Cerpen: Mobil Pengantin

Posted on Updated on

Mobil Pengantin
Cerpen: Sunlie Thomas Alexander
Jawa Pos Minggu, 05 Juli 2009

DULU, setiap pasangan pengantin Tionghoa di kota kecil kami selalu diarak berkeliling dengan mobil. Seingatku mobil itu sedan Mitsu­bishi buatan tahun 70-an, milik seorang pemilik salon yang memang khusus direntalkan untuk keperluan mobil pengantin. Sedan itu biasanya dirias meriah dengan sulur-sulur pita panjang berwarna-warni yang melintang dari depan moncong ke belakang dengan ikatan simpul yang indah di atas atapnya serupa ikatan pita pada kotak kado. Di bagian moncong mobil itu juga dipasangi rangkaian kembang aneka rupa dan sebuah boneka kecil berwujud pengantin perempuan.

Kedatangan mereka akan ditandai oleh hentakan musik tanjidor yang gegap gempita memainkan lagu-lagu yang lagi hits kala itu, baik pop Mandarin dan Barat, maupun lagu-lagu pop Melayu atau dangdut. Sebagai kanak-kanak, aku dan teman-teman sebaya pun berhamburan keluar rumah meninggalkan sarapan dan film si Unyil di televisi, atau permainan yang sedang seru-serunya di pekarangan, lalu melonjak-lonjak kegirangan di pinggir jalan demi menyaksikan perarakan (Ai, kebanyakan mereka lewat pada Minggu pagi, entahlah kenapa orang-orang Tionghoa di kota kecil kami lebih suka menikah di hari Minggu).

”Pengantin lewat! Pengantin lewat!” teriak kami sambil melambai-lambaikan tangan ke arah sedan pembawa kedua mempelai yang berada di bagian terdepan rombongan dan disusul mobil bak terbuka dengan bangku panjang berhadap-hadapan yang membawa para pemain tanjidor, baru kemudian barisan mobil pengantar yang berisi keluarga, sanak-kerabat, dan sahabat kedua mempelai.

”Pengantin perempuannya cantik, tapi mempelai laki-lakinya tampak bodoh!” terkadang terlontar pula dari mulut jahil kami kata-kata sadis itu. Tapi jika pasangan pengantin itu ramah, mereka akan tersenyum dan melambaikan tangan keluar jendela sedan membalas sambutan kami.

”Peeeleee, peelleeeeee chuuumm…! Sin ngiong kauw loo kuuunng!”[1] sorak-sorai kami terdengar riuh sepanjang jalan sambil terus berjingkrak-jingkrak menirukan sesuara alat musik tanjidor. Aku dan teman-teman sebayaku selalu berangan-angan suatu hari nanti kami pun akan dibawa dengan mobil pengantin itu menyusuri jalanan kota.

Mereka diarak berkeliling di jalan-jalan utama kota kecil kami, dari rumah pengantin perempuan menuju rumah pengantin lelaki di mana prosesi per­nikahan dilanjutkan kembali setelah sang mempelai perempuan dijemput. Kami akan terus bersorak-sorai dan melambai-lambai hingga mobil ter­akhir rombongan pengantin itu lenyap di tikungan jalan meninggalkan gema musik tanjidor. Bahkan sampai jauh mereka pergi, kami masih terus melambai-lambai di tepi jalan. Gema musik tanjidor dan bayangan mobil pengantin yang dirias meriah itu masih saja terting­gal dalam pikiran dan hati kami. Dan kemudian mengilhami kami bermain pengantin-pengantinan.

Kami berkeliling di pekarangan rumah dengan sepeda mini yang kami rias dengan kertas-kertas klip dan kertas mas beragam warna, juga bu­nga-bunga yang kami petik dan rangkai sendiri dan kami letakkan pada bagian depan keranjang sepeda. Yang paling sering menjadi pengantin adalah aku dan Mei Cin. Ia meminjamkan boneka pengantin oleh-oleh pamannya dari Jakarta untuk diikat pada stang sepedaku. Lalu kami pun didaulat berboncengan sepeda yang telah kami amsal sebagai mobil pengantin itu dengan diiringi teman-teman lain di belakang sambil bernyanyi, menabuh kaleng dan meniup terompet kertas menirukan para pemusik tanjidor. Mei Cin selalu tampak cantik dan manis dengan gaun pestanya serta rambut tergulung rapi yang dirias oleh anak-anak perempuan lain dengan rupa-rupa kembang dan pernik-pernik manik…

Ah! Begitulah masa kanak-kanak yang semanis gulali, Kawan. Kau tahu, betapa menggemaskannya!

