Daripada mengharamkan “The Master”, lebih baik…

Posted on Updated on

Beberapa hari ini masyarakat dihebohkan oleh fatwa pengharaman tayangan “The Master” (RCTI) dari sejumlah ulama Jawa Timur. Pro-kontra bermunculan. (Lihat “Limbad Siap Atraksi di Depan Kiai, Buktikan Aksinya Bukan Sihir“.) Di postingan ini, kami tidak hendak berposisi pro atau pun kontra terhadap fatwa tersebut. Di sini kami hanya hendak berbagi pengalaman mengenai bagaimana kami menyikapi tayangan tersebut, khususnya dalam upaya “mendidik” anak-anak kami.

Belum lama aku mengenal “The Master”. Mungkin baru sekitar 2-3 pekan yang lalu. Pada sore/malam itu, anak-anak dan istriku sedang menonton televisi secara santai (sambil ngobrol). Pada kesan pertama, aku kurang terkesan pada acara yang sedang ditonton itu. Karenanya, aku bermaksud mengganti channel-nya. Namun, ketika tanganku bergerak untuk mengganti channel, anak-anak langsung menegurku, “E e e… Jangan diganti!” Maka kuurungkanlah niatku, lalu ikut menonton acara yang tampaknya disukai oleh anak-anak kami. Ternyata acara tersebut adalah “The Master”.

Sambil nonton, aku pun ngobrol dengan istriku. Dia memberitahuku berbagai keajaiban yang dilakukan oleh para peserta kontes “The Master”. Dari situ, kami menduga bahwa sebagian peserta mungkin menggunakan jin, tetapi mungkin pula tidak. Namun, kami tidak lantas membicarakan apa hukumnya. (Seperti diriku, istriku juga seorang sarjana agama dari IAIN (kini menjadi UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.)

Memang, kami jarang menggunakan pendekatan hukum dalam menyikapi segala sesuatu. Kami lebih banyak menggunakan pendekatan dakwah. Daripada mengatakan “ini haram, itu tidak boleh” kepada anak-anak, kami lebih suka berusaha supaya anak-anak menjauhi sesuatu yang tidak kami sukai. Begitu juga mengenai tayangan “The Master”.

Kami sepakat bahwa acara-acara seperti “The Master” ini dapat berbahaya bagi perkembangan anak-anak kami. Disamping masalah aqidah, bahaya utamanya menurut kami adalah bahwa kekaguman terhadap berbagai keajaiban seperti itu dapat membuat kita terlalu terfokus pada hasil, bukan pada proses. Dengan terlalu terfokus pada hasil, bisa-bisa kita menjadi gemar menempuh jalan pintas tanpa mempedulikan halal-haramnya.

Dengan menyadari bahaya semacam itu, sikap minimal kami adalah bahwa harus ada salah satu diantara kami (aku atau istriku, atau seseorang lain yang kami beri amanah) menemani anak-anak ketika menyaksikan acara-acara seperti itu. Kami perlu berusaha supaya anak-anak tidak “terlalu mengagumi” berbagai keajaiban tersebut. Misalnya dengan cara mengungkapkan bahwa untuk menguasai berbagai keajaiban itu diperlukan ketekunan dalam belajar atau latihan sampai bertahun-tahun. (Kami tidak membicarakan jin karena anak-anak belum memahaminya).

Disamping sikap minimal tersebut, kami pun tak jarang menggunakan strategi lain, yaitu pengalihan perhatian. Maksudku, pada saat acara yang tidak kami sukai itu berlangsung, kami mengajak atau mendorong anak-anak untuk melakukan kegiatan lain (yang positif) yang lebih mereka sukai daripada acara tersebut. Kebetulan, kami tahu ada banyak hal (positif) yang sangat disukai oleh anak-anak. Jadinya, tidaklah sulit bagi kami untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari acara televisi semacam itu. Misalnya, mengajak mereka jalan-jalan ke toko buku.

Dengan cara-cara semacam itu, acara-acara televisi seperti “The Master” itu tidak lagi terlalu mengkhawatirkan bagi kami. Alhamdulillaah…

Demikianlah kami berbagi pengalaman mengenai bagaimana menyikapi acara “The Master”. Mudah-mudahan berguna bagi kita semua. Aamiin.

