Dokter Senior Pun Pernah Mengeluh Menjadi Korban Malpraktek RS Omni

Posted on Updated on

Pasien yang pernah mengeluhkan dirinya menjadi korban malpraktek RS Omni bukan hanya Prita Mulyasari. Malah, tahun lalu, seorang dokter senior yang berobat ke RS Omni Medical Center (yang satu grup dengan RS Omni International Hospital) telah mengajukan gugatan ganti rugi. Ini dia berita selengkapnya dari hukumonline.com:

Ketika Dokter Menjadi Korban Malpraktek
[29/5/08]

Lantaran keliru dalam menjalankan metode TUNA –Trans Urethal Needle Ablation– RS Omni Medical Center digugat oleh Salman, dokter senior yang berobat ke RS tersebut. Selain ganti rugi Rp35 juta, Salman juga meminta rekam medis penyakitnya.

Lazimnya yang menjadi korban malpraktek adalah pasien. Kali ini, justru seorang dokter senior yang menjadi korban malpraktek. Jangan kaget dulu. Dokter yang menjadi korban ini memang sedang pindah posisi sebagai pasien. Namanya, dokter Salman. Pria yang pernah berpraktek di Rumah Sakit (RS) Harapan Kita ini terpaksa menggugat rekan seprofesinya karena dianggap melakukan malpraktek.

Syahdan, Salman mengidap penyakit pembesaran prostat jinak dengan gejala sangat ringan. Pria berusia 74 tahun ini pun mendatangi RS Omni Medical Center untuk mengobati penyakitnya dengan metode Trans Urethal Needle Ablation (TUNA). Metode TUNA merupakan terapi yang diperkenalkan di Indonesia sejak 2004. Cara kerjanya adalah menusuk prostat dengan jarum yang diberi energi gelombang radio sehingga menghasilkan energi panas yang mengarah langsung ke prostat.

Tertarik dengan keampuhan metode TUNA melalui iklan di media massa, Salman berminat untuk menjajalnya. Singkat cerita, Salman mulai cari info soal metode TUNA itu di RS Omni Medical Center. Di tempat itu, ia ditangani oleh dokter Johan R. Wibowo. Belakangan, bukan kesembuhan yang ia terima, tapi malah kesakitan yang luar biasa. Salman mengaku mengalami pendarahan hebat, susah kencing, dan kencing berdarah.

Merasa dirugikan, Salman lantas menempuh jalur hukum. Melalui pengacaranya Virza Roy Hizzal, Salman mendaftarkan gugatan perbuatan melawan hukum ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur. Ia menggugat dokter Johan, PT Sarana Meditama Metropolitan (pemilik RS Omni Medical Center) dan Soekendro (Presdir RS Omni Medical Center). Para tergugat, kata Salman, telah lalai dan melakukan kesalahan dalam menjalankan metode TUNA.

Dalam gugatannya, Salman meminta para tergugat mengganti kerugian materil yang dialaminya sebesar Rp35 juta. Sedangkan kerugian immateril sebesar Rp300 juta.

Selain meminta ganti rugi, Salman meminta haknya yang lain, yakni fotocopy rekam medis (medical record). Virza mencatat ada dua hal penting terkait kehadiran rekam medis itu. Pertama, isi rekam medis sangat penting bagi penggugat untuk mengetahui informasi penyakit yang dideritannya demi keberlangsungan proses perawatan atau pengobatan atas diri penggugat.

UU No 29/2004 tentang Praktik Kedokteran

Pasal 47

  1. Dokumen rekam medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 merupakan milik dokter, dokter gigi, atau sarana pelayanan kesehatan, sedangkan isi rekam medis merupakan milik pasien

  2. Rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disimpan dan dijaga kerahasiaannya oleh dokter atau dokter gigi dan pimpinan sarana pelayanan kesehatan.

Pasal 52 huruf a

Pasien dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai hak: a. mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3)

Dan kedua, isi rekam medis juga diperlukan untuk kepentingan proses pemeriksaan perkara maupun pembuktian dalam perkara. “Rekam medis ini sangat penting,” jelas Virza ketika ditemui hukumonline di PN Jakarta Timur, Rabu (28/5). Untuk itu, Virza memohon Majelis Hakim agar bisa menghadirkan bukti tersebut, sebagai tindakan pendahuluan.

Namun, Majelis menolak permintaan tersebut. Apalagi, perkara ini baru sidang awal. “Permintaan itu sudah masuk substansi perkara,” ujar Ketua Majelis Hakim Firdaus seraya mempersilahkan para pihak untuk melewati tahap mediasi terlebih dahulu.

Sementara itu, Kuasa Hukum RS Omni Medical Centre, Susi Tan, menolak berkomentar tentang kasus yang menimpa kliennya. Ia berdalih, perkara ini masih proses mediasi. “Ini kan belum masuk pokok perkara. Masih mediasi. Nantilah,” elaknya ketika dicegat hukumonline.

