Anak jalanan & anak di luar nikah dianggap TIDAK pernah lahir?

Posted on Updated on

Aku belum mengerti mengapa Pemerintah tidak mau memberi akta kelahiran kepada anak di luar pernikahan resmi. (Lihat kutipan berita di bawah paragraf ini.) Masa depan anak jalanan, anak-anak yang dibuang oleh orangtua mereka, anak-anak hasil nikah siri, dan sebagainya menjadi terancam. Sebab, mereka menjadi tidak terdaftar sebagai warga negara Indonesia. Dengan demikian, mereka akan terhambat untuk mendaftar sekolah, melamar pekerjaan, ke luar negeri, dan lain-lain. Padahal, si anak tidak bersalah. Mengapa hak asasi mereka dikebiri? (Menurut UUD, pasal 28B ayat 2, “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.”) Bukankah yang bersalah itu orangtua mereka? Haruskah anak-anak ikut menanggung dosa orangtua mereka? Adilkah ini?

Anak di Luar Nikah Tidak Dapat Akta
Minggu, 24 Mei 2009 | 10:05 WIB

LEBAK, KOMPAS.com — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak, melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan setempat, menolak menerbitkan akta kelahiran tanpa dilengkapi surat nikah.

“Saya tidak akan menerbitkan akta kelahiran anak jika tidak dilengkapi persyaratan surat nikah dari orangtua si anak,” kata Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Kabupaten Lebak Sri Rahayu di Lebak, Minggu (24/5).

Sri mengatakan, sebelumnya pihaknya telah memberikan batas toleransi hingga 27 April 2009 bahwa bagi orangtua yang tidak memiliki surat nikah untuk segera mengurus pembuatan akta kelahiran anak, cukup hanya dengan keterangan dari desa atau kelurahan setempat.

Namun kenyataannya, animo warga sangat kecil untuk membuat surat akta kelahiran tersebut. Pihaknya saat ini sudah tidak melayani lagi pembuatan akta kelahiran anak, jika persyaratan tidak dilengkapi dengan surat nikah orangtua.

Sebab, penerbitan akta kelahiran anak berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 37 Tahun 2007 dan Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 25 Tahun 2008 tentang persyaratan pendaftaran penduduk, di antaranya pembuatan akta kelahiran harus dilengkapi surat menikah orangtua.

“Jika orangtua tanpa memiliki surat nikah, dipastikan mereka tidak akan bisa memperoleh akta kelahiran anak,” katanya.

Bahkan, tahun 2010 akan diterapkan Undang Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Akta Kelahiran dengan aturan bahwa anak di atas satu tahun yang belum memiliki akta kelahiran harus memperoleh penetapan dari pengadilan negeri.

Menurut dia, sebagian besar warga Kabupaten Lebak tidak memiliki akta kelahiran anak karena orangtua menikah secara siri akibat kemiskinan, apalagi tarif nikah mencapai ratusan ribu rupiah. Bagi warga miskin, hal itu tentu sangat berat.

Selama ini, masyarakat Kabupaten Lebak yang mengurus akta kelahiran hanya 20-25 persen dari 15.000 kelahiran anak per tahun.

Oleh karena itu, pihaknya khawatir, anak-anak yang tidak memiliki akta kelahiran bisa mengalami kesulitan di masa depan karena akta digunakan untuk melamar pekerjaan, mendaftar sekolah, dan ke luar negeri.

Saat ini, tingkat kesadaran masyarakat untuk membuat akta kelahiran masih rendah. Hal ini disebabkan banyak orangtua tidak memiliki surat nikah yang dikeluarkan Departemen Agama karena menikah siri.

“Saya minta orangtua yang ingin mengurus pembuatan akta kelahiran anak dilengkapi surat nikah,” tandasnya.

