Kesalahan Istikharah SBY dalam Memilih Cawapres Boediono

Posted on Updated on

Baru-baru ini aku membaca gugatan dua orang blogger mengenai istikharahnya SBY dalam memilih cawapres Boediono. Blogger pertama (nirwansyahputra) langsung menegur, “SBY, Jangan Main-main dengan Istikharah!” Blogger kedua (nusantaraku) mempertanyakan, “Dan apakah sosok ekonom seperti Boediono memang merupakan pilihan Tuhan untuk memimpin negeri ini? Apakah Tuhan memang memilih sosok ekonom yang enggan membantu rakyat kecil disisi lain senang membantu pengusaha kaya? Atau sebaliknya, “istikharah” hanyalah kedok politik atas nama Agama?

Kedua blogger tersebut menggunakan sudut pandang logika dalam analisis mereka. Di sini, aku hendak menggunakan sudut pandang agama Islam. Kebetulan, masalah istikharah bukanlah perkara yang asing bagiku. (Selama ini, ada dua buku karyaku mengenai istikharah, yaitu Rahasia Sholat Istikharah dan Istikharah Cinta.)

Pertanyaan yang hendak kujawab dalam postingan ini adalah: Apakah dalam memilih Boediono sebagai cawapres, SBY sudah melakukan istikharah sesuai dengan ajaran agama Islam? Kalau belum sesuai, di manakah letak kesalahannya atau kekurangsempurnaannya?

An-Nawawi menjelaskan, “Disunahkan untuk bermusyawarah sebelum melakukan istikharah.” (Al-Mausu’ah al-Kuwaitiyyah, 3/243) Salah satu dalilnya, Allah SWT berfirman: “Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah mengambil keputusan [seusai musyawarah dan istikharah], maka bertawakkallah kepada Allah.” (QS Ali ‘Imran: 159)

Pada kenyataannya, dalam menetapkan pilihan Boediono sebagai cawapres, SBY tidak bermusyawarah lebih dulu dengan partai-partai pendukung koalisinya. SBY hanya menyampaikan informasi setelah keputusan itu beliau ambil. (Lihat “Empat Parpol Koalisi Merasa Tak Diajak Bicara“.)

Tidak bermusyawarah lebih dulu itulah salah satu kesalahan atau kekurangsempurnaan istikharahnya SBY dalam memilih Boediono sebagai cawapresnya. Jadi, istikharah yang beliau lakukan itu belum sepenuhnya sesuai dengan ajaran Islam.

Wallaahu a’lam.

62 thoughts on “Kesalahan Istikharah SBY dalam Memilih Cawapres Boediono

    Abdul Cholik said:
    18 Mei 2009 pukul 08:18

    Assalamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

    1. Sebaiknya kita tidak under estimate dan buruk sangka kepada orang lain (baik kepada SBY maupun Budiono) karena belum kitapun belum tentu benar.

    2. Walaupun tidak musyawarah dgn Parpol, selain sholat istikharah,ada kemungkinan SBY sudah minta pendapat kiri-kanan sebelum memilih Budiono.

    3. Hanya Allah Swt yang Maha Mengetahui apakah sholat kita benar atau tidak,diterima atau tidak.Kita mungkin sudah merasa melaksanakan sholat dengan benar tetapi dimata Allah mungkin juga belum tentu benar.

    4. Allah berfirman ” sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar”. Mengapa orang2 yang sholat masih melakukan perbuatan keji dan munkar ??

    5. Artikel anda bagus untuk ajang diskusi.

    6. Maju terus.

      M Shodiq Mustika responded:
      18 Mei 2009 pukul 08:35

      @ Abdul Cholik
      Dari enam butir pernyataan tersebut, yang relevan adalah yang nomor 2 dan 5-6. Karena itu, tiga butir ini sajalah yang aku tanggapi.

      2) Dalam kaitannya dengan istikharah, tidak sembarang orang itu kita ajak musyawarah. Bermusyawarah dengan “kiri-kanan” saja belum menggugurkan perlunya musyawarah dengan yang lain. Aturannya ada tersendiri. Jadi, seandainya SBY “sudah minta pendapat kiri-kanan sebelum memilih Budiono”, itu jelas masih belum memadai. Perhatikan bahwa yang disebut untuk diajak musyawarah dalam ayat termaktub adalah “mereka”, bukan yang ada di “kiri-kanan” saja.

