Penulis Wajib Punya Portfolio

Posted on

“Bisa lihat portfolionya?”

Itulah pertanyaan yang dilontarkan oleh penerbit maupun surat kabar, ketika ada seseorang mengirimkan karyanya, baik itu buku, artikel, ataupun opini. Pertanyaan tersebut dilontarkan tak lain salah satunya alasan ialah penerbit maupun surat kabar membutuhkan contoh tulisan sebelumnya untuk dibandingkan.

Portfolio layak pula disebut sebagai Curriculum Vitae (CV) ataupun Resume singkat dari penulis. Ia berisikan daftar maupun contoh tulisan dari penulis bersangkutan. Isi yang dimuat dalam portfolio umumnya adalah tulisan yang pernah dimuat atau diterbitkan oleh surat kabar dan juga penerbit dalam bentuk buku.

Isi Portfolio

Layaknya sebuah CV atau Resume ketika melamar pekerjaan, portfolio pun tidak boleh sembarang disusun. Bisa jadi, meskipun karya tulis yang dimuat memiliki berbagai keunggulan, namun portfolionya tidak teratur atau amburadul, karya tulis langsung dibuang begitu saja. Karena, seringkali portfolio yang dikirimkan akan menentukan apakah karya tulis yang dikirimkan akan diterbitkan dan dimuat, atau justru dikembalikan.

Portfolio pun menjadi vital adanya. Dan, karena ia vital, maka isinya pun vital. Masukkan daftar karya tulis yang memiliki nilai jual yang cukup bagus sebagai isinya. Contoh, karya tulis yang pernah dimuat di surat kabar skala provinsi, atau nasional. Atau buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit yang bonafid. Biasanya, penerima karya tulis yang dikirimkan, akan melihat nama surat kabar maupun penerbit tersebut sebagai acuan.

Tapi pertanyaan selanjutnya pun muncul. Yakni, bagaimana jika tak ada satupun? Nah, siasatilah dengan cara memasukkan daftar tulisan yang memiliki genre sama dengan karya tulis yang dikirimkan. Tak lain, ini dimaksudkan agar penerima karya tulis yang dikirimkan, dapat membandingkan serta melihat keahlian pengirim dalam karya tulis. Contoh, ketika mengirimkan karya tulis berupa puisi ke majalah, tentu yang dimasukkan dalam portfolio tentunya judul puisi yang pernah dimuat pula dalam majalah lainnya.

Faktor Tawar

Karena portfolio vital adanya, ia pun bisa menjadi faktor tawar antara penulis serta penerbit dan juga surat kabar. Dengan portfolio yang tertata, memiliki kekhususan, serta menarik, honorarium yang akan diberikan pun lebih baik dibandingkan dengan portfolio yang asal dan apa adanya.

Bahkan, ketika karya tulis yang dikirimkan berupa naskah buku, maka tawar-menawar jumlah yang harus dibayarkan pun menjadi lebih tinggi. Belum lagi bentuk pembayaran honorarium tersebut, yakni royalti maupun beli-putus. Kedua bentuk pembayaran tersebut, tentu akan membuat penghargaan pengirim karya tulis lebih baik.

Jadi, sudah siap membuat portfolio yang baik?

Iklan

5 thoughts on “Penulis Wajib Punya Portfolio

    kopral cepot said:
    18 Agustus 2009 pukul 12:01

    waah belon siap n belon pd 🙂 belajar nulis ajah dulu
    hatur tangkyu infonya

      Billy Koesoemadinata said:
      19 Agustus 2009 pukul 08:58

      kalo mau belajar nulis, tetep simak terus aja info2 di sini 😉

    my blog 4 famouser dot com said:
    18 Agustus 2009 pukul 17:31

    gimana mo bikin
    teorinya aja gak tau

      Billy Koesoemadinata said:
      19 Agustus 2009 pukul 09:08

      justru itu, kan tadi ada teorinya..

      tenang, nanti selanjutnya bakal dibahas lebih lanjut 😉

    kandra said:
    20 Agustus 2009 pukul 11:16

    mas tulisan portfolio itu mesti yang sudah diterbitkan di sebuah media atau belum??? mohon pencerahannya

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s