Mengantar Ginjal ke Surga*

Posted on Updated on

PAGI ini tatapan matanya tampak cerah di balik kaca mata minusnya. Ia tak mengeluh. Ia justru bahagia ketika dosennya menengok ke rumahnya selepas dirawat di rumah sakit.

“Andai kedua ginjal saya diangkat, tentu sekarang saya sudah berada di surga ya,  Pak?” Suaranya memecah keheningan, membuat sang dosen tak kuat menahan bulir-bulir air mata karena terharu dan takjub akan kebesaran jiwa mahasiswanya itu. Pak dosen hanya bisa mengiyakan kata-katanya.

Ia bukan anak polisi, pejabat pemerintah, atau anggota dewan yang bikin peraturan dan undang-undang lalu lintas. Ia hanya seorang anak muda dari keluarga biasa, pegawai swasta. Namun, rupanya, ia begitu patuh dan istiqamah memenuhi segala aturan berlalu-lintas meski pada akhirnya ia sendiri yang “dirugikan”, mesti merelakan satu ginjalnya diangkat.

Ah, terdengar absurd? Nggak masuk akal? Sebuah kepatuhan yang sia-sia? Kok, mau-maunya jadi korban peraturan, sedangkan orang-orang lain seenak-enaknya saja. Atau setidaknya menaati peraturan lalu lintas hanya saat ada polisi yang jaga. Polisi sendiri kan malah tampak berharap selalu ada yang melanggar sehingga punya lahan basah untuk mendapatkan keuntungan.

Apalagi, pemicunya pun sebenarnya sederhana saja. Suatu hari pak dosen memberi nasihat kepada para mahasiswanya agar selalu “taat berlalu lintas”. Ia ingin mereka senantiasa memikirkan kenyamanan serta keselamatan diri dan orang-orang lain di jalan. Kalau naik motor ya pakai helm. Naik mobil pribadi, pasang safety belt. Jangan lupa bawa SIM dan STNK. Jangan berkendara sambil ber-handphone-an. Kalau kebetulan menerima telepon saat naik motor, menepilah. Kalau naik kendaraan umum, jangan sembarangan memberhentikannya, baik saat menyetop ketika mau naik atau ketika mau turun. Jangan merokok di tempat-tempat atau kendaraan umum semisal dalam angkot, bus, atau apalagi di tempat-tempat yang sudah jelas-jelas ada marka “no smoking area”. Pas hendak menyeberang jalan, selalulah gunakan zebra cross atau jembatan penyeberangan. Pokoknya begitulah. Kita semua pasti tahu apa-apa saja yang seharusnya dilakukan bila berada di jalan.

Singkat cerita, tak banyak yang benar-benar melaksanakan nasihat sang dosen. Hanya ada satu mahasiswa yang sungguh-sungguh bersedia menurutinya, ya dia itu. Bahkan bukan sekadar patuh mekanistis, tetapi plus landasan filosofis. Sebuah pijakan nilai-nilai yang lahir dari dorongan Ilahiah. Ah, sebegitukah?

Jika diamati hari-harinya menjalani kuliah sih tampak biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa. Bahkan, ya itu tadi, terlihat naif. Kok, mau-maunya ia melawan arus. “Arus” kebiasaan masyarakat yang tingkat kesadaran dan kepeduliannya berlalu lintas belum begitu bagus. Tetapi ia tetap istiqamah. Setiap kali ke kampus naik bus, ia selalu turun turun persis di zebra cross Gang Kober, lalu ia menyeberang menuju kampusnya. Begitu pula, ke mana pun ia pergi dan harus menyeberang, ia selalu mencari zebra cross atau tangga penyeberangan. Meski di tempat keramaian, di mal-mal tempat angkot-angkot dan bus mangkal, ngetem, ia selalu melakukan hal serupa itu. Padahal, kebanyakan orang pilih jalan pintas langsung menyeberang jalan saja, membiarkan jembatan penyeberangan yang dibangun dengan biaya mahal mubazir. Lagipula, kebiasaan itu bikin jalanan tambah macet.