Pernah Dilaporkan ke Polisi

Ternyata, gugatan ini bukan yang pertama. Tahun lalu, Salman pernah melaporkan dokter Johan ke Polres Jakarta Timur. “Kami laporkan karena ada unsur penipuan dan kelalaian,” ujar Salman. Laporan itu sendiri kabarnya mandeg di Kepolisian. “Kasus itu katanya di SP3 (Surat Perintah Pemberhentian Penyidikan,-red),” ungkap Virza.

Meski mendapat kabar bahwa kasus tersebut telah di SP3, namun Salman sendiri mengaku belum menerima surat tersebut. Akibatnya, Salman kesulitan dalam mengajukan permohonan praperadilan. Apalagi, Salman menduga ada “permainan” dalam penghentian kasus ini. “Makanya kami adukan penyidiknya ke Propam,” tegas Salman.

Dihubungi secara terpisah, Dedy Kurniadi, Penasehat Hukum dokter Johan, menjelaskan penyidik Polres Jakarta Timur tidak menemui unsur pidana apapun dalam kasus itu. “Memang tak ada malpraktek berdasarkan penyidikan,” ujarnya melalui telepon.

Ia menegaskan polisi tidak sembarangan dalam mengeluarkan SP3. Tetapi, setelah melewati pemeriksaan beberapa saksi dan ahli. Ahli yang dihadirkan berasal dari Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran (MKDK) Indonesia.

Diceritakan Dedy, kala itu MKDK berpendapat, jika seseorang diobati lalu ada efek pendarahan yang lebih dari yang diduga sebelumnya bukan berarti sebagai kelalaian. “Karena daya tahan tubuh masing-masing orang kan berbeda. Kesimpulannya tak ada yang memberatkan dokter Johan,” jelasnya.

Yang jelas, Salman sudah telanjur tak percaya dengan penjaga kode etik korpsnya itu. Makanya, gugatan perbuatan melawan hukum merupakan langkah selanjutnya yang diambil oleh dokter senior ini.

(Ali)

Iklan

70 thoughts on “Dokter Senior Pun Pernah Mengeluh Menjadi Korban Malpraktek RS Omni

    ekojuli said:
    4 Juni 2009 pukul 10:28

    Berarti OMNI ?????

    Dukung kebebasan beropini…

    Persidangan Sudah mulai hari ini (4 juni 2009)

    BAGAIMANA KALAU OMNI MENANG? Simak ulasannya:

    http://ekojuli.wordpress.com/2009/06/04/kasus-prita-mulyasari-2-kalau-omni-menang-apa-yang-terjadi/

      desi said:
      4 Juni 2009 pukul 22:02

      di TV sdh ada pernyataan dr IDI kl prita tidak bersalah, bahkan jaksa agung sdh menyatakan bahwa jaksa penuntut tidak profesional. yakin deh, prita pasti bebas, kl perlu minta ganti rugi materiil dan immateriil krn sdh msk bui 20 hr, terpisah dr 2 anak balitanya….

      BT (Buaya Turbo) said:
      5 Juni 2009 pukul 10:27

      Kalo OMNI menang? publik akan melihat ke sisi yang lain: PEMERINTAH. Sudahkan Pemerintah menjamin hukum di Indonesia? Hukum yg adil, yg tidak terbeli, yg transparan, yg anti suap, yg merupakan kriteria ideal sistem hukum.

      Yuliapril said:
      5 Juni 2009 pukul 17:23

      Semoga Allah menunjukkan siapa yg benar dan siapa yg salah…
      saya teringat dengan kalimat seorang teman
      “apabila tidak bisa mencari keadilan didunia mintalah dg Allah yg maha Adil”

      Utk Ibu Prita & keluarga semoga diberi kekuatan,ketabahan dan kemudahan utk urusan ini amin.

      Wassalam

      Yulia.april17@gmail.com

    hasty juwitha yassien said:
    4 Juni 2009 pukul 11:04

    yakiN aJ ALLAH SWT g pRnH tDuR akaN kbNraN..mNaNg d dUnia bLm tNtU bBaS d akHeRaT..jgN puLa sMpe d negRi qT niiy..jd oRg yg bLh d kRtik..tP g bLh m’kRtik..piLuu..

      Dewi said:
      4 Oktober 2010 pukul 13:39

      Jgn nunggu balasana akhirat dong With….

    bambang irwanto said:
    4 Juni 2009 pukul 11:47

    jeruk makan jeruk

    Raharjo said:
    4 Juni 2009 pukul 14:18

    wealah… dah pengalaman digugat gitu toh, pantes sekarang langsung main tuntut dan seret…
    salam kenal mas shodiq…

    skydrugz said:
    4 Juni 2009 pukul 17:17

    hak konsumen mengkritik jika mendapat produk yang tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh produsen.

    ini untuk meningkatkan kinerja.

    kebebasan berekspresi itu penting!