Laman: 1 2

83 thoughts on “Daripada mengharamkan “The Master”, lebih baik…

    Melissa said:
    11 Juni 2009 pukul 14:36

    Mnurut saya Da Master tdak sperti eang d ktakan pda opini tsb .
    Bgaimana mgkn dpat d blang haram ?
    Khant memang da bbrapa org eang pnya talenta khusus dri Than , . .
    Terima ja napa ?

    kai said:
    12 Juni 2009 pukul 15:36

    ho ho rame nih.. ga mudeng akoe,,

    tapi yang jelas Kyai itu orang yang mengajarkan ilmu-ilmu agama yang diturunkan Alloh kepada Nabi kemudian Nabi ke Sahabat begitu seterusnya hingga sampai ke Kyai dan sampai ke kita,, alangkah baiknya klo tidak berkomentar buruk tentang mereka, para Kyai tersebut hanya mengarahkan ke arah yang lebih baik, mereka tidak sekejap mata disebut Kyai, mereka belajar dan memahami Islam bertahun-tahun lebih lama dari kita kaum muda, mereka mengarahkan supaya tidak terjadi penyimpangan lebih jauh di dalam umat Islam,,

    @mietholl : klo tidak ada pejabat siapa yang mengatur pemerintahan??^_^ tidak semua pejabat itu korup,, da sebagian dari mereka yang tetap berpegang teguh peraturan yang ada,

    sekali lagi para Kyai cuma mengarahkan, kalo mau diterima ya silakan kalo tidak ya ndak usah marah-marah toh semua kan kembali ke anda-anda sekalian mau menerima ato tidak pendapat tersebut,iya kan??
    setiap komentar buruk yang anda utarakan tentang para Kyai ini hanya akan menambah pembendaharaan perbuatan buruk anda dan menambah kebaikan pada para Kyai ini ^_^

    “manusia itu diciptakan oleh sang Maha Baik, diciptakan dari hal yang baik juga, alangkah indahnya jika manusia berlaku baik juga dalam tutur kata maupun perbuatannya”
    mohon maaf sekiranya jika ada yang tidak berkenan ^_^

    R.Ramdhani said:
    13 Juni 2009 pukul 02:09

    Dulu saya juga beranggapan (karena diajarkan) bahwa ada yang namanya sihir dan bayak sekali macamnya… dan sekarang saya melihat lebih banyak lagi dari yang dulu itu tidak sebagai sihir melainkan sunnatullah semata… Hal ini seperti; kita selalu takut dan waspada dan cenderung curiga terhadap segala yang belum kita ketahui.. jadi kuncinya adalah mengetahui.

    Lucunya, semua trik sulap bahkan yang lebih ‘mistis’ dari yang dilakukan limbad atau lainnya, setelah anda mengetahui (saya bukan pesulap, fans atau apapun) mekanisme triknya (saya katakan mekanisme karena murni tehnik, teknologi).. saya merasa geli seperti anak kecil yang di’kerjain’ orang dewasa.. karena begitu simpel dan dapat dilakukan oleh siapapun (itulah kenapa komunitas sulap dan triknya adalah yg plg menjaga kerahasiaan trik dan skill mereka, karena dapat dilakukan oleh siapapun!)…

    apa jadinya ketika kita mencap dengan cap yg berat terhadap sesuatu yg tidak kita ketahui dan kita tidak pernah berupaya mengetahui kebenarannya karena takut.. (bukankah itu dapat termasuk fitnah dan mengada-ada?) dan menularkannya pada anak kita dan orang lain… ketika ternyata hal tersebut tidaklah termasuk ke dalam cap yang berat itu tadi?

    dan itu semua hanya karena ketidak-tahuan kita dan ketidak-mauan kita untuk mengetahui? jika tidak tahu lalu kenapa kita dapat menetapkan hukum/fatwa terhadapnya?..

    ingat air?.. sebelum masaru emoto muncul.. semua dukun bahkan bukan dukun yang mengucapkan sesuatu kepada air dianggap mistis. Ingat pembantaian dukun di jabar? tidak semua mereka itu dukun santet, beberapa hanyalah ‘tabib’ yang berkata-kata kepada air…

