Tidak perlukah istri bekerja?

Posted on Updated on

Ustad, ada sepasang suami istri yang menikah di usia muda, sang suami berpenghasilan pas2an. KArena kondisi itulah, orang tua sang istri menginginkan sang istri melanjutkan pendidikan (universitas) yang lebih tinggi lagi dengan alasan kelak bisa membantu suami mencari nafkah, dan kelak jika terjadi apa2 dengan suami , sang istri tidak jatuh ( down ) secara mental dan materi, dan bisa berdiri sendiri. Namun pada saat sang istri menjalani kehamilan ke 2, justru hati kecilnya terpanggil untuk menjadi ibu rumah tangga saja, karena sang istri tidak ingin menghabisan waktu dengan hal lain dan mengorbankan perhatian dan kasih sayang yang pastinya nanti terbagi2.
JIka mengingat dengan kondisi perekonomian dan kata2 orang tua, sang istri bimbang lagi, ketika dia bertanya kepada teman2nya meminta saran, teman2nya bila sang istri harus melanjutkan pendidikannya sambil mengurus rumah tangga. Bukan ketenangan yang didapatkan, sang istri malah semakin ragu dengan saran2..karena dalam hatinya justru berkata, ini lah yang harusnya seorang istri lakukan ..mengurus rumah tangga, menjadi ibu yang baik…bukan menyamakan kedudukan seperti suami yang mencari nafkah…..
Terus dan terus pikiran itu membuat sang istri bingung, hatinya belum mantap..belum lagi membayangkan bagaimana menjelaskan keteguhan hatinya pada orang tua yang cemas dengan keadaan hidupnya yang pas2an atau mungkin kurang..

Menurut ustad, apa tindakan bijak yang harus di ambil sang istri??

Jawaban M Shodiq Mustika:

Tindakan bijak pertama adalah bertanya-tanya seperti berikut ini:

Siapa bilang, istri yang tidak bekerja merupakan sikap terpuji? Siapa bilang, istri harus mengurus rumahtangga saja tanpa bekerja? Siapa bilang, bekerja itu hanyalah untuk mencari nafkah atau pun menyaingi suami? Kalau kita semua masing-masing hanya memikirkan anak kita sendiri, siapakah yang mempedulikan anak-anak yatim dan para fakir miskin?

Saranku, perbanyaklah dzikir yang sebenar-benarnya. Ingatlah Allah! Ingatlah hamba-hamba-Nya! Tolonglah agama-Nya, sehingga kau pun ditolong oleh-Nya. Dengan dzikir seperti itulah kau dapat merasa tenang.

Untuk lebih jelasnya, silakan ambil pelajaran dari kutipan berikut ini.

Zainab radliallâhu ‘anha adalah seorang wanita shalihah, bertakwa dan tulus imannya, hal itu ditanyakan sendiri oleh sayyidah ‘Aisyah radliallâhu ‘anha tatkala berkata: ”Aku tidak lihat seorangpun yang lebih baik diennya dari Zainab, lebih bertakwa kepada Allah dan paling jujur perkataannya, paling banyak menyambung silaturrahmi dan paling banyak shadaqah, paling bersungguh-sungguh dalam beramal dengan jalan shadaqah dan taqarrub kepada Allah ‘Azza wa Jalla”.

Beliau radliallâhu ‘anha adalah seorang wanita yang mulia dan baik. Beliau bekerja dengan kedua tangannya, beliau menyamak kulit dan menyedekahkannya di jalan Allah, yakni beliau bagi-bagikan kepada orang-orang miskin. Tatkala ‘Aisyah mendengar berita wafatnya Zainab, beliau berkata: ”Telah pergi wanita yang mulia dan rajin beribadah, menyantuni para yatim dan para janda”. Kemudian beliau berkata: “Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para istrinya: ‘Orang yang paling cepat menyusulku diantara kalian adalah yang paling panjang tangannya…’ “.

