PKS Tidak Memihak Capres-Cawapres Yang Istrinya Pakai Jilbab

Posted on Updated on

Tampaknya PKS tidak lagi terlalu mengandalkan simbol-simbol Islam semisal jilbab untuk meraih dukungan dari rakyat. Pada masa kampanye pemilu legislatif yang lalu, PKS menampilkan iklan gadis gaul tanpa jilbab. (Lihat “Video PKS Berwajah Baru (Bagai Remaja ABG)“). Kali ini, pada pemilihan presiden, PKS beranjak lebih jauh lagi, yaitu dengan ikut berkoalisi mengusung capres-cawapres SBY-Boediono, padahal istri masing-masing tidak berjilbab. Sedangkan pasangan JK-Wiranto tidak didukung PKS walaupun istri masing-masing berjilbab. Mengapa PKS tidak memihak capres-cawapres yang istrinya pakai jilbab? Ini dia beritanya:

Jumat, 22/05/2009 16:58 WIB
Urusan Jilbab Jadi Tantangan PKS Menangkan SBY-Boediono
Amanda Ferdina – detikPemilu

Jakarta – Urusan jilbab jadi tantangan tim kampanye PKS untuk memenangkan SBY-Boediono dalam Pilpres 2009. PKS harus meyakinkan simpatisannya tentang keunggulan dari pasangan yang sempat dinilai kurang mencerminkan nilai-nilai Islami tersebut.

Demikian kata Soeripto tentang misi dari tim kampanye PKS. Politisi senior PKS ini dijumpai wartawan di peluncuran President Center yang merupakan tim sukses bagi SBY-Boediono di Hotel Sultan, Jakarta, Jumat (22/5/2009).

“Akhir-akhir ini banyak yang mendiskreditkan mengapa PKS tidak memihak capres-cawapres yang istrinya pakai jilbab. Itu tantangan tersendiri bagi PKS,” kata dia.

Tentu saja tugas PKS bukan hanya meyakinkan bahwa SBY-Boedinono cukup Islami meski istri masing-masing tidak berjilbab. Tugas besar tim PKS adalah memberikan warna religi dan merangkul kelompok ormas Islam dalam setiap kegiatan atau aksi kampanye pasangan yang mereka jagokan tersebut.

“Indonesia ini kan 90% warganya Islam, tentu ini tugas PKS untuk massa religiusnya,” ujar Soeripto tentang misi utama tim kampanye PKS.

Misi lainnya adalah merebut hati golongan swing voter dan golput yang hingga kini belum menentukan siapa pasangan pilihannya hingga hari-H Pilpres 2009. Menurut perkiraan jumlah mereka secara nasional mencapai kurang lebih 45 juta orang.

“Kalau setengahnya saja sudah bisa direbut, maka bisa memudahkan,” jelas mantan Sekjen Dephut ini.

( lh / iy )

40 thoughts on “PKS Tidak Memihak Capres-Cawapres Yang Istrinya Pakai Jilbab

    starlight21 said:
    22 Mei 2009 pukul 21:48

    mungkin PKS melihat dari misi tim SBY-Boediono yang lebih realistis dan janji yang nggak terlalu muluk-muluk atau apalah. Kayaknya pilpres tahun kali ini udah ada pilihan yang mantap deh. Moga aja nggak ruwet kayak pemilu caleg kemaren. Bravo Indonesia !

    fajar said:
    22 Mei 2009 pukul 23:05

    dari dulu PKS sama saja dengan partai lain.. hanya cara “berdagangnya” beda.. ISLAM YES PARTAI ISLAM NO!!!

      FAISOL said:
      20 Agustus 2009 pukul 16:50

      BAGI PKS,SIAPA YANG KUAT ITU YANG AKAN DIDUKUNG……

    rizkicssi said:
    23 Mei 2009 pukul 05:40

    yaaaaaa…….ga ngerti deh….yang penting jangan maen hujat n maen hina yang sesama Islam……dan yang paling penting jangan menghakimi orang lain apalagi dengan kata-kata “dasar Kafir!! Isalam aliran mana lw?”

