Pelajaran Pranikah dari Kasus Cici Paramida & Manohara Odelia Pinot

Posted on Updated on

Manohara Odelia Pinot & Cici ParamidaPertanyaan seorang ibu bernama Nadia (35): “Saya ingin menanyakan bagaimana kebijakan Bapak soal kekerasan dalam rumah tangga seperti yang dialami oleh Manohara dan Cici Paramida.”

Untuk menghindari terjadinya KDRT, JK mengimbau kaum perempuan tidak secara kilat memutuskan untuk menikahi pria yang belum begitu dikenalnya. “Yang paling penting, … kalau cari suami harus kenal dulu [secermat-cermatnya]. Jangan baru kenal belum tahu dia siapa lalu menikah,” ujar JK.

“Lebih baik nangis dua minggu daripada nangis seumur hidup”. Demikian pesan Menteri Negara [urusan] Perempuan Meutia Hatta kepada kaum perempuan agar tidak salah memilih pasangan. Perempuan harus mengenal [calon] suaminya baik-baik sebelum menikah.

Rabu, 17/06/2009 15:05 WIB
Kasus Manohara & Cici Paramida

Cegah KDRT, Pasangan Mau Nikah Harus Rasional

Amanda Ferdina – detikNews

Jakarta – Pasangan yang ingin melangsungkan pernikahan harus menyadari kesetaraan dirinya dengan pasangannya. Dengan demikian, Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) seperti yang menimpa Manohara Odelia Pinot dan Cici Paramida dapat dicegah dari dini.

“Membangun lembaga perkawinan harus dimulai dari kesetaraan. Kalo orang pacaran sering bermula dari ketidakrasionalitasan,” ujar Manager Riset LSM Perempuan Kalyanamitra, Hegel Terome saat berbincang dengan detikcom, Rabu (17/6/2009).

Hegel lantas menjelaskan perbedaan masyarakat Indonesia dengan orang barat dalam mengantisipasi KDRT. Di negara barat, sebelum menikah pasangan telah membuat kesepakatan tentang banyak hal terkait hubungan mereka setelah menikah.

“Bangun rumah tangga dari awal semua sudah dibahas, pembagian harta, dll. Sehingga semua jelas dan KDRT dapat dihindari, walaupun menyebabkan orang menjadi jarang nikah karena banyaknya pertimbangan untuk nikah,” ujarnya.

Hegel menjelaskan KDRT merupakan kekerasan berbasis gender. Kekerasan tersebut biasa terjadi karena adanya ketimpangan kekuasaan antara istri dan suami. “Misalkan suami dari kondisi orang kaya, dia punya akses untuk memperlakukan istri dengan semena-mena,” imbuhnya.

Berdasarkan hasil penelitian, KDRT juga seringkali dimulai dari posisi ekonomi. “Banyak istri tergantung dari suaminya, lalu para suami punya modal dan suami bisa merasa menjadikan istri sebuah benda. Karena posisi ekonomi yang rentan,” ujarnya.

Disinggung apakah ada laki-laki yang mengalami KDRT, Hegel membenarkannya. Hanya saja, keadaan di Indonesia agak berbeda dengan negara-negara maju. “Ada juga, laki-laki dengan posisi ekonomi lemah yang bergantung dengan istrinya itu bisa (memicu) KDRT,” ujarnya.

“Kalau di Indonesia kan yang terekspos laki-laki itu stres, mabuk, lalu mukul orang. Jadi sisi macho-nya yang diperlihatkan. Padahal ada juga yang tergantung pada istrinya,” imbuh Hegel.

(amd/iy)

9 thoughts on “Pelajaran Pranikah dari Kasus Cici Paramida & Manohara Odelia Pinot

    zenal said:
    17 Juni 2009 pukul 23:00

    Benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw, yang intinya adalah agar kita dalam memilih pasangan hidup lebih mengutamakan agama dan akhlaknya.

      Yuliapril said:
      19 Juni 2009 pukul 10:47

      aku setuju….

      krn klo seseorang punya akhlak dan hati nurani yg bagus,baik dan benar tentu apapun keadaan dan kondisinya dia tidak akan berbuat jahat terhadap pasangannya.

    Bisnis pulsa said:
    18 Juni 2009 pukul 02:31

    Mudah2an ini hanya prahara rumahtangga semata yang bisa dicarikan jalan keluarnya. Dan bukan sebuah opera dgn skenario “mendongkrak popularitas yang mulai luntur”.

    mukhlis said:
    20 Juni 2009 pukul 13:39

    buat yang mahasiswa,,,,,sebelum menentukan aisyah…maisyah dan ijazah dicari dlu….

    MKIOSONLINE said:
    1 Juli 2009 pukul 03:36

    harus dipikirkan untuk kedepan,bagaimana pun itu kemajuan teknologi tidak akan bisa stop bahkan semakin cepat,komputer dan internet sudah menjadi sebuah yang wajib di miliki untuk sekarang ini.
    sekarang tinggal bagaimana kita untuk menggunakanya untuk tujuan yang benar2 membangun.mkiosonline

    mano bahlul said:
    3 Juli 2009 pukul 02:17

    tapi dalam kasus manohara tidak ada KDRT…mohon dicatat!!!

      Yasmin Jauza said:
      3 Juli 2009 pukul 14:17

      @ Mano Bahlul : kayaknya sentimen bener nie sama manohara….ehehehe.

      nambahin sedikit dari artikel di atas : bahwa ketika Qt menjatuhkan pilihan kepada seseorang yg kelak jd pendamping hidup, mulailah dengan memohon doa & petunjuk Allah melalui Sholat Istikharah. Mohon agar Allah yang memilihkan dan memantapkan hati Qt ini pada 1 orang itu. jangan menikah hanya karena NAFSU, hanya karena pandangan sekilas bahwa dia baik, apalagi hanya sekedar CINTA, . Cinta saja tidak cukup. sebab betapa banyak pasangn yg menikah atas nama CInta, suatu ketika terpaksa berpisah bukan lagi atas nama Cinta. luruskan niat berumah tangga semata untuk Ibadah. Insya Allah keberkahan yg akan Qt dapat dari rumah tangga Qt. amin
      Wassalam,

    vanidiana said:
    9 Juli 2009 pukul 15:20

    Ikutan komen ah… untuk menikah selain butuh pertimbangan rasional, juga libatkan Allah. Istikharah dan doa yang sering, Allah Pasti, Pasti banget, akan menunjukkan apakah dia orang yang tepat bwt qta apa bukan, entah dengan jalan apa saja.

    Tio_cute said:
    12 Juli 2009 pukul 20:48

    SEBAIKNYA JGN JADIKAN SUATU KEBOHONGAN MENJADI SUMBER INSPIRASI KITA SEMUA !!!!

    SEKALI LAGI……

    JADIKAN AJARAN2 ISLAM SEBAGAI PEDOMAN UTAMA KITA DALAM BERNIAT, BERPIKIR, BERUCAP, DAN BERTINDAK SETIAP AKAN MENJALANKAN APAPUN DIMANAPUN DAN KAPAN PUN KITA BERADA

    SEMANGAT !!!!!

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s