Cerpen: Kereta Bayi

Posted on

Kereta Bayi
Cerpen : Ida Ahdiah

Ayu memberitahu Danil, seharian ia akan bersama Sophie yang punya kereta bayi bermerek dan bermodel sama dengannya. Warnanya merah muda, kendati bayi Sophie laki-laki. Ayu dan Danil sempat berdebat soal warna itu. Tapi kemudian mereka berkesimpulan, keliru mereka berdua menganggap merah muda hanya untuk perempuan. Lihat, warna-warna kemeja, dasi, topi, sapu tangan untuk laki-laki ada juga yang pink!

Tiap hari Ayu dan Sophie mengelilingi taman kota. Sophie mendorong kereta Keyla, putrinya yang berusia 10 bulan. Sophie mendorong kereta Nathan, delapan bulan. Keduanya merasa itu olahraga terbaik, bergerak sambil menghirup udara segar, mengasuh anak, dan mengobrol.

Ayu bukan tergolong yang suka seharian berada di gym, mendayung sepeda statik sambil mendengarkan ipod dengan ear-phone di telinga. Di musim dingin pun ia lebih suka skating dan main ski dengan pelindung dingin yang memadai. Apalagi di musim semi seperti saat itu. Ia tak mau kehilangan pohon-pohon lilak berbunga yang menyebarkan harum tak berkesudahan, sepanjang hari dan malam hingga bunga-bunga layu, disiram matahari musim panas.

”Kau akan main dengan Madame Sophie yang memberimu keju tua, yang baunya… Sudah kau buang ke tong sampah?” ujar Daniel.

Ayu tertawa. ”Pernah kubawakan dia keripik tempe Bandung. Katanya, enak.”

”Katamu dia mengadopsi bayi dari Haiti.”

Ayu mengangguk. ”Anak keduanya dari Haiti. Anak pertamanya adopsi dari Korea, yang terakhir Nathan dari Cina.”

”Sungguh pemurah dan penyayang.”

”Anak dengan berbagai warna kulit.”

”Dia tak punya anak sendiri?”

”Aku tidak tahu. Jangan lupa bekal makan siangmu. Tinggal buah yang belum kumasukkan ke kotak makan siangmu.”

”Terima kasih,” Danil mencium dahi Ayu. Mencium pipi Keyla di gendongan Ayu.

”Selamat berolahraga, ya. Jangan keasyikan ngobrol sampai lupa memberi makan siang Keyla. Kapan-kapan, di akhir pekan, undang Sophie makan di rumah. Kita buatkan gado-gado.”

”Akan kutawarkan padanya,” Ayu menutup pintu.

Ayu dan Sophie bertemu pertama di taman kota. Saat itu Ayu tengah membuka bekal makan siang, mie goreng sosis, dengan selada di tepi danau, di bawah pohon oak tua, yang pendek tambun, seusai berjalan keliling taman. Sejak musim semi, hampir tiap pagi ia keluar dan makan siang di udara terbuka. Bahkan kadang menghabiskan sebagian sore di sana. Membiarkan Keyla tidur sementara ia membaca. Ia kadang bosan menghabiskan setahun masa cuti hamilnya di rumah. Makanya, kata Mbak Win, ”Lebih baik di Indonesia cuti hamil cuma tiga bulan…”

Ayu punya daftar kegiatan untuk mengisi cutinya. Antara lain ia menulis, dengan bimbingan buku ia akan mengurus Keyla. Sesuai dengan usianya akan mengenalkan Keyla pada warna, suara, rasa, dan raba. Ia akan membaca novel-novel yang tak pernah sempat dibacanya. Juga ia akan belajar membuat masakan Indonesia lebih serius agar jika ada pot-luck dengan teman-temannya, ia bisa memamerkan lumpia dan bihun goreng, hasil olahannya. Bukan lagi makanan beku yang ia panaskan sebelum dihidangkan.