      5-6) Terima kasih atas pengertian dan dorongannya.

        nugraha said:
        19 Mei 2009 pukul 18:13

        sholat istikhoroh adaah hal yang dianjurkan dalam menghadapi masalah yang harus dipilih tentunya dalam mengharap ridho Allah hendaknya kita selalu berbaik sangka terhadap siapapun biarlah penilaian itu ada pada Allah semata

          M Shodiq Mustika responded:
          20 Mei 2009 pukul 15:05

          @ nugraha
          Allah menyuruh kita untuk amar ma’ruf nahi munkar. Tidak selayaknya seseorang menggembar-gemborkan istikharah, seolah-olah sudah sempurna sehingga tak bisa diganggu gugat, padahal menurut tuntunan Allah dan Rasul-Nya istikharah tersebut masih jauh dari sempurna.

      starlight21 said:
      22 Mei 2009 pukul 22:19

      ternyata politik itu sangat membingungkan. Enakan nggak usah pusingkan istikharahnya orang. Mendingan kita aja yang istikharah saat mau memilih siapa yang akan jadi pemimpin kita nanti.

    v2love said:
    18 Mei 2009 pukul 08:58

    smoga aja yang akan terjadi dan yang menjadi pemimpin indonisia akan datang adalah kehendak dan diridoi tuhan yang maha esa.

    wahyu am said:
    18 Mei 2009 pukul 09:46

    Selama ini, ada dua buku karyaku mengenai istikharah, yaitu Rahasia Sholat Istikharah dan Istikharah Cinta

    jadi pengen baca bukunya nihh😀

    Yep said:
    18 Mei 2009 pukul 10:50

    Jika SBY dan Boediono or JK-Wiranto or Mega Prabowo terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Periode 2009 – 2014… Nanti !

    Saya yakin bahwa merekalah Presiden dan Wakil Presiden yang diberikan “ALLAH” kepada Bangsa Indonesia.

    becouz said:
    18 Mei 2009 pukul 11:02

    diluar masalah kesalahan istikharah, mungkin emang ini bukan pilihan tepat buat SBY. Tapi mungkin pilihan yang terbaik yang ada dan yang bisa diambil.

    abdullah said:
    18 Mei 2009 pukul 13:22

    mas shadiq, sepertinya anda juga harus teliti ketika membahas masalah seperti ini. dari mana anda tahu kalau SBY tidak istikharah? dari berita? bukankah Allah jg berfirman: “Hendaklah kalian bertabayyun”.
    Apakah musyawarah harus dengan partai-partai pendukung koalisinya? kalau seandainya SBY harus bermusyawarah dengan mereka kira2 ada hasilnya gk ya?? tentu semuanya gk mau ngalah.
    mungkin aja beliau bermusyawarah dengan para pengurus Demokrat. wallahu a’lam
    Yang jelas kita berdo’a aja agar mendapatkan pemimpin yang baik bagi kita semua.

      M Shodiq Mustika responded:
      18 Mei 2009 pukul 13:38

      @ abdullah
      1) Mari kita berdoa supaya mendapat pemimpin yang “rahmatan lil ‘alamin”.
      2) Harap baca dengan lebih cermat!
      2a) Namaku Shodiq, bukan Shadiq.
      2b) Di postingan di atas, aku TIDAK menyebut bahwa “SBY tidak istikharah”.
      3) Justru ketika berprasangka bahwa takkan ada yang ngalah, maka musyawarah semakin dibutuhkan. Prasangka itu tidak membatalkan perlunya musyawarah.
      4) Pengajuan capres-cawapres tersebut adalah dari koalisi 23 parpol. Jadi, musyawarah dengan pengurus satu partai saja tentu belum memadai.

    abdullah said:
    18 Mei 2009 pukul 13:24

    RALAT
    “dari mana anda tahu kalau SBY tidak istikharah”

    yang benar:

    “dari mana anda tahu kalau SBY tidak musyawarah”

      M Shodiq Mustika responded:
      18 Mei 2009 pukul 13:49

      @ abdullah
      Harap baca kembali dengan lebih cermat! Yang aku tulis dalam postingan di atas adalah “SBY tidak bermusyawarah lebih dulu dengan partai-partai pendukung koalisinya.” Sumber berita sudah aku cantumkan. Tabayyunnya sudah aku lakukan.
      Pengajuan capres-cawapres tersebut adalah dari koalisi 23 parpol. Semua ketua-umum dan sekjen semua parpol tersebut dimintai tanda tangan pengesahan. Karena itu, musyawarahnya perlu dengan 23 parpol tersebut. Lain halnya kalau capres-cawapres itu diajukan oleh Partai Demokrat sendiri, tentu SBY tak perlu mengajak parpol lain untuk bermusyawarah.

