Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT): Bagaimana agamawan bersikap?

Posted on Updated on

Dari brwosing hari ini, aku jumpai satu berita menarik mengenai bagaimana agamawan bersikap terhadap kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga. Isinya lumayan “menampar” diriku selaku “agamawan”. Kurasa, perhatianku terhadap masalah ini masih kurang. Bagaimana dengan dirimu? Oh ya, ini dia berita yang aku maksud:

Selasa, 04 Mei 2009 18:04
Peluncuran Buku Memecah Kebisuan: Agama Mendengar Suara Perempuan Korban Kekerasan Demi Keadilan

Bukan Hanya Mendengar, Tapi Juga Menghadapinya

Jakarta-wahidinstitute.org. Korban KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) selama ini diabaikan oleh kalangan agamawan. Alih-alih didengarkan, mereka justru dinasihati oleh agamawan agar menerima takdir; bersabar dan jika tidak sanggup banyaklah berdoa. Apalagi dibela. Keprihatinan ini menggerakkan Komnas Perempuan melibatkan agamawan dalam kaitan pembelaan dan pemberdayaan terhadap perempuan.

Hasilnya, lahir buku “Memecah Kebisuan; Agama Mendengar Suara Perempuan Korban Kekerasan Demi Keadilan” yang diluncurkan pada Rabu siang (22/04/09) di bilangan Tebet. Buku yang dibuat dalam 4 versi (versi NU, Muhammadiyah, Katolik, dan Protestan) ini mengetengahkan kesaksian para korban dan memberikan pembacaan teks atas kitab suci yang memihak perempuan. Hadir sebagai penanggap buku ini adalah Ibu Shinta Nuriyah (NU), Din Syamsuddin (Muhammadiyah), Romo Yosef Dedy Pradipto (Katolik), dan Pendeta Andreas A. Yewangoe (Protestan).

“Kami tidak hanya mendengarkan kebisuan tetapi juga menghadapinya,” demikian pernyataan Shinta menanggapi buku ini. Shinta menghadapi kebisuan untuk melalui pendampingan terhadap perempuan korban kekerasan lewat Puan Amal Hayati. Organisasi yang didirikan pada 3 Juli 2000 ini oleh Shinta dan kawan-kawannya ini melakukan pendampingan perempuan korban berbasiskan pesantren. Mereka agamawan yang bukan hanya mendengar testimoni korban tetapi juga terjun langsung membelanya.

Penderitaan korban bermacam-macam. “Ada anak yang diperkosa paman dan adiknya selepas peringatan tujuh hari wafat ibunya,” terang Shinta. Si anak akhirnya masuk RSJ. Puan Amal Hayati mendampinginya selama di RSJ. Cerita lainnya tidak kalah tragis. Di Tasikmalaya, kata Shinta, seorang gadis menjadi korban incest ayah kandungnya selama 5 tahun sampai memiliki anak. Ibu kandung tidak tahu kebejatan suaminya itu.

Cerita ketiadaan pembelaan terhadap korban ini, menurut Shinta, punya sebab tersendiri. “Para pemegang otoritas (keagamaan) ini tidak bisa membedakan tradisi dan ajaran Islam,” ungkap Shinta. Tradisi, menurut Shinta, dianggap ajaran agama karena datang dari Arab dan bertuliskan huruf Arab. Visi agama akhirnya menjadi terdistorsi. Upaya yang perlu dilakukan adalah meningkatkan daya kritis agamawan lewat institusi masing-masing. “Ajaran yang murni bisa dipertahankan dan tradisi tertentu bisa diubah oleh mereka,” tambah Shinta.

Agamawan (yang juga pengelola institusi agama) juga perlu keluar dari belenggu teks (yang sifatnya patriakhis), namun bukan berarti meninggalkannya. Agamawan, kata Shinta, tetap kembali kepada teks namun tidak secara tekstual. Dalam aras ini, teks dipahami bukan dengan harga mati. Teks justru dipahami sebagai mata air yang terus hidup dan dinamik. Dengan pembacaan teks seperti ini, agamawan dapat memberikan solusi yang konkret, praktis, dan aktual bagi persoalan masyarakat, termasuk persoalan yang menimpa perempuan. Setelahnya, pengelola institusi agama ini dan para aktivis perempuan dapat terlibat dalam dialog yang jujur, intens, dan terbuka.

