MUI: Wajib Tes HIV/AIDS Sebelum Menikah

Posted on Updated on

Akhir-akhir ini, sedang diwacanakan keharusan untuk menjalani tes HIV/AIDS bagi pasangan yang hendak menikah. Setujukah dirimu dengan “kewajiban” ini? Untuk pertimbangan, silakan simak sejumlah berita terkait berikut ini:

  • MUI mengusulkan pemerintah hendaknya membantu biaya cek HIV/AIDS. Terlebih jika sudah ada kesepakatan mengenai cek HIV/AIDS sebagai syarat menikah, maka sudah semestinya dokter ahli dan peralatan pendukung cek kesehatan menyebar merata di pelosok nusantara. “Kalaupun tidak ada, negara harus bertanggung jawab mengadakan demi masa depan bangsa dan keturunan yang berkualitas. Karena kalau tidak maka penularan HIV/AIDS akan terus berlangsung.” (Baca berita selengkapnya: “MUI Bengkulu setuju tes HIV/AIDS jadi syarat nikah“)
  • Bebas penyakit HIV/AIDS sebelum menikah perlu didukung dan disambut baik, karena pemikiran tersebut cukup cemerlang dalam upaya menyelamatkan kehidupan masyarakat dari penyakit yang menakutkan itu. Hal tersebut ditegaskan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Abdullah Syah ketika diminta pendapatnya mengenai cek penyakit HIV/AIDS sebagai syarat nikah tersebut di Medan, Senin (8/6). (Baca berita selengkapnya: “MUI SumUt: Tes HIV/AIDS Pra Nikah Perlu Didukung“)
  • Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku setuju adanya persyaratan surat keterangan bebas penyakit HIV/AIDS bagi setiap pasangan yang akan melangsungkan pernikahan. “Secara keagamaan harus didukung. Rencana itu sangat positif karena bertujuan mencegah bahaya penyebaran virus HIV/AIDS yang hanya akan menyengsarakan pasangan mau menikah,” kata Latuconsina kepada ANTARA di Ambon, Selasa. (Baca berita selengkapnya: “MUI Maluku Setuju Bebas AIDS untuk Syarat Nikah“)

23 thoughts on “MUI: Wajib Tes HIV/AIDS Sebelum Menikah

    Paijo said:
    10 Juni 2009 pukul 06:24

    Setuju! Bahkan klo prlu tes darah utk semua pykit, n uji narkoba sekalian..
    Ide ini muncul apa karena kisah d novel Ktika Cinta Brtasbih (KCB) itu yak?? Kbtulan hr ini ak br selesai baca.. Sungguh novel yg mbuat hati gerimis!

    Ziadi Nor said:
    10 Juni 2009 pukul 08:52

    Sangat setuju untuk mengadakan tes HIV sbelum nikah. Karena bisa memutus mata rantai penyakit yg sangat berbahaya.

    Maman said:
    10 Juni 2009 pukul 13:10

    Sangat setuju…..

    Tapi jangan sampai terlalu banyak syarat tes ini itu, pilih yang penting saja. Kebanyakan juga kemahalan, kasihan orang yang tidak mampu.

    Yang tidak mampu dibantu ya, kasihan mereka juga ingin bahagia.

    elbar said:
    11 Juni 2009 pukul 06:06

    Sangat dan sangat setuju….kenapa takut heeee….demi kesehatah doong

    starlight21 said:
    12 Juni 2009 pukul 11:20

    Jadi orang dengan HIV AIDS dilarang menikah?
    Memang sih, menikah dengan orang terinfeksi HIV sungguh sangat merugikan. Tapi kalau sudah terlanjur cinta gimana?

    awaknanggroe said:
    12 Juni 2009 pukul 16:56

    setuju

    zaenal said:
    13 Juni 2009 pukul 11:13

    setuju saja kalau memang tujuannya untuk pencegahan penyebaran HIV/AIDS, tetapi jangan sampai jika pasangan tersebut (salah satu atau kedua2nya) terbukti positif akhirnya pihak KUA tidak mau menikahkan mereka… saudara-saudara kita (ODHA) berhak untuk menikah, tidak alasan apapun melarang mereka untuk melakukan apa yang pilih dalam perjalanan hidupnya…. kalau sudah ada larangan… itu namanya DISKRIMINASI.

    igodago said:
    15 Juni 2009 pukul 00:42

    Kasihan mereka yang mengidap HIV / AIDS. saat mereka akan menjalan kan KEWAJIBAN dan Insya Allah kembali ke Jalan-NYA, tapi MUI malah seolah-olah mengutuk mereka…
    saya teringat ayat suci berbunyi…..ulama adalah seburuk-buruk makhluk di muka bumi. dari mulut mereka keluar fitnah-fitnah.

      M Shodiq Mustika responded:
      15 Juni 2009 pukul 07:53

      @ igodago
      benarkah begitu? ayat yang mana?

      Agus Ghautsun Niam said:
      20 Juni 2009 pukul 23:22

      @igodago
      ada juga ayat yang kurang lebih begini “barang siapa yang menggunakan (menafsirkan) ayat Alqur’an dengan tanpa ilmunya (bighoiri ‘ilm) maka siap-siaplah ia ke neraka !”..

      ronnie said:
      25 Juni 2009 pukul 01:55

      wah pasti pemahaman ayatnya dipotong2 tuh? jangan asal ngomong lho……. nanti mulutmu dirobek malaikat. wakakakaka……. HIV ada obatnya kok….. tanya aja ama yang bikin tuh penyakit(AS).

    alicia said:
    16 Juni 2009 pukul 17:37

    Kayaknya terinspirasi film Ketika Cinta Bertasbih ya.
    hehehe

    techfatales said:
    16 Juni 2009 pukul 17:42

    wah, alamat nggak kawin nih gw.

    ditha said:
    17 Juni 2009 pukul 10:46

    stuju bgd tu.. scara wanita mna y9 mu punya anak y9 terinfeksi HIV AIDS,,aq sndri j9 mu menikah d9n pasangan y9 sehat scr mental maupun fisik j9 dlm hal ini bersih dr vrs HIV AIDS.