    Bambang Edi Winarso said:
    18 Mei 2009 pukul 14:06

    Assalamualaikum WR. WB

    Ikut menambahkan.
    Karena dari sisi Islam masalah ini sudah dipaparkan secara singkat oleh Pak M. Shodiq Mustika dan sebagian juga ditambahkan oleh rekan-rekan lain, saya mencoba untuk menambahkan dari sisi yang lebih general.

    Seperti yang kita tahu negara kita termasuk negara berkembang yang tengah menggeliat dari himpitan krisis, sehingga SBY-menurut saya-mempertimbangkan kebutuhan akan seseorang yang paham betul dengan krisis dan cara untuk mengatasinya. Hal ini juga tak lepas dari majunya JK sebagai capres dari partai Golkar. di masa SBY-JK, JK sangat berperan di dalam pengambilan kebijakan-kebijakan ekonomi termasuk ketika krisis menerpa Indonesia. Kehilangan JK-lah yang membuat SBY kemudian mencari seorang figur yang mempunyai kapasitas sebagai seorang ekonom, kebetulan Budiono adalah Gubernur BI yang tentu saja memiliki kredibilitas sebagai seorang ahli ekonomi makro dan sistem pasar sekarang. Dilihat dari kapasitasnya, Budiono jelas mampu menutupi kekosongan SBY.

    Itu tadi pertimbangan pertama menurut pandangan saya, pertimbangan kedua yang juga masih menurut saya adalah suatu pemikiran untuk mengamankan semua kebijakan mengingat akan sistem pemerintahan presidensil yang dianut oleh pemerintahan SBY. Apalagi kita tahu bahwa Budiono bukanlah orang politik yang memiliki partai guna mem-back up dia, dengan begitu SBY bisa melakukan manuver-manuver kebijakan di pemerintahan tanpa interventsi partai yang tidak pro kepadanya. Contoh: ketika SBY memutuskan untuk menerapkan BLT. Sebenarnya keputusan tentang BLT lebih banyak dipengaruhi oleh kubu JK atau partai-partai yang pro JK (saat itu) meskipun SBY mengklaim merekalah yang memprakarsai program tersebut. Intinya memang hasil kerja secara kolektif, tapi dari sisi porsi, JK memang lebih dominan dalam memperhitungkan setiap kebijakan ekonomi yang diambil oleh pemerintah. Ini yang kemudian dipikirkan juga oleh SBY, saya sendiri tidak begitu suka dengan alasan ini walaupun cuma penafsiran yang belum tentu benar. Nah, dengan tidak adanya intervensi dari “partai Budiono” SBY lebih leluasa menjalankan pemerintahan presidensilnya dengan harapan masyarakat melihat apapun hasil kerja pemerintah, sebagai hasil kerja SBY dan Partai Demokrat.

    Apapun itu, mudah-mudahan pasangan terbaiklah yang akan memimpin bangsa ini.
    Amiiin…

      M Shodiq Mustika responded:
      18 Mei 2009 pukul 14:13

      @ Bambang Edi Winarso
      Kalau SBY memang hendak “melakukan manuver-manuver kebijakan di pemerintahan tanpa interventsi partai yang tidak pro kepadanya”, maka mestinya pengajuan capres-cawapres itu cukup dari Partai Demokrat saja, tak perlu mengajak koalisi dengan partai lain. Tapi karena mengajak koalisi itulah, musyawarah dengan partai lain diperlukan. Sekali lagi aku sampaikan:
      Pengajuan capres-cawapres tersebut adalah dari koalisi 23 parpol. Semua ketua-umum dan sekjen semua parpol tersebut dimintai tanda tangan pengesahan. Karena itu, musyawarahnya perlu dengan 23 parpol tersebut.

    nusantaraku said:
    18 Mei 2009 pukul 15:56

    Bagus Pak Shodiq, minimal menambah referensi saya dan referensi blog saya. Penjelasannya yan baik dari Pak Shodiq. Dan tentunya, jika ingin istikharah, hendaknya tidak berkoar-koar ke publik, “halo..halo….dia lagi istikharah.”

