7 Cara Pacaran Islami ala Khadijah-Muhammad

Posted on Updated on

Saya belum begitu paham dengan postingan yang satu ini [yaitu: “Nabi Muhammad pun pernah pacaran (tetapi secara islami)“]. Tidak dijelaskan bagaimana Rasulullah SAW menjalin hubungan dengan Khadijah r.a. Emang, “pacaran”-nya beliau kayak apa?

Jawaban M Shodiq Mustika:

Postingan tersebut memang hanya menjawab pertanyaan apakah Nabi Muhammad saw. pernah pacaran ataukah tidak. Untuk membahas pacaran beliau kayak apa, kita membutuhkan penjelasan tersendiri seperti di bawah ini:

Seperti telah kita ketahui bersama, makna asli “pacaran” adalah “persiapan nikah”. (Lihat “Definisi & Bentuk Nyata Pacaran Islami“.) Dengan definisi tersebut, di bawah ini hendak aku paparkan pengamatanku mengenai bagaimana berlangsungnya proses yang menjadikan Khadijah-Muhammad siap menikah:

1. TA’ARUF PASIF: Khadijah mulai “naksir” Muhammad lantaran mendengar kabar mengenai kemuliaan akhlak beliau.

Saat itu, masyarakat Makkah sedang ramai membicarakan Muhammad bin Abdullah, seorang pemuda yang bisa menjaga kejujuran dan keluhuran hati, sementara para pemuda pada umumnya suka berfoya-foya. Khadijah naksir itu bukan lantaran ketampanan atau pun kekayaannya. Malah, saat itu Muhammad saw. merupakan pemuda yang miskin.

2. TA’ARUF AKTIF: Khadijah menyaksikan sendiri kemuliaan akhlak Muhammad melalui perbincangan dalam tatap muka langsung.

Pada mulanya, ketertarikan Khadijah kepada Muhammad bukanlah dalam rangka kepentingan asmara, melainkan bisnis. Kita tahu, Khadijah ialah seorang pengusaha kaya. Lantas, Khadijah pun memanggil Muhammad dan mengajaknya berbincang-bincang mengenai perdagangan. Dengan perbincangan seperti ini, Khadijah bisa mulai mengecek apakah benar bahwa Muhammad berakhlak mulia.

3. TANAZHUR (TA’ARUF INTERAKTIF): Khadijah dan Muhammad menjalin kerja sama pengembangan karir.

Melalui perbincangan tersebut tadi, Khadijah menganggap bahwa Muhammad adalah sosok yang ia butuhkan untuk berdagang ke negeri Syam. Muhammad pun menerima tugas itu dengan senang hati. Dengan interaksi seperti ini, Khadijah dapat me-recheck atau melakukan pengujian terhadap Muhammad sebelum benar-benar yakin bahwa Muhammad memang berakhlak mulia.

4. TANAZHUR LANGSUNG: Khadijah mengalami sendiri indahnya menjalin kebersamaan dengan Muhammad yang berakhlak mulia.

Sepulangnya Muhammad saw. dari negeri Syam, Khadijah menerima laporan langsung dari beliau mengenai penunaian tugas berdagang tersebut tadi. Khadijah sangat gembira dan terlihat antusias sekali menyimak laporan tersebut. Secara demikian, tumbuhlah rasa cintanya kepada beliau. Dari hari ke hari, cintanya semakin mendalam.

5. TANAZHUR BERJARING: Khadijah memanfaatkan jaringan (network)-nya untuk memperlancar interaksinya dengan Muhammad.

Maisarah ialah orang kepercayaan Khadijah yang menyertai Muhammad berdagang ke Syam. Ia pun menceritakan pengalaman-pengalaman yang ditemuinya selama perjalanan. Laporan-laporannya mengenai kemuliaan Muhammad menjadikan Khadijah semakin berhasrat untuk menjadi istri beliau.

