Sejarah Asal-Mula Istilah “Pacaran Islami”

Posted on Updated on

Sejumlah orang, terutama yang suka browsing di internet pada tahun-tahun belakangan ini, menyangka bahwa aku adalah pencetus istilah “pacaran islami”. Persangkaan tersebut keliru. Untuk meluruskan kekeliruan tersebut, berikut ini hendak aku jelaskan “sejarah” asal-mula munculnya istilah “pacaran islami”.

Sebagaimana kebanyakan istilah lain, istilah “pacaran islami” belum diketahui secara pasti kapan tanggal kemunculannya untuk pertama kalinya. Namun, aku ingat, istilah ini mulai “populer” pada dasawarsa 1980-an di Yogyakarta (Jogja). Yang mempopulerkannya pertama kalinya adalah sejumlah aktivis dakwah yang menjadikan mahasiswa (dan pelajar sekolah menengah) sebagai sasaran utama dakwah mereka.

Ketika itu, aktivitas dakwah tidaklah seramai sekarang. Tidak mudah menarik minat mahasiswa (dan pelajar) untuk hadir dalam acara-acara majelis taklim. Karena itu, banyak aktivis dakwah yang menggunakan strategi “berbicara sesuai dengan bahasa khalayak”, antara lain dengan penggunaan istilah “pacaran islami”.

Ternyata penggunaan istilah “pacaran islami” dan istilah-istilah “merakyat” lainnya berhasil menarik minat banyak mahasiswa dan pelajar untuk menghadiri majelis-majelis taklim. Sejak itulah hingga sekarang gerakan dakwah di kalangan mahasiswa dan pelajar menjadi ramai.

Ketika aku aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Yogyakarta mulai pertengahan dasawarsa tersebut, aku jumpai bahwa tidak banyak aktivis dakwah yang melakukan pacaran. Namun walaupun saat itu aktivis dakwah yang pacaran tidak banyak, perilaku pacaran tidaklah kami anggap tercela, apalagi haram. Kami membolehkannya bila dilakukan secara islami. Bahkan, beberapa tokoh Muhammadiyah yang lebih senior seperti Pak Amien Rais, dalam banyak kesempatan di depan publik, malah secara terang-terangan menceritakan pengalaman pacarannya.

Salah seorang “tokoh” kami pun secara terang-terangan mempraktekkan pacaran (secara islami) selama beberapa tahun di hadapan kami para aktivis dakwah, khususnya IMM di Jogja, dan juga di depan publik lainnya. Aku ingat, namanya ialah mas Fauzan, sedangkan pacarnya bernama mbak Yuli, sesama aktivis IMM. Mas Fauzan itu semula menjadi Ketua Umum IMM komisariat Gadjah Mada, kemudian menjadi Ketua Umum DPD IMM Daerah Istimewa Yogyakarta. (Begitulah seingatku. Sedangkan jabatan selanjutnya apa, kini aku sudah lupa.)

Pada masa itu, praktis belum ada suara-suara penentang keberadaan pacaran dalam Islam. Penentangan terhadap pacaran dalam Islam di Indonesia, sejauh pengamatanku, baru muncul setelah era 1990-an, seiring dengan perkembangan gerakan-gerakan dakwah tertentu yang dipengaruhi oleh Timur Tengah, seperti Ikhwanul Muslimin (yang kemudian menghasilkan PKS) dan kaum “Salafi-Wahhabi”.

Mulai era 2000-an, upaya penentangan terhadap keberadaan pacaran dalam islam semakin keras, terutama pada kalangan aktivis dakwah. Aku menyaksikan, penentangan dari sebagian di antara mereka terlalu keras, sampai “menertawakan” pelaku pacaran islami. Sementara itu, kebanyakan aktivis dakwah lainnya (yang menerima keberadaan pacaran dalam Islam) lebih banyak diam.

Kebetulan, mulai era 2000-an, aktivitas dakwahku sendiri mulai terfokus pada masalah-masalah cinta asmara. Aku pun menyaksikan keresahan para remaja, khususnya kalangan santri, yang merasa “terpojok” lantaran “ditertawakan”. Sementara itu, aku pun melihat adanya gejala bahwa sikap keras para aktivis dakwah dalam menentang pacaran islami menjadikan banyak remaja menjauhi dakwah.