    #Bara said:
    4 Juni 2009 pukul 17:42

    saluut info nya mas shodiq. tambah ilmu nih. Semoga keadilan tetap berpihak pada yg benar…Thanks.

    Saner said:
    4 Juni 2009 pukul 17:57

    Perlu diaudit managemen dan pemilik RS… Kl kagak bisa bisnis di Rumah Sakit, ya jangan bisnis lah.

    Para dokter memang suka arogan menaggap dirinya kebal dan bisa berkelit dari profesinya sebagai dokter. Padahal dia kan sama saja dengan yang lain, sama-sama cari makan dan melayani pasien

      wina said:
      12 Juni 2009 pukul 12:45

      Sepertinya kita semua harus melihat permasalahan ini dengan bijak dan seadil2nya. Jangan main asal tunjuk dgn objek yg jamak ‘para dokter’. Saya rasa ini semua memiliki multi penyebab yang saling berkaitan, dimulai dari kurangnya pengetahuan dan rasa empati..baik itu dokter, rs,jaksa, polisi atau bahkan mba prita-nya sendiri.
      Dan saya rasa kata ‘arogan’ bukan hanya anda dapat berikan pada ‘para dokter’..tapi bisa juga rs,jaksa, polisi bukan?

      Indi said:
      4 Mei 2011 pukul 00:04

      Ho hoooii, ga semua dokter kaleee….
      Seharusnya yang ditulis “oknum dokter”, Jeng…..

    Tumpal P Sinambela said:
    4 Juni 2009 pukul 18:41

    aksi solidaritas facebooker dan blogger baca selengkapnya di http://penalovekertas.blogspot.com/2009/06/solidaritas-facebooker-dan-blogger.html

    Arifin said:
    4 Juni 2009 pukul 18:57

    Bener kan, kasus mentok di kepolisian. Nyetor tuh RS, pemerintah, inget pajak yang kalian makan, itu amanat, kalian harus bela kami.

    Gwjd takut berobat k RS swasta, tp negeri masih kurang, masa harus nyeberang k negeri singa..

      Indi said:
      4 Mei 2011 pukul 00:15

      Jangan salah, bro..
      Berobat di Negeri Singa belum tentu tidak ada masalah….
      Kalau sudah takdir, yang terjadi maka terjadilah..

      Namun yang pasti, bila menyangkut masalah keselamatan jiwa manusia, tidak boleh diremehkan atau tak ternilai dengan uang alias kudu diprioritaskan…

      Nah, disinilah moralitas dan good governance berperan…..

      Ayo Omni buktikan kualitasmu, tunjukkan moral-mu dan good governance-mu!!

      Kementerian Kesehatan RI, Kehakiman, Kepolisian tunjukkan taringmu, tegakkan peraturan yang telah kau undang-undangkan (baca: buat sendiri)

      Tolong jangan persulit apa yang dapat dipermudah…

    Our Journey said:
    4 Juni 2009 pukul 19:46

    Wah… mungkin juga bukan hanya Bapak Salman dan Bu Prita, mungkin masih ada korban lain yang gak berani buka suara….
    Konsumen berhak untuk mendapat yang terbaik, apalagi ini tidak main – main masalah sebuah jiwa.
    Semoga kasusnya dapat terselesaikan dengan baik dan Bu Prita diberi kesabaran…

    atmo said:
    4 Juni 2009 pukul 21:47

    semuayg disini,ati2 ditangkap lho!

      wahyu am said:
      5 Juni 2009 pukul 05:40

      tangkap aje semua 😆
      biar penuh tu penjara…

    debuterbang said:
    5 Juni 2009 pukul 07:25

    berarti emang ini rumah sakit bermasalah. coba dia ga ngangkat kasus ibu prita ini ke pengadilan. ga akan jadi blunder, nama omni tetep bagus. tapi dengan kaya gini semakin curigalah masyarakat sama omni

    Novrian E. Sandhi said:
    5 Juni 2009 pukul 07:32

    hmm…
    sudah saatnya dibongkar, siapa di belakang OMNI??? Adakah oknum penguasa atau kroni2nya? Adakah pengusaha besar yang selalu mem-backup dana parpol besar??? ditunggu hasil investigasi para blogger

      bagong said:
      7 Juni 2009 pukul 22:12

      setujuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu…………………………

    geulist133 said:
    5 Juni 2009 pukul 09:29

    Bentar lagi juga gak ada yang mau ke OMNI buat jadi pasien (mungkin)

      sakainget said:
      5 Juni 2009 pukul 10:27

      asiiiiiiiikkkk ketemu ‘babaturan’ disini 😀
      biarin ditangkeup juga gpp sy mah 😀

