Bagaimana menumbuhkan kembali cinta suami-istri

Posted on Updated on

Saya seorang Akhwat jatuh cinta sama Ikhwan dan kami mulai bertekad ingin membina Rumah Tangga yang baik. Tapi belum genap usia pernikahan 1 tahun kami di uji suamiku pindah pekerjaan dan lebih parahnya lagi kami jadi 1 perusahaan sedangkan d perusahaan tidak boleh memperkerjakan suami istri awalnya saya menolak suami pindah kerja tapi karena suami berjanji kalau dalam surat perjanjian kontrak tertulis suami istri tdk boleh bekerja di 1 perusahaan maka suami saya keluar. tapi ternyata di surat perjanjian tdk tertulis dan akhirnya suami saya bekerja satu perusahaan cuma beda divisi syariah dan konvensional. beberapa bulan setelah anak kami lahir datang teguran dari pimpinan saya bahwa saya bersalah karena tdk memberitahukan status suami bekerja trus saya bilang bahwa status suami saya masih kontrak selama 1 thn jika suami saya di terima jadi pegawai tetap saya keluar. tapi pimpinan saya tidak ma seperti dan harus keluar slah satu. saya bingung krn saya pingin bkj akhirnya kami memutuskan sayalah yang berhenti.
Saya kesal saya marah kenapa musti begini berhari hari saya coba sholat istikhoroh dan sholat hajat semoga saya dapat pekerjaan yang baru lagi tapi pada akhirnya saya slalu menyesali knapa jadi begini kadang saya suka marah pada suami hanya gara2 masalah itu. saya hanya minta solusi bagaimana menumbuhkan kembali cinta dalam keluarga agar cita2 saya membina keluarga sakinah mawaddah warrohmah tercipta.
Terima kasih

Jawaban M Shodiq Mustika:

Dari pernyataan “kadang saya suka marah pada suami hanya gara2 masalah itu”, tersirat bahwa persoalan yang sedang ukhti hadapi ini bukan masalah berat. Syukurlah ukhti sudah menyadarinya sebelum persoalan ini membesar. Lebih baik mencegah “penyakit” daripada “mengobatinya”, ‘kan?

Sebenarnya ada banyak konsep untuk menumbuhkan kembali cinta antara suami-istri sehingga terbina keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Bisa ribuan kalimat untuk menjelaskannya. Namun kita di sini tentunya mengharap jawaban yang ringkas berupa solusi yang sangat praktis. Jadi, aku rangkumkan saja hasil penelitian John Gottman yang disajikan kembali oleh Martin EP Seligman dalam bukunya, Authentic Happiness.

Menurut penelitian tersebut, pasangan-pasangan yang hubungannya membaik setelah beberapa tahun ternyata mencurahkan waktu selama sekitar lima jam tambahan setiap pekan untuk “menyirami pohon cinta” mereka. Ini dia rinciannya:

  • Saat berpisah. Sebelum keduanya mengucapkan salam perpisahan setiap pagi, mereka menanyakan apa yang akan dilakukan pasangannya hari itu. (2 menit x 5 hari = 10 menit)
  • Saat berkumpul kembali. Di penghujung hari, sepulang kerja, pasangan ini mengobrol ringan. (20 menit x 5 hari = 1 jam 40 menit)
  • Kasih sayang. Menyentuh, memeluk, dan mencium–semua ini dijalin dengan lemah-lembut dan rasa memaafkan. (5 menit x 7 hari = 35 menit)
  • Kencan mingguan. Hanya Anda berdua, dalam suasana yang santai, memperbarui cinta Anda. (2 jam sekali sepekan)
  • Kekaguman dan penghargaan. Setiap hari, kasih-sayang dan penghargaan yang tulus diberikan setidaknya sekali. (5 menit x 7 hari = 35 menit)

Supaya cara-cara praktis tersebut lebih efektif, aku anjurkan ukhti & suami mengamalkan “10 Kiat Menjadi Pendengar Yang Baik” dan “Cara Ngobrol Pria-Wanita Yang Mengasyikkan“.

Demikianlah jawaban dan saranku. Wallaahu a’lam.

Iklan

8 thoughts on “Bagaimana menumbuhkan kembali cinta suami-istri

    leli said:
    18 Juni 2009 pukul 20:41

    bingung…tp stj aj deh..slm itu bk..

    ajib said:
    19 Juni 2009 pukul 06:54

    wah kalau dijadwal gitu banyak luputnya hee..

    oktora said:
    23 Juni 2009 pukul 15:11

    mana ada waktu,ktemunya aja sminggu skali….

    dahlia said:
    29 Juni 2009 pukul 20:33

    kalau menurut saya itu masalah yang ringan saja,kepala rumah tangga itu suami dan tiang rumah tangga itu adalah suami kalau istri walaupun bekerja itu sifatnya hanya membantu,bila perusahaan menggaruskan seperti itu lebih baik memang istri yang harus mengalah dan masih banyak tempat untuk bekerja yang lain untuk suami,jangan lah kita menjadi istri yang egois cuma karena dia yang mengalah berujung emosi,bekerja bukan harus dikantor dimana pun bisa dilakukan seorg istri yang mau menerima kodratnya inssaallah syurga lah tempatnya,kalaupun ibu tidak dapat mendapat pekerjaan lagi dengan mengurus suami dan anak2 adalah pekerjaan yang mulia,karena kita berumah tangga kebaikan lah yang kita cari dan menerima cobaan dari allah dengan iklas akan mendapat pahala yang setimpal,jalinlah komunikasi dengan suami dan hormati dia seperti ibu menghormati orang tua ibu karena istri yang sholeh akan membuka rejeki kalian.amien

    fitr1 said:
    1 Juli 2009 pukul 15:18

    bagus jg tu anjuranya,bs jd masukan dan motivasi diri untuk mencapai keluarga sakinak mawwadah marrohmah….amin…..

    raharja3 said:
    5 Juli 2009 pukul 10:37

    oke juga nasihatnya, tapi kadang-kadang susah mempraktekkannya

    ageng said:
    7 Juli 2009 pukul 12:38

    wah saya setuju tuh sama nasehat @dahlia … lagi pula Allah selalu menmpatkan kita pada posisi dan keadaan yang terbaik hanya terkadang masalahnya kita saja yang tidak tahu bahwa itu adalah kebaikan bagi kita …
    wassalam
    http://30dayweb.co.cc

    Zuly said:
    31 Januari 2012 pukul 11:22

    Bagus banget kiat-kiat nya…..aq setuju banget tuch……tp gimana caranya agar si suami bisa membalas kemesraan yg kita berikan.klu gak da balasan dri suami qt jg sulit tuk mencintainya lagi kan…….harus da imbal balik dari suami.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s