    Ingat qur’an, anjuran terbanyak bahkan lebih banyak daripada shalat adalah berfikir.. dan banyak pula indikasi yang mendorong untuk lebih mengetahui…

      Abu Ayu al Bintani said:
      24 Juni 2009 pukul 15:09

      Apapun namanya baik itu sulap ataupun sihir maka itu sudah masuk dalam kesyirikan. seorang sahabat pernah membunuh seorang yang ingin memainkan sulap di depan seorang raja, sehingga raja tersebut terkejut dan bertanya “kenapa kamu membunuhnya?” lalu sahabat berkata sesungguhnya ini adalah sihir, dan kami di perintahkan oleh Rasulullah SAW untuk membunuh tukang sihir. namun di zaman para sahabat hukum islam di tegakkan, sehingga para tukang sihir baik itu pesulap maupun dukun maka halal darahnya, tidak sama dengan hukum yang ada di Indonesia, mk kita tidak boleh membunuh mereka. karena rasullah SAW memerintahkan kita untuk taat pada pemimpin kita selagi hal itu tidak untuk bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla.

    SobadDebo said:
    14 Juni 2009 pukul 16:51

    sebentulnya semua itu tergantung dari diri kita masing2 ,, kita tidak boleh menyalahkan kaum ulama krn mereka mempunya prinsip dan dasar masing2 … begitu juga dengan diri kita sendiri,,
    kalo ada pro kontra kayak gini jd inget pernyataan GUS DUR kalo memang kalian gak suka ya jangan di liat, gitu aja kok repot …

    heheh kl di renungkan kata2 gus dur itu dalam sekali maknanya ..

    thank’s

    rar9663 said:
    15 Juni 2009 pukul 13:02

    Ada yang lupa… semua kembali pada diri masing-masing jika itu untuk diri sendiri dan disimpan untuk diri sendiri.. jika, saya adalah corong yang gema ke banyak orang, tokoh yang diikuti banyak orang, jika yang saya putuskan adalah untuk byk orang, maka itu bukan untuk saya sendiri… jika seseorang punya pendapat sendiri.. ya untuk diri sendiri aja.. (k’lo ga salah ini juga dari Gus-Dur).. jangan sebarkan apalagi jadi hukum…

    apem said:
    17 Juni 2009 pukul 07:48

    ajibbbbbbbbbbbbbbbbbbbbb

    mas bambang said:
    19 Juni 2009 pukul 10:08

    Saya adalah seseorang yang berprofesi sebagai dosen dan mempelajari metafisika Islam kurang lebih 16 tahun. Penilaian sebetulnya para peserta The Master adalah orang-orang cerdas dan kreatif yang mampu memanfaatkan sains dan teknologi untuk hiburan, beberapa hal yang bahkan berkaitan dengan kemampuan lebih manusia seperti yang ditunjukkan oleh Limbad ataupun Joe Sandi, sama sekali tidak mempergunakan jin… (hal ini saya ketahui berdasarkan beberapa percobaan yang saya lakukan berdasarkan pendekatan sains dan teknologi), tentang bagaimana trik mereka yang sudah saya coba secara pribadi, saya tak mau mengungkapkan karena ini menyangkut periuk nasi mereka. Tetapi untuk lebih jelasnya, para ulama mulai mempelajari sains dan teknologi sebelum mengeluarkan suatu fatwa yang mereka sendiri sebetulnya tak memahami apa yang difatwakan… jangan hanya berkutat pada kitab agama saja…tetapi juga berkutat dengan kitab ilmu pengetahuan

    anday said:
    19 Juni 2009 pukul 15:16

    kurang baik untuk anak-anak

    smartplus said:
    19 Juni 2009 pukul 20:37

    sebenarnya sederhana aja kok?
    yang gak punya ilmu mari sabar untuk tidak bicara.
    nanti jadi repot semua?
    ilmu dulu…
    cukuplah dikatakan sebagai pembohong orang yang mengucapkan semua yang pernah didengarnya.

    suka atau tidak suka? hehe….emang kita bayi apa semua kok didasari suka atau tidak suka.

    salam kenal

    agus said:
    29 Juni 2009 pukul 01:31

    Oooo…pantaaass muslim susah untuk maju!! ckckckck memang…

    p_one said:
    9 Juli 2009 pukul 00:08

    the master bukanlah pertunjukan dgn menggunakan semacam hal-hal mistis, tapi merupakan suatu trik sulit yg hanya bsa dimainkan oleh org-org yg sgt cepat &teliti.

    tpi, itu tergantung bagaimana anak-anak menanggapinya, lagipula, tayangan itu juga ada pada jam tidur anak-anak, mengapa anak-anak masih tetap menontonnya?