    Bli ketut said:
    5 Juni 2009 pukul 11:05

    Pelayanan publik di indonesia harus berkaca dan memperbaiki diri dari kasus ini, bukan malah marah dan menuntut…

    b2up said:
    5 Juni 2009 pukul 13:25

    Mas hati2 kena UU ITE 🙂

    Asyiro said:
    5 Juni 2009 pukul 13:36

    Bangsa ini baru mulai merdeka paling tidak dlm hal mengemukakan pendapat di depan umum (liwat internet). Kita berterimakasih pd layanan internet yg mampu menjalin rasa sesama saudara sebangsa dan setanah air.
    Mari kita bina terus informasi & komunikasi yg baik ini demi hari depan negeri tercinta ini.

    Salamkenal, mas Shodiq.
    http://jeansboeloek.multiply.com
    http:carolusispryono.blogdetik.com

    manis said:
    5 Juni 2009 pukul 13:44

    RS Omni Juga Gugat Pasien Meninggal
    Jum’at, 05 Juni 2009 | 09:04 WIB

    TEMPO Interaktif, Jakarta: Gugatan Rumah Sakit Omni International terhadap pasien tak hanya terjadi pada Prita Mulyasari. Rumah Sakit Omni Medical Center, Pulomas, Jakarta Timur, juga menggugat perdata keluarga almarhum Abdullah Anggawie, pasien rumah sakit tersebut, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

    Sidang gugatan itu dipimpin ketua majelis hakim Reno Listowo. Sedianya, sidang kemarin untuk mendengarkan putusan majelis hakim. Reno mengatakan menunda sidang hingga Senin (15 Juni) depan. “Mohon pengertiannya, karena ada pergantian majelis hakim,” kata Reno saat sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

    Abdullah Anggawie dirawat di rumah sakit Omni selama tiga bulan sejak 3 Mei 2007. Abdullah akhirnya meninggal pada 5 Agustus 2007. Omni menggugat karena keluarga pasien, yakni Tiem F. Anggawie dan Joeseof Faisal, dan pihak penjamin, yakni PT Sinar Supra Internasional, tidak memenuhi kewajibannya membayar tagihan sebesar total Rp 552,2 juta. Pihak keluarga memiliki kewajiban yang belum dibayar sebesar Rp 427,2 juta karena Rp 125 juta sudah disetor sebagai uang muka atau uang jaminan.

    Gugatan terhadap pasien tersebut dilayangkan RS Omni pada 24 November 2008. Selain menuntut pembayaran sisa tagihan, Omni menuntut pembayaran bunga 6 persen per tahun dari total tagihan.

    Sri Puji Astuti, kuasa hukum tergugat, membantah tudingan bahwa kliennya tak mau membayar kekurangan biaya rumah sakit tersebut. “Kami mau bayar, tapi kok rekam medisnya nggak dikasih, bagaimana mau bayar kalau rekam medisnya nggak ada,” kata Sri Puji Astuti seusai persidangan.

    Menurut Sri, selama tiga bulan dirawat, keluarga pasien tidak pernah diberi tahu soal penyakit yang diderita almarhum. Bahkan, kata Sri, dokter memberikan resep obat yang berbeda setiap hari. Kejanggalan lain, tiap hari tabung oksigen juga diganti yang baru. “Padahal biasanya satu tabung itu untuk beberapa hari,” ujarnya.

    Atas gugatan ini, kuasa hukum tergugat mengajukan gugatan balik ke Rumah Sakit Omni Medical Center sebesar Rp 5 miliar. Rumah sakit dinilai melakukan perbuatan melawan hukum dengan tidak memberikan informasi medis dan mengklarifikasi tagihan.

    Para tergugat menilai tagihan penggugat tak wajar. Misalnya, dalam tagihan disebutkan penggugat melakukan cuci darah atau hemodialisis setiap hari mulai 19 hingga 31 Mei 2007. Selain itu, terjadi pergantian resep dokter tiap hari mulai 4 sampai 31 Mei. Padahal satu resep obat berlaku untuk jangka waktu tiga hingga enam hari.

    Pihak Rumah Sakit Omni Medical Center enggan mengomentari kasus yang mengaitkannya dengan salah seorang pasien yang bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat itu.

    “Nanti saja, Mas,” kata Risma Situmorang, kuasa hukum RS Omni Medical Center, melalui telepon kemarin. Berkali-kali Tempo mencoba menghubunginya lagi, namun tak pernah diangkat.

    SUTARTO | TITO SIANIPAR | ISTI

      dodo said:
      9 Juni 2009 pukul 15:42

      gaswat orang dah meninggal masih dituntut juga… kasihan tuh orang yang dah meninggal…..pake ada bunganya lagi kayak rentenir aja.

