PP Muhammadiyah: Indonesia akan alami konflik seperti di Iran gara-gara DPT Pilpres 2009

Posted on Updated on

Jika DPT Belum Beres, Din Syamsudin Minta Pilpres Ditunda
Selasa, 30/06/2009 15:02 WIB
Rachmadin Ismail – detikPemilu

Jakarta – Masalah Daftar Pemilih Tetap (DPT) dinilai belum selesai. Jika dalam batas waktu menjelang Pilpres DPT masih bermasalah ketua PP Muhammadiyah meminta Pilpres ditunda.

“Kalau seandainya masalah DPT belum selesai, saya berpendapat Pilpres ditunda saja,” ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin dalam jumpa pers di kantor PP Muhammadiyah, Jl Menteng Raya, Jakarta Pusat, Selasa (30/6/2009).

Menurut Din, jika Pilpres tetap dipaksakan, akan mencederai demokrasi. Banyak hak warga negara yang tidak bisa tersalurkan aspirasinya. Selain itu Din menilai akan muncul konflik horizontal di tangan masyarakat yang kecewa dengan sistem pemilu yang dilakukan KPU.

“Saya membayangkan konflik horizontal akan mudah terjadi seperti contohnya di Iran,” jelas Din.

Din mengungkapkan, dalam Pileg, sekitar 20 juta rakyat tidak tercantum dalam DPT. Sedangkan Komisi Pemuilihan Umum (KPU) saat ini baru mendaftarkan 5 juta orang dari jumlah total DPT tersebut.

Dalam kesempatan itu Din mengaku kecewa pada tim kampanye capres tertentu yang menyerukan Pilpres satu putaran. Menurutnya wacana seperti itu tidak perlu dilontarkan. Apalagi ada salah satu lembaga survei mendukung wacana tersebut.

“Jangan sampai ada orang KPU yang ikut menyuarakannya. Apalagi dengan alasan dana,” kata dia.

Terkait masalah DPT, Din menyarankan agar KPU segera menjemput bola. Para pemilih yang belum terdaftar harus segara didatangi dan dimasukkan dalam daftar pemilih tetap.

“Kalau itu tidak bisa dilakukan, maka buat saja aturan yang memperbolehkan dengan KTP untuk bisa memilih,” ungkapnya.

( nik / nwk )

Din Minta KPU Jangan Abaikan soal DPT
Selasa, 30 Juni 2009 | 16:46 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Din Syamsuddin mengingatkan KPU untuk menyelesaikan problem DPT. Pasalnya, setelah mencermati kampanye pilpres dengan segala hiruk pikuknya, ternyata KPU ataupun Departemen Dalam Negeri tidak memperlihatkan kesungguhan dalam memperbaiki DPT.

“Padahal, masalah DPT ini sangat berbahaya, dan bisa menjadi sumber konflik karena merasa ketidakadilan,” ujar Din di Dedung Pusat Dakwah Muhammadiyah di Jakarta, Selasa (30/6).

Din mengkhawatirkan, bisa muncul konflik jika DPT tidak diselesaikan. Padahal, pemilu legislatif maupun pilpres merupakan agenda politik dan demokrasi Indonesia.

“Kita berkeyakinan lewat pemilulah segala macam soal bangsa bisa diselesaikan. Pemilu diharapkan menjadi problem solving bagi masalah bangsa dan merancang masa depan,” ujarnya.

Apalagi dunia luar sedang menatap Indonesia, dengan eksperimen demokrasi yang dilakukan saat ini, banyak yang berharap-harap cemas. Indonesia, sebagai negeri Islam terbesar di dunia, sedang membuktikan bahwa demokrasinya berhasil dan menjadi negara demokrasi terbesar ketiga setelah India dan Amerika Serikat.

“Alhamdulillah, Indonesia setelah reformasi sudah menyelenggarakan tiga kali pemilu, seyogianya pemilu mendatang ada kematangan, kedewasaan, dan perbaikan dalam penyelenggaraan pemilu. Jadi, bobot demokrasi harusnya lebih tinggi,” ujarnya.