    TRI JOKO YULIANTO said:
    9 Juli 2009 pukul 00:25

    BETUL KATA GUS DUR, KALAU GAK SUKA LIAT YA JANGAN DILIHAT, GITU AJA KOK REPOT. MENDING MIKIR DIRI SENDIRI. ITU AJA BELUM TENTU BETUL,APA LAGI NGURUSIN ORANG LAIN.

    r mustofa said:
    16 Juli 2009 pukul 09:53

    assalamu’alaikum wr.wb…. saya sendiri lebih baik percaya kepada pak kyai yg ada kemungkinan lebih besar menuntun saya ke arah selamat dunia akhirat daripada percaya sama peserta, produser, pengemar atau simpatisan the master yg menurut saya adalah berdiri sbg suspect penebar jaring-jaring halus setan/iblis untuk memalingkan manusia dari agama dan dzikrullah. Dan saya tidak takut ditertawakan oleh yg tidak sependapat dg saya dan pak Kyai karena maaf di Qur’an disebutkan bahwa orang2 yg durhaka adalah orang2 yg mentertawakan orang2 mukmin di dunia ini dst (surat almuthofifiin) dan pasti pak yai tahu itu…semoga Allah tetap menuntun kita ke jalan lurusnya…Amiiin
    ( nggak ada/sedikit manfaatnya tahu trik sulap/sihir menurut saya bahkan bagi orang yg sudah tergantung hidupnya dg itu, untuk kehidupan kita didunia dan di akhirat masih buu….aaanyak ilmu2 yg bermanfaat yg bisa dipelajari )

    kalau pak kyai salah mereka sudah berijtihad sesuai kemampuan dan bedasar Qur’an dan Hadits memakai metode ilmu yg beliau2 pak kiyai kuasai…dan jika kita ikuti pendapat mereka bagi kita penonton ruginya cuma nggak nonton the master, bagi produser dan seterusnya raupan finansialnya menurun dan kita insya allah nggak dipermasalahakan di akhirat kelak kalo nggak nonton the master, tapi kalo ternyata benar DUGAAN the master menyimpangkan akidah manusia fa aina tadhabun? hendak kemana kitamelangkah? karena nggak ada rujukan dasarnya secara ilmiah yg didipublikasikan oleh mereka seperti dasar rujukan pak kyai yg bisa di cek dan bisa di konfirmasi, setiap ilmu ilmiah ada dokumentasi dan pubilkasi yg bisa dikonfirmasi….. dan diuji karena kalau nggak begitu ngak ilmiah dong ..andaipun ada dasar ilmiahnya tetap segi manfaatnya bagi kita terutama di akhirat nol besar…saya tidak mau gambling dg kehidupan saya di akhirat kelak, nggak bakal sanggup saya menahan siksa dari Allah di neraka yang percikan terkecil apinya saja bisa melumatkan bumi seisinya…Allohumma ajirna minan naar…

    wa minannaasi man yastaruu lihuwal haditsi liyudilla an sabililaahi bigoiri ilm fayattahidaha hujuwa ulaaika humul faasikuun…(QS Alluqman….) dan sebagian manusia berkehendak menciptakan hal-hal/acara guna memalingkan manusia dari jalan allah dst…..

    saya bukan ustazd dan bukan kiyai, saya hanya menyampaikan yg pernah saya baca di AL-Quran (mudah-mudhan nggak salah) dan saya lebih condong kepada orang-orang sholeh…

    anget-anget said:
    2 Agustus 2009 pukul 17:10

    masih teringat ketika dulu David Copperfield datang ke indonesia dengan atraksi terbanganya dan disiarkan secara live di televisi dan banyak para kyai dari Jawa Timur yang berupaya mengagalkan aksi David Copperfiel namun gagal total karena sesungguhnya permainan sulap David Copperfield, Dedy Corbuzier, dan Limbad cs sebenarnya permainan yang penuh dengan logika.
    Jangan hanya karena kita nggak tahu dan terlihat ajaib maka kita menganggapnya sebagai sihir. Sebenarnya permainan mereka hanyalah permainan anak kecil belaka. Apakah ada bedanya orang yang berfikir dengan yang tidak? Alloh mengangkat orang yang berilmu lebih tinggi dari orang biasa