Melihat itu, tergeraklah diriku untuk turut menyuarakan bahwa “ADA pacaran dalam islam“. Sejak sekitar tahun 2000 itu, aku berusaha menyuarakannya secara sistematis, baik lewat internet maupun buku, sehingga kemudian sejumlah orang menyangka diriku adalah pencetus “pacaran islami”. Padahal, aku hanyalah seorang “saksi” lahirnya istilah “pacaran islami” pada dasawarsa 1980-an itu. (Hingga dekade 1990-an, aku masih sangat jarang menyuarakan keberadaan pacaran islami.)

Demikianlah kesaksianku, yang tentunya masih jauh dari kesempurnaan untuk disebut sebagai sejarah. Mudah-mudahan akan ada ahli sejarah yang mampu menyampaikan paparan yang lebih jelas dan lebih rinci mengenai sejarah munculnya istilah “pacaran islami”. Aamiin.

Alhamdulillah, kini penentangan terhadap keberadaan pacaran dalam Islam tidak lagi terlalu keras. Bahkan, dukungan terhadap pacaran islami semakin besar.

——
Artikel Terkait:

26 thoughts on “Sejarah Asal-Mula Istilah “Pacaran Islami”

    Okto said:
    5 Juni 2009 pukul 20:20

    Apa nggak ada istilah lain pak? Mmg agak janggal kedengarannya.

    kai said:
    5 Juni 2009 pukul 21:57

    hm…yup setuju sama Mas Shodiq istilah “pacaran Islami” setidaknya dapat membuka mata para remaja-remaja pada umumnya maupun dewasa yang beragama Islam agar dapat mengerti bahwa masih ada cara yang lebih baik menurut Islam untuk ber”pacaran” atau mengenal orang yang dia suka, dengan begitu moral serta ahklak mereka tetap terjaga,, bahkan mungkin menjadi lebih tertarik dan mendalami Islam lebih dalam dari keadaan mereka saat ini,,

    Dakwah Salafiyin said:
    6 Juni 2009 pukul 12:09

    Setiap (kelompok) yang menyimpang dari Sunnah namun mendakwahkan dirinya menerapkan Sunnah, mesti akan takalluf (memaksakan diri) mencari-cari dalil untuk membenarkan tindakannya (penyimpangan) mereka. Karena, kalau hal itu tidak mereka lakukan, (perbuatan mereka) mengesampingkan Sunnah itu sendiri telah membantah dakwaan mereka.
    Mereka Menolak Hadist-Hadist (Shahih), Yang Tidak Sejalan Dengan Tujuan Dan Madzhab Mereka.(sedikit dengan sunnah itu lebih baik daripada berlebih2an dengan bid’ah)

      M Shodiq Mustika responded:
      6 Juni 2009 pukul 12:14

      @ Dakwah Salafiyin
      Begitulah pandangan sebagian kaum “Salafi-Wahhabi”. Sudah teramat sering aku mendengar tuduhan semacam itu. Sayangnya, sejauh ini, mereka tidak pernah membuktikan bahwa ulama-ulama yang tidak sepaham dengan mereka itu “takalluf (memaksakan diri) mencari-cari dalil untuk membenarkan tindakannya (penyimpangan) mereka”. Padahal, kalau menuduh tanpa bukti, bukankah itu sama saja dengan fitnah?

    ananta said:
    6 Juni 2009 pukul 14:36

    memangnya pacaran Islami yang dimaksud seperti apa pak? saya ndak paham. ada po?
    apa kayak yasinan itu ya?! yang dulunya pakai mantra dan sesaji, kalau sekarang pakai surat yasin dan kenduri. kalo pacaran pake bismillah, tempatnya di masjid gitu ya pak? bingung saya?
    kalau Nabi Muhammad SAW dulu gimana? Nabi pacaran Islami juga ndak?
    Kalo Nabi Muhammad Pacaran, saya akan dengan senang hati pacaran.