    Islam ya tetap Islam……….

    abu izzat said:
    23 Mei 2009 pukul 10:12

    spt catur…pks sdh memikirkan 2 ato 3 langkah di dpn utk bisa berperan lbh besar demi kemaslahatan umat. walo pks jg tdk tau 2 ato 3 langkah berikutnya lawan politiknya. kadang2 mengorbankan 1 buah catur utk meraih kemaslahatan merpkn langkah yg bisa diambil. kan pks gak bisa nyalonin sendiri. kalo bisa…tentu bkn hanya istrinya yg berjilbab, tp capresnya sendiri bisa imam sholat…

    Aprina said:
    24 Mei 2009 pukul 16:54

    dari segi politik terlalu sederhana jika pengusungan pasangan capres hanya berdasarkan “istrinya berjilbab apa tidak”. apalagi fenomena saat ini masih banyak kalangan masyarakat yg menjadikan jlbab sebagai sebuah trend mode semata bukan dari sebuah keyakinan mendalam akan ajaran agamanya.
    jadi yg paling penting siapa dari pasangan capres-cawapres yg punya komitmen untuk memberikan kemaslahatan dan menyebar kebaikan di muka bumi. kalo mampu tp tidak punya komitmen juga repot…

    moehzaki said:
    24 Mei 2009 pukul 16:56

    PKS gak jelas dari dulu kale…, mana sekarang ada tarbiyah dan PKS di kampus-kampus. Aneh..?

    suharto said:
    24 Mei 2009 pukul 18:33

    Wah kemajuan banget PKS sudah berani tidak melihat simbol Islam secara lahiriyah. Atau karena sudah terlanjur basah terikat kontrak dengan SBY. Wallahu alam bisawab. tetapi kini saudaraku sudah bisa ngece aku, begini, kakakku ini waktu kami protes kenapa anaknya disekolahkan di SMP Domenico Savio Pangudi Luhur, bilang sekolah tsb justru islami karena disiplin dan profesional, pokoknya baguslah. Kini dia bilang, toh sekarang PKS juga tidak mendukung Capres dan Cawapres yg istri2nya berjilbab. Padahal kapan lagi kalau nggak sekarang ada ibu negara pake jilbab.

    Antasena said:
    24 Mei 2009 pukul 22:39

    Politik adalah alat untuk menuju kekuasaan. Apapun azas yang di pakai oleh partai, apakah berazas nasionalis, religius, atau gabungan keduanya, mereka adalah mengincar kekuasaan. Dalam hal menentukan pilihan koalisi, maka pilihan akan jatuh pada yang memberikan harapan kekuasaan yang besar dan enak.
    Prasangka buruknya adalah, mungkin saja PKS mendekat ke PD karena pembagian kekuasaanya lebih menjanjikan dan pasti. Sementara jika berkoalisi dengan Capres-Cawapres dengan istri berjilbab, tidak memperoleh “kue” yang nikmat. Siapa sih yang tidak pingin jadi menteri. Orang-orang di PKS juga manusia yang tidak luput dari keinginan dan kemewaan kekuasaan.
    Politik itu tidak ada yang pasti, yang pasti adalah kekuasaan.

      NTMAKSIAT said:
      26 Mei 2009 pukul 18:10

      Kenapa sih kalo sudah melihat kata “Kekuasaan” selalu konotasinya negatif? apakah makhluk yg namanya “kekuasaan” itu buruk sekali sehingga harus dihindari? tidak bisa! dalam kehidupan sehari2 pun kita berpolitik contohnya di kantor ambisi kita untuk naik pangkat juga disebut berpolitik untuk mengincar kekuasaan (pangkat lebih tinggi = kekuasaan yg lebih besar) yg penting apakah kekuasaan itu digunakan untuk kebaikan atau kemungkaran yg namanya parpol mah pasti mengincar kekuasaan kalau tidak bukan parpol namanya tapi organisasi sosial tinggal kita baik2 milihnya apakah parpol tersebut akan menggunakan kekuasaan untuk kebaikan atau kemungkaran.

    stom said:
    25 Mei 2009 pukul 05:19

    Padahal dulu PKS lebih milih Wiranto daripada Amien Rais, karena jilbab istrinya Wiranto lebih PKS dibanding jilbab istrinya Pak Amien.
    hehehe

    bambang edi winarso said:
    25 Mei 2009 pukul 11:08

    Ass.
    saya sebenarnya juga terbawa suasana “penolakan Boediono” sebagai wapresnya SBY. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ternyata SBY punya alasan yang kuat mengapa memilih SBY, dan nyatanya PKS menerima alsan SBY bahkan beberapa jam sebelum deklarasi.