***

KINI, tentu saja tidak ada lagi pengantin yang diarak dengan mobil di kota kecil kami. Orang-orang lebih suka melangsungkan pesta pernikahan di gedung sewaan (gedung olahraga atau serbaguna milik perusahaan timah) atau bolehlah hotel berbintang tiga di kota kabupaten, tanpa perlu berkeliling kota dengan mobil pengantin. Yang tak punya banyak biaya, cukuplah mengadakan resepsi sederhana di rumah mempelai perempuan atau laki-laki dengan menggelar pe­lamin­an merah menyala.

Kelompok tanjidor dengan pemusiknya yang sudah tua-tua dan satu-dua pemain lebih muda yang menggantikan personal-personel yang telah meninggal memang masih ada, tetapi mereka sudah jarang tampil. Paling hanya pada acara-acara pemakaman atau sembahyang kubur dengan membawakan lagu-lagu duka. Tentunya, orang-orang lebih senang mengundang musik band atau organ tunggal dengan biduannya yang cantik dan seksi.

O, rasa kehilangan kami pun kian sempurna pada setiap kepulangan! Didera kenangan.

Tapi jangan menuding zaman, Kawan. Karena kami tahu betul bagaimana mulanya tradisi perarakan pengantin itu lenyap dari kota kelahir­an kami. Seperti halnya haru-biru masa kecil kami yang terus diawetkan, kisah ini pun tetaplah mengendap sebagai trauma dalam kehidupan sebuah kota kecil.

Hmm, kau ingin tahu ceritanya bukan? Bagaimana dan apa yang menyebabkan mobil pengantin menghilang dari kota kecil kami?

***

AI, kalau saja peristiwa naas itu tak pernah terjadi, barangkali tradisi mobil pengantin masih akan tetap hidup di kampung halaman yang kami cintai ini. Tak cuma sekadar bagian masa lalu yang penuh nostalgia di hati orang-orang yang bersetia pada kenangan. Tetapi bakal terus berkeliling kota membawa pasang­an-pasangan pengantin baru yang memupuk mimpi hidup bahagia untuk selama-lamanya seperti dongeng Pangeran dan Cinderella. Akan tetap menjadi hiburan tersendiri bagi kehidupan kota kecil kami yang monoton.

Namun Kawan, demikianlah peristiwa tragis itu terjadi. Perempuan separo baya itu menghambur ke tengah jalan ketika arakan pengantin sedang melintas, tertabrak mobil pengantin dan mati! Hari istimewa yang berbahagia pun segera berubah jadi mimpi buruk bagi kedua mempelai malang hari itu. Ah, bagaimana tidak buruk dan takkan menghantui kehidupan perkawinan kelak, bila mobil pengantin yang sedia­nya menjadi perlambang dari bahtera rumah tangga telah meminta korban di hari pernikahan; awal dari hidup baru yang penuh pengharapan! Duh…

Pengantin perempuan menjerit-jerit histeris. Sementara pengantin laki-laki tegak pucat pasi di depan korban yang tergeletak bersimbah darah (Darah itu memerciki moncong mobil pengantin, bunga-bunga, dan boneka!). Di matanya membersit ketakutan akan nasib ke depan yang seolah telah dipayungi awan mendung. Terlebih karena orang-orang ramai tanpa tenggang rasa bergunjing keras, mengulurkan prasangka, saling menerka isyarat dan pertanda apakah yang dilemparkan langit kepada keduanya! Duh, dosa apakah yang telah mereka perbuat hingga ditimpa bala sedemikian rupa?

Mungkin memang takdir buruk semata yang tak dapat ditolak. Tapi tentu takkan pengantin lelaki itu dihimpit rasa sesal yang sebegitu besar, seandainya ia tak berkeras melangsungkan pernikahannya pada Sabtu pagi tersebut, tanggal tatkala mereka pertama kali berjumpa. Padahal sinsang[2] yang bertugas menentukan hari baik sudah menyampaikan was-was. Konon, kitab Thung Su[3] yang dibuka telah memberi ingat agar tidaklah melangsungkan hajat pada hari Sabtu, sebab hari itu merupakan Ciong[4] bagi shio keduanya. Sabtu adalah hari panas yang berunsur api di bawah naungan Mars. Namun, ia hanya tertawa mencemooh, bersikeras!