        Tatang said:
        10 Juni 2009 pukul 23:14

        iaa nih,,, OMNI OMNI… anter aja tagihannya ke kuburan ybs yaa!!

      richie said:
      9 Juni 2009 pukul 17:33

      Udah gayang aja tuh RS. bongkar, jangan kasih kesempatan lagi entar loe-loe pada mati berobat disitu.

        didi said:
        9 Juni 2009 pukul 22:56

        kalau cm mati aja mungkin mmg dah takdir, tuntutannya apakah jg takdir….pakai bunga lagi……trus yg pakai kartu raskin gmn tuh……???

      Indi said:
      4 Mei 2011 pukul 00:25

      Rp 552,2 juta??????????

      Aduh..aduuuh, langsung mendadak miskin nih kalo sampai ane yang ngalamin.

      Na’udzubillah…..

      Jangan sampai ngalamin kejadian kayak gitu…

      Ayo…pihak-pihak terkait…jelaskan perkaranya, biar tuntas…taaaasssssssssss

    mansz said:
    5 Juni 2009 pukul 13:52

    pasti sepi tuh RS yakin dah 100% pada kapok ….

    sulit di negeri tercinta ini pasien ga akan pernah bisa menang lawan dokter, sbb memang ga ada dalam uu nya dokter di penjara kecuali ya klo pake narkoba wkwkwkwkkwkwkkwkwk

    tapi dari dulu juga paling banter hanya hukuman disiplin sama administratif doang.

    mrtamaro said:
    5 Juni 2009 pukul 14:29

    salam kenal

    http://rodadua.net – Toko Online – Sarung Tangan Motor Pertama Di Indonesia

    Mutiara said:
    5 Juni 2009 pukul 15:48

    Dengan berbagai kasus yang ada. Rumah sakit Omni sudah hilang credibiltasnya di mata masyarakat. Yang menghukum bukan pengadilan. Tapi sekarang secara moral RS Omni sudah dihukum oleh masyarakat 🙂

    nurrahman18 said:
    5 Juni 2009 pukul 16:08

    omni itu milik siap yah? PMA atau PMDN?

    arieprawira said:
    5 Juni 2009 pukul 16:15

    wah wah gmn nih dunia kesehatan kita, terutama Pelayana Kesehatannya, sepertinya Negara Ini butuh Undang-Undang tentang Pelayan Kesehatan, yang memberikan hak kepasa pasien untuk menggugat dokter, dan kewajiban pelayanan kesehatan yang standart, sehingga dokter juga tidak ragu melayani pasien agar tindakannya tidak digugat oleh pasiennya.

    Arie
    http://alamatgue.com
    http://arieprawira.wordpress.com
    http://binjaitech.wordpress.com

    bundadontworry said:
    5 Juni 2009 pukul 17:04

    oh jadi emang dah pernah digugat dulu ya ? wah..pak mustika hebat ya bisa2nya dapat info kayak gini,salut pak,salam.

    ZonS said:
    5 Juni 2009 pukul 18:39

    Kalo para blogger diajak ngumpul bareng mengawal persidangan Ibu Prita pada mau nggak ya?

    Gemuruh Dukungan Dari Dunia Maya, Bagaimana Wujudnya Di Dunia Nyata?

    .

    abahguru said:
    5 Juni 2009 pukul 19:40

    Abah sih khawatir, kalo kepercayaan masyarakat kepada Rumah Sakit hilang…. Bisa-bisa semua beralih ke dukun…

      tukang bakso said:
      9 Juni 2009 pukul 16:03

      gak apa2 bah…profesi saya selain tukang bakso juga jadi dukun bah… tapi bukan dukun cabul…asli dukun he..he.. promosi dikit….

    febrian said:
    5 Juni 2009 pukul 20:34

    mantab satu2 boroknya keluar, harus tahu dirilah kalau udah salah. bukannya malah di tutupin usut semua bos biar pada kapok pemanipulasi.

    sleeplessinsomniac said:
    5 Juni 2009 pukul 23:00

    INDONESIA negara demokrasi,
    kenapa mengekang rakyatnya untuk bebas berpendapat.
    kenapa masalah seperti ini bisa masuk meja hijau.
    kalau sudah begini terlihat kinerja buruk kejaksaan
    mungkin harus segera dibenahi.
    karena ini bukan kasus pertama yang menyakut buruknya kinerja kejaksaan.

