Haramkah bekerja di perbankan?

Posted on Updated on

Sejak beberapa pekan belakangan ini, kami telah menyajikan beberapa kali lowongan kerja di dunia perbankan. Melihat itu, beberapa pengunjung situs ini bertanya-tanya: Apakah bekerja di perbankan itu tidak haram? Tidakkah bunga bank itu tergolong riba, sehingga haram hukumnya?

Untuk menjawab pertanyaan semacam itu, di bawah ini kami sampaikan dua buah kutipan terkait. Pertama, dari Dr. Zulkarnaini Abdullah M.A. (Rektor STAIN Cot Kala / Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Ar Raniry) dalam “hukum bank konvensional“:

Melihat pada kenyataan bahwa perbankan (konvensional khususnya) telah merupakan bagian dari sistem perekonomian dunia dan telah merupakan lembaga yang bekerja secara profesional dengan peraturan-peraturan yang jelas dan transparan, saya menganggap hukum perbankan itu tidak dapat disamaratakan semuanya dan dinilai secara hitam putih. Perbankan, meskipun dianggap memiliki sisi-sisi yang memudaratkan nasabah, juga memiliki banyak maslahat dan keuntungan-keuntungan. Bank memang didirikan sebagai sebuah lembaga usaha untuk mencari keuntungan dari pekerjaannya memberikan pelayanan dalam bentuk simpan pinjam dan produk-produk lainnya. Mengambil keuntungan dari pekerjaan memberikan pelayanan (service) adalah sah-sah saja, sesuai dengan kesepakatan. Kalau memang tidak disepakati, tidak usah diteruskan (artinya tidak usah berurusan dengan bank).

Di sisi lain, melihat pada prinsip dasar muamalah dalam ajaran Islam, di mana tidak boleh ada transaksi yang menimbulkan penganiayaan terhadap pihak-pihak tertentu, maka pertanyaannya: apakah transaksi-transaksi perbankan mengandung unsur penganiayaan terhadap pihak-pihak tertentu? Jika tidak merasa teraniaya (atau mungkin merasa dapat menguntungkan), maka silakan berhubungan dengan bank. Jadi menabung di bank konvensional menurut hemat saya, tidak ada masalah; bank tidak pernah teraniaya dengan memberikan bunga kepada nasabah, karena bank bekerja secara profesional dan dengan perhitungan yang jelas dan terukur.

Selanjutnya, menurut hemat saya pengharaman riba tidak dapat disamakan dengan pengharaman daging babi. Daging babi memang diharamkan zatnya untuk dikonsumsikan, sedangkan riba diharamkan karena karakteristiknya yang mengandung unsur menyakiti di antara sesama manusia. Pada saat ayat-ayat riba diturunkan, orang-orang Arab yang menjadi sasaran kritik Quran itu adalah mereka yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Kesulitan ekonomi yang dialami oleh orang-orang lemah dimanfaatkan oleh sebagian orang kaya sebagai kesempatan untuk memeras. Karena itu diharamkanlah riba, artinya diharamkan mengambil lebih dari uang pokok yang dipinjamkan. Konteks larangan Quran itu menurut pemahaman saya tidak sama dengan konteks pendirian lembaga perbankan hari ini. Ketidaksamaan itulah menurut saya yang menjadi alasan tidak tepat penyamaan bunga bank dengan riba. Jadi kalau orang bekerja di bank (atau bank itu sendiri didirikan) untuk memeras rakyat, itu hukumnya haram. Kalau memang lembaga perbankan dapat mengadakan produk-produk yang dapat membantu atau memberikan kemudahan kepada rakyat, saya kira itu tidak dilarang, bahkan dianjurkan.

Namun, ini bukan berarti saya tidak mengkritik perbankan. Banyak hal menurut hemat saya yang perlu dibenahi dari sisi sistem perbankan, tetapi saya tidak akan membahasnya di sini. Cukup dikatakan bahwa pemerintah perlu membuat peraturan lebih ketat soal perbankan dalam bentuk yang lebih memihak pada kepentingan rakyat kecil.