      M Shodiq Mustika responded:
      18 Mei 2009 pukul 16:44

      @ nusantaraku
      Terima kasih atas apresiasinya.

    tes said:
    18 Mei 2009 pukul 15:56

    nyante aja om,,nyatanya sekrng yg 23 parpol itu jg dah setuju…(masih tetep koalisi)

    ni bkn negara agama om

      M Shodiq Mustika responded:
      18 Mei 2009 pukul 16:39

      @ tes
      Koalisi adalah urusan parpol, tetapi istikharah merupakan perkara agama.
      Posisiku adalah da’i yang netral. Entah para parpol itu mau tetap koalisi ataukah tidak, itu bukan urusanku. Selaku da’i, aku hanya mengingatkan adanya kesalahan dalam istikharah nya SBY itu dari sudut pandang agama, bukan sudut pandang politik.

        SHOMAD said:
        21 Mei 2009 pukul 10:01

        OM……?! ukuran standart diterima atua tidaknya istikharah itu ada kreterianya enggak?

          M Shodiq Mustika responded:
          21 Mei 2009 pukul 10:12

          @ shomad
          Kita hanya bisa menilai bagaimana prosesnya. Adapun hasilnya apa, kita hanya diminta tawakkal.

        pino said:
        27 Mei 2009 pukul 22:16

        wah kalau gitu pak shodiq, baiknya bapak beri tahu kepada SBY bahwa istikharah yang beliau lakukan itu belum sepenuhnya sesuai dengan ajaran Islam, makanya beliau memilih budiono. dan beritahu yang sesuai menurut ajaran islam.

        di atas langit ada langit
        tak ada yang sempurna selain Allah SWT

          M Shodiq Mustika responded:
          27 Mei 2009 pukul 22:44

          @ pino
          Saudara2 kita, terutama dari PKS, sudah mengingatkan SBY. Kita tinggal berharap semoga kajadian semacam itu tak terulang.

    ayadila said:
    18 Mei 2009 pukul 17:15

    Ga usah bermusyawarah ga masalah, kita ini memang salah kaprah diajari dari kecil pemilihan ketua OSIS yang kalah jadi wakil,
    dalam demokrasi winner take all, jadi partai yang ga diajak jadi wapres ga usah mutung salah sendiri kalah..
    dewasa saja terima kekalahan .. nyalon sendiri kaya JK ga usah memohom-mohon ..
    ga nyambung ya ? biarin..

      M Shodiq Mustika responded:
      18 Mei 2009 pukul 17:26

      @ ayadila
      Ya, komentarnya memang gak nyambung. Aku bukan kontestan pemilu. Jadi, aku takkan menang atau pun kalah.
      Yang aku bicarakan di sini selaku da’i adalah istikharah. Menurut sunnah Nabi, kita perlu lebih dahulu bermusyawarah sebelum melakukan istikharah. Jadi, dari sudut pandang agama, tanpa musyawarah itu masalah! Justru tradisi “winner take all” tanpa musyawarah itulah yang keliru.

    buL said:
    18 Mei 2009 pukul 18:31

    JK milih Wiranto gak seheboh ini. Megawati milih prabowo (dgn proses yang alot) gak seheboh ini juga. apa artinya??? artinya kita png “lanjutkan” tapi dengan calon wakil yang “pas”. Indonesia penduduknya 220 juta jiwa loohhh… “pas” bagi 200 juta belum tentu “pas” bagi 20juta yang lainnya. so … kita juga mesti “istikharah” sebelum 8 juli nanti (7 juli saya milad loh). kalo saya sih udh pasti jadi bagian yang 40% dalam pileg kmrn hehehe

    Adityawarman said:
    18 Mei 2009 pukul 18:50

    Semoga SBY benar2 istiharah, bukan hanya ngomong istiharah hanya untuk menyenangkan kaum muslim saja, entar kualat ndah terpilih.

    Ziadi Nor said:
    18 Mei 2009 pukul 19:12

    Assalamu’alaikum sahabat Shodiq. Agaknya terlalu naif bagi kita kalau hanya menilai ibadah seseorang dari hasil yang terlihat, memang kelemahan pak SBY dari ketiadaan musyawarah dg rekan koalisi sbelum istikharah, tetapi kita juga harus percaya akan adanya takdir, karena segala sesuatunya sdh di tentukan Allah, jauh sbelum kita ada.

