Seberapa Ikhlas Kau Beribadah?

Posted on Updated on

Assalamualaikum Wr Wb

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat-Nya sehingga di kesempatan kali ini aku dan pembaca masih bisa bertemu dalam keadaan sehat walafiat. Meskipun kita bertemu melalui dunia maya, namun silaturahmi secara batin dengan saling mendoakan jauh lebih nikmat, apalagi jika dilakukan dengan Ikhlas. Nah, kali ini aku ingin membahas tentang Ikhlas dan essensinya.

Pengertian Ikhlas dan Essensinya
Menurut bahasa, di dalam kata Ikhlas terkandung beberapa makna yang menggambarkan inti dari Ihklash, yaitu; jernih, bersih, suci dari campuran dan pencemaran, baik berupa materi maupun non materi. Rasulullah saw pernah bersabda tentang sifat yang mulia ini, “Barangsiapa yang tujuan utamanya meraih pahala akhirat, niscaya Allah akan menjadikan kekayaannya dalam kalbunya, menghimpunkan baginya semua potensi yang dimilikinya, dan dunia akan datang sendiri kepadanya seraya mengejarnya. Sebaliknya, barangsiapa yang tujuan utamanya meraih dunia, niscaya Allah akan menjadikan kemiskinannya berada di depan matanya, membuyarkan semua potensi yang dimilikinya, dan dunia tidak akan datang sendiri kepadanya kecuali menurut apa yang telah ditakdirkan untuknya“. (HR: Tirmidzi).

Ikhlas adalah modal sekaligus bekal dan kemudi ama sholih dalam keadaan apapun, keikhlasan menjadi pintu dari segala amal kebaikan baik berupa pahala dari pemberian materi ataupun non materi seperti ilmu, nasehat dan pikiran. Dengan Ikhlaslah pahala kebaikan itu akan diterima oleh Allah SWT, pilar Ikhlas menjadi sangat penting ketika seseorang menginginkan ridho-Nya atas segala amal perbuatannya di dunia meskipun sedikit. seperti yang ditegaskan dalam sebuah riwayat Ad-Dailami, “Ikhlaslah kamu dalam beramal, maka cukuplah amal yang sedikit yang kamu lakukan”.

Buruknya Riya
Lawan dari Ikhlas adalah Riya. Makna riya dapat diartikan di mana seorang muslim memperlihatkan amalnya pada manusia dengan harapan mendapat posisi, kedudukan, pujian, dan segala bentuk keduniaan lainnya. Riya merupakan sifat atau ciri khas orang-orang munafik. Disebutkan dalam surat An-Nisaa ayat 142, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat itu) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”

Bahkan Riya disebut oleh Rasulullah saw sebagai bagian dari kemusyrikan. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Riya. Allah berkata di hari kiamat ketika membalas amal-amal hamba-Nya, ‘Pergilah pada yang kamu berbuat riya di dunia dan perhatikanlah, apakah kamu mendapatkan balasannya?’” (HR Ahmad).

Dan orang yang berbuat riya pasti mendapat hukuman dari Allah swt. Orang-orang yang telah melakukan amal-amal terbaik, apakah itu mujahid, ustadz, dan orang yang senantiasa berinfak, semuanya diseret ke neraka karena amal mereka tidak ikhlas kepada Allah. Kata Rasulullah saw., “Siapa yang menuntut ilmu, dan tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan perhiasan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan wangi-wangi surga di hari akhir.” (HR Abu Dawud)

Seperti kisah nyata yang aku temui di sebuah desa kecamatan yang makmur dan maju. Di desa tersebut ada tiga orang kaya yang memiliki kekayaan yang luar biasa dalam ukuran penduduk di sana. Sebut saja mereka bertiga Haji Jasman, Haji Pardi dan Haji Tarno. Ketiganya telah menunaikan ibadah haji pada tahun 2004, ketika itu aku masih berada di sana.

Ketiga Haji itu terkenal dermawan kepada masyarakat miskin dan sering menyumbangkan sejumlah uang pada saat hari raya Idul Fitri tiba. Hanya saja ada yang menarik perhatianku atas perilaku ketiganya. Kebetulan di desa itu memiliki kebiasaan menyebutkan nama penyumbang yang memberikan sebagian hartanya baik kepada mesjid, anak yatim maupun madrasah. Tapi ada yang menarik dari ketiga Pak Haji nan kaya tersebut. Ketiganya tampak terlibat dalam persaingan untuk menjadi penyumbang uang terbanyak. Seperti pada hari raya Idul Fitri tahun 2006, Pak Haji Jasman terlihat sangat bangga ketika namanya disebut dengan lantang sebagai penyumbang terbesar tahun ini.