Iklan

8 thoughts on “PP Muhammadiyah: Indonesia akan alami konflik seperti di Iran gara-gara DPT Pilpres 2009

    alung said:
    30 Juni 2009 pukul 21:40

    permainan satu putaran kasar banget….

    […] Fatwa Terbaru: Pemilu Curang DOSA BESAR 2009 Juli 1 tags: PilPres 2009 by M Shodiq Mustika Fatwa ini bukan dari MUI, melainkan dari seorang anggota DPR. Aku belum tahu kapan MUI (yang sudah memfatwakan haramnya golput) akan mengeluarkan fatwa bahwa curang dalam pemilu itu dosa besar. Padahal, masalah ini begitu serius bagi umat, sehingga PP Muhammadiyah pun menyuarakannya. (Lihat “PP Muhammadiyah: Indonesia akan alami konflik seperti di Iran gara-gara DPT Pilpres 2009“) […]

    Tio_cute said:
    1 Juli 2009 pukul 20:57

    Bagi yang belum bahkan tidak memiliki keimanan dan ketakwaan yang hakiki sebaiknya jgn belagak menghakimi/memberikan keputusan sesuatu apalagi menyangkut umat banyak. So ingat2 yah…..uruslah, ingatlah, dan perbaikilah kejelekan2 kita slama ini tanpa lupa untuk meningkatkan amal yang telah kita perbuat masa lalu sebagai bekal kta di masa mendatang…….

    SULI said:
    3 Juli 2009 pukul 13:58

    JANGAN SEKARANG AJA PAK SAMSYUDIN MENGANGGAP PEMILU PILPRES CURANG, BOHONG, TAPI MULAI DARI PILCALEG SUDAH DIDAHULUI BEGITU, INI JANGAN MENGKAITKAN KEJUJURAN DENGAN BERPOLITIK YA PAK, KARENA KEDUANYA INI KEJUJURAN DIKALAHKAN OLEH SIKAP POLITIK YANG MENGHALALKAN SEGALA CARA ALIAS ‘ TINDAKAN KEBOHONGAN!(BIADAB)
    COBA BAPAK LIAT BETAPA KAGET DAN SAKITNYA HATI RAKYAT, JIKA MELIHAT HASIL AKHIR PILCALEG YANG TDK BERES HANYA KARENA INGIN MENANG PARTAINYA, TIDAK SEGAN-2 MENGIBULI, BERMAIN DENGAN DPT, SHINGGA MUNCUL PENGGELEMBUNGAN SUARA DARI PARTAI DEMOKRAT YANG LUAR BIASA,YANG KATANYA MASALAH INI AKAN DI SELESAIKAN SECARA YURIDIS, AHHHH BOHONGGGGGGGG BESAR ! INI KAH KARAKTER POLITISI INDONESIA ? KASIHAN RAKYAT, DIAJARI UNTUK BERBOHONG, BERENGSEKK, .DENAGN MELIHAT PILGUB DI JATIM, SDH JELAS KALAU PEMERINTAHAN SBY SANGAT-2 LICIK , JELAS KALAU ADA PENGGANDAAN KTP DLL, YANG BUKAN RUMOR, TAPI BUKTI DI DAERAH MADURA, YANG SECARA YURIDIS SUDAH MASUK DALAM PROSES PENYIDIKAN, GITU SAJA KAPOLDANYA DI COPOT , HANYA KARENA AKAN MEM FOLLO UP I PROSES YURIDIS , BELUM LAGI ANAKNYA SBY, JADI YANG BIADAB (LAWANNYA BER ADAB) ITU YA INTERVENSINYA PEMERINTAH SBY , YANG TAKUT KALAH DALAM PILPRES. NAH YANG SEKARANG INI RAKYAT HARUS MENGGUGAT DAN MELAWAN JIKA TERJADI HAL-2 YANG SAMA. ITU PAK SYAMSUDIN , KALAU ANDA BERKENAN JELASKAN PADA TULISAN ANDA MENGENAHI BERENGSEKNYA PEMILU 2009. WASS

