Beda Tipis antara Tegas dan Emosi dalam KDRT

Posted on Updated on

KDRT alias Kekerasan Dalam Rumah Tangga bukanlah hal yang asing lagi bagi masyarakat karena KDRT tidak hanya heboh dalam kisah sinetron saja tapi juga beken dialam nyata, kian hari kian merebak kisah kisruh KDRT tanpa sebab musabab yang jelas. KDRT adalah “setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan, atau penderitaan secara fisik, seksual psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga”.  Sebenarnya KDRT bisa menimpa siapa saja baik ibu, bapak, suami, istri, anak, pembantu rumah tangga, ataupun anggota keluarga lain yang tinggal serumah alias seatap misal bapak/ibu/mertua dll, namun Secara umum pengertian KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) lebih di persempit artinya sebagai bentuk penganiayaan seorang suami terhadap sang istri. Jarang sekali terjadi kekerasan istri terhadap suami kecuali bagi para SSTI (suami-suami takut istri). Seorang laki-laki/suami memiliki jabatan tertinggi dalam sebuah Rumah Tangga yakni sebagai Pemimpin, jadi tidak selayaknya seorang suami takut kepada istri, seorang suami harus tegas dalam memimpin keluarganya. Tegas dalam artian tidak memaksakan sesuatu yang mutlak kepada Istri, sehingga menimbulkan penderitaan baik fisik ataupun psikologis. Salah satu sebab musabab kisah kisruh adalah karena kekilafan suami akan Beda Tipis antara Tegas dan Emosi dalam KDRT sehingga terjadilah pemahaman yang keliru.

“Tegas merupakan suatu tindakan tanpa dasar Emosi”, namun secara tidak sadar banyak orang ingin bertindak tegas atas dasar emosi dan alhasil bukanlah ketegasan tapi kekerasan. Ketegasan yang dilakukan suami sebagai kepala keluarga harus melihat kepada manfaat dan permasalahan yang terjadi. Jangan sampai di perdaya emosi sehingga berbuat suatu tindakan yang berlebihan yang mengacu pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Tapi jangan sampai pula, seorang suami membiarkan istri berbuat pelanggaran hanya dengan dalih khawatir melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Tegas yang benar-benar tegas bukanlah tindakan yang harus disertai adegan kekerasan. Banyak kaum suami yang salah kaprah karena merasa tindakannya tegas atas potongan dalil Surat An-Nisa’:34 yang memperbolehkan seorang suami memukul istrinya. Parahnya lagi banyak kaum suami yang melakukan tindak kekerasan tanpa dalil apapun dan murni atas dasar emosi.

Jelas saja bahwa KDRT adalah tindakan tercela yang melanggar ketentuan agama dan cacat dimata hukum, karena KDRT berakibat fatal diantaranya adalah suami bisa dituntut ke Pengadilan sebab penganiayaan terhadap istri merupakan tindakan yang melanggar KUHP. Rumah Tangga menjadi berantakan (Broken Home). mengakibatkan gangguan mental (kejiwaan) terhadap istri maupun anak. melanggar syari’at agama. Sebagaimana kita ketahui bahwa Agama mengajarkan kita untuk mewujudkan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah bukanlah suatu KDRT.

Dengan adanya dampak buruk akibat KDRT sudah selayaknya para suami untuk bisa membedakan mana yang benar-benar tegas dan mana yang sok tegas dengan tetap mengontrol emosi. Sebelum terjadi KDRT yang berkelanjutan segeralah mencari solusi untuk mengatasi KDRT, Perceraian memang halal tapi itu adalah tindakan yang dibenciNya, yang perlu di ingat adalah bahwa perceraian bukanlah solusi terakir dalam mengatasi masalah KDRT karena masih banyak solusi lain yang lebih baik.

Bagi para suami yang merasa tegas atas dasar dalil potongan Surat An-Nisa’:34 baiknya dipahami kembali isi kandungan secara utuh dari Surat An-Nisa’:3 jangan hanya sepotong-sepotong saja.
“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz, maka nasehatilah mereka, diamkanlah mereka di tempat tidur dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” [QS. An-Nisa’: 34]
Nusyuz adalah meninggalkan ketaatan kepada suami atau menentangnya, baik dengan perkataan maupun perbuatan.
Dalam surat An-Nisa’:34 tersebut dianjurkan bahwa jika seorang istri meninggalkan ketaatan kepada suami baik dengan perkataan ataupun perbuatan hendaknya langkah pertama yang dilakukan seorang suami adalah menasehati/menyadarkan sang istri, jika memang dengan nasehat saja sang istri tak kunjung sadar maka diamkanlah ditempat tidur dengan membelakangi ketika tidur atau memisahkannya dari tempat tidur, dan jika langkah pertama hingga kedua istri tak kunjung jera maka pukulah dia, memukul disini bukanlah sembarang memukul yang dapat menimbulkan kesengsaraan ataupun penderitaan. syari’at islam tidak membolehkan dan mensyariatkan kecuali untuk kebaikan manusia seluruhnya dan tidak melarang kecuali perkara yang merusak dan mengganggu manusia. Jika memang ingin menggunakan dalil islam dalam melakukan tindakan maka pahami secara keseluruhan jangan sepotong-sepotong.