Kedua, dari Dr. Muhammad Zuhri, Riba dalam al-Qur’an dan Perbankan: Sebuah Tilikan Antisipatif (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996):

Riba disebutkan dalam al-Qur’an di beberapa tempat secara berkelompok, yaitu surat al-Rum: 39, al-Nisa: 160-161, Ali ‘Imran: 130, dan surat al-Baqarah: 275-280. Para ulama fiqih membicarakan riba dalam Fiqh Mu’amalat. Untuk menjelaskan pengertian riba dan hukumnya, mereka menjadikan surat Ali ‘Imran: 130 dan surat al-Baqarah: 278-279 sebagai dasar pijakan. Sebab, di kedua surat itu ditegaskan hukum riba. Riba yang dibicarakan dalam al-Qur’an ini disebut riba nasi’ah (riba yang dilarang).[1]

Dari ayat-ayat tersebut para ulama membuat rumusan riba, dan dari rumusan itu kegiatan ekonomi diidentifikasi, dapat dimasukkan ke dalam kategori riba atau tidak. Dalam menetapkan hukum, para ulama biasanya mengambil langkah, yang dalam ushul fiqh, ta’lil (mencari ‘illat). Hukum suatu peristiwa atau keadaan itu sama dengan hukum peristiwa atau keadaan lain yang disebut oleh nas apabila sama ‘illat-nya.[2]

Kata kunci yang dipergunakan para ulama untuk menerangkan dan mengembangkan pengertian riba dalam al-Qur’an adalah لكم رؤوس أموالكم (hakmu adalah menerima sejumlah modal yang kamu pinjamkan). [3] Dari kata kunci kemudian dipahami bahwa pemberi pinjaman hanya berhak menerima pelunasan sejumlah pinjaman. Kelebihan atas jumlah pinjaman disebut riba. Abdurrahman al-Jaziri mengatakan, para ulama sependapat bahwa tambahan atas sejumlah pinjaman ketika pinjamna itu dibayar dalam tenggang waktu tertentu tanpa adanya ‘iwad (pengganti/imbalan) adalah riba. Kelihatannya ‘illat ribanasi’ah – yang ditemukan para ulama adalah:

1.Kesamaan sifat benda yang ditransaksikan dalam hal ukuran, timbangan dan takaran.

2.Adanya tambahan karena tenggang waktu tanpa adanya ‘iwad.

Dalam kriteria tersebut, di masa Rasul hingga Fuqoha, terdapat relevansi antara “pengembalian sejumlah pinjaman (رأس مال)” dengan akibat yang timbul, yaitu “tidak ada pihak yang dirugikan (غير ظلم)”.

Tetapi dalam perkembangan ekonomi belakangan telah muncul fenomena lain. Di Indonesia, misalnya, dari tahun ke tahun nilai tukar rupiah mengalami perubahan. Uang satu juta rupiah pada tahun 1990 tidak sama nilai tukarnya dengan satu juta rupiah pada tahun berikutnya. Bila pada awal tahun 1990 dipinjam sejumlah uang, kemudian tahun berikutnya dikembalikan sejumlah pinjaman maka pihak pemberi pinjaman – secara ekonomi – dirugikan. Fenomena ini menggambarkan tidak relevannya hubungan “pengembalian رأس مال” (jumlah utang) dengan “tidak adanya ظلم”.

Dalam kondisi seperti ini, agar tidak ada pihak yang dirugikan, pengembalian utang harus disertai tambahan untuk kompensasi perubahan nilai tukar rupiah. Tetapi langkah ini tentu akan dikatakan sebagai menjalankan riba berdasarkan kategori di atas.