      M Shodiq Mustika responded:
      19 Mei 2009 pukul 00:48

      @ Ziadi Nor
      wa’alaykumussalaam akhi Ziadi.
      1) Benar, memang terlalu naif bila kita melihat dari hasil yang terlihat. Karena itulah yang kita nilai bukan hasilnya, melainkan prosesnya. Siapa pun yang dipilih, bila tidak musyawarah lebih dahulu dengan pihak-pihak terkait, maka itu kurang islami.
      2) Apa pun takdir kita, hendaknya kita mengikuti ajaran-Nya, bukan? Kalau Dia sudah memerintahkan kita untuk bermusyawarah, mengapa kita enggan melakukannya?

      nugraha said:
      19 Mei 2009 pukul 18:27

      saya setuju dengan pendapat Ziadi nor, manusia hanya berencana dan berusaha ,takdir Allah yang akan menentukan segalanya bravo SBY !maju terus tetaplah tawakal dan semoga tetap diluruskan niatnya amiin

    adin said:
    18 Mei 2009 pukul 19:25

    Assalamualaikum wr.wb.

    Kenapa sih urusan istikharah aja diributkan. bukankah yang istikharah dan mencalonkan presiden itu SBY??? yang minta petunjukkan SBY jd yg diberi petunjuk ya SBY… dan ketika SBY memutuskan memilih Boediono so what…. mungkin itu yang terbaik bagi bangsa kita. kita semua tidak akan tahu apa yang bakal terjadi di masa mendatang, lalu kenapa kita meributkannya? umat muslim memang di anjurkan untuk melakukan istikharah jika mengalami kesulitan dalam membuat keputusan. positif thinking ajalah…. bagi saya gak penting siapa yang jadi presiden, tetapi yang terpenting adalah presiden kita nanti harus orang yang beriman pada Allah SWT.

      M Shodiq Mustika responded:
      19 Mei 2009 pukul 01:05

      @ adin
      wa’alaykumussalaam…
      1) Sebab, istikharah adalah sunnah Nabi. Kalau ada yang menjalankannya secara salah atau kurang sempurna, ya kita berusaha meluruskannya dong. Allah SWT yang kita imani itu telah memerintahkan kita untuk amar ma’ruf nahi munkar, bukan?
      2) Terlalu naif bila kita melihat dari hasil yang terlihat. Karena itulah yang kita nilai bukan hasilnya, melainkan prosesnya. Siapa pun yang dipilih, bila tidak musyawarah lebih dahulu dengan pihak-pihak terkait, maka itu kurang islami.

    scorpiansyah said:
    18 Mei 2009 pukul 23:46

    nggak dapet jatah, marah-marah…
    trus rame soal Istikharah…
    Apa udah sedemikian parah?
    nyantai aja ah… aku rasa gggak ada yang salah…
    gw setuju sama Om Shodiq: Musyawarah. (Salam kenal, ya Om).
    (Lagian kayaknya bukan hak manusia menentukan salah atau benarnya sebuah ibadah. Kita cuma punya sudut pandang dengan suatu sandaran yang diyakini)
    Btw Selamat buat LASKAR PELANGI dan NIDJI… Melihat kalian lebih asyik ketimbang nonton pertandingan politik…
    Permisi semua n jangan marah…

      M Shodiq Mustika responded:
      19 Mei 2009 pukul 01:11

      @ scorpiansyah
      Salam kenal kembali. Yang salah dalam hal ini adalah yang tidak menjalankan perintah Allah untuk bermusyawarah. Kemudian bila kita membiarkan begitu saja kesalahan itu, maka kita pun ikut bersalah.

    abdullah said:
    19 Mei 2009 pukul 00:25

    Mas Shodiq, bagaimana dengan kisah siti Zainab yang akan dipinang Rasul kemudian katanya mau istikharah dulu. dan tidak disebutkan bahwa siti Zainab musyawarah, apakah beliau juga salah???
    sehingga berhak untuk dikatakan “kesalahan istikharah Zainab dalam memilih Rasul sebagai pendamping”

      M Shodiq Mustika responded:
      19 Mei 2009 pukul 00:34

      @ abdullah
      Tidak disebut di sebuah hadits itu tidak berarti tidak dilakukan. Hadits itu ada banyak. Hadits-hadits lain menunjukkan perlunya musyawarah lebih dulu.

    abdullah said:
    19 Mei 2009 pukul 00:29

    Kemudian mas shodiq, bukankah PD sudah mengatakan bahwa pemilihan cawapres adalah hak murni dari pk SBY makanya, mungkin aja beliau musyawarah dengan PD-nya dan tidak dengan partai-partai pendukungnya. barakallahu fiik
    jadi ketika beliau tidak bermusyawarah dengan partai pendukungnya sangat tidak tepat untuk dikatakan beliau bersalah dalam istikharahnya.