    Vincentius Franstianto said:
    8 Agustus 2009 pukul 12:25

    alah di negara kita ini parah
    ya ini haram lah ya itu haram lah
    klo the master haram, knp pejabat korupsi ga dibilang haram???
    klo the master memalingkan jln manusia, noordin m top apalagi orang dicuci otak buat ngebom org sembarangan.(mau perang sm amerika ya dtg ke amerika aja sana klo berani)
    Tp gw ga pernah dgr ada ngeharamin Noordin M Top
    kpn kita bs sembuh dari penyakit sinting ky gini ya???
    parah……….parah………………

    noordin al jaelani said:
    27 Agustus 2009 pukul 14:34

    jangan katrok2 jadi orang.kalo g suka the master ya jangan diliat.kalo the master haram, napa ada anak2 msh kecil tp uda pinter ngesex?karna sering liat film bokep lah.lebih baek liat the master…wkwkwk.

      Master said:
      5 September 2009 pukul 10:09

      Tolong jangan munafik ya!!!!!!!!!!

      Belajar dulu di kamus bahasa indonesia apa itu kata2 “MUNAFIK”

    Leorio said:
    9 September 2009 pukul 13:35

    Hai semua bagi kalian semua penggemar the master aku dah buat Hand Book mentalis
    yang brisi trik2 jadi mentalis n master of number
    jadi kita bisa belajar jadi mentalis kayak master deddy corbuzer n master joe sandy
    buku ini aku bagikan secara gratis untuk siapa saja yang mendaftar dan mengupload foto magician idolanya di link ini:

    http://www.ziddu.com/register.php?referralid=(y%5DMEQq59Q|

    dan dalam waktu maksimal 3 hari link buku akan dikirim melalui email N tinggal download aja dech

    By : Leorio

    street magician said:
    31 Oktober 2009 pukul 12:56

    Assalamualaikum WR.WB
    hmmmmm…………………
    kurang setuju….
    nampaknya saat ini ahli2 Islam memang terlalu melebih-lebihkan ajaran Al-Qur’an.(bukan berarti menenatang ajarannya lo….)
    maksud sy adalah mereka hanya belajar lewat kitab saja…..
    dan apa yg ada di kitab itu mereka malah ga ngerti maksudnya……..
    justru mereka itu hanya melihat katanya saja,namun tdk memahami intinya.
    Sulap merupakan sebuah ilmu.
    Yg dimana para pesulap itu memanfaatkan ilmunya dgn sangat benar.
    Justru,ilmu apapun yg selama ini kita pelajari,bisa menipu kita juga.

    Seperti yg kita tau bahwa dlm Islam,menuntut ilmu itu hukumnya WAJIB.
    seperti yg tertera dalam hadist berikut:

    “Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a.sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda,’Barangsiapa menempuh perjalanan untuk menuntut ilmu,maka Allah akan memudahkan jalan baginya menuju surga'”(H.R. Muslim)

    Jadi intinya,jangan hanya belajar dari Al-Qur’an saja,tapi pengetahuan dunia juga wajib kita ketahui,karena membaca tulisannya saja tak cukup,tapi juga harus dimengerti.
    Dan perlu bagi mereka(orang2 yg menentang The Master)untuk berpikir lebih dalam.Semua yg ada dlm sulap itu pasti ada hubungannya dgn Sains.Jangan hanya belajar lewat Al-Qur’an!!,tapi juga dari buku pengetahuan lainnya dong!!!!!

    Ada sebuah Pepatah Arab:”Ilmu yg Tidak Diamalkan Bagaikan Pohon Tanpa Buah.”

    so,buat kalian yg masih belum percaya aja………
    ya udah,saya yakin pasti kalian akan tau sendiri!!!!!!!!!!!!!!!!
    Wassalam.(street magician from Bandung)

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s