Persoalan baru dalam Fiqh Mu’amalat muncul ketika pengertian riba dihadapkan pada persoalan perbankan. Di satu pihak bunga bank terperangkap dalam kriteria riba, tetapi di sisi lain bank mempunyai fungsi sosial yang besar, bahkan dapat dikatakan, tanpa bank suatu negara akan hancur.

Bunga bank telah menimbulkan polemik pro dan kontra di kalangan ummat Islam, khususnya di Indonesia. Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), ormas Islam terbesar di Indonesia, tidak menyatakan halalnya bunga bank.[4] Tetapi terdapat kelompok orang tertentu, baik di kalangan NU dan Muhammadiyah, yang belakangan mengelola badan pemodal semacam ini, kendati tidak sejalan dengan keputusan mereka.

Terdapat beberapa tokoh yang membolehkan menfaat bunga bank.

1. Hatta berpendapat, bunga bank untuk kepentingan produktif bukan riba, tetapi untuk kepentingan konsumtif riba.

2. Kasman Singodimedjo dan Syafruddin Prawiranegara berpendapat, sistem perbankan modern diperbolehkan karena tidak mengandung unsur eksploitasi yang dzalim; oleh karenanya tidak perlu didirikan bank tanpa bunga.[5]

3. Hasan Bangil, tokoh Persatuan Islam (PERSIS), secara tegas menyatakan bunga bank itu halal karena tidak ada unsur lipat gandanya.[6]


[1] Dalam fiqh dikenal riba fadl dan riba nasi’ah. Lihat, misalnya, uraian Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa adillatuh (Beirut: Dar al-Fikr, 1985), hlm. 671-4

[2] Fathi al-Daraini, Al-Fiqh al-Islami al-Muqarin ma’a al-Mazahib (Dimasyqa: Jami’ah Dimasyqa, 1979) hlm. 49-54.

[3] Surat al-Baqarah: 279

[4] Dalam kongresnya tahun 1957, NU melarang perusahaan bisnis pinjam uang ke bank. Muhammadiyah dalam keputusan Majlis Tarjih-nya tahun 1968 berkesimpulan, bunga bank termasuk syubhat, berarti harus disingkirkan. Lihat Muhammad Kamal Hasan, Muslim Intellectual Responses to “New Order” Modernization in Indonesia (Kuala Lumpur: 1982), hlm. 76-9.

[5] Lihat Kasman Singodimedjo, Bunga itu tidak Riba, dan Bank itu tidak Haram (Bandung: 1972), hlm. 14. Tulisan Syafruddin dapat dilihat dalam Polemik Reaktualisasi Ajaran Islam (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1988), hlm. 36-41.

[6] Kamal Hasan, op. cit., hlm. 30

14 thoughts on “Haramkah bekerja di perbankan?

    nike said:
    11 Mei 2009 pukul 17:11

    jadi boleh ngga dinafkahi laki-laki yang bekerjanya di sebuah bank? padahal kita harus memelihara diri kita dari yang haram, tetapi imam kita berkarir di bank.bukankah doa yang didengar adalah doa yang terluncur dari orang yang terpelihara dari uang halal?

      M Shodiq Mustika responded:
      11 Mei 2009 pukul 19:04

      @ nike
      Pertanyaan tersebut sudah terjawab dalam postingan di atas. Silakan simak kembali dengan lebih cermat.