    Agus Ghautsun Niam said:
    20 Juni 2009 pukul 22:08

    Yang menggunakan ayat Alqur’an dengan tanpa ilmu “bighoiri ‘ilm” maka siap2 lah ke neraka..!!

    Syaiful W. HARAHAP said:
    21 Juni 2009 pukul 15:16

    Tes HIV sebelum menikah adalah pekejaan sia-sia. Menggantang asap!

    Ada beberapa fakto yang luput karena banyak orang yang tidak memahami HIV/AIDS sebagai fakta medis. Soalnya, selama ini HIV/AIDS dibalut dengan norma, moral, dan agama sehingga yang muncul hanya mitos (anggapan yang salah).

    Pertama, tidak semua orang harus menjalani tes HIV karena tidak semua orang berisiko tertular HIV. Apalagi calon pengantin yang masih gadis dan perjaka.

    Kedua, mewajibkan semua calon pengantin tes HIV berarti menyamaratakan perilaku (generalisasi) yang sudah berbentuk suuzon. Perbuatan yang dilarang Allah SWT.

    Ketiga, ada masa jendela. Kalau seseorang dites pada rentang waktu di bawah tiga bulan setelah tertular HIV maka ada kemungkinan hasil tes negatif tapi palsu (ada virus di darah tapi tidak terdeteksi) atau positif tapi palsu juga (tidak ada virus di darah).

    Keempat, tes HIV bukan vaksin. Sesaat setelah tes HIV yang hasilnya negatif bisa saja berubah kalau ybs. tertular HIV melalui perilakunya yang berisiko.

    Kelima, mewajibkan tes HIV bagi calon pengantin tanpa konseling dan persetujuan merupakan perbuatan yang melawan hukum dan pelanggaran berat terhadap HAM.

      ronnie said:
      25 Juni 2009 pukul 02:10

      iget bro , HIV juga bisa menular lewat jarum suntik,donor darah, luka dsb…….. ktnya ngomong secara medis tapi kok kedengaranya malah gak berbau medis. emang lu mau ketularan ato jangan2 udah ketularan tanpa sadar. he3x

        Syaiful W. Harahap said:
        28 Juni 2009 pukul 15:33

        Ronnie, saya, Syaiful W. Harahap, wartawan yang menggeluti pemberitaan HIV/AIDS sejak awal epidemi. Saya sudah menulis dua buku: (1) Pers Meliput AIDS (200) dan (2) Kapan Anda Harus Tes HIV (2002).

        Sekarang saya aktif di LSM “InfoKespro” dan melatih wartawan untuk penulisan HIV/AIDS dari Aceh sampai Papua. Saya belum pernah tes HIV sehingga belum diketahui status HIV saya.

        Apakah Anda sudah pernah tes HIV? Kalau belum pernah dan pernah melakukan: (a) hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti, atau(b) hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, atau (c) memakai jarum suntik bergantian, atau (d) menerima transfusi darah, atau(e) cangkok organ maka Anda berada pada posisi yang berisiko tertular HIV.

        Yang Anda maksud tidak berbau medis yang mana? Masa jendela itu adalah masalah medis.

        Jika tes dilakukan sebelum menikah hasilnya bisa NEGATIF PALSU kalau darah yang dites masih pada masa jendela (tertular belum tiga bulan), tapi di darahnya sudah ada virus (HIV).

        Selain itu tes HIV bukan vaksin. Biar pun ketika mau nikah dites hasilnya negatif, tapi bisa saja setelah menikah tertular HIV kalau melakukan kegiatan yang berisiko tertular HIV.

    kai said:
    22 Juni 2009 pukul 06:10

    nah..lo tambah lama tambah sangar neh he he…

    rasanya ga perlu pake tes segala deh,, cukup saling terbuka kepada pasangan masing-masing,,

    lagian kalo ga salah masih ada penghulu yang suka nanya ke calon pengantin masih perjaka ato masih perawan ga,, itu aja udah cukup kayaknya ^_^

    ronnie said:
    25 Juni 2009 pukul 02:30

    Oh ya gue mau pesen ama admin web ini…. kok diaksesnya lemot banget webnya, pake hosting gratis ya mas???? mending hadiah buat design banernya buat beli hosting yang bagus…. lha wong tak liat karya yang dikirim pada semrawut gitu………

    Aryo said:
    6 Juli 2009 pukul 10:09

    Buat INDODAGO
    “ulama adalah seburuk-buruk makhluk di muka bumi. dari mulut mereka keluar fitnah-fitnah.”
    Ayat suci mana yuang menatakan demikian?
    Ngawur….
    Hub 08562765168
    Consultan religi

    JS said:
    3 Agustus 2009 pukul 09:39

    Kebijakan apapun yang berhubungan dengan penyakit dinegara kita ini sebaiknya keluar melalui Departemen Kesehatan, agar persoalannya lebih mudah diselesaikan, dan harapan saya MUI menghubungi Depkes untuk masalah ini.

    aldi said:
    7 Agustus 2009 pukul 13:19

    setau saya,,Nikah tuh ibadah
    dlam tntunan Nabi Muhammad As.
    syarat untuk menikah pun sdah d jlaskan,,
    pasti kalian smua dah pada tau,karna saya orang awam..
    so..saya tdk stuju dg usul MUI
    krn hal itu tdak ada dlam tntunan Nabi,,

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s