Maka apabila kami berkumpul sepeninggal beliau, kami mengukur tangan kami di dinding untuk mengetahui siapakah yang paling panjang tangannya di antara kami. Hal itu kami lakukan terus hingga wafatnya Zainab binti Jahsy, kami tidak mendapatkan yang paling panjang tangannya di antara kami. Maka ketika itu barulah kami mengetahui bahwa yang dimaksud dengan panjang tangan adalah sedekah. Adapun Zainab bekerja dengan tangannya menyamak kulit kemudian dia sedekahkan di jalan Allah.

Ajal menjemput beliau pada tahun 20 hijriyah pada saat berumur 53 tahun. Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab turut menyalatkan beliau. Penduduk Madinah turut mengantar jenazah Ummul Mukminin, Zainab binti Jahsy hingga ke Baqi’. Beliau adalah istri Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang pertama kali wafat setelah wafatnya Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah merahmati wanita yang paling mulia dalam hal wali dan wakil, dan yang paling panjang tangannya.

sumber: http://www.alsofwah.or.id

11 thoughts on “Tidak perlukah istri bekerja?

    anne_chantique said:
    18 Juli 2009 pukul 17:30

    Thanks ustad, moga2 jadi masukan yang baik…

    NIAS said:
    22 Juli 2009 pukul 11:53

    NASEHAT YANG BAIK UNTUK DIDENGARKAN BAGI SEMUA ISTRI DI DUNIA…….
    AKAN TETAPI JIKA ISTRI MAU BEKERJA…..DEMI KELUARGA
    ITU MERUPAKAN HAL YANG PATUT DITIRU
    ASALKAN JANGAN SAMPAI MENINGGALKAN TUGAS SEORANG ISTRI………

    Zeit abdullah said:
    22 Juli 2009 pukul 12:48

    Saya sangat setuju dgn cerita itu.
    Tapi ingat jgn mentang2 sama2 cari duit, si istri jadi keras kepala

    KangBoed said:
    22 Juli 2009 pukul 13:00

    Yang utama berbagi waktunya

    bambang edi winarso said:
    24 Juli 2009 pukul 22:22

    assalamualaikum Wr. Wb

    Jika kondisinya seperti itu, mungkin aku bisa menambahkan:

    Al-Hushin bin Mushan ra meriwayatkan bahwasanya suatu hari hari bibinya menemui Rasulullah saw untuk menyampaikan suatu keperluan, ketika selesai Rasulullah saw bertanya kepadanya, “apakah engkau mempunyai suami? dia menjawab, “Ya” Lalu Rasulullah saw bertanya, “Bagaimana Engkau bersamanya?” Dia menjawab, “Aku tidak menolak apa yang diperintahkan kepadaku kecuali aku tidak mampu mengerjakanya”,/i>

    Kemudian Rasulullah saw berkata, “Lihatlah di mana Engkau berada bersamanya, sesungguhnya dia adalah surga dan nerakamu”

    Intinya, kamu harus minta izin atau berdiskusi dengan suamimu, jika dia melarang, kamu tau apa yang harus dilakukan, dan jika dia mengatakan “boleh” maka batasi dirimu dari suatu hal yang menyakitinya.

    Semoga membantu

    Wassalam

    JS said:
    31 Juli 2009 pukul 12:34

    Saya sedikit mengomentari tulisan ini. Untuk menjawab pertanyaan tersebut tidak bisa kita samakan kepada semua orang, karena tidak semua orang sama keadaannya. Bagi anda mungkin perlu istri bekerja, bagi saya mungkin tidak atau sebaliknya. Yang perlu saya beritahukan setelah adanya ijab kabul (menjadi suami istri) timbul kewajiban bagi masing masing yang mana kewajiban suami sebagai pimpinan utama : Keamanan, Pangan, Sandang, Papan, sementara kewajiban istri yang utama : Keharmonisan, kebersihan, keindahan, kesehatan, kecantikan dan apabila dilihat saat ini banyak para istri yang bekerja biasanya tantangan/godaan bertambah besar lagi.
    Setelah adanya ijab kabul saya berpendapat yang namanya emansipasi tidak berlaku lagi, pimpinan adalah suami.