    NTMAKSIAT said:
    17 Mei 2009 pukul 11:36

    saya rasa haramnya bunga bank sudah jelas kalau aqadnya pinjaman maka tambahan yang dikenakan adalah riba kecuali aqadnya adalah pembiayaan silahkan baca buku bank syariah dari teori ke praktek karya Syafii Antonio disitu dijelaskan tentang pengharaman bunga bank. Memang sulit untuk sekarang ini untuk tidak berhubungan dengan bank konvensional karena asset perbankan syariah yg masih sangat kecil tapi saya rasa kita semua sebaiknya sepakat untuk bersama2 mengembangkan perbankan syariah dengan menjadi nasabah bank syariah. Masuk ke permasalahan bekerja di bank konvensional saya mengambil fatwa yusuf qardhawi yang membolehkan bekerja di bank konvensional karena terpaksa (mencari pekerjaan saat ini sulit sekali) atau hatinya tidak rela “Sesungguhnya setiap orang memperoleh apa yang ia niatkan.” (HR Bukhari) “… Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa(memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Baqarah: 173} untuk lebih jelasnya googling saja fatwa yusuf qardhawi tentang hal ini toh di bank konvensional tidak semuanya haram yg haram hanya bunganya tapi sumber penghasilan dari fee based income itu halal. Saya pernah berdiskusi dengan group head BRI Syariah, ia mengatakan sekarang posisi kita dimana menentukan atau ditentukan? sebagai pencari kerja posisi kita ditentukan apa kita bisa menentukan dimana kita bekerja? kan tidak kita melamar ke berbagai perusahaan tapi klo keterimanya di bank konven y apa boleh buat daripada nganggur sekarang sebagai nasabah posisi kita menentukan karena kita yang punya dana nah baru kita memilih bank syariah sebagai tempat menabung. Kesimpulannya bekerja di bank konvensional tidak apa2 sambil kita berusaha mencari yg lebih baik dan kalo menabung sebaiknya ke bank syariah

      eidariesky said:
      21 Mei 2009 pukul 17:52

      Benar, solusinya Jauhi RIBA (Bank Konvensional) dan tetaplah ber-Istiqomah dengan Ekonomi Syariah….

    julz said:
    20 Mei 2009 pukul 07:07

    saya rasa nggak haram apabila memang tidak ada pilihan pekerjaan lain. Daripada hanya di rumah dan tidak menjalankan tugas tuk menafkahi. Lagipula bekerja di bank adalah pekerjaan yg terhormat dan tidak seperti “bekerja di malam hari”

    JS said:
    20 Mei 2009 pukul 14:15

    Barang siapa yang menganggap bunga bank itu haram dan bekerja di bank itu haram saya menganggap pemahaman keislamannya masih sempit.

    NTMAKSIAT said:
    20 Mei 2009 pukul 17:26

    @JS : saya rasa saya sepakat dengan anda untuk masalah bekerja di bank “konvensional” itu tidak haram tapi untuk “tidak haramnya” bunga bank saya kurang sepakat MUI sudah mengeluarkan fatwa tentang haramnya bunga bank yaitu KEPUTUSAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor 1 Tahun 2004 Tentang BUNGA (INTERSAT/FA’IDAH) dan silahkan membaca buku2 tentang bank syariah salah satunya buku bank syariah dari teori ke praktek karangan syafii Antonio. Tapi kalau anda tetap keukeuh mengatakan bunga bank tidak haram ya itu hak anda hanya saya berharap anda bisa mempelajari tentang bank syariah dan bisa ikut mengembangkan sistem perbankan berdasarkan islam ini dengan minimal menjadi nasabahnya. Sebagai informasi sistem perbankan syariah sudah diterapkan oleh negara2 mayoritas penduduknya nonmuslim karena sistem perbankan syariah lebih menguntungkan dari pada perbankan konvensional contohnya di Inggris dimana perkembangan bank syariah disana lebih pesat daripada di Indonesia padahal mereka tidak mengenal istilah halal dan haram.

    eko said:
    21 Mei 2009 pukul 11:51

    segala sesuatu memang harus di lihta secara adil dan bijaksana..tetapi adil dan bijaksana jg tidak bisa keluar kapan saja dan dimana saja..hemat saya, sesuatu yang membingungkan atau belum dipahami lebih baik..perlu dikaji lbh dalam..emang nurani harus dijaga dengan agama, agar kita bisa melihat sesuatus secara bijaksana