    Zoe said:
    6 Juni 2009 pukul 02:04

    ah emang omxi payah masa gitu aja minta pertolongan polisi.. sok jagoan

    roedy said:
    6 Juni 2009 pukul 03:11

    saya dengar RS Omni sudah mulai berada dalam pengawasan . . . dan akan diperiksa . . . (bisa2 dicabut izin nya)

      Tatang said:
      10 Juni 2009 pukul 23:12

      Semoga

    […] hits Top Posting WordPressDokter Senior Pun Pernah Mengeluh Menjadi Korban Malpraktek RS OmniDownload PCMAV 2.0c (Juni-Juli 2009) : Virus RisaHah..!! Seorang pemuda bisa terbang dan berteman […]

    jul said:
    6 Juni 2009 pukul 06:17

    wew parah

    Raharjo said:
    6 Juni 2009 pukul 09:07

    siap2 pak shodiq…jangan Omni dah melirik

    hehe…

    aspal07 said:
    6 Juni 2009 pukul 11:46

    Udak gak jaman lagi mengekang hak berpendpat, apapun alasannya

    karangasem said:
    6 Juni 2009 pukul 11:59

    kalo sampai ibu prita di penjara, mesti para jaksa dan hakimnya terbeli oleh OMNI

    hidup Ibu Prita

    Top Posts « WordPress.com said:
    7 Juni 2009 pukul 07:16

    […] Dokter Senior Pun Pernah Mengeluh Menjadi Korban Malpraktek RS Omni Pasien yang pernah mengeluhkan dirinya menjadi korban malpraktek RS Omni bukan hanya Prita Mulyasari. Malah, tahun […] […]

    bagong said:
    7 Juni 2009 pukul 22:22

    mmm….boleh bingung kan………..
    dah keluar uang banyak…eh…..malah dipenjara……
    klarifikasi, meluruskan masalah emang hrs ada jeruji besi…..hiyyy…..ngeriiiii……

    lisdianita said:
    9 Juni 2009 pukul 08:04

    dukung ibu prita….semoga bebas dari segala tuntutan….

    Mei said:
    9 Juni 2009 pukul 11:37

    Mas Shodiq, mohon bantuan edit untuk tulisan ini. Maklum mas, saya takut masuk penjara.

    Saya mempunyai pengalaman sbb;

    November 2008, anak sy (7 thn) terpeleset di depan kamar mandi sehingga terjatuh dan kepalanya terbentur lantai. Sempat pingsan stlh sadar kemudian muntah. Krn khawatir gegar otak, keluarga memutuskan utk dibawa ke RS OMNI.

    Saat diperiksa di UGD, anak saya sdh mulai koperatif (ketika ditanya sdh dpt menjawab dgn baik), namun dokter mengatakan lbh baik dirawat 1 hr krn khawatir terjadi trauma lanjutan (mendadak pingsan/muntah) dan jg utk diobservasi lebih lanjut (MRI/CT-Scan). Kami setuju.

    Hasil CT-Scan menunjukkan adanya Trauma (pendarahan) pd kepala. Pengobatan dilanjutkan, hari ke-3 anak saya di CT-Scan ulang. Hasil menunjukkan masih ada sisa Trauma. Dokter bedah syaraf menerangkan hasilnya dan mengambil kesimpulan bahwa anak saya harus menjalani operasi.

    Saya berinisiatif untuk mencari 2nd opinion. Walaupun pihak RS tdk mengijinkan pasien keluar, tp saya tetap memaksa sehingga saya diharuskan menandatangani surat keluar paksa pasien (2 Des 2008).

    Akhirnya atas rujukan seorang dokter keluarga, kami menemui seorang dokter bedah syaraf bergelar Prof. Kami tunjukkan hasil CT-Scan (kedua-duanya). Kemudian beliau memeriksa anak kami. Analisa beliau; tidak perlu dioperasi cukup minum obat, sambil beliau menuliskan resep. Saya masih tegang, sambil memastikan benar2 apakah anak saya tidak perlu dioperasi. Sambil tersenyum, beliau tetap menjawab tidak perlu bu, ini tidak perlu di operasi. Trauma terjadi di luar batok kepala. Lihat, respon anaknya juga bagus kan..??? tidak ada kelainan.

    Ah… saya sangat bersyukur Tuhan masih melindungi anak saya. Operasi bukan cuma masalah uang, anak saya baru berumur 7 thn, saya takut dgn resiko pasca operasinya (operasi kepala lagi). Bersyukur, tanpa operasi sekarang anak saya sehat kembali.

    Ga salah juga seh OMNI menyarankan anak saya harus dioperasi, tapi… jadi dokter pintar dikit dong…
    Memar doang masa di operasi…
    Kalo begini seh serasa ban kurang angin di suruh ganti ban baru…

    Saya setuju penutupan RS yg tidak mempunyai tekad sosial, yg hanya menyedot uang pasien.

    Best Regards,
    Mei.