Ia iri pada teman-teman Italinya yang membuat lasagna dan saus tomat sendiri. Juga membuat tiramisu yang lezat di dapurnya. Dia tak pernah bercerita kalau di tanah air selalu ada mbak, emak, atau mpok, yang memasak di dapur. Namun rencana itu tak berjalan mulus. Ia sering lupa dan malas.

Dan, siang itu ia tak tahu kehadiran Sophie, hingga dia memarkir kereta bayi di sampingnya seraya berkata, ”Kita punya selera yang sama, lihatlah kereta bayi kita, merah muda! Yang membedakan keretamu ada boneka tawonnya.” Sophie mengulurkan tangan, mengenalkan diri.

Seorang perempuan asing yang ramah, pikir Ayu, seraya mempersilakan duduk bersisihan di bangku taman. Lima menit kemudian mereka sudah terlibat pembicaraan tentang anak, buku, makanan, pemilihan presiden Amerika, dan tentang lubang-lubang di jalan raya yang belum mendapat perhatian pemerintah kota. Setelah itu, setiap hari mereka bersama, di taman.

Kemarin Ayu tersentuh mendengar Sophie bercerita tentang perjuangannya mendapatkan Nathan.

”Teman-teman kaget waktu saya bisa mengadopsi Nathan hanya dalam waktu enam bulan. Biasanya butuh waktu dua sampai tiga tahun.”

”Barangkali karena kau sudah pengalaman, mereka percaya.”

”Itu bukan ukuran. Tetap saja saya harus mengikuti aturan. Saya harus sehat lahir batin, punya pekerjaan, punya tempat tinggal, tabungan, dan dianggap mampu mengurus anak. Seseorang dari dinas sosial akan datang berkunjung dan memantau apakah saya layak mengadaopsi anak atau tidak.”

”Kau lulus semua itu bukan?”

Sophie mengangguk. ”Tapi menurut aturan normal tetap saja saya harus menunggu tahunan.”

”Lantas apa yang kau lakukan. Menculiknya atau menyogok pejabat-pejabat terkait?” canda Ayu.

Sophie tertawa. ”Saya pernah mengunjungi panti asuhan di Cina. Ratusan ribu bayi menunggu untuk diadopsi. Tapi berapa banyak orang tua yang mampu. Bukan mau ya, tapi mampu mengadopsi. Keadaan mereka mengenaskan, tidur berjejer, bertumpuk lebih tepatnya, kurang gizi, dan kebersihan tidak terjaga. Banyak bayi yang rambutnya berkutu. Kasihan. Kupikir mereka tak keberatan jika kita menculiknya. Kau tertarik mengadopsi?”

Ayu menggeleng. ”Tak semua orang berbakat jadi orang tua asuh. Keyla sudah cukup membuat aku dan suami bahagia. Bertahun-tahun kami menunggu kehadirannya. Bertahun-tahun kami dalam pengawasan dokter. Akhirnya bidadariku lahir…” Ayu menepuk-nepuk pipi Keyla.

”Bidadari yang supercantik.”

”Terima kasih. Oh, tentang Nathan, bagaimana kau mendapatkannya?”

”Sebuah agen memberi saran dan membuka rahasia bagaimana bisa mengadopsi bayi cepat, tapi berisiko.”

Ayu menatap Sophie, ”Kedengarannya seram betul.”

”Seperti juga pakaian ada juga bayi yang rejected…”

”Oh, ya.”

”Bayi-bayi itu biasanya punya cacat fisik. Jarinya tidak lengkap, bibirnya sumbing, kakinya kecil satu, telinganya tak sempurna. Bayi-bayi itu ditampung di panti asuhan khusus, karena nyaris tak ada orang mau mengadopsi. Itu sebab proses adopsiku cepat.”

Ayu menarik nafas. ”Apa yang terjadi pada Nathan?”

”Jari tangan kanannya tak lengkap. Tiga di antaranya lebih kecil. Perkembangan lainnya normal. Saya tidak keberatan. Saya mencintainya.”