    erfin said:
    22 Mei 2009 pukul 10:01

    masalah bekerja di bank konvensional yang menggunakan konsep ribawi yang sekarang “dikemas ulang” dengan nama bunga
    merupakan masalah yang sulit, karena qta semua punya dasar masing-masing yang kuat untuk meyakini hukumnya.
    penghalalan dan pengharaman sesuatu hal merupakan kewenangan mutlak Alloh SWT………..
    menurut pendapat saya pribadi alangkah baiknya kalo qta lebih berhati-hati dalam menentukannya.
    kenapa harus bekerja yang masuk dalam “area meragukan”?
    masih banyak pekerjaan lain yang lebih “aman” tanpa ada keraguan didalamya.
    selama qta mau berikhtiar, pasti akan ada yang lebih baik untuk kita.
    smoga sistem perbankan syariah mampu berkembang pesat di negeri yang qta cintai ini.

    indra said:
    12 Juni 2009 pukul 13:41

    bagaimana hukum kita bekerja di perusahaan asuransi?
    dalam hal ini asuransi kecelakaan
    dimana tidak ada ijab kabul nya
    kita diwajibkan ikut n dikenakan denda ketika kita terlambat membayarnya
    krn bayarnya otomatis bareng ma pembayran stnk kendaraan
    mohon pendapatnya
    memang benar itu digunakkan buat meringankan beban orang2 yg tertimpa musibah kecelakaan
    bagaimana dgn gaji n fasilitas yg kita terima ketika kita bekerja disitu?

    awan said:
    25 Agustus 2009 pukul 12:30

    Seandainya Bank tersebut masih menggunakan sistem riba sebisa mungkin janganlah berhubungan dengan Bank. Karena riba itu sudah jelas haramnya. Memang sulit untuk tidak berhubungan dengan Bank pada saat ini. Semua sudah dibuat sedemikian rupa sehingga kita tergantung dengan Bank. Kalau dibahas dengan detail, akan terpapar bagaimana kejinya Bank ribawi ini mengeksploitasi (darah dan tenaga) nasabahnya.

    Seperti banyak ulama/ustadz yang bilang kalau kita terpaksa mungkin masih ditoleransi.

    Pertanyaannya sampai kapan kita terpaksa terus. Sudahkah kita berusaha agar lepas dari keterpaksaan ini. Coba lihat hati nurani kita lagi, apakah kita tergolong dalam keadaan terpaksa atau karena tidak mau kehilangan kenikmatan/gaya hidup yang saat ini.

    Di Alquran disebutkan (kalau nggak salah surat Albaqarah) bahwa orang-orang yang memakan (mengambil) riba tidak bisa berdiri dengan baik, berdirinya seperti orang yang kena tekanan penyakit gila. Hati-hatilah jangan-jangan kita sudah tidak beridiri (befikir) dengan benar saat ini karena telah memakan riba. Sehingga kita akan terus menghalalkan riba tersebut. Disebutkan juga, pemakan riba akan kekal menjadi penghuni neraka jahanam. Nauzulahimindzalik..

    Fakta yang menyedihkan kalau kita periksa diri sendiri dan masyarakatkita saat ini, kita akan temui bahwa Riba dan Daging Babi adalah hal yang sama-sama diharamkan, mungkin sama-sama kejinya. Tapi kita sangat suka memakan riba. Ya Allah, ampunilah dosa kami. Tunjukilah jalan keluar dari masalah ini.

    1. Marilah: kita menjadi Nasabah dan dan menabung pada/di Bank
    Syariah yang tidak menggunakan sistem riba ini.
    2. Berhati-hatilah, riba ini tidak hanya yang berkaitan dengan Bank.
    Dalam kehidupan sehari-hari sangat mungkin kita juga lalai dan
    terjebak riba.
    3. Mulailah kurangi pengeluaran kita, kurangi jeratan setan kredit.
    4. Lakukan transaksi sebisa mungkin dengan cash seandainya anda
    membeli sesuatu dengan facilitas ATM/Credit card Bank Ribawi.