Suatu saat ia menjalani kerja magang di sebuah kantor penerbitan di bilangan Ibu Kota. Ia mesti berangkat pagi-pagi sekali agar nggak telat. Namun, sepagi itu, jalanan pun sudah ramai kendaraan. Terutama motor-motor. Ia naik bus dan harus menyeberang untuk mencapai kantor. Tapi, kali ini, ia agak sulit untuk menjalani ritual penyeberangan. Memang ada zebra cross, tapi ternyata lalu lintas tak kunjung reda. Semua kendaraan bagai tak melihat fungsi tanda penyeberangan itu. Agaknya diperlukan lampu pengatur pemberhentian, baru mereka patuh memelankan kendaraan dan berhenti. Maka, ia harus sangat hati-hati sebagaimana hari itu, hari ketiga ia magang. Ia tengok kanan-kiri jalan, padahal itu lalu lintas satu arah. Memang, banyak tukang ojek yang pilih jalan pintas dengan melaju melawan arus. Begitu juga sebagian pekerja pengendara motor. Jadi, bahaya dari dua arah tetap saja ada.

Ia tiba-tiba dibikin kaget ketika sebuah gerobak dorong penjual gado-gado menyerempet sikut dan pantatnya begitu ia mundur kembali tak jadi menyeberang lantaran ada beberapa kendaraan yang melaju kencang. Waduh, tuh abang gado-gado nggak ngerem dulu, kasih tanda atau sedikit teriak memberi tahu mau lewat. Kan ia melawan arah yang semestinya. Tentu saja orang-orang menengok ke arah datangnya kendaraan, bukan arah sebaliknya. Apalagi si abang datang dari sisi belakang.

Namun, sudahlah, ia tak mau memperpanjang soal itu. Ia bersiap untuk kembali menyeberang. Dia lihat lalu lintas cukup aman untuk itu. Ada Metromini yang berhenti. Ia melangkah melewatinya. Tapi, baru saja ia selangkah keluar dari halangan Metromini, sebuah mobil pribadi nongol kencang dan menabraknya. Rupanya itu mobil tak sabar menunggu si Metro berhenti. Ia tidak mengindahkan bahwa di depannya adalah area penyeberangan. Mestinya ia menggerakkan mobilnya pelan-pelan mengantisipasi kalau-kalau ada orang yang menyeberang. Maka, terkaparlah sang mahasiswa magang. Benturan keras dan tiba-tiba itu membuatnya pingsan. Syukurlah, nyawanya masih bisa tertolong.

Memang, untuk sementara waktu ia mesti tinggal di rumah sakit sampai akhirnya dinyatakan pulih dan boleh pulang. Namun, rupanya biayanya teramat mahal, apalagi bagi orang tuanya yang berpenghasilan pas-pasan. Bukan cuma dalam hitungan uang. Tapi, ia juga harus merelakan satu ginjalnya diangkat. Hal itu diberitahukan pihak rumah sakit setelah melakukan diagnosis. Ginjalnya rusak akibat benturan keras yang dialaminya. Orang tuanya pun hanya bisa menangis pasrah.

Tapi, jangan pernah meragukan kerja Allah. Sang Maha Pengasih itu rupanya menggariskan takdir bagi hambanya dengan sempurna. Setelah proses pengangkatan ginjal berjalan lancar dan sang istiqamah diperbolehkan pulang, pihak rumah sakit pun menggratiskan semua biaya perawatan sang mahasiswa. Allah SWT telah membayarnya.

Bukan cuma itu. Meski kini ginjalnya tinggal satu, keimanannya pun tambah khusuk dan padu. Ketika orang-orang lain masih berkutat pada rasa iba, ia malah telah menautkan tambatan di surga sebagaimana dapat disimak dari ungkapan perasaannya kepada sang dosen.

“Andai kedua ginjal saya diangkat, tentu sekarang saya sudah berada di surga ya,  Pak?”

“Iya,” jawab pak dosen. Semua yang ada di rumahnya pun hanya bisa tertegun.

“Pak, saya tidak menyesali apa yang telah saya lakukan. Boleh jadi, inilah kasih sayang Allah kepada saya karena berusaha istiqamah menjalankan kebaikan walaupun kecil. Saya bersyukur, satu ginjal saya telah berada di surga. Tinggal satu ginjal lagi yang masih ada. Saya harus berusaha mengantarkan ginjal yang tinggal satu ini ke tempat pasangannya berada.” (*)

*Keterangan:

Kisah ini ditulis berdasarkan artikel dari buku dengan judul yang sama Mengantar Ginjal ke Surga karya Eman Sulaiman (Penerbit Madania Prima, Bandung, 2007).

Iklan

2 thoughts on “Mengantar Ginjal ke Surga*

    galuh said:
    16 Agustus 2009 pukul 22:21

    kisah inspiratif dan mendidik

    neni said:
    18 Agustus 2009 pukul 14:11

    subhanallah… semoga saya pun bisa menjadi istiqomah seperti orang itu.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s