Bagi para suami yang sering melakukan tindakan KDRT atas dasar murni karena emosi hendaknya mencari bantuan psikolog untuk belajar mengontrol emosi. Masalah KDRT tidak semua mutlak atas kesalahan suami yang bertindak sok tegas ataupun emosian tapi sering kali juga datang dari pihak istri, untuk itu bagi para istri hendaknya taat dan berbakti kepada sang suami jangan melakukan hal yang membuat suami menjadi jengkel, kesal ataupun marah. Selain itu kedua belah pihak hendaknya saling memahami dan mendahulukan kewajiban-kewajiban mereka sebagai seorang suami ataupun istri sebelum mereka menuntut hak-hak mereka.

Masalah KDRT adalah masalah yang harus di selesaikan bukannya disembunyikan, mungkin saja banyak para istri yang menganggap bahwa KDRT merupakan aib yang harus dijaga kerahasiaannya sehingga dia rela membiarkan dirinya teraniaya. Apalagi jika para istri yang menjadi korban KDRT itu menerapkan dalil klasik yaitu “Mikhul duwur, mendem jero”, artinya “perempuan seharusnya menjunjung nama baik keluarga dan menimbun hal-hal buruk yang menimpa, meskipun ia harus menanggung sakit derita akibat kekerasan yang menimpa dirinya”.  Kesabaran, ketenangan dalam mengambil keputusan, dan memohon pertolongan serta tawakkal kepada Allah merupakan faktor penentu dalam menyelesaikan berbagai masalah, termasuk masalah KDRT

Iklan

7 thoughts on “Beda Tipis antara Tegas dan Emosi dalam KDRT

    luvaholic9itz said:
    11 Agustus 2009 pukul 20:10

    sip markosip, top markotop

    An-Nisa 34,,
    tenkiuh udah kasitau diriku..

    Viva 4 ever said:
    16 Agustus 2009 pukul 16:09

    untuk menghindari KDRT ada baiknya melakukan pengenalan scr lebih dalam dr tiap2 pasangan sebelum nikah. Inilah fungsi pacaran sebelum nikah. Sebaiknya pacaran (pengenalan msg2 pasangan scr lbh dlm)lebih menekankan pada aspek pematangan emosi dan psikologi msg2 pasangan, melihat perbedaan & mencari penyelarasan antarpasangan. yang paling penting dan harus dijaga adalah kualitas komunikasi antarpasangan, dari situ akan muncul komitmen bersama. Mencoba untuk bertanggung jawab pada komitmen, menghargai pasangan, dan memupuk kualitas komunikasi merupakan upaya untuk menghindari KDRT.

    tina said:
    28 Agustus 2009 pukul 16:06

    saya pikir kdrt itu di sebabkan dari pasangan itu sendiri,kalau manusia siap berumah tangga,harusnya fikirannya dewasa dan sehat,jadi kalau ada permasalahan di dalam rumah tangga harus mencari sulusi yang baik dan berfikir jerni jangan sampai emosi juga jangan sampai menyinggung perasaan dan hati masing-masing pihak.dan pasangan itu sendiri harus bicara hati ke hati empat mata dengan kepala dingin supaya tidak menimbulkan komflik didalam rumah tangga,sebesar dan sekecil apapun itu permasalahanya harus clire saat itu dan hari itu juga,dan jangan sampai berlarut-larut,

    arsyfa said:
    31 Agustus 2009 pukul 21:23

    sy lg buat tgs akhir ttg faktor penyebab kdrt dan hambatan yang ditemui korban dalam melakukan upaya hukum. bagi teman teman yang mempunyai referensi terkait, mohon bantuannya, terima kasih.