Dialog dua belah pihak ini dapat berujung pada pemberdayaan elit dan tokoh agama untuk menjadi problem solver. “(Misalnya) mereka menginterpretasi ulang teks (agar menjadi ramah perempuan) dan disosialisasikan,” tutup Shinta. (Nurun Nisa)

9 thoughts on “Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT): Bagaimana agamawan bersikap?

    starlight21 said:
    22 Mei 2009 pukul 11:00

    Ya nggak mungkin lah agama manapun ‘nyumonggoaken’ perbuatan seperti itu.itu tetap tergantung orangnya aja. Bukan dari peraturan agama.

      marsha said:
      28 Juli 2009 pukul 08:00

      kata siapa gak pakek peraturan agama sok tau???????????????

    bundadontworry said:
    28 Mei 2009 pukul 11:10

    memang benar tidak ada agama yg ‘memberi izin ” utk perlakuan KDRT dimananapun dimuka bumi ini, tetapi mungkin justru pemahaman terhadap agama lah yg menjadikan perbuatan ini selalu terjadi dan terjadi lagi berulang2, saya rasa inilah salah satu PR juga bagi para ulama dan pemuka agama utk lebih memberikan pemahaman pada umat,walaupun tidak terlepas pada keterikatan tradisi atau adat istiadat,tetap saja masalah pendidikan ada sangkutannya juga, inilah tugas dari pemerintah, akhirnya tugas kita semualah utk dapat mencegah atau paling tidak mendoakan agar hal2 seperti ini tidak terjadi lagi atau paling tidak diminimalisir, bukankah KDRT yg menerima selalu kaum hawa ?

    ipul said:
    8 Juli 2009 pukul 00:57

    apa yang harus dilakukan jika hal tersebut terjadi terhadap suamu?/dan apa hukum agama yang berlaku ??dan apakah cacian dan hinaan juga termasuk kdrt?thanks

    rania said:
    8 Juli 2009 pukul 17:18

    kemana harus melapor jika menemukan kasus KDRT

    rania said:
    8 Juli 2009 pukul 17:21

    kemana harus melapor jika menemukan kasus KDRT ,dan bagaimana kita menyikapi seorang suami yang menggantung status istri.dan apakah cacian dan hinaan juga termasuk kdrt.tx

    LILA said:
    29 Oktober 2009 pukul 14:06

    IYA pooooooowwwww??????????????

    yanti lesmana said:
    12 Desember 2009 pukul 17:59

    karena itu manfa’atkan masa pacaran dg baik. Utk saling mengenal pribadi pasangan, kebiasaan dan karakter keluarga masing2. Kadang ada keluarga yg terbiasa dg sikap kasar akan menghasilkan anak2 yg kasar juga. Masa pacaran bukan hanya utk bersenang senang saja. Dan jangan lupa utk berdo’a. Biarkan Tuhan ikut bekerja dlm proses hubungan tsb.

    chairul rachmadani said:
    15 Oktober 2010 pukul 00:45

    Saya ibu rmh tgg umur saya 33th, sdh hampir 3th ini suami saya sering memukul saya cm krn saya terlalu ingin tau ursn dia, sejak dia ketahuan selingkuh dia tdk bertmbh baik justru sikap dia cenderung mencari keslhn saya. Saya tdk tau mesti lapor kmn saat suami saya selesai memukul, saya malu dgn klg, tetangga shg mslh ini saya pendam krn saya pkr klu saya melapor otomatis suami saya akn dipenjara n dia tdk bkrja dpt dr mana sy uang unt mencukupi kebuthn ank ank sy n lg kasian ank ank klu punya ortu bekas dipenjara. Bagaimana solusinya spy rmh tgg sy tdk berpisah?? Trm ksh

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s