      M Shodiq Mustika responded:
      19 Mei 2009 pukul 00:39

      @ abdullah
      Dalam pernikahan pun, sang calon mempelai memiliki hak penuh untuk memilih. Sungguhpun demikian, tetap saja Islam mengajarkan untuk bermusyawarah.

    abdullah said:
    19 Mei 2009 pukul 08:17

    [Shodiq]: “Tidak disebut di sebuah hadits itu tidak berarti tidak dilakukan.”
    perkataan anda ini benar jika ada jalur riwayat lain yang menyebutkannya. Akan tetapi jika tidak ada sama sekali yang menyebutkan siti Zainab bermusyawarah maka dipahami sesuai zhahirnya.

    Hadits itu ada banyak. Hadits-hadits lain menunjukkan perlunya musyawarah lebih dulu.”
    kita tidak memungkiri musyawarah itu perlu, akan tetapi tidak tepat untuk menyalahkan seseorang yang tidak melalukannya. Terlebih ketika seorang tersebut telah mlakukan istikharah.

    Jika banyak hadits berkaitan dengan musyawarah kemudian ada hadits yang meniadakannya maka itu hanya menunjukkan afdhaliyah, barangsiapa yang melakukan musyawarah itu lebih baik daripada tidak melakukannya. barakallafu fiik

      M Shodiq Mustika responded:
      19 Mei 2009 pukul 09:57

      @ abdullah
      Kalau masalah afdhaliyah, istikharah itu sendiri pun hanya afdhal, tidak wajib. Itulah sebabnya aku menyebutkan perihal istikharahnya itu: “atau kurang sempurna”, bukan sekadar menyalahkan.
      Oke, abdullah sekarang sudah mengakui bahwa istkharahnya SBY kurang afdhal alias kurang sempurna. Jadi, diskusi kita sudah selesai. Terima kasih atas pengertiannya.

    polreskuningan said:
    19 Mei 2009 pukul 09:25

    Landasi setiap komentar dengan Hati yg bersih, tidak ada dendam dan tidak ada niat menjatuhkan seseorang…. Dengan kalimat yg baik dan bijak Insya Allah akan meneduhkan hati yg panas…

    zen said:
    19 Mei 2009 pukul 11:26

    kalau gitu
    GOLPUT aja
    sby “cantiq” bener maen politik
    hati-hati ketipu

    Kang Yudiono said:
    19 Mei 2009 pukul 13:12

    Saya pikir Pak SBY sudah sempurna istikharahnya. Pengertian musyawarah di sini adalah pak SBY meminta usulan agar setiap parpol koalisi mengajukan calon-calonnya. Pemilihan cawapress ada di tangan Pak SBY dengan mempertimbangkan beragam variabel.

    Bagi parpol yang merasa gak diajak musayawarah, mereka harus sadar bahwa mereka sekadar mengusulkan saja. Namanya juga usulan, bisa disetujui atau tidak oleh Pak SBY🙂

    –Tanggapan M Shodiq Mustika:
    Parpol-parpol peserta koalisi sudah menerima Boediono sebagai cawapres SBY. Jadi, saran “mereka harus sadar bahwa mereka sekadar mengusulkan saja” tidak relevan lagi.
    Lepas dari masalah apakah itu hanya usulan ataukan tidak, nyatanya pembicaraan tentang pilihan SBY terhadap Boediono itu dilakukan setelah SBY mengambil keputusan tersebut. Padahal, mestinya musyawarah tersebut dilakukan SEBELUM pengambilan keputusan. Itulah kesalahan atau kekurangsempurnaan SBY dalam istikharah ini.

    akmalhasan said:
    19 Mei 2009 pukul 13:41

    Kalo tidak salah ada 19 cawapres diajukan ke SBY oleh para simpatisan. Memilih 1 dari 19 tentu hal yang cukup sulit bagi SBY, sehingga penentuan dengan istikharah pun diambil. Alih-alih mengusung cawapres dari parpol, pilihan SBY jatuh kepada cawapres profesional (non-parpol), yaitu Boediono. Setiap pilihan (apapun itu), tentu menuai konsekuensi, yang dalam hal ini justru menghadirkan penolakan dari dalam, yaitu para pendukung koalisi. Namun pada detik-detik terakhir sebelum deklarasi di Sabuga, semua partai pendukung koalisi sepakat dengan pilihan SBY.
    Konsekuensi apa lagi yang akan dituai? Mari kita simak perkembangan politik hingga pilpres 9 Juli mendatang🙂