      Budi Santoso MS said:
      25 Oktober 2009 pukul 17:05

      Buat Arsyfa,semoga sukses. Oleh Widha dalam artikel diatas sdh banyak dibahas. Saya yang tinggal di Sumatra Selatan, dapat membedakan kadar KDRT, maksudnya kalau Sumatra dianggap biasa, di Jawa termasuk kekerasan psikis, misalnya istri dipanggil KAU dsb.Tapi secara umum timbulnya KDRT karena BUDAYA,salah tafsir, pengetahuan yang minim, Pemerintah juga punya andil sebab Pengarusutamaan Jender kurang gregetnya. Rata-rata korban kdrt adalah keluarga kurang mampu. Faktor Ekonomilah yang menghambat korban untuk memilih tidak menyelesaikan lewat jalur hukum atau lapor ke Polisi. Hampir 100% pelapor, pasti berakir nantinya dengan perceraian.Kalau jadi janda, anak tiga, kerjaan tidak punya, akirnya lebih menderita. Lihat dan bandingkan, kalau artis, sedikit saja masalah, ngadu,lapor dan ……. cerai.

    Budi Santoso MS said:
    25 Oktober 2009 pukul 16:40

    Menghapus KDRT seperti yg diharapkan oleh UU pasti sangat sulit.
    Masalahnya sewaktu mebangun Rumah Tangga rata-rata belum siap, dan selanjutnya males belajar. Belajar mengenal pasangan hidup ternyata lebih sulit dari belajar matematika. Rata-rata bangsa kita ini kalau urusan belajar kan malas. Jika setiap pasangan RT selalu belajar berkomunikasi,selalu diskusi, pasti bisa jadi pakar komunikasi dan emosi terkendali. Timbulnya kdrt biasanya karena sama-sama keras kepala. Bagi Suami-suami yang agak takut istri, ssti, yang jadi korban pasti anak. Kuncinya, keluarga yang selalu melaksanakan sunah rasul, antara lain selalu musyawarah, pasti terhindar dari KDRT.

    melati said:
    28 Oktober 2009 pukul 20:36

    Kasus seperti diatas telah saya alami bertahun -tahun semenjak anak pertama saya lahir (sekarang anak sy berusia 19 th) dan dalil yang dipakai suami saya sama persis yang tertulis diatas, padahal suami saya seorang mu’alaf rtapi tidak pernah menjalankan kaidah2 agama. dulu saya mengalami penganiayaan fisik sampai berdarah2 tapi kemudian suami saya menganiaya saya secara mental ( membanting barang apa saja yang ada dihadapanya tidak perduli mahal ataupun murah ,mengintimidasi saya, meneror…) bahkan sekarang semakin parah kalau marah membawa pisau ataupun kapak , pernah saya disiram minyak tanah mengancam akan membakar saya dan seisi rumah….. saya tidak tahu lagi harus berbuat apa justru kalau saya minta cerai dia malah seperti orang kesurupan menghancurkan apa saja yang ada di hadapanya.
    sebenarnya saya tidak kuat tapi saya tidak berdaya menhadapinya. teman2nya preman dan dia orangnya tidak takut apapun , sangat temperamental. sedikit saja saya salah bicara langsung kalap, dibilangnya saya perempuan cerewet. pernah dihadapan orangtua saya dia minyiram rumah dengan minyak tanah karena saya tidak kuat ingin bercerai darinya… dia tidak mau menceraikan saya tapi selalu membuat saya salit hati . selalu menuduh saya telah menghianatinya padahal malah dia yang menghianati saya. dia bilang wajar kalau laki2 selingkuh, wajar kalau laki2 tiap hari pulang malam . kalau dia berbuat salah saya dilarang marah bahkan saya diam pun tidak boleh. jadi biarpun dia berbuat salah saya harus selalu tersenyum kepadanya karena suami wajar melakukan seperti itu.
    saya pernah melaporkanya ke polisi tapi dia malah berbalik mengancam saya ( saya akan dilaporkan polisi juga karena saya memalsukan tanda tangan dia sewaktu mengambil uang kami dibank , uang itu saya ambil karena uang itu adalah uang pencairan pinjaman bank yang memakai rumah saya sebagai agunanya sedangkan tanah rumah itu asalnya pemberian dari orang tua saya) waktu itu saya ketakutan karena pekerjaan saya banyak berhubungan dengan bank , jadi saya mengalah mencabut laporan saya. dan setelah kejadian itu suami sya kalau marah semakin menjadi-jadi mungkin dendam sama saya karena pernah saya laporkan polisi. sekarang anak tertua sya sudah kuliah kalau sya nekat berpiusah denganya saya takut menggangu perkebangan mereka karena mereka permata hati saya. saya hanya bisa berdo’a berdo’a dan selalu berdo’a semoga saya bisa kuat menerima cobaan ini…….

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s