    bima said:
    3 Agustus 2009 pukul 16:46

    hadis di atas riwayat siapa, ya?
    buat mentoring ni…
    hehe…
    ditunggu ya pak jawabannya…

    inerbeuty said:
    5 Agustus 2009 pukul 13:56

    pak ustad aku mau curhat nich….aku punya orang tua…ayah ku berpenghasilan pas2an bahkan kurang buat hidup stu minggu…tyus ibuku harus cari kerja sampingan…dengan jualan……sehingga kami kekurangan dan banyak hutang…tyus setiap hari ibuku saelalu memancing amarah dan bertengkar sama bapakku….karena bapkku bayarnya cuma sedikit…gak tiap hari…malah setiap jam ibuku selalul mengomel trus karena masalah ekoneomi…yang jadi pertanyaan ku…apa ibuku g durhaka ya….seharusnya dia memghargai pendapatan sang suami meskipun cuma sedikit…tapi ibuku selalu memojokkan ayah..menurut pak ustad gimana nich?

      Bams Winarso said:
      5 Agustus 2009 pukul 14:15

      inerbeauty
      Aku turut prihatin dengan keadaan keluargamu, mudah-mudahan akan selalu ada jalan bagi orang yang selalu berusaha, Tapi tentu saja diiringi dengan doa yang tulus meminta kepada Allah.
      Tanpa kamu sadari kamu sudah menjawab petanyaanmu sendiri. Seorang suami adalah pemimpin di rumah, dan wajib dihormati. Terlepas dari besar kecil pendapatan seorang suami, adalah kewajiban bagi Istri untuk memberikan support, doa dan juga bantuan secara materi dengan ikut bekerja.
      Aku tidak akan mengatakan ibumu durhaka, karena aku tidak berhak mengadili. Tapi, seperti yang kamu bilang, seharusnya ibumu menghargai apapun usaha suami meskipun tidak seberapa.
      Mudah-mudahan selalu ada petunjuk bagi orang yang berusaha dan tawakal.
      semoga membantu
      Shodiq.com’s Public Relation

        inerbeuty said:
        31 Agustus 2009 pukul 13:11

        trima kasih ……atas sarannya…memang sich benar.tapi ibu ku selalu saja marah-marah padahal ayahku sudah bertanggung jawab atas keluarganya….yang saya bingungkan saya harus memihak yang mna ya?

          nura said:
          30 Desember 2009 pukul 11:48

          pak ustadz saya juga mau tanya, saya bekerja dan suami juga bekerja, karna kebutuhan hidup yang sangat tinggi meskipun kami bekerja tapi memang cuma pas pas aja, yang ingin saya tanyakan sejak saya bekerja, suami tidak pernah memberi saya uang belanja lagi, dan 80% uang gaji saya pun saya pakai untuk membantu pengeluaran keluarga… yang ingin saya tanyakan pak ustadz, jika di sini saya betul betul tidak dapat menikmati hasil keringat saya dan terkadang saya harus lebih mengencangkan ikat pinggang, sedangkan si suami tidak lagi memberi uang padahal jika saja dia mau sedikit sederhana pasti ada uang lebih … dan jika ada parttime job yang di kerjakan dia hasil nya dia masukkan ke tabungan bersama , tapi jika saya mengambil nya selalu ada kontradiksi dan pertengkaran dulu. yang saya ingin tanyakan apakah saya salah jika saya menuntut hak saya dari suami ??? sedangkan 80% penghasilan saya pun saya gunakan untuk membantu pengeluaran rumah tangga , wasalam terisma kasih atas jawaban nya

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s