      M Shodiq Mustika responded:
      9 Juni 2009 pukul 12:27

      @ Mei
      Mbak Mei, sayalah yang mempublikasikan tulisan tersebut. Kalau RS Omni menganggap saya mencemarkan nama baik mereka dengan publikasi ini, sayalah yang menanggung risikonya. Jadi, Mbak Mei tak perlu takut dipenjara.

        Mei said:
        10 Juni 2009 pukul 15:20

        Trims Mas Shodiq…
        kalo mas di penjara saya pasti ikut deh, biar kita sama2 berjuang ya…

        Sebagai informasi, jika ada teman2 yg membutuhkan data2 rekam medis anak saya sebagai bahan pembelaan melawan RS.OMNI, saya bersedia memberikannya.

        Hasil CT-Scan terakhir anak saya (5 Maret 2009), menunjukkan; trauma sudah tidak tampak sama sekali.

        Itu artinya, TERBUKTI dengan bantuan seorang dokter yg memang berkemampuan baik, tanpa operasi kondisi kesehatan anak saya bisa pulih kembali.
        Dari hasil CT-Scan terakhir itu, patut dipertanyakan juga kreadibilitas RS OMNI ini; kemampuan dokter2nya serta niat mereka dalam menangani pasien (komersil/sosial..???).

        Best Regards,
        Mei.

          etikush said:
          26 Desember 2009 pukul 22:51

          ngehubungin mbak mei-nya kemana?

        etikush said:
        26 Desember 2009 pukul 23:30

        kok asal mula artikel/berita? diatas, dicopy darimana, gak ditulis?

        kan jadi susah nih ngecek n ricek ujung pangkal artikel diatas?

    dodo said:
    9 Juni 2009 pukul 14:49

    wah berarti dah kapalan alias sering sama kasus pasien, klo gitu mending gw kedukun sembur aja dech…..( ngomong gini dipenjara gak yach….??? )

    didi said:
    9 Juni 2009 pukul 23:08

    wah…bener2….OMNI….OMNI…..apa msh mau ttp eksis…..terlalu………..

    Konsumerindo said:
    10 Juni 2009 pukul 09:32

    Jika ane punya suatu usaha, maka demi menjaga hubungan baek dengan pelanggan ane yang setiap saat bisa ninggalin produk ane, lebih baik ane buang aja nila yang cuma setitik itu daripada nanti ngerusak susu sebelangga. Ane sayang ama modal besar yang udah Ane keluarin, mubazir euy ! Inga, inga ! Inga ! Consumer is the King !

    Tatang said:
    10 Juni 2009 pukul 23:07

    di Negara kita tercinta ini memang banyak yang super aneh,,,, terutama berurusan dengan pelayanan publik,,, bener2 hidup kita ini mirip di jaman perbudakan, jaman otoriter atau jaman penjajahan.

    masa mau berobat saja,, malah dimasukkan ke penjara,,, bukannya sembuh,, tapi nambah sakit,,, dosa lohh membiarkan anak yang masih menyusui dipisahkan dari ibunya ,, sadis banget,,,

    sebenarnya kasus memperdaya orang sakit terutama dari kalangan miskin ini sudah banyak terjadi,,, tapi kita banyak menutup mata, telinga dan hati,,, sadis banget,,

    saya sendiri pernah ngantar istri memeriksa kandungan istri,, terus dokter kasih liat catatannya,, terus karena aku orang awam,, kutanyalah arti catatan medis tersebut,, supaya tau maknanya,, ehh si dokter malah bilang “kalo mau tau ini musti sekolah dulu!!!”,, busyet dah,,, sadis bangett

    ada juga dulu seorang ibu yang tidak bisa membawa pulang bayi yang baru dilahirkannya gara-gara dia miskin dan tidak mampu membayar,,, duh,, sadis bangett,,,

    makanya aku bener2 bersyukur ,, hingga hari ini tidak pernah berurusan banyak dengan rumah sakit. Alhamdulillah.

    kepada Ibu Prita,,, semoga tabah dan menang di pengadilan.
    kepada semua masyarakat ,,, pertimbangkan kembali berobat ke RS yang bermasalah ini.
    Kepada OMNI,, jadilah RS yang bener2 tempat nyembuhin orang,, bukan menjarain orang.
    untuk menuntut orang yang sudah mati,, kirim saja surat taguhannya ke kuburan ybs.
    nanti ketemunya di alam baqa.. atau di persimpangan (pasien di surga ,,, dokter2 OMNI di neraka)

    hmmm,,, semoga layanan RS kita tambah baik, seperti RS2 di msa atau spr

    MEGAWANGSIT said:
    14 Juni 2009 pukul 21:36

    kalo gak berniat menolong orang lain dan berjiwa sosial sebaiknya para dokter itu tidak usah jadi dokter, kalo cuman mikirin duit jangan jadi dokter dong!!
    RS Omni suka menuntut pasien karena pendapatan dari RS gak ada ya???
    jadi suka main perkara aja!
    Setuju banget RS OMNI ditutup !