    dayans said:
    4 Juli 2009 pukul 17:51

    sebaik apakah pilpres yang lalu(lebih baik apa lebih buruk) ?, coba renungkan dengan nurani dan logika kita yang telah diciptakan tuhan dengan sempurna. Gak mungkin memperbaiki sesuatu yang telah lama rusak dalam sekejab. Lihat sekarang anda-anda bebas mencaci maki seorang pemimpin, apakah itu bukan merupakan kemajuan?.
    Mengenai pemilihan satu putaran, sepertinya masalahnya terlalu dibesar-besarkan. Gak mungkin dong kayak main sulap bilang satu putaran jadi pasti satu putaran.
    Orang yang Beradab selalu ngomong santun dan tidak suka memfitnah serta mencari-cari kesalahan orang lain itu masih di adab umum kalau di Islam ya jelas seperti itu juga bahkan lebih sempurna lagi.
    Orang tak beradap bisa juga ngomongnya santun tapi kalau ngomongnya gak santun jelas tidak ……b.

    rini_fans SBY said:
    5 Juli 2009 pukul 13:39

    Apapun caranya
    pak SbY cari kemenangan
    entah itu satu putran dua putaran, pakai ilmu sihir……
    pokoke wong jowo sing menang…..

    H i D U P S B Y

    khoir said:
    13 November 2009 pukul 18:14

    kenapa ya mehammadiyah sekarang, saya sangat prihatin dengan semua itu,, mengingat muhammadiyah akan menjelang genap berusia 100 tahun tetapi muhammadiyah seakan malah mengalami masa tua sebelum waktunya karena terkait banyak isu yang beredar bahwa muhammadiyah telah mengalami anti klimaks? apakah itu benaar?

    Ibu Saifuddin said:
    2 April 2011 pukul 20:43

    Kalau kebakaran tangki Pertamina Cilacap jelas bukan pengalihan isu, tapi kecerobohan. Tapi kalau berbagai berita mulai sidang pengadilan fitnah teroris terhadap tersangka teroris ustaz Abu Bakar Ba’asyir, bom-bom buku, perebutan ketua PSSI yang dibesar-besarkan, hingga tersangka penipu Selli dan tersangka karyawati korup Citibank, Melinda, juga bukan hanya pengalihan isu, tetapi dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya mengalihkan banyak isu. Tujuannya agar perhatian masyarakat tidak terpaku pada masalah-masalah yang tidak dilaksanakan pemerintah dalam membangun bangsa, dan agar dua media besar negeri ini, MetroTv adn TVOne, utamanya, sibuk memberitakan tetek-bengek itu. Sebab Indonesia diperkirakan akan mengalami seperti Tunisia, Mesir dan Libia, karena tidak mampu menciptakan harga-harga murah dan lapangan kerja buat rakyat. Juga isu santer bahwa SBY mungkin tidak bisa bertahan hingga 2014. Pola-pola seperti ini biasa dilakukan di masa lalu. Satu contoh bahkan di masa Sukarno saja, kelompok musik mengklaim dibayar Sukarno agar mau masuk penjara dengan isu musik ngak-ngik-ngoknya, akibat tekanan publik. Di masa Pak Harto lebih banyak dan lagi kejam. Tak perlu dirinci di sini. SBY juga melakukan hal sama meskipun terlihat seolah-olah tidak kejam terhadap rakyat. Tapi menyengsarakan rakyat banyak apa tidak kejam? Tapi pesaing-pesaing atau komponen-komponen SBY yang kini di luar kekuasaan juga sepertinya pengecut, dan beraninya hanya bicara atau sedikit memprovokasi dan tidak berani bertindak terang dan sistematis melengserkan SBY, meski situasi negeri ini sudah parah begini. Padahal oposisi-oposisi di Tunisia, Mesir dan Libia sangat canggih dalam menggerakkan dan memicu unjuk rasa besar efektif melengserkan. Ini bukan soal 2 tahun, 30 tahun, 40 tahun orang berkuasa, tetapi soal rakyat yang semakin dibuat lapar dan ketidak adilan serta korupsi semakin bebas lepas.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s