Jangan Diskriminatifkan Hak Kaum Hawa

Posted on Updated on

Bismillahirrohmanirrohim

“Laki-laki lebih kuat dari perempuan.”

“Perempuan adalah ladang buat kalian (laki-laki), maka datangilah sesukamu.”

Banyak orang yang interpretasikan kedua ayat tersebut dengan irama diskriminatif terhadap kaum hawa, tanpa memepelajarinya lebih dalam lagi. Sehingga kaum hawa yang berkarakter dan memiliki kecendrungan mengalah dan lemah lembut hanya mampu berdiam dalam ketidak puasan. Kita sadar kalau perempuan juga manusia sebagaimana laki-laki. Memiliki perasaan yang ingin dihargai, dihormati, dimanja dan sifat kemanusiaan lainnya. Akan tetapi karena perempuan meresa tidak berdaya untuk memberikan argumentasinya dalam ketidakpuasan pelayanan seorang suami (katakanlah demikian), maka ia hanya mampu berbisik “Mau bagaimana lagi ini adalah bagian dari sang Kuasa”.

Kalau saja kejadian diatas memang benar-benar terjadi, setidaknya ada tiga hal urgensi yang harus kita benahi.

1. Kaum Adam

Kaum Adam dalam kejadian di atas adalah subject, sebagai pelaku seharusnya mampu berlaku bijak dalam menggauli lawan jenis bukan saja mempertontonkan sikap otoritasnya. Berlaku otoritas hanya boleh dilakukan dalam hal tertentu masalnya: seorang istri yang tidak lagi memprioritaskan doktrin agama melainkan lebih memilih kepada kehendak sendiri tanpa memperhatikan aturan main agama (syar’i). Itupun harus melewati beberapa tahapan yang sesuai pula dengan tuntunan agama.

Sekali lagi bukan semena-mena, bukan menuruti kehendak nafsu bukan juga kerena ingin membalas kekecewaan kepada lain jenis terutama kepada seorang istri. Mungkin kita punya alasan tersendiri untuk berlaku kasar kepada kaum hawa ataupun mungkin kita sering memabaca ayat alqur’an di atas sehingga memahami laki-laki yang harus berindak, suamilah yang berhak menentukan aturan dalam keluarga. Bukan Demikian!

Kalau arah jawaban kita mengarah kepada ayat di atas, alangkah lebih baiknya kalau kita pelajari lebih dalam lagi apa makna yang terkandung sesengguhnya dalam ayat tersebut, selagi kita masih mau beusaha untuk memcari titik kebenaran atau minimalnya kita menemukan hal baru yang insya Allah akan lebih dari sebelumnya. Sebaiknya kita tidak menerima interpretasi yang agak kontrafersil dengan kebenaran. Tidak semua interpretasi dari dari para mufassir benar, mereka juga manusia yang memilikikekurangan dan keterbatasan kecuali para mufassir yang selalu mendapatkan bimbingan dan arahan dari Allah bukan bermain logika semata. Karena bagaimanapun juga kita ingat bahwa Alqur’an terdiri dari ayat mukkamat dan ayat mkutasyabbihat. Ada ayat yang tidak terlalu membutuhkan pemikiran yang jelimet dan ada juga yang hanya mapu diyakini dengan logika imaniah kita.

2. Kaum Hawa

Kalau ternyata kaum Hawa sesuai dengan kenyataan di atas (paragraph pertama) yaitu dengan mengataka “Mau bagaimana lagi ini sudah bagian ddari sang Kuasa” baik secara lisan atau sebatas di hati berarti kita telah mengeluh sekaligus keliru mamaknai suatu ayat (tentang keluhan dibahas di tasawuf cinta) kekeliruan datang menginterpretasikan uridis formal umat islam akan berindikasi kesalahan pula dalam memanifestasikannya. Kalau sudah salah, fatallah bukan sekedar suram.

Kerana itulah harapan kepada kaum hawa dalam menyikapi keadaan (paragraph pertama) harus mampu memproaktifkan mempelajari suatu perintah sehingga mengarah kepada kehidupan yang nyaman tanpa harus ada yang terdiskreditkan baik kaum hawa maupun kaum adam tidak ekstra dominant. Kalaupun suatu saat kaum hawa merasa ada unsur diskriminatif oleh pihak oposisi katakanlah kebenaran itu dengan kebijakan dan tanpa mengedepankan egosime sampai ditemukan pemahaman terhadap suatu persoalan, tidak ada lagi yang merasa dipojokkan keridhaan Allah diusahakan sebagai titik keilmuan.

3. Mufassir Modern

Mufassir adalah orang yang menafsirkan sesuatu atau orang yang memberikan penjelasan terhadap suatu objek. Akakn tetapi yang umum ketika kata mufassir yang terdengar, yang terlintas adalah seorang ulama yang menjelaskan tentang arah suatu ayat dalam alqur’an. Sedankan yang kami maksud dengan mufassir modern adalah imuwan muslim yang diberi kemampuan menyimpulkan beberapa pendapat mufassir terdahulu kemudian memberikan interpretasi terhadap ayat dengan tetap mereferensikan tafsir sebelumnya, mengambil beberapa tafsir yang pengarangnya sangat dan lebih hata-hati dalam memaknai kata dan kalimat serta lebih hati-hati pula terhadap hokum yang ditetapkan Allah.

Catatan yang sangat penting untuk diingat bahwa Alqur’an adalah kumpulan beberapa sabda, dan firman suci Allah tidak ada campur tangan manusia dalam pemilihan kata dan kalimat. Jadi karena Alqur’an adalah produk Allah, maka tidak boleh ditafsirkan maknanya hanya ala kadarnya saja.harus serba hati-hati dan berupaya untuk tidak terlalu jauh melincing jauh dari esensinya hudan linna wala roiba fihi (sebagai petunjuk bagi manusia dan tidak ada keraguan di dalammya).

Kalau ketiga hal tersebut mendapatkan perhatian khusus dalam perbaikan bukan sekedar jadi wacana, insyaAllah merupakan salah satu jalan untuk meminimalisir pertentangan pendapat, sekaligus kaum hawa semakin merasa dihargai dan kaum adam pun semakin memiliki nilai lebih di mata kaum hawa. Semoga bermanfaat.

Iklan

2 thoughts on “Jangan Diskriminatifkan Hak Kaum Hawa

    lanzi said:
    12 Maret 2010 pukul 01:08

    disinilah peran media dalam memberikan informasi dan klarifikasi berbagai persoalan yg sifatnya sulit dipahami klngan msyarakat. terlapas berbagai polemik perpolitikan yg slalu jd fokus media!!

    lanzi said:
    12 Maret 2010 pukul 01:09

    media hrus lbh proaktif dlm mslh ni agar masyarakat tdk tersesat!!

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s