    isma said:
    6 Desember 2009 pukul 18:48

    pemilik RS Omni siapa ya?
    Kayanya sakti banget, ng bisa d sentuh walau sudah malprakter…

    Teman2,kl sakit biasa berobatlah k dokter umum,

    Tp kl ng bs dtangai dokter umum,lgs aja k malaysia/singapura. RS dsana jg kl d hitung2 biayany sama dgn indo, namun PLus keamanan nyawa…

      Indi said:
      4 Mei 2011 pukul 00:31

      Ente jamin nyawa aman kalo berobat ke Malaysia/Singapura?

      Kalau ngga aman gimana?

      Saran ane:

      Ingatlah sehat sebelum sakit

      Lebih baik mencegah daripada mengobati

      Mari kita jaga kesehatan kita karena suaaangaaattttddd mahalll harganya !!!

    […] RS OMNI Hospital.  Bahkan ada dokter pula yang katanya mengeluh.  Kalau sampai ke pengadilan, tentu pula kocek RS Omni akan bertambah.  Kita boleh berharap untuk tidak terjadi penganiayaan […]

    fenchay said:
    9 Desember 2009 pukul 08:53

    Kang numpang forward linknya lwt FB ya… thx

    Indi said:
    4 Mei 2011 pukul 00:42

    Nemu link artikel oke nih, semoga bermanfaat untuk objektifitas pandangan rekan-rekan:

    http://www.mail-archive.com/dokter@itb.ac.id/msg15224.html
    *http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/06/17/Metro/krn.20090617.168365.id.html

    Apa iya dr. Lukman ga dateng waktu sidang?

    Kenapa ya? Apa karena sakit?

    Terus resume yang dikasih RS Omni, apa iya sudah dikasih?

    Ini artikelnya:

    *Laporan RS Omni Masih Diproses*

    *JAKARTA *– Polisi masih menyelidiki dugaan pencemaran nama baik
    terhadap Rumah Sakit Omni Medical Centre yang dilakukan oleh dr Salman.
    Menurut juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya Ajun Komisaris Besar
    Chryshnanda Dwi Laksana, proses penyidikan dijalankan oleh Satuan Remaja
    Anak dan Wanita.

    Beberapa pihak yang telah dimintai keterangan antara lain pihak rumah
    sakit dan dr Salman. Menurut Chryshnanda, ketentuan undang-undang pidana
    diberlakukan dalam kasus pencemaran nama baik, karena hal itu terkait
    dengan masalah produktivitas seseorang atau sebuah institusi. “Kami
    tidak bisa menolak laporan pengaduan dari masyarakat,” ujarnya. *RIKY
    FERDIANTO*

    *Dedy Kurniadi, pengacara dokter Johan R. Wibowo*

    Dedy Kurniadi menilai, keputusan polisi untuk menghentikan penyidikan
    terhadap kliennya sudah tepat. “Karena memang tak ada malpraktek
    berdasarkan penyidikan,” kata dia.

    Menurut Dedy, polisi tidak sembarangan dalam mengeluarkan Surat Perintah
    Pemberhentian Penyidikan (SP3). Keputusan itu diambil setelah penyidik
    meminta keterangan dari saksi dan ahli. Ahli yang diminta pendapatnya
    berasal dari Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia. “Intinya,
    klien saya sudah memenuhi seluruh persyaratan medis,” tutur Dedy. “Jadi
    tidak ada unsur kelalaian seperti yang dilaporkan.” *Suseno*

    *Risma Situmorang, pengacara Rumah Sakit Omni Medical Center*

    Risma Situmorang mengatakan, pihak rumah sakit sudah memberikan resume
    rekam kepada Salman. Rekam medis itu sendiri sebenarnya menjadi hak
    pihak rumah sakit. “Sebenarnya kami akan membuka rekam medis di
    pengadilan, namun dia tak datang ke sidang di Pengadilan Negeri Jakarta
    Timur,” tutur Risma.

    Menurut Risma, Salman meminta majelis hakim yang menyidangkan perkara
    ini diganti. Namun karena permintaannya tidak dipenuhi, Salman menolak
    hadir di persidangan. Putusan di Pengadilan Negeri akhirnya menolak
    gugatan Salman. Salman mengajukan banding.

    Risma tidak ingat tentang detail perkara yang sudah diputus itu. “Sudah
    lama, masak diungkit lagi?” kata dia. Begitu juga dengan laporan balik
    pihak RS Omni yang melaporkan Salman ke polisi karena tuduhan
    mencemarkan nama baik. “Coba nanti saya cek lagi,” tuturnya.

    *Nur Rochmi

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s