BNJ
Sumber : Ant

9 thoughts on “Anak jalanan & anak di luar nikah dianggap TIDAK pernah lahir?

    anne_chantique said:
    24 Mei 2009 pukul 16:49

    mang dilema ya, ga salah se penolakan itu…namanya juga peraturan dan ada benernya…kalo gitu kasian anaknya dong..

    anne_chantique said:
    24 Mei 2009 pukul 16:49

    mang dilema ya, ga salah se penolakan itu…namanya juga peraturan dan ada benernya…kalo gitu kasian anaknya dong..

    HTTP;//anemischi3.wordpress.com

    sam said:
    24 Mei 2009 pukul 20:59

    seharusnya aturan yang dibuat dengan memperhatikan keadaan dan bisa menerima keadaan yang terjadi, itulah akibatnya bagi orang miskin yang tidak bisa menikah secara sah, dan membuat akte kelahiran bagi anak2nya karena tidak mampu membayar biaya pengurusan surat2 tsb, Inilah contoh aturan yang tidak memperhatikan kepentingan masyarakat secra umum, seharusnya semuanya itu GRATISSSSSSSSSSSSSSSSS

    tyo said:
    25 Mei 2009 pukul 10:02

    ya bener tuch,,, kan biar orang-orang mikirin masa depan anak itu. jangan di jadikan alasan miskin jadi tidak bisa mengurusi surat-surat itu. dimana ada usaha pasti ada jalan keluran nya,, bukan begitu????????

    starlight21 said:
    26 Mei 2009 pukul 17:53

    biaya menikah dengan biaya mengurus anak kalau ditotal besar yang mana sih? biaya menikah kan cuman satu kali aja. membiayai surat nikah aja nggak mampu, kok punya banyak anak malah mampu? Bukan karena miskin jadi tidak punya surat-surat. Tapi karena nggak memang nggak ada kemauan aja.
    Pemerintah juga tuh. Kasih diskon donk, buat rakyat miskin yang mau ngurus surat nikah.

    bundadontworry said:
    28 Mei 2009 pukul 11:19

    sepertinya dalam kasus kemiskinan begini paling tdk ada dispensasi dari pemerintah setempat, utk pembuatan surat nikah+akte kelahiran gratis, janganlah terlalu kaku utk menerapkan peraturan, kan akibat yang ditanggung si anak adalah mempertaruhkan masa depan mereka, apakah ortu dan pemerintah setempat memang sudah tdk bisa mencapai kata sepakat apapun lagi alias jalan buntu ?kan kalau si anak nantinya bisa jadi orang yg sukses paling tdk ada kebanggan pada daerah asalnya, bukan begitu ?

    neilhoja said:
    3 Juni 2009 pukul 13:22

    nikah mahal? pemerintah dan orang2 kaya di sana harusnya turun tangan…

    kenapa harus mahal? Rasul sendiri pernah menyuruh sahabat untuk memberi mahar hanya dengan sebuah cincin dari besi.

    mananya yang mahal? sepertinya hanya budaya saja. huhuhuhu

    puteh said:
    11 Juni 2009 pukul 18:06

    Kenapa orang tua yg harus disalahkan jika anak terlahir tanpa adanya surat nikah, bisa saja siibu adalah korban dr perkosaan dan si ibu tidak mau membuang/aborsi anak tersebut. Bukankah itu tindakan kemanusiaan? seharusnya pemerintah juga memberi solusi untuk masalah dan permasalahan yg ada. bukannya mempersulit ibu dan sang anak untuk mendapatkan status dan kehidupan sosialnya.

    Bagaimana jika ada ratusan wanita yg menjadi korban seperti itu dan banyaknya kasus aborsi, juga dimana2 ditemukan bayi yg dibunuh karna malu menanggung aib. Apa yg akan masyarakat dan pemerintah lakukan???????

    Bertha said:
    23 Oktober 2009 pukul 18:06

    kasihan jg anak” itu mrk pny hak hidup dan punya hak untuk sekolah… seharusnya pemerintah juga memberi solusi untuk masalah dan permasalahan yg ada. anak ini g bersalah.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s