar.

Ibu berbisik lembut kepadaku. ”Sabarlah Nak. Kita akan segera berteduh. Berhentilah menangis. Ibu akan selalu melindungimu,” katanya lalu menitikkan air mata. Air mata itu sebenarnya sudah tidak kentara. Sebab, pipinya basah terguyur air hujan.

Suara ibu lembut sekali. Menenangkan setiap relung jiwaku. Hingga dinginnya malam pun tak dapat menusukku. Perutku yang sedari pagi hanya terisi makanan sisa pun jadi mendadak kenyang. Aku hanya tak ingin melihat ibu menangis lagi.

Jauh sekali kami berjalan hingga hujan telah berhenti. Karena terlalu capai, ibu memutuskan untuk beristirahat di sebuah masjid kecil. Entah sekarang ini kami berada di mana. Yang jelas, di masjid itu, kami membersihkan diri.

Setelah bersih, ibu meraih mukenah milik masjid. Dia melaksanakan salat. Sementara itu, aku tertidur di sampingnya. Dalam sayup-sayup, kudengar ibu berdoa untuk keselamatan bapak di negeri orang. Ibu juga berdoa untuk kami.

Kalau aku diizinkan berbicara oleh Allah, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sayang ibu. Aku tak ingin melihat ibu menangis lagi. Aku hanya ingin ibu mendapatkan yang terbaik. Tanpa terasa, air mataku pun jatuh. Aku menutupinya karena aku tak ingin ibu sedih melihatku.

Aku memang seorang tunawicara. Tuhan memberiku anugerah seperti ini sejak lahir. Hanya ibu yang selalu membangkitkan semangatku. Ibu yang selalu mengajakku berinteraksi sehingga aku tahu bahwasannya dunia amatlah luas.

Usapan lembut di kepalaku mengusik tidurku. Ternyata itu adalah tangan bapak. Ah..ternyata lagi-lagi aku bermimpi. Bapak berkata kepadaku, ”Sudahlah, Nak. Tak usah kau menangis lagi. Biarkan ibu tersenyum karena melihatmu tersenyum di sini.”

Ibu meninggal dua tahun lalu. Dia mengalami kecelakaan saat hendak membeli makanan untukku. Begitu ayah mendengar kabar itu, dia bergegas pulang. Kini aku tinggal bersama ayahku.

Kuraba wajahku, mataku sembap. Ternyata aku menangis lagi. Sedangkan kertas yang hendak kugunakan untuk menceritakan tentang ibuku masih kosong. Kulihat pensilku terjatuh di bawah meja.

Aku sangat ingin menulis tentang ibu. Menuangkan kisah ini untukmu, kawan. Namun, aku tak mampu. Aku buta huruf. Kertas ini menjadi kusam karena tiap malam kuhujani air mata.

Sekarang aku hanya dapat menggumam. Menangis lagi menerima kenyataan ini.

13 thoughts on “Sosok Wanita Paling Sempurna

    BOY said:
    3 Mei 2009 pukul 20:11

    Ibu adalah pemberi kasih sayang terbesar dalam hidup bagi setiap manusia, tapi banyak juga yang tidak mau membalas jasanya

    sendit said:
    4 Mei 2009 pukul 13:19

    I love you MOm…

    Thx for sharing…

    -sendit.wordpress.com-

    riyansleman said:
    4 Mei 2009 pukul 15:48

    Jadi haru.. huhuhu…..

    Benar-benar makhluk yang sempurna….

    I Love You Mom

    linathulin said:
    5 Mei 2009 pukul 12:11

    Bagi q bunda adalah segalanya…Sampai akhir hidup ini tetap ada namanya di hati

    linathulin said:
    5 Mei 2009 pukul 12:11

    Bagi q bunda adalah segalanya…Sampai akhir hidup ini tetap ada namanya di hati..Jasanya tak terbalaskan..kasi sayangnya tak terbatas..I love mom

    v2love said:
    5 Mei 2009 pukul 15:37

    Wahai tuhan kami ampunilah dosa”ibu bapak kami sayangilah mereka melebihi sayang mereka kepada kami diwaktu kecil…Amen..

    ratu intan said:
    6 Mei 2009 pukul 21:52

    hiks..hiks… kalau denger lagunya potret jadi sedih…
    Mama memang yang d’best walaupun terkadang bagiku agak nyebelin karena selalu mengalah ma keadaan….

    JS said:
    7 Mei 2009 pukul 14:53

    Kalau membaca koment koment diatas, alangkah indahnya menjadi seorang ibu, tetapi kenyataannya tidak segampang mengucapkan kata-kata. Semenjak usia 20 tahun Saya banyak bepergian dari satu tempat ke tempat lain dan hampir seluruh propinsi di Indonesia ini pernah saya datangi kecuali Timor Timor. Saya orangnya paling suka ngobrol sama mamak mamak dan hampir 90% mereka mengeluh mengenai anaknya yang sudah menikah, umumnya lupa kepada orang tuanya dan kebanyakan lebih takut kepada istri dari pada ibu sendiri.

      mie said:
      7 Mei 2009 pukul 14:56

      kacang lupa kulit dunk???

    robi said:
    25 Mei 2009 pukul 12:26

    thank mom…. dah ngurus saya sampai gede, jasa mu begitu besar dan tak ternilai harga y, dan kau layak mendapatkan surga
    amiee…..n

    Mardia said:
    8 Juni 2009 pukul 13:21

    KisaHnya menyentUh bgT…Hikz…hikz…
    I LovE yoU moM…

    indranz said:
    21 Juli 2009 pukul 14:05

    Ya ALLAH, alhamdulillah engkau ciptakan makhluk yg mulia bernama “AYAH dan IBU”.
    Berikan yg terbaik buat mereka,
    ampunilah dosas2nya,
    sayangilah mereka seperti mereka mengayangi kami semenjak kami dalam kandungan sampai saat ini,
    berikan kebaikan dunia dan akhirat…aminnn…

    Berbahagialah kalian yg maseh punya AYAH dan IBU, sayangilah dan jaga mereka selama mereka maseh ada..

    wassalam…

    jay said:
    22 Desember 2009 pukul 14:00

    kasih ibu tiada duany,crtny bgus kyk lgu mas IWAN FALS,”I B U”.
    Sburuk apapun ibu ttp ibu n wajib q brbakti.
    “I LOVE U MOM”

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s