6. TANAZHUR BERMEDIA: Khadijah mengerahkan “agen cinta” untuk memperlancar hubungannya dengan Muhammad.

Dalam tradisi Arab ketika itu, bila seorang perempuan kaya mendatangi seorang pemuda untuk meminta menikahinya, maka itu dipandang memalukan. Untuk menyiasatinya, Khadijah pun mengutus Nafisah, seorang kepercayaannya lainnya, untuk membujuk Muhammad supaya mau melamar dirinya.

7. KHITBAH: Muhammad melamar Khadijah untuk menjadi istri beliau.

Di depan keluarga Khadijah, Muhammad saw. melamarnya. Maharnya 20 ekor unta. Lamaran pun diterima. Pernikahan itu sendiri dilaksanakan pada waktu 2 bulan 15 hari setelah Muhammad datang dari Syam. Usia Muhammad saat itu 25 tahun, sedangkan Khadijah 40 tahun.

Wallaahu a’lam.

99 thoughts on “7 Cara Pacaran Islami ala Khadijah-Muhammad

    Arsyil Hendra Saputra said:
    23 Oktober 2010 pukul 08:30

    BLOG INI DITUTUP AJA DEH…!!

    akusenangrogut said:
    28 November 2010 pukul 16:47

    wah wah..
    tapi saya ngga nemu yang “pacaran” itu yang mana ya?
    soalnya kalau liat jaman sekarang beda banget..
    apa memang yang Khadijah ini yang bener?
    belum ngerti saya..

      Rahmie yhankcllu merindhunyha said:
      27 Maret 2012 pukul 10:43

      Mf sebelum nya, Knp blog ini harus ditutup, bukan kh blog ini berisi sstu hal xg fositif??

        Diharja said:
        10 Agustus 2014 pukul 12:39

        demi apa blog ini positif??
        .
        .
        itu bisa bilang kalau poin2 tersebut diatas adalah PACARAn dr mananya ya?

    ririn said:
    16 Februari 2011 pukul 15:11

    hahahahahahahahahahahahahahahahahaha………………………..hahahahahaha………

    Amar Muslich Tabassam Saevy said:
    6 November 2011 pukul 12:35

    @M. Sodiq Mustika
    ma`af, mas ya orang kan bermacam- macam, jadi kalo bisa ditulis referensinya! oc

    Zhe said:
    13 November 2011 pukul 22:37

    Memang dizaman skrg udah tdk aneh lg, smua pasti mengalami masa itu, saya sndiri pernah meski hanya lwat komunikasi tlef0n atau smz, krn sya blm pernah ketemuan dg’a dikarenakan sya msh merasa takut janjian dg seorang ikhwan, meskipun sdh kenal lama tp saya blm 100%saya, mskipun dia sudah mengenalkan dg ibu’a tp itu smua blm menjamin,, oleh itu saya menyerahkan’y pd Allah biarlah Allah yg memilihkan j0doh untuku, dan biarlah hy Allah yg mempertemukan dan yg memisahkan qt kelak…

    tyo said:
    19 April 2012 pukul 01:31

    ada gak ya wanita seperti khadijah saat ini??

    bastomi said:
    11 November 2012 pukul 05:54

    masa berubah,sehingga memer lukan “tambahan” untuk mau mengetahui tentang penerapannya,tapi jangan grogi atau bahkan pesimis,Alloh ada dimanapun,baik masa dan keadaan apapun semoga alloh memberikan kepada umat Muhammad ilmu “pacaran” Mereka sehingga umat Islam tambah diberkahi oleh-Nya..amin. sholalloh ala Muhammad.

    Andre said:
    15 April 2014 pukul 09:38

    Mau tanya apakah hal2 diatas dapat menjadi rujukan, padahal semua hal tersebut bukanlah berasal dari tindakan nabi muhammad saw. melainkan oleh khatijah sendiri. selain itu nabi sendiri masih blm diangkat menjadi rasul kan jadi masih menggunakan tradisi sebelum rasulullah menjadi seorang rasul. mungkin bisa diceritakan mengenai pernikahan nabi setelah beliau diangkat menjadi rasul terima kasih maaf bila ada kesalahan

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s