    Salam,
    Akmal

    unamedplayer said:
    19 Mei 2009 pukul 14:21

    oohh gitu toh,,,,

    tegarz said:
    19 Mei 2009 pukul 15:58

    Sesama muslim mari kita berkhusnudzon kepada pak SBY, smoga memang benar2 atas hasil istikharah-lah beliau menggandeng pak Boediono.
    Entah nanti menang atau tidak statemen parpol pengusungnya yang menyatakan keputusan itu berdasarkan istikharah pasti akan dipertanggungjawabkan kelak

      M Shodiq Mustika responded:
      20 Mei 2009 pukul 02:29

      @ tegarz
      Ya, semua amal perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.
      Perihal istikharahnya SBY ini, aku tidak berprasangka. Aku mengemukakannya berdasarkan fakta. (Sumber informasinya telah kusampaikan.)

    BOY said:
    19 Mei 2009 pukul 17:49

    Assalamualaikum Mas Shodiq.
    Memang istikharah dapet memberikan petunjuk atas apa yang akan kita lakukan. Mungkin Pak SBY itulah pilihannya walaupun secara implisit tidak tepat tapi ia sebenarnya ingin memperkuat ekonomi agar bangsa ini tidak anjlok akibat krisis global yang belum usai. Mungkin ada yang coment bahwa pak Budi tidak suka membantu orang kecil, ini mungkin pada waktu ia menjadi gub BI sehingga wewenangnya tidak luas seperti jika ia terpilih bersama Pak SBY. Mudah-mudahan ia akan selalu melihat rakyat kecil sekaligus membangun ekonomi kerakyatan sehingga Indonesia tetap jaya. Selamat berjuang SBY Berbudi………… Jika anda ikhlas, Allah SWT akan membantunya.

    dimas prabu said:
    19 Mei 2009 pukul 20:15

    Waduh..apakah kita perlu mengingatkan pak SBY?

      M Shodiq Mustika responded:
      20 Mei 2009 pukul 01:59

      @ dimas prabu
      Saudara-saudara kita, terutama dari PKS, telah mengingatkan SBY dalam hal ini. Kita berharap, kesalalahan atau kekurangsempurnaan semacam ini tidak terulang, baik oleh SBY maupun kita semua.

    diazhandsome said:
    19 Mei 2009 pukul 20:47

    prosesnya emang salah (kata om shodiq). tapi kalau yang dihasilkannya bagus, rakyat juga senang. lagian sebagian besar masyarakat menganggap SBY-Berboedi pasangan yang bagus (menurut berita yang terbaca).

    oh iya, belom boleh milih sih. tapi ikutan komen boleh lah.😉

    Dodik Setiawan said:
    19 Mei 2009 pukul 21:14

    Yang salah itu ya saya gak tau dipihak sapa… tapi jelas2 saya heran… kenapa istikharah perlu dikasih tau ke media massa??? apa biar malaikat dengar ada salah satu umatnya bingung menentukan pilihan begitu?. Ya semua nantinya kita lihat kedepan siapa yang pantas bagi kita. Karena rakyat kita butuh pemimpin…

    bangun said:
    19 Mei 2009 pukul 23:06

    hoooiiiii…………ribut amat sih kalian….!!!!. politik….. ini politik……tau ga sih loe pada….? emangnya segala sesuatunya harus kalian ketahui? emangnya segala sesuatunya harus dipublikasikan,termasuk sholat istikharahnya sby…? naif amat kalian. politik….ini politik….menurut gue kalian kayaknya lebih pinter deh daripada pra politikus itu, knapa ga kalian aja yang maju jadi pemimpin negeri ini? sudah,mandi sana biar seger.

      M Shodiq Mustika responded:
      20 Mei 2009 pukul 02:04

      @ bangun
      Di atas tadi telah kusampaikan:
      Koalisi adalah urusan parpol, tetapi istikharah merupakan perkara agama.
      Posisiku adalah da’i yang netral. Entah para parpol itu mau tetap koalisi ataukah tidak, itu bukan urusanku. Selaku da’i, aku hanya mengingatkan adanya kesalahan dalam istikharah nya SBY itu dari sudut pandang agama, bukan sudut pandang politik.