      M Shodiq Mustika responded:
      6 Juni 2009 pukul 20:48

      @ ananta

      1) Orang-orang Muhammadiyah, termasuk diriku, menerima kaidah dari ushul fiqih bahwa dalam hablum minallaah (hubungan dengan Allah) segalanya terlarang, kecuali yang ada tuntunannya dari Allah dan Rasul-Nya. Namun dalam hablum minan naas (hubungan sesama manusia), kaidahnya adalah bahwa segalanya itu boleh, kecuali terlarang secara qath’i. Muhammadiyah memandang yasinan (dalam peringatan kematian) itu sebagai hablum minallaah dan tidak menjumpai adanya tuntunan dari Allah atau rasul-Nya. Karena itu, Muhammadiyah tidak mentradisikan Yasinan itu, tetapi cenderung menentangnya. Adapun terhadap budaya pacaran, Muhammadiyah memandangnya sebagai hablum minan naas. Berhubung tidak ada dalil yang secara qath’i melarang pacaran, maka Muhammadiyah tidak mengharamkan pacaran. Dengan demikian, pacaran islami ala Muhammadiyah tidaklah seperti Yasinan. Untuk keterangan lebih lanjut, silakan simak “Pacaran ala tokoh Muhammadiyah” dan “Definisi & Bentuk Nyata Pacaran Islami“.

      2) Pada postingan “Pacaran… tetapi secara islami“, telah kami ungkapkan: “Definisi pacaran itu ada banyak, tergantung pada sudut pandangnya. Dalam sudut pandang tertentu, memang percintaan Khadijah r.a dan Muhammad saw. itu bisa saja tidak kita anggap sebagai pacaran. Namun dengan sudut pandang lain, hubungan mereka dapat kita pandang sebagai pacaran. Intinya, dengan menyadari bahwa definisi pacaran itu banyak, kita bedakan antara pacaran yang tidak islami dan pacaran yang islami. Karena itulah, aku tidak sekadar mengatakan bahwa “Nabi Muhammad saw. pernah pacaran”, melainkan juga menambahinya dengan penjelasan “tetapi secara islami“.” Untuk lebih memahami bagaimana Nabi Muhammad saw. itu pacaran dengan Khadijah r.a., silakan simak “Nabi Muhammad pun pernah pacaran (tetapi secara islami)

    mbah dukun said:
    13 Juni 2009 pukul 16:24

    kalau mencuri islami, membunuh islami, bunga bank islami, minuman keras islami ada ndak ya? kan ada pacaran islami

    Caktaufik said:
    13 Juni 2009 pukul 17:26

    Assalamualaikum.
    Saya baru baca skilas..
    Dengan menggunakan istilah “pacaran” sepertinya kurang pas,karena mendengar kata pacaran itu bayangan orang langsung kearah negatif,trus di tambah kata islami mala bikin tambah janggal..
    Mungkin kalo Ta!aruf islami lebih enak didengar..
    Sementara ini dulu,mau lanjut baca…🙂

      M Shodiq Mustika responded:
      13 Juni 2009 pukul 18:04

      @ Caktaufik
      wa’alaykumussalaam. Silakan baca lagi dengan lebih lengkap dan lebih cermat, termasuk komentar-komentar di bawah postingan. Setelah itu, silakan berkomentar lagi.

        firman indrawan said:
        5 April 2011 pukul 10:33

        assalamualaikum afwan jadi jika kita menggunakan kata pacaran berarti kita menjauhkan sunnah Rasul yaitu ta’aruf?

      Arif Fadli said:
      9 Agustus 2014 pukul 20:25

      saya setuju dengan Caktaufik. jgn sampai remaja (khususnya yg muslim) kita melegalkan yg namanya pacaran. pacaran boleh tapi kalau sudah menikah (menikah dahulu baru pacaran) kalau belum menikah y ta’arufan dlu.🙂

    Jhon said:
    16 Juni 2009 pukul 00:09

    Istilah ini bsa saja di salah gunakan anak muda sekarang untuk pacaran, awal2 nya bsa saja secara islami, akhirnya karna setan menggoda bisa jadi pacaran secara setani.jadi yg namanya pacaran lebih banyak negatifnya daripada positifnya.

