Polisi Indonesia sering menyiksa tersangka yang tak bisa bayar uang suap (menurut laporan Amnesty International)

Posted on Updated on

Amnesty: polisi terlibat kekerasan
bbc.co.uk 24 Juni, 2009 – Published 05:55 GMT

Polisi IndonesiaAmnesty International menyatakan polisi Indonesia masih sering terlibat kekerasan dan penyiksaan para tersangka.

Laporan Amnesty International yang disiarkan hari Rabu ini juga menyebutkan para pelakunya jarang diadili.

Kelompok pegiat hak asasi manusia yang berkantor di London ini seperti dikutip kantor berita Reuters, mengakui berbagai upaya dalam satu dasa warsa ini untuk membuat polisi lebih profesional dan akuntabel.

Namun langkah ini dikatakannya, gagal menghilangkan masalah yang sudah banyak dilakukan.

Wakil Direktur Amnesty International Asia Pasifik Donna Guest seperti dikutip kantor berita Reuters mengatakan, “Dalam beberapa kasus, pelanggaran itu terkait langsung dengan upaya polisi menerima suap dari tersangka.”

Disebutkan pula, mereka yang tidak bisa membayar uang suap akan diperlaukan lebih buruk.

Menurut Guest, meskipun para pejabat tinggi di pemerintahan dan polisi etlah membuat komitmen untuk mengadakan perubahan namun tidak sampai kepada kebanyakan polisi.

Kelompok rawan

Laporan itu menemukan, pengguna narkoba, pelanggar hukum yang berulangkali, wanita termasuk pekerja seks komersial rawan terhadap pelanggaran itu.

Amnesty mengatakan telah berbicara kepada korban pelanggaran, pejabat polisi, pengacara dan kelompok pegiat HAM dalam dua tahun terakhir saat menyusun laporan ini.

Disebutkan, mekanisme disiplin di dalam kepolisian tidak mampu secara efektif menangani pengaduan atas perilaku polisi sedangkan para korban sering tidak tahu kemana mereka mengajukan laporan.

Amnesty mendesak pemerintah mengumumkan pelanggaran yang sudah sering terjadi itu dan melakukan penyelidikan yang tidak memihak dan efektif terhadap setiap tuduhan.

Juru bicara Kepolisian Indonesia Abubakar Nataprawira membela kinerja 371.000 personil kepolisian.

“Pada tahun 2010 kami menargetkan sebagai lembaga yang disenangi bukan ditakuti masyarakat,” katanya seperti dikutip Reuters seraya menambahkan restrukturisasi di kepolisian masih terus berlanjut.

Mekanisme sanksi juga telah diberlakukan untuk menghukum polisi yang menerima uang suap.

Iklan

8 thoughts on “Polisi Indonesia sering menyiksa tersangka yang tak bisa bayar uang suap (menurut laporan Amnesty International)

    chairul umam aljamalulail said:
    25 Juni 2009 pukul 15:02

    ya thats right! polisi kita ngak bis algi ngeliat apa yang seharusnya dijadikan pedoman yang patut di lindungi! tp a smua polisi oh! ini akn tergntung ma polisi nya juag! tp aq juga g pnh bilang slah kalo da org mejudge polisi kek gtoe! krn imej itu maikn nayta aja!tapi minta2 polisi dapat memperbaiki citra nya lagi! amin ,.,.,