Ayu ingin tahu, apa yang akan terjadi jika kelak bayi yang ia adopsi cacat mental. Tapi pertanyaan itu ia urungkan. ”Sungguh luhur hatimu. Beruntunglah Nathan memperoleh orang tua sepertimu.” Ayu beranjak hendak membuka selimut Nathan. Namun, Sophie melihat jam tangan dan berteriak, ”Nyaris terlambat menjemput Marie.” Ia mendorong Nathan berlari-lari kecil.

Marie duduk di kelas 1 SD. Kata Sophie, ia masih dalam daftar tunggu untuk masuk After School Program tempat Marie melanjutkan kegiatan setelah jam sekolah. Dengan itu Sophie bisa menjemputnya senja hari, sebelum pukul enam.

”Sampai besok,” teriak Sophie.

Ayu berujar pada dirinya, Sophie pantas menjadi ibu dari tiga anak adopsi. Ia dilimpahi begitu banyak energi, kasih sayang, dan Ayu berupaya mencari kata yang tepat untuk menggambarkan keikhlasan memilih bayi yang jarinya tidak lengkap. Hal pertama yang ia tanyakan kepada dokter ketika Keyla lahir adalah, ”Apakah jari kaki dan tangannya lengkap?”

Nathan juga bayi yang baik. Ia lebih sering tidur pulas, tidak pernah rewel. Sementara Keyla menjerit-jerit kalau pampersnya basah atau lapar. Menurut Sophie, jam tidur Nathan panjang. Ia akan terbangun saat makan siang. Dua kali Ayu melihatnya terbangun dan menimangnya.

Hari ini Sophie berjanji akan tinggal lebih lama dan makan siang bersama Ayu di taman. Sejak kemarin Marie sudah masuk After School Program. Sophie tak perlu lagi menjemputnya sepulang sekolah. Ayu senang karena ia akan punya waktu lebih panjang bersamanya.

Kehadiran Sophie membantunya menghilangkan rasa kangen pada ibu, bapak, mbak Win, dan Mas Aryo. Mami dan papi mertuanya akan datang musim dingin, bulan November. Saat itu harga tiket murah dan akan naik lagi menjelang Natal dan Tahun Baru.

Ayu berencana membuat sandwich salmon untuk mereka berdua. Ikan kaleng itu ia campur dengan mayonaise, irisan seledri, daun bawang, lalu dibubuhi merica, garam, dan dua percik air jeruk. Lainnya ia membawa apel dan batang-batang wortel mentah. Ayu juga mengemas minuman dan makanan untuk Keyla.

Keyla tidur lelap ketika pukul 10 Ayu mendorongnya keluar apartemen. Matahari musim semi hangat menyapu kulit. Ayu mengenakkan sepatu joging, celana pendek, dan kaos tanpa kerah. Berat tubuhnya belum kembali ke asal, tapi menurut Daniel, itu berat tubuh idealnya. Tidak terlalu kurus dan gemuk. ”Berat tubuh seorang ibu,” begitu istilahnya.

Mungkin Daniel hanya ingin menyenangkan hatinya. Di depan cermin Ayu melihat tubuhnya lebih berisi. Nomor celananya naik satu angka. Tapi ia suka dengan ”berat tubuh seorang ibu” itu. Ia membungkuk mencium Keyla, menutupi wajah Keyla dengan tudung kereta bayi. Kasihan kalau ia terbangun karena silau matahari.

Sophie sudah menunggu di taman ketika Ayu tiba. ”Aku melihat ada bazar di taman sebelah sana. Kelihatannya banyak barang kerajinan dan makanan. Tertarik untuk melihat?”

”Ayo, sekalian cuci mata. Siapa tahu aku menemukan sesuatu buat Keyla.”

”Biasanya dijual sweater anak-anak. Katanya hasil rajutan nenek-nenek yang tinggal di gedung panti jompo itu,” Sophie menunjuk gedung tinggi. ”Itu panti jompo semiprivat yang fasilitasnya seperti hotel bintang lima. Ketahuan kalau penghuninya punya pekerjaan bagus selagi muda.”