Nah, persaingan itu semakin terlihat ketika di tahun berikutnya giliran Pak Haji Tarno yang menyumbangkan uang tertinggi dibandingkan kedua Pak Haji yang lain. Dan hebatnya, pada saat itu juga Haji Jasman yang terkenal tak mau kalah lantas mengeluarkan sejumlah uang yang lebih besar dibandingkan sumbangan Pak Haji Tarno. Kontan saja para jemaah lain tertawa sambil tepuk tangan. Aku bisa melihat betapa bangganya Haji Jasman mendengar sorak sorai yang dianggapnya sebagai pujian (wallau ‘Alam)

Pada hari raya tahun lalu pun ketiga Haji itu masih terlibat persaingan untuk menjadi penyumbang terbanyak. Haji Pardi yang kabarnya baru saja menjual tanahnya senilai setengah Milyar rupiah langsung berdiri dan menyerahkan sejumlah uang yang jujur saja jumlahnya membuat saya tercengang. Jemaah di sampingku waktu itu lantas berbisik, “Pasti Haji Tarno dan Haji Jasman panas.” Lalu aku balas, “Panas kenapa?” Jemaah yang berbisik tadi mendekatkan lagi wajahnya ke arahku, “Soalnya gelar penyumbang terbanyak direbut sama Haji Pardi.”

Aku yang semula tidak begitu memahami kata-katanya orang tadi perlahan mulai mengerti setelah mendengar cerita bahwa ketiganya memang sering berkompetisi untuk menjadi penyumbang terbanyak di mesjid itu. Ketiganya sering kali membanggakan predikat penyumbang terbanyak ke tetangga dan kerabat mereka. Bahkan jika gelar itu direbut oleh orang lain, mereka tak segan-segan mengatakan bahwa uang sumbangan orang itu berasal dari hasil yang tidak benar alias haram.

Persaingan dalam beribadah memang disukai Allah SWT, tapi benarkan cara yang mereka pakai dengan tidak mengindahkan nilai keihklasan dalam ibadah mereka.

Gambaran seperti ini telah diceritakan, saat Rasulullah saw meminta dari pada sahabatnya untuk bersedekah. Umar ra berkata, ‘Kebetulan aku mempunyai harta, maka aku berkata, ‘Pada hari ini aku mendahului (melebihi) Abu Bakar ra, jika aku bisa mendahuluinya pada suatu hari- lalu aku datang dengan setengah hartaku. Rasulullah saw bertanya, ‘Apakah yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ Aku menjawab, ‘Seumpamanya (sama seperti jumlah ini).’ Dan Abu Bakar ra datang dengan semua miliknya, maka beliau bertanya, ‘Wahai Abu Bakar, apakah yang engkau sisakan untuk keluargamu? Maka ia menjawab, ‘Aku tinggalkan untuk mereka Allah SWT dan Rasul-Nya.’ Saat itulah Umar ra berkata, ‘Aku tidak bisa mendahuluinya (melebihinya) untuk selamanya. Shahih Sunan at-Tirmidzi, kitab al-Manaqib, bab ke-41, hadits 2902/3939 (Hasan).

Seperti inilah persaingan di antara sesama teman sejawat dengan rasa cinta dan hormat, bukan dengan rasa dendam dan penghinaan.

Demikian, kesempurnaan hanya milik Allah SWT
Wassalam

9 thoughts on “Seberapa Ikhlas Kau Beribadah?

    cenya95 said:
    10 Agustus 2009 pukul 15:34

    Bukan sekedar mimpi, ganti tampilan karena tak ada yang tak mungkin untuk berbuat baik. Semoga sukses.
    Salam superhangat

    Atsir shyhana said:
    13 Agustus 2009 pukul 07:59

    Assalamu’alaykum pak ustad, gimana caranya yah agar ibadah kita ikhlas tanpa paksa atau Riya ?

      Bams Winarso said:
      13 Agustus 2009 pukul 08:39

      Atsir Shyhana
      Agar beribadah tetap ikhlas dan tidak riya, jangan bayangkan bahwa seseorang tengah memandangmu saat beribadah.
      Jika ibadadmu khusyuk insya Allah terhindar dari riya.
      shodiq.com’s public relation

    Atsir shyhana said:
    15 Agustus 2009 pukul 17:40

    Oh, jazakallah khair pak ustad,

    isaac said:
    18 Agustus 2009 pukul 10:21

    pa ustat, apakah sama ikhlas dengan ridha? setahu saya ikhlas itu seperti yang diterangkan Allah di dalam qs Al-ikhlas…?????? bagaimana ini?

    Yep said:
    20 Agustus 2009 pukul 15:11

    Terima kasih pencerahannya Pak Shodiq 🙂

    Yep said:
    20 Agustus 2009 pukul 15:12

    Pak Shodiq….Saya Juga Mohon Maaf Apabila Selama Ini Ada Kata-kata, Komentar dan lain-lain Yang Mungkin Kurang Berkenan dan Telah Menyinggung🙂

    Selamat Menunaikan Ibadah Puasa… Semoga Dengan Hati Yang Bersih – Ibadah Ramadhan Kita Dapat Diterima Oleh Allah SWT Serta Mendapatkan Ampunan Dan Limpahan RahmatNya. Amin

    Salam Hangat Untuk Seluruh Keluarga 🙂

    Wassalam
    Yep 🙂

    Sigi said:
    22 Agustus 2009 pukul 07:38

    Sungguh kisah ketauladanan yang mengharukan dari sahabat. Bagai oase dalam dunia modern saat ini..

    zepie said:
    16 Oktober 2009 pukul 05:12

    aslam…

    maaf, anda (penulis) tidak memahami ttg ke-IKHLAS-an..mohon tulisan di atas dikoreksi kembali..

    ke-IKHLAS-an itu sudah nyata di dalam Qs AL-IKHLAS yaitu ttg ke-ESA-an Allah ta’ala..kenapa kini maknanya dirubah???

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s