    akbar said:
    25 Juni 2009 pukul 22:07

    gmana mau bner law masuknya nyogog puluhan juta,,,,

    hahaha,,,,,,

    rendy said:
    26 Juni 2009 pukul 01:20

    no coment, rakyat kecil lebih tau yang sesungguhnya,

    pras_farisi said:
    26 Juni 2009 pukul 03:51

    Layanin dong Daaann…! Kalo ada warga datang ke kantor mau mengadukan prilaku personel Polri yang gak bener. Jangan malah ditakut-takutin apalagi dicuekin. Tak cuma itu, kasih report juga sama yang memberi pengaduan sampai dimana tindak disipilin yang diambil kepada si pelaku police. Disamping menjaga citra korps Polri juga sebagai pertanda reformasi di tubuh Polri sehat dan terjamin bagi seluruh warga negara di republik Indonesia tercinta ini, bila Hukum sah dan fleksibel sebagai perlindungan bagi siapa saja yang membutuhkan. Kepada pelaku segala tindakan di luar Hukum akan merasakan akibat perbuatannya, tak terkeculi personel police yang memahami pasal-pasal KUHP harus legowo dan layak menerima hukuman dua kali lipat dibandingkan warga sipil yang “buta” pasal-pasal KUHP. Sanggupkah Polri?? Begitu saja harapan ini. Semoga Polri tetap semangat sebagai pelayan, pengayom, pelindung masyarakat.

    syukriy said:
    26 Juni 2009 pukul 16:12

    Semoga ini menjadi koreksi bagi Polri… Semoga bisa lebih baik di masa yang akan datang…

    yahud said:
    27 Juni 2009 pukul 13:11

    Gimana gak gitu, nanti setoran kurang. Kalau setoran kurang komandan marah-marah dong.

    Indonesiaku said:
    27 Juni 2009 pukul 21:32

    Terima kasih buat ORANG LONDON yg mw susah payah ngumpulin data pelanggaran POLISI INDONESIA untuk jd bahan kritikan…

    Kecewa said:
    24 Agustus 2009 pukul 00:08

    Polisi Indonesia masih jauh dari professional dan sesungguhnya sangat memalukan citra lembaga kepolisian pada umumnya … kemarin malam saya dihentikan secara paksa dan tiba2 di jalan tol (jam 11 malam) karena mengemudi “terlalu lambat” pada kecepatan 80km/jam … saya dibilang mengemudi dibawah 60 km/jam … namun daripada berdebat saya tanya kembali “ada bukti apa Bapak bilang saya mengemudi dengan lambat dimana speedometer saya menunjukan 80 km/jam? Dan andaikan pula saya mengemudi pada kecepatan 60 km/jam hukum apa yg saya langgar?” … namun tetap saja polisi tersebut menuduh saya berbohong kepada aparat dan saya yang salah.

    Lebih parahnya lagi, setelah tidak dapat menjawab hukum apa yang telah saya langgar, dengan congkak polisi tersebut menghardik dengan tuduhan saya membahayakan keselamatan pengendara mobil lainnya … saya tanya kembali saya membahayakan siapa karena jalanan sepi dan kosong sama sekali … namun polisi yang satu lagi kembali menuduh dikarenakan saya, mereka tidak berhasil mengejar mobil didepan saya.

    Ini sangat tidak masuk akal karena pertama, jalanan sepi dan andaikan mereka ingin menangkap mobil didepan saya (tidak ada mobil satupun didepan saya), mereka dapat mendahului dari jalur lain … mengapa alasan berubah rubah dan sengaja memojokan saya dengan cara mengancam menahan sim / stnk serta membentak bentak seakan akan saya kriminal?

    Dengan sopan saya menanyakan apa yang mereka hendaki dan kedua polisi tersebut kembali dengan sombong berkata “kamu seharusnya ngerti harus bagaimana kalau tidak ikut saya ke kantor polisi, saya tilang dan mobil kamu ditahan” … dengan geram dan tidak berdaya saya terpaksa “membayar” 50 ribu rupiah demi menghindari “masalah” lebih lanjut.

    Setelah itulah baru sim dan stnk saya dikembalikan. Betapa memalukannya sikap kedua polisi tersebut … serta merta dan seenaknya memeras warga melalui alasan yang dibuat buat padahal saya hanya menyetir hendak pulang kerumah tanpa melanggar apapun …

    Kejadian “diperas” polisi sudah saya alami berulang kali sejak saya muda dahulu … jadi kalau dibilang polisi sekarang sudah lebih baik dan professional, yah … kita masyarakat yang lebih mengetahui keadaan sebenarnya.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s