    Mudah-mudahan kita semua diberi kekuatan untuk menjungkir balikan sistem ribawi yang saat ini sudah merasuk ke semua tulang sumsum kehidupan masyarakat kita. Amin.

    Mohon maaf seandainya ada yang tidak benar dari perkataan saya.

    Rabbani said:
    2 September 2009 pukul 23:43

    Sy adalah seorang sarjana ekonomi lulusan salah satu fakultas ekonomi negeri yang (konon) terbaik di Indonesia, dengan IPK 3 koma dan toefl 584. Sy merasa seharusnya dengan kualifikasi semacam itu sy bisa ‘keterima’ di bank-bank syariah di Indonesia. Sayangnya beberapa kali sy mencoba melamar ke bank syariah, ternyata tak ada satu pun yg lolos. Bahkan sy pernah melamar ke bank syariah tingkat lokal (BPRS lokal), pun tidak lolos. Bahkan (sekali lagi bahkan) sy tak berhasil mendapat kesempatan untuk sekadar magang di kantor konsultan ekonomi syariah.

    Sy merasa kecewa, memangnya sy kurang apa? Koq tak satupun bank syariah meloloskan sy bahkan untuk sekadar seleksi administrasi..

    Kemudian sy iseng2 melamar ke ODP sebuah bank konvensional milik pemerintah eh ternyata malah lolos hingga tahap 4, dan kini masih berjalan. Mengherankan..

    Dari sini sy bertanya, apa benar ekonomi syariah di Indonesia telah berkembang pesat? Dari sisi mana dilihatnya? Mungkin benar dari segi produk2nya atau kantor-kantor cabang yang mulai berkembang pesat. Namun faktanya, dilihat dari sisi tenaga kerja, perbankan syariah belum mampu menyerap secara lebih baik lagi tenaga2 kerja muslim yang ingin bekerja di bank syariah.

    Bahkan di saat begitu rendahnya tingkat penyerapan tenaga kerja muslim, ada bank syariah yg bersedia mempekerjakan non muslim. Padahal yg paling darurat membutuhkan bekerja di bank syariah adalah orang Islam, adapun untuk non muslim bisa bekerja di bank-bank konvensional. Belum lagi bank syariah yg mempersyaratkan pengalaman kerja, atau juga menyediakan lowongan2 outsource yg tidak menarik minat orang yg ingin serius bekerja di bank syariah.

    Sy kira ini menarik, kita menggaung2kan ekonomi syariah. Tapi saat orang2 ingin bekerja di bank syariah mereka kebingungan harus ngapain/gimana caranya..

    Sy pribadi tetap pada keyakinan bahwa bunga bank termasuk riba. Namun kita juga perlu melihat secara nyata bahwa sistem ekonomi ribawi lah yg saat ini sedang ‘berkuasa’, meski tidak di seluruh belahan dunia. Makanya jangan terlalu heran bila ada ulama yg menyatakan dengan tegas haramnya bekerja di bank konvensional dan ada juga yg menyatakan boleh karena darurat, karena bagaimanapun juga ada negara2 yg memang kondisinya sudah kondusif dan ada negara2 yang masih jauh dari kondusif buat ekonomi syariah. Tapi sy yakin kelak akan tiba masanya ekonomi syariah bangkit kembali, bersama tegaknya khilafah.

    zylva said:
    17 Oktober 2009 pukul 09:33

    Sebenarnya segala sesuatu yg meragukan artinya kita ragu apakah bekerja di bank konfensional itu haram atau tidak sebaiknya jgn di lakukan , bagi yg sdh terlanjur bekerja dibank konfensional tetaplah bekerja di bank tsb sambil tetap mencari pekerjaan lain yg barokah , dan terus berdo’a agar Allah meridhoi pekerjaan qt amin…
    ( saya sendiri bekerja di bank konfensional dan masih berusaha mencari pekerjaan lain yg sesuai dg Islam ) trims.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s