    BAgaimanapun juga PKS tetap partai berprinsip Islami (walaupun beberapa caleg di kabupaten orangya banyak yang nggak bener) dan ini jadi modal penting bagi SBY untuk mendapatkan suara dari para santri dan masyarakat simpatisan PKS dalam pilpres 2009 ini.

    Tegar said:
    25 Mei 2009 pukul 15:23

    konsekuensi logis dari mendukung pasangan SBY-Boediono ya begitulah

    Bank Soal said:
    25 Mei 2009 pukul 22:59

    Memang serba salah PKS, mau islami dibilang fundamentalis, wahabi lah, fanatik, terlalu kental keislamannya, dan sebagainya yang intinya ngak suka.

    Kalau agak cair dibilang PKS tidak lagi memperhatikan simbol2 islam, sama aja dengan partai lain.

    Lakukan saja apa yang menurut anda baik! perhatikan apa yang terjadi

    light said:
    26 Mei 2009 pukul 15:33

    Yang penting berpikir positif aja. Habis mau bagaimana lagi…Partai Islam yang setiap hati ngasih nasehat…. ternyata mereka yang lebih layak dinasehati…krn nggak bisa bersatu…

    Berhati besar aja… Akuin aja kalau nggak “ngekor” mau kemana lagi??? Banyak-banyak alasan bikin tambah nggak masuk akal..

    Pikirkan juga apalagi yang masih laku “dijual” di pemilu 2014 nanti.

    AMAR said:
    26 Mei 2009 pukul 19:15

    Baca posting kali ini saya merasa “gubraaak……” aslinya saya tahu pak shodiq ini “seperti biasanya” akan menggunakan kata dan judul PKS untuk menarik atau sekedar melirik ke sini dari kader atau yah…. simpatisan PKS yg diakuinya paling banyak berinteraksi di dunia maya…
    Tapi well seperti yg juga diakuinya pak shodiq saya anggap “simpatisan” atau setidaknya pemerhati PKS yg “lumayan” (tebak sendiri deh…. he…. he… he….) terus terang saya adalah pemilih PKS pemilu legislatif kemarin…. dan saya bukan pendukung ke 3 calon presiden yg ada saat ini…. buat posting kali ini bikin saya tersenyum (lumayan lebar loh….. ha… ha… ha….) ini beneran kritik buat PKS atau anda simpatisan salah satu calon saya kurang tau dan saya gak ada niat mencampurinya…..
    Yang pasti terima kasih buat saudaraku Pak shodiq yg telah membuat senyum saya terkembang hi…. hi…. hi….. terus sukses pak……

      M Shodiq Mustika responded:
      26 Mei 2009 pukul 19:37

      @ AMAR
      Terima kasih atas dukungan dan senyumnya.🙂
      Mungkin postingan di atas lebih “menguntungkan” pasangan JK-Wiranto. Namun kami hanya memberitakan apa adanya. Wiranto sendiri telah kami kritik pada postingan terdahulu, “Wiranto adalah guru yang baik bagi SBY?

    wong_cilik said:
    26 Mei 2009 pukul 21:56

    Bismillah.
    Saya yakin Megawati-Prabowo mampu memenangkan pilpres kali ini dan membawa banyak perubahan. tidak seperti sekarang ini,masih banyak rakyat indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan, tapi Demokrat “SBY” masih saja ngeyel menganggap itu keberhasilan. kalau ini keberhasilan, bukannya itu kebohongan, pembodohan Rakyat, anak TK aja tau.
    bagi saya ABS (Asal Bukan SBY ) yang sukanya cari muka, sok berbudi, sok santun, padahal kalo pingin berbudi dan santun bukannya dengan ucapan ato omongan tetapi perbuatan.
    Hidup Mega-Pro,
    Merdeka!!!!

    nusantaraku said:
    26 Mei 2009 pukul 22:54

    PKS akan sulit mengutarakan kepada konstituennya alasan untuk memilih SBY-Boediono. Pertama masalah sosok Boediono yang sudah mulai dikenal masyarakat sebagai sosok pro-asing (IMF). Sisi lain, penampilan calon ibu negara JK-Win lebih agamis dibanding calon ibu negara SBY-Boediono.

    endjout said:
    27 Mei 2009 pukul 00:26

    yang paling penting adalah bagaimana pemimpin kita dapat menjadi pelindung rakyat dan membuat Indonesia dan rakyatnya menjadi lebih baik lagi. negara ini adalah negara dengan masyarakat majemuk dari berbagai golongan, ras, agama, dll dimana diversity ini yang menjadi kekuatan kita.