Orang-orang pun menuduh-me­nyalahkan, mencemooh penuh kemarahan. Dan semenjak itu mitos dan adat pun kian kental terpelihara di kota kecil kami. Sebagai ketakutan!

***

TETAPI gerangan apa yang membuat perempuan separo baya tersebut nekat berlari ke tengah jalan pagi itu hingga mati tertabrak mobil pengantin yang malang? Hal apa yang membuatnya –konon begitulah kesaksian orang-orang– seperti sengaja menyongsong laju kendaraan? Kau ingin tahu juga kan?

Hampir setiap orang Tionghoa di kota kecil kami mengenal Bibi Hwa, demikianlah perempuan yang mati itu dipanggil, sebagai seorang perawan tua yang tinggal bersama keluarga keponakannya. Orang tuanya sudah lama meninggal, dan keponakannya itulah satu-satunya keluar­ganya yang masih tinggal di kota kecil kami. Sehari-hari Bibi Hwa berjualan kemplang[5] dari rumah ke rumah. Kem­plang itu buatannya sendiri, yang digo­reng dengan pasir dan biasanya dibungkus dengan kantung plastik besar yang diboncengkan di belakang sepeda kumbangnya. Semua orang menyukai Bibi Hwa dan kemplang-nya yang gurih, terutama anak-anak kecil seperti kami. Terlebih Bibi Hwa sering memberi lebih jika kami membeli kemplang-nya, bahkan kadangkala ia memberi gratis kalau kami lagi tak punya cukup uang. Meski, kata orang-orang, pikiran Bibi Hwa sedikit terganggu. Ia suka tertawa dan menangis sen­diri, dan kami pun pernah memergoki­nya tiba-tiba cekikikan tanpa sebab di atas laju sepeda! Tapi kami tak peduli, ba­gi kami ia tetap saja baik hati dan me­nye­nangkan ketika diajak bersenda gurau.

Ah, ”penyakit”-nya itu konon berasal dari masa lampau yang getir, sepahit empedu dan hendak dikuburnya sedalam mungkin, demikian orang-orang menebar kisah tua. Masa lalu, yang sesekali suka kembali mendera: dengan tak tertanggungkan! Membuat hati setiap orang yang tahu ceritanya pun menjadi iba, dan membuat Bibi Hwa tak pernah berhasrat menikah…

Dulu, di waktu mudanya –cerita orang-orang– kecantikan Bibi Hwa pernah membuat banyak lelaki tergila ingin mempersuntingnya (Ai, bukankah kecantikan itu seolah tak habis dimakan usia dan derita?). Tetapi hanya seorang lelaki sajalah yang berkenan di hatinya. Keduanya telah lama saling mengenal. Lelaki itu, A Kwet, adalah bekas teman sekolahnya di Chung Hwa Hwee Kon[6] yang tak pernah berijazah lantaran sang bapak keburu meninggal. A Kwet kemudian bekerja sebagai buruh bangunan sebelum akhirnya berjualan sayur-ikan di pasar.

Toh, Bibi Hwa tegas memilih teman sekolahnya itu, meskipun yang menyukai dirinya tak kurang anak-anak orang berada dan orang tuanya sendiri sebenarnya kurang restu (Hm, tentunya berharap ia dapat dipersunting seorang kaya. Ya, maklumlah orang tuanya sendiri cuma pedagang toko kelontong kecil-kecilan. Tentu menantu yang berduit akan ikut memperbaiki nasib mertua pula, hahaha!) Namun apa mau dikata, keduanya saling suka. Ketika A Kwet datang melamar, orang tua Bibi Hwa pun tak kuasa lagi menolak. Dan hari pernikahan kemudian segera ditetapkan.

Tetapi, inilah kisah getirnya: Setelah semua telah rapi diatur pada pagi yang cerah itu, dan sang mempelai lelaki bersiap menjemput mempelai perempuan, segalanya mendadak berkhianat!