Sophie menyebut bazar itu sebagai ”old day” bazaar. Sebagain besar barang-barang yang dijual adalah buatan orang tua, model tua, dan dijual oleh mereka juga. Rajutan taplak meja, sweater, sepatu musim dingin, dan sejenisnya bermodel abad silam. Kue yang dijual seperti bolu labu, pie apel, dan biskuit kismis. Buku-buku bekas yang dijual ada yang terbitan tahun 1910-an.

Ayu membeli selembar sweater hijau dan sepatu rajutan oranye. Juga dua buah bolu labu. Keyla yang terbangun dan menangis menjadi perhatian nenek-nenek, yang mengerubunginya dan ingin memangkunya. Sementara Nathan tampak tidur pulas kendati suasana ramai bukan main.

”Aku ingin ke kamar mandi dulu.” Sophie menuju perpustakaan kota yang letaknya di tepi taman. ”Pernah ke situ?”

Ayu menggeleng.

”Koleksi buku dan DVD anak-anaknya bagus,” sambung Sophie.

”Bagaimana jika hari ini kita mengisi waktu di sini,” kata Ayu sambil mendorong pintu bangunan tua itu dengan punggungnya.

”Ide yang bagus.” Sophie mengikuti langkah Ayu masuk ke perpustakaan yang senyap. Pengunjung terbenam dalam buku dan majalah yang mereka baca.

Sophie berhenti di depan kamar mandi. ”Setengah jam lagi Nathan bangun. Kalau bangun sebelum waktunya dia rewel.” Ia menutup bibirnya dengan telunjuk.

”Oke,” kata Ayu sambil memeriksa makan siang Keyla, tim ayam dan parutan wortel.

Sementara Keyla tampak gembira, menarik-narik tawon mainnya yang digantung di atas kepalanya dan menimbulkan bunyi zzzz…. Ayu mencium gemas pipinya.

”Kau mau ke kamar mandi juga?” kata Sophie lima menit kemudian.

”Kita memberi makan siang Keyla dan Nathan di taman. Dilarang makan minum di sini,” bisik Ayu seraya beranjak ke kamar mandi.

Sophie membuka selimut Nathan. ”Ia mulai menggeliat,” bisiknya.

”Tolong awasi Keyla.”

Sophie membelai rambut Keyla. ”Kamu akan baik-baik bersama Sophie bukan, Cantik?”

Lima menit kemudian Ayu keluar. Ia kaget tak melihat kereta bayi Nathan.

”Tante Sophie membiarkanmu sendirian, sayang. Keterlaluan…” Dengan kesal Ayu menarik boneka tawon yang menggantung di samping kepala Keyla.

Ia menepuk-nepuk pipi Keyla, membungkuk hendak menciumnya. Namun jari tangannya menepuk benda keras, pipi boneka laki-laki, yang sedang tidur!

”Keyla…” Ayu berteriak, berlari, meraung lantas jatuh tak sadarkan diri.***

Montreal – Jakarta 2008

—Dimuat di Jawa Pos, 19 April 2009

Iklan

2 thoughts on “Cerpen: Kereta Bayi

    starlight21 said:
    13 Juni 2009 pukul 09:14

    endingnya agak membingungkan, aku harus baca beberapa kali sampai akhirnya kesimpulanku seperti ini:
    keyla diculik sama sophie, ditukar dengan nathan yang sebenarnya hanyalah sebuah boneka. Betul nggak?

      M Shodiq Mustika responded:
      13 Juni 2009 pukul 09:27

      @ starlight21
      Iya, aku juga bingung endingnya itu tepatnya bagaimana. Aku sendiri lebih tertarik pada pelajaran apa yang bisa kupetik dari cerpen ini. Diantaranya: kita tak perlu terlalu gembira dengan segala yang kita “miliki”, supaya ketika kita kehilangan, kita tidak terlalu sedih.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s