    berjilbab atau tidak bukanlah suatu takaran mutlak tingkat keimanan seseorang. menjalankan syariah agamanya adalah hak mutlak seseorang dan hanya Allah SWT yang maha mengetahui, tidak ada yang dapat menggangu gugat dan memiliki hak untuk menilainya selain Dia.

    jujur saya merasa wajar akan isu ini sekaligus kecewa. kecewa sebagai seorang muslimah, jika memang kita selalu berpikir terbuka dan berprinsip selalu memberikan the very best for others, harusnya kita tidak akan disesatkan oleh pikiran2 sempit dan picik seperti ini.

    azerila said:
    27 Mei 2009 pukul 13:42

    Tapi PKS juga sarankan Ani Yudhoyono dan Herawati pakai jilbab kan? Politik.. politik.. Udah mau deket-deket pemilu baru “amar makruf”…

    pino said:
    27 Mei 2009 pukul 18:48

    lha kok istri seh yang dipermasalahin. yang jadi capres ma cawapresnya ciapa.

    tidak ada yang sempurna selain diriNya

    JS said:
    28 Mei 2009 pukul 10:00

    PKS adalah partai yang tidak berani mengambil sikap, terlihat dari tarik ulur sewaktu Koalisi dengan Demokrat. Saya yakin kedepan akan berkurang pengikutnya.

    juhriyanto said:
    28 Mei 2009 pukul 22:00

    Aku sering ga habis fikir.Orang sering berkata yang penting hatinya.Memangnya hati bisa dilihat.Menurutku hati yang baik akan berpengaruh kepada fisik,sebab fisik menjadi pembungkus hati.Jadi mustinya muslimah yang baik akan terlihat dari penampilan fisiknya.Mengapa karena kita cuman bisa menilai seseorang dari yang bisa kita lihat(konkrit).Walaupun itu tidak mutlak.Namun kita juga akan lebih sulit lagi menilai seseorang dari sudut hatinya.Karena hati lebih abrak.Kita bisa mengatakan seseorang lagi senang karena melihat rona mukanya yang berseri-seri bahkan tersenyum simpul.Hati muslimah yang baik tentu penampilannya islami antara lain pakai kerudung.Memakai kerudung di tengah-tengah kemajemukan bukan berarti tidak nasionalis.Justru dia menjunjung kemajemukan; bukankah yang dinamkan kemajemukan itu berbeda-beda tetapi dalam kesamaan.Ya kesamaan bangsa ,bahasa ,tanah air sebagaimana sumpah pemuda itu.Menurutku itulah pandangan yang mendekati kebenaran yang hakiki.

    Hafid said:
    28 Mei 2009 pukul 23:16

    Mayoritas pendukung SBY itu partai Islam, tapi kok mulai dari pemilihan calon wapres sampai dengan penampilan kok tidak mencerminkan Islam. perlu kita ingat SBY belum menang… jadi jangan abaikan hal tersebut, saran saya dari pada sibuk menghimbau para istri capres dan cawapres berjilbab, mending alihkan saja dukungan ke pasangan lain…. seperti saya memilih JK-WIN

    Berjilbab = shalihah? « M Shodiq Mustika said:
    29 Mei 2009 pukul 11:34

    […] Islam justru mendukung pasangan capres-cawapres yang istrinya tidak berjilbab. (Lihat “PKS Tidak Memihak Capres-Cawapres Yang Istrinya Pakai Jilbab“) Namun aku pun juga memaklumi bila massa Islam lebih mendukung pasangan capres-cawapres yang […]

    […] Aneh, PKS Melarang Istri SBY Pakai Jilbab 2009 Mei 30 tags: jilbab, PilPres 2009, PKS, Politik Islami by M Shodiq Mustika Aku bisa memahami mengapa dalam Pilpres 2009 ini PKS tidak mendukung pasangan JK-Wiranto yang istri-istrinya berjilbab. PKS malah mendukung pasangan SBY-Boediono yang istri-istrinya tidak berjilbab, kecuali dalam acara-acara keislaman seperti terlihat dalam gambar di sebelah kanan. (Lihat postingan “Berjilbab = shalihah?” dan “PKS Tidak Memihak Capres-Cawapres Yang Istrinya Pakai Jilbab“) […]

    arierahayu said:
    1 Juni 2009 pukul 22:34

    Memang sungguh membingungkan..