Padahal betapa Bibi Hwa yang telah didandani dengan pakaian pengantin merah beludru lengkap dengan kembang-kembang emas di kepala, tampak begitu sumringah. Sungguh cantik merona, puji orang-orang berdecak. Semua sanak keluarga pun telah menunggu tak sabaran mulainya prosesi adat nikah.

Namun sampai waktu yang telah ditentukan, sang pengantin lelaki tak kunjung bertandang. Semua orang mulai bergunjing dengan gelisah. Pihak pengantin perempuan baru saja hendak mengutus seorang kerabat pergi menanyakan segala hal ihwal; siapa tahu ada kendala yang tak disangka. Belum sempat utusan itu berangkat, tiba-tiba seorang kemenakan telah datang mendahului dengan tersaruk-saruk membawa kabar duka. Tak mungkin! Semua orang terperangah, tercengang tak percaya. Bibi Hwa sendiri terbeliak, menjerit lalu jatuh pingsan sebelum kalimat terbata-bata itu habis meluncur dari mulut sang pembawa berita. Kabar duka itu kemudian berhembus lebih cepat dari angin: Pengantin lelaki hari itu meninggal dalam mobil pengantin dalam perjalanan menjemput mempelainya!

Suara-suara kaget seperti dengung kawanan lebah, mengundang kegemparan di seantero kota kecil kami. Tak seorang pun yang tahu pasti bagaimana sebetulnya kejadian! Kecuali bahwa A Kwet keracunan minuman yang belum lama berselang diteguknya saat hendak berangkat. Itu pun diketahui kemudian setelah jenazah dan bekas gelas minum­an diperiksa oleh satu-satunya dokter yang berpraktik di kota kecil kami kala itu. Semua orang terpana.

Siapa yang telah melakukannya? Apa motifnya? Polisi tidak berhasil mendapatkan petunjuk. Yang ada, hanya hembusan isu kalau salah seorang lelaki yang ditolak Bibi Hwa-lah yang punya kerja, barangkali lewat tangan orang suruhan yang menyamar jadi seorang kemenakan jauh. Namun jauh hari kemudian, ada pula yang mengait­kannya dengan peristiwa besar di tahun 65. Tentu dengan berbisik-bisik, jika A Kwet yang diketahui menjadi bendahara perkumpulan Lo Kung Fei[7], telah disingkirkan lebih awal oleh kawan-kawannya sendiri setelah ketahuan diam-diam menggelapkan dana, juga beras-gula-gabah. Di samping menjual arsip-arsip bernilai yang rahasia kepada tentara!

Mana yang benar, sampai kini tetap pekat. Yang jelas, sejak kejadian itu, Bibi Hwa makin menjauhkan diri dari kaum lelaki (Meski tetap banyak yang berkenan meminang). Sampai menjadi perawan tua yang suka tertawa-menangis sendiri, sampai peristiwa ia menghamburkan diri ke tengah jalan menyongsong mobil pengantin yang melintas lewat dan tertabrak mati.

Ah, pengantin lelaki yang malang tersebut, syahdan, menurut orang-orang, wajahnya begitu mirip-serupa dengan A Kwet!

***

YA, sejak itulah, sejak kejadian tragis tak terduga itu, tak ada lagi mobil pengantin dengan gegap gempita iring­an musik tanjidor di kota kecil kami. Entah kenapa orang-orang seolah begitu takut untuk memeriahkan pesta pernikahan dengan perarakan mobil pengantin keliling kota; tapi cukuplah menggelar resepsi di rumah dengan hiburan band atau organ tunggal seadanya. Mungkin ada semacam rasa kuatir jika malapetaka serupa bakal berulang –bala yang akan mengundang ilusi buruk sepanjang usia perkawinan sepasang pengantin malang! Atau kare­na menganggap kejadian naas tersebut merupakan sebuah isyarat bila tata prose­si perarakan pengantin dengan mobil tidaklah disukai para dewa (Ai, sudah kukatakan jika mitos kian kental menggeliat di kota kecil kami!).

Ya, tentu banyak yang merasa kehilangan, terutama kami anak-anak. Terasa hingga kami dewasa dan satu per satu menikah. Kebanyakan dari kami menikah di tanah rantau dengan orang jauh, termasuk Mei Cin.