    zandy said:
    5 Juli 2009 pukul 08:07

    hmmm. okelah. semoga yang melakukannya bisa menjaga agar tidak terjerumus dalam kenistaan.
    hanya saja mereka juga tidak bisa disalahkan kalau masih mencari yang terbaik. jikalau ada hal yang semacam itu berarti proses menjajaki pilihan lain tidak bisa diartikan sebagai selingkuh karena menurut saya istilah selingkuh hanya untuk hubungan serong setelah menikah.
    menurut saya pacar dan teman karib nyaris beda tipis hanya pacaran dengan lawan jenis sedang shohib karib bisa dengan sesama atau dengan lawan jenis. pacar menurut saya hanya status saja mengingat yang bersangkutan mencoba memastikan perjalanan cintanya kedepan. tapi kembali keatas, mereka tak bisa dipersalahkan kalu menjajaki pilihan yang baru
    ya kan

    roza said:
    24 Agustus 2009 pukul 20:58

    Moga dengan cara mengawali dengan pacaran islami dapat membentuk keluarga yang sakinah dan bisa menjadi tauladan untuk keluarganya.Tapi apakah dengan mudah bisa diterapkan? yach semua kita serahkan kembali kepada diri kita masing-masing dengan keyakinan terhadap pasangannya untuk bisa hidup bahagia dimasa akan datang, yang tentu segala sesuatu ada faktor yang bisa setiap orang berubah, hanya dengan kekuatan imanlah mungkin yang bisa menolong diri mereka.Ok sob trims atas segala infonya, yang pasti bisa berguna.

    Wahyu NS said:
    11 Oktober 2009 pukul 10:33

    Bismilahhirahmannirahim…..
    ISI semua di blog ini………. mencurigakan……… pertanyaan…. yang di jawab seakan Diputar2…. seakan membuat bingung… dan pada akhirnya membuat lelah dan hanya mengambil sebagian isi………..

    apa itu tidak bahaya????????????

    Semoga Kita semua umat islam dalam lindungan ALLAH… dalam mencari kebenaran.. yang HAKIKI….

    Di AKhirat NAnti ALLAH Akan membuktikan Siapa yang benar dan siapa yang salah??? Keadilan ALLAH yang terbaik…………….

    KEnapa Kita Seakan Dibuat Bingung dengan Istilah PAcaran KEmbalikan semuanya… Kepada yang Ahli bukan yang OMDO…………………

    Kita DIlarang PACARAN.. DILARANG BERDUAAN dengan LAwan JENis yang bukan seharusnya… BIARPUN itu secara ISlami bukankah SEtan ITu Mengajak MANUSIA dari Segala ARAh menuju ke ARAH kesesatan,, bukankah Dari Semenjak MAnusia Diciptakan IBlis Cs telah nyata2 Sombong Didepan ALLAH…. Bukankah Mereka ITu Benci KEpada MAnusa dan Ingin memasukan manusia kedalam NEraka…

    Dan Tolong jangan Membiarkan dan MEmbuka Celah untuk iblis Meyesatkan kita……

    dan saya Rasa … saya tidak setuju dengan Ajakan diblog ini dan Sumber yang Didapat maupun diceritakn dalam Blog ini…..

    Maaf saya orang yang sangat Awan Dengan Ushl Fiqih….. dan orang yang juga tidak bisa merangkai kata seperti Antum………

    Af1 Saudara ku Seiman dan SeAqidah……

    kata2 yang menyinggung… di dalam komentar ini…. Apakah Ulama Yang anda Setujui tersebut juga PAcaran??? Apakah Para SAhabat nabi Itu PAcaran…. bukankah….. Islam itu telah sempurna… Tidak Bisa di TAmbah maupun dikurangi… baik Oleh Orang yang pIntar… pa lagi Orang yang Tidak Berilmu…

    Maaf Sebelumnya…. seandainya…. diantara saudara, maupun anak anda..
    MEreka Berpacaran secara ISlami… Terus dan kemudian… Setan Telah Membuat MEreka Terjatuh Kedalam Kenistaan yang sangat Di BENci ALLAH… dan antum tau sendiri itu apa??? Ukuran keimanan ORtu tidak bisa disamakan dengan Anaknya……

    INtinya Ortu Bisa Menjaga diri anak Belum Tentu Bisa MEnjaga Diri

    Apa yang Anda Lakukan, lantas menyalahkan PACARAN, dan MEnghapus Isi Artikel di blog Anda….