    Saya tidak berkeberatan PKS mendukung Pak SBY. Namun sebenarnya PKS itu memilih untuk mendukung Pak SBY itu dasarnya apa? Adakah alasan yg sesuai tuntunan agama (karena yg “dijual” adalah agama)? Apakah Pak SBY yg paling amanah? Atau paling jujurkah? Atau bagaimana?

    Ataukah justru alasan lain yg tidak terkait agama seperti… Pak SBY merupakan kandidat yg paling kuat untuk terpilih menjadi presiden? Saya pikir PKS berutang penjelasan ini kepada konstituennya.

    erry said:
    2 Juni 2009 pukul 15:38

    pks rusak !!!

    daryono said:
    8 Juni 2009 pukul 17:28

    Dear,

    Saya kemarin dulu coblos PKS, truss yg baru kemaren Demokrat,..trus untuk pilpres kayaknya aku nyontreng JK-Win.

    Lebih pas di pendengaran pernyataannya,daripada PKS dan Demokrat yang sudah banyak ketahuan tidak lebih bagus dari ORBA.

    tabir said:
    10 Juni 2009 pukul 11:54

    PKS dan Jilbab, 2004 lalu alasan PKS lebih condong ke Wiranto itu didasarkan pada Istri dan anak2 Wiranto yang oleh elite PKS dianggap sudah sama dengan jilbab2 para akhwat PKS dibanding Istri Amien Rais. Kemudian juga PKS menganggap bahwa Wiranto sudah dapat menerima dakwah2 PKS dibanding Amien Rais. Sekarang, sepertinya isyu jilbab dilupakan oleh PKS. Yang paling menggelikan adalah alasan PKS memilih SBY katanya karena tidak ingin bergabung dengan capres bermental ORBA, padahal sama kita ketahui bhw PKS lah yang gencar mengkampanyekan Soeharto sang arsitek ORBA sebagai Pahlawan. PKS juga lupa bhw saat pilkada di Sumsel, TIffatul mengatakan bhw yang melontarkan fitnah ke Syahrial Oesman adalah yang bermentalkan ORBA, perkataan itu ditujukan kepada Roy Suryo yg notabene adalah ketua DPP PD yang sekarang justru menjadi mitra koalisi.
    PKS sekarang memang sangat berbeda dengan PK dahulu, PKS sekarang hampir tidak ada bedannya dengan partai lain sekalipun dengan PDIP atau PDS, cuma bender ya cuma bendera yang membedakannya, tidak lebih juga tidak kurang.

    NTMAKSIAT said:
    10 Juni 2009 pukul 17:58

    Biasa lah musim kampanye kental dengan black campaign kalo benci atau ga suka ya jangan dipilih. Saya tidak suka dengan PDIP tapi saya tidak pernah menjelek-jelekkan partai itu di forum seperti ini.

    tabir said:
    11 Juni 2009 pukul 13:21

    @ NTMAKSIAT
    bisa disebutkan pada bagian mana yg merupakan black campaign?
    ingat loh, menuduh itu tidak baik.
    Tiffatul : Jangan jadikan BUMN sebagai sapi perahan
    Fakta :
    SBY capres yang didukung oleh PKS, justru dengan masivnya memanfaatkan kroni-kroninya untuk kepentingan pemilu. Acara malam kesenian yang merupakan acara resmi kepresidenan pun tak luput dari pemanfaatan kampanye dirinya karena diakhir acara Mike “idol” menyanyikan lagu “SBY presiden Ku” jika acara itu resmi, maka bisa dipastikan anggaran acara tersebut diambil dari kas negara bukan kas PD.

      NTMAKSIAT said:
      12 Juni 2009 pukul 05:44

      Bisakah anda menyebutkan kebaikan2 yang dilakukan oleh PKS dan juga SBY? tidak mungkin kalau dua pihak yang anda kritisi tidak punya kebaikan sama sekali, kalau tidak merepotkan buatlah tabel dengan dua kolom yang isinya disebelah kiri keburukan2 yang dilakukan oleh PKS dan juga SBY kemudian di sebelah kanan kebaikan2 yang dilakukan oleh PKS dan juga SBY sebaiknya PKS dan SBY dibuat dalam 2 tabel yang terpisah dan sebaiknya juga kebaikan dan keburukan yang dimasukkan kedalam tabel ada pengaruhnya bagi bangsa Indonesia bukan hanya manuver politik yang dilakukan kemudian bandingkan lebih banyak mana kebaikannya atau keburukannya kalau mau dibeberkan disini silahkan saja. Lebih banyak kebaikannya ya dukunglah, lebih banyak buruknya jangan didukung.