    JS said:
    20 Mei 2009 pukul 10:29

    Kalau saya melihat koment pak shodiq adalah simpatisan PKS. Yang jelas dimunculkannya berita istikharah SBY untuk memilih Boediono adalah supaya masyarakat tau bahwa SBY orang yang bertuhan.

    Mishbahul Munir said:
    20 Mei 2009 pukul 16:19

    Yah, tidak ada orang yang stress kalau semua masalah bisa selesai hanya dengan sholat istikhoroh atau hanya dengan doa! Kita lihat saja apakah memang itu jawaban terbaik bagi Indonesia ya!

    salam: http://mishbahulmunir.wordpress.com/

    erwin said:
    21 Mei 2009 pukul 03:45

    salam kenal…..
    aku setuju pendapat Mshodiq mustika,klu ibadah kepada allah jgn berkoar-koar dong,klu prosesnya salah tentu hasilnya tidak baik bukan begitu kan………..yg penting musyawarah dulu donggggg

    pino said:
    27 Mei 2009 pukul 22:40

    trs kalau ditanyain sama para partai pendukung mengapa pilih boediono, apa udah istikharah? SBY harus jawab apa dong, apakah salah dia menyebutkan bahwa dia udah melakukan istikharah untuk menentukan pilihannya? (mohon bimbingan)

    Di atas langit ada langit
    Tak ada yang sempurna selain Allah SWT

    Alif said:
    13 Juni 2009 pukul 15:13

    Assalamualaikum. Pak Shodiq, maksud sampean bagus,tapi kalau menurut saya tidak tepat memberikan pernyataan bahwa Sholat Istikhoroh nya Pak SBY salah dan kurang sempurna. Menurut saya beliau sudah lebih bagus melakukan Sholat Istikhoroh (jika memang betul melakukan) daripada yang tidak melakukan. Seperti halnya amalan sunnah yang lain pasti ada yg tidak sama pendapatnya. Contoh Sholat Tarowih. Ada yg 23 ada yang 11. Kesimpulan. Tolong jangan memberikan ‘nilai akhir’ dari pelaksanaan suatu ibadah karena hanya Allah yang tahu dan berhak menilainya. Terima kasih. Wassalamualaikum.

    burman hendra said:
    14 Juni 2009 pukul 11:55

    Apapun ibadah yg dilakukan oleh umat selama masih dalam koridor tuntunan Rasulullah berarti ibadah yang dilakukan tsb telah benar, tapi apabila ibadah tsb hanya setengah2 dan hal tsb sudah dianggap benar oleh yang melakukan maka ibadah tsb tertolak, hal ini tdk bs dibantah lagi dan merupakan harga mutlak bagi umat muslim….

    Arie_hz said:
    20 Agustus 2009 pukul 13:59

    Assalamualaikum. Maaf ikut nimbrung. Saya salut dengan anda pak Shodiq. Anda sudah melaksanakan kewajiban anda dalam menegakkan syariat Islam. Akan tetapi ada satu hal dalam tulisan yang saya amati dimana itu mungkin yang menyebabkan beberapa pembaca mengkritik anda dengan pedas.
    dituliskan pada paragraf terakhir:

    “Tidak bermusyawarah lebih dulu itulah salah satu kesalahan atau kekurangsempurnaan istikharahnya SBY dalam memilih Boediono sebagai cawapresnya. Jadi, istikharah yang beliau lakukan itu belum sepenuhnya sesuai dengan ajaran Islam.

    ketika membaca kalimat diatas, kata “kesalahan” itu agak mengganggu saya. Mungkin ini yang dimaksud oleh komentar2 yang diatas (maaf kalo salah). Kata “kekurangsempurnaan” juga agak sedikit mengganggu. Seakan-akan, sya ulangi lagi “seakan-akan” anda memberikan judge diterima-tidaknya ibadah seseorang. Memang betul, seperti yang anda maksudkan, anda bukan melihat hasilnya tapi melihat prosesnya. saya setuju itu. tapi mungkin pemilihan kata dalam kalimat tersebut menimbulkan persepsi yang berbeda.
    Kalimat selanjutnya yaitu “istikharah yang beliau lakukan itu belum sepenuhnya sesuai dengan ajaran Islam” itu yang menurut saya lebih enak dibacanya.🙂 Maaf kalo ada salah pak.

    Terima kasih.

    Wassalam

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s