Mengapa Perolehan Kursi Parpol Islam di DPR Hasil Pemilu 2009 Merosot Drastis

Posted on Updated on

Daftar Perolehan Kursi Parpol Islam di DPR Hasil Pemilu 1999, 2004, 2009:

Partai Politik

Kursi DPR 1999

Kursi DPR 2004

Kursi DPR 2009

PKS

7

45

59

PAN

34

53

42

PPP

58

58

39

PKB

51

52

26

PBR

14

0

PBB

13

11

0

PPNU

5

0

Jumlah kursi parpol Islam

168

233

166

Jumlah kursi total

458

550

560

Persentase kursi parpol Islam

36,7

42,4

29,6

.

Ternyata, setelah mengalami kenaikan yang cukup signifikan pada tahun 2004, parpol Islam (dan berbasis muslim) mengalami penurunan tajam pada 2009. Mengapa? Tentu sebabnya ada lebih dari satu. Salah satunya adalah kekurangan figur tokoh.

Ketika perolehan parpol Islam di DPR 2009 ini menurun drastis bila dibandingkan dengan 2004, Partai Demokrat melejit disertai dengan munculnya dua partai baru: Gerindra dan Hanura. Ketiganya sama-sama mengandalkan figur tokoh. Sementara itu, parpol-parpol Islam kekurangan tokoh. Setelah Gus Dur, Amien Rais, dan Yusril Ihya M “turun dari gelanggang”, praktis tinggal tersisa Hidayat Nurwahid. Belum ada lagi figur baru yang menjadi tokoh Islam yang cukup menonjol di pentas nasional.

Salah satu sebab lainnya, umat Islam kurang bersatu. Seperti kita ketahui, pada 2009 ini diberlakukan Parliamentary Threshold (PT). Partai-partai yang suaranya kurang dari 2,5% tidak mendapat tempat di parlemen. (Lihat “Hasil Perolehan Kursi Parpol di DPR 2009 (dibandingkan dengan 2004)“.) Suara untuk Partai Bulan Bintang (PBB) dan sejumlah parpol islam kecil lainnya menjadi terbuang. Seandainya partai-partai ini bersatu atau bergabung dengan parpol islam besar yang sudah ada, suara-suara tersebut dapat meningkatkan jumlah perolehan kursi DPR, bukan?

Demikianlah analisisku selaku orang awam. Punya analisis lain? Silakan sampaikan!

Iklan

12 thoughts on “Mengapa Perolehan Kursi Parpol Islam di DPR Hasil Pemilu 2009 Merosot Drastis

    v2love said:
    11 Mei 2009 pukul 14:03

    Assalamualaikum.Saya setuju dengan pendapat sampean bersatu kita kokoh berceray kita kawin lagi..eh salah berceray kita runtuh..Dan juga para calon calon pemimpin banyk yang merendahkan dan melemahkan lawan nya.Dan juga sama sama ingin kedudukan dan tahta belaka.

    prabu said:
    12 Mei 2009 pukul 11:20

    Turunnya perolehan suara partai Islam merupakan cambuk bagi partai Islam sekarang karena ini indikasi bahwa mereka sekarang mulai ditinggal dan tidak dipercaya oleh masyarakat.

    Ini berbanding terbalik dengan hasil survey SEM Institute yang menunjukkan sekitar 78 persen masyarakat menyatakan setuju bahwa berbagai problem/masalah yang dialami bangsa ini karena tidak diterapkannya Syariah (Islam) dalam kehidupan di berbagai bidang, sementara 7 persen tidak setuju dan 15 persen tidak tahu. Yang mengejutkan dari hasil survey tersebut, kata Panji, 84 persen masyarakat yakin atau sangat yakin bahwa Syariah Islam bisa membawa mashlahat dan satu-satunya solusi bagi problematika bangsa, sementara 7 persen menyatakan tidak tahu dan 9 persen menyatakan kurang atau tidak yakin.

    Dari survey diatas saya ambil kesimpulan bahwa metode partai Islam sekarang tidak mau dakwah kepada syariat Islam secara terang-terangan merupakan kesalahan besar.

    Seandainya partai besar seperti PKS, PKB, PAN, PPP kampanyenya jualan syariat Islam insyallah umat Islam di Indonesia mau mendukung dan berjuang bersama partai2 ini.

    salam blogger

    team warnadunia.com

      Vincent said:
      18 Juli 2009 pukul 15:45

      Orang seperti anda ini yang akhirnya akan menimbulkan perpecahan di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merupakan negara PANCASILA , bukan islam …

        ainul mutamakin said:
        11 Juli 2012 pukul 16:49

        bernarkah bung?
        Dalam Islam, menerapkan syriat Islam itu seperti halnya sholat, WAJIB. Kalau ada umat Kristen yg mau ke gereja, silahkan itu kan syariatnya agama kristen. Kalau umat Budha sembahyang di Vihara, silahkan, itu kan hak mereka. Kalau Umat Islam mau menegakkan syariat Islam ya itu hak UMMAT ISLAM. Tidak ada satu golongan pun yg berhak untuk larang. Ini yg namany Pancasila Bung! kalau anda melarang2, anda tidaklah Pancasilais, malahan mungkin anda lebih dekat ke komunis atau Fasis, yg kerjaanya larang2 ummat beribadah.

    sondher said:
    12 Mei 2009 pukul 15:14

    PKS dan PKB apakah layak disebut partai islam orang doi nasionalis. tp memang basis pemilihnya NU dan Muhammadiyah.

    starlight21 said:
    12 Mei 2009 pukul 18:49

    sepertinya kok susah ya mempersatukan partai islam yang kecil-kecil. lha wong partai sebesar PKB aja memilih bercerai. betul nggak?

    achoey said:
    13 Mei 2009 pukul 00:28

    Cuma PKS,Partai Islam yg naik perolehan kursinya ya

    Bambang edi winarso said:
    13 Mei 2009 pukul 02:22

    Ass.
    Saya ingin menambahkan beberapa faktor yang menjadi penyebab partai-partai islam tidak mendapatkan suara seperti yang diharapkan.