    KETIKA JILBAB BERPOLITIK « Muslim12's Blog said:
    11 Juni 2009 pukul 16:17

    […] Islam justru mendukung pasangan capres-cawapres yang istrinya tidak berjilbab. (Lihat “PKS Tidak Memihak Capres-Cawapres Yang Istrinya Pakai Jilbab“) Namun aku pun juga memaklumi bila massa Islam lebih mendukung pasangan capres-cawapres yang […]

    tabir said:
    12 Juni 2009 pukul 13:09

    @NTMAKSIAT
    Sepertinya anda belum menjawab pertanyaan saya deh.
    Soal kebaikan dan keburukan, jangankan SBY, Bush sampai dengan Hitler kalau dibuat list juga ada kebaikannya, bahkan iblis pun pada awalnya kan baik jg dan satu kesalahan iblis adalah tidak mau patuh saat penciptaan manusia.
    hmm…cuma satu loh kesalahan iblis itu.

      NTMAKSIAT said:
      13 Juni 2009 pukul 06:19

      Ah komentar saya yang pertama memang bukan untuk anda secara khusus tapi ya kalau anda tersinggung saya mohon maaf. Tapi mari kita bersikap bijak kalau sudah mendekati musim kampanye banyak sekali pemberitaan2 yang negatif yang belum tentu kebenarannya meminjam istilah dari Aa Gym informasi itu harus BAL (Benar Akurat Lengkap) nah itu dulu kita harus uji informasinya. Bagi sebuah partai ataupun pasangan Capres-Cawapres sebuah pernyataan atau manuver politik saja bisa dijadikan senjata bagi lawan politiknya untuk menyerang, saya tidak mengganggap politik itu kejam tapi sudah sedikit sekali pelaku politik yang memiliki hati nurani di Indonesia. Kalau anda ingat mungkin ini bukan masalah pilpres ketika Bu Menkes memberikan pernyataan pertama kali mengenai kasus Prita salah satu situs berita menyajikan informasinya dengan tidak BAL dan akhirnya persepsi masyarakat mengenai pernyataannya menjadi salah dan ini sudah dikritik oleh menkes nah kalau bukan pilpres saja berita yang ada bisa salah bagaimana dengan berita tentang pemilu? Mengenai kebaikan dan keburukan semua manusia punya dua hal itu dan Iblis juga “dulu” punya kebaikan seperti yang anda katakan tapi kita lihat lebih banyak mana? mungkin kita bukan malaikat pencatat amal yang bisa tahu semua amal manusia tapi setidaknya apa yang kita lihat, dengar dan rasakan kita bisa catat tapi ya itu tadi semua informasi sebaiknya diuji BAL terlebih dahulu dan berhati-hati dalam menulis komentar takutnya malah menyebar fitnah kalau komentar saya yang pertama anda kurang berkenan saya mohon maaf sekali lagi dan dianggap menyebar fitnah silahkan diajukan kepada pemilik blog untuk dihapus maklum saya punya kebaikan dan keburukan juga namanya manusia. Ingat untuk berhati2 dalam mengkonsumsi sebuah informasi di Indonesia hampir semua dapat dibeli

    mutiarazuhud said:
    23 Juni 2009 pukul 09:51

    Fungsi syuro akan terlaksana baik apabila terpenuhi 3 syarat yakni:

    1.tersedianya sumber-sumber informasi yang cukup untuk menjamin bahwa keputusan yang kita ambil dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
    2.tingkat kedalaman ilmu pengetahuan yang memadai harus dimiliki setiap peserta syuro.
    3.adanya tradisi ilmiah dalam perbedaan pendapat yang menjamin keragaman pendapat yang terjadi dalam syuro dapat terkelola dengan baik.

    Berikut analisa pribadi saya dan evaluasi terhadap hasil keputusan syuro, pada kenyataannya tidak sesuai dengan kata hati sebagian kader.