    Ataupun anda akan Menhujat lagi Orang yg berpacaran ..

    Kenapa kita -tidak jauhi perkara yang mendekati zina…

    Apakah itu tidak lebih baik…. dari pada diminta pertanggungjwbn… di Akhirat…nanti

    Tolong Pikirkan Resiko Terburuk didekat anda… … apakah kita lebih baik mengetahui kesalahan kita ketimbang oranglain???? apakah kita lebih baik Memperhatikan lisan kita??

    Af1 Sebelumnya……….. itu hanya resiko terburuk yang harus dipikirkan…
    Itu tidak benar dan itu hanya kewaspaadan pada jerat busuk iblis…

    Mohon MAaf atas kesalahan kata2 yang menyingung… Bukankah MUslim yang bAIK itu Memafkan Muslim yang lainnya… serta tolong menolong dalam kebaikan….

    ISnyaALLAH….

    ALLAHUAKBAR…….

    ISLAM The Way Of Life…. Tidak ada hukum yang Lebih BAik dari PAda Hukum ALLAH

    Yang Benar HAnya Datang Dari ALLAH…. Segala Kesalahan Hnya Dari Diri Saya Pribadi..

    Astaghfirullah al adzim Sebanyak Atom dibumi Ini……

    Amien……

    I’m sory For Opinion

    Wahyu NS said:
    11 Oktober 2009 pukul 10:44

    Perhatikan dan renungkanlah uraian berikut ini.

    Firman Allah SWT yang artinya, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra: 32).

    “Katakanlah kepada orang-orang mukmin laki-laki: ‘Hendaklah mereka itu menundukkan sebahagian pandangannya dan menjaga kemaluannya ….’ Dan katakanlah kepada orang-orang mukmin perempuan: ‘Hendaknya mereka itu menundukkan sebahagian pandangannya dan menjaga kemaluannya …’.”
    (An-Nur: 30–31).

    galih pawening said:
    3 November 2009 pukul 16:59

    artikel yang baguz dan memberikan wawasan…

    rusdi said:
    6 Desember 2010 pukul 09:24

    Inilah artikel yang sangat membangun cakrawala berpikir umat, tapi apakah pacaran islami sama artinya seperti Hubungan Tanpa Status (HTS) di kalangan aktivis dakwah? artikel-artikel seperti ini perlu dikembangkan untuk pemahaman (knowledge) bagi kaum muslimin yang kurang memahami fikh-fikh tentang pacaran yang islami, semoga penulis diberi kekuatan dan keselamatan untuk menulis hal-hal yang baru lagi, jazakumullah

    Mas Tejo said:
    5 Maret 2011 pukul 11:02

    dalam islam ga ada PACARAN ISLAMI yang ada ta aruf-an !!! PACARAN itu awalnya bertujuan untuk mendekatkan seseorang kepada SEKS di negara2 barat sana lho kok jadi masuk ke islam? aneh… pemikiran yang DANGKAL

    Mas Tejo said:
    5 Maret 2011 pukul 11:09

    “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-ada kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung.” (An Nahl; 116)

    abu nabila said:
    8 April 2011 pukul 09:04

    alhamdulillah, saya tidak pacaran. sekarang anak sudah tiga.
    istri ketemu dijodohkan orang tua. (kaya jaman dulu).

    abd.wahid said:
    26 Oktober 2011 pukul 07:54

    eh Islam memperbolehkan lho PACARAN
    Pacarannya ala Salim A Fillah (PACARAN SETELAH PERNIKAHAN). sekali lagi, SETELAH PERNIKAHAN hehe.. syukron

    IYM bukan iyem said:
    29 Desember 2012 pukul 13:15

    Sbelumnya afwan ya, saya sama sekali gak setuju dgn adanya stetmen pacaran islami, saudara seimanku, agama kita benar2 melarang segala bentuk pacaran, jgn kan pacaran, tatapan mata atau berdekatan saja sudah dalam kategoti berkhalwat dan itu dosa, tpi bagaimna pun juga kita cumabisa berkomitmen saya akan menanggung perbuatan saya sendiri dan kamu pun akan menanggung perbuatanmu sendiri, wallahualam bisawab,,

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s