Di sidang, Prita berpuisi: “ketika aku bertanya, semuanya bungkam”

Posted on Updated on

Prita MulyasariInilah Puisi yang Dibacakan Prita di Sidang
Kamis, 11 Juni 2009, 10:28 WIB
Pipiet Tri Noorastuti

VIVAnews – Prita Mulyasari menjawab dakwaan jaksa dengan sebuah puisi berjudul ‘Galau’. Dengan mata berkaca-kaca, ia bacakan puisi sepanjang delapan lembar kertas HVS itu di persidangan.

Berikut petikan puisi Prita yang dibacakan di Pengadilan Negeri Tangerang, Kamis 11 Juni 2009.

Galau
aku orang yang awam akan hukum
tapi aku tidak mau melanggar hukum
bagiku pengertian hukum adalah tidak melanggar hak orang lain, maupun kepentingan umum
serta hakku pun jangan sampai dilanggar orang lain
karena aku sakit berupaya untuk berobat
karena aku awam akan kesehatan maka kupasrahkan semua kepada dokter
maksudku datang ke dokter tidak lain untuk sembuh dari penyakit
tapi nyatanya aku merasa lebih menderita
ketika aku bertanya semuanya bungkam
ketika aku mengkomplain semuanya mengelak
bingung aku harus berbuat apa
aku merasakan hakku terampas dengan semena-mena
aku tuliskan pengalamanku dalam surat elektronik
yang katanya sebagai teknologi modern untuk berkomunikasi
dalam pelampiasan atas kegalauan hati
tapi berakhir dengan petaka
aku tidak mengerti akan hukum formil atau hukum acara
yang sempat kutahu adalah
penyedia jasa harus melindungi konsumen
hak konsumen adalah hak atas kenyamanan, keamanan dalam pengonsumsi barang dan/ jasa
konsumen pun berhak mendapat informasi yang benar
dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/ jasa

Dalam sidang pekan lalu, Prita didakwa dengan pasal berlapis, yaitu Pasal 310 KUHP tentang pencemaran nama baik dengan ancaman hukuman 1,4 tahun penjara, Pasal 311 KUHP tentang pencemaran nama baik secara tertulis dengan ancaman 4 tahun penjara, serta Pasal 27 Ayat 3 UU ITE dengan ancaman 6 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar.

Laporan: Nur Khafifah| Tangerang

pipiet.noorastuti@vivanews.com
• VIVAnews

Iklan

8 thoughts on “Di sidang, Prita berpuisi: “ketika aku bertanya, semuanya bungkam”

    ansryan said:
    11 Juni 2009 pukul 14:53

    sangat mengharukan..
    kami dukung prita..!!!

      starlight21 said:
      12 Juni 2009 pukul 11:02

      semoga dapat keadilan seadil-adilnya

    Susanti said:
    11 Juni 2009 pukul 21:09

    Ayoo Ibu Prita SEMANGAT,,,Saya yakin hukum Allah adalah yg paling BENAR.

    kai said:
    11 Juni 2009 pukul 23:18

    yaah..begitulah Indonesia, yang kecil ditindas yang besar, yang punya uang melenggang dengan santainya, bebas terjamah hukum dan selalu orang kecil yang jadi kambing hitam,,

    Rahman said:
    12 Juni 2009 pukul 16:02

    Entah kapan hukum di Indonesia bisa benar-benar bisa memberikan keadilan bagi yang teraniaya…. tapi keadilan Tuhan pasti akan datang..

    masdiisya said:
    12 Juni 2009 pukul 16:25

    puisinya ada lanjutannya gak?

    R.Ramdhani said:
    13 Juni 2009 pukul 01:40

    Harusnya dukungan itu bukan dengan tindakan yel dukung, tulisan dukung, vote dukung, dll.. apalagi serahkan kepada Allah, keadilan akan datang, dll… tapi, jadikan ini sebagai momentum, untuk bersikap sebagai kontrol, subjek, dan pemegang kekuasaan tertinggi (negara demokrasi), yaitu kompak bersama boikot jgn berobat ke sana, dan jangan pula diartikan dengan tindakan seperti FPI atau menggunakan hak rasul bahkan Allah dgn kesewenangan fatwa….

    kita semua dukung dengan lisan, tulisan, doa… namun ketika sakit, kita tetap saja datang ke mereka yg kita sama tahu prioritasnya bukan menyembuhkan kita melainkan eksplorasi finansial kita… dengan beginilah mengapa yang seperti ini tidak pernah surut bahkan semakin menjadi….

    Seperti ini di semua bidang, salah satunya haji… kita tahu mereka itu koruptor terbesar, kita menyesali, marah, merasa dirugikan dll, tapi tetap saja kita memberikan uang kita pada mereka untuk mereka korupsi…

    Kita hanya selalu menyesal komplain, saling memotivasi, saling mengingatkan untuk berpasrah dan menerima, saling menyemangati… tapi tidak pernah memiliki keberanian untuk bersikap dan bertindak seperti bu Prita..

    dan ketika ada yg seperti bu prita… dia hanya sendiri.. dan ratusan juta jumlah kita hanya mendoakan, memberi yel, saling bahas dll… itulah kenapa kita selalu kalah dan tetap akan jadi objek eksplorasi komersialisasi egois dan serakah serta lainnya.

    redaksi said:
    14 Juni 2009 pukul 20:12

    MATINYA KEBEBASAN BERPENDAPAT

    Biarkanlah ada tawa, kegirangan, berbagi duka, tangis, kecemasan dan kesenangan… sebab dari titik-titik kecil embun pagi, hati manusia menghirup udara dan menemukan jati dirinya…

    itulah kata-kata indah buat RS OMNI Internasional Alam Sutera sebelum menjerat Prita dengan pasal 310 KUHP tentang pencemaran nama baik.

    ………………………………………………………………………………………….

    Bila kita berkaca lagi kebelakang, sebenarnya pasal 310 KUHP adalah pasal warisan kolonial Belanda. Dengan membungkam seluruh seguruh teriakan, sang rezim penguasa menghajar kalangan yang menyatakan pendapat. Dengan kejam penguasa kolonial merampok kebebasan. tuduhan sengaja menyerang kehormatan, nama baik, kredibilitas menjadi ancaman, sehingga menimbulkan ketakutan kebebasan berpendapat.

    Menjaga nama baik ,reputasi, integritas merupakan suatu keharusan, tapi alangkah lebih bijaksana bila pihak-pihak yang merasa terganggu lebih memperhatikan hak-hak orang lain dalam menyatakan pendapat.

    Dalam kasus Prita Mulyasari, Rumah sakit Omni Internasional berperan sebagai pelayan kepentingan umum. Ketika pasien datang mengeluhjan pelayanan buruk pihak rumah sakit, tidak selayaknya segala kritikan yang ada dibungkam dan dibawah keranah hukum.

    Kasus Prita Mulyasari adalah presiden buruk dalam pembunuhan kebebasan menyatakan pendapat.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s