Aku menyempat diri datang saat ia melangsungkan resepsi pernikahannya di sebuah villa mewah di Puncak. Lama kami bersitatap, tertegun dengan kenang­an yang mengalir deras, ketika aku menyalaminya untuk mengucapkan selamat. Seperti ada sesuatu –yang lebih dari sekadar nostalgia– membuncah hebat di mata kami berdua. Dan, diam-diam aku merasa dijalari oleh semacam perasaan gerah. Mungkinkah itu perasaan cemburu atau rasa kehilangan yang nyata? Entahlah.

***

Belinyu-Jogjakarta, 2005-2009

Catatan:

[1] “Pele, pele chum… Pengantin menikah!”

[2] Dukun China.

[3] Semacam buku primbon.

[4] Secara harfiah dapat diartikan sebagai sebuah posisi saling berhadapan, “via a vis”. Dalam khazanah kosmologi China, posisi ini merupakan posisi yang sangat rawan karena bakal menuntut korban. Ciong juga berarti semacam “sekak” dalam permainan Catur Gajah.

[5] Kerupuk khas Bangka, kebanyakan dipanggang namun ada juga yang digoreng dengan pasir panas.

[6] Sekolah Tionghoa yang ditutup oleh pemerintah sekitar tahun 60-an.

[7] Perkumpulan Tionghoa yang bernaung di bawah PKI.

Iklan

4 thoughts on “Cerpen: Mobil Pengantin

    kacahati said:
    5 Juli 2009 pukul 12:48

    cerita yang menyentuh temukan artikel islam di sini

    FENDI said:
    22 Agustus 2009 pukul 05:54

    Menyewakan berbagai jenis mobil khusus untuk pengantin :
    – Mercedes Benz ( C class / E class / S class)
    – BMW
    – Alphard
    – Jaguar
    – Camry
    Warna silver ( 8 jam DKI, termasuk BBM, bunga, dan driver):

    Dan mobil keluarga Kijang / Panther

    Fendi
    9371.58.95
    3212.78.68
    0816.77.67.67

    Menyewakan berbagai jenis mobil khusus untuk pengantin :

    – Mercedes Benz ( C class / E class / S class)
    – BMW
    – Alphard
    – Jaguar
    – Camry
    Warna silver ( 8 jam DKI, termasuk BBM, bunga, dan driver):

    Dan mobil keluarga Kijang / Panther

    Fendi
    9371.58.95
    3212.78.68
    0816.77.67.67

    Menyewakan berbagai jenis mobil khusus untuk pengantin :
    – Mercedes Benz ( C class / E class / S class)
    – BMW
    – Alphard
    – Jaguar
    – Camry
    Warna silver ( 8 jam DKI, termasuk BBM, bunga, dan driver):
    Dan mobil keluarga Kijang / Panther

    Fendi
    9371.58.95
    3212.78.68
    0816.77.67.67

    FENDI said:
    31 Agustus 2009 pukul 10:13

    Menyewakan berbagai jenis mobil khusus untuk pengantin :
    – Mercedes Benz ( C class / E class / S class)
    – BMW
    – Alphard
    – Jaguar
    – Camry
    Warna silver ( 8 jam DKI, termasuk BBM, bunga, dan driver):

    Dan mobil keluarga Kijang / Panther

    Fendi
    9371.58.95
    3212.78.68
    0816.77.67.67

    Menyewakan berbagai jenis mobil khusus untuk pengantin :

    – Mercedes Benz ( C class / E class / S class)
    – BMW
    – Alphard
    – Jaguar
    – Camry
    Warna silver ( 8 jam DKI, termasuk BBM, bunga, dan driver):

    Dan mobil keluarga Kijang / Panther

    Fendi
    9371.58.95
    3212.78.68
    0816.77.67.67

    Menyewakan berbagai jenis mobil khusus untuk pengantin :
    – Mercedes Benz ( C class / E class / S class)
    – BMW
    – Alphard
    – Jaguar
    – Camry
    Warna silver ( 8 jam DKI, termasuk BBM, bunga, dan driver):
    Dan mobil keluarga Kijang / Panther

    Fendi
    9371.58.95
    3212.78.68
    0816.77.67.67

    Maudy Usn said:
    22 Desember 2009 pukul 10:14

    “.Ceritanya hebat serius banget.,, dan kisah’a tragis., begitu juga saat perpisahan dengan seorang tmen yg bgtu mengharukan seakan tdk rela sahabatnya di sunting orang lain..!!

    Sukses selalu…

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s