    Kemungkinan kekeliruan itu tentu bukan terjadi karena point 2 dan point 3. Sehingga penyebabnya adalah tidak terpenuhi syarat point 1, tidak terpenuhi sumber-sumber informasi yang cukup. Tidak terjadi pembanding yang fair antara pa SBY dan Pa JK (tentu pilihan bu Megawati secara wajar dieliminir oleh partai dakwah). Sesuai ungkapan tak kenal maka tak sayang. Juga tidak menghilangkan kemungkinan “penghilangan” sumber informasi untuk suatu “pesanan”/”kepentingan” atau juga ada langkah “pencitraan” yang keliru.

    Sebagaimana yang saya ungkapkan dibeberapa kesempatan, saya contohkan bagaimana membandingkan sumber-sumber informasi sangat sederhana untuk pengambilan keputusan dalam mengikuti pilpres nanti.
    Pembanding ini dilakukan dengan sangat fair, menurut istilah yang kita kenal “apel to apel”

    Pilihan yang tersedia sekarang menjadi lebih sederhana adalah,
    2. Susilo B Yudoyono / Boediono
    3. M Jusuf Kalla / Wiranto

    Sesuai di tulisan saya di,
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/05/19/seruan-umat-islam/

    Hal yang harus diperhatikan dalam memilih pemimpin sebaiknya berdasarkan ketaqwaannya kepada Allah SWT.
    Ketaqwaan dapat dilihat dari hasil / perbuatan sang pemimpin apakah sesuai dengan perintah Allah SWT.

    Sekarang secara sederhana kita memperhatikan bentuk ketaqwaan pa SBY dan pa JK,

    Pada saat deklrasi, pa SBY sebagai pemimpin menyetujui menghambur-hamburkan uang untuk untuk sekedar acara deklarasi sedangkan pa JK menyetujui mengeluarkan uang sebaik mungkin. Ternyata kebijakan beliau dalam pembiayaan acara deklarasi paling rendah dibandingkan calon pemimpin lainnya.

    Firman Allah,
    “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS Al Isra’ : 27)
    “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)” (QS. At-Takatsur:1-3)

    Pada saat deklarasi, pa SBY sebagai pemimpin menyetujui format acara meniru/meneladani kaum Amerika. Sedangkan pa JK sebagai pemimpin meniru keadaan yang dirahmati Allah SWT yakni proklamasi kemerdekaan dahulu.

    Firman Allah, “Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.” (Ar-Ra’d: 36-37).

    Sebagaimana yang telah ditetapkan dalam syariat bahwa tidak boleh bagi muslim atau muslimah untuk ber-tasyabbuh (meniru) orang kafir baik dalam perkara ibadah, hari raya atau tasyabbuh dalam penampilan.

    Kita berlindung diri kepada Allah swt dari sikap mengindahkan kata hati nurani dan akal sehat, karena dikalahkan oleh nafsu syahwat. Dan sekaligus kita berdo’a agar kita dikaruniai iman dan aqidah yang kokoh sehingga melahirkan mental yang sehat dan hati yang waras –qalbun salim-. Tentunya dengan usaha keras kita menggapai hidayah-Nya

    Wassalam

    Zon

    Mas Oyo said:
    24 Juni 2009 pukul 07:56

    Saya simpatisan PKS dan nyontreng PKS pileg kemarin. Tapi saya kecewa karena PKS terkesan haus jabatan, ditambah ucapan Hidayat Nurwahid yang ingin Pilpres satu putaran dengan alasan penghematan. Pembelajaran melalui media elektronik telah membukakan mata saya…karena dari hari ke hari kedustaan incumbent (SBY) mulai terkuak, bagaimana bisa 9 komisaris BUMN jadi Tim Sukses, terus apa kata polisi ? Itu bukan wilayah pidana harus ke PTUN, Kacian deh Bawaslu….Keberpihakan aparat dan institusi pemerintah ke SBY sangat kentara. Iklan-iklan yang sangat mendewa-dewakan SBY, pencapaian keberhasilan yang tidak sesuai fakta, pemerintah yang bersih hanya retorika dan omong kosong….????? Mana hati nurani PKS….????? Masih tetapkah setia dengan Demokrat…Pemimpin seperti itukah yang diinginkan Petinggi PKS atau sama juga pada akhirnya dengan partai yang tidak membawa label-label dan simbol agama (Islam). Ingat pertanggungan jawab kelak di hadapan 4JJI…!!!!

    dun dun said:
    27 April 2010 pukul 12:41

    lg ngadu domba u boz……..
    fitnah tuh ga bagus boz,,,,,,,

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s