    Selain dari kekurangan tokoh dan perpecahan internal yang terjadi di dalam beberapa partai islam seperti PKB dan PPP, faktor kaderisasi juga menjadi masalah tersendiri terutama di daerah-daerah provinsi dan kabupaten. Sebagai contoh di daerah saya Jambi, banyak caleg-caleg dari partai islam justru dari kalangan yang bermasalah. Saya sendiri sempat melaporkan ke DPD partai bersangkutan mengenai perihal itu. Tapi toh nyatanya mereka tidak mengambil tindakan atas laporan kami. Padahal jelas-jelas kami mengungkapkan bukti yang jelas dan otentik tentang kebejadan oknum caleg dari partainya.Mungkin cerita di atas hanya hal kecil, namun membuat kami menjadi tidak simpatik dengan partai islam tersebut.

    Perpecahan partai jadi isu yang paling santer dan ditengarai sebagai pemicu anjloknya peroleh suara dalam pemilu legislatif 9 April lalu. Sayangnya para pejabat partai-partai yang tengah berseteru tidak cukup pintar untuk menahan ledakan konflik paling tidak hingga pemilu usai. Kalau kita mengingat bagaimana perseteruan antara Gusdur dan Muhaimin, sayang sekali hal itu terjadi beberapa bulan sebelum pemilu legislatif diadakan. Saya yakin sampai saat ini pun para DPC-DPC dan DPW di daerah terpencil masih bingung dengan status antara Gusdur dan Muhaimin, yang mana ketuanya di antara kedua orang itu.

    Tidak bisa kita pungkiri bahwa mengusung bendera islam saja tidak cukup untuk menarik simpati masyarakat. Masyarakat kita butuh solusi atas kekeroncongan perut mereka, janji politik yang bersifat mengenyangkan justru lebih menarik perhatian mereka. Partai-partai islam tentu saja tetap penting sebagai penetral kebusukan perpolitikan. Artinya, partai islam dibutuhkan untuk menjaga agar jalannya pemerintahan tetap berada di dalam koridor islam dan kepatutan. Harapan yang sangat besar tentu tertumpu pada pundak partai islam dalam menciptakan pemerintahan yang sehat, islami dan anti korupsi, namun tetap mempunyai efek mengenyangkan yang saya sebut tadi di atas.

    Strategi yang paling tepat untuk menarik simpati masyarakat adalah tetap dengan menebarkan janji mengenyangkan tapi dalam koridor islam. Penyampaian nilai-nilai islam yang terlalu kental juga tidak tepat untuk iklim masyarakat Indonesia yang cenderung lebih suka politik yang general. Memang sangat sulit untuk menyisihkan nilai-nilai islam mengingat visi dan misi partai islam adalah meng-islamkan pemerintahan. Tapi pendekatan yang digunakan harus tetap menampilkan sisi general sebagai media terpopuler dalam menyentuh semua level masyarakat.

    Kini, semua kembali kepada hati nurani rakyat. Insya Allah yang terbaik adalah tetap menjadi yang lebih baik di antara kebaikan yang tersisa.

    Amin.
    Wassalam

    […] yang ditandai dengan merosotnya perolehan kursi partai-partai Islam di DPR. (Lihat “Mengapa Perolehan Kursi Parpol Islam di DPR Hasil Pemilu 2009 Merosot Drastis“) Namun dalam satu-dua hari belakangan ini, kita saksikan PKS-PAN-PPP saling merapat. […]

    Mas Koes said:
    14 Mei 2009 pukul 16:05

    Ass. Wr Wb

    Bpk/Ibu mhn maaf menyela di antara diskusi yg hangat ini.
    Mungkin anda berminat menyusun BUKU BIOGRAFI (individu/instansi).

    Silakan email ke: bukubiografi@yahoo.com

    Wass. Wr Wb

    BADRI said:
    18 Mei 2009 pukul 19:58

    Kalau sepintas yang yang saya tahu untuk mengetahui “Partai Islam” atau bukan kita bisa melihat platform, visi, misi dasar partainya.
    Untuk Partai PKS saya sudah membaca Dasar pijakan partai juga visimisi platformnya adalam partai Islam tatapi PKB saya belum baca, kelihatannya bukan partai Islam. Sebuah wadah yang kayaknya dibuat Naionalis hanya orang di dalamnya yang kebanyakan dari golongan muslim dari NU.

    zen said:
    19 Mei 2009 pukul 11:56

    saya liat di antara partai-partai islam itu sendiri pada gak akur, ketika pemilihan misalnya, yang satu mencerca yang lain merasa golongannya lebih baik.
    kemudian masyarakat umum yang melihat dan mendengarnya jadi semakin pesimis dengan partai islam.
    